13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Ghost Rich’ si Kaya di ‘Feed’, Rapuh di Hidup Nyata

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 9, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman,  saya rasa-rasa di zaman sekarang, untuk kelihatan kaya itu gampang. Seperti yang lazim kita lakukan, kita tinggal buka Instagram, numpang kafe yang kursinya dari besi soalnya kalau harus beli sendiri harganya bikin mikir, pesan kopi dengan nama yang susah dieja, buka laptop, yang meski cuma buat balas WhatsApp, ambil hp, lalu foto-foto,  upload, dan selesai.

Selamat, anda kaya. Yah, setidaknya tampak kaya. Fenomena ini belakangan populer disebut ghost rich, orang-orang yang secara kasat mata tampak mapan, nongkrong di kafe estetik, laptop mahal kreditan yang terbuka, liburan sesekali, feed Instagram rapi, hidupnya estetik, tapi masa depannya , nanti saja dipikirkan. Jadi hidupnya berasa  dalam ketegangan ekonomi jangka panjang.  Kaya, tapi seperti hantu, ada ketika dilihat, menghilang ketika diuji realitas. Rasanya agak pahit sepahit kopinya.

Fenomena ini sering ditertawakan. Dibilang halu, miskin tapi banyak gaya. Padahal, kalau fenomena ini dibaca lebih dalam, ghost rich itu  tidak bisa dijadikan bahan ejekan. Ia adalah anak sah dari sistem sosial kita sendiri. Ia adalah produk sistem sosial yang mengubah cara kita memahami sukses, kerja, dan hidup.

Yang Penting Kelihatan

Tapi saudara, mari kita luruskan satu hal penting. Ghost rich ini bukan orang miskin yang pura-pura kaya.   Dan ini penting untuk ditegaskan. Ghost rich seringkali memang punya uang. Mereka tidak berbohong sepenuhnya.  Bisa bayar, jajan, dan hidup layak untuk ukuran sekarang. Jadi masalahnya bukan ada uang atau tidak, kaya beneran atau tidak.

Masalah yang lebih fundamental adalah uang itu berdiri di atas struktur apa? Dalam ilmu sosial, kaya bukan soal hari ini bisa beli apa, tapi soal besok masih bisa hidup dengan cara bagaimana.  Saya yakin kita bisa sepakat bahwa kekayaan yang sungguh-sungguh selalu terkait dengan waktu. Yakni kemampuan bertahan ketika krisis datang, ketika usia bertambah, ketika tubuh melemah, ketika pasar berubah.

Jadi kaya itu ada urusannya dengan waktu, bukan feed. Urusannya dengan ketahanan, bukan estetika. Ghost rich kuat di momen, lemah di durasi. Kuat di tampilan, rapuh di struktur. Mirip pertempuran klasik, mana yang lebih punya daya tahan antara bodybuilder dengan kuli.

Media sosial tidak pernah bertanya apakah hidup kita aman atau tidak. Ia hanya peduli apakah hidup kelihatan menarik di konten atau tidak. Itu saja. Di sinilah kita hidup dalam apa yang disebut Byung-Chul Han sebagai masyarakat performatif. Kita tidak lagi dipaksa oleh negara atau majikan, tetapi oleh hasrat untuk menampilkan diri.

Kita mengeksploitasi diri sendiri, sambil merasa bebas. Kerja kemudian bukan lagi sarana hidup, tapi materi konten. Sibuk bukan lagi kebutuhan, tapi simbol kemapanan. Lelah yang ditunjukkan juga bukan tanda eksploitasi, melainkan bukti dedikasi dan identitas. Danbuntutnya, ghost rich lahir bukan karena ingin pamer, tapi besar kemungkinan karena takut tak terlihat. Dalam iklim seperti ini, ghost rich bukan anomali. Ia adalah tipe subjek ideal zaman medsos.

Sibuk Itu Keren, Bermakna Belakangan

Pernah ada suatu masa, dimana kerja itu adalah soal tanggung jawab. Soal proses dan  konsistensi.
Jadi ingat dalam etika klasik  Max Weber, bahwasanya kerja adalah panggilan hidup. Sementara kini mulai ada gejala kalau kerja itu soal kelihatan sibuk.  Hari ini, kerja adalah alat eksistensi, kerja berubah menjadi pertunjukan identitas. Kalau tidak kerja, jelas takut. Kalau sudah kerja, tapi tidak kelihatan, lebih takut lagi.  Akhirnya, semua orang sibuk. Cuma saja,  tidak semua yang sibuk ini tahu sedang menuju ke mana.

