6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

Agus Wiratama by Agus Wiratama
January 9, 2026
in Liputan Khusus
Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

Pementasan gambuh | Foto: Foto: Dok. Mulawali Institute

BERJUMPA dengan pelaku Gambuh Batuan, membuat saya bertanya: “Tubuh yang membentuk tari, atau tari yang membentuk tubuh? Karya yang membentuk ekosistem, atau ekosistem yang membentuk karya?” Jangan-jangan, hal-hal itu saling respon, saling menumbuhkan, dan mungkin mereka bercakap-cakap, tawar-menawar, tanpa harus menyepakati atau menolak.

Di Sanggar Tri Pusaka Sakti, saya menjumpai maestro tari I Made Djimat. Ia masih bisa melatih—meski dengan keterbatasan. Tapi, gesturnya sudah cukup memperlihatkan bahwa tari ada dalam tubuhnya. Ini terlihat dari caranya berjalan, caranya menunjuk, dan caranya menoleh. Tentu saja ini adalah hasil dari percakapan-percakapan yang berlangsung secara terus-menerus antara tubuh penari dan tariannya, yang dalam konteks ini, percakapan antara Gambuh Batuan dan para penarinya.

Saya meyakini bahwa gambuh tidak bisa ditatap sebagai sebuah produk dari masa lalu semata. Toh, buktinya hari ini ia tetap bertahan. Dan kesenian yang bermediakan tubuh, sesungguhnya selalu bercakap dengan konteks zamannya, paling tidak dengan tubuh si penari—tubuh yang terus menerus berinteraksi dengan situasi sosial, politik, ekonomi hari ini.

Tubuh dalam gambuh pun tidak bisa dilihat hanya dari panggung ke panggung. Gambuh sendiri merupakan akumulasi dari untaian sejarah yang dilalui para pelakunya—gambuh adalah orang-orang yang mengupayakannya tetap ada. Beberapa di antaranya dapat kita tandai sebagai sejarah-sejarah besar yang beririsan dengan ekosistem pegiat gambuh. Jika kita hendak menyelam, tampaknya penting menimbang situasi gambuh dalam konteks kerajaan, penjajahan, tahun 65, Orde Baru, 2000 awal, dan seterusnya.

I Made Djimat, maestro tari Gambuh Batuan | Foto: Dok. Mulawali Institute

Secara historis, Gambuh Batuan merupakan kesenian istana yang sangat lekat dengan nilai dan norma-norma kerajaan. Hal ini bisa dilacak pada lakon, begitu pula estetika pertunjukan. Namun pasca runtuhnya pengaruh feodal, gambuh tidak lagi secara mutlak diayomi oleh istana, melainkan sudah menjadi milik masyarakat yang kemudian semakin subur di ruang-ruang upacara, dan belakangan bernegosiasi dengan ruang pariwisata, dan ruang-ruang lainnya.

I Ketut Wirtawan, Ketua Sanggar Kakul Mas, mengatakan bahwa gambuh tercatat dalam lontar Candra Sangkala yang berangka tahun 929 Saka. Dalam artikelnya yang berjudul “Drama Tari Gambuh di Era Revolusi Industri 4.0”, Wayan Budiarsa—yang juga Ketua Sanggar Satria Lelana—memaparkan isi lontar tersebut sebagai berikut:

“Sri Udayana suka angetoni wang Jawa mangigel, sira anunggalaken sasolahan Jawa mwang Bali, angabungaken ngaran gambuh, kala isaka lawang apit lawang”. Terjemahannya: “Sri Udayana sangat tertarik untuk menonton tarian-tarian dari Jawa, dan akhirnya menggabungkan elemen-elemen tari Jawa dengan tarian Bali. Tarian yang dihasilkan tersebut kemudian dikenal dengan nama Gambuh.”

Budiarsa menyebutkan bahwa lontar itu menjadi penanda penting atas sejarah kelahiran Gambuh di Bali, di mana gambuh yang awalnya merupakan gabungan dari dua budaya ini kemudian berkembang menjadi bentuk seni pertunjukan yang khas Bali, dengan struktur tari, musik, dan ceritanya yang unik.

