15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Braille, “Nyawa” bagi Disabilitas Tunanetra Tuli di Dunia

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
January 6, 2026
in Esai
Braille, “Nyawa” bagi Disabilitas Tunanetra Tuli di Dunia

Potret Braille Wiguna Mahayasa | Foto: Dok. Pribadi

SEJAK ditemukan hampir dua abad yang lalu, huruf Braille telah menjadi jembatan bagi jutaan tunanetra di seluruh dunia untuk mengakses informasi, pendidikan, dan berkomunikasi dengan dunia luar. Sistem tulisan taktil ini bukan sekadar rangkaian titik-titik timbul di atas kertas, melainkan sebuah revolusi yang membuka pintu pengetahuan bagi mereka yang tidak bisa melihat.

Namun, ada satu kelompok yang jarang disorot dalam perbincangan tentang Braille, padahal bagi mereka, Braille bukan hanya alat bantu, melainkan benar-benar seperti “nyawa” yang menghubungkan mereka dengan dunia, yakni penyandang disabilitas tunanetra tuli.

Sejarah Singkat Braille: Dari Medan Perang hingga Kelas

Huruf Braille ditemukan oleh Louis Braille, seorang pemuda tunanetra asal Prancis, pada tahun 1824 ketika ia baru berusia 15 tahun. Louis Braille kehilangan penglihatannya akibat kecelakaan di bengkel ayahnya saat ia masih kecil.

Terinspirasi dari sistem “night writing” yang dikembangkan oleh Kapten Charles Barbier untuk militer agar bisa membaca pesan dalam gelap tanpa cahaya, Louis Braille kemudian menyederhanakan sistem tersebut. Sistem Barbier menggunakan 12 titik, yang kemudian dipotong menjadi setengahnya oleh Louis Braille menjadi 6 titik yang bisa dibaca dengan ujung jari. Sistem ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1829 (Britannica, 2024).

Yang menarik, meskipun sistem Braille sudah dikembangkan pada 1824 dan dipublikasikan pada 1829, baru pada tahun 1854, dua tahun setelah Louis Braille meninggal dunia pada 6 Januari 1852, Sistem ini mulai diadopsi secara resmi di Institution Nationale des Jeunes Aveugles di Paris, Prancis (Library of Congress).

Kini, Braille telah diadaptasi ke dalam lebih dari 133 bahasa di seluruh dunia dan menjadi standar internasional untuk literasi tunanetra (Perkins School for the Blind, 2024). Setiap tanggal 4 Januari, bertepatan dengan hari lahir Louis Braille, dunia memperingati Hari Braille Sedunia sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi luar biasa ini.

Braille Bukan Hanya untuk Tunanetra

Yang sering luput dari perhatian publik adalah fakta bahwa Braille tidak hanya digunakan oleh tunanetra saja. Penyandang disabilitas tunanetra tuli, atau yang sering disebut deafblind, juga sangat bergantung pada Braille. Bagi mereka yang kehilangan dua indera sekaligus, penglihatan dan pendengaran, pilihan untuk mengakses informasi menjadi sangat terbatas.

Di era digital saat ini, memang banyak tunanetra yang beralih menggunakan teknologi seperti aplikasi pembaca layar yang mengubah teks menjadi suara. Namun, bagi tunanetra tuli, teknologi suara seperti screen reader ini tidak bisa digunakan. Braille menjadi satu-satunya jembatan yang menghubungkan mereka dengan dunia informasi, komunikasi, pendidikan, dan pekerjaan. Tanpa Braille, mereka akan terisolasi sepenuhnya dari dunia.

Salah satu tantangan terbesar bagi komunitas tunanetra tuli di Indonesia adalah belum adanya standardisasi bahasa isyarat sentuh atau tactile sign language. Berbeda dengan bahasa isyarat untuk tuli yang sudah memiliki standar nasional, yaitu Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), bahasa isyarat sentuh untuk tunanetra tuli masih belum memiliki standardisasi yang jelas di Indonesia.

Padahal, di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, tactile sign language sudah menjadi bagian dari sistem komunikasi yang diakui dan diajarkan secara formal. Di Amerika Serikat, misalnya, Tactile American Sign Language (TASL) telah dikembangkan dan diajarkan di berbagai lembaga pendidikan khusus untuk tunanetra tuli. Di Indonesia, kondisinya sangat berbeda. Belum ada lembaga atau institusi yang secara khusus mengembangkan dan melatih bahasa isyarat sentuh dengan standar yang jelas.

Bahkan saya sendiri, sebagai penulis yang merupakan penyandang disabilitas tunanetra tuli, tidak menguasai bahasa isyarat sentuh secara formal karena memang belum ada tempat atau lembaga yang secara khusus mengajarkannya dengan standar yang jelas di Indonesia.

