2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fadel Muhammad: Jagung, Garam, dan Laku Seorang Ksatria — Daerah Kuat, Bangsa dan Negara Kuat

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
January 9, 2026
in Esai
Fadel Muhammad: Jagung, Garam, dan Laku Seorang Ksatria — Daerah Kuat, Bangsa dan Negara Kuat

Jumat, 27 Juni 2008. Saya bertemu Fadel Muhammad dalam sebuah roadshow di Kesiman Kertalangu Denpasar. Di hadapan sekitar seratus lebih peserta, Fadel mengangkat topik yang sangat sederhana: jagung di Gorontalo. Namun di balik kesederhanaan itu, saya menangkap satu gagasan besar yang terus terngiang hingga hari ini, sebuah slogan yang ia ucapkan dengan keyakinan penuh: “Daerah kuat, bangsa dan negara kuat.”

Kalimat itu bukan jargon kosong. Ia adalah ringkasan cara berpikir, sekaligus laku kebijakan.

Fadel membuka pembicaraan dengan kejujuran yang jarang ditemui: “Hambatan terbesar adalah birokrasi yang begitu lamban.”

Bagi Fadel, masalah pembangunan bukan terletak pada kurangnya sumber daya, melainkan pada sistem yang membuat sumber daya tak pernah diurus secara bijak. Maka langkah awalnya sebagai Gubernur Gorontalo bukan proyek mercusuar, melainkan tindakan struktural yang sunyi tapi radikal: memotong birokrasi dari 14 meja menjadi hanya tiga meja.

Di Indonesia, memotong birokrasi bukan sekadar soal efisiensi. Ia berarti memotong kepentingan, rente, dan kenyamanan banyak pihak. Tetapi bagi Fadel, birokrasi tidak boleh menjadi penghalang rakyat. Jabatan baginya bukan posisi untuk dilayani, melainkan alat untuk melayani.

Jagung kemudian menjadi medan pembuktian. Saat ia mulai menjabat, produksi jagung Gorontalo hanya sekitar 50 ribu ton per tahun. Petani bekerja keras, tetapi terjebak harga rendah. Rp400 per kilogram bukan harga yang memerdekakan. Itu harga yang membuat petani bertahan, bukan sejahtera.

Fadel mengambil keputusan yang tidak populer bagi dogma pasar bebas, tetapi adil bagi rakyat: harga jagung ditetapkan menjadi Rp700 per kilogram. Lebih penting lagi, ia mengubah peran negara. Petani diminta fokus pada produksi. Pasar, distribusi, dan bahkan ekspor disupport langsung oleh pemerintah daerah.

Negara tidak lagi menjadi wasit pasif, melainkan penyangga. Negara hadir agar petani tidak dipaksa menjadi pedagang, spekulan, atau korban fluktuasi pasar. Hasilnya bukan retorika. Dalam lima tahun, produksi jagung Gorontalo melonjak menjadi sekitar 750 ribu ton per tahun. Angka ini bukan keajaiban. Ia adalah konsekuensi dari keberpihakan yang pro rakyat.

Yang membuat saya lebih terdiam adalah laku personalnya. Dengan nada datar, tanpa pencitraan, ia berkata:
“Saya tidak membuat bisnis satu pun di Gorontalo, juga dengan keluarga saya, karena ini akan membuat saya tidak adil.”

Ini bukan sekadar pernyataan etis, melainkan sikap ksatria. Itu adalah laku sejati seorang ksatria: bebas dari godaan laku wesia, bebas dari kepentingan dagang, dan sepenuhnya menjadi abdi masyarakat. Dalam dunia politik yang penuh konflik kepentingan, sikap ini nyaris tak terdengar. Yang kerap muncul adalah Ksatria Magang (Ksatria berMental dAGANG), menguntungkan diri sendiri dan para kroni dagangnya.

Ia juga tidak pernah nyaman menyebut dirinya pejabat negara. Ia memilih istilah pejabat publik. Perbedaan ini penting. Negara baginya adalah alat. Publik adalah tujuan. Ia tidak ingin bersembunyi di balik simbol negara, tetapi berdiri langsung di hadapan rakyat.

Sumber foto: Dokumentasi majalah koleksi penulis

Dengan reputasinya yang sudah dikenal di tingkat nasional, beberapa sahabat melihatnya turun derajat memilih jadi Gubernur di sebuah kota yang baru saja menjadi sebuah provinsi, namun sesungguhnya itu adalah amanat dari sang Ibu tercinta yang mangatakan,”sekarang kau sudah berhasil, sumbangsih apa yang dapat kau berikan kepada daerah kelahiranmu?” Pertanyaan itu sekaligus perintah dan amanat yang “menurunkan” statusnya dari level nasional ke level daerah yang baru seumur balita.

