22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dialektika Teks Lontar Swamandala dan Sundarigama Dalam Polemik Penentuan Tawur Agung Nyepi di Bali

I Putu Aryawan by I Putu Aryawan
January 5, 2026
in Esai
Dialektika Teks Lontar Swamandala dan Sundarigama Dalam Polemik Penentuan Tawur Agung Nyepi di Bali

Ilustrasi dibuat tatkala.co dengan Chatgpt

NYEPI sebagai hari suci umat Hindu di Bali tidak hanya merupakan praktik ritual tahunan, tetapi juga arena dialektika teks, otoritas, dan penafsiran. Polemik penentuan Tawur Agung, khususnya terkait waktu, skala, dan legitimasi ritualnya, memperlihatkan ketegangan antara dua lontar yang sering dijadikan rujukan, yaitu Lontar Swamandala dan Lontar Sundarigama. Perdebatan ini bukan sekadar perbedaan teknis ritual, tetapi mencerminkan dinamika epistemologis dalam tradisi Hindu Bali, yakni bagaimana teks, konteks, dan otoritas saling bernegosiasi.

Lontar Swamandala secara umum dipahami sebagai teks kosmologis-ritual yang menekankan keteraturan mandala alam semesta. Ia berbicara tentang relasi bhuwana alit dan bhuwana agung, arah mata angin, zona sakral, serta distribusi kekuatan niskala dalam ruang dan waktu tertentu. Dalam konteks Tawur Agung, Swamandala sering ditafsirkan sebagai dasar kosmologis yang menuntut pelaksanaan ritual secara menyeluruh, terstruktur, dan berskala besar, karena Tawur diposisikan sebagai upaya harmonisasi total antara manusia, alam, dan kekuatan kosmis.

Sebaliknya, Lontar Sundarigama menampilkan karakter yang berbeda. Ia sering dikategorikan sebagai lontar “baru” dalam kajian filologis Bali, baik dari segi bahasa, sistematika, maupun konteks sosial-historis kemunculannya. Sundarigama lebih normatif, preskriptif, dan cenderung menekankan tata cara ritual yang operasional.

Dalam konteks Nyepi, Sundarigama memberikan penekanan pada esensi brata, kesucian batin, dan keteraturan ritual yang disesuaikan dengan desa, kala, dan patra. Tawur Agung dalam perspektif ini tidak selalu dimaknai sebagai keharusan universal dengan skala tertentu, tetapi sebagai ritual yang harus kontekstual dan proporsional.

Dialektika antara Swamandala dan Sundarigama muncul ketika keduanya dijadikan dasar legitimasi oleh otoritas keagamaan yang berbeda. Swamandala sering diusung untuk membenarkan pelaksanaan Tawur Agung berskala besar, bahkan terpusat, dengan argumentasi kosmologis bahwa gangguan Bhuta Kala bersifat universal dan menuntut penyeimbangan universal pula. Logika ini melihat Nyepi sebagai momen kosmik yang melampaui batas desa adat, sehingga Tawur Agung dianggap sah bahkan perlu dilakukan secara kolektif lintas wilayah.

Sundarigama, sebaliknya, sering digunakan untuk mengkritisi praktik tersebut. Dengan menekankan prinsip desa kala patra, Sundarigama membuka ruang bagi interpretasi bahwa Tawur Agung tidak harus seragam atau terpusat. Penekanan pada brata Nyepi sebagai praktik pengendalian diri justru menempatkan ritual lahiriah sebagai sarana, bukan tujuan. Dari sudut pandang ini, ritual besar berisiko bergeser menjadi simbol kekuasaan, pertunjukan identitas, atau bahkan komodifikasi spiritualitas.

Secara epistemologis, polemik ini menunjukkan perbedaan cara membaca teks. Swamandala sering dibaca secara kosmologis-metafisik, dengan asumsi bahwa struktur alam semesta bersifat tetap dan harus direplikasi secara ritual. Sundarigama lebih sering dibaca secara normatif-pragmatis, dengan asumsi bahwa teks ritual berfungsi mengatur praktik sosial-keagamaan dalam konteks historis tertentu. Ketika dua cara baca ini bertemu dalam ruang sosial yang sama, konflik penafsiran menjadi tidak terhindarkan.

