22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fadel Muhammad: Jagung, Garam, dan Laku Seorang Ksatria — Daerah Kuat, Bangsa dan Negara Kuat

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
January 9, 2026
in Esai
Fadel Muhammad: Jagung, Garam, dan Laku Seorang Ksatria — Daerah Kuat, Bangsa dan Negara Kuat

Jumat, 27 Juni 2008. Saya bertemu Fadel Muhammad dalam sebuah roadshow di Kesiman Kertalangu Denpasar. Di hadapan sekitar seratus lebih peserta, Fadel mengangkat topik yang sangat sederhana: jagung di Gorontalo. Namun di balik kesederhanaan itu, saya menangkap satu gagasan besar yang terus terngiang hingga hari ini, sebuah slogan yang ia ucapkan dengan keyakinan penuh: “Daerah kuat, bangsa dan negara kuat.”

Kalimat itu bukan jargon kosong. Ia adalah ringkasan cara berpikir, sekaligus laku kebijakan.

Fadel membuka pembicaraan dengan kejujuran yang jarang ditemui: “Hambatan terbesar adalah birokrasi yang begitu lamban.”

Bagi Fadel, masalah pembangunan bukan terletak pada kurangnya sumber daya, melainkan pada sistem yang membuat sumber daya tak pernah diurus secara bijak. Maka langkah awalnya sebagai Gubernur Gorontalo bukan proyek mercusuar, melainkan tindakan struktural yang sunyi tapi radikal: memotong birokrasi dari 14 meja menjadi hanya tiga meja.

Di Indonesia, memotong birokrasi bukan sekadar soal efisiensi. Ia berarti memotong kepentingan, rente, dan kenyamanan banyak pihak. Tetapi bagi Fadel, birokrasi tidak boleh menjadi penghalang rakyat. Jabatan baginya bukan posisi untuk dilayani, melainkan alat untuk melayani.

Jagung kemudian menjadi medan pembuktian. Saat ia mulai menjabat, produksi jagung Gorontalo hanya sekitar 50 ribu ton per tahun. Petani bekerja keras, tetapi terjebak harga rendah. Rp400 per kilogram bukan harga yang memerdekakan. Itu harga yang membuat petani bertahan, bukan sejahtera.

Fadel mengambil keputusan yang tidak populer bagi dogma pasar bebas, tetapi adil bagi rakyat: harga jagung ditetapkan menjadi Rp700 per kilogram. Lebih penting lagi, ia mengubah peran negara. Petani diminta fokus pada produksi. Pasar, distribusi, dan bahkan ekspor disupport langsung oleh pemerintah daerah.

Negara tidak lagi menjadi wasit pasif, melainkan penyangga. Negara hadir agar petani tidak dipaksa menjadi pedagang, spekulan, atau korban fluktuasi pasar. Hasilnya bukan retorika. Dalam lima tahun, produksi jagung Gorontalo melonjak menjadi sekitar 750 ribu ton per tahun. Angka ini bukan keajaiban. Ia adalah konsekuensi dari keberpihakan yang pro rakyat.

Yang membuat saya lebih terdiam adalah laku personalnya. Dengan nada datar, tanpa pencitraan, ia berkata:
“Saya tidak membuat bisnis satu pun di Gorontalo, juga dengan keluarga saya, karena ini akan membuat saya tidak adil.”

Ini bukan sekadar pernyataan etis, melainkan sikap ksatria. Itu adalah laku sejati seorang ksatria: bebas dari godaan laku wesia, bebas dari kepentingan dagang, dan sepenuhnya menjadi abdi masyarakat. Dalam dunia politik yang penuh konflik kepentingan, sikap ini nyaris tak terdengar. Yang kerap muncul adalah Ksatria Magang (Ksatria berMental dAGANG), menguntungkan diri sendiri dan para kroni dagangnya.

Ia juga tidak pernah nyaman menyebut dirinya pejabat negara. Ia memilih istilah pejabat publik. Perbedaan ini penting. Negara baginya adalah alat. Publik adalah tujuan. Ia tidak ingin bersembunyi di balik simbol negara, tetapi berdiri langsung di hadapan rakyat.

Sumber foto: Dokumentasi majalah koleksi penulis

Dengan reputasinya yang sudah dikenal di tingkat nasional, beberapa sahabat melihatnya turun derajat memilih jadi Gubernur di sebuah kota yang baru saja menjadi sebuah provinsi, namun sesungguhnya itu adalah amanat dari sang Ibu tercinta yang mangatakan,”sekarang kau sudah berhasil, sumbangsih apa yang dapat kau berikan kepada daerah kelahiranmu?” Pertanyaan itu sekaligus perintah dan amanat yang “menurunkan” statusnya dari level nasional ke level daerah yang baru seumur balita.

