24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Titip-Menitip Sampah

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 5, 2026
in Esai
Titip-Menitip Sampah

Ilustrasi tatkala.co│Dibuat dengan Canva

SEBUAH tempat pembuangan ditutup. Keputusan itu tentu tidak disambut tepuk tangan, apalagi optimisme. Yang muncul justru kegelisahan, keberatan, dan penyesalan yang terasa datang terlambat. Banyak yang menyadari bahwa penutupan ini bukanlah akhir dari persoalan, melainkan awal dari ketidakpastian baru. Sebab sampah tidak ikut berhenti ketika sebuah lokasi ditutup. Ia tetap lahir setiap hari, dari kebiasaan yang tak pernah benar-benar berubah.

Penutupan itu terasa mendadak bagi sebagian orang, dan terasa setengah matang bagi yang lain. Bukan karena gagasan menutupnya keliru, melainkan karena tidak disertai kesiapan yang sepadan. Sistem belum kokoh, perubahan perilaku belum terbentuk, dan alternatif belum benar-benar siap. Dalam kondisi seperti itu, sampah menjadi sesuatu yang harus segera disingkirkan, bukan dikelola dengan tenang dan berjangka panjang. Maka, muncullah praktik yang terdengar sopan, bahkan nyaris santun, yakni menitipkan sampah.

‘Menitipkan’ adalah kata yang akrab dalam kehidupan sosial. Ia mengandung kepercayaan, kesementaraan, dan asumsi bahwa yang dititipkan akan dijaga dengan baik. Namun ketika yang dititipkan adalah sampah, makna itu berubah arah. Sampah bukan barang yang bisa kembali dalam kondisi semula. Ia adalah residu dari konsumsi, yang dampaknya justru membesar ketika berpindah tempat.

Bahkan, wilayah yang menjadi tujuan titipan bukanlah pusat aktivitas paling padat. Ia lebih tenang, lebih hijau, dan selama ini relatif jauh dari bayang-bayang krisis limbah. Justru karena itulah ia dipilih. Ada ruang yang tersedia, ada alam yang masih longgar, dan ada jarak dari pusat perhatian. Dalam logika darurat, semua itu dianggap cukup untuk menampung masalah.

Namun keputusan menitipkan sampah tidak hadir tanpa pertanyaan. Banyak suara mempertanyakan keadilan di baliknya. Mengapa wilayah yang tidak menghasilkan sampah terbesar justru diminta menanggung akibatnya? Mengapa solusi yang diambil selalu berbentuk pemindahan, bukan pengurangan atau pengelolaan yang tepat? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak lahir dari penolakan semata, melainkan dari kesadaran bahwa krisis lingkungan tidak bisa diselesaikan dengan memindahkan jejaknya.

Selama ini, pengelolaan sampah berbasis sumber kerap digaungkan. Sampah seharusnya diselesaikan sedekat mungkin dengan tempat ia dihasilkan. Ia dipilah, dikurangi, dan diolah sejak awal, bukan dikirim jauh untuk ditumpuk di tempat lain. Namun ketika sampah justru diangkut keluar dari wilayah asalnya dan dititipkan ke daerah lain, muncul ironi yang sulit diabaikan. Jika sumbernya tetap sama, dan yang berubah hanya alamat pembuangan, masih pantaskah itu disebut pengelolaan berbasis sumber?

Titip-menitip sampah juga memperlihatkan relasi yang timpang. Ada wilayah yang tumbuh pesat, menjadi pusat pariwisata dan aktivitas ekonomi, sementara wilayah lain diminta berbagi beban atas nama kebersamaan. Kerja sama semacam ini sering dipuji sebagai sikap bijak, tetapi jarang diuji keadilannya. Padahal kebersamaan yang sehat seharusnya dibangun di atas tanggung jawab yang setara, bukan sekadar kesediaan untuk menerima.

Dampak jangka panjang dari titipan ini kerap dikesampingkan. Sampah membawa risiko pencemaran air dan tanah, mengubah kualitas udara, serta menekan ekosistem yang lebih rapuh. Ia juga membawa dampak sosial, mulai dari rasa tidak nyaman, kecemasan, dan potensi konflik yang tumbuh perlahan. Semua itu tidak menghilang hanya karena sampah diberi label ‘sementara’ atau ‘darurat’.

Lebih jauh, praktik ini menyingkap kegagalan kolektif dalam membenahi kebiasaan. Pola lama terus diulang: kumpulkan, angkut, buang. Ketika satu titik buang bermasalah, titik lain dicari. Narasi perubahan terus disuarakan, tetapi tindakan nyata sering tertinggal. Mengurangi produksi sampah, membatasi konsumsi, dan mendisiplinkan pemilahan masih dianggap pekerjaan yang terlalu rumit untuk dilakukan secara konsisten.

Penutupan sebuah tempat pembuangan seharusnya menjadi momentum refleksi. Bukan sekadar tentang ke mana sampah akan dibawa, tetapi bagaimana kebiasaan kita telah membawa ke titik ini. Namun refleksi membutuhkan waktu dan keberanian, sementara sampah menuntut keputusan cepat. Di tengah tekanan itulah, menitipkan menjadi pilihan yang dianggap paling aman.

Sayangnya, pilihan yang terasa aman hari ini bisa menjadi masalah di kemudian hari. Menitip sampah berarti memindahkan rasa tidak nyaman ke ruang lain. Wilayah asal merasa lega, sementara wilayah penerima mulai memikul beban yang tidak sepenuhnya ia ciptakan. Alam, sekali lagi, menjadi pihak yang diasumsikan selalu mampu menampung lebih.

Titip menitip sampah juga mencerminkan cara kita memandang ruang. Ada ruang yang harus dijaga bersih demi citra dan kenyamanan, dan ada ruang yang dianggap cukup jauh untuk menerima sisa-sisa. Padahal lingkungan tidak mengenal batas semacam itu. Kerusakan tidak pernah benar-benar tinggal di satu tempat.

Selama sampah masih diperlakukan sebagai sesuatu yang bisa dipindahkan, bukan dikurangi, krisis hanya akan berganti alamat. Dan selama tanggung jawab masih bisa dititipkan bersama sampah, persoalan itu tidak akan pernah selesai. Pengelolaan berbasis sumber seharusnya berangkat dari keberanian menghadapi apa yang kita hasilkan sendiri, bukan dari upaya menjauhkannya dari pandangan.[T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: SampahTPA
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dialektika Teks Lontar Swamandala dan Sundarigama Dalam Polemik Penentuan Tawur Agung Nyepi di Bali

Next Post

Venezuela dan Kedaulatannya: Hukum Internasional di Persimpangan Jalan?

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Donald Trump Soal Pendidikan Tinggi: Keamanan atau Target Kebencian?

Venezuela dan Kedaulatannya: Hukum Internasional di Persimpangan Jalan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co