12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Titip-Menitip Sampah

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 5, 2026
in Esai
Titip-Menitip Sampah

Ilustrasi tatkala.co│Dibuat dengan Canva

SEBUAH tempat pembuangan ditutup. Keputusan itu tentu tidak disambut tepuk tangan, apalagi optimisme. Yang muncul justru kegelisahan, keberatan, dan penyesalan yang terasa datang terlambat. Banyak yang menyadari bahwa penutupan ini bukanlah akhir dari persoalan, melainkan awal dari ketidakpastian baru. Sebab sampah tidak ikut berhenti ketika sebuah lokasi ditutup. Ia tetap lahir setiap hari, dari kebiasaan yang tak pernah benar-benar berubah.

Penutupan itu terasa mendadak bagi sebagian orang, dan terasa setengah matang bagi yang lain. Bukan karena gagasan menutupnya keliru, melainkan karena tidak disertai kesiapan yang sepadan. Sistem belum kokoh, perubahan perilaku belum terbentuk, dan alternatif belum benar-benar siap. Dalam kondisi seperti itu, sampah menjadi sesuatu yang harus segera disingkirkan, bukan dikelola dengan tenang dan berjangka panjang. Maka, muncullah praktik yang terdengar sopan, bahkan nyaris santun, yakni menitipkan sampah.

‘Menitipkan’ adalah kata yang akrab dalam kehidupan sosial. Ia mengandung kepercayaan, kesementaraan, dan asumsi bahwa yang dititipkan akan dijaga dengan baik. Namun ketika yang dititipkan adalah sampah, makna itu berubah arah. Sampah bukan barang yang bisa kembali dalam kondisi semula. Ia adalah residu dari konsumsi, yang dampaknya justru membesar ketika berpindah tempat.

Bahkan, wilayah yang menjadi tujuan titipan bukanlah pusat aktivitas paling padat. Ia lebih tenang, lebih hijau, dan selama ini relatif jauh dari bayang-bayang krisis limbah. Justru karena itulah ia dipilih. Ada ruang yang tersedia, ada alam yang masih longgar, dan ada jarak dari pusat perhatian. Dalam logika darurat, semua itu dianggap cukup untuk menampung masalah.

Namun keputusan menitipkan sampah tidak hadir tanpa pertanyaan. Banyak suara mempertanyakan keadilan di baliknya. Mengapa wilayah yang tidak menghasilkan sampah terbesar justru diminta menanggung akibatnya? Mengapa solusi yang diambil selalu berbentuk pemindahan, bukan pengurangan atau pengelolaan yang tepat? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak lahir dari penolakan semata, melainkan dari kesadaran bahwa krisis lingkungan tidak bisa diselesaikan dengan memindahkan jejaknya.

Selama ini, pengelolaan sampah berbasis sumber kerap digaungkan. Sampah seharusnya diselesaikan sedekat mungkin dengan tempat ia dihasilkan. Ia dipilah, dikurangi, dan diolah sejak awal, bukan dikirim jauh untuk ditumpuk di tempat lain. Namun ketika sampah justru diangkut keluar dari wilayah asalnya dan dititipkan ke daerah lain, muncul ironi yang sulit diabaikan. Jika sumbernya tetap sama, dan yang berubah hanya alamat pembuangan, masih pantaskah itu disebut pengelolaan berbasis sumber?

Titip-menitip sampah juga memperlihatkan relasi yang timpang. Ada wilayah yang tumbuh pesat, menjadi pusat pariwisata dan aktivitas ekonomi, sementara wilayah lain diminta berbagi beban atas nama kebersamaan. Kerja sama semacam ini sering dipuji sebagai sikap bijak, tetapi jarang diuji keadilannya. Padahal kebersamaan yang sehat seharusnya dibangun di atas tanggung jawab yang setara, bukan sekadar kesediaan untuk menerima.

Dampak jangka panjang dari titipan ini kerap dikesampingkan. Sampah membawa risiko pencemaran air dan tanah, mengubah kualitas udara, serta menekan ekosistem yang lebih rapuh. Ia juga membawa dampak sosial, mulai dari rasa tidak nyaman, kecemasan, dan potensi konflik yang tumbuh perlahan. Semua itu tidak menghilang hanya karena sampah diberi label ‘sementara’ atau ‘darurat’.

Lebih jauh, praktik ini menyingkap kegagalan kolektif dalam membenahi kebiasaan. Pola lama terus diulang: kumpulkan, angkut, buang. Ketika satu titik buang bermasalah, titik lain dicari. Narasi perubahan terus disuarakan, tetapi tindakan nyata sering tertinggal. Mengurangi produksi sampah, membatasi konsumsi, dan mendisiplinkan pemilahan masih dianggap pekerjaan yang terlalu rumit untuk dilakukan secara konsisten.

Penutupan sebuah tempat pembuangan seharusnya menjadi momentum refleksi. Bukan sekadar tentang ke mana sampah akan dibawa, tetapi bagaimana kebiasaan kita telah membawa ke titik ini. Namun refleksi membutuhkan waktu dan keberanian, sementara sampah menuntut keputusan cepat. Di tengah tekanan itulah, menitipkan menjadi pilihan yang dianggap paling aman.

Sayangnya, pilihan yang terasa aman hari ini bisa menjadi masalah di kemudian hari. Menitip sampah berarti memindahkan rasa tidak nyaman ke ruang lain. Wilayah asal merasa lega, sementara wilayah penerima mulai memikul beban yang tidak sepenuhnya ia ciptakan. Alam, sekali lagi, menjadi pihak yang diasumsikan selalu mampu menampung lebih.

Titip menitip sampah juga mencerminkan cara kita memandang ruang. Ada ruang yang harus dijaga bersih demi citra dan kenyamanan, dan ada ruang yang dianggap cukup jauh untuk menerima sisa-sisa. Padahal lingkungan tidak mengenal batas semacam itu. Kerusakan tidak pernah benar-benar tinggal di satu tempat.

Selama sampah masih diperlakukan sebagai sesuatu yang bisa dipindahkan, bukan dikurangi, krisis hanya akan berganti alamat. Dan selama tanggung jawab masih bisa dititipkan bersama sampah, persoalan itu tidak akan pernah selesai. Pengelolaan berbasis sumber seharusnya berangkat dari keberanian menghadapi apa yang kita hasilkan sendiri, bukan dari upaya menjauhkannya dari pandangan.[T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: SampahTPA
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dialektika Teks Lontar Swamandala dan Sundarigama Dalam Polemik Penentuan Tawur Agung Nyepi di Bali

Next Post

Venezuela dan Kedaulatannya: Hukum Internasional di Persimpangan Jalan?

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Donald Trump Soal Pendidikan Tinggi: Keamanan atau Target Kebencian?

Venezuela dan Kedaulatannya: Hukum Internasional di Persimpangan Jalan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co