23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Fadel Muhammad: Jagung, Garam, dan Laku Seorang Ksatria — Daerah Kuat, Bangsa dan Negara Kuat

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
January 9, 2026
in Esai
Fadel Muhammad: Jagung, Garam, dan Laku Seorang Ksatria — Daerah Kuat, Bangsa dan Negara Kuat

Jumat, 27 Juni 2008. Saya bertemu Fadel Muhammad dalam sebuah roadshow di Kesiman Kertalangu Denpasar. Di hadapan sekitar seratus lebih peserta, Fadel mengangkat topik yang sangat sederhana: jagung di Gorontalo. Namun di balik kesederhanaan itu, saya menangkap satu gagasan besar yang terus terngiang hingga hari ini, sebuah slogan yang ia ucapkan dengan keyakinan penuh: “Daerah kuat, bangsa dan negara kuat.”

Kalimat itu bukan jargon kosong. Ia adalah ringkasan cara berpikir, sekaligus laku kebijakan.

Fadel membuka pembicaraan dengan kejujuran yang jarang ditemui: “Hambatan terbesar adalah birokrasi yang begitu lamban.”

Bagi Fadel, masalah pembangunan bukan terletak pada kurangnya sumber daya, melainkan pada sistem yang membuat sumber daya tak pernah diurus secara bijak. Maka langkah awalnya sebagai Gubernur Gorontalo bukan proyek mercusuar, melainkan tindakan struktural yang sunyi tapi radikal: memotong birokrasi dari 14 meja menjadi hanya tiga meja.

Di Indonesia, memotong birokrasi bukan sekadar soal efisiensi. Ia berarti memotong kepentingan, rente, dan kenyamanan banyak pihak. Tetapi bagi Fadel, birokrasi tidak boleh menjadi penghalang rakyat. Jabatan baginya bukan posisi untuk dilayani, melainkan alat untuk melayani.

Jagung kemudian menjadi medan pembuktian. Saat ia mulai menjabat, produksi jagung Gorontalo hanya sekitar 50 ribu ton per tahun. Petani bekerja keras, tetapi terjebak harga rendah. Rp400 per kilogram bukan harga yang memerdekakan. Itu harga yang membuat petani bertahan, bukan sejahtera.

Fadel mengambil keputusan yang tidak populer bagi dogma pasar bebas, tetapi adil bagi rakyat: harga jagung ditetapkan menjadi Rp700 per kilogram. Lebih penting lagi, ia mengubah peran negara. Petani diminta fokus pada produksi. Pasar, distribusi, dan bahkan ekspor disupport langsung oleh pemerintah daerah.

Negara tidak lagi menjadi wasit pasif, melainkan penyangga. Negara hadir agar petani tidak dipaksa menjadi pedagang, spekulan, atau korban fluktuasi pasar. Hasilnya bukan retorika. Dalam lima tahun, produksi jagung Gorontalo melonjak menjadi sekitar 750 ribu ton per tahun. Angka ini bukan keajaiban. Ia adalah konsekuensi dari keberpihakan yang pro rakyat.

Yang membuat saya lebih terdiam adalah laku personalnya. Dengan nada datar, tanpa pencitraan, ia berkata:
“Saya tidak membuat bisnis satu pun di Gorontalo, juga dengan keluarga saya, karena ini akan membuat saya tidak adil.”

Ini bukan sekadar pernyataan etis, melainkan sikap ksatria. Itu adalah laku sejati seorang ksatria: bebas dari godaan laku wesia, bebas dari kepentingan dagang, dan sepenuhnya menjadi abdi masyarakat. Dalam dunia politik yang penuh konflik kepentingan, sikap ini nyaris tak terdengar. Yang kerap muncul adalah Ksatria Magang (Ksatria berMental dAGANG), menguntungkan diri sendiri dan para kroni dagangnya.

Ia juga tidak pernah nyaman menyebut dirinya pejabat negara. Ia memilih istilah pejabat publik. Perbedaan ini penting. Negara baginya adalah alat. Publik adalah tujuan. Ia tidak ingin bersembunyi di balik simbol negara, tetapi berdiri langsung di hadapan rakyat.

Sumber foto: Dokumentasi majalah koleksi penulis

Dengan reputasinya yang sudah dikenal di tingkat nasional, beberapa sahabat melihatnya turun derajat memilih jadi Gubernur di sebuah kota yang baru saja menjadi sebuah provinsi, namun sesungguhnya itu adalah amanat dari sang Ibu tercinta yang mangatakan,”sekarang kau sudah berhasil, sumbangsih apa yang dapat kau berikan kepada daerah kelahiranmu?” Pertanyaan itu sekaligus perintah dan amanat yang “menurunkan” statusnya dari level nasional ke level daerah yang baru seumur balita.

