6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Pelawatan Barong Bang Masolah’ : Tanggung Jawab Kultural Krama Panyungsung

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
January 13, 2026
in Esai
‘Pelawatan Barong Bang Masolah’ : Tanggung Jawab Kultural Krama Panyungsung

Pelawatan Barong Bang Masolah

SEJAK dulu, kehidupan masyarakat Banjar Temacun dan Banjar Pemamoran Kuta telah dilingkupi oleh kehadiran Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang. Beliau tidak hadir sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan krama panyungsung, melainkan tumbuh bersama ingatan yang diwariskan lintas generasi, mengiringi ritme spiritual yang secara perlahan membentuk kesadaran dan rasa kultural.

Keberadaan Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang bukanlah entitas yang berjarak dari kehidupan masyarakat kedua banjar tersebut. Beliau hidup dalam memori sosial masyarakat, menyatu dalam ruang spiritual, dan sejak usia dini membentuk rasa, sikap batin, serta kesadaran kultural saya. PelawatanBarong Bang pun tidak hadir sebagai simbol, melainkan sebagai laku hidup yang terus berdenyut di tengah dinamika kehidupan masyarakat Kuta.

Saya menyadari bahwa ketika pelawatan Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah, tidak pernah berdiri pada logika estetika panggung semata. beliau berada dalam ranah ritual performance yaitu istilah yang menempatkan seni sebagai praktik simbolik sarat makna, bukan sekadar representasi visual. Dalam konteks ini, tubuh pragina berfungsi sebagai medium transformatif, sementara “Pura” menjadi ruang liminal, ruang peralihan, di mana batas antara sekala dan niskala mencair. Masolah bukanlah showing, melainkan becoming, sebuah proses menjadi, sebuah peristiwa hidup.

 Pada Jumat, 3 Januari 2025, yang bertepatan dengan rahina suci Tumpek Krulut dan Purnama, Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah di Pura Sada, Desa Adat Kuta. Peristiwa ini sebagai momentum ritual dan kultural yang mempertautkan hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan niskala yang dipuja. Tumpek Krulut yang dimaknai sebagai hari pemuliaan rasa, keindahan, dan getaran batin menjadi ruang waktu yang tepat ketika Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah, menampakkan gerak sebagai manifestasi kekuatan pelindung dan keharmonisan kosmis.

Pelawatan masolah merupakan aktivitas budaya religius yang diwarisi secara turun-temurun oleh masyarakat pengempon dan panyungsung, baik dalam wujud Pelawatan Barong maupun Pelawatan Rangda. Kata “masolah” yang secara harfiah berarti “menari” dalam konteks ini tidak dapat dipahami semata sebagai gerak tubuh atau susunan koreografi. Masolah adalah bahasa simbolik, sebuah laku persembahan yang menghadirkan dialog antara sekala dan niskala, antara rasa bhakti dan kesadaran krama panyungsung. Pada titik ini, pelawatan masolah tidak lagi berbicara tentang gerak pragina, melainkan tentang gerak yang dipercaya telah “diisi” oleh taksu dan kekuatan suci Ida Sasuhunan.

Dalam esai ini, pembahasan difokuskan pada Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang Kuta sebagai entitas sakral yang hidup dalam ingatan budaya masyarakat panyungsung. Pelawatan Barong Bang tidak hanya diposisikan sebagai simbol pelindung, tetapi juga sebagai cermin filosofi keseimbangan hidup.

Aktivitas pelawatan masolah bukan dramatika konflik, melainkan visualisasi keseimbangan. Kehadiran tari Telek, Sesandaran, serta Jauk atau Omang menghadirkan dua sisi penyeimbang yang mengingatkan bahwa kehidupan berjalan dalam ritme dan harmoni. Dalam konteks ritual, pelawatan masolah menjadi pengingat bahwa keseimbangan desa tidak lahir dari penghapusan perbedaan, melainkan dari kesadaran untuk merawatnya.

Salah satu aspek paling penting dalam memahami pelawatan masolah adalah keberadaan Taksu. Taksu bukan sekadar aura artistik, melainkan daya hidup yang muncul dari keselarasan antara niat suci, laku bhakti, dan kesiapan batin. Pada saat Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah, yang hadir bukan hanya bentuk fisik pelawatan, tetapi juga kekuatan spiritual yang dipercaya malinggih dan menghidupkan setiap geraknya.

