23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selamat Datang di Dunia Sepak Bola Indonesia John Herdman

Jaswanto by Jaswanto
January 6, 2026
in Esai
Selamat Datang di Dunia Sepak Bola Indonesia John Herdman

Ilustrasi dibuat oleh tatkala.co dengan bantuan Chatgpt

JIKA sepak bola Indonesia adalah sebuah sinetron—penuh drama, kejutan, dan kadang logika yang tidak masuk akal—maka penunjukan John Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia bagaikan babak yang paling menggelikan sekaligus paling menggugah rasa penasaran kita.

Di tengah ambruknya mimpi menuju Piala Dunia 2026, PSSI—entitas yang sering kita curigai lebih senang dengan trial and error ketimbang strategy and implementation—akhirnya menyeret nama Herdman ke kursi panas pelatih kepala. Tanpa basa-basi, mari kita lihat siapa sebenarnya Herdman ini, dan mengapa kedatangannya terasa seperti pertanyaan besar di balik senyum lebar pengurus sepak bola nasional.

Mari kita mulai dari awal. John Herdman lahir di Consett, Inggris, pada 19 Juli 1975, dan sejak muda ia sudah tahu bakal gagal menjadi pesepakbola profesional. Alih-alih ngotot mengejar mimpi jadi Wayne Rooney versi Inggris Utara, dia lebih memilih jalur yang jarang dipilih oleh pelatih top dunia: langsung menjadi pelatih. Ya, dia tidak pernah main di lapangan, tapi langsung memilih berdiri di pinggir lapangan sejak usia relatif muda, sekitar awal 20-an.

Bayangkan, di negara yang melahirkan sepak bola modern, seorang yang bukan mantan pemain profesional justru naik menjadi pelatih tim nasional beberapa negara. Di Indonesia, kita masih sering memuja mantan pemain bak artefak suci; sedangkan Herdman? Dia adalah bukti empiris bahwa menjadi pelatih hebat tidak harus lewat jalur pemain. Ini bisa jadi pelajaran atau mungkin justru bahan pukulan keras bagi banyak mantan pemain yang kini jadi komentator—dan kadang pelatih—di negeri kita.

Herdman memulai perjalanan seriusnya di Selandia Baru, menangani tim muda dan kemudian tim nasional wanita. Di sana, dia berhasil membawa tim putri Selandia Baru dua kali berlaga di Piala Dunia Wanita serta tampil di Olimpiade Beijing 2008—prestasi yang membuat namanya mencuat di ranah kepelatihan internasional.

Kemudian, Kanada memanggil. Di negeri hockey ini, Herdman membawa tim putri Kanada meraih dua medali perunggu di Olimpiade 2012 dan 2016—bukan medali emas yang causally memaniskan bibir kita, tetapi cukup untuk menempatkan Kanada sebagai kekuatan yang diperhitungkan di dunia sepak bola wanita.

Hebatnya lagi, ia menjadi orang pertama dalam sejarah yang membawa tim wanita dan pria dari satu negara berlaga di Piala Dunia: Putri Kanada ke Piala Dunia Wanita, dan putra Kanada ke Piala Dunia 2022 di Qatar setelah absen selama 36 tahun.

Bayangkan, sebuah negara yang selama puluhan tahun lebih dikenal sebagai negeri salju itu justru menunjukkan tanda-tanda naik daun di sepak bola dunia di bawah komando Herdman. Ini bukan pekerjaan main-main; ini adalah architectural overhaul, bukan sekadar pop-up coaching.

Namun, hidup tidak pernah datar seperti grafik kemenangan. Pada tahun 2024, klubnya saat itu—Toronto FC—dan Herdman sendiri terseret dalam apa yang orang-orang media sebut “drone spying scandal”. Investigasi FIFA mengaitkan Herdman dengan praktik pengintaian lawan lewat drone—sesuatu yang sedikit menyeramkan jika digunakan dalam sepak bola, namun agak lucu jika kita bayangkan agen rahasia Inggris memakai kamera miniatur mengintai tim kecil Portland Timbers. Akhirnya, Herdman hanya mendapat surat peringatan (admonishment), tanpa denda atau larangan, sedangkan yang lain justru kena sanksi lebih berat.

