2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tahun Baru, Ibu Bumi, Kedurhakaan Manusia

Ahmad Miftahudin Thohari by Ahmad Miftahudin Thohari
January 9, 2026
in Esai
Tahun Baru, Ibu Bumi, Kedurhakaan Manusia

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BAGI siapa saja yang tak berkenan mendengarkan, jangan pernah merasa memahami. Saya menyebut itu kaidah. Berlaku untuk siapa saja, terutama bagi diri saya sendiri. Dan bagi para pemangku kebijakan yang hampir seluruh mandat kesejahteraan hidup rakyat di suatu negeri ini berada dalam wewenangnya, kaidah itu wajib dipraktikkan. Pasalnya, pesona mereka saat ini gemar sekali menutup telinga.

Kalau kaidah itu diabaikan, jangan heran kalau bibit-bibit kemarahan rakyat tumbuh lebih cepat. Apalagi bagi rakyat Aceh yang memiliki memori kelam tidak hanya tentang bencana alam 21 tahun silam, tetapi juga kejahatan politik yang dilakukan negara terhadap nasib sosial mereka. GAM bisa meledak sesegera mungkin. Maka, sudah saatnya pemerintah berhitung matang tentang seluruh perilaku dan omon-omonnya. Segera muhasabah. Menyongsong perjalanan baik tahun 2026 dengan pertama-tama melakukan pertobatan demi pertoban.

Apalagi kehidupan manusia di bumi saat ini sedang dihadapkan pada tantangan kerusakan lingkungan. Di Indonesia, apa yang menimpa provinsi Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Utara sebagai bencana ekologis membuktikan fakta itu. Manusia harus bertanggung jawab; tak hanya bahwa manusia merupakan satu-satunya makhluk rasional yang menghuni bumi, tetapi bahwa manusia jugalah yang menjadi penyebab kerusakan lingkungan itu sendiri.

Dalam relasi silaturahmi manusia dengan bumi, marilah jujur bahwa kita adalah anak-anak yang kelewat durhaka terhadap ibu. Tak tahu diri dan suka semena-mena. Seluruh imajinasi pembangunan yang kita goreskan terhadap bumi hampir tak ada yang tak semena-mena. Penuh kepentingan diri dan rakus. Memang tidak semua anak-anak berlaku durhaka, tapi yang durhaka itu pastilah anak-anak. Terkutuklah, wahai engkau anak-anak tak tahu diri dan suka semena-mena!

Sebab itulah ensiklik kedua—dalam Laudato Si—Paus Fransiskus menyerukan ‘pertobatan ekologis’. Sejalan dengan kala Antroposen yang saat ini sedang kita alami, tidak dapat diragukan lagi bahwa penyebab perubahan-perubahan yang terjadi di permukaan bumi adalah ulah manusia-manusia tak tahu diri dan semena-mena itu. Terkuantifikasi dalam ambisi kapitalismenya yang tidak terkendali terhadap bumi sejak dan selama dua abad terakhir.

Cara pandang antroposentris-kapitalistik warisan arogansi modernisme membuat manusia tidak lagi merasakan bumi sebagai ibu yang menjadi tempat perlindungan hidup. Sebaliknya, mereka malah memahami keberadaan bumi tanpa pertimbangan moral dan etika layaknya yang mesti dilakukan anak kepada ibu. Bumi dieksploitasi begitu rupa hingga luluh lantak. Tak berlebihan untuk disebut kalau cara pandang antroposentris-kapitalistik telah menanamkan bibit kedurhakaan yang secara etis meracuni psikis sekelompok manusia.

Problem epistemik

Kalau kita menelusuri lebih mendalam sebenarnya ini adalah problem epistemik. Semangat pembangunan modern dengan logika kapitalismenya telah membangun worldview, pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran dalam cara pikir manusia utamanya dalam menempatkan posisi bumi. Dalam Ecology, Community, and Lifestyle (1989), Arne Naess telah menegaskan bahwa krisis lingkungan hidup yang saat ini terjadi berasal dari kesalahan fundamental dalam cara manusia memahami dirinya sendiri, alam, dan perannya dalam ekosistem kehidupan.

Pada problem epistemik itu jugalah kritik Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man (1968) mengemuka. Sambil melebarkan kritiknya ke arah spiritualitas modern, Nasr panjang lebar mengungkap bahwa epistemologi pengetahuan Barat telah membawa semangat pemisahan antara manusia, alam, bahkan Tuhan. Kesadaran manusia dipalingkan demikian radikal ke arah dunia material oleh proses modernisasi. Sehingga sulit menyangkal bahwa kerusakan lingkungan saat ini sesungguhnya merupakan wujud kemiskinan spiritual dari jiwa manusia sehingga tindakan-tindakannya menyebabkan krisis ekologi.

