6 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dialektika Teks Lontar Swamandala dan Sundarigama Dalam Polemik Penentuan Tawur Agung Nyepi di Bali

I Putu Aryawan by I Putu Aryawan
January 5, 2026
in Esai
Dialektika Teks Lontar Swamandala dan Sundarigama Dalam Polemik Penentuan Tawur Agung Nyepi di Bali

Ilustrasi dibuat tatkala.co dengan Chatgpt

NYEPI sebagai hari suci umat Hindu di Bali tidak hanya merupakan praktik ritual tahunan, tetapi juga arena dialektika teks, otoritas, dan penafsiran. Polemik penentuan Tawur Agung, khususnya terkait waktu, skala, dan legitimasi ritualnya, memperlihatkan ketegangan antara dua lontar yang sering dijadikan rujukan, yaitu Lontar Swamandala dan Lontar Sundarigama. Perdebatan ini bukan sekadar perbedaan teknis ritual, tetapi mencerminkan dinamika epistemologis dalam tradisi Hindu Bali, yakni bagaimana teks, konteks, dan otoritas saling bernegosiasi.

Lontar Swamandala secara umum dipahami sebagai teks kosmologis-ritual yang menekankan keteraturan mandala alam semesta. Ia berbicara tentang relasi bhuwana alit dan bhuwana agung, arah mata angin, zona sakral, serta distribusi kekuatan niskala dalam ruang dan waktu tertentu. Dalam konteks Tawur Agung, Swamandala sering ditafsirkan sebagai dasar kosmologis yang menuntut pelaksanaan ritual secara menyeluruh, terstruktur, dan berskala besar, karena Tawur diposisikan sebagai upaya harmonisasi total antara manusia, alam, dan kekuatan kosmis.

Sebaliknya, Lontar Sundarigama menampilkan karakter yang berbeda. Ia sering dikategorikan sebagai lontar “baru” dalam kajian filologis Bali, baik dari segi bahasa, sistematika, maupun konteks sosial-historis kemunculannya. Sundarigama lebih normatif, preskriptif, dan cenderung menekankan tata cara ritual yang operasional.

Dalam konteks Nyepi, Sundarigama memberikan penekanan pada esensi brata, kesucian batin, dan keteraturan ritual yang disesuaikan dengan desa, kala, dan patra. Tawur Agung dalam perspektif ini tidak selalu dimaknai sebagai keharusan universal dengan skala tertentu, tetapi sebagai ritual yang harus kontekstual dan proporsional.

Dialektika antara Swamandala dan Sundarigama muncul ketika keduanya dijadikan dasar legitimasi oleh otoritas keagamaan yang berbeda. Swamandala sering diusung untuk membenarkan pelaksanaan Tawur Agung berskala besar, bahkan terpusat, dengan argumentasi kosmologis bahwa gangguan Bhuta Kala bersifat universal dan menuntut penyeimbangan universal pula. Logika ini melihat Nyepi sebagai momen kosmik yang melampaui batas desa adat, sehingga Tawur Agung dianggap sah bahkan perlu dilakukan secara kolektif lintas wilayah.

Sundarigama, sebaliknya, sering digunakan untuk mengkritisi praktik tersebut. Dengan menekankan prinsip desa kala patra, Sundarigama membuka ruang bagi interpretasi bahwa Tawur Agung tidak harus seragam atau terpusat. Penekanan pada brata Nyepi sebagai praktik pengendalian diri justru menempatkan ritual lahiriah sebagai sarana, bukan tujuan. Dari sudut pandang ini, ritual besar berisiko bergeser menjadi simbol kekuasaan, pertunjukan identitas, atau bahkan komodifikasi spiritualitas.

Secara epistemologis, polemik ini menunjukkan perbedaan cara membaca teks. Swamandala sering dibaca secara kosmologis-metafisik, dengan asumsi bahwa struktur alam semesta bersifat tetap dan harus direplikasi secara ritual. Sundarigama lebih sering dibaca secara normatif-pragmatis, dengan asumsi bahwa teks ritual berfungsi mengatur praktik sosial-keagamaan dalam konteks historis tertentu. Ketika dua cara baca ini bertemu dalam ruang sosial yang sama, konflik penafsiran menjadi tidak terhindarkan.

Dari perspektif filologi kritis, penting dicatat bahwa Swamandala dan Sundarigama lahir dari konteks sejarah yang berbeda. Swamandala merepresentasikan lapisan pemikiran Hindu-Buddha klasik Bali yang kuat dipengaruhi kosmologi India dan Jawa Kuna. Sundarigama muncul dalam konteks Bali yang telah mengalami transformasi sosial-politik, terutama pasca runtuhnya Majapahit dan dalam fase konsolidasi desa adat. Perbedaan konteks ini memengaruhi orientasi teks, dari yang kosmik-abstrak menuju normatif-operasional.

