1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dialektika Teks Lontar Swamandala dan Sundarigama Dalam Polemik Penentuan Tawur Agung Nyepi di Bali

I Putu Aryawan by I Putu Aryawan
January 5, 2026
in Esai
Dialektika Teks Lontar Swamandala dan Sundarigama Dalam Polemik Penentuan Tawur Agung Nyepi di Bali

Ilustrasi dibuat tatkala.co dengan Chatgpt

NYEPI sebagai hari suci umat Hindu di Bali tidak hanya merupakan praktik ritual tahunan, tetapi juga arena dialektika teks, otoritas, dan penafsiran. Polemik penentuan Tawur Agung, khususnya terkait waktu, skala, dan legitimasi ritualnya, memperlihatkan ketegangan antara dua lontar yang sering dijadikan rujukan, yaitu Lontar Swamandala dan Lontar Sundarigama. Perdebatan ini bukan sekadar perbedaan teknis ritual, tetapi mencerminkan dinamika epistemologis dalam tradisi Hindu Bali, yakni bagaimana teks, konteks, dan otoritas saling bernegosiasi.

Lontar Swamandala secara umum dipahami sebagai teks kosmologis-ritual yang menekankan keteraturan mandala alam semesta. Ia berbicara tentang relasi bhuwana alit dan bhuwana agung, arah mata angin, zona sakral, serta distribusi kekuatan niskala dalam ruang dan waktu tertentu. Dalam konteks Tawur Agung, Swamandala sering ditafsirkan sebagai dasar kosmologis yang menuntut pelaksanaan ritual secara menyeluruh, terstruktur, dan berskala besar, karena Tawur diposisikan sebagai upaya harmonisasi total antara manusia, alam, dan kekuatan kosmis.

Sebaliknya, Lontar Sundarigama menampilkan karakter yang berbeda. Ia sering dikategorikan sebagai lontar “baru” dalam kajian filologis Bali, baik dari segi bahasa, sistematika, maupun konteks sosial-historis kemunculannya. Sundarigama lebih normatif, preskriptif, dan cenderung menekankan tata cara ritual yang operasional.

Dalam konteks Nyepi, Sundarigama memberikan penekanan pada esensi brata, kesucian batin, dan keteraturan ritual yang disesuaikan dengan desa, kala, dan patra. Tawur Agung dalam perspektif ini tidak selalu dimaknai sebagai keharusan universal dengan skala tertentu, tetapi sebagai ritual yang harus kontekstual dan proporsional.

Dialektika antara Swamandala dan Sundarigama muncul ketika keduanya dijadikan dasar legitimasi oleh otoritas keagamaan yang berbeda. Swamandala sering diusung untuk membenarkan pelaksanaan Tawur Agung berskala besar, bahkan terpusat, dengan argumentasi kosmologis bahwa gangguan Bhuta Kala bersifat universal dan menuntut penyeimbangan universal pula. Logika ini melihat Nyepi sebagai momen kosmik yang melampaui batas desa adat, sehingga Tawur Agung dianggap sah bahkan perlu dilakukan secara kolektif lintas wilayah.

Sundarigama, sebaliknya, sering digunakan untuk mengkritisi praktik tersebut. Dengan menekankan prinsip desa kala patra, Sundarigama membuka ruang bagi interpretasi bahwa Tawur Agung tidak harus seragam atau terpusat. Penekanan pada brata Nyepi sebagai praktik pengendalian diri justru menempatkan ritual lahiriah sebagai sarana, bukan tujuan. Dari sudut pandang ini, ritual besar berisiko bergeser menjadi simbol kekuasaan, pertunjukan identitas, atau bahkan komodifikasi spiritualitas.

Secara epistemologis, polemik ini menunjukkan perbedaan cara membaca teks. Swamandala sering dibaca secara kosmologis-metafisik, dengan asumsi bahwa struktur alam semesta bersifat tetap dan harus direplikasi secara ritual. Sundarigama lebih sering dibaca secara normatif-pragmatis, dengan asumsi bahwa teks ritual berfungsi mengatur praktik sosial-keagamaan dalam konteks historis tertentu. Ketika dua cara baca ini bertemu dalam ruang sosial yang sama, konflik penafsiran menjadi tidak terhindarkan.