Kesenjangan ini semakin terasa ketika kita membandingkannya dengan perjuangan komunitas tuli di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, advokasi untuk pengakuan bahasa isyarat semakin gencar.

Pada tahun 2016, Indonesia meratifikasi Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, yang di dalamnya mengakui hak penyandang disabilitas untuk berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.

Pasal 42 UU ini menyebutkan bahwa negara mengembangkan bahasa isyarat Indonesia sebagai bagian dari hak penyandang disabilitas untuk berkomunikasi. Kemudian, pada tahun 2018, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2018 tentang Bahasa Isyarat yang mengatur BISINDO dan SIBI sebagai bahasa resmi. Namun, pengakuan dan dukungan untuk tunanetra tuli masih jauh tertinggal.

Braille sebagai Alat Komunikasi Utama Tunanetra Tuli

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika seorang tunanetra tuli ingin berkomunikasi dengan orang lain, Braille menjadi salah satu alat utama. Misalnya, ketika seseorang ingin menyampaikan pesan kepada saya, mereka bisa menuliskannya dalam Braille di telapak tangan saya, atau menggunakan mesin ketik Braille portabel. Ini adalah cara yang paling efektif dan langsung.

Sementara tunanetra tanpa gangguan pendengaran bisa mengakses dunia digital melalui screen reader yang membacakan teks dengan suara, tunanetra tuli mengaksesnya menggunakan perangkat yang disebut Braille Display atau Refreshable BrailleDdisplay. Alat ini adalah perangkat elektronik yang terhubung dengan komputer, smartphone, atau tablet, dan menampilkan teks dalam bentuk Braille secara dinamis. Titik-titik Braille pada perangkat ini naik dan turun secara otomatis sesuai dengan teks yang ditampilkan di layar.

Dengan Braille Display, seorang tunanetra tuli bisa membaca email, browsing internet, membaca dokumen, bahkan menulis artikel seperti ini. Namun, ada satu masalah besar, yakni, harganya.

Kesenjangan Ekonomi: Braille Display yang Tak Terjangkau

Braille Display adalah perangkat yang sangat mahal. Harga untuk satu unit Braille Display bervariasi tergantung pada jumlah sel Braille yang tersedia. Berdasarkan data tahun 2024-2025, harga Braille Display di pasar internasional adalah sebagai berikut:

Tingkat budget seperti Orbit Reader 20 dengan 20 sel sekitar USD 449-500 (sekitar 7-8 juta rupiah). Tingkat menengah seperti Brailliant BI 20X dengan 20 sel sekitar USD 1,899-2,199 (sekitar 30-35 juta rupiah). Sementara untuk Braille Display dengan 40 sel bisa mencapai harga USD 2,500-4,000 (sekitar 40-64 juta rupiah), dan yang memiliki 80 sel atau lebih bisa mencapai lebih dari USD 6,000-15,000 (sekitar 96-240 juta rupiah).

Harga yang sangat tinggi ini disebabkan oleh teknologi yang digunakan masih kompleks dan produksinya terbatas. Hal ini membuat Braille Display menjadi barang mewah yang tidak terjangkau oleh sebagian besar tunanetra tuli, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Selain harganya yang mahal, perangkat ini juga sangat sulit didapat di Indonesia. Hampir semua Braille Display harus diimpor dari luar negeri, dan tidak ada distributor resmi yang menyediakan layanan purna jual atau pelatihan penggunaan. Bahkan saya sendiri, sebagai penulis yang merupakan tunanetra tuli, tidak memiliki Braille Display.

Saya masih memiliki sedikit sisa pendengaran, sehingga bisa mendengarkan screen reader menggunakan headphone dengan volume maksimal. Namun, saya sadar bahwa suatu hari nanti, ketika pendengaran saya menurun lebih jauh, akses saya terhadap informasi akan sangat terbatas tanpa Braille Display.

Pentingnya Braille bagi Kehidupan Tunanetra Tuli

Braille bukan sekadar alat bantu baca tulis. Bagi tunanetra tuli, Braille adalah akses ke pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Tanpa Braille, seorang tunanetra tuli tidak bisa belajar secara mandiri, tidak bisa bekerja di bidang yang membutuhkan akses informasi, dan akan sangat terisolasi dari masyarakat.

Sebagai contoh, dalam dunia pendidikan, seorang siswa tunanetra tuli membutuhkan buku teks dalam Braille, catatan kuliah dalam Braille, dan akses ke materi digital melalui Braille Display. Tanpa ini, mereka tidak akan bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Di dunia kerja, akses ke komputer dan internet melalui Braille Display memungkinkan tunanetra tuli untuk bekerja sebagai programmer, penulis, analis data, atau profesi lain yang membutuhkan literasi digital.