Meskipun tergolong seni yang sudah tua, tetapi satu peristiwa lucu sempat dilontarkan oleh Wirtawan. Sambil tersenyum-senyum, ia menggambarkan situasi di mana Gambuh Batuan tampil di Art Centre Denpasar. Kala itu, para penari sedang bersiap-siap. Lalu, seorang pemuda lewat di sekitar kalangan (panggung pertunjukan), kemudian bertanya dengan lugu pada salah satu anggota seka (kelompok) gambuh: “Ini joged kreasi ya, Pak?”

Dalam hal ini, saya mengasumsikan bahwa ada beberapa hal penting yang mesti ditebalkan ketika mempercakapkan Gambuh Batuan, yaitu ekosistem, adaptasi, pengetahuan, dan ketubuhan. Dengan menunduk saya mesti mengakui, gambuh jauh lebih luas dari catatan ini. Saya dalam hal ini adalah pemungut informasi berserak, yang saya dapatkan melalui obrolan dengan para pelaku Gambuh Batuan, dan catatan-catatan yang sudah dipublikasi dalam rangka Riset Ekosistem Gambuh Batuan yang dilaksanakan oleh Mulawali Institute dan diinisiasi oleh BPK XV.

Percakapan tentang Tubuh dan Teknik

Saya mengimajinasikan, sebagai sebuah kesenian yang berusia begitu panjang, gambuh selalu mengalami perbaikan, atau pembacaan terus-menerus. Ya, sebab, saya meyakini bahwa pembacaan yang dilakukan terus meneruslah yang pada akhirnya melahirkan teknik yang mapan. Dan gambuh memiliki hal itu.

Dalam sebuah perjalanan ke Banjar Pekandelan, Batuan, Gianyar, saya dan beberapa teman berkunjung ke rumah salah satu pegiat gambuh. Menariknya, kesenian di Batuan tampaknya berhubung satu sama lain. Beberapa pelaku gambuh juga merupakan seorang pelukis, pemahat, atau pemusik, begitu pula dengan Jero Mangku Bawa yang juga seorang pelukis, yang bersedia meladeni kami bercakap cukup panjang. Dengan kerendahan hatinya, ia meladeni pertanyaan-pertanyaan kami yang kadang-kadang tampak naif.

Jero Mangku Bawa, seniman gambuh yang aktif di Sunari Wakya itu, mencontohkan salah satu teknik yang digunakan dalam gambuh. Ketika itu, ia tampak perlahan membusungkan dada. Meski sambil duduk bersila, ia memasang agem pada tangannya. Tubuhnya tiba-tiba tampak kokoh tertancap di lantai. Matanya sulit dijelaskan: entah itu mendelik, tapi secara fisik matanya tampak menyipit, tapi impresi yang kami tangkap adalah ketajaman.

Setelah pose itu siap, tak lebih dan tak kurang, Mangku Bawa tampak berubah total. Berubah total! Ia bukan lagi Mangku Bawa yang kami ajak ngobrol beberapa menit lalu. Ia tampak agresif, seperti seorang yang memiliki kuasa yang begitu besar, seperti orang yang selalu ingin menunjukan kekuasaannya. Dalam hati saya berteriak, “Ya! Ia mengukir topeng pada wajahnya sendiri!”

Jero Mangku Bawa, seniman gambuh Sunari Wakya | Foto: Foto: Dok. Mulawali Institute

Setelah melirik ke kiri dan kanan, ia tertawa dengan cara paling sombong, lalu melontarkan dialog dalam bahasa Kawi, dan suaranya seolah memenuhi seluruh halaman rumah. Kami rasanya dicemplungkan pada gelembung raksasa dalam beberapa saat. Entah apa yang baru saja terjadi, entah energi apa yang baru saja menelan kami. Kami tampaknya sedang terhipnotis atau mungkin Mangku Bawa sedang memanipulasi waktu-ruang atau tak keliru juga jika saya sebut bahwa ia sedang mengelola sesuatu yang ada dalam dirinya. Semua seperti seketika dan sungguh itu pengalaman yang sulit dilupakan.

Setelah Mangku Bawa melepas situasi yang baru ia bangun, kami tak bisa menahan decak kagum. Sunyi beberapa saat. Ini sungguh teknik yang praktis mengubah seseorang. Tentu, teknik seperti itu tidak bisa dikuasai hanya dalam semalam suntuk. Mungkin memang benar, dalam hal ini teknik adalah penubuhan strategi: strategi manipulasi ruang, strategi menarik perhatian, atau semacamnya.

Sementara itu, situasi rasanya pelahan kembali seperti semula. Kami tidak lagi berada dalam gelembung, tapi kembali ke salah satu bale rumah Mangku Bawa—tepat di mana kami sesungguhnya dijamu sejak awal pertemuan. Ia pun pelahan mengisahkan bagaimana gambuh dulu ditanam pada tubuhnya.

“Dulu, belum tentu kami bisa langsung latihan,” katanya.

Ia mengisahkan pengalamannya berlatih bersama para tetua pelaku gambuh. Barang tentu, hal pertama yang konon ia lakukan adalah mencabut rumput, atau justru melakukan hal-hal lain yang kadang tak tampak berhubungan secara langsung dengan gambuh, lalu melatih kuda-kuda dengan malpal (salah satu teknik melangkah dalam tari Bali), dan seterusnya dan seterusnya.

Hal itu langsung mengingatkan saya dengan sebuah cerita dari seorang kawan. Suatu kali, saya sempat dikisahkan oleh seorang teman yang baru saja berlatih Tari Topeng. Konon, guru tarinya yang sudah sepuh sempat menempuh latihan yang cukup keras: menjinjing sesuatu, lalu berjalan malpal dari tempat latihan hingga ke pasar yang jaraknya cukup jauh.

Kisah I Made Djimat cukup membantu saya dalam membayangkan penubuhan gambuh. Djimat yang kini kira-kira berumur 90-an, dulu belajar di Gambuh Tri Wangsa. Tepatnya, ia belajar pada Gung Kak Raka Rangki—salah satu seniman yang berangkat ke Amerika bersama Seka Gong Peliatan pada tahun 1930-an. Djimat mulai berlatih gambuh sekitar umur 14. Latihan itu dilaksanakan di Puri bersama Pak Bukel dan Pak Kantor. Kira-kira, 76 tahun sudah Djimat menekuni gambuh.

Kisah-kisah mengenai latihan yang spektakuler atau membingungkan seperti itu tampaknya kini hanya menjadi kenangan. Hari ini, latihan ditempuh dengan cara lain. Mangku Bawa pun menceritakan bagaimana cara ia menghadapi murid-muridnya. Kadang, orang tiba-tiba terbius oleh gambuh, lalu berlatih ke rumahnya. Ada pula kasus lain. Orang tua yang terbius tapi meminta anaknya yang berlatih. Tidak sampai jauh, murid dengan latar seperti itu biasanya hilang ditelan bumi, alias tak pernah berlatih lagi.

Pementasan gambuh | Foto: Foto: Dok. Mulawali Institute

Barangkali, kita akan menyayangkan bila melihat kenyataan hari ini, bahwa orang luar negerilah yang begitu antusias mempelajari gambuh. Saking tertariknya mereka dengan pengetahuan atas gambuh, pada masa pandemi, mereka bahkan latihan lewat perangkat daring.

Dalam keterbatasan mobilitas seperti masa Covid-19, solusi yang dianggap paling efektif adalah latihan daring. Dan, itu terjadi! Latihan tari secara daring! Jika terjadi pada tahun 2018, tentu hal ini akan kita anggap sebagai sesuatu yang ganjil. Tetapi Pandemi mengajari kita cara melihat situasi tersebut sehingga sekarang bisa kita pahami.

Situasi ini memungkinkan gambuh mengalami percakapan yang lain, sebagaimana latihan dengan media daring yang sesungguhnya mengalami beberapa penyesuaian. Hal ini diungkapkan oleh Mangku Bawa. Penyesuaian ini dilakukan pada pola dan metode latihan yang di satu sisi, pelatih mesti menyesuaikan waktu karena perbedaan zona, dan kedua, hal yang paling rumit: minimnya sentuhan fisik pelatih dengan para muridnya.

