14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tahun Baru, Ibu Bumi, Kedurhakaan Manusia

Ahmad Miftahudin Thohari by Ahmad Miftahudin Thohari
January 9, 2026
in Esai
Tahun Baru, Ibu Bumi, Kedurhakaan Manusia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BAGI siapa saja yang tak berkenan mendengarkan, jangan pernah merasa memahami. Saya menyebut itu kaidah. Berlaku untuk siapa saja, terutama bagi diri saya sendiri. Dan bagi para pemangku kebijakan yang hampir seluruh mandat kesejahteraan hidup rakyat di suatu negeri ini berada dalam wewenangnya, kaidah itu wajib dipraktikkan. Pasalnya, pesona mereka saat ini gemar sekali menutup telinga.

Kalau kaidah itu diabaikan, jangan heran kalau bibit-bibit kemarahan rakyat tumbuh lebih cepat. Apalagi bagi rakyat Aceh yang memiliki memori kelam tidak hanya tentang bencana alam 21 tahun silam, tetapi juga kejahatan politik yang dilakukan negara terhadap nasib sosial mereka. GAM bisa meledak sesegera mungkin. Maka, sudah saatnya pemerintah berhitung matang tentang seluruh perilaku dan omon-omonnya. Segera muhasabah. Menyongsong perjalanan baik tahun 2026 dengan pertama-tama melakukan pertobatan demi pertoban.

Apalagi kehidupan manusia di bumi saat ini sedang dihadapkan pada tantangan kerusakan lingkungan. Di Indonesia, apa yang menimpa provinsi Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Utara sebagai bencana ekologis membuktikan fakta itu. Manusia harus bertanggung jawab; tak hanya bahwa manusia merupakan satu-satunya makhluk rasional yang menghuni bumi, tetapi bahwa manusia jugalah yang menjadi penyebab kerusakan lingkungan itu sendiri.

Dalam relasi silaturahmi manusia dengan bumi, marilah jujur bahwa kita adalah anak-anak yang kelewat durhaka terhadap ibu. Tak tahu diri dan suka semena-mena. Seluruh imajinasi pembangunan yang kita goreskan terhadap bumi hampir tak ada yang tak semena-mena. Penuh kepentingan diri dan rakus. Memang tidak semua anak-anak berlaku durhaka, tapi yang durhaka itu pastilah anak-anak. Terkutuklah, wahai engkau anak-anak tak tahu diri dan suka semena-mena!

Sebab itulah ensiklik kedua—dalam Laudato Si—Paus Fransiskus menyerukan ‘pertobatan ekologis’. Sejalan dengan kala Antroposen yang saat ini sedang kita alami, tidak dapat diragukan lagi bahwa penyebab perubahan-perubahan yang terjadi di permukaan bumi adalah ulah manusia-manusia tak tahu diri dan semena-mena itu. Terkuantifikasi dalam ambisi kapitalismenya yang tidak terkendali terhadap bumi sejak dan selama dua abad terakhir.

Cara pandang antroposentris-kapitalistik warisan arogansi modernisme membuat manusia tidak lagi merasakan bumi sebagai ibu yang menjadi tempat perlindungan hidup. Sebaliknya, mereka malah memahami keberadaan bumi tanpa pertimbangan moral dan etika layaknya yang mesti dilakukan anak kepada ibu. Bumi dieksploitasi begitu rupa hingga luluh lantak. Tak berlebihan untuk disebut kalau cara pandang antroposentris-kapitalistik telah menanamkan bibit kedurhakaan yang secara etis meracuni psikis sekelompok manusia.

Problem epistemik

Kalau kita menelusuri lebih mendalam sebenarnya ini adalah problem epistemik. Semangat pembangunan modern dengan logika kapitalismenya telah membangun worldview, pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran dalam cara pikir manusia utamanya dalam menempatkan posisi bumi. Dalam Ecology, Community, and Lifestyle (1989), Arne Naess telah menegaskan bahwa krisis lingkungan hidup yang saat ini terjadi berasal dari kesalahan fundamental dalam cara manusia memahami dirinya sendiri, alam, dan perannya dalam ekosistem kehidupan.

Pada problem epistemik itu jugalah kritik Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (1968) mengemuka. Sambil melebarkan kritiknya ke arah spiritualitas modern, Nasr panjang lebar mengungkap bahwa epistemologi pengetahuan Barat telah membawa semangat pemisahan antara manusia, alam, bahkan Tuhan. Kesadaran manusia dipalingkan demikian radikal ke arah dunia material oleh proses modernisasi. Sehingga sulit menyangkal bahwa kerusakan lingkungan saat ini sesungguhnya merupakan wujud kemiskinan spiritual dari jiwa manusia sehingga tindakan-tindakannya menyebabkan krisis ekologi.

Bahkan Global Footprint Network telah mempublish rilis bahwa pada tahun 2025 ini, Earth Overshoot Day (Hari Kelebihan Beban Bumi) sudah jatuh pada tanggal 24 Juli lalu; menandai waktu ketika umat manusia telah menghabiskan anggaran alam untuk tahun tersebut. Perlu sekali diketahui ketika manusia begitu rakus dan bumi mengalami beban kelebihan tersebut, bukan hanya akan menjadi faktor utama hilangnya keanekaragaman hayati, kelangkaan sumber daya, deforestasi, dan penumpukan gas rumah kaca di atmosfer yang memperparah peristiwa cuaca ekstrem. “Kelebihan Beban Bumi” juga akan memicu stagflasi, ketidakamanan pangan dan energi, krisis kesehatan, sekaligus konflik. Sudah tentu wilayah, kota, perusahaan, dan negara yang belum mempersiapkan diri untuk kenyataan yang sudah diprediksi ini akan menghadapi risiko jauh lebih tinggi. Dan itu terjadi di tiga provinsi Indonesia: Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara.

Resolusi

Dengan catatan-catatan tersebut, mestinya sudah tak ada penyangkalan lagi dari pemerintah, juga kita semua sebagai manusia. Resolusi 2026 terhadap masa depan ekologis bumi adalah merevisi total cara pandang antroposentris-kapitalistik. Dimulai dengan melakukan pertobatan ekologis; menyadari segala jenis kedurhakaan terhadap bumi yang sudah banyak dilakukan, meminta maaf, dan berjanji tidak akan menjadi anak-anak tak tahu dan suka semena-mena lagi. 

Kita sebagaimana manusia mesti kembali menyadari dan memahami bumi dalam posisi filosofis-etis-ekologisnya sebagai ibu. Sosok yang telah menghidupi kita dengan kelimpahan kekayaan hayati, sehingga wajib bagi kita menghaturkan rasa hormat tiada tanding kepadanya. Sangat sembrono dan haram hukumnya kalau kita justru membangun relasi bisnis yang malah mengeksploitasi sumber daya ibu. Di usia zaman yang semakin menua ini, tak ada pilihan lain selain bertaubat dan meminta maaf kepada bumi.

Saya pikir buku Bacaan Bumi (2025) bisa menjadi sungai epistemik untuk kita semua “bersuci”, lalu berbenah diri. Gerry van Klinken, sebagai penulis dan editor buku tersebut, juga mengajak kita memahami kembali hubungan antara manusia dan bumi yang sebenarnya dulu bersifat sangat kolektif dan mutualistik. Tidak didasari dengan kerakusan dan keuntungan bisnis semata. Akan tetapi, semua itu berubah sejak logika kapitalisme meresapi seluruh sendi kehidupan manusia. 

Dengan segala ikhtiar menyusun agenda-agenda positif di awal tahun 2026, alangkah indahnya bilamana kita juga menyengajakan diri berniat merenungi, memanggil kereta waktu, mengingat-ingat kembali masa tatkala cara pikir kapitalisme kehidupan belum menjakiti kehidupan umat manusia. Sebuah masa kehidupan manusia yang tahu batas dan sadar diri terhadap bumi. Sebuah zaman di mana tidak ada yang begitu sibuk setengah mati dengan klaim “milik pribadi” demi keuntungan golongannya sendiri.

Semua saling berbagi di alam, di bumi. Saling mengikat kebutuhan hidup dalam jaring ikatan web of life. Tidak ada kooptasi kepentingan amat berlebihan berbasis keuntungan bisnis kelompok. Sehingga dengan perenungan itu, akan muncul kebijakan ekologis yang tidak sekadar dikuantifikasi dengan sains modern, tetapi juga didasari dengan kearifan-kearifan lokal masa lalu yang sudah sustainable. [T]

Penulis: Ahmad Miftahudin Thohari
Editor: Adnyana Ole

Tags: ibu pertiwimanusiatahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Realita di Balik Surga Healing Tourism: Menelusuri Akar Krisis Kesehatan Mental di Bali

Next Post

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

Ahmad Miftahudin Thohari

Ahmad Miftahudin Thohari

Alumnus Fisafat UIN Surakarta, Penulis Lepas

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co