Menurut Sense International (2024), diperkirakan ada sekitar 0,2 persen dari populasi dunia yang mengalami deafblindness berat (sekitar 16 juta orang), dan sekitar 2 persen yang mengalami deafblindness ringan hingga sedang (sekitar 160 juta orang). Secara keseluruhan, sekitar 176 juta orang di seluruh dunia mengalami kombinasi gangguan penglihatan dan pendengaran dalam berbagai tingkatan. Di Indonesia, data resmi tentang jumlah penyandang disabilitas tunanetra tuli masih sangat minim, yang menunjukkan betapa tidak terlihatnya kelompok ini dalam kebijakan publik.

Literasi Braille secara signifikan meningkatkan tingkat kemandirian dan kualitas hidup penyandang tunanetra tuli. Mereka yang menguasai Braille memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan pekerjaan yang layak.

Harapan untuk Masa Depan Braille dan Tunanetra Tuli

Hari Braille Sedunia bukan hanya momen untuk merayakan penemuan luar biasa ini, tetapi juga untuk mengingatkan kita semua tentang pentingnya aksesibilitas bagi semua orang, termasuk tunanetra tuli. Braille harus terus menjadi tulang punggung literasi bagi tunanetra dan tunanetra tuli di seluruh dunia. Meskipun teknologi digital terus berkembang, Braille tidak boleh ditinggalkan.

Saya berharap, ke depannya, akan ada lebih banyak upaya untuk membuat Braille Display lebih terjangkau dan mudah didapat di Indonesia. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan organisasi disabilitas perlu bekerja sama untuk menyediakan akses yang lebih baik bagi tunanetra tuli. Subsidi atau program bantuan untuk pembelian Braille Display bisa menjadi salah satu solusi. Beberapa negara telah menerapkan program subsidi untuk Braille Display bagi penyandang disabilitas tunanetra tuli.

Selain itu, standardisasi bahasa isyarat sentuh juga harus menjadi prioritas. Pemerintah Indonesia perlu segera membentuk lembaga atau tim khusus yang mengembangkan dan melatih bahasa isyarat sentuh dengan standar nasional. Tunanetra tuli tidak boleh terus menerus terisolasi karena belum adanya sistem komunikasi yang jelas dan diakui secara nasional.

Sebagai penyandang disabilitas tunanetra tuli, saya dan teman-teman lainnya ingin terus melestarikan dan memperkenalkan Braille kepada masyarakat luas. Braille bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga masa depan kami. Kami ingin dunia tahu bahwa kami ada, bahwa kami memiliki hak yang sama untuk belajar, bekerja, dan berkontribusi kepada masyarakat.

Saya membayangkan, jika suatu hari nanti pendengaran saya benar-benar hilang, tanpa Braille Display, saya akan kehilangan akses ke dunia digital yang selama ini menjadi jendela saya ke dunia. Tanpa Braille Display, saya tidak akan bisa menulis artikel seperti ini, tidak bisa bekerja, dan tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain secara efektif.

Oleh karena itu, di Hari Braille Sedunia ini, saya ingin mengajak semua pihak untuk lebih peduli terhadap keberadaan kami, tunanetra tuli. Kami butuh dukungan, kami butuh aksesibilitas, dan kami butuh pengakuan bahwa Braille adalah nyawa kami. Tanpa Braille, kami tidak bisa hidup dengan bermartabat di dunia yang semakin digital ini.

Mari kita jaga Braille, mari kita dukung tunanetra tuli, dan mari kita ciptakan dunia yang lebih inklusif untuk semua.

Selamat Hari Braille Sedunia, 4 Januari 2026.[T]

Referensi:

Britannica. (2024). Braille: History, Inventor, Description, & Facts.

Library of Congress. National Library Service for the Blind and Print Disabled. Louis Braille (1809-1852).

Perkins School for the Blind. (2024). World Braille Usage.

Sense International. (2024). Understanding Deafblindness: Global Prevalence Statistics.

Time and Date. World Braille Day.

United Nations. World Braille Day – 4 January.

Penulis: I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
Editor: Jaswanto

Tags: BrailledisabilitasHari Braille SeduniaLouis Brailletunanetra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

In Memoriam: I Nyoman Mongol, Jejak Sunyi Seniman Arja dari Ole, Marga, Tabanan

Next Post

Selamat Datang di Dunia Sepak Bola Indonesia John Herdman

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa, S.Pd., M.M, biasa dipanggil Wiguna. Ia adalah pengusaha tunanetra tuli (deafblind) asal Denpasar, Bali. Selain sebagai pengusaha, ia juga aktif memperjuangkan isu-isu tentang wirausaha disabilitas dan isu terkait tunanetra tuli di Indonesia.

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Selamat Datang di Dunia Sepak Bola Indonesia John Herdman

Selamat Datang di Dunia Sepak Bola Indonesia John Herdman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co