Dari Jagung ke Garam: Prinsip yang Konsisten

Bertahun-tahun kemudian, ketika Fadel Muhammad menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, saya melihat slogan itu hidup kembali—kali ini dalam skala nasional—melalui kebijakan garam. Ketika itu, sebagai negara yang dikelilingi laut, kita melakukan tindakan aneh tapi nyata, impor garam. Sebagai menteri, Fadel langsung turun ke daearah dan mengumpulkan petani garam. Namun begitu selangkah lagi akan mampu swasembada, Fadel harus menenggung akibat, digusur dalam kabinet. Tanya kenapa?

Garam, seperti jagung, adalah komoditas dasar. Bedanya, garam menyentuh wilayah yang jauh lebih sensitif: industri besar, importir, jaringan perizinan, dan rente kebijakan. Ketika Fadel berusaha melakukan swasembada garam,dia sedang memotong sistem yang selama ini nyaman dengan ketergantungan. Ia ingin petani garam, seperti petani jagung, fokus pada produksi, sementara negara bertanggung jawab membangun ekosistem pasar yang adil. Tetapi di tingkat nasional, keberpihakan seperti ini jauh lebih berbahaya secara politik, terutama bagi pihak importir.

Namun bagi saya, yang pernah mendengar ia berbicara tentang jagung, sikap itu sepenuhnya konsisten. Jagung di Gorontalo dan garam nasional adalah satu garis komuditas yang sama. Jika daerah harus kuat agar bangsa kuat, maka produksi rakyat harus dilindungi agar negara berdaulat.

Harga Keberanian

Menghentikan impor berarti merugikan pihak-pihak tertentu. Importir kehilangan pasar. Industri harus beradaptasi. Rantai rente birokrasi terputus. Sebaliknya, petani diuntungkan—tetapi suara mereka sunyi dan jarang menentukan arah kebijakan.

Keuntungan petani bersifat jangka panjang. Kerugian importir bersifat langsung. Dalam politik, yang langsung dan gaduh sering kali lebih berkuasa daripada yang benar tetapi sunyi.

Ketika Fadel akhirnya dilengserkan dalam reshuffle kabinet 2011, tidak ada alasan resmi yang menyebut garam. Politik jarang seterang itu. Namun sejarah kebijakan sering menunjukkan pola yang sama: mereka yang terlalu konsisten memotong rente dan konflik kepentingan, sering kali tidak diberi waktu panjang.

Refleksi Penutup

Pengalaman Gorontalo membuktikan bahwa slogan “daerah kuat, bangsa dan negara kuat” bukan retorika. Dari 50 ribu ton menjadi 750 ribu ton, hasilnya nyata. Tidak ada sihir dan sim salabim di sana. Hanya akal sehat, keberanian, konsistensi, dan integritas.

Indonesia sering berbicara tentang kedaulatan, tetapi gugup ketika seseorang benar-benar mencoba mewujudkannya. Kita memuja kata “swasembada” dalam pidato, tetapi curiga pada laku yang memotong rente.

Fadel Muhammad, melalui jagung dan garam, mengingatkan kita bahwa kepemimpinan sejati bukan kecerdikan mengelola kepentingan, melainkan keberanian menolak konflik kepentingan. Bahwa pejabat publik bukan pedagang kebijakan. Dan bahwa laku ksatria dalam pemerintahan bukan romantisme masa lalu, melainkan kebutuhan masa kini.

Pertemuan singkat di Bali itu, bagi saya, bukan sekadar kenangan pribadi. Ia adalah fragmen kecil dari sejarah Indonesia—tentang bagaimana integritas pernah benar-benar dicoba, dan tentang harga yang harus dibayar ketika seseorang memilih berpihak pada rakyat.

Dan pertanyaan itu tetap relevan hingga hari ini:
jika daerah dikuatkan dengan kejujuran dan keberanian, masihkah bangsa ini ragu untuk menjadi kuat? [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomiFadel Muhammadnegara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Next Post

‘Ghost Rich’ si Kaya di ‘Feed’, Rapuh di Hidup Nyata

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

‘Ghost Rich’ si Kaya di ‘Feed’, Rapuh di Hidup Nyata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co