3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tahun Baru, Ibu Bumi, Kedurhakaan Manusia

Ahmad Miftahudin Thohari by Ahmad Miftahudin Thohari
January 9, 2026
in Esai
Tahun Baru, Ibu Bumi, Kedurhakaan Manusia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BAGI siapa saja yang tak berkenan mendengarkan, jangan pernah merasa memahami. Saya menyebut itu kaidah. Berlaku untuk siapa saja, terutama bagi diri saya sendiri. Dan bagi para pemangku kebijakan yang hampir seluruh mandat kesejahteraan hidup rakyat di suatu negeri ini berada dalam wewenangnya, kaidah itu wajib dipraktikkan. Pasalnya, pesona mereka saat ini gemar sekali menutup telinga.

Kalau kaidah itu diabaikan, jangan heran kalau bibit-bibit kemarahan rakyat tumbuh lebih cepat. Apalagi bagi rakyat Aceh yang memiliki memori kelam tidak hanya tentang bencana alam 21 tahun silam, tetapi juga kejahatan politik yang dilakukan negara terhadap nasib sosial mereka. GAM bisa meledak sesegera mungkin. Maka, sudah saatnya pemerintah berhitung matang tentang seluruh perilaku dan omon-omonnya. Segera muhasabah. Menyongsong perjalanan baik tahun 2026 dengan pertama-tama melakukan pertobatan demi pertoban.

Apalagi kehidupan manusia di bumi saat ini sedang dihadapkan pada tantangan kerusakan lingkungan. Di Indonesia, apa yang menimpa provinsi Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Utara sebagai bencana ekologis membuktikan fakta itu. Manusia harus bertanggung jawab; tak hanya bahwa manusia merupakan satu-satunya makhluk rasional yang menghuni bumi, tetapi bahwa manusia jugalah yang menjadi penyebab kerusakan lingkungan itu sendiri.

Dalam relasi silaturahmi manusia dengan bumi, marilah jujur bahwa kita adalah anak-anak yang kelewat durhaka terhadap ibu. Tak tahu diri dan suka semena-mena. Seluruh imajinasi pembangunan yang kita goreskan terhadap bumi hampir tak ada yang tak semena-mena. Penuh kepentingan diri dan rakus. Memang tidak semua anak-anak berlaku durhaka, tapi yang durhaka itu pastilah anak-anak. Terkutuklah, wahai engkau anak-anak tak tahu diri dan suka semena-mena!

Sebab itulah ensiklik kedua—dalam Laudato Si—Paus Fransiskus menyerukan ‘pertobatan ekologis’. Sejalan dengan kala Antroposen yang saat ini sedang kita alami, tidak dapat diragukan lagi bahwa penyebab perubahan-perubahan yang terjadi di permukaan bumi adalah ulah manusia-manusia tak tahu diri dan semena-mena itu. Terkuantifikasi dalam ambisi kapitalismenya yang tidak terkendali terhadap bumi sejak dan selama dua abad terakhir.

Cara pandang antroposentris-kapitalistik warisan arogansi modernisme membuat manusia tidak lagi merasakan bumi sebagai ibu yang menjadi tempat perlindungan hidup. Sebaliknya, mereka malah memahami keberadaan bumi tanpa pertimbangan moral dan etika layaknya yang mesti dilakukan anak kepada ibu. Bumi dieksploitasi begitu rupa hingga luluh lantak. Tak berlebihan untuk disebut kalau cara pandang antroposentris-kapitalistik telah menanamkan bibit kedurhakaan yang secara etis meracuni psikis sekelompok manusia.

Problem epistemik

Kalau kita menelusuri lebih mendalam sebenarnya ini adalah problem epistemik. Semangat pembangunan modern dengan logika kapitalismenya telah membangun worldview, pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran dalam cara pikir manusia utamanya dalam menempatkan posisi bumi. Dalam Ecology, Community, and Lifestyle (1989), Arne Naess telah menegaskan bahwa krisis lingkungan hidup yang saat ini terjadi berasal dari kesalahan fundamental dalam cara manusia memahami dirinya sendiri, alam, dan perannya dalam ekosistem kehidupan.

Pada problem epistemik itu jugalah kritik Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (1968) mengemuka. Sambil melebarkan kritiknya ke arah spiritualitas modern, Nasr panjang lebar mengungkap bahwa epistemologi pengetahuan Barat telah membawa semangat pemisahan antara manusia, alam, bahkan Tuhan. Kesadaran manusia dipalingkan demikian radikal ke arah dunia material oleh proses modernisasi. Sehingga sulit menyangkal bahwa kerusakan lingkungan saat ini sesungguhnya merupakan wujud kemiskinan spiritual dari jiwa manusia sehingga tindakan-tindakannya menyebabkan krisis ekologi.

