12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selamat Datang di Dunia Sepak Bola Indonesia John Herdman

Jaswanto by Jaswanto
January 6, 2026
in Esai
Selamat Datang di Dunia Sepak Bola Indonesia John Herdman

Ilustrasi dibuat oleh tatkala.co dengan bantuan Chatgpt

JIKA sepak bola Indonesia adalah sebuah sinetron—penuh drama, kejutan, dan kadang logika yang tidak masuk akal—maka penunjukan John Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia bagaikan babak yang paling menggelikan sekaligus paling menggugah rasa penasaran kita.

Di tengah ambruknya mimpi menuju Piala Dunia 2026, PSSI—entitas yang sering kita curigai lebih senang dengan trial and error ketimbang strategy and implementation—akhirnya menyeret nama Herdman ke kursi panas pelatih kepala. Tanpa basa-basi, mari kita lihat siapa sebenarnya Herdman ini, dan mengapa kedatangannya terasa seperti pertanyaan besar di balik senyum lebar pengurus sepak bola nasional.

Mari kita mulai dari awal. John Herdman lahir di Consett, Inggris, pada 19 Juli 1975, dan sejak muda ia sudah tahu bakal gagal menjadi pesepakbola profesional. Alih-alih ngotot mengejar mimpi jadi Wayne Rooney versi Inggris Utara, dia lebih memilih jalur yang jarang dipilih oleh pelatih top dunia: langsung menjadi pelatih. Ya, dia tidak pernah main di lapangan, tapi langsung memilih berdiri di pinggir lapangan sejak usia relatif muda, sekitar awal 20-an.

Bayangkan, di negara yang melahirkan sepak bola modern, seorang yang bukan mantan pemain profesional justru naik menjadi pelatih tim nasional beberapa negara. Di Indonesia, kita masih sering memuja mantan pemain bak artefak suci; sedangkan Herdman? Dia adalah bukti empiris bahwa menjadi pelatih hebat tidak harus lewat jalur pemain. Ini bisa jadi pelajaran atau mungkin justru bahan pukulan keras bagi banyak mantan pemain yang kini jadi komentator—dan kadang pelatih—di negeri kita.

Herdman memulai perjalanan seriusnya di Selandia Baru, menangani tim muda dan kemudian tim nasional wanita. Di sana, dia berhasil membawa tim putri Selandia Baru dua kali berlaga di Piala Dunia Wanita serta tampil di Olimpiade Beijing 2008—prestasi yang membuat namanya mencuat di ranah kepelatihan internasional.

Kemudian, Kanada memanggil. Di negeri hockey ini, Herdman membawa tim putri Kanada meraih dua medali perunggu di Olimpiade 2012 dan 2016—bukan medali emas yang causally memaniskan bibir kita, tetapi cukup untuk menempatkan Kanada sebagai kekuatan yang diperhitungkan di dunia sepak bola wanita.

Hebatnya lagi, ia menjadi orang pertama dalam sejarah yang membawa tim wanita dan pria dari satu negara berlaga di Piala Dunia: Putri Kanada ke Piala Dunia Wanita, dan putra Kanada ke Piala Dunia 2022 di Qatar setelah absen selama 36 tahun.

Bayangkan, sebuah negara yang selama puluhan tahun lebih dikenal sebagai negeri salju itu justru menunjukkan tanda-tanda naik daun di sepak bola dunia di bawah komando Herdman. Ini bukan pekerjaan main-main; ini adalah architectural overhaul, bukan sekadar pop-up coaching.

Namun, hidup tidak pernah datar seperti grafik kemenangan. Pada tahun 2024, klubnya saat itu—Toronto FC—dan Herdman sendiri terseret dalam apa yang orang-orang media sebut “drone spying scandal”. Investigasi FIFA mengaitkan Herdman dengan praktik pengintaian lawan lewat drone—sesuatu yang sedikit menyeramkan jika digunakan dalam sepak bola, namun agak lucu jika kita bayangkan agen rahasia Inggris memakai kamera miniatur mengintai tim kecil Portland Timbers. Akhirnya, Herdman hanya mendapat surat peringatan (admonishment), tanpa denda atau larangan, sedangkan yang lain justru kena sanksi lebih berat.