Para peminat gambuh ternyata tak hanya berhenti sebagai penonton, tetapi juga mempelajarinya. Para peminat gambuh yang tertarik untuk belajar ini berasal dari berbagai kalangan seperti seniman dan mahasiswa seni. Menurut penuturan Ketut Wirtawan, para mahasiswa seni yang berminat belajar menarikan gambuh berasal dari berbagai negara di Eropa hingga Asia. Namun, sejak beberapa tahun terakhir, ia lebih banyak mengajari mahasiswa maupun seniman asal Jepang. Mangku Bawa pun mengamini bahwa minat para mahasiswa maupun seniman asing untuk mempelajari Gambuh Batuan tidak pernah surut.

Pementasan Gambuh Batuan ke luar negeri  sesungguhnya marak terjadi pada dekade 1990-an dengan datangnya berbagai peminat gambuh dari mancanegara, salah satunya adalah Christina Promardia. Ia datang dan belajar gambuh di Batuan sejak tahun 1984 lalu mengupayakan terbentuknya Gambuh Desa Batuan yang merupakan gabungan dari Gambuh Mayasari, Semeton, dan sanggar-sanggar yang ada di Batuan dengan dukungan dari Ford Foundation melalui Wianta Foundation.

Sekali lagi, dengan umur panjangnya, gambuh tidak lepas dari masa perubahan seperti yang kita lewati beberapa tahun lalu, yang seolah mengharuskan para pelakunya untuk melakukan percakapan-percakapan yang lebih kontekstual. Alhasil, kita bisa memahami bahwa peminat gambuh sendiri kian mengalami perubahan dari masa ke masa. Tentu saja, atas percakapan-percakapan seperti inilah memungkinkan terjadinya kolaborasi antarpelaku gambuh dengan seniman dari dalam dan luar negeri.

Pada untaian fenomena ini, kita menjumpai bahwa spektrum pertunjukan Gambuh Batuan, khususnya, telah meluas. Gambuh yang awalnya adalah pementasan yang terikat dengan konteks upacara kini bercakap pada ruang lain: mulai dari pertunjukkan dalam peristiwa seni, pertunjukan pariwisata, hingga munculnya fenomena ketertarikan penikmat gambuh pada pengetahuan yang lekat di dalamnya, yang sebagian besar dari peminat itu adalah orang asing.

Percakapan, Negosiasi Ruang, dan Peluang

Di Sebuah toko kecil di balik megahnya wantilan Pura Puseh Desa Batuan, berjejer ruko yang menjual cemilan, kelapa muda, dan minuman dingin lainnya. Di sana pula I Wayan Naka, salah satu pengurus Seka Mayasari, menjaga warung kecilnya, dan menunggu para pembeli yang sebagian besar adalah wisatawan. Di sana pula terpajang sebuah lukisan gaya batuan karya Naka sendiri.

“Teknik memedeg ya, Pak?” ujar Susanta Dwitanaya, seorang kurator seni rupa yang juga aktif di Gurat Institute.

Di sela-sela percakapan kami yang ke sana ke mari soal gambuh, kami bercakap berbagai hal lain, termasuk lukisan tersebut. Wayan Naka pun berkata bahwa lukisan itu masih dalam proses pengerjaan, alias belum selesai. Ya, lukisan itu masih berwarna hitam putih. Tapi, ada yang menarik dari lukisan yang belum selesai tersebut. Di tengah-tengah lukisan, terdapat seorang tokoh berwajah tengkorak!

“Siapa tokoh itu, Pak?” tanya Gus Bang Sada.

Dari pantikan itulah ia mulai mempercakapkan lukisannya. I Wayan Naka pun dengan semangat menceritakan lukisan itu, lukisan yang tampaknya bernilai sama dengan catatan perjalanan seseorang atau album foto, dan barangkali tak keliru jika kita menyebutnya sebagai arsip ingatan Wayan Naka. Naka bisa menjelaskan banyak soal lukisan itu. Khusyuk. Lukisan itu rupanya menceritakan pengalaman kolaborasi para pelaku Gambuh Batuan dengan Odin Teatret asuhan Eugenio Barba.