Dari perspektif filologi kritis, penting dicatat bahwa Swamandala dan Sundarigama lahir dari konteks sejarah yang berbeda. Swamandala merepresentasikan lapisan pemikiran Hindu-Buddha klasik Bali yang kuat dipengaruhi kosmologi India dan Jawa Kuna. Sundarigama muncul dalam konteks Bali yang telah mengalami transformasi sosial-politik, terutama pasca runtuhnya Majapahit dan dalam fase konsolidasi desa adat. Perbedaan konteks ini memengaruhi orientasi teks, dari yang kosmik-abstrak menuju normatif-operasional.

Polemik Tawur Agung Nyepi menjadi problematik ketika kedua teks diperlakukan secara ahistoris dan absolut. Swamandala diposisikan seolah-olah memberikan perintah literal untuk praktik ritual kontemporer, sementara Sundarigama dijadikan hukum normatif yang menutup kemungkinan tafsir kosmologis. Pendekatan seperti ini mengabaikan kenyataan bahwa lontar adalah produk dialog antara wahyu, tradisi, dan realitas sosial zamannya.

Dalam kerangka hermeneutika kritis, dialektika Swamandala dan Sundarigama seharusnya dipahami sebagai relasi saling melengkapi, bukan saling meniadakan. Swamandala menyediakan horizon kosmologis yang memberi makna metafisik pada Tawur Agung. Sundarigama menyediakan kerangka etis dan praktis agar ritual tidak kehilangan orientasi pembebasan batin. Ketika salah satu dimutlakkan, Nyepi berisiko tereduksi, entah menjadi ritualisme kosong atau spiritualisme abstrak yang tercerabut dari realitas sosial.

Implikasi sosial dari polemik ini juga signifikan. Tawur Agung berskala besar membutuhkan sumber daya ekonomi, tenaga, dan logistik yang tidak kecil. Ketika legitimasi ritual bersandar pada tafsir kosmologis Swamandala tanpa koreksi normatif Sundarigama, ritual dapat menciptakan beban sosial dan ketimpangan partisipasi. Sebaliknya, jika Sundarigama dibaca secara sempit sebagai justifikasi minimalisme ritual, dimensi kosmik dan simbolik Nyepi berisiko tereduksi menjadi formalitas administratif.

Dengan demikian, dialektika Swamandala dan Sundarigama mencerminkan dinamika internal tradisi Hindu Bali dalam merespons perubahan zaman. Polemik Tawur Agung Nyepi bukan tanda kemunduran tradisi, tetapi indikator bahwa teks-teks lontar masih hidup dan diperdebatkan. Tantangan akademik dan praksis ke depan adalah mengembangkan pembacaan kritis yang kontekstual, historis, dan reflektif, sehingga Nyepi tetap menjadi ruang harmonisasi kosmik sekaligus transformasi etis manusia Bali.

Pendekatan ini menuntut keberanian untuk keluar dari dikotomi benar-salah yang simplistik, dan masuk ke wilayah dialog interpretatif. Di sanalah Swamandala dan Sundarigama tidak lagi dipertentangkan, tetapi dipertemukan sebagai dua suara dalam satu tradisi yang terus berproses….. Rahayu.[T]

Penulis: I Putu Aryawan
Editor: Jaswanto

Tags: balihinduLontar SundarigamaLontar SwamandalaTawur Agung Nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi Lokal, Jiwa Nasional: Suara Penyair dari Timur

Next Post

Titip-Menitip Sampah

I Putu Aryawan

I Putu Aryawan

Pengamat atau akademisi, aktif sebagai dosen di fakultas filsafat dan ilmu agama UNHI Denpasar

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Titip-Menitip Sampah

Titip-Menitip Sampah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co