Dari Jagung ke Garam: Prinsip yang Konsisten

Bertahun-tahun kemudian, ketika Fadel Muhammad menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, saya melihat slogan itu hidup kembali—kali ini dalam skala nasional—melalui kebijakan garam. Ketika itu, sebagai negara yang dikelilingi laut, kita melakukan tindakan aneh tapi nyata, impor garam. Sebagai menteri, Fadel langsung turun ke daearah dan mengumpulkan petani garam. Namun begitu selangkah lagi akan mampu swasembada, Fadel harus menenggung akibat, digusur dalam kabinet. Tanya kenapa?

Garam, seperti jagung, adalah komoditas dasar. Bedanya, garam menyentuh wilayah yang jauh lebih sensitif: industri besar, importir, jaringan perizinan, dan rente kebijakan. Ketika Fadel berusaha melakukan swasembada garam,dia sedang memotong sistem yang selama ini nyaman dengan ketergantungan. Ia ingin petani garam, seperti petani jagung, fokus pada produksi, sementara negara bertanggung jawab membangun ekosistem pasar yang adil. Tetapi di tingkat nasional, keberpihakan seperti ini jauh lebih berbahaya secara politik, terutama bagi pihak importir.

Namun bagi saya, yang pernah mendengar ia berbicara tentang jagung, sikap itu sepenuhnya konsisten. Jagung di Gorontalo dan garam nasional adalah satu garis komuditas yang sama. Jika daerah harus kuat agar bangsa kuat, maka produksi rakyat harus dilindungi agar negara berdaulat.

Harga Keberanian

Menghentikan impor berarti merugikan pihak-pihak tertentu. Importir kehilangan pasar. Industri harus beradaptasi. Rantai rente birokrasi terputus. Sebaliknya, petani diuntungkan—tetapi suara mereka sunyi dan jarang menentukan arah kebijakan.

Keuntungan petani bersifat jangka panjang. Kerugian importir bersifat langsung. Dalam politik, yang langsung dan gaduh sering kali lebih berkuasa daripada yang benar tetapi sunyi.

Ketika Fadel akhirnya dilengserkan dalam reshuffle kabinet 2011, tidak ada alasan resmi yang menyebut garam. Politik jarang seterang itu. Namun sejarah kebijakan sering menunjukkan pola yang sama: mereka yang terlalu konsisten memotong rente dan konflik kepentingan, sering kali tidak diberi waktu panjang.

Refleksi Penutup

Pengalaman Gorontalo membuktikan bahwa slogan “daerah kuat, bangsa dan negara kuat” bukan retorika. Dari 50 ribu ton menjadi 750 ribu ton, hasilnya nyata. Tidak ada sihir dan sim salabim di sana. Hanya akal sehat, keberanian, konsistensi, dan integritas.

Indonesia sering berbicara tentang kedaulatan, tetapi gugup ketika seseorang benar-benar mencoba mewujudkannya. Kita memuja kata “swasembada” dalam pidato, tetapi curiga pada laku yang memotong rente.

Fadel Muhammad, melalui jagung dan garam, mengingatkan kita bahwa kepemimpinan sejati bukan kecerdikan mengelola kepentingan, melainkan keberanian menolak konflik kepentingan. Bahwa pejabat publik bukan pedagang kebijakan. Dan bahwa laku ksatria dalam pemerintahan bukan romantisme masa lalu, melainkan kebutuhan masa kini.

Pertemuan singkat di Bali itu, bagi saya, bukan sekadar kenangan pribadi. Ia adalah fragmen kecil dari sejarah Indonesia—tentang bagaimana integritas pernah benar-benar dicoba, dan tentang harga yang harus dibayar ketika seseorang memilih berpihak pada rakyat.

Dan pertanyaan itu tetap relevan hingga hari ini:
jika daerah dikuatkan dengan kejujuran dan keberanian, masihkah bangsa ini ragu untuk menjadi kuat? [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomiFadel Muhammadnegara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Next Post

‘Ghost Rich’ si Kaya di ‘Feed’, Rapuh di Hidup Nyata

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

‘Ghost Rich’ si Kaya di ‘Feed’, Rapuh di Hidup Nyata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co