Pada tahun 2006, Gambuh Batuan pentas di Polandia dengan format kolaborasi antara gambuh dengan teater barat  bertajuk “Ur Hamlet”, sebuah adaptasi karya William Shakespeare dengan sutradara Eugenio Barba. Tampaknya, ketika itu, para pelaku gambuh, termasuk I Wayan Naka, mengalami sesuatu yang baru: mulai dari manajemen waktu latihan, hingga tawar-menawar bentuk dengan Barba dan seniman dari berbagai negara lainnya.

“Pada Hamlet, Panji jadi tokoh suami, dan mati dibunuh para patih. Tapi pakaian tetap sama. Sementara tokoh tengkorak itu adalah naratornya,” kata Naka sambil menunjuk tokoh-tokoh pada lukisan. “Kalau diingat-ingat, kadang, tidur pun saya tetap menggunakan sepatu ketika itu,” tambahnya sambil tersenyum.

“Kenapa? Dingin, Pak Yan?” balas seseorang.

“Bukan karena itu. Pagi kami check sound. Karena itu saya tidak pernah terlambat,” jawab Naka tertawa.

Naka menekankan bahwa ada beberapa hal yang disesuaikan, tapi ada hal-hal yang mesti dipertahankan. Tidak bisa diubah. Ya, tentu saja. Ada negosiasi di dalam proses itu, sebagaimana proses percakapan Gambuh Batuan dengan hal-hal lainnya. Dan begitulah tabiat negosiasi, kadang ia bisa melahirkan kesepakatan, kadang ia bisa melahirkan penolakan, tapi tidak menutup kemungkinan juga ia tidak melahirkan apa-apa, selain mendorong atau mengantar kita pada hal-hal lainnya.

“Saya kadang merasa haru ketika mengingat proses Hamlet. Caranya mengatur musik betul-betul terampil. Di sana, kami belajar menampilkan musik yang digabung dengan musik dari negara lain,” tegas Naka. Lalu ia menambahkan, “Proses ini susah-susah gampang karena pepesonnya (teknik keluar pemain) tidak seperti di Bali.”

I Wayan Budiarsa, Ketua Sanggar Satria Lelana | Foto: Dok. Mulawali Institute

Perubahan bentuk Gambuh Batuan sesungguhnya terjadi dari tahun 1930-an. Umumnya, Gambuh menggunakan cerita Panji dari Jawa Timur sebagai lakonnya. Tapi, Wirtawan mengatakan bahwa Gambuh Batuan pernah mementaskan lakon di luar cerita Panji. Hal yang sama dicatat oleh I Wayan Budiarsa dalam artikelnya yang berjudul “Dramatari Gambuh di Era Revolusi Industri 4.0”.

Budiarsa dalam artikelnya juga mengatakan bahwa lakon “Amad Muhamad” dipentaskan padatahun 1940-an di Jaba Pura Desa Batuan. Tentu hal ini menjadi catatan, sebab lakon “Amad Muhamad” sendiri merupakan lakon yang notabene dari luar bingkai Malat/Panji. Menariknya, Wirtawan bersama Sanggar Kakul Mas juga sempat mementaskan Gambuh dengan cerita Tantri pada tahun 2020 namun secara daring.

Dalam percakapan yang berbeda, Gambuh Batuan sesungguhnya mengalami penyesuain durasi dalam beberapa pertunjukan. Umumnya, pertunjukan Gambuh yang dipentaskan dalam upacara di lingkungan Desa Adat Batuan berdurasi 2-3 jam. Perubahan durasi ini terjadi ketika Seka Gambuh Mayasari diundang ke Jakarta untuk melakukan pementasan di Taman Mini Indonesia Indah dan Taman Ismail Marzuki pada tahun 1973 dan 1979. Pertunjukan tersebut dikerangkai oleh pameran kelompok pelukis Desa Batuan di dua tempat itu. Kemungkinan, ketika itulah kali pertama Gambuh Batuan dipentaskan di luar konteks upacara.