Bahkan Global Footprint Network telah mempublish rilis bahwa pada tahun 2025 ini, Earth Overshoot Day (Hari Kelebihan Beban Bumi) sudah jatuh pada tanggal 24 Juli lalu; menandai waktu ketika umat manusia telah menghabiskan anggaran alam untuk tahun tersebut. Perlu sekali diketahui ketika manusia begitu rakus dan bumi mengalami beban kelebihan tersebut, bukan hanya akan menjadi faktor utama hilangnya keanekaragaman hayati, kelangkaan sumber daya, deforestasi, dan penumpukan gas rumah kaca di atmosfer yang memperparah peristiwa cuaca ekstrem. “Kelebihan Beban Bumi” juga akan memicu stagflasi, ketidakamanan pangan dan energi, krisis kesehatan, sekaligus konflik. Sudah tentu wilayah, kota, perusahaan, dan negara yang belum mempersiapkan diri untuk kenyataan yang sudah diprediksi ini akan menghadapi risiko jauh lebih tinggi. Dan itu terjadi di tiga provinsi Indonesia: Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara.

Resolusi

Dengan catatan-catatan tersebut, mestinya sudah tak ada penyangkalan lagi dari pemerintah, juga kita semua sebagai manusia. Resolusi 2026 terhadap masa depan ekologis bumi adalah merevisi total cara pandang antroposentris-kapitalistik. Dimulai dengan melakukan pertobatan ekologis; menyadari segala jenis kedurhakaan terhadap bumi yang sudah banyak dilakukan, meminta maaf, dan berjanji tidak akan menjadi anak-anak tak tahu dan suka semena-mena lagi. 

Kita sebagaimana manusia mesti kembali menyadari dan memahami bumi dalam posisi filosofis-etis-ekologisnya sebagai ibu. Sosok yang telah menghidupi kita dengan kelimpahan kekayaan hayati, sehingga wajib bagi kita menghaturkan rasa hormat tiada tanding kepadanya. Sangat sembrono dan haram hukumnya kalau kita justru membangun relasi bisnis yang malah mengeksploitasi sumber daya ibu. Di usia zaman yang semakin menua ini, tak ada pilihan lain selain bertaubat dan meminta maaf kepada bumi.

Saya pikir buku Bacaan Bumi (2025) bisa menjadi sungai epistemik untuk kita semua “bersuci”, lalu berbenah diri. Gerry van Klinken, sebagai penulis dan editor buku tersebut, juga mengajak kita memahami kembali hubungan antara manusia dan bumi yang sebenarnya dulu bersifat sangat kolektif dan mutualistik. Tidak didasari dengan kerakusan dan keuntungan bisnis semata. Akan tetapi, semua itu berubah sejak logika kapitalisme meresapi seluruh sendi kehidupan manusia. 

Dengan segala ikhtiar menyusun agenda-agenda positif di awal tahun 2026, alangkah indahnya bilamana kita juga menyengajakan diri berniat merenungi, memanggil kereta waktu, mengingat-ingat kembali masa tatkala cara pikir kapitalisme kehidupan belum menjakiti kehidupan umat manusia. Sebuah masa kehidupan manusia yang tahu batas dan sadar diri terhadap bumi. Sebuah zaman di mana tidak ada yang begitu sibuk setengah mati dengan klaim “milik pribadi” demi keuntungan golongannya sendiri.

Semua saling berbagi di alam, di bumi. Saling mengikat kebutuhan hidup dalam jaring ikatan web of life. Tidak ada kooptasi kepentingan amat berlebihan berbasis keuntungan bisnis kelompok. Sehingga dengan perenungan itu, akan muncul kebijakan ekologis yang tidak sekadar dikuantifikasi dengan sains modern, tetapi juga didasari dengan kearifan-kearifan lokal masa lalu yang sudah sustainable. [T]

Penulis: Ahmad Miftahudin Thohari
Editor: Adnyana Ole

Tags: ibu pertiwimanusiatahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Realita di Balik Surga Healing Tourism: Menelusuri Akar Krisis Kesehatan Mental di Bali

Next Post

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

Ahmad Miftahudin Thohari

Ahmad Miftahudin Thohari

Alumnus Fisafat UIN Surakarta, Penulis Lepas

Related Posts

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails
Next Post
Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co