24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Aluh San’

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 11, 2026
in Esai
‘Aluh San’

Ilustrasi dibuat oleh tatkala.co dengan bantuan Chatgpt

DALAM Bahasa Bali, aluh san adalah ungkapan yang lahir dari keseharian dan percakapan ringan yang tak pernah dimaksudkan untuk menjadi beban. ‘Aluh san’ berarti ‘mudah sekali, gampang, tidak ribet’. Biasanya diucapkan dengan nada bercanda sembari tersenyum, seolah hidup memang seharusnya begitu, tidak perlu dipikirkan terlalu rumit.

Namun persoalan muncul ketika ungkapan yang ringan ini terlalu sering dipakai untuk menjelaskan banyak hal. Perlahan, ‘aluh san’ tidak lagi berhenti sebagai sebuah ungkapan, tetapi berubah menjadi cara menyikapi dunia. Segala sesuatu ingin diselesaikan dengan jalan paling singkat, tidak perlu ribut panjang, tidak perlu konsisten terlalu lama, yang penting cepat beres.

Dalam kehidupan sosial dan politik Bali hari ini, kecenderungan itu terasa jelas. Ketika pejabat publik bekerja asal-asalan, ketika janji tak ditepati, kemarahan muncul dengan cepat. Media sosial ramai. Warung kopi penuh suara kecewa. Di balai banjar, orang saling menguatkan amarah. Tetapi kemarahan itu sering tidak bertahan lama. Begitu ada traktiran kopi, nasi babi guling, atau ajakan makan bersama, suasana mencair. Kritik berhenti. Nada turun. Seolah-olah persoalan sebelumnya tak pernah ada. ‘Jeg aluh san’.

Ungkapan itu menjadi semacam penenang. “Sudahlah, tidak usah diperpanjang.” Padahal yang sebenarnya terjadi bukan penyelesaian, melainkan pelupaan. Kita tidak benar-benar memaafkan, hanya memilih untuk tidak mengingat. Dan pelupaan yang terus-menerus, lambat laun menjadi kebiasaan.

Dalam konteks pemilu, ungkapan ini menemukan bentuknya yang paling nyata. Menjelang hari pencoblosan, para calon berkeliling dari banjar ke banjar, dari satu komunitas ke komunitas lain. Janji disampaikan, senyum dibagikan, perhatian ditunjukkan. Namun acap kali yang paling meyakinkan bukan gagasan, melainkan apa yang bisa dibawa pulang. Uang lima puluh hingga seratus ribu rupiah, kaos kampanye, nasi bungkus, atau kupon berhadiah.

Banyak orang menerimanya dengan alasan sederhana. “Lumayan, daripada tidak dapat apa-apa.” Hak memilih disederhanakan menjadi urusan praktis. Tidak perlu berpikir panjang soal dampaknya nanti. Yang penting hari ini ada hasil. Setelah pemilu usai, ketika kebijakan pemimpin mengecewakan, protes kekecewaan kembali terdengar. Siklusnya selalu seperti itu. ‘Jeg aluh san’.

Masalahnya bukan semata pada politisi yang memberi, tetapi juga pada masyarakat yang terbiasa menerima lalu melupakan. Ketika suara dijual murah, jangan heran jika kepentingan rakyat kelak terasa mahal. Tetapi di sinilah aluh san bekerja: memotong ingatan, meredam tanggung jawab.

Ungkapan yang sama juga terasa dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Di banyak tempat di Bali, warung-warung milik pendatang buka tanpa kenal waktu. Pagi, siang, malam, selalu sedia. Sementara banyak usaha milik orang Bali sering tutup karena rahinan, odalan, atau upacara adat lainnya. Bukan karena malas, dan bukan pula karena tradisi salah. Tradisi justru adalah kekuatan orang Bali.

Tetapi, persoalan muncul ketika kemudahan selalu dipilih. Menutup usaha dianggap jalan paling aman. Tidak perlu berpikir mencari karyawan atau menyiapkan strategi lain. Pasar tentu tidak menunggu, pelanggan yang datang dan mendapati warung tutup akan mencari tempat lain. Lambat laun, usaha orang Bali kalah bersaing. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena terlalu sering memilih jalan yang paling gampang, yaitu tutup.

Pola yang sama juga terlihat setiap kali terjadi kerusuhan atau tindak kejahatan. Pertanyaan yang paling cepat muncul bukanlah apa yang terjadi atau mengapa itu bisa terjadi, melainkan “orang mana pelakunya?”. Jika pelaku disebut pendatang, kemarahan segera menemukan sasaran. Stigma dibentuk, amarah diluapkan, seolah persoalan selesai dengan menunjuk pihak luar. Namun ketika pelakunya orang Bali sendiri, suasana berubah. Pembelaan muncul, alasan dicari, dan acap diakhiri dengan keheningan. Tidak ada pembicaraan serius ataupun refleksi bersama. Cara paling mudah untuk menjaga rasa aman adalah dengan berpura-pura tidak melihat, seolah masalah akan hilang jika tidak dibicarakan.

Di titik ini, aluh san bukan lagi sekadar ungkapan, melainkan cermin. Ia memperlihatkan kecenderungan untuk menghindari kerumitan, padahal hidup tidak pernah benar-benar sederhana. Ada hal-hal yang memang menuntut kesabaran, konsistensi, dan keberanian untuk tidak memilih yang paling mudah. Jarang ada keberanian untuk bertanya ke dalam: apakah kita terlalu sering menyederhanakan persoalan? terlalu cepat mencari jalan pintas?

Barangkali aluh san perlu dikembalikan ke tempatnya semula: sebagai ungkapan sehari-hari, bukan prinsip. Tidak semua persoalan layak diselesaikan dengan cara gampangan. Tidak semua pilihan pantas ditukar dengan kenyamanan sesaat. Ada harga yang harus dibayar untuk menjaga martabat, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat.

Sebab, jika segala sesuatu terus disikapi dengan aluh san, yang benar-benar hilang bukan hanya ingatan, tetapi keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Dan masyarakat yang memilih jalan paling mudah untuk menghindari kejujuran, pada akhirnya akan selalu mudah diarahkan, mudah dipecah, dan mudah dikendalikan oleh siapa pun yang tahu cara memanfaatkan kemudahan itu. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: baligaya hiduporang bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Digital Living Museum: ‘Menghidupkan Koleksi Diam’

Next Post

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

Sepiring Warisan Dapur Ni Sarti

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co