6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Ghost Rich’ si Kaya di ‘Feed’, Rapuh di Hidup Nyata

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 9, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman,  saya rasa-rasa di zaman sekarang, untuk kelihatan kaya itu gampang. Seperti yang lazim kita lakukan, kita tinggal buka Instagram, numpang kafe yang kursinya dari besi soalnya kalau harus beli sendiri harganya bikin mikir, pesan kopi dengan nama yang susah dieja, buka laptop, yang meski cuma buat balas WhatsApp, ambil hp, lalu foto-foto,  upload, dan selesai.

Selamat, anda kaya. Yah, setidaknya tampak kaya. Fenomena ini belakangan populer disebut ghost rich, orang-orang yang secara kasat mata tampak mapan, nongkrong di kafe estetik, laptop mahal kreditan yang terbuka, liburan sesekali, feed Instagram rapi, hidupnya estetik, tapi masa depannya , nanti saja dipikirkan. Jadi hidupnya berasa  dalam ketegangan ekonomi jangka panjang.  Kaya, tapi seperti hantu, ada ketika dilihat, menghilang ketika diuji realitas. Rasanya agak pahit sepahit kopinya.

Fenomena ini sering ditertawakan. Dibilang halu, miskin tapi banyak gaya. Padahal, kalau fenomena ini dibaca lebih dalam, ghost rich itu  tidak bisa dijadikan bahan ejekan. Ia adalah anak sah dari sistem sosial kita sendiri. Ia adalah produk sistem sosial yang mengubah cara kita memahami sukses, kerja, dan hidup.

Yang Penting Kelihatan

Tapi saudara, mari kita luruskan satu hal penting. Ghost rich ini bukan orang miskin yang pura-pura kaya.   Dan ini penting untuk ditegaskan. Ghost rich seringkali memang punya uang. Mereka tidak berbohong sepenuhnya.  Bisa bayar, jajan, dan hidup layak untuk ukuran sekarang. Jadi masalahnya bukan ada uang atau tidak, kaya beneran atau tidak.

Masalah yang lebih fundamental adalah uang itu berdiri di atas struktur apa? Dalam ilmu sosial, kaya bukan soal hari ini bisa beli apa, tapi soal besok masih bisa hidup dengan cara bagaimana.  Saya yakin kita bisa sepakat bahwa kekayaan yang sungguh-sungguh selalu terkait dengan waktu. Yakni kemampuan bertahan ketika krisis datang, ketika usia bertambah, ketika tubuh melemah, ketika pasar berubah.

Jadi kaya itu ada urusannya dengan waktu, bukan feed. Urusannya dengan ketahanan, bukan estetika. Ghost rich kuat di momen, lemah di durasi. Kuat di tampilan, rapuh di struktur. Mirip pertempuran klasik, mana yang lebih punya daya tahan antara bodybuilder dengan kuli.

Media sosial tidak pernah bertanya apakah hidup kita aman atau tidak. Ia hanya peduli apakah hidup kelihatan menarik di konten atau tidak. Itu saja. Di sinilah kita hidup dalam apa yang disebut Byung-Chul Han sebagai masyarakat performatif. Kita tidak lagi dipaksa oleh negara atau majikan, tetapi oleh hasrat untuk menampilkan diri.

Kita mengeksploitasi diri sendiri, sambil merasa bebas. Kerja kemudian bukan lagi sarana hidup, tapi materi konten. Sibuk bukan lagi kebutuhan, tapi simbol kemapanan. Lelah yang ditunjukkan juga bukan tanda eksploitasi, melainkan bukti dedikasi dan identitas. Danbuntutnya, ghost rich lahir bukan karena ingin pamer, tapi besar kemungkinan karena takut tak terlihat. Dalam iklim seperti ini, ghost rich bukan anomali. Ia adalah tipe subjek ideal zaman medsos.

Sibuk Itu Keren, Bermakna Belakangan

Pernah ada suatu masa, dimana kerja itu adalah soal tanggung jawab. Soal proses dan  konsistensi.
Jadi ingat dalam etika klasik  Max Weber, bahwasanya kerja adalah panggilan hidup. Sementara kini mulai ada gejala kalau kerja itu soal kelihatan sibuk.  Hari ini, kerja adalah alat eksistensi, kerja berubah menjadi pertunjukan identitas. Kalau tidak kerja, jelas takut. Kalau sudah kerja, tapi tidak kelihatan, lebih takut lagi.  Akhirnya, semua orang sibuk. Cuma saja,  tidak semua yang sibuk ini tahu sedang menuju ke mana.