Kembali ke hal pertama yaitu ghost rich. Ghost rich menormalkan hidup tanpa pegangan, di mana kerja tanpa jaminan, demikian juga jam tanpa batas, minim aset, akhirnya masa depan tanpa rencana. Dan anehnya, semua itu dirayakan. Jadi, kalo gitu mereka ini salah, dong? Maaf, jujur saja menyalahkan individu itu tanda malas berpikir. Di titik ini, kita mau tak mau kita harus legowo, semacam ikhlas bahwa ghost rich bukan karena generasi muda lemah. Semua itu karena memang  sisetm ekonomi kini makin tidak ramah jangka panjang.

Segala macam yang disebut stabilitas makin mahal, dan sukses struktural makin sempit. Maka yang tersisa adalah sukses simbolik. Kalau stuktur bangunan rumah adalah  simbol kemapanan,  maka tampilan menggantikan fondasinya. Feed menggantikan rumahnya. Like menggantikan rasa amannya. Dengan bahasa Pierre Bourdieu, mereka kaya secara simbolik, tapi miskin secara struktural. Dan hidup seperti itu harus diakui, terasa  melelahkan.

Pendidikan Ikut-Ikutan Jadi Panggung

Yang bikin agak gimana gitu, adalah ketika logika ini masuk ke dunia pendidikan. Sekolah dan kampus, yang seharusnya jadi ruang berpikir, berdialektika, dan kritis, pelan-pelan bergeser dari ruang pembentukan nalar menjadi panggung pencitraan intelektual. 

Mahasiswa rajin ikut ini-itu. Webinar, sertifikat, bootcamp, kelas online, semua dikoleksi seperti stiker. bukan untuk dipahami, tapi untuk dipajang. Belajar pelan tapi pasti akan dianggap kalah start.  Takut gagal, karena gagal dianggap memalukan. Diam tapi berpikir dianggap tidak produktif. Pendidikan bisa-bisa akan kehilangan satu hal penting, yaitu kedalaman. Yang tersisa adalah aktivitas tanpa refleksi. Ramai, tapi kosong. Sibuk, tapi bingung.

Di sinilah posisi pendidik menjadi genting. Kalau pendidik ikut-ikutan pamer jabatan, jual motivasi kosong, panik terlihat tidak sukses, ya, habislah sudah.  Pendidik bukan influencer, tapi justru semacam jangkar. Tetap berpegang teguh pada prinsip utama tanpa terombang-ambing keadaan. Di tengah situasi ini, pendidik sering berada di persimpangan moral. Satu sisi ingin mengkritik, di sisi lain merasa tidak tega juga melihat mahasiswa hidup dalam tekanan performatif. Mau bersikap sinis justru  malah akan memperparah situasi.

Posisi pendidik, meski terbiasa berpikir kritis,  seharusnya bukan sebagai pembongkar topeng, tapi penyedia ruang aman. Ruang di mana gagal tidak dipermalukan, lambat tidak ditertawakan, dan hidup tidak harus selalu “on” seperti para superhero Avengers. 

Pendidik perlu membantu generasi muda membedakan uang dan hidup, antara kerja dan martabat, antara sukses cepat dan hidup panjang. Bukan lewat ceramah moral, tapi lewat keteladanan. Bisa menunjukkan sikap untuk tidak panik secara simbolik, tidak ikut flexing, juga tidak menjual ilusi keberhasilan.  Dalam semangat Hannah Arendt, berarti pendidikan perlu menghidupkan kembali ruang kontemplasi, waktu untuk berpikir sebelum bertindak, dan memahami sebelum menampilkan. 

Hidup Masih Panjang

Jika kita merasa kasihan pada para ghost rich, itu bukan sikap lemah. Bahkan, itu tanda kita masih punya empati sosial. Kita melihat orang-orang muda yang bekerja keras dan berdedikasi, tapi hidup dalam sistem yang memaksa mereka untuk tampak berhasil meski posisi dalam hidup belum benar-benar aman. 

Masalahnya bukan generasi mudanya. Masalahnya adalah masyarakat yang lebih menghargai citra daripada keberlanjutan hidup.  Dan di tengah masyarakat seperti ini, tugas pendidikan bukan mencetak pemenang lomba tampilan, melainkan manusia yang sanggup hidup tanpa harus terus membuktikan diri,  yaitu manusia yang tidak hancur saat tidak terlihat sukses.  Karena pada akhirnya, kita semua sadar bahwa hidup bukan soal siapa paling terlihat berhasil hari ini, tapi siapa yang masih bisa bernapas tenang besok pagi ketika kamera dimatikan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: gaya hidupgaya hidup mewahInstagrammedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fadel Muhammad: Jagung, Garam, dan Laku Seorang Ksatria — Daerah Kuat, Bangsa dan Negara Kuat

Next Post

Realita di Balik Surga Healing Tourism: Menelusuri Akar Krisis Kesehatan Mental di Bali

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Realita di Balik Surga Healing Tourism: Menelusuri Akar Krisis Kesehatan Mental di Bali

Realita di Balik Surga Healing Tourism: Menelusuri Akar Krisis Kesehatan Mental di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co