4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Braille, “Nyawa” bagi Disabilitas Tunanetra Tuli di Dunia

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
January 6, 2026
in Esai
Braille, “Nyawa” bagi Disabilitas Tunanetra Tuli di Dunia

Potret Braille Wiguna Mahayasa | Foto: Dok. Pribadi

SEJAK ditemukan hampir dua abad yang lalu, huruf Braille telah menjadi jembatan bagi jutaan tunanetra di seluruh dunia untuk mengakses informasi, pendidikan, dan berkomunikasi dengan dunia luar. Sistem tulisan taktil ini bukan sekadar rangkaian titik-titik timbul di atas kertas, melainkan sebuah revolusi yang membuka pintu pengetahuan bagi mereka yang tidak bisa melihat.

Namun, ada satu kelompok yang jarang disorot dalam perbincangan tentang Braille, padahal bagi mereka, Braille bukan hanya alat bantu, melainkan benar-benar seperti “nyawa” yang menghubungkan mereka dengan dunia, yakni penyandang disabilitas tunanetra tuli.

Sejarah Singkat Braille: Dari Medan Perang hingga Kelas

Huruf Braille ditemukan oleh Louis Braille, seorang pemuda tunanetra asal Prancis, pada tahun 1824 ketika ia baru berusia 15 tahun. Louis Braille kehilangan penglihatannya akibat kecelakaan di bengkel ayahnya saat ia masih kecil.

Terinspirasi dari sistem “night writing” yang dikembangkan oleh Kapten Charles Barbier untuk militer agar bisa membaca pesan dalam gelap tanpa cahaya, Louis Braille kemudian menyederhanakan sistem tersebut. Sistem Barbier menggunakan 12 titik, yang kemudian dipotong menjadi setengahnya oleh Louis Braille menjadi 6 titik yang bisa dibaca dengan ujung jari. Sistem ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1829 (Britannica, 2024).

Yang menarik, meskipun sistem Braille sudah dikembangkan pada 1824 dan dipublikasikan pada 1829, baru pada tahun 1854, dua tahun setelah Louis Braille meninggal dunia pada 6 Januari 1852, Sistem ini mulai diadopsi secara resmi di Institution Nationale des Jeunes Aveugles di Paris, Prancis (Library of Congress).

Kini, Braille telah diadaptasi ke dalam lebih dari 133 bahasa di seluruh dunia dan menjadi standar internasional untuk literasi tunanetra (Perkins School for the Blind, 2024). Setiap tanggal 4 Januari, bertepatan dengan hari lahir Louis Braille, dunia memperingati Hari Braille Sedunia sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi luar biasa ini.

Braille Bukan Hanya untuk Tunanetra

Yang sering luput dari perhatian publik adalah fakta bahwa Braille tidak hanya digunakan oleh tunanetra saja. Penyandang disabilitas tunanetra tuli, atau yang sering disebut deafblind, juga sangat bergantung pada Braille. Bagi mereka yang kehilangan dua indera sekaligus, penglihatan dan pendengaran, pilihan untuk mengakses informasi menjadi sangat terbatas.

Di era digital saat ini, memang banyak tunanetra yang beralih menggunakan teknologi seperti aplikasi pembaca layar yang mengubah teks menjadi suara. Namun, bagi tunanetra tuli, teknologi suara seperti screen reader ini tidak bisa digunakan. Braille menjadi satu-satunya jembatan yang menghubungkan mereka dengan dunia informasi, komunikasi, pendidikan, dan pekerjaan. Tanpa Braille, mereka akan terisolasi sepenuhnya dari dunia.

Salah satu tantangan terbesar bagi komunitas tunanetra tuli di Indonesia adalah belum adanya standardisasi bahasa isyarat sentuh atau tactile sign language. Berbeda dengan bahasa isyarat untuk tuli yang sudah memiliki standar nasional, yaitu Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO), bahasa isyarat sentuh untuk tunanetra tuli masih belum memiliki standardisasi yang jelas di Indonesia.

Padahal, di beberapa negara seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, tactile sign language sudah menjadi bagian dari sistem komunikasi yang diakui dan diajarkan secara formal. Di Amerika Serikat, misalnya, Tactile American Sign Language (TASL) telah dikembangkan dan diajarkan di berbagai lembaga pendidikan khusus untuk tunanetra tuli. Di Indonesia, kondisinya sangat berbeda. Belum ada lembaga atau institusi yang secara khusus mengembangkan dan melatih bahasa isyarat sentuh dengan standar yang jelas.

Bahkan saya sendiri, sebagai penulis yang merupakan penyandang disabilitas tunanetra tuli, tidak menguasai bahasa isyarat sentuh secara formal karena memang belum ada tempat atau lembaga yang secara khusus mengajarkannya dengan standar yang jelas di Indonesia.

