22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Ghost Rich’ si Kaya di ‘Feed’, Rapuh di Hidup Nyata

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
January 9, 2026
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

SIDANG pembaca yang budiman,  saya rasa-rasa di zaman sekarang, untuk kelihatan kaya itu gampang. Seperti yang lazim kita lakukan, kita tinggal buka Instagram, numpang kafe yang kursinya dari besi soalnya kalau harus beli sendiri harganya bikin mikir, pesan kopi dengan nama yang susah dieja, buka laptop, yang meski cuma buat balas WhatsApp, ambil hp, lalu foto-foto,  upload, dan selesai.

Selamat, anda kaya. Yah, setidaknya tampak kaya. Fenomena ini belakangan populer disebut ghost rich, orang-orang yang secara kasat mata tampak mapan, nongkrong di kafe estetik, laptop mahal kreditan yang terbuka, liburan sesekali, feed Instagram rapi, hidupnya estetik, tapi masa depannya , nanti saja dipikirkan. Jadi hidupnya berasa  dalam ketegangan ekonomi jangka panjang.  Kaya, tapi seperti hantu, ada ketika dilihat, menghilang ketika diuji realitas. Rasanya agak pahit sepahit kopinya.

Fenomena ini sering ditertawakan. Dibilang halu, miskin tapi banyak gaya. Padahal, kalau fenomena ini dibaca lebih dalam, ghost rich itu  tidak bisa dijadikan bahan ejekan. Ia adalah anak sah dari sistem sosial kita sendiri. Ia adalah produk sistem sosial yang mengubah cara kita memahami sukses, kerja, dan hidup.

Yang Penting Kelihatan

Tapi saudara, mari kita luruskan satu hal penting. Ghost rich ini bukan orang miskin yang pura-pura kaya.   Dan ini penting untuk ditegaskan. Ghost rich seringkali memang punya uang. Mereka tidak berbohong sepenuhnya.  Bisa bayar, jajan, dan hidup layak untuk ukuran sekarang. Jadi masalahnya bukan ada uang atau tidak, kaya beneran atau tidak.

Masalah yang lebih fundamental adalah uang itu berdiri di atas struktur apa? Dalam ilmu sosial, kaya bukan soal hari ini bisa beli apa, tapi soal besok masih bisa hidup dengan cara bagaimana.  Saya yakin kita bisa sepakat bahwa kekayaan yang sungguh-sungguh selalu terkait dengan waktu. Yakni kemampuan bertahan ketika krisis datang, ketika usia bertambah, ketika tubuh melemah, ketika pasar berubah.

Jadi kaya itu ada urusannya dengan waktu, bukan feed. Urusannya dengan ketahanan, bukan estetika. Ghost rich kuat di momen, lemah di durasi. Kuat di tampilan, rapuh di struktur. Mirip pertempuran klasik, mana yang lebih punya daya tahan antara bodybuilder dengan kuli.

Media sosial tidak pernah bertanya apakah hidup kita aman atau tidak. Ia hanya peduli apakah hidup kelihatan menarik di konten atau tidak. Itu saja. Di sinilah kita hidup dalam apa yang disebut Byung-Chul Han sebagai masyarakat performatif. Kita tidak lagi dipaksa oleh negara atau majikan, tetapi oleh hasrat untuk menampilkan diri.

Kita mengeksploitasi diri sendiri, sambil merasa bebas. Kerja kemudian bukan lagi sarana hidup, tapi materi konten. Sibuk bukan lagi kebutuhan, tapi simbol kemapanan. Lelah yang ditunjukkan juga bukan tanda eksploitasi, melainkan bukti dedikasi dan identitas. Danbuntutnya, ghost rich lahir bukan karena ingin pamer, tapi besar kemungkinan karena takut tak terlihat. Dalam iklim seperti ini, ghost rich bukan anomali. Ia adalah tipe subjek ideal zaman medsos.

Sibuk Itu Keren, Bermakna Belakangan

Pernah ada suatu masa, dimana kerja itu adalah soal tanggung jawab. Soal proses dan  konsistensi.
Jadi ingat dalam etika klasik  Max Weber, bahwasanya kerja adalah panggilan hidup. Sementara kini mulai ada gejala kalau kerja itu soal kelihatan sibuk.  Hari ini, kerja adalah alat eksistensi, kerja berubah menjadi pertunjukan identitas. Kalau tidak kerja, jelas takut. Kalau sudah kerja, tapi tidak kelihatan, lebih takut lagi.  Akhirnya, semua orang sibuk. Cuma saja,  tidak semua yang sibuk ini tahu sedang menuju ke mana.

