6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Aluh San’

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
in Esai
‘Aluh San’

Ilustrasi dibuat oleh tatkala.co dengan bantuan Chatgpt

DALAM Bahasa Bali, aluh san adalah ungkapan yang lahir dari keseharian dan percakapan ringan yang tak pernah dimaksudkan untuk menjadi beban. ‘Aluh san’ berarti ‘mudah sekali, gampang, tidak ribet’. Biasanya diucapkan dengan nada bercanda sembari tersenyum, seolah hidup memang seharusnya begitu, tidak perlu dipikirkan terlalu rumit.

Namun persoalan muncul ketika ungkapan yang ringan ini terlalu sering dipakai untuk menjelaskan banyak hal. Perlahan, ‘aluh san’ tidak lagi berhenti sebagai sebuah ungkapan, tetapi berubah menjadi cara menyikapi dunia. Segala sesuatu ingin diselesaikan dengan jalan paling singkat, tidak perlu ribut panjang, tidak perlu konsisten terlalu lama, yang penting cepat beres.

Dalam kehidupan sosial dan politik Bali hari ini, kecenderungan itu terasa jelas. Ketika pejabat publik bekerja asal-asalan, ketika janji tak ditepati, kemarahan muncul dengan cepat. Media sosial ramai. Warung kopi penuh suara kecewa. Di balai banjar, orang saling menguatkan amarah. Tetapi kemarahan itu sering tidak bertahan lama. Begitu ada traktiran kopi, nasi babi guling, atau ajakan makan bersama, suasana mencair. Kritik berhenti. Nada turun. Seolah-olah persoalan sebelumnya tak pernah ada. ‘Jeg aluh san’.

Ungkapan itu menjadi semacam penenang. “Sudahlah, tidak usah diperpanjang.” Padahal yang sebenarnya terjadi bukan penyelesaian, melainkan pelupaan. Kita tidak benar-benar memaafkan, hanya memilih untuk tidak mengingat. Dan pelupaan yang terus-menerus, lambat laun menjadi kebiasaan.

Dalam konteks pemilu, ungkapan ini menemukan bentuknya yang paling nyata. Menjelang hari pencoblosan, para calon berkeliling dari banjar ke banjar, dari satu komunitas ke komunitas lain. Janji disampaikan, senyum dibagikan, perhatian ditunjukkan. Namun acap kali yang paling meyakinkan bukan gagasan, melainkan apa yang bisa dibawa pulang. Uang lima puluh hingga seratus ribu rupiah, kaos kampanye, nasi bungkus, atau kupon berhadiah.

Banyak orang menerimanya dengan alasan sederhana. “Lumayan, daripada tidak dapat apa-apa.” Hak memilih disederhanakan menjadi urusan praktis. Tidak perlu berpikir panjang soal dampaknya nanti. Yang penting hari ini ada hasil. Setelah pemilu usai, ketika kebijakan pemimpin mengecewakan, protes kekecewaan kembali terdengar. Siklusnya selalu seperti itu. ‘Jeg aluh san’.

Masalahnya bukan semata pada politisi yang memberi, tetapi juga pada masyarakat yang terbiasa menerima lalu melupakan. Ketika suara dijual murah, jangan heran jika kepentingan rakyat kelak terasa mahal. Tetapi di sinilah aluh san bekerja: memotong ingatan, meredam tanggung jawab.

Ungkapan yang sama juga terasa dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Di banyak tempat di Bali, warung-warung milik pendatang buka tanpa kenal waktu. Pagi, siang, malam, selalu sedia. Sementara banyak usaha milik orang Bali sering tutup karena rahinan, odalan, atau upacara adat lainnya. Bukan karena malas, dan bukan pula karena tradisi salah. Tradisi justru adalah kekuatan orang Bali.

Tetapi, persoalan muncul ketika kemudahan selalu dipilih. Menutup usaha dianggap jalan paling aman. Tidak perlu berpikir mencari karyawan atau menyiapkan strategi lain. Pasar tentu tidak menunggu, pelanggan yang datang dan mendapati warung tutup akan mencari tempat lain. Lambat laun, usaha orang Bali kalah bersaing. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena terlalu sering memilih jalan yang paling gampang, yaitu tutup.

Pola yang sama juga terlihat setiap kali terjadi kerusuhan atau tindak kejahatan. Pertanyaan yang paling cepat muncul bukanlah apa yang terjadi atau mengapa itu bisa terjadi, melainkan “orang mana pelakunya?”. Jika pelaku disebut pendatang, kemarahan segera menemukan sasaran. Stigma dibentuk, amarah diluapkan, seolah persoalan selesai dengan menunjuk pihak luar. Namun ketika pelakunya orang Bali sendiri, suasana berubah. Pembelaan muncul, alasan dicari, dan acap diakhiri dengan keheningan. Tidak ada pembicaraan serius ataupun refleksi bersama. Cara paling mudah untuk menjaga rasa aman adalah dengan berpura-pura tidak melihat, seolah masalah akan hilang jika tidak dibicarakan.

Di titik ini, aluh san bukan lagi sekadar ungkapan, melainkan cermin. Ia memperlihatkan kecenderungan untuk menghindari kerumitan, padahal hidup tidak pernah benar-benar sederhana. Ada hal-hal yang memang menuntut kesabaran, konsistensi, dan keberanian untuk tidak memilih yang paling mudah. Jarang ada keberanian untuk bertanya ke dalam: apakah kita terlalu sering menyederhanakan persoalan? terlalu cepat mencari jalan pintas?

Barangkali aluh san perlu dikembalikan ke tempatnya semula: sebagai ungkapan sehari-hari, bukan prinsip. Tidak semua persoalan layak diselesaikan dengan cara gampangan. Tidak semua pilihan pantas ditukar dengan kenyamanan sesaat. Ada harga yang harus dibayar untuk menjaga martabat, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat.

Sebab, jika segala sesuatu terus disikapi dengan aluh san, yang benar-benar hilang bukan hanya ingatan, tetapi keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Dan masyarakat yang memilih jalan paling mudah untuk menghindari kejujuran, pada akhirnya akan selalu mudah diarahkan, mudah dipecah, dan mudah dikendalikan oleh siapa pun yang tahu cara memanfaatkan kemudahan itu. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: baligaya hiduporang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Digital Living Museum: ‘Menghidupkan Koleksi Diam’

Next Post

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co