Kesenjangan ini semakin terasa ketika kita membandingkannya dengan perjuangan komunitas tuli di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, advokasi untuk pengakuan bahasa isyarat semakin gencar.

Pada tahun 2016, Indonesia meratifikasi Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, yang di dalamnya mengakui hak penyandang disabilitas untuk berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.

Pasal 42 UU ini menyebutkan bahwa negara mengembangkan bahasa isyarat Indonesia sebagai bagian dari hak penyandang disabilitas untuk berkomunikasi. Kemudian, pada tahun 2018, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2018 tentang Bahasa Isyarat yang mengatur BISINDO dan SIBI sebagai bahasa resmi. Namun, pengakuan dan dukungan untuk tunanetra tuli masih jauh tertinggal.

Braille sebagai Alat Komunikasi Utama Tunanetra Tuli

Dalam kehidupan sehari-hari, ketika seorang tunanetra tuli ingin berkomunikasi dengan orang lain, Braille menjadi salah satu alat utama. Misalnya, ketika seseorang ingin menyampaikan pesan kepada saya, mereka bisa menuliskannya dalam Braille di telapak tangan saya, atau menggunakan mesin ketik Braille portabel. Ini adalah cara yang paling efektif dan langsung.

Sementara tunanetra tanpa gangguan pendengaran bisa mengakses dunia digital melalui screen reader yang membacakan teks dengan suara, tunanetra tuli mengaksesnya menggunakan perangkat yang disebut Braille Display atau Refreshable BrailleDdisplay. Alat ini adalah perangkat elektronik yang terhubung dengan komputer, smartphone, atau tablet, dan menampilkan teks dalam bentuk Braille secara dinamis. Titik-titik Braille pada perangkat ini naik dan turun secara otomatis sesuai dengan teks yang ditampilkan di layar.

Dengan Braille Display, seorang tunanetra tuli bisa membaca email, browsing internet, membaca dokumen, bahkan menulis artikel seperti ini. Namun, ada satu masalah besar, yakni, harganya.

Kesenjangan Ekonomi: Braille Display yang Tak Terjangkau

Braille Display adalah perangkat yang sangat mahal. Harga untuk satu unit Braille Display bervariasi tergantung pada jumlah sel Braille yang tersedia. Berdasarkan data tahun 2024-2025, harga Braille Display di pasar internasional adalah sebagai berikut:

Tingkat budget seperti Orbit Reader 20 dengan 20 sel sekitar USD 449-500 (sekitar 7-8 juta rupiah). Tingkat menengah seperti Brailliant BI 20X dengan 20 sel sekitar USD 1,899-2,199 (sekitar 30-35 juta rupiah). Sementara untuk Braille Display dengan 40 sel bisa mencapai harga USD 2,500-4,000 (sekitar 40-64 juta rupiah), dan yang memiliki 80 sel atau lebih bisa mencapai lebih dari USD 6,000-15,000 (sekitar 96-240 juta rupiah).

Harga yang sangat tinggi ini disebabkan oleh teknologi yang digunakan masih kompleks dan produksinya terbatas. Hal ini membuat Braille Display menjadi barang mewah yang tidak terjangkau oleh sebagian besar tunanetra tuli, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Selain harganya yang mahal, perangkat ini juga sangat sulit didapat di Indonesia. Hampir semua Braille Display harus diimpor dari luar negeri, dan tidak ada distributor resmi yang menyediakan layanan purna jual atau pelatihan penggunaan. Bahkan saya sendiri, sebagai penulis yang merupakan tunanetra tuli, tidak memiliki Braille Display.

Saya masih memiliki sedikit sisa pendengaran, sehingga bisa mendengarkan screen reader menggunakan headphone dengan volume maksimal. Namun, saya sadar bahwa suatu hari nanti, ketika pendengaran saya menurun lebih jauh, akses saya terhadap informasi akan sangat terbatas tanpa Braille Display.

Pentingnya Braille bagi Kehidupan Tunanetra Tuli

Braille bukan sekadar alat bantu baca tulis. Bagi tunanetra tuli, Braille adalah akses ke pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Tanpa Braille, seorang tunanetra tuli tidak bisa belajar secara mandiri, tidak bisa bekerja di bidang yang membutuhkan akses informasi, dan akan sangat terisolasi dari masyarakat.

Sebagai contoh, dalam dunia pendidikan, seorang siswa tunanetra tuli membutuhkan buku teks dalam Braille, catatan kuliah dalam Braille, dan akses ke materi digital melalui Braille Display. Tanpa ini, mereka tidak akan bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Di dunia kerja, akses ke komputer dan internet melalui Braille Display memungkinkan tunanetra tuli untuk bekerja sebagai programmer, penulis, analis data, atau profesi lain yang membutuhkan literasi digital.