Barangkali, tahun-tahun tersebut menjadi penanda zaman yang penting bagi perkembangan Gambuh Batuan, sebab setelah itu, gambuh mulai dipentaskan di berbagai kegiatan kesenian, seperti PKB (Pesta Kesenian Bali), pertunjukan di luar Bali, bahkan di luar negeri.

Wayan Naka menuturkan, bersama beberapa pelaku gambuh lainya dari seka Gambuh Batuan seperti Kantor, Tugur, Ketut Wirtawan, Sudi, Santi, Ruju, Sinom, dengan penabuh seperti Dewa Pasek, Kawi, Mandi, Grondong, dan lain-lain, ia pernah diundang pentas ke Jepang pada 1982 bersama dengan para seniman Gambuh Pedungan, yakni Remping dan akademisi dari ASTI (kini menjadi ISI Denpasar). Pementasan ke Jepang ini menurut Naka atas nama kelompok Dharma Shanti atas prakarsa dari Prof. Made Bandem.

Mungkin saya keliru, tetapi dalam beberapa hal, Gambuh Batuan disikapi secara cair oleh para pelakunya. Tentu hal ini memungkinkan pengetahuan baru tumbuh dalam ekosistem gambuh, yang juga berpotensi untuk beresonansi pada kesenian di Bali. Sebab, gambuh selalu dielu-elukan sebagai “ibu” tari Bali.

Gambuh yang disebut-sebut sebagai ibu dari segala jenis tarian di Bali ini, banyak menginspirasi munculnya kesenian-kesenian serupa setelahnya. Beberapa kesenian di Bali mengadopsi elemen-elemen seni yang sama dengan gambuh, seperti vokal atau dialog dalam bahasa Kawi, penokohan, tembang atau gending, struktur pertunjukan, serta tata rias dan busana.

Pementasan gambuh | Foto: Foto: Dok. Mulawali Institute

Sebagai sebuah total theatre, gambuh yang terbentuk di Bali menjadi sumber yang memengaruhi bentuk-bentuk seni lain yang muncul kemudian. Salah satu dramatari yang mendapat pengaruh gambuh adalah dramatari opera arja, kata Suasthi Widjaja (2008) dalam artikel “Gambuh Sebagai Sumber Tari dan Dramatari di Bali”.

Gambuh adalah ibu kandung, maka dari itu, ia begitu bijaksana menyikapi situasi. Berdasarkan obrolan dari para pelakunya, jika saya bayangkan sebagai subjek, gambuh sama seperti orang yang selalu bersedia duduk, minum teh atau kopi, lalu mempercakapkan baik-baik persoalan hari ini. Ia terbuka, dan memang memungkinkan untuk terbuka. Tapi di sisi lain, sebagai sebuah sumber pengetahuan, ibu satu ini mesti dijaga, dirawat, lebih-lebih di umurnya yang begitu panjang.

Kemungkinan yang Akan Datang

Sesungguhnya, gambuh juga berkembang di beberapa kabupaten di Bali selain di Gianyar, akan tetapi di Batuan, Sukawati, Gianyar ini ada beberapa kelompok Gambuh yang bertahan hingga saat ini, dan masing-masing sanggar memiliki hubungan kesejarahan—kurang lebih terdapat enam sanggar aktif, meliputi Sanggar Kakul Mas, Sanggar Tri Pusaka Sakti, Sanggar Sunari Wakya, Sanggar Satria Lelana, Sekeha Gambuh Mayasari, dan Sanggar Gambuh Semeton.

Melalui sistem yang tumbuh secara organik, masyarakat Batuan melanggengkan bentuk konvensional gambuh. Hal itu dijaga melalui pementasan yang selalu digelar secara bergantian oleh masing-masing sanggar tersebut di pura yang ada di Batuan setiap odalan (upacara). Sistem yang tumbuh secara organis ini sesungguhnya mempertahankan pengetahuan gambuh, memungkinkan terjadinya regenerasi, meskipun tidak menutup kemungkinan terjadi negosiasi atas situasi terkini.