Kembali ke hal pertama yaitu ghost rich. Ghost rich menormalkan hidup tanpa pegangan, di mana kerja tanpa jaminan, demikian juga jam tanpa batas, minim aset, akhirnya masa depan tanpa rencana. Dan anehnya, semua itu dirayakan. Jadi, kalo gitu mereka ini salah, dong? Maaf, jujur saja menyalahkan individu itu tanda malas berpikir. Di titik ini, kita mau tak mau kita harus legowo, semacam ikhlas bahwa ghost rich bukan karena generasi muda lemah. Semua itu karena memang  sisetm ekonomi kini makin tidak ramah jangka panjang.

Segala macam yang disebut stabilitas makin mahal, dan sukses struktural makin sempit. Maka yang tersisa adalah sukses simbolik. Kalau stuktur bangunan rumah adalah  simbol kemapanan,  maka tampilan menggantikan fondasinya. Feed menggantikan rumahnya. Like menggantikan rasa amannya. Dengan bahasa Pierre Bourdieu, mereka kaya secara simbolik, tapi miskin secara struktural. Dan hidup seperti itu harus diakui, terasa  melelahkan.

Pendidikan Ikut-Ikutan Jadi Panggung

Yang bikin agak gimana gitu, adalah ketika logika ini masuk ke dunia pendidikan. Sekolah dan kampus, yang seharusnya jadi ruang berpikir, berdialektika, dan kritis, pelan-pelan bergeser dari ruang pembentukan nalar menjadi panggung pencitraan intelektual. 

Mahasiswa rajin ikut ini-itu. Webinar, sertifikat, bootcamp, kelas online, semua dikoleksi seperti stiker. bukan untuk dipahami, tapi untuk dipajang. Belajar pelan tapi pasti akan dianggap kalah start.  Takut gagal, karena gagal dianggap memalukan. Diam tapi berpikir dianggap tidak produktif. Pendidikan bisa-bisa akan kehilangan satu hal penting, yaitu kedalaman. Yang tersisa adalah aktivitas tanpa refleksi. Ramai, tapi kosong. Sibuk, tapi bingung.

Di sinilah posisi pendidik menjadi genting. Kalau pendidik ikut-ikutan pamer jabatan, jual motivasi kosong, panik terlihat tidak sukses, ya, habislah sudah.  Pendidik bukan influencer, tapi justru semacam jangkar. Tetap berpegang teguh pada prinsip utama tanpa terombang-ambing keadaan. Di tengah situasi ini, pendidik sering berada di persimpangan moral. Satu sisi ingin mengkritik, di sisi lain merasa tidak tega juga melihat mahasiswa hidup dalam tekanan performatif. Mau bersikap sinis justru  malah akan memperparah situasi.

Posisi pendidik, meski terbiasa berpikir kritis,  seharusnya bukan sebagai pembongkar topeng, tapi penyedia ruang aman. Ruang di mana gagal tidak dipermalukan, lambat tidak ditertawakan, dan hidup tidak harus selalu “on” seperti para superhero Avengers. 

Pendidik perlu membantu generasi muda membedakan uang dan hidup, antara kerja dan martabat, antara sukses cepat dan hidup panjang. Bukan lewat ceramah moral, tapi lewat keteladanan. Bisa menunjukkan sikap untuk tidak panik secara simbolik, tidak ikut flexing, juga tidak menjual ilusi keberhasilan.  Dalam semangat Hannah Arendt, berarti pendidikan perlu menghidupkan kembali ruang kontemplasi, waktu untuk berpikir sebelum bertindak, dan memahami sebelum menampilkan. 

Hidup Masih Panjang

Jika kita merasa kasihan pada para ghost rich, itu bukan sikap lemah. Bahkan, itu tanda kita masih punya empati sosial. Kita melihat orang-orang muda yang bekerja keras dan berdedikasi, tapi hidup dalam sistem yang memaksa mereka untuk tampak berhasil meski posisi dalam hidup belum benar-benar aman. 

Masalahnya bukan generasi mudanya. Masalahnya adalah masyarakat yang lebih menghargai citra daripada keberlanjutan hidup.  Dan di tengah masyarakat seperti ini, tugas pendidikan bukan mencetak pemenang lomba tampilan, melainkan manusia yang sanggup hidup tanpa harus terus membuktikan diri,  yaitu manusia yang tidak hancur saat tidak terlihat sukses.  Karena pada akhirnya, kita semua sadar bahwa hidup bukan soal siapa paling terlihat berhasil hari ini, tapi siapa yang masih bisa bernapas tenang besok pagi ketika kamera dimatikan. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: gaya hidupgaya hidup mewahInstagrammedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Fadel Muhammad: Jagung, Garam, dan Laku Seorang Ksatria — Daerah Kuat, Bangsa dan Negara Kuat

Next Post

Realita di Balik Surga Healing Tourism: Menelusuri Akar Krisis Kesehatan Mental di Bali

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Realita di Balik Surga Healing Tourism: Menelusuri Akar Krisis Kesehatan Mental di Bali

Realita di Balik Surga Healing Tourism: Menelusuri Akar Krisis Kesehatan Mental di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co