2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Ghost Rich’ si Kaya di ‘Feed’, Rapuh di Hidup Nyata

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 9, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman,  saya rasa-rasa di zaman sekarang, untuk kelihatan kaya itu gampang. Seperti yang lazim kita lakukan, kita tinggal buka Instagram, numpang kafe yang kursinya dari besi soalnya kalau harus beli sendiri harganya bikin mikir, pesan kopi dengan nama yang susah dieja, buka laptop, yang meski cuma buat balas WhatsApp, ambil hp, lalu foto-foto,  upload, dan selesai.

Selamat, anda kaya. Yah, setidaknya tampak kaya. Fenomena ini belakangan populer disebut ghost rich, orang-orang yang secara kasat mata tampak mapan, nongkrong di kafe estetik, laptop mahal kreditan yang terbuka, liburan sesekali, feed Instagram rapi, hidupnya estetik, tapi masa depannya , nanti saja dipikirkan. Jadi hidupnya berasa  dalam ketegangan ekonomi jangka panjang.  Kaya, tapi seperti hantu, ada ketika dilihat, menghilang ketika diuji realitas. Rasanya agak pahit sepahit kopinya.

Fenomena ini sering ditertawakan. Dibilang halu, miskin tapi banyak gaya. Padahal, kalau fenomena ini dibaca lebih dalam, ghost rich itu  tidak bisa dijadikan bahan ejekan. Ia adalah anak sah dari sistem sosial kita sendiri. Ia adalah produk sistem sosial yang mengubah cara kita memahami sukses, kerja, dan hidup.

Yang Penting Kelihatan

Tapi saudara, mari kita luruskan satu hal penting. Ghost rich ini bukan orang miskin yang pura-pura kaya.   Dan ini penting untuk ditegaskan. Ghost rich seringkali memang punya uang. Mereka tidak berbohong sepenuhnya.  Bisa bayar, jajan, dan hidup layak untuk ukuran sekarang. Jadi masalahnya bukan ada uang atau tidak, kaya beneran atau tidak.

Masalah yang lebih fundamental adalah uang itu berdiri di atas struktur apa? Dalam ilmu sosial, kaya bukan soal hari ini bisa beli apa, tapi soal besok masih bisa hidup dengan cara bagaimana.  Saya yakin kita bisa sepakat bahwa kekayaan yang sungguh-sungguh selalu terkait dengan waktu. Yakni kemampuan bertahan ketika krisis datang, ketika usia bertambah, ketika tubuh melemah, ketika pasar berubah.

Jadi kaya itu ada urusannya dengan waktu, bukan feed. Urusannya dengan ketahanan, bukan estetika. Ghost rich kuat di momen, lemah di durasi. Kuat di tampilan, rapuh di struktur. Mirip pertempuran klasik, mana yang lebih punya daya tahan antara bodybuilder dengan kuli.

Media sosial tidak pernah bertanya apakah hidup kita aman atau tidak. Ia hanya peduli apakah hidup kelihatan menarik di konten atau tidak. Itu saja. Di sinilah kita hidup dalam apa yang disebut Byung-Chul Han sebagai masyarakat performatif. Kita tidak lagi dipaksa oleh negara atau majikan, tetapi oleh hasrat untuk menampilkan diri.

Kita mengeksploitasi diri sendiri, sambil merasa bebas. Kerja kemudian bukan lagi sarana hidup, tapi materi konten. Sibuk bukan lagi kebutuhan, tapi simbol kemapanan. Lelah yang ditunjukkan juga bukan tanda eksploitasi, melainkan bukti dedikasi dan identitas. Danbuntutnya, ghost rich lahir bukan karena ingin pamer, tapi besar kemungkinan karena takut tak terlihat. Dalam iklim seperti ini, ghost rich bukan anomali. Ia adalah tipe subjek ideal zaman medsos.

Sibuk Itu Keren, Bermakna Belakangan

Pernah ada suatu masa, dimana kerja itu adalah soal tanggung jawab. Soal proses dan  konsistensi.
Jadi ingat dalam etika klasik  Max Weber, bahwasanya kerja adalah panggilan hidup. Sementara kini mulai ada gejala kalau kerja itu soal kelihatan sibuk.  Hari ini, kerja adalah alat eksistensi, kerja berubah menjadi pertunjukan identitas. Kalau tidak kerja, jelas takut. Kalau sudah kerja, tapi tidak kelihatan, lebih takut lagi.  Akhirnya, semua orang sibuk. Cuma saja,  tidak semua yang sibuk ini tahu sedang menuju ke mana.

