6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perkawinan: Glorifikasi, No! Memuliakan, Yes!

Wisnu Widjanarko by Wisnu Widjanarko
January 13, 2026
in Esai
Mempertanyakan Cinta : Meniti Rasa, Menata Jiwa

Wisnu Widjanarko

Prolog

Belum usai riuhnya isu perselingkuhan mewarnai jagat pemberitaan di media massa dan unggahan di media sosial. Kini, kembali diramaikan tentang adanya unggahan di media sosial yang memberi impresi anjuran nikah muda. Tentu saja, ada pro dan kontra menyikapi hal tersebut.

Ada yang mengatakan hal tersebut sebagai sesuatu yang progresif, berfikir out of the box, termasuk memiliki dimensi religi. Sebaliknya, ada yang mengatakan hal tersebut justru sebagai kemunduran, sesat fikir, bahkan gagal dalam memahami konteks religiusitas atas isu tersebut.  Namun semuanya, kedua kutub pemikiran tersebut; kita berbaik sangka untuk berangkat dari pemikiran, bahwa semua diawali dari asumsi kebolehjadian, bahwa opsi yang diambil tentu memiliki benefitnya tersendiri dari sudut pandangnya.

Hal ini tentunya menarik untuk disimak dari perspektif komunikasi keluarga, dan menimbulkan ragam pertanyaan, seperti mengapa orang mau menikah? Lalu, apa yang  harus disiapkan ketika mereka memilih menikah sebagai bagian dari jalan kehidupannya?

Perkawinan: Bukan Sekadar Cinta Belaka

Mari kita mulai yang pertama, mengapa orang menikah? Selain karena ketertarikan secara individual yang kerap dibahasakan sebagai ‘jatuh cinta’, maka ada hal yang juga membuat membuat seseorang memutuskan untuk terikat dalam ikatan perkawinan, yakni mempertimbangkan aspek teologis, aspek legal, dan aspek sosiokultural.

Secara teologis, orang menikah karena dilandasi keyakinan bahwa menikah merupakan bagian dari ibadah, jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, sekaligus menghindari dari hal-hal yang identik dengan salah dan dosa.  Sehingga, melalui perkawinan diharapkan menjadi momen artikulasi rasa kasih sayang sekaligus sarana untuk melanjutkan keturunan yang dilandasi oleh keyakinan atas nilai-nilai religiusitas dan spiritualitas.  Lalu, orang menikah karena berkepentingan pada aspek legal.

Perkawinan diyakini tidak hanya menyatunya dua hati, melainkan juga melekat konsekuensi, seperti status di mata hukum, baik buat pasangan maupun anak-anak yang dilahirkan. Status hukum memberi kenyamanan atas relasi yang terbangun, termasuk berkaitan dengan aset serta layanan administrasi publik yang bisa jadi diterima. 

Kemudian, orang juga menikah karena mencermati nilai yang berlaku secara sosial budaya. Menikah dalam budaya tertentu dianggap sebagai sebuah pencapaian dalam kehidupan, baik bagi keluarga yang menikahkan anaknya, maupun bagi anak yang berencana akan menikah.

Gambaran di atas secara jelas menunjukkan, bahwa perkawinan merupakan sesuatu yang memiliki nilai positif baik dari pandangan keagamaan, hukum, maupun sosial budaya. Sehingga, tidak salah ketika seseorang menikah, maka dia akan dipersepsikan sebagai pribadi yang mampu meletakkan relasi romantiknya dalam bingkai menjalankan aturan agama dan keyakinannya dengan baik, dalam kerangka legal yang diakui negara, sekaligus memenuhi norma-norma yang berlaku di masyarakat yang meletakkan perkawinan sebagai sebuah nilai tersendiri.

Menyegerakan itu Baik, Memaksakan Diri? Jelas Tidak Baik

Nah, yang menjadi permasalahan adalah ketika perkawinan diglorifikasi sebagai jawaban tunggal dari semua permasalahan, termasuk menjadikannya  suatu tekanan bahkan melabelkan tertentu bernada minor bagi mereka yang belum mengambil keputusan untuk segera menikah.  Menyegerakan perkawinan bagi mereka yang sudah siap dan tak terhalang apa pun adalah sebuah pilihan yang tidak salah.

