23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Titip-Menitip Sampah

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 5, 2026
in Esai
Titip-Menitip Sampah

Ilustrasi tatkala.co│Dibuat dengan Canva

SEBUAH tempat pembuangan ditutup. Keputusan itu tentu tidak disambut tepuk tangan, apalagi optimisme. Yang muncul justru kegelisahan, keberatan, dan penyesalan yang terasa datang terlambat. Banyak yang menyadari bahwa penutupan ini bukanlah akhir dari persoalan, melainkan awal dari ketidakpastian baru. Sebab sampah tidak ikut berhenti ketika sebuah lokasi ditutup. Ia tetap lahir setiap hari, dari kebiasaan yang tak pernah benar-benar berubah.

Penutupan itu terasa mendadak bagi sebagian orang, dan terasa setengah matang bagi yang lain. Bukan karena gagasan menutupnya keliru, melainkan karena tidak disertai kesiapan yang sepadan. Sistem belum kokoh, perubahan perilaku belum terbentuk, dan alternatif belum benar-benar siap. Dalam kondisi seperti itu, sampah menjadi sesuatu yang harus segera disingkirkan, bukan dikelola dengan tenang dan berjangka panjang. Maka, muncullah praktik yang terdengar sopan, bahkan nyaris santun, yakni menitipkan sampah.

‘Menitipkan’ adalah kata yang akrab dalam kehidupan sosial. Ia mengandung kepercayaan, kesementaraan, dan asumsi bahwa yang dititipkan akan dijaga dengan baik. Namun ketika yang dititipkan adalah sampah, makna itu berubah arah. Sampah bukan barang yang bisa kembali dalam kondisi semula. Ia adalah residu dari konsumsi, yang dampaknya justru membesar ketika berpindah tempat.

Bahkan, wilayah yang menjadi tujuan titipan bukanlah pusat aktivitas paling padat. Ia lebih tenang, lebih hijau, dan selama ini relatif jauh dari bayang-bayang krisis limbah. Justru karena itulah ia dipilih. Ada ruang yang tersedia, ada alam yang masih longgar, dan ada jarak dari pusat perhatian. Dalam logika darurat, semua itu dianggap cukup untuk menampung masalah.

Namun keputusan menitipkan sampah tidak hadir tanpa pertanyaan. Banyak suara mempertanyakan keadilan di baliknya. Mengapa wilayah yang tidak menghasilkan sampah terbesar justru diminta menanggung akibatnya? Mengapa solusi yang diambil selalu berbentuk pemindahan, bukan pengurangan atau pengelolaan yang tepat? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak lahir dari penolakan semata, melainkan dari kesadaran bahwa krisis lingkungan tidak bisa diselesaikan dengan memindahkan jejaknya.

Selama ini, pengelolaan sampah berbasis sumber kerap digaungkan. Sampah seharusnya diselesaikan sedekat mungkin dengan tempat ia dihasilkan. Ia dipilah, dikurangi, dan diolah sejak awal, bukan dikirim jauh untuk ditumpuk di tempat lain. Namun ketika sampah justru diangkut keluar dari wilayah asalnya dan dititipkan ke daerah lain, muncul ironi yang sulit diabaikan. Jika sumbernya tetap sama, dan yang berubah hanya alamat pembuangan, masih pantaskah itu disebut pengelolaan berbasis sumber?

Titip-menitip sampah juga memperlihatkan relasi yang timpang. Ada wilayah yang tumbuh pesat, menjadi pusat pariwisata dan aktivitas ekonomi, sementara wilayah lain diminta berbagi beban atas nama kebersamaan. Kerja sama semacam ini sering dipuji sebagai sikap bijak, tetapi jarang diuji keadilannya. Padahal kebersamaan yang sehat seharusnya dibangun di atas tanggung jawab yang setara, bukan sekadar kesediaan untuk menerima.

Dampak jangka panjang dari titipan ini kerap dikesampingkan. Sampah membawa risiko pencemaran air dan tanah, mengubah kualitas udara, serta menekan ekosistem yang lebih rapuh. Ia juga membawa dampak sosial, mulai dari rasa tidak nyaman, kecemasan, dan potensi konflik yang tumbuh perlahan. Semua itu tidak menghilang hanya karena sampah diberi label ‘sementara’ atau ‘darurat’.

Lebih jauh, praktik ini menyingkap kegagalan kolektif dalam membenahi kebiasaan. Pola lama terus diulang: kumpulkan, angkut, buang. Ketika satu titik buang bermasalah, titik lain dicari. Narasi perubahan terus disuarakan, tetapi tindakan nyata sering tertinggal. Mengurangi produksi sampah, membatasi konsumsi, dan mendisiplinkan pemilahan masih dianggap pekerjaan yang terlalu rumit untuk dilakukan secara konsisten.

Penutupan sebuah tempat pembuangan seharusnya menjadi momentum refleksi. Bukan sekadar tentang ke mana sampah akan dibawa, tetapi bagaimana kebiasaan kita telah membawa ke titik ini. Namun refleksi membutuhkan waktu dan keberanian, sementara sampah menuntut keputusan cepat. Di tengah tekanan itulah, menitipkan menjadi pilihan yang dianggap paling aman.

Sayangnya, pilihan yang terasa aman hari ini bisa menjadi masalah di kemudian hari. Menitip sampah berarti memindahkan rasa tidak nyaman ke ruang lain. Wilayah asal merasa lega, sementara wilayah penerima mulai memikul beban yang tidak sepenuhnya ia ciptakan. Alam, sekali lagi, menjadi pihak yang diasumsikan selalu mampu menampung lebih.

Titip menitip sampah juga mencerminkan cara kita memandang ruang. Ada ruang yang harus dijaga bersih demi citra dan kenyamanan, dan ada ruang yang dianggap cukup jauh untuk menerima sisa-sisa. Padahal lingkungan tidak mengenal batas semacam itu. Kerusakan tidak pernah benar-benar tinggal di satu tempat.

Selama sampah masih diperlakukan sebagai sesuatu yang bisa dipindahkan, bukan dikurangi, krisis hanya akan berganti alamat. Dan selama tanggung jawab masih bisa dititipkan bersama sampah, persoalan itu tidak akan pernah selesai. Pengelolaan berbasis sumber seharusnya berangkat dari keberanian menghadapi apa yang kita hasilkan sendiri, bukan dari upaya menjauhkannya dari pandangan.[T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Jaswanto

Tags: SampahTPA
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dialektika Teks Lontar Swamandala dan Sundarigama Dalam Polemik Penentuan Tawur Agung Nyepi di Bali

Next Post

Venezuela dan Kedaulatannya: Hukum Internasional di Persimpangan Jalan?

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Donald Trump Soal Pendidikan Tinggi: Keamanan atau Target Kebencian?

Venezuela dan Kedaulatannya: Hukum Internasional di Persimpangan Jalan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co