Kembali ke hal pertama yaitu ghost rich. Ghost rich menormalkan hidup tanpa pegangan, di mana kerja tanpa jaminan, demikian juga jam tanpa batas, minim aset, akhirnya masa depan tanpa rencana. Dan anehnya, semua itu dirayakan. Jadi, kalo gitu mereka ini salah, dong? Maaf, jujur saja menyalahkan individu itu tanda malas berpikir. Di titik ini, kita mau tak mau kita harus legowo, semacam ikhlas bahwa ghost rich bukan karena generasi muda lemah. Semua itu karena memang  sisetm ekonomi kini makin tidak ramah jangka panjang.

Segala macam yang disebut stabilitas makin mahal, dan sukses struktural makin sempit. Maka yang tersisa adalah sukses simbolik. Kalau stuktur bangunan rumah adalah  simbol kemapanan,  maka tampilan menggantikan fondasinya. Feed menggantikan rumahnya. Like menggantikan rasa amannya. Dengan bahasa Pierre Bourdieu, mereka kaya secara simbolik, tapi miskin secara struktural. Dan hidup seperti itu harus diakui, terasa  melelahkan.

Pendidikan Ikut-Ikutan Jadi Panggung

Yang bikin agak gimana gitu, adalah ketika logika ini masuk ke dunia pendidikan. Sekolah dan kampus, yang seharusnya jadi ruang berpikir, berdialektika, dan kritis, pelan-pelan bergeser dari ruang pembentukan nalar menjadi panggung pencitraan intelektual. 

Mahasiswa rajin ikut ini-itu. Webinar, sertifikat, bootcamp, kelas online, semua dikoleksi seperti stiker. bukan untuk dipahami, tapi untuk dipajang. Belajar pelan tapi pasti akan dianggap kalah start.  Takut gagal, karena gagal dianggap memalukan. Diam tapi berpikir dianggap tidak produktif. Pendidikan bisa-bisa akan kehilangan satu hal penting, yaitu kedalaman. Yang tersisa adalah aktivitas tanpa refleksi. Ramai, tapi kosong. Sibuk, tapi bingung.

Di sinilah posisi pendidik menjadi genting. Kalau pendidik ikut-ikutan pamer jabatan, jual motivasi kosong, panik terlihat tidak sukses, ya, habislah sudah.  Pendidik bukan influencer, tapi justru semacam jangkar. Tetap berpegang teguh pada prinsip utama tanpa terombang-ambing keadaan. Di tengah situasi ini, pendidik sering berada di persimpangan moral. Satu sisi ingin mengkritik, di sisi lain merasa tidak tega juga melihat mahasiswa hidup dalam tekanan performatif. Mau bersikap sinis justru  malah akan memperparah situasi.

Posisi pendidik, meski terbiasa berpikir kritis,  seharusnya bukan sebagai pembongkar topeng, tapi penyedia ruang aman. Ruang di mana gagal tidak dipermalukan, lambat tidak ditertawakan, dan hidup tidak harus selalu “on” seperti para superhero Avengers. 

Pendidik perlu membantu generasi muda membedakan uang dan hidup, antara kerja dan martabat, antara sukses cepat dan hidup panjang. Bukan lewat ceramah moral, tapi lewat keteladanan. Bisa menunjukkan sikap untuk tidak panik secara simbolik, tidak ikut flexing, juga tidak menjual ilusi keberhasilan.  Dalam semangat Hannah Arendt, berarti pendidikan perlu menghidupkan kembali ruang kontemplasi, waktu untuk berpikir sebelum bertindak, dan memahami sebelum menampilkan. 

Hidup Masih Panjang

Jika kita merasa kasihan pada para ghost rich, itu bukan sikap lemah. Bahkan, itu tanda kita masih punya empati sosial. Kita melihat orang-orang muda yang bekerja keras dan berdedikasi, tapi hidup dalam sistem yang memaksa mereka untuk tampak berhasil meski posisi dalam hidup belum benar-benar aman. 

Masalahnya bukan generasi mudanya. Masalahnya adalah masyarakat yang lebih menghargai citra daripada keberlanjutan hidup.  Dan di tengah masyarakat seperti ini, tugas pendidikan bukan mencetak pemenang lomba tampilan, melainkan manusia yang sanggup hidup tanpa harus terus membuktikan diri,  yaitu manusia yang tidak hancur saat tidak terlihat sukses.  Karena pada akhirnya, kita semua sadar bahwa hidup bukan soal siapa paling terlihat berhasil hari ini, tapi siapa yang masih bisa bernapas tenang besok pagi ketika kamera dimatikan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: gaya hidupgaya hidup mewahInstagrammedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fadel Muhammad: Jagung, Garam, dan Laku Seorang Ksatria — Daerah Kuat, Bangsa dan Negara Kuat

Next Post

Realita di Balik Surga Healing Tourism: Menelusuri Akar Krisis Kesehatan Mental di Bali

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Realita di Balik Surga Healing Tourism: Menelusuri Akar Krisis Kesehatan Mental di Bali

Realita di Balik Surga Healing Tourism: Menelusuri Akar Krisis Kesehatan Mental di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co