Namun, mengkampanyekan bahwa yang tidak memilih opsi tersebut sebagai sesuatu yang keliru, justru sebuah kekeliruan. Bila ini sungguh-sungguh terjadi, pada titik inilah, kemuliaan sebuah perkawinan ‘direnggut’ paksa oleh pemikiran yang justru membuat perkawinan kehilangan esensi kebahagiannya.

Mengapa demikian? Menikah membutuhkan kematangan emosional sekaligus kesiapan finansial, di mana setiap orang berbeda situasinya. Menikah juga membutuhkan dukungan moral dari keluarga, di mana untuk hal tersebut setiap orang punya ceritanya masing-masing.  Menikah adalah perjumpaan dua kepribadian yang senantiasa menyelaraskan kepentingan dalam dialektika relasi yang membutuhkan kedewasaan berfikir, kematangan bersikap, dan kalkulasi dalam bertindak. 

Setiap orang berhak punya versinya sendiri dalam mempersiapkan perkawinannya, agar mengurangi setiap resiko kegagalan. Setiap orang punya lini masanya masing-masing untuk memastikan yang akan dijalaninya menjadi momen sepenuh bahagia dengan dinamikanya. Ibarat sebuah etape kehidupan, maka perkawinan bagi masing-masing pasangan memiliki peta jalannya masing-masing, yang tidak bisa disamakan satu sama lain, meskipun tujuannya sama, yakni mencurahkan kasih sayang dalam keintiman dan komitmen yang tak berkesudahan.

Walhasil, bila merujuk pada konsep komunikasi keluarga,  maka perkawinan jelas bukan suatu yang bersifat statis dan final. Perkawinan justru merupakan sebuah proses yang bersifat terus-menerus, dinamis, dan berkelanjutan di mana berbagi peran dan kewenangan, ada dinamika dalam pengambilan keputusan, termasuk konflik yang membutuhkan kecakapan komunikasi yang mumpuni terkait hal tersebut. 

Artinya, perkawinan membutuhkan kesiapan yang tidak bisa digeneralisasi satu sama lain, yang sangat tergantung dari sejauhmana pengetahuan masing-masing pasangan tentang hakikat perkawinan,  sehingga terlebih dahulu saling mengenal, terbuka, dan percaya satu sama lain. 

Atau dengan kata lain, kompleksitas dari suatu perkawinan yang ada, rasanya menjadi tidaklah adil ketika disederhanakan begitu saja. Setiap orang berhak untuk berproses dengan caranya masing-masing sesuai dengan keadaannya. Sehingga, ketika saatnya tiba, maka perkawinan menjadi jalan untuk memuliakan kehidupan, sebagai ikhtiar untuk menemukan kebahagiaan yang hakiki, baik sebagai manusia maupun hamba-Nya. 

Persiapan yang matang bagi mereka yang akan menjalani perkawinan, merupakan sarana untuk memuliakan dan menghormati institusi perkawinan sebagai ruang untuk berbagi kasih sayang dan penghormatan dengan pasangan yang akan menghabiskan sisa waktu hidupnya bersama, termasuk kelak dengan anak keturunannya.

Epilog

Perkawinan adalah sebuah pilihan yang dijalani dalam mengelola rasa kasih sayang dan kenyamanan dalam sebuah komitmen yang melekat padanya nilai-nilai teologis, legal, dan sosiokultural.  Memiliki pengetahuan dan pemahaman yang komprehensif tentang perkawinan, sungguh akan sangat membantu dalam mempersiapkan ikatan suci tersebut sebagai ruang perjumpaan yang membahagiakan.

Memuliakan perkawinan tidaklah menjadikan pasangan suami istri menjadi nirkonflik, melainkan memampukan diri untuk saling terhubung dan senantiasa menghargai perspektif masing-masing,  mendialogkan apa yang dipikirkan dan dirasakan, seraya menyesuaikan diri untuk berbincang dan menyimak apa yang ada di benak dan rasa. [T]

Penulis: Wisnu Widjanarko
Editor: Adnyana Ole

Tags: cintaglorifikasiperkawinansuami istri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘No Viral, No Justice’

Next Post

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

Wisnu Widjanarko

Wisnu Widjanarko

Dosen Psikologi Komunikasi dan Komunikasi Keluarga pada Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca 'Broken Strings' dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co