Menurut Sense International (2024), diperkirakan ada sekitar 0,2 persen dari populasi dunia yang mengalami deafblindness berat (sekitar 16 juta orang), dan sekitar 2 persen yang mengalami deafblindness ringan hingga sedang (sekitar 160 juta orang). Secara keseluruhan, sekitar 176 juta orang di seluruh dunia mengalami kombinasi gangguan penglihatan dan pendengaran dalam berbagai tingkatan. Di Indonesia, data resmi tentang jumlah penyandang disabilitas tunanetra tuli masih sangat minim, yang menunjukkan betapa tidak terlihatnya kelompok ini dalam kebijakan publik.

Literasi Braille secara signifikan meningkatkan tingkat kemandirian dan kualitas hidup penyandang tunanetra tuli. Mereka yang menguasai Braille memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan pendidikan tinggi dan pekerjaan yang layak.

Harapan untuk Masa Depan Braille dan Tunanetra Tuli

Hari Braille Sedunia bukan hanya momen untuk merayakan penemuan luar biasa ini, tetapi juga untuk mengingatkan kita semua tentang pentingnya aksesibilitas bagi semua orang, termasuk tunanetra tuli. Braille harus terus menjadi tulang punggung literasi bagi tunanetra dan tunanetra tuli di seluruh dunia. Meskipun teknologi digital terus berkembang, Braille tidak boleh ditinggalkan.

Saya berharap, ke depannya, akan ada lebih banyak upaya untuk membuat Braille Display lebih terjangkau dan mudah didapat di Indonesia. Pemerintah, lembaga pendidikan, dan organisasi disabilitas perlu bekerja sama untuk menyediakan akses yang lebih baik bagi tunanetra tuli. Subsidi atau program bantuan untuk pembelian Braille Display bisa menjadi salah satu solusi. Beberapa negara telah menerapkan program subsidi untuk Braille Display bagi penyandang disabilitas tunanetra tuli.

Selain itu, standardisasi bahasa isyarat sentuh juga harus menjadi prioritas. Pemerintah Indonesia perlu segera membentuk lembaga atau tim khusus yang mengembangkan dan melatih bahasa isyarat sentuh dengan standar nasional. Tunanetra tuli tidak boleh terus menerus terisolasi karena belum adanya sistem komunikasi yang jelas dan diakui secara nasional.

Sebagai penyandang disabilitas tunanetra tuli, saya dan teman-teman lainnya ingin terus melestarikan dan memperkenalkan Braille kepada masyarakat luas. Braille bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga masa depan kami. Kami ingin dunia tahu bahwa kami ada, bahwa kami memiliki hak yang sama untuk belajar, bekerja, dan berkontribusi kepada masyarakat.

Saya membayangkan, jika suatu hari nanti pendengaran saya benar-benar hilang, tanpa Braille Display, saya akan kehilangan akses ke dunia digital yang selama ini menjadi jendela saya ke dunia. Tanpa Braille Display, saya tidak akan bisa menulis artikel seperti ini, tidak bisa bekerja, dan tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain secara efektif.

Oleh karena itu, di Hari Braille Sedunia ini, saya ingin mengajak semua pihak untuk lebih peduli terhadap keberadaan kami, tunanetra tuli. Kami butuh dukungan, kami butuh aksesibilitas, dan kami butuh pengakuan bahwa Braille adalah nyawa kami. Tanpa Braille, kami tidak bisa hidup dengan bermartabat di dunia yang semakin digital ini.

Mari kita jaga Braille, mari kita dukung tunanetra tuli, dan mari kita ciptakan dunia yang lebih inklusif untuk semua.

Selamat Hari Braille Sedunia, 4 Januari 2026.[T]

Referensi:

Britannica. (2024). Braille: History, Inventor, Description, & Facts.

Library of Congress. National Library Service for the Blind and Print Disabled. Louis Braille (1809-1852).

Perkins School for the Blind. (2024). World Braille Usage.

Sense International. (2024). Understanding Deafblindness: Global Prevalence Statistics.

Time and Date. World Braille Day.

United Nations. World Braille Day – 4 January.

Penulis: I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
Editor: Jaswanto

Tags: BrailledisabilitasHari Braille SeduniaLouis Brailletunanetra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

In Memoriam: I Nyoman Mongol, Jejak Sunyi Seniman Arja dari Ole, Marga, Tabanan

Next Post

Selamat Datang di Dunia Sepak Bola Indonesia John Herdman

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa

I Made Prasetya Wiguna Mahayasa, S.Pd., M.M, biasa dipanggil Wiguna. Ia adalah pengusaha tunanetra tuli (deafblind) asal Denpasar, Bali. Selain sebagai pengusaha, ia juga aktif memperjuangkan isu-isu tentang wirausaha disabilitas dan isu terkait tunanetra tuli di Indonesia.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Selamat Datang di Dunia Sepak Bola Indonesia John Herdman

Selamat Datang di Dunia Sepak Bola Indonesia John Herdman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co