Kembali ke hal pertama yaitu ghost rich. Ghost rich menormalkan hidup tanpa pegangan, di mana kerja tanpa jaminan, demikian juga jam tanpa batas, minim aset, akhirnya masa depan tanpa rencana. Dan anehnya, semua itu dirayakan. Jadi, kalo gitu mereka ini salah, dong? Maaf, jujur saja menyalahkan individu itu tanda malas berpikir. Di titik ini, kita mau tak mau kita harus legowo, semacam ikhlas bahwa ghost rich bukan karena generasi muda lemah. Semua itu karena memang  sisetm ekonomi kini makin tidak ramah jangka panjang.

Segala macam yang disebut stabilitas makin mahal, dan sukses struktural makin sempit. Maka yang tersisa adalah sukses simbolik. Kalau stuktur bangunan rumah adalah  simbol kemapanan,  maka tampilan menggantikan fondasinya. Feed menggantikan rumahnya. Like menggantikan rasa amannya. Dengan bahasa Pierre Bourdieu, mereka kaya secara simbolik, tapi miskin secara struktural. Dan hidup seperti itu harus diakui, terasa  melelahkan.

Pendidikan Ikut-Ikutan Jadi Panggung

Yang bikin agak gimana gitu, adalah ketika logika ini masuk ke dunia pendidikan. Sekolah dan kampus, yang seharusnya jadi ruang berpikir, berdialektika, dan kritis, pelan-pelan bergeser dari ruang pembentukan nalar menjadi panggung pencitraan intelektual. 

Mahasiswa rajin ikut ini-itu. Webinar, sertifikat, bootcamp, kelas online, semua dikoleksi seperti stiker. bukan untuk dipahami, tapi untuk dipajang. Belajar pelan tapi pasti akan dianggap kalah start.  Takut gagal, karena gagal dianggap memalukan. Diam tapi berpikir dianggap tidak produktif. Pendidikan bisa-bisa akan kehilangan satu hal penting, yaitu kedalaman. Yang tersisa adalah aktivitas tanpa refleksi. Ramai, tapi kosong. Sibuk, tapi bingung.

Di sinilah posisi pendidik menjadi genting. Kalau pendidik ikut-ikutan pamer jabatan, jual motivasi kosong, panik terlihat tidak sukses, ya, habislah sudah.  Pendidik bukan influencer, tapi justru semacam jangkar. Tetap berpegang teguh pada prinsip utama tanpa terombang-ambing keadaan. Di tengah situasi ini, pendidik sering berada di persimpangan moral. Satu sisi ingin mengkritik, di sisi lain merasa tidak tega juga melihat mahasiswa hidup dalam tekanan performatif. Mau bersikap sinis justru  malah akan memperparah situasi.

Posisi pendidik, meski terbiasa berpikir kritis,  seharusnya bukan sebagai pembongkar topeng, tapi penyedia ruang aman. Ruang di mana gagal tidak dipermalukan, lambat tidak ditertawakan, dan hidup tidak harus selalu “on” seperti para superhero Avengers. 

Pendidik perlu membantu generasi muda membedakan uang dan hidup, antara kerja dan martabat, antara sukses cepat dan hidup panjang. Bukan lewat ceramah moral, tapi lewat keteladanan. Bisa menunjukkan sikap untuk tidak panik secara simbolik, tidak ikut flexing, juga tidak menjual ilusi keberhasilan.  Dalam semangat Hannah Arendt, berarti pendidikan perlu menghidupkan kembali ruang kontemplasi, waktu untuk berpikir sebelum bertindak, dan memahami sebelum menampilkan. 

Hidup Masih Panjang

Jika kita merasa kasihan pada para ghost rich, itu bukan sikap lemah. Bahkan, itu tanda kita masih punya empati sosial. Kita melihat orang-orang muda yang bekerja keras dan berdedikasi, tapi hidup dalam sistem yang memaksa mereka untuk tampak berhasil meski posisi dalam hidup belum benar-benar aman. 

Masalahnya bukan generasi mudanya. Masalahnya adalah masyarakat yang lebih menghargai citra daripada keberlanjutan hidup.  Dan di tengah masyarakat seperti ini, tugas pendidikan bukan mencetak pemenang lomba tampilan, melainkan manusia yang sanggup hidup tanpa harus terus membuktikan diri,  yaitu manusia yang tidak hancur saat tidak terlihat sukses.  Karena pada akhirnya, kita semua sadar bahwa hidup bukan soal siapa paling terlihat berhasil hari ini, tapi siapa yang masih bisa bernapas tenang besok pagi ketika kamera dimatikan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: gaya hidupgaya hidup mewahInstagrammedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fadel Muhammad: Jagung, Garam, dan Laku Seorang Ksatria — Daerah Kuat, Bangsa dan Negara Kuat

Next Post

Realita di Balik Surga Healing Tourism: Menelusuri Akar Krisis Kesehatan Mental di Bali

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Realita di Balik Surga Healing Tourism: Menelusuri Akar Krisis Kesehatan Mental di Bali

Realita di Balik Surga Healing Tourism: Menelusuri Akar Krisis Kesehatan Mental di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co