Dan kini Herdman datang ke Indonesia—negara dengan hasrat sepak bola yang meledak-ledak, namun seringkali realitas organisasi dan tata kelolanya seperti tikungan tajam di tanjakan curam tanpa rem parkir. PSSI telah mengangkat Herdman sebagai pelatih senior dan U-23 untuk dua tahun ke depan, dengan opsi perpanjangan.

***

Sepak bola Indonesia selalu percaya pada keajaiban, tetapi jarang percaya pada sistem. Ia mirip orang yang rajin berdoa namun malas beres-beres rumah. Maka ketika PSSI menunjuk John Herdman sebagai pelatih baru tim nasional, publik pun terbelah: antara yang berharap keajaiban dan yang sudah hafal betul bagaimana keajaiban biasanya berakhir menjadi bahan lelucon di media sosial.

Nama John Herdman terdengar asing bagi sebagian besar suporter Indonesia. Sebagaimana telah disinggung di atas, ia bukan mantan bintang Liga Inggris, bukan pula legenda Piala Dunia. Ia tidak pernah mencetak gol spektakuler yang bisa diputar ulang di televisi dan kanal YouTube. Herdman bahkan bukan mantan pemain profesional. Ia datang dari jalur yang bagi sepak bola Indonesia masih dianggap ganjil: pelatih murni, produk pendidikan, bukan produk nostalgia.

Ketika Herdman datang ke Indonesia, sebagian orang menyebut ini sebagai lompatan berani. Sebagian lainnya diam-diam berpikir “mengapa pelatih dengan reputasi Piala Dunia mau datang ke liga yang jadwalnya sering berubah, infrastrukturnya tambal sulam, dan birokrasi sepak bolanya lebih berliku daripada taktik parkir bus?” Jawabannya mungkin sederhana dan tidak romantis, “Karena Indonesia adalah proyek. Dan proyek selalu membutuhkan orang yang mau berjudi dengan reputasi.”

Namun, proyek seperti apa yang sebenarnya sedang dihadapi Herdman? Timnas Indonesia bukan kertas kosong. Ia adalah palimpsest, ditulis ulang berkali-kali oleh pelatih berbeda, dengan filosofi yang saling bertabrakan. Hari ini bermain menyerang, besok bertahan total, lusa bicara pembinaan jangka panjang, minggu depannya ganti target.

Di sinilah Herdman akan diuji, bukan dengan taktik 4-3-3 atau 3-5-2, melainkan pada kemampuannya bertahan hidup di ekosistem yang sering mengira masalah struktural bisa diselesaikan dengan motivasi dan jargon.

PSSI tentu tahu bagaimana menjual cerita. Pelatih Piala Dunia. Pernah membawa Kanada ke Qatar setelah 36 tahun. Pernah membangun tim perempuan dari nol. Semua itu terdengar seksi di tengah kegagalan demi kegagalan yang membuat kita kelelahan berharap.

Tapi mari jujur sebentar—hanya sebentar. Yang dibeli Indonesia dari Herdman saya kira bukanlah sistem, melainkan sekadar narasi tentang sistem. Kita belum pernah benar-benar membuktikan bahwa kita sanggup menjaga pelatih lebih lama dari siklus emosi publik. Hari ini dielu-elukan. Besok diminta mundur. Lusa dianggap salah rekrut. Semua tergantung dua atau tiga pertandingan. Ingat, sepak bola Indonesia seolah punya hubungan toksik dengan waktu. Kita ingin proses, tapi hanya jika proses itu menang cepat.

Indonesia bukan Kanada, Mr. Herdman. Di sini, pelatih harus bernegosiasi bukan hanya dengan pemain, tapi juga dengan ego, opini publik, dan birokrasi yang gemar ikut campur sambil cuci tangan. Di sini, pelatih sering diposisikan sebagai kambing hitam yang elegan—dan Anda harus siap itu. Saya kasih tahu, jika Anda gagal, narasinya sudah siap: “Anda tidak cocok dengan karakter pemain Indonesia”. Jika Anda setengah berhasil, kami bilang “lumayan”. Jika Anda benar-benar berhasil, kami lupa bahwa keberhasilan itu hasil kolektif.

Mr. Herdman, Anda masuk ke sistem yang lebih pandai membuat slogan ketimbang kebijakan. Sistem yang sering menyebut pembinaan usia muda, tapi lebih sibuk mencari hasil instan agar tidak dimaki di media sosial. Saya kira Kanada tidak demikian.

Namun, yang paling mengkhawatirkan dari semua ini bukan soal kualitas Anda, melainkan soal kesabaran kami. Anda adalah tipe pelatih yang bekerja dengan proses, bukan sulap. Anda membangun tim Kanada bertahun-tahun, bukan lewat satu turnamen—kami tahu itu. Sayangnya, kami seolah alergi dengan kata “proses” kecuali dalam pidato. Negara kami ingin hasil cepat, klasemen naik, ranking FIFA melonjak, tanpa mau membayar harga konsistensi. Kami menyukai rencana jangka panjang selama tidak lebih panjang dari masa jabatan ketua umum.

Tapi saya berharap Mr. Herdman benar-benar diberi ruang, waktu, dan kewenangan oleh PSSI dan publik sepak bola Indonesia, sampai Anda bisa menulis bab baru dalam sejarah timnas. Tapi jika Anda hanya dijadikan tameng kegagalan struktural, Anda akan menjadi nama asing lain yang masuk daftar panjang pelatih yang, sekali lagi, “tidak cocok dengan sepak bola Indonesia”. Ya, sepak bola Indonesia seperti orang yang terus jatuh di lubang yang sama, lalu menyalahkan sepatu yang dikenakan. Kami mengganti pelatih seolah mengganti wallpaper, berharap dindingnya ikut berubah padahal yang perlu direnovasi adalah bangunannya.

Jadi, saya perlu bicara soal Anda dengan sinis sekaligus realis karena sepak bola bagi saya bukan sekadar soal skor, piala, atau peringkat FIFA. Ini soal budaya organisasi, perencanaan jangka panjang, dan—jangan lupakan—soal identitas bangsa. Menaruh harapan pada Anda tanpa pertanyaan kritis adalah seperti membeli tiket kelas satu tapi berharap kursinya murah.

Anda membawa warisan panjang dari Selandia Baru, Kanada, hingga Piala Dunia. Kini Anda ada di sini. Dan kepada publik sepak bola Indonesia, kita boleh berharap, namun kita juga harus waspada. Ingat, dalam sepak bola kita sering tertawa, kadang menangis, sering berharap—dan hanya sesekali melihat strategi nyata berjalan persis sebagaimana semestinya.

Entah Herdman akan menjadi pahlawan, martir, atau sekadar anekdot lucu dalam sejarah sepak bola Indonesia—itu masih tergantung pada apa yang terjadi di lapangan, di ruang ganti, dan di ruang rapat PSSI. Sejarah menunggu, dan sepak bola Indonesia tidak sabar untuk menuliskan catatan selanjutnya. Selamat datang, Mr. Herdman.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: John HerdmanPSSISEPAK BOLATimnas Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Braille, “Nyawa” bagi Disabilitas Tunanetra Tuli di Dunia

Next Post

Estetika dan Spiritualitas Lukisan Ricky Salim

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Estetika dan Spiritualitas Lukisan Ricky Salim

Estetika dan Spiritualitas Lukisan Ricky Salim

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co