2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selamat Datang di Dunia Sepak Bola Indonesia John Herdman

Jaswanto by Jaswanto
January 6, 2026
in Esai
Selamat Datang di Dunia Sepak Bola Indonesia John Herdman

Ilustrasi dibuat oleh tatkala.co dengan bantuan Chatgpt

JIKA sepak bola Indonesia adalah sebuah sinetron—penuh drama, kejutan, dan kadang logika yang tidak masuk akal—maka penunjukan John Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia bagaikan babak yang paling menggelikan sekaligus paling menggugah rasa penasaran kita.

Di tengah ambruknya mimpi menuju Piala Dunia 2026, PSSI—entitas yang sering kita curigai lebih senang dengan trial and error ketimbang strategy and implementation—akhirnya menyeret nama Herdman ke kursi panas pelatih kepala. Tanpa basa-basi, mari kita lihat siapa sebenarnya Herdman ini, dan mengapa kedatangannya terasa seperti pertanyaan besar di balik senyum lebar pengurus sepak bola nasional.

Mari kita mulai dari awal. John Herdman lahir di Consett, Inggris, pada 19 Juli 1975, dan sejak muda ia sudah tahu bakal gagal menjadi pesepakbola profesional. Alih-alih ngotot mengejar mimpi jadi Wayne Rooney versi Inggris Utara, dia lebih memilih jalur yang jarang dipilih oleh pelatih top dunia: langsung menjadi pelatih. Ya, dia tidak pernah main di lapangan, tapi langsung memilih berdiri di pinggir lapangan sejak usia relatif muda, sekitar awal 20-an.

Bayangkan, di negara yang melahirkan sepak bola modern, seorang yang bukan mantan pemain profesional justru naik menjadi pelatih tim nasional beberapa negara. Di Indonesia, kita masih sering memuja mantan pemain bak artefak suci; sedangkan Herdman? Dia adalah bukti empiris bahwa menjadi pelatih hebat tidak harus lewat jalur pemain. Ini bisa jadi pelajaran atau mungkin justru bahan pukulan keras bagi banyak mantan pemain yang kini jadi komentator—dan kadang pelatih—di negeri kita.

Herdman memulai perjalanan seriusnya di Selandia Baru, menangani tim muda dan kemudian tim nasional wanita. Di sana, dia berhasil membawa tim putri Selandia Baru dua kali berlaga di Piala Dunia Wanita serta tampil di Olimpiade Beijing 2008—prestasi yang membuat namanya mencuat di ranah kepelatihan internasional.

Kemudian, Kanada memanggil. Di negeri hockey ini, Herdman membawa tim putri Kanada meraih dua medali perunggu di Olimpiade 2012 dan 2016—bukan medali emas yang causally memaniskan bibir kita, tetapi cukup untuk menempatkan Kanada sebagai kekuatan yang diperhitungkan di dunia sepak bola wanita.

Hebatnya lagi, ia menjadi orang pertama dalam sejarah yang membawa tim wanita dan pria dari satu negara berlaga di Piala Dunia: Putri Kanada ke Piala Dunia Wanita, dan putra Kanada ke Piala Dunia 2022 di Qatar setelah absen selama 36 tahun.

Bayangkan, sebuah negara yang selama puluhan tahun lebih dikenal sebagai negeri salju itu justru menunjukkan tanda-tanda naik daun di sepak bola dunia di bawah komando Herdman. Ini bukan pekerjaan main-main; ini adalah architectural overhaul, bukan sekadar pop-up coaching.

Namun, hidup tidak pernah datar seperti grafik kemenangan. Pada tahun 2024, klubnya saat itu—Toronto FC—dan Herdman sendiri terseret dalam apa yang orang-orang media sebut “drone spying scandal”. Investigasi FIFA mengaitkan Herdman dengan praktik pengintaian lawan lewat drone—sesuatu yang sedikit menyeramkan jika digunakan dalam sepak bola, namun agak lucu jika kita bayangkan agen rahasia Inggris memakai kamera miniatur mengintai tim kecil Portland Timbers. Akhirnya, Herdman hanya mendapat surat peringatan (admonishment), tanpa denda atau larangan, sedangkan yang lain justru kena sanksi lebih berat.

Dan kini Herdman datang ke Indonesia—negara dengan hasrat sepak bola yang meledak-ledak, namun seringkali realitas organisasi dan tata kelolanya seperti tikungan tajam di tanjakan curam tanpa rem parkir. PSSI telah mengangkat Herdman sebagai pelatih senior dan U-23 untuk dua tahun ke depan, dengan opsi perpanjangan.

***

Sepak bola Indonesia selalu percaya pada keajaiban, tetapi jarang percaya pada sistem. Ia mirip orang yang rajin berdoa namun malas beres-beres rumah. Maka ketika PSSI menunjuk John Herdman sebagai pelatih baru tim nasional, publik pun terbelah: antara yang berharap keajaiban dan yang sudah hafal betul bagaimana keajaiban biasanya berakhir menjadi bahan lelucon di media sosial.

Nama John Herdman terdengar asing bagi sebagian besar suporter Indonesia. Sebagaimana telah disinggung di atas, ia bukan mantan bintang Liga Inggris, bukan pula legenda Piala Dunia. Ia tidak pernah mencetak gol spektakuler yang bisa diputar ulang di televisi dan kanal YouTube. Herdman bahkan bukan mantan pemain profesional. Ia datang dari jalur yang bagi sepak bola Indonesia masih dianggap ganjil: pelatih murni, produk pendidikan, bukan produk nostalgia.

Ketika Herdman datang ke Indonesia, sebagian orang menyebut ini sebagai lompatan berani. Sebagian lainnya diam-diam berpikir “mengapa pelatih dengan reputasi Piala Dunia mau datang ke liga yang jadwalnya sering berubah, infrastrukturnya tambal sulam, dan birokrasi sepak bolanya lebih berliku daripada taktik parkir bus?” Jawabannya mungkin sederhana dan tidak romantis, “Karena Indonesia adalah proyek. Dan proyek selalu membutuhkan orang yang mau berjudi dengan reputasi.”

Namun, proyek seperti apa yang sebenarnya sedang dihadapi Herdman? Timnas Indonesia bukan kertas kosong. Ia adalah palimpsest, ditulis ulang berkali-kali oleh pelatih berbeda, dengan filosofi yang saling bertabrakan. Hari ini bermain menyerang, besok bertahan total, lusa bicara pembinaan jangka panjang, minggu depannya ganti target.

Di sinilah Herdman akan diuji, bukan dengan taktik 4-3-3 atau 3-5-2, melainkan pada kemampuannya bertahan hidup di ekosistem yang sering mengira masalah struktural bisa diselesaikan dengan motivasi dan jargon.

PSSI tentu tahu bagaimana menjual cerita. Pelatih Piala Dunia. Pernah membawa Kanada ke Qatar setelah 36 tahun. Pernah membangun tim perempuan dari nol. Semua itu terdengar seksi di tengah kegagalan demi kegagalan yang membuat kita kelelahan berharap.

Tapi mari jujur sebentar—hanya sebentar. Yang dibeli Indonesia dari Herdman saya kira bukanlah sistem, melainkan sekadar narasi tentang sistem. Kita belum pernah benar-benar membuktikan bahwa kita sanggup menjaga pelatih lebih lama dari siklus emosi publik. Hari ini dielu-elukan. Besok diminta mundur. Lusa dianggap salah rekrut. Semua tergantung dua atau tiga pertandingan. Ingat, sepak bola Indonesia seolah punya hubungan toksik dengan waktu. Kita ingin proses, tapi hanya jika proses itu menang cepat.

Indonesia bukan Kanada, Mr. Herdman. Di sini, pelatih harus bernegosiasi bukan hanya dengan pemain, tapi juga dengan ego, opini publik, dan birokrasi yang gemar ikut campur sambil cuci tangan. Di sini, pelatih sering diposisikan sebagai kambing hitam yang elegan—dan Anda harus siap itu. Saya kasih tahu, jika Anda gagal, narasinya sudah siap: “Anda tidak cocok dengan karakter pemain Indonesia”. Jika Anda setengah berhasil, kami bilang “lumayan”. Jika Anda benar-benar berhasil, kami lupa bahwa keberhasilan itu hasil kolektif.

Mr. Herdman, Anda masuk ke sistem yang lebih pandai membuat slogan ketimbang kebijakan. Sistem yang sering menyebut pembinaan usia muda, tapi lebih sibuk mencari hasil instan agar tidak dimaki di media sosial. Saya kira Kanada tidak demikian.

Namun, yang paling mengkhawatirkan dari semua ini bukan soal kualitas Anda, melainkan soal kesabaran kami. Anda adalah tipe pelatih yang bekerja dengan proses, bukan sulap. Anda membangun tim Kanada bertahun-tahun, bukan lewat satu turnamen—kami tahu itu. Sayangnya, kami seolah alergi dengan kata “proses” kecuali dalam pidato. Negara kami ingin hasil cepat, klasemen naik, ranking FIFA melonjak, tanpa mau membayar harga konsistensi. Kami menyukai rencana jangka panjang selama tidak lebih panjang dari masa jabatan ketua umum.

Tapi saya berharap Mr. Herdman benar-benar diberi ruang, waktu, dan kewenangan oleh PSSI dan publik sepak bola Indonesia, sampai Anda bisa menulis bab baru dalam sejarah timnas. Tapi jika Anda hanya dijadikan tameng kegagalan struktural, Anda akan menjadi nama asing lain yang masuk daftar panjang pelatih yang, sekali lagi, “tidak cocok dengan sepak bola Indonesia”. Ya, sepak bola Indonesia seperti orang yang terus jatuh di lubang yang sama, lalu menyalahkan sepatu yang dikenakan. Kami mengganti pelatih seolah mengganti wallpaper, berharap dindingnya ikut berubah padahal yang perlu direnovasi adalah bangunannya.

Jadi, saya perlu bicara soal Anda dengan sinis sekaligus realis karena sepak bola bagi saya bukan sekadar soal skor, piala, atau peringkat FIFA. Ini soal budaya organisasi, perencanaan jangka panjang, dan—jangan lupakan—soal identitas bangsa. Menaruh harapan pada Anda tanpa pertanyaan kritis adalah seperti membeli tiket kelas satu tapi berharap kursinya murah.

Anda membawa warisan panjang dari Selandia Baru, Kanada, hingga Piala Dunia. Kini Anda ada di sini. Dan kepada publik sepak bola Indonesia, kita boleh berharap, namun kita juga harus waspada. Ingat, dalam sepak bola kita sering tertawa, kadang menangis, sering berharap—dan hanya sesekali melihat strategi nyata berjalan persis sebagaimana semestinya.

Entah Herdman akan menjadi pahlawan, martir, atau sekadar anekdot lucu dalam sejarah sepak bola Indonesia—itu masih tergantung pada apa yang terjadi di lapangan, di ruang ganti, dan di ruang rapat PSSI. Sejarah menunggu, dan sepak bola Indonesia tidak sabar untuk menuliskan catatan selanjutnya. Selamat datang, Mr. Herdman.[T]

Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Tags: John HerdmanPSSISEPAK BOLATimnas Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Braille, “Nyawa” bagi Disabilitas Tunanetra Tuli di Dunia

Next Post

Estetika dan Spiritualitas Lukisan Ricky Salim

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Estetika dan Spiritualitas Lukisan Ricky Salim

Estetika dan Spiritualitas Lukisan Ricky Salim

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co