Dan kini Herdman datang ke Indonesia—negara dengan hasrat sepak bola yang meledak-ledak, namun seringkali realitas organisasi dan tata kelolanya seperti tikungan tajam di tanjakan curam tanpa rem parkir. PSSI telah mengangkat Herdman sebagai pelatih senior dan U-23 untuk dua tahun ke depan, dengan opsi perpanjangan.

***

Sepak bola Indonesia selalu percaya pada keajaiban, tetapi jarang percaya pada sistem. Ia mirip orang yang rajin berdoa namun malas beres-beres rumah. Maka ketika PSSI menunjuk John Herdman sebagai pelatih baru tim nasional, publik pun terbelah: antara yang berharap keajaiban dan yang sudah hafal betul bagaimana keajaiban biasanya berakhir menjadi bahan lelucon di media sosial.

Nama John Herdman terdengar asing bagi sebagian besar suporter Indonesia. Sebagaimana telah disinggung di atas, ia bukan mantan bintang Liga Inggris, bukan pula legenda Piala Dunia. Ia tidak pernah mencetak gol spektakuler yang bisa diputar ulang di televisi dan kanal YouTube. Herdman bahkan bukan mantan pemain profesional. Ia datang dari jalur yang bagi sepak bola Indonesia masih dianggap ganjil: pelatih murni, produk pendidikan, bukan produk nostalgia.

Ketika Herdman datang ke Indonesia, sebagian orang menyebut ini sebagai lompatan berani. Sebagian lainnya diam-diam berpikir “mengapa pelatih dengan reputasi Piala Dunia mau datang ke liga yang jadwalnya sering berubah, infrastrukturnya tambal sulam, dan birokrasi sepak bolanya lebih berliku daripada taktik parkir bus?” Jawabannya mungkin sederhana dan tidak romantis, “Karena Indonesia adalah proyek. Dan proyek selalu membutuhkan orang yang mau berjudi dengan reputasi.”

Namun, proyek seperti apa yang sebenarnya sedang dihadapi Herdman? Timnas Indonesia bukan kertas kosong. Ia adalah palimpsest, ditulis ulang berkali-kali oleh pelatih berbeda, dengan filosofi yang saling bertabrakan. Hari ini bermain menyerang, besok bertahan total, lusa bicara pembinaan jangka panjang, minggu depannya ganti target.

Di sinilah Herdman akan diuji, bukan dengan taktik 4-3-3 atau 3-5-2, melainkan pada kemampuannya bertahan hidup di ekosistem yang sering mengira masalah struktural bisa diselesaikan dengan motivasi dan jargon.

PSSI tentu tahu bagaimana menjual cerita. Pelatih Piala Dunia. Pernah membawa Kanada ke Qatar setelah 36 tahun. Pernah membangun tim perempuan dari nol. Semua itu terdengar seksi di tengah kegagalan demi kegagalan yang membuat kita kelelahan berharap.

Tapi mari jujur sebentar—hanya sebentar. Yang dibeli Indonesia dari Herdman saya kira bukanlah sistem, melainkan sekadar narasi tentang sistem. Kita belum pernah benar-benar membuktikan bahwa kita sanggup menjaga pelatih lebih lama dari siklus emosi publik. Hari ini dielu-elukan. Besok diminta mundur. Lusa dianggap salah rekrut. Semua tergantung dua atau tiga pertandingan. Ingat, sepak bola Indonesia seolah punya hubungan toksik dengan waktu. Kita ingin proses, tapi hanya jika proses itu menang cepat.