Dalam konteks ini, penari bukan subjek utama. Tubuh pragina berfungsi sebagai medium, sementara pusat kesadaran berada pada Ida Sasuhunan itu sendiri. Oleh karena itu, masolah tidak pernah dipahami sebagai unjuk keterampilan individu, melainkan sebagai peristiwa sakral ketika taksu bekerja dan dirasakan bersama oleh krama. Getaran batin, rasa merinding, hingga keheningan kolektif menjadi indikator kehadiran taksu yang diterima secara bersama-sama.

Pelaksanaan masolah pada Tumpek Krulut memberikan landasan filosofis yang kuat terhadap dimensi rasa. Krulut tidak semata dimaknai sebagai keindahan bunyi atau estetika visual, melainkan sebagai getaran rasa yang menyentuh batin terdalam. Pelawatan Barong Bang masolah pada hari suci ini menjadi media penyaluran spirit keindahan, sebuah komunikasi rasa antara Ida Sasuhunan dan umatnya. Tabuh iringan yang diwarisi secara turun-temurun, berpadu dengan respons emosional krama panyungsung, membentuk pengalaman estetikamspiritual yang utuh. Keindahan, dalam konteks ini, hadir sebagai proses penyucian batin.

Ngiring masolah pada hakikatnya adalah laku bhakti. Ia bukan pertunjukan yang menuntut apresiasi penonton, melainkan persembahan tulus kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui manifestasi Ida Sasuhunan. Setiap unsur dalam pertunjukan ini baik mulai dari persiapan pelawatan, iringan gamelan, hingga keterlibatan krama merupakan bentuk pengabdian kolektif. Dalam perspektif ini, masolah tidak mengenal konsep “penonton” melainkan keterlibatan semua dalam menyertai dan menguatkan proses ritual.

Memahami Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah sebagai ritual berarti menempatkannya dalam kerangka sakral, bukan profan. Ia tidak dirancang untuk konsumsi visual semata, melainkan sebagai bagian integral dari sistem kepercayaan dan tata kehidupan krama panyungsung. Pelawatan Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masolah adalah living ritual atau peristiwa hidup yang menjaga denyut spiritual, memperkuat identitas kolektif, dan menegaskan bahwa seni di Kuta selalu berakar pada bhakti dan filosofi hidup.

Dari sudut pandang estetika ritual, keindahan saat Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bangmesolah tidak dapat diukur melalui standar koreografis modern. Keindahan hadir sebagai pengalaman afektif kolektif ialah getaran rasa yang dialami bersama. Taksu, dalam hal ini, dapat dipahami sebagai embodied aesthetics, di mana nilai keindahan melekat pada keselarasan niat, laku, dan konteks sakral.

Dalam diskursus antropologi budaya, Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang mesolah dapat dibaca sebagai warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage) yang hidup karena dipraktikkan, bukan sekadar didokumentasikan. Keberlanjutannya ditentukan oleh konsistensi laku bhakti masyarakat panyungsungnya. Di tengah Kuta sebagai ruang global yang terus bergerak, masolah menjadi penanda identitas yang tegas bahwa ada nilai-nilai spiritual yang tidak dapat dinegosiasikan.

Menulis tentang Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang mesolah bagi saya bukanlah upaya mengobjektifikasi tradisi, melainkan bentuk tanggung jawab kultural. Sebuah ikhtiar untuk menjaga agar praktik sakral ini tetap dipahami dalam kerangka makna, bukan direduksi menjadi atraksi. Tulisan ini sekaligus menjadi ajakan reflektif bahwa seni tradisi Bali di tanah Kuta hanya akan tetap bernyawa apabila ia ditempatkan pada ruang aslinya sebagai laku hidup yang menyatukan estetika, etika, dan spiritualitas.

Pada akhirnya, Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang mesolah bukan hanya seni pertunjukan, melainkan gerak kesadaran masyarakat penyungsung dalam merawat keseimbangan hidup. Selama bhakti masih dihidupi, krulut masih dirasakan, dan Ida Sasuhunan Pelawatan Barong Bang masih dihormati, kehadiran beliau pasti akan teris menjaga denyut spiritual krama panyungsung, melampaui waktu dan generasi. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: BarongHindu Balikesenian baliKutaritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

Next Post

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

Film Pendek 'Anuja': Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co