Dari perspektif filologi kritis, penting dicatat bahwa Swamandala dan Sundarigama lahir dari konteks sejarah yang berbeda. Swamandala merepresentasikan lapisan pemikiran Hindu-Buddha klasik Bali yang kuat dipengaruhi kosmologi India dan Jawa Kuna. Sundarigama muncul dalam konteks Bali yang telah mengalami transformasi sosial-politik, terutama pasca runtuhnya Majapahit dan dalam fase konsolidasi desa adat. Perbedaan konteks ini memengaruhi orientasi teks, dari yang kosmik-abstrak menuju normatif-operasional.

Polemik Tawur Agung Nyepi menjadi problematik ketika kedua teks diperlakukan secara ahistoris dan absolut. Swamandala diposisikan seolah-olah memberikan perintah literal untuk praktik ritual kontemporer, sementara Sundarigama dijadikan hukum normatif yang menutup kemungkinan tafsir kosmologis. Pendekatan seperti ini mengabaikan kenyataan bahwa lontar adalah produk dialog antara wahyu, tradisi, dan realitas sosial zamannya.

Dalam kerangka hermeneutika kritis, dialektika Swamandala dan Sundarigama seharusnya dipahami sebagai relasi saling melengkapi, bukan saling meniadakan. Swamandala menyediakan horizon kosmologis yang memberi makna metafisik pada Tawur Agung. Sundarigama menyediakan kerangka etis dan praktis agar ritual tidak kehilangan orientasi pembebasan batin. Ketika salah satu dimutlakkan, Nyepi berisiko tereduksi, entah menjadi ritualisme kosong atau spiritualisme abstrak yang tercerabut dari realitas sosial.

Implikasi sosial dari polemik ini juga signifikan. Tawur Agung berskala besar membutuhkan sumber daya ekonomi, tenaga, dan logistik yang tidak kecil. Ketika legitimasi ritual bersandar pada tafsir kosmologis Swamandala tanpa koreksi normatif Sundarigama, ritual dapat menciptakan beban sosial dan ketimpangan partisipasi. Sebaliknya, jika Sundarigama dibaca secara sempit sebagai justifikasi minimalisme ritual, dimensi kosmik dan simbolik Nyepi berisiko tereduksi menjadi formalitas administratif.

Dengan demikian, dialektika Swamandala dan Sundarigama mencerminkan dinamika internal tradisi Hindu Bali dalam merespons perubahan zaman. Polemik Tawur Agung Nyepi bukan tanda kemunduran tradisi, tetapi indikator bahwa teks-teks lontar masih hidup dan diperdebatkan. Tantangan akademik dan praksis ke depan adalah mengembangkan pembacaan kritis yang kontekstual, historis, dan reflektif, sehingga Nyepi tetap menjadi ruang harmonisasi kosmik sekaligus transformasi etis manusia Bali.

Pendekatan ini menuntut keberanian untuk keluar dari dikotomi benar-salah yang simplistik, dan masuk ke wilayah dialog interpretatif. Di sanalah Swamandala dan Sundarigama tidak lagi dipertentangkan, tetapi dipertemukan sebagai dua suara dalam satu tradisi yang terus berproses….. Rahayu.[T]

Penulis: I Putu Aryawan
Editor: Jaswanto

Tags: balihinduLontar SundarigamaLontar SwamandalaTawur Agung Nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi Lokal, Jiwa Nasional: Suara Penyair dari Timur

Next Post

Titip-Menitip Sampah

I Putu Aryawan

I Putu Aryawan

Pengamat atau akademisi, aktif sebagai dosen di fakultas filsafat dan ilmu agama UNHI Denpasar

Related Posts

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026
0
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

Read moreDetails

Topeng yang Dianggap Wajah: Mencari Keaslian Diri di Zaman Citra

by Tri Nugroho Adi
September 25, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah masih ada manusia yang sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri? PERTANYAAN ini terdengar sederhana, tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Titip-Menitip Sampah

Titip-Menitip Sampah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co