2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi Lokal, Jiwa Nasional: Suara Penyair dari Timur

Abdul Wachid BS by Abdul Wachid BS
January 5, 2026
in Esai
Puisi Lokal, Jiwa Nasional: Suara Penyair dari Timur

Ilustrasi dibuat tatkala.co dengan Chatgpt

DI tengah gempuran budaya digital dan globalisasi yang deras, suara-suara lokal dari Timur Indonesia justru semakin relevan untuk didengar. Salah satunya adalah puisi. Tak sekadar untaian kata, puisi daerah seperti Kabanti dari Buton adalah penanda peradaban yang menyimpan hikmah dan kearifan lokal.

Puisi lokal bukan sekadar ekspresi estetik; ia adalah wajah jiwa bangsa, sekaligus medium spiritual yang mempertautkan masa lalu, kini, dan masa depan dalam satu helaan napas kebudayaan.

Warisan Bernyawa dari Lautan Hikmah

Kabanti adalah jenis puisi lisan khas masyarakat Buton, Wakatobi, dan sekitarnya yang telah hidup berabad-abad. Puisi ini disampaikan dengan irama dan nada khas, berisi nasihat moral, spiritualitas sufistik, serta sejarah kepahlawanan.

Dalam Kabanti, kita menemukan bagaimana nilai-nilai luhur masyarakat dituturkan dengan estetika tinggi, penuh simbol dan metafora yang berpijak pada kehidupan maritim dan religiusitas Islam lokal.

Menurut Keputusan Mendikbud No. 238/M/2013, Kabanti telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, sejajar dengan tembang macapat di Jawa atau pantun di Sumatera.

Bahasa yang digunakan adalah Wolio, dengan struktur berima dan disampaikan secara musikal, sering kali dalam acara adat, pendidikan keluarga, hingga ritual-ritual keagamaan. Ini adalah bentuk puisi yang tidak hanya hidup dalam teks, tetapi dalam bunyi, tubuh, dan konteks sosial yang dinamis.

Sastrawan Buton, La Ode Abdul Latif, mencatat bahwa Kabanti mengandung dimensi sufistik yang kuat, mencerminkan pengaruh Islam dalam kebudayaan Buton. Ia menyebutnya sebagai “kitab masyarakat Buton dalam bentuk syair.” Tradisi ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan karakter anak-anak, terutama sebelum sistem sekolah formal berkembang. Kabanti menjadi semacam pedoman hidup yang dibawakan oleh para tetua dan dijadikan rujukan etika sosial.

Generasi Baru, Tantangan Lama

Namun kini, tradisi seperti Kabanti menghadapi tantangan berat: regenerasi yang terputus. Banyak generasi muda yang tak lagi akrab dengan puisi lokalnya sendiri. Dalam laporan Balai Bahasa Sulawesi Tenggara (2022) disebutkan bahwa hanya 12% siswa SMA di Baubau yang mengenal Kabanti, dan hanya 4% yang bisa membacakannya secara lisan. Angka ini menandakan adanya krisis pewarisan nilai yang tidak boleh diabaikan.

Padahal, beberapa penyair lokal seperti Wa Ode Munanila dan La Ode Hermas telah berupaya menghidupkan kembali tradisi ini dalam bentuk puisi kontemporer. Mereka membacakan karya dalam dua bahasa, bahasa ibu dan bahasa Indonesia, di berbagai panggung komunitas, sekolah, dan forum budaya.

Namun, upaya mereka masih bersifat sporadis dan belum mendapat dukungan kebijakan budaya yang sistematis. Selain itu, kurangnya dokumentasi yang memadai juga mempercepat proses pelupaan.

Di sisi lain, komunitas seperti Komunitas Sastra Wakatobi dan Sanggar Malige Baubau mulai memproduksi konten puisi berbahasa daerah di media sosial. Instagram dan YouTube menjadi panggung alternatif bagi puisi lokal untuk menjangkau generasi baru. Ini langkah progresif yang patut diapresiasi dan diperkuat oleh pemerintah daerah serta instansi pendidikan, termasuk Balai Bahasa dan Dinas Pendidikan.

Revitalisasi: Dari Komunitas Menuju Kebijakan

Untuk menjaga nyawa puisi lokal, kita memerlukan revitalisasi menyeluruh, bukan sekadar dalam bentuk lomba sesekali atau festival tahunan. Badan Bahasa dan Balai Bahasa Sultra telah memulai program pelestarian bahasa daerah dengan pendekatan baru, termasuk pelatihan menulis puisi lokal untuk guru dan siswa. Dalam laporan Kemdikbudristek (2023), revitalisasi ini juga melibatkan perekaman Kabanti dalam format digital untuk arsip nasional.

Kehadiran rubrik BASTRA di Koran Sultra, yang merupakan kerja sