26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Braille, “Nyawa” bagi Disabilitas Tunanetra Tuli di Dunia

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
January 6, 2026
in Esai
Braille, “Nyawa” bagi Disabilitas Tunanetra Tuli di Dunia

Potret Braille Wiguna Mahayasa | Foto: Dok. Pribadi

SEJAK ditemukan hampir dua abad yang lalu, huruf Braille telah menjadi jembatan bagi jutaan tunanetra di seluruh dunia untuk mengakses informasi, pendidikan, dan berkomunikasi dengan dunia luar. Sistem tulisan taktil ini bukan sekadar rangkaian titik-titik timbul di atas kertas, melainkan sebuah revolusi yang membuka pintu pengetahuan bagi mereka yang tidak bisa melihat.

Namun, ada satu kelompok yang jarang disorot dalam perbincangan tentang Braille, padahal bagi mereka, Braille bukan hanya alat bantu, melainkan benar-benar seperti “nyawa” yang menghubungkan mereka dengan dunia, yakni penyandang disabilitas tunanetra tuli.

Sejarah Singkat Braille: Dari Medan Perang hingga Kelas

Huruf Braille ditemukan oleh Louis Braille, seorang pemuda tunanetra asal Prancis, pada tahun 1824 ketika ia baru berusia 15 tahun. Louis Braille kehilangan penglihatannya akibat kecelakaan di bengkel ayahnya saat ia masih kecil.

Terinspirasi dari sistem “night writing” yang dikembangkan oleh Kapten Charles Barbier untuk militer agar bisa membaca pesan dalam gelap tanpa cahaya, Louis Braille kemudian menyederhanakan sistem tersebut. Sistem Barbier menggunakan 12 titik, yang kemudian dipotong menjadi setengahnya oleh Louis Braille menjadi 6 titik yang bisa dibaca dengan ujung jari. Sistem ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1829 (Britannica, 2024).

Yang menarik, meskipun sistem Braille sudah dikembangkan pada 1824 dan dipublikasikan pada 1829, baru pada tahun 1854, dua tahun setelah Louis Braille meninggal dunia pada 6 Januari 1852, Sistem ini mulai diadopsi secara resmi di Institution Nationale des Jeunes Aveugles di Paris, Prancis (Library of Congress).

Kini, Braille telah diadaptasi ke dalam lebih dari 133 bahasa di seluruh dunia dan menjadi standar internasional untuk literasi tunanetra (Perkins School for the Blind, 2024). Setiap tanggal 4 Januari, bertepatan dengan hari lahir Louis Braille, dunia memperingati Hari Braille Sedunia sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi luar biasa ini.

Braille Bukan Hanya untuk Tunanetra

Yang sering luput dari perhatian publik adalah fakta bahwa Braille tidak hanya digunakan oleh tunanetra saja. Penyandang disabilitas tunanetra tuli, atau yang sering disebut deafblind, juga sangat bergantung pada Braille. Bagi mereka yang kehilangan dua indera sekaligus, penglihatan dan pendengaran, pilihan untuk mengakses informasi menjadi sangat terbatas.

Di era digital saat ini, memang banyak tunanetra yang beralih menggunakan teknologi seperti aplikasi pembaca layar yang mengubah teks menjadi suara. Namun, bagi tunanetra tuli, teknologi suara seperti screen reader ini tidak bisa digunakan. Braille menjadi satu-satunya jembatan yang menghubungkan mereka dengan dunia informasi, komunikasi, pendidikan, dan pekerjaan. Tanpa Braille, mereka akan terisolasi sepenuhnya dari dunia.

Salah satu tantangan terbesar bagi komunitas tunanetra tuli di Indonesia adalah belum adanya standardisasi bahasa isyarat sentuh atau tactile sign language. Berbeda dengan bahasa isyarat untuk tuli yang sudah memiliki standar nasional, yaitu Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), bahasa isyarat sentuh untuk tunanetra tuli masih belum memiliki standardisasi yang jelas di Indonesia.

Padahal, di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, tactile sign language sudah menjadi bagian dari sistem komunikasi yang diakui dan diajarkan secara formal. Di Amerika Serikat, misalnya, Tactile American Sign Language (TASL) telah dikembangkan dan diajarkan di berbagai lembaga pendidikan khusus untuk tunanetra tuli. Di Indonesia, kondisinya sangat berbeda. Belum ada lembaga atau institusi yang secara khusus mengembangkan dan melatih bahasa isyarat sentuh dengan standar yang jelas.

Bahkan saya sendiri, sebagai penulis yang merupakan penyandang disabilitas tunanetra tuli, tidak menguasai bahasa isyarat sentuh secara formal karena memang belum ada tempat atau lembaga yang secara khusus mengajarkannya dengan standar yang jelas di Indonesia.

Kesenjangan ini semakin terasa ketika kita membandingkannya dengan perjuangan komunitas tuli di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, advokasi untuk pengakuan bahasa isyarat semakin gencar.

Pada tahun 2016, Indonesia meratifikasi Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, yang di dalamnya mengakui hak penyandang disabilitas untuk berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.

Pasal 42 UU ini menyebutkan bahwa negara mengembangkan bahasa isyarat Indonesia sebagai bagian dari hak penyandang disabilitas untuk berkomunikasi. Kemudian, pada tahun 2018, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2018 tentang Bahasa Isyarat yang mengatur BISINDO dan SIBI sebagai bahasa resmi. Namun, pengakuan dan dukungan untuk tunanetra tuli masih jauh tertinggal.

Braille sebagai Alat Komunikasi Utama Tunanetra Tuli

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika seorang tunanetra tuli ingin berkomunikasi dengan orang lain, Braille menjadi salah satu alat utama. Misalnya, ketika seseorang ingin menyampaikan pesan kepada saya, mereka bisa menuliskannya dalam Braille di telapak tangan saya, atau menggunakan mesin ketik Braille portabel. Ini adalah cara yang paling efektif dan langsung.

Sementara tunanetra tanpa gangguan pendengaran bisa mengakses dunia digital melalui screen reader yang membacakan teks dengan suara, tunanetra tuli mengaksesnya menggunakan perangkat yang disebut Braille Display atau Refreshable BrailleDdisplay. Alat ini adalah perangkat elektronik yang terhubung dengan komputer, smartphone, atau tablet, dan menampilkan teks dalam bentuk Braille secara dinamis. Titik-titik Braille pada perangkat ini naik dan turun secara otomatis sesuai dengan teks yang ditampilkan di layar.

Dengan Braille Display, seorang tunanetra tuli bisa membaca email, browsing internet, membaca dokumen, bahkan menulis artikel seperti ini. Namun, ada satu masalah besar, yakni, harganya.

Kesenjangan Ekonomi: Braille Display yang Tak Terjangkau

Braille Display adalah perangkat yang sangat mahal. Harga untuk satu unit Braille Display bervariasi tergantung pada jumlah sel Braille yang tersedia. Berdasarkan data tahun 2024-2025, harga Braille Display di pasar internasional adalah sebagai berikut:

Tingkat budget seperti Orbit Reader 20 dengan 20 sel sekitar USD 449-500 (sekitar 7-8 juta rupiah). Tingkat menengah seperti Brailliant BI 20X dengan 20 sel sekitar USD 1,899-2,199 (sekitar 30-35 juta rupiah). Sementara untuk Braille Display dengan 40 sel bisa mencapai harga USD 2,500-4,000 (sekitar 40-64 juta rupiah), dan yang memiliki 80 sel atau lebih bisa mencapai lebih dari USD 6,000-15,000 (sekitar 96-240 juta rupiah).

Harga yang sangat tinggi ini disebabkan oleh teknologi yang digunakan masih kompleks dan produksinya terbatas. Hal ini membuat Braille Display menjadi barang mewah yang tidak terjangkau oleh sebagian besar tunanetra tuli, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Selain harganya yang mahal, perangkat ini juga sangat sulit didapat di Indonesia. Hampir semua Braille Display harus diimpor dari luar negeri, dan tidak ada distributor resmi yang menyediakan layanan purna jual atau pelatihan penggunaan. Bahkan saya sendiri, sebagai penulis yang merupakan tunanetra tuli, tidak memiliki Braille Display.

Saya masih memiliki sedikit sisa pendengaran, sehingga bisa mendengarkan screen reader menggunakan headphone dengan volume maksimal. Namun, saya sadar bahwa suatu hari nanti, ketika pendengaran saya menurun lebih jauh, akses saya terhadap informasi akan sangat terbatas tanpa Braille Display.

Pentingnya Braille bagi Kehidupan Tunanetra Tuli

Braille bukan sekadar alat bantu baca tulis. Bagi tunanetra tuli, Braille adalah akses ke pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Tanpa Braille, seorang tunanetra tuli tidak bisa belajar secara mandiri, tidak bisa bekerja di bidang yang membutuhkan akses informasi, dan akan sangat terisolasi dari masyarakat.

Sebagai contoh, dalam dunia pendidikan, seorang siswa tunanetra tuli membutuhkan buku teks dalam Braille, catatan kuliah dalam Braille, dan akses ke materi digital melalui Braille Display. Tanpa ini, mereka tidak akan bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Di dunia kerja, akses ke komputer dan internet melalui Braille Display memungkinkan tunanetra tuli untuk bekerja sebagai programmer, penulis, analis data, atau profesi lain yang membutuhkan literasi digital.

Menurut Sense International (2024), diperkirakan ada sekitar 0,2 persen dari populasi dunia yang mengalami deafblindness berat (sekitar 16 juta orang), dan sekitar 2 persen yang mengalami deafblindness ringan hingga sedang (sekitar 160 juta orang). Secara keseluruhan, sekitar 176 juta orang di seluruh dunia mengalami kombinasi gangguan penglihatan dan pendengaran dalam berbagai tingkatan. Di Indonesia, data resmi tentang jumlah penyandang disabilitas tunanetra tuli masih sangat minim, yang menunjukkan betapa tidak terlihatnya kelompok ini dalam kebijakan publik.

Literasi Braille secara signifikan meningkatkan tingkat kemandirian dan kualitas hidup penyandang tunanetra tuli. Mereka yang menguasai Braille memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan pekerjaan yang layak.

Harapan untuk Masa Depan Braille dan Tunanetra Tuli

Hari Braille Sedunia bukan hanya momen untuk merayakan penemuan luar biasa ini, tetapi juga untuk mengingatkan kita semua tentang pentingnya aksesibilitas bagi semua orang, termasuk tunanetra tuli. Braille harus terus menjadi tulang punggung literasi bagi tunanetra dan tunanetra tuli di seluruh dunia. Meskipun teknologi digital terus berkembang, Braille tidak boleh ditinggalkan.

Saya berharap, ke depannya, akan ada lebih banyak upaya untuk membuat Braille Display lebih terjangkau dan mudah didapat di Indonesia. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan organisasi disabilitas perlu bekerja sama untuk menyediakan akses yang lebih baik bagi tunanetra tuli. Subsidi atau program bantuan untuk pembelian Braille Display bisa menjadi salah satu solusi. Beberapa negara telah menerapkan program subsidi untuk Braille Display bagi penyandang disabilitas tunanetra tuli.

Selain itu, standardisasi bahasa isyarat sentuh juga harus menjadi prioritas. Pemerintah Indonesia perlu segera membentuk lembaga atau tim khusus yang mengembangkan dan melatih bahasa isyarat sentuh dengan standar nasional. Tunanetra tuli tidak boleh terus menerus terisolasi karena belum adanya sistem komunikasi yang jelas dan diakui secara nasional.

Sebagai penyandang disabilitas tunanetra tuli, saya dan teman-teman lainnya ingin terus melestarikan dan memperkenalkan Braille kepada masyarakat luas. Braille bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga masa depan kami. Kami ingin dunia tahu bahwa kami ada, bahwa kami memiliki hak yang sama untuk belajar, bekerja, dan berkontribusi kepada masyarakat.

Saya membayangkan, jika suatu hari nanti pendengaran saya benar-benar hilang, tanpa Braille Display, saya akan kehilangan akses ke dunia digital yang selama ini menjadi jendela saya ke dunia. Tanpa Braille Display, saya tidak akan bisa menulis artikel seperti ini, tidak bisa bekerja, dan tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain secara efektif.

Oleh karena itu, di Hari Braille Sedunia ini, saya ingin mengajak semua pihak untuk lebih peduli terhadap keberadaan kami, tunanetra tuli. Kami butuh dukungan, kami butuh aksesibilitas, dan kami butuh pengakuan bahwa Braille adalah nyawa kami. Tanpa Braille, kami tidak bisa hidup dengan bermartabat di dunia yang semakin digital ini.

Mari kita jaga Braille, mari kita dukung tunanetra tuli, dan mari kita ciptakan dunia yang lebih inklusif untuk semua.

Selamat Hari Braille Sedunia, 4 Januari 2026.[T]

Referensi:

Britannica. (2024). Braille: History, Inventor, Description, & Facts.

Library of Congress. National Library Service for the Blind and Print Disabled. Louis Braille (1809-1852).

Perkins School for the Blind. (2024). World Braille Usage.

Sense International. (2024). Understanding Deafblindness: Global Prevalence Statistics.

Time and Date. World Braille Day.

United Nations. World Braille Day – 4 January.

Penulis: I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
Editor: Jaswanto

Tags: BrailledisabilitasHari Braille SeduniaLouis Brailletunanetra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

In Memoriam: I Nyoman Mongol, Jejak Sunyi Seniman Arja dari Ole, Marga, Tabanan

Next Post

Selamat Datang di Dunia Sepak Bola Indonesia John Herdman

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa, S.Pd., M.M, biasa dipanggil Wiguna. Ia adalah pengusaha tunanetra tuli (deafblind) asal Denpasar, Bali. Selain sebagai pengusaha, ia juga aktif memperjuangkan isu-isu tentang wirausaha disabilitas dan isu terkait tunanetra tuli di Indonesia.

Related Posts

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

Read moreDetails

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
0
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

Read moreDetails

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails
Next Post
Selamat Datang di Dunia Sepak Bola Indonesia John Herdman

Selamat Datang di Dunia Sepak Bola Indonesia John Herdman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co