Indonesia bukan Kanada, Mr. Herdman. Di sini, pelatih harus bernegosiasi bukan hanya dengan pemain, tapi juga dengan ego, opini publik, dan birokrasi yang gemar ikut campur sambil cuci tangan. Di sini, pelatih sering diposisikan sebagai kambing hitam yang elegan—dan Anda harus siap itu. Saya kasih tahu, jika Anda gagal, narasinya sudah siap: “Anda tidak cocok dengan karakter pemain Indonesia”. Jika Anda setengah berhasil, kami bilang “lumayan”. Jika Anda benar-benar berhasil, kami lupa bahwa keberhasilan itu hasil kolektif.

Mr. Herdman, Anda masuk ke sistem yang lebih pandai membuat slogan ketimbang kebijakan. Sistem yang sering menyebut pembinaan usia muda, tapi lebih sibuk mencari hasil instan agar tidak dimaki di media sosial. Saya kira Kanada tidak demikian.

Namun, yang paling mengkhawatirkan dari semua ini bukan soal kualitas Anda, melainkan soal kesabaran kami. Anda adalah tipe pelatih yang bekerja dengan proses, bukan sulap. Anda membangun tim Kanada bertahun-tahun, bukan lewat satu turnamen—kami tahu itu. Sayangnya, kami seolah alergi dengan kata “proses” kecuali dalam pidato. Negara kami ingin hasil cepat, klasemen naik, ranking FIFA melonjak, tanpa mau membayar harga konsistensi. Kami menyukai rencana jangka panjang selama tidak lebih panjang dari masa jabatan ketua umum.

Tapi saya berharap Mr. Herdman benar-benar diberi ruang, waktu, dan kewenangan oleh PSSI dan publik sepak bola Indonesia, sampai Anda bisa menulis bab baru dalam sejarah timnas. Tapi jika Anda hanya dijadikan tameng kegagalan struktural, Anda akan menjadi nama asing lain yang masuk daftar panjang pelatih yang, sekali lagi, “tidak cocok dengan sepak bola Indonesia”. Ya, sepak bola Indonesia seperti orang yang terus jatuh di lubang yang sama, lalu menyalahkan sepatu yang dikenakan. Kami mengganti pelatih seolah mengganti wallpaper, berharap dindingnya ikut berubah padahal yang perlu direnovasi adalah bangunannya.

Jadi, saya perlu bicara soal Anda dengan sinis sekaligus realis karena sepak bola bagi saya bukan sekadar soal skor, piala, atau peringkat FIFA. Ini soal budaya organisasi, perencanaan jangka panjang, dan—jangan lupakan—soal identitas bangsa. Menaruh harapan pada Anda tanpa pertanyaan kritis adalah seperti membeli tiket kelas satu tapi berharap kursinya murah.

Anda membawa warisan panjang dari Selandia Baru, Kanada, hingga Piala Dunia. Kini Anda ada di sini. Dan kepada publik sepak bola Indonesia, kita boleh berharap, namun kita juga harus waspada. Ingat, dalam sepak bola kita sering tertawa, kadang menangis, sering berharap—dan hanya sesekali melihat strategi nyata berjalan persis sebagaimana semestinya.

Entah Herdman akan menjadi pahlawan, martir, atau sekadar anekdot lucu dalam sejarah sepak bola Indonesia—itu masih tergantung pada apa yang terjadi di lapangan, di ruang ganti, dan di ruang rapat PSSI. Sejarah menunggu, dan sepak bola Indonesia tidak sabar untuk menuliskan catatan selanjutnya. Selamat datang, Mr. Herdman.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: John HerdmanPSSISEPAK BOLATimnas Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Braille, “Nyawa” bagi Disabilitas Tunanetra Tuli di Dunia

Next Post

Estetika dan Spiritualitas Lukisan Ricky Salim

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Estetika dan Spiritualitas Lukisan Ricky Salim

Estetika dan Spiritualitas Lukisan Ricky Salim

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co