3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Aluh San’

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
in Esai
‘Aluh San’

Ilustrasi dibuat oleh tatkala.co dengan bantuan Chatgpt

DALAM Bahasa Bali, aluh san adalah ungkapan yang lahir dari keseharian dan percakapan ringan yang tak pernah dimaksudkan untuk menjadi beban. ‘Aluh san’ berarti ‘mudah sekali, gampang, tidak ribet’. Biasanya diucapkan dengan nada bercanda sembari tersenyum, seolah hidup memang seharusnya begitu, tidak perlu dipikirkan terlalu rumit.

Namun persoalan muncul ketika ungkapan yang ringan ini terlalu sering dipakai untuk menjelaskan banyak hal. Perlahan, ‘aluh san’ tidak lagi berhenti sebagai sebuah ungkapan, tetapi berubah menjadi cara menyikapi dunia. Segala sesuatu ingin diselesaikan dengan jalan paling singkat, tidak perlu ribut panjang, tidak perlu konsisten terlalu lama, yang penting cepat beres.

Dalam kehidupan sosial dan politik Bali hari ini, kecenderungan itu terasa jelas. Ketika pejabat publik bekerja asal-asalan, ketika janji tak ditepati, kemarahan muncul dengan cepat. Media sosial ramai. Warung kopi penuh suara kecewa. Di balai banjar, orang saling menguatkan amarah. Tetapi kemarahan itu sering tidak bertahan lama. Begitu ada traktiran kopi, nasi babi guling, atau ajakan makan bersama, suasana mencair. Kritik berhenti. Nada turun. Seolah-olah persoalan sebelumnya tak pernah ada. ‘Jeg aluh san’.

Ungkapan itu menjadi semacam penenang. “Sudahlah, tidak usah diperpanjang.” Padahal yang sebenarnya terjadi bukan penyelesaian, melainkan pelupaan. Kita tidak benar-benar memaafkan, hanya memilih untuk tidak mengingat. Dan pelupaan yang terus-menerus, lambat laun menjadi kebiasaan.

Dalam konteks pemilu, ungkapan ini menemukan bentuknya yang paling nyata. Menjelang hari pencoblosan, para calon berkeliling dari banjar ke banjar, dari satu komunitas ke komunitas lain. Janji disampaikan, senyum dibagikan, perhatian ditunjukkan. Namun acap kali yang paling meyakinkan bukan gagasan, melainkan apa yang bisa dibawa pulang. Uang lima puluh hingga seratus ribu rupiah, kaos kampanye, nasi bungkus, atau kupon berhadiah.

Banyak orang menerimanya dengan alasan sederhana. “Lumayan, daripada tidak dapat apa-apa.” Hak memilih disederhanakan menjadi urusan praktis. Tidak perlu berpikir panjang soal dampaknya nanti. Yang penting hari ini ada hasil. Setelah pemilu usai, ketika kebijakan pemimpin mengecewakan, protes kekecewaan kembali terdengar. Siklusnya selalu seperti itu. ‘Jeg aluh san’.

Masalahnya bukan semata pada politisi yang memberi, tetapi juga pada masyarakat yang terbiasa menerima lalu melupakan. Ketika suara dijual murah, jangan heran jika kepentingan rakyat kelak terasa mahal. Tetapi di sinilah aluh san bekerja: memotong ingatan, meredam tanggung jawab.

Ungkapan yang sama juga terasa dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Di banyak tempat di Bali, warung-warung milik pendatang buka tanpa kenal waktu. Pagi, siang, malam, selalu sedia. Sementara banyak usaha milik orang Bali sering tutup karena rahinan, odalan, atau upacara adat lainnya. Bukan karena malas, dan bukan pula karena tradisi salah. Tradisi justru adalah kekuatan orang Bali.

Tetapi, persoalan muncul ketika kemudahan selalu dipilih. Menutup usaha dianggap jalan paling aman. Tidak perlu berpikir mencari karyawan atau menyiapkan strategi lain. Pasar tentu tidak menunggu, pelanggan yang datang dan mendapati warung tutup akan mencari tempat lain. Lambat laun, usaha orang Bali kalah bersaing. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena terlalu sering memilih jalan yang paling gampang, yaitu tutup.

Pola yang sama juga terlihat setiap kali terjadi kerusuhan atau tindak kejahatan. Pertanyaan yang paling cepat muncul bukanlah apa yang terjadi atau mengapa itu bisa terjadi, melainkan “orang mana pelakunya?”. Jika pelaku disebut pendatang, kemarahan segera menemukan sasaran. Stigma dibentuk, amarah diluapkan, seolah persoalan selesai dengan menunjuk pihak luar. Namun ketika pelakunya orang Bali sendiri, suasana berubah. Pembelaan muncul, alasan dicari, dan acap diakhiri dengan keheningan. Tidak ada pembicaraan serius ataupun refleksi bersama. Cara paling mudah untuk menjaga rasa aman adalah dengan berpura-pura tidak melihat, seolah masalah akan hilang jika tidak dibicarakan.

Di titik ini, aluh san bukan lagi sekadar ungkapan, melainkan cermin. Ia memperlihatkan kecenderungan untuk menghindari kerumitan, padahal hidup tidak pernah benar-benar sederhana. Ada hal-hal yang memang menuntut kesabaran, konsistensi, dan keberanian untuk tidak memilih yang paling mudah. Jarang ada keberanian untuk bertanya ke dalam: apakah kita terlalu sering menyederhanakan persoalan? terlalu cepat mencari jalan pintas?

Barangkali aluh san perlu dikembalikan ke tempatnya semula: sebagai ungkapan sehari-hari, bukan prinsip. Tidak semua persoalan layak diselesaikan dengan cara gampangan. Tidak semua pilihan pantas ditukar dengan kenyamanan sesaat. Ada harga yang harus dibayar untuk menjaga martabat, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat.

Sebab, jika segala sesuatu terus disikapi dengan aluh san, yang benar-benar hilang bukan hanya ingatan, tetapi keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Dan masyarakat yang memilih jalan paling mudah untuk menghindari kejujuran, pada akhirnya akan selalu mudah diarahkan, mudah dipecah, dan mudah dikendalikan oleh siapa pun yang tahu cara memanfaatkan kemudahan itu. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: baligaya hiduporang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Digital Living Museum: ‘Menghidupkan Koleksi Diam’

Next Post

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co