23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Ghost Rich’ si Kaya di ‘Feed’, Rapuh di Hidup Nyata

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 9, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman,  saya rasa-rasa di zaman sekarang, untuk kelihatan kaya itu gampang. Seperti yang lazim kita lakukan, kita tinggal buka Instagram, numpang kafe yang kursinya dari besi soalnya kalau harus beli sendiri harganya bikin mikir, pesan kopi dengan nama yang susah dieja, buka laptop, yang meski cuma buat balas WhatsApp, ambil hp, lalu foto-foto,  upload, dan selesai.

Selamat, anda kaya. Yah, setidaknya tampak kaya. Fenomena ini belakangan populer disebut ghost rich, orang-orang yang secara kasat mata tampak mapan, nongkrong di kafe estetik, laptop mahal kreditan yang terbuka, liburan sesekali, feed Instagram rapi, hidupnya estetik, tapi masa depannya , nanti saja dipikirkan. Jadi hidupnya berasa  dalam ketegangan ekonomi jangka panjang.  Kaya, tapi seperti hantu, ada ketika dilihat, menghilang ketika diuji realitas. Rasanya agak pahit sepahit kopinya.

Fenomena ini sering ditertawakan. Dibilang halu, miskin tapi banyak gaya. Padahal, kalau fenomena ini dibaca lebih dalam, ghost rich itu  tidak bisa dijadikan bahan ejekan. Ia adalah anak sah dari sistem sosial kita sendiri. Ia adalah produk sistem sosial yang mengubah cara kita memahami sukses, kerja, dan hidup.

Yang Penting Kelihatan

Tapi saudara, mari kita luruskan satu hal penting. Ghost rich ini bukan orang miskin yang pura-pura kaya.   Dan ini penting untuk ditegaskan. Ghost rich seringkali memang punya uang. Mereka tidak berbohong sepenuhnya.  Bisa bayar, jajan, dan hidup layak untuk ukuran sekarang. Jadi masalahnya bukan ada uang atau tidak, kaya beneran atau tidak.

Masalah yang lebih fundamental adalah uang itu berdiri di atas struktur apa? Dalam ilmu sosial, kaya bukan soal hari ini bisa beli apa, tapi soal besok masih bisa hidup dengan cara bagaimana.  Saya yakin kita bisa sepakat bahwa kekayaan yang sungguh-sungguh selalu terkait dengan waktu. Yakni kemampuan bertahan ketika krisis datang, ketika usia bertambah, ketika tubuh melemah, ketika pasar berubah.

Jadi kaya itu ada urusannya dengan waktu, bukan feed. Urusannya dengan ketahanan, bukan estetika. Ghost rich kuat di momen, lemah di durasi. Kuat di tampilan, rapuh di struktur. Mirip pertempuran klasik, mana yang lebih punya daya tahan antara bodybuilder dengan kuli.

Media sosial tidak pernah bertanya apakah hidup kita aman atau tidak. Ia hanya peduli apakah hidup kelihatan menarik di konten atau tidak. Itu saja. Di sinilah kita hidup dalam apa yang disebut Byung-Chul Han sebagai masyarakat performatif. Kita tidak lagi dipaksa oleh negara atau majikan, tetapi oleh hasrat untuk menampilkan diri.

Kita mengeksploitasi diri sendiri, sambil merasa bebas. Kerja kemudian bukan lagi sarana hidup, tapi materi konten. Sibuk bukan lagi kebutuhan, tapi simbol kemapanan. Lelah yang ditunjukkan juga bukan tanda eksploitasi, melainkan bukti dedikasi dan identitas. Danbuntutnya, ghost rich lahir bukan karena ingin pamer, tapi besar kemungkinan karena takut tak terlihat. Dalam iklim seperti ini, ghost rich bukan anomali. Ia adalah tipe subjek ideal zaman medsos.

Sibuk Itu Keren, Bermakna Belakangan

Pernah ada suatu masa, dimana kerja itu adalah soal tanggung jawab. Soal proses dan  konsistensi.
Jadi ingat dalam etika klasik  Max Weber, bahwasanya kerja adalah panggilan hidup. Sementara kini mulai ada gejala kalau kerja itu soal kelihatan sibuk.  Hari ini, kerja adalah alat eksistensi, kerja berubah menjadi pertunjukan identitas. Kalau tidak kerja, jelas takut. Kalau sudah kerja, tapi tidak kelihatan, lebih takut lagi.  Akhirnya, semua orang sibuk. Cuma saja,  tidak semua yang sibuk ini tahu sedang menuju ke mana.