Dari Jagung ke Garam: Prinsip yang Konsisten

Bertahun-tahun kemudian, ketika Fadel Muhammad menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, saya melihat slogan itu hidup kembali—kali ini dalam skala nasional—melalui kebijakan garam. Ketika itu, sebagai negara yang dikelilingi laut, kita melakukan tindakan aneh tapi nyata, impor garam. Sebagai menteri, Fadel langsung turun ke daearah dan mengumpulkan petani garam. Namun begitu selangkah lagi akan mampu swasembada, Fadel harus menenggung akibat, digusur dalam kabinet. Tanya kenapa?

Garam, seperti jagung, adalah komoditas dasar. Bedanya, garam menyentuh wilayah yang jauh lebih sensitif: industri besar, importir, jaringan perizinan, dan rente kebijakan. Ketika Fadel berusaha melakukan swasembada garam,dia sedang memotong sistem yang selama ini nyaman dengan ketergantungan. Ia ingin petani garam, seperti petani jagung, fokus pada produksi, sementara negara bertanggung jawab membangun ekosistem pasar yang adil. Tetapi di tingkat nasional, keberpihakan seperti ini jauh lebih berbahaya secara politik, terutama bagi pihak importir.

Namun bagi saya, yang pernah mendengar ia berbicara tentang jagung, sikap itu sepenuhnya konsisten. Jagung di Gorontalo dan garam nasional adalah satu garis komuditas yang sama. Jika daerah harus kuat agar bangsa kuat, maka produksi rakyat harus dilindungi agar negara berdaulat.

Harga Keberanian

Menghentikan impor berarti merugikan pihak-pihak tertentu. Importir kehilangan pasar. Industri harus beradaptasi. Rantai rente birokrasi terputus. Sebaliknya, petani diuntungkan—tetapi suara mereka sunyi dan jarang menentukan arah kebijakan.

Keuntungan petani bersifat jangka panjang. Kerugian importir bersifat langsung. Dalam politik, yang langsung dan gaduh sering kali lebih berkuasa daripada yang benar tetapi sunyi.

Ketika Fadel akhirnya dilengserkan dalam reshuffle kabinet 2011, tidak ada alasan resmi yang menyebut garam. Politik jarang seterang itu. Namun sejarah kebijakan sering menunjukkan pola yang sama: mereka yang terlalu konsisten memotong rente dan konflik kepentingan, sering kali tidak diberi waktu panjang.

Refleksi Penutup

Pengalaman Gorontalo membuktikan bahwa slogan “daerah kuat, bangsa dan negara kuat” bukan retorika. Dari 50 ribu ton menjadi 750 ribu ton, hasilnya nyata. Tidak ada sihir dan sim salabim di sana. Hanya akal sehat, keberanian, konsistensi, dan integritas.

Indonesia sering berbicara tentang kedaulatan, tetapi gugup ketika seseorang benar-benar mencoba mewujudkannya. Kita memuja kata “swasembada” dalam pidato, tetapi curiga pada laku yang memotong rente.

Fadel Muhammad, melalui jagung dan garam, mengingatkan kita bahwa kepemimpinan sejati bukan kecerdikan mengelola kepentingan, melainkan keberanian menolak konflik kepentingan. Bahwa pejabat publik bukan pedagang kebijakan. Dan bahwa laku ksatria dalam pemerintahan bukan romantisme masa lalu, melainkan kebutuhan masa kini.

Pertemuan singkat di Bali itu, bagi saya, bukan sekadar kenangan pribadi. Ia adalah fragmen kecil dari sejarah Indonesia—tentang bagaimana integritas pernah benar-benar dicoba, dan tentang harga yang harus dibayar ketika seseorang memilih berpihak pada rakyat.

Dan pertanyaan itu tetap relevan hingga hari ini:
jika daerah dikuatkan dengan kejujuran dan keberanian, masihkah bangsa ini ragu untuk menjadi kuat? [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: ekonomiFadel Muhammadnegara
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengapa Publik Bergantung Pada Validasi

Next Post

‘Ghost Rich’ si Kaya di ‘Feed’, Rapuh di Hidup Nyata

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

‘Ghost Rich’ si Kaya di ‘Feed’, Rapuh di Hidup Nyata

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co