Polemik Tawur Agung Nyepi menjadi problematik ketika kedua teks diperlakukan secara ahistoris dan absolut. Swamandala diposisikan seolah-olah memberikan perintah literal untuk praktik ritual kontemporer, sementara Sundarigama dijadikan hukum normatif yang menutup kemungkinan tafsir kosmologis. Pendekatan seperti ini mengabaikan kenyataan bahwa lontar adalah produk dialog antara wahyu, tradisi, dan realitas sosial zamannya.

Dalam kerangka hermeneutika kritis, dialektika Swamandala dan Sundarigama seharusnya dipahami sebagai relasi saling melengkapi, bukan saling meniadakan. Swamandala menyediakan horizon kosmologis yang memberi makna metafisik pada Tawur Agung. Sundarigama menyediakan kerangka etis dan praktis agar ritual tidak kehilangan orientasi pembebasan batin. Ketika salah satu dimutlakkan, Nyepi berisiko tereduksi, entah menjadi ritualisme kosong atau spiritualisme abstrak yang tercerabut dari realitas sosial.

Implikasi sosial dari polemik ini juga signifikan. Tawur Agung berskala besar membutuhkan sumber daya ekonomi, tenaga, dan logistik yang tidak kecil. Ketika legitimasi ritual bersandar pada tafsir kosmologis Swamandala tanpa koreksi normatif Sundarigama, ritual dapat menciptakan beban sosial dan ketimpangan partisipasi. Sebaliknya, jika Sundarigama dibaca secara sempit sebagai justifikasi minimalisme ritual, dimensi kosmik dan simbolik Nyepi berisiko tereduksi menjadi formalitas administratif.

Dengan demikian, dialektika Swamandala dan Sundarigama mencerminkan dinamika internal tradisi Hindu Bali dalam merespons perubahan zaman. Polemik Tawur Agung Nyepi bukan tanda kemunduran tradisi, tetapi indikator bahwa teks-teks lontar masih hidup dan diperdebatkan. Tantangan akademik dan praksis ke depan adalah mengembangkan pembacaan kritis yang kontekstual, historis, dan reflektif, sehingga Nyepi tetap menjadi ruang harmonisasi kosmik sekaligus transformasi etis manusia Bali.

Pendekatan ini menuntut keberanian untuk keluar dari dikotomi benar-salah yang simplistik, dan masuk ke wilayah dialog interpretatif. Di sanalah Swamandala dan Sundarigama tidak lagi dipertentangkan, tetapi dipertemukan sebagai dua suara dalam satu tradisi yang terus berproses….. Rahayu.[T]

Penulis: I Putu Aryawan
Editor: Jaswanto

Tags: balihinduLontar SundarigamaLontar SwamandalaTawur Agung Nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi Lokal, Jiwa Nasional: Suara Penyair dari Timur

Next Post

Titip-Menitip Sampah

I Putu Aryawan

I Putu Aryawan

Pengamat atau akademisi, aktif sebagai dosen di fakultas filsafat dan ilmu agama UNHI Denpasar

Related Posts

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

by I Wayan Artika
June 5, 2026
0
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

Read moreDetails

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
0
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

Read moreDetails

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

by Chusmeru
June 5, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

Read moreDetails

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails
Next Post
Titip-Menitip Sampah

Titip-Menitip Sampah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane
Cerpen

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

by Wayan Gde Yudane
June 5, 2026
Puisi-puisi Ama Gaspar
Puisi

Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

by Ama Gaspar
June 5, 2026
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui
Khas

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif
Panggung

‘Madedari’ Karya Putu Ayu Kartika Dewi: Menafsir Jejak ‘Dedari’ dalam Tari Kreasi yang Kontemplatif

CAHAYA panggung perlahan meredup. Alunan musik mengalir lembut, mengisi ruang Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, yang malam itu...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku
Esai

Catatan dari SMA Negeri 2 Kuta Utara: Guru Membaca Buku

Di tengah gempuran media sosial,  kembali kepada buku kertas adalah penting untuk dipikirkan ulang. Apakah pengetahuan-pengetahuan di media sosial itu...

by I Wayan Artika
June 5, 2026
‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem
Panggung

‘Samagama’, Tabuh Kreasi Inovatif dari Gung Lanang yang Menyuarakan Semangat Tradisi Ngusaba Desa di Menanga, Karangasem

SUASANA Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, malam itu terasa berbeda ketika denting pertama gamelan Selonding mulai mengalun dari...

by Dede Putra Wiguna
June 5, 2026
Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta
Esai

Roger Penrose dan Misteri Kesadaran Semesta

Matematikawan yang Menolak Realitas Sekadar Mesin Roger Penrose bukan sekadar fisikawan biasa. Ia adalah salah satu ilmuwan yang berani melampaui...

by Agung Sudarsa
June 5, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menonton Pemimpin yang ‘Adigang, Adigung, Adiguna’

GAMBARAN sosok pemimpin dari masa ke masa selalu berubah seiring dengan dinamika masyarakatnya. Dahulu kala, pemimpin di Indonesia sarat dengan...

by Chusmeru
June 5, 2026
‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co