Kembali ke hal pertama yaitu ghost rich. Ghost rich menormalkan hidup tanpa pegangan, di mana kerja tanpa jaminan, demikian juga jam tanpa batas, minim aset, akhirnya masa depan tanpa rencana. Dan anehnya, semua itu dirayakan. Jadi, kalo gitu mereka ini salah, dong? Maaf, jujur saja menyalahkan individu itu tanda malas berpikir. Di titik ini, kita mau tak mau kita harus legowo, semacam ikhlas bahwa ghost rich bukan karena generasi muda lemah. Semua itu karena memang  sisetm ekonomi kini makin tidak ramah jangka panjang.

Segala macam yang disebut stabilitas makin mahal, dan sukses struktural makin sempit. Maka yang tersisa adalah sukses simbolik. Kalau stuktur bangunan rumah adalah  simbol kemapanan,  maka tampilan menggantikan fondasinya. Feed menggantikan rumahnya. Like menggantikan rasa amannya. Dengan bahasa Pierre Bourdieu, mereka kaya secara simbolik, tapi miskin secara struktural. Dan hidup seperti itu harus diakui, terasa  melelahkan.

Pendidikan Ikut-Ikutan Jadi Panggung

Yang bikin agak gimana gitu, adalah ketika logika ini masuk ke dunia pendidikan. Sekolah dan kampus, yang seharusnya jadi ruang berpikir, berdialektika, dan kritis, pelan-pelan bergeser dari ruang pembentukan nalar menjadi panggung pencitraan intelektual. 

Mahasiswa rajin ikut ini-itu. Webinar, sertifikat, bootcamp, kelas online, semua dikoleksi seperti stiker. bukan untuk dipahami, tapi untuk dipajang. Belajar pelan tapi pasti akan dianggap kalah start.  Takut gagal, karena gagal dianggap memalukan. Diam tapi berpikir dianggap tidak produktif. Pendidikan bisa-bisa akan kehilangan satu hal penting, yaitu kedalaman. Yang tersisa adalah aktivitas tanpa refleksi. Ramai, tapi kosong. Sibuk, tapi bingung.

Di sinilah posisi pendidik menjadi genting. Kalau pendidik ikut-ikutan pamer jabatan, jual motivasi kosong, panik terlihat tidak sukses, ya, habislah sudah.  Pendidik bukan influencer, tapi justru semacam jangkar. Tetap berpegang teguh pada prinsip utama tanpa terombang-ambing keadaan. Di tengah situasi ini, pendidik sering berada di persimpangan moral. Satu sisi ingin mengkritik, di sisi lain merasa tidak tega juga melihat mahasiswa hidup dalam tekanan performatif. Mau bersikap sinis justru  malah akan memperparah situasi.

Posisi pendidik, meski terbiasa berpikir kritis,  seharusnya bukan sebagai pembongkar topeng, tapi penyedia ruang aman. Ruang di mana gagal tidak dipermalukan, lambat tidak ditertawakan, dan hidup tidak harus selalu “on” seperti para superhero Avengers. 

Pendidik perlu membantu generasi muda membedakan uang dan hidup, antara kerja dan martabat, antara sukses cepat dan hidup panjang. Bukan lewat ceramah moral, tapi lewat keteladanan. Bisa menunjukkan sikap untuk tidak panik secara simbolik, tidak ikut flexing, juga tidak menjual ilusi keberhasilan.  Dalam semangat Hannah Arendt, berarti pendidikan perlu menghidupkan kembali ruang kontemplasi, waktu untuk berpikir sebelum bertindak, dan memahami sebelum menampilkan. 

Hidup Masih Panjang

Jika kita merasa kasihan pada para ghost rich, itu bukan sikap lemah. Bahkan, itu tanda kita masih punya empati sosial. Kita melihat orang-orang muda yang bekerja keras dan berdedikasi, tapi hidup dalam sistem yang memaksa mereka untuk tampak berhasil meski posisi dalam hidup belum benar-benar aman. 

Masalahnya bukan generasi mudanya. Masalahnya adalah masyarakat yang lebih menghargai citra daripada keberlanjutan hidup.  Dan di tengah masyarakat seperti ini, tugas pendidikan bukan mencetak pemenang lomba tampilan, melainkan manusia yang sanggup hidup tanpa harus terus membuktikan diri,  yaitu manusia yang tidak hancur saat tidak terlihat sukses.  Karena pada akhirnya, kita semua sadar bahwa hidup bukan soal siapa paling terlihat berhasil hari ini, tapi siapa yang masih bisa bernapas tenang besok pagi ketika kamera dimatikan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: gaya hidupgaya hidup mewahInstagrammedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fadel Muhammad: Jagung, Garam, dan Laku Seorang Ksatria — Daerah Kuat, Bangsa dan Negara Kuat

Next Post

Realita di Balik Surga Healing Tourism: Menelusuri Akar Krisis Kesehatan Mental di Bali

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Realita di Balik Surga Healing Tourism: Menelusuri Akar Krisis Kesehatan Mental di Bali

Realita di Balik Surga Healing Tourism: Menelusuri Akar Krisis Kesehatan Mental di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co