Bahkan Global Footprint Network telah mempublish rilis bahwa pada tahun 2025 ini, Earth Overshoot Day (Hari Kelebihan Beban Bumi) sudah jatuh pada tanggal 24 Juli lalu; menandai waktu ketika umat manusia telah menghabiskan anggaran alam untuk tahun tersebut. Perlu sekali diketahui ketika manusia begitu rakus dan bumi mengalami beban kelebihan tersebut, bukan hanya akan menjadi faktor utama hilangnya keanekaragaman hayati, kelangkaan sumber daya, deforestasi, dan penumpukan gas rumah kaca di atmosfer yang memperparah peristiwa cuaca ekstrem. “Kelebihan Beban Bumi” juga akan memicu stagflasi, ketidakamanan pangan dan energi, krisis kesehatan, sekaligus konflik. Sudah tentu wilayah, kota, perusahaan, dan negara yang belum mempersiapkan diri untuk kenyataan yang sudah diprediksi ini akan menghadapi risiko jauh lebih tinggi. Dan itu terjadi di tiga provinsi Indonesia: Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara.

Resolusi

Dengan catatan-catatan tersebut, mestinya sudah tak ada penyangkalan lagi dari pemerintah, juga kita semua sebagai manusia. Resolusi 2026 terhadap masa depan ekologis bumi adalah merevisi total cara pandang antroposentris-kapitalistik. Dimulai dengan melakukan pertobatan ekologis; menyadari segala jenis kedurhakaan terhadap bumi yang sudah banyak dilakukan, meminta maaf, dan berjanji tidak akan menjadi anak-anak tak tahu dan suka semena-mena lagi. 

Kita sebagaimana manusia mesti kembali menyadari dan memahami bumi dalam posisi filosofis-etis-ekologisnya sebagai ibu. Sosok yang telah menghidupi kita dengan kelimpahan kekayaan hayati, sehingga wajib bagi kita menghaturkan rasa hormat tiada tanding kepadanya. Sangat sembrono dan haram hukumnya kalau kita justru membangun relasi bisnis yang malah mengeksploitasi sumber daya ibu. Di usia zaman yang semakin menua ini, tak ada pilihan lain selain bertaubat dan meminta maaf kepada bumi.

Saya pikir buku Bacaan Bumi (2025) bisa menjadi sungai epistemik untuk kita semua “bersuci”, lalu berbenah diri. Gerry van Klinken, sebagai penulis dan editor buku tersebut, juga mengajak kita memahami kembali hubungan antara manusia dan bumi yang sebenarnya dulu bersifat sangat kolektif dan mutualistik. Tidak didasari dengan kerakusan dan keuntungan bisnis semata. Akan tetapi, semua itu berubah sejak logika kapitalisme meresapi seluruh sendi kehidupan manusia. 

Dengan segala ikhtiar menyusun agenda-agenda positif di awal tahun 2026, alangkah indahnya bilamana kita juga menyengajakan diri berniat merenungi, memanggil kereta waktu, mengingat-ingat kembali masa tatkala cara pikir kapitalisme kehidupan belum menjakiti kehidupan umat manusia. Sebuah masa kehidupan manusia yang tahu batas dan sadar diri terhadap bumi. Sebuah zaman di mana tidak ada yang begitu sibuk setengah mati dengan klaim “milik pribadi” demi keuntungan golongannya sendiri.

Semua saling berbagi di alam, di bumi. Saling mengikat kebutuhan hidup dalam jaring ikatan web of life. Tidak ada kooptasi kepentingan amat berlebihan berbasis keuntungan bisnis kelompok. Sehingga dengan perenungan itu, akan muncul kebijakan ekologis yang tidak sekadar dikuantifikasi dengan sains modern, tetapi juga didasari dengan kearifan-kearifan lokal masa lalu yang sudah sustainable. [T]

Penulis: Ahmad Miftahudin Thohari
Editor: Adnyana Ole

Tags: ibu pertiwimanusiatahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Realita di Balik Surga Healing Tourism: Menelusuri Akar Krisis Kesehatan Mental di Bali

Next Post

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

Ahmad Miftahudin Thohari

Ahmad Miftahudin Thohari

Alumnus Fisafat UIN Surakarta, Penulis Lepas

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

Melihat Gambuh dari Kacamata Hitam dan Percakapan yang Menerus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co