Karena perkembangannya juga, gambuh sebagai sebuah seni pertunjukan sesungguhnya memiliki peran yang spesifik. Ia bisa dianggap sebagai sebuah hiburan, namun di sisi lain, gambuh bisa diletakkan sebagai elemen penting dalam upacara-upacara di pura. Sebagai sebuah tontonan, pelaku gambuh tetap berpeluang menyelipkan lawakan yang notabene bisa disisipi persoalan-persoalan kontemporer.

Dalam hal inilah, gambuh sesungguhnya bisa dipandang sebagai media ekspresi masyarakat, Batuan khususnya. Namun, karena gambuh merupakan tipe kesenian yang tidak bisa dilakukan secara individu, ia mensyaratkan kerja-kerja bersama. “Keterbatasan” ini sesungguhnya menciptakan kemungkinan lain, yaitu kemungkinan kelompok gambuh menjalin relasi dengan seniman-seniman yang berada di luar Desa Batuan. Hal ini telah dijalankan oleh beberapa sanggar, sehingga hubungan-hubungan masyarakat Desa Batuan dengan seniman dari luar desa tetap terjaga dan berkesinambungan.

Gambuh yang kini kita yakini sebagai kesenian yang komunal, memiliki kompleksitasnya sendiri. Sebab, dalam beberapa obrolan ada pula catatan mengenai regenerasi, di mana anak-anak yang tidak memiliki fokus yang panjang dalam latihan, akan mengalami kesulitan ketika masuk ke penokohan. Di sisi lain, sebagai sebuah pertunjukan, gambuh mesti menimbang penonton. Bahasa yang selalu bergerak, justru membuat jarak yang kian lebar antara bahasa kawi dengan penonton sehingga bahasa hanya dinikmati sebagai bunyi. Apakah ini merupakan persoalan atau bukan, tentu masih bisa dipercakapkan. Tetapi hal-hal ini mesti ditimbang selain manajemen dan keberlangsungan dari sanggar-sanggar itu sendiri.

Situasi ini tentu akan melahirkan percakapan-percakapan baru, melahirkan pemikiran-pemikiran baru. Dan situasi kadang menjelma jembatan penghubung antara yang mapan dan yang mungkin; yang lama dan yang baru; yang terpikirkan dan yang tak terbayangkan. Barangkali ini adalah saat yang tepat untuk duduk lagi dengan secangkir teh hangat, lalu dengan bijaksana, lagi-lagi, gambuh mesti membuat percakapan baru dengan zaman.[T]

Sumber Artikel

Budiarsa, I Wayan. 2019. “Drama Tari Gambuh di Era Revolusi Industri 4.0”. https://eproceeding.isi-dps.ac.id

Budiarsa, I Wayan. 2016.  ”Eksistensi Seni Bebali; Drama Tari Gambuh Di Desa Batuan Gianyar Dalam Era Global” https://isi-dps.ac.id/eksistensi-seni-bebali-drama-tari-gambuh-di-desa-batuan-gianyar-dalam-era-global/

Formaggia, Chirstina, dkk. 2000 ”Gambuh Drama Tari Bali” Yayasan Adikarya IKAPI dan Ford Foundation.

Widjaja, Suasthi. 2008. “Gambuh Sebagai Sumber Tari dan Dramatari di Bali” https://ugm.ac.id/id/berita/1153-suasthi-widjaja-gambuh-sebagai-sumber-tari-dan-dramatari-di-bali/

Penulis: Agus Wiratama
Editor: Jaswanto

Tags: BPK XVGambuh Batuankesenian baliMulawali Institute
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tahun Baru, Ibu Bumi, Kedurhakaan Manusia

Next Post

Takut pada CCTV, Bukan Tuhan

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [3]: Hikayat Tenun di Kawasan Tejakula dan Pewarna Alaminya

HINGGA saat ini, di daerah Tejakula, sebut saja seperti Sembiran, Pacung, Julah, dan Bondalem, masih banyak perajin tenun. Tentu saja...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [2]: Hikayat Niaga Kapas di Bali Utara  

PADA tulisan sebelumnya, saya telah uraikan bukti-bukti kuat yang menyatakan bahwa Bali Utara—khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya—merupakan jalur dagang pada...

Read moreDetails

Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

by Jaswanto
January 28, 2026
0
Menyigi Tejakula dan Sekitarnya [1]: Hikayat Jalur Dagang Bali Utara

DALAM sejarah, Singaraja (Buleleng) di Bali Utara tercatat sebagai jalur perdagangan yang semarak dan hidup. Apalagi saat wilayah yang didirikan...

Read moreDetails

Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

by Jaswanto
February 28, 2025
0
Kontak Sosial Singaraja-Lombok: Dari Perdagangan, Perkawinan hingga Pendidikan

SEBAGAIMANA Banyuwangi di Pulau Jawa, secara geografis, letak Pulau Lombok juga cukup dekat dengan Pulau Bali, sehingga memungkinkan penduduk kedua...

Read moreDetails

Kisah Pilu Sekaa Gong Wanita Baturiti-Kerambitan:  Jawara Tabanan Tapi Jatah PKB Digugurkan

by Made Adnyana Ole
February 13, 2025
0
Kisah Pilu Sekaa Gong Wanita Baturiti-Kerambitan:  Jawara Tabanan Tapi Jatah PKB Digugurkan

SUNGGUH kasihan. Sekelompok remaja putri dari Desa Baturiti, Kecamatan Kerambitan, Tabanan—yang tergabung dalam  Sekaa Gong Kebyar Wanita Tri Yowana Sandhi—harus...

Read moreDetails

Relasi Buleleng-Banyuwangi: Tak Putus-putus, Dulu, Kini, dan Nanti

by Jaswanto
February 10, 2025
0
Relasi Buleleng-Banyuwangi: Tak Putus-putus, Dulu, Kini, dan Nanti

BULELENG-BANYUWANGI, sebagaimana umum diketahui, memiliki hubungan yang dekat-erat meski sepertinya lebih banyak terjadi secara alami, begitu saja, dinamis, tak tertulis,...

Read moreDetails

Kekerasan Seksual Terhadap Anak dan Kasus Pencabulan pada Taraf Gawat: Di Buleleng Tertinggi | Podcast Lolohin Malu – tatkala dotco

by Jaswanto
February 3, 2025
0
Kekerasan Seksual Terhadap Anak dan Kasus Pencabulan pada Taraf Gawat: Di Buleleng Tertinggi  |  Podcast Lolohin Malu – tatkala dotco

ADA kisah pilu pada pertengahan Oktober 2023 lalu. Gadis (23) penyandang disabilitas rungu wicara diperkosa oleh kerabatnya sendiri yang berumur...

Read moreDetails

Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

by Jaswanto
December 31, 2024
0
Wayang Wong Tejakula dan Kondisi Ekosistem Pendukungnya

DI jaba tengah (madya mandala)---semacam ruang bagian tengah---Pura Ratu Gede Sambangan, Tejakula, Buleleng, Bali, orang-orang berkumpul, berdesak-desakan, menanti sebuah pertunjukan....

Read moreDetails

Masalah Stunting dan Bagaimana Pemerintah Buleleng Mengatasinya

by Jaswanto
October 29, 2024
0
Masalah Stunting dan Bagaimana Pemerintah Buleleng Mengatasinya

PADA awal tahun, Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Buleleng menggelar Lomba Inovasi Kuliner Berbahan...

Read moreDetails

Pemuda-Pemuda Buleleng Ukir Prestasi di Beragam Bidang: Dari Seni, Olahraga Hingga Pertanian

by Jaswanto
October 18, 2024
0
Pemuda-Pemuda Buleleng Ukir Prestasi di Beragam Bidang: Dari Seni, Olahraga Hingga Pertanian

BARU-BARU ini, pemuda-pemudi Buleleng seperti panen prestasi dari berbagai bidang. Di bidang olahraga, misalnya, atlet-atlet Buleleng yang berlaga di Pekan...

Read moreDetails
Next Post
Takut pada CCTV, Bukan Tuhan

Takut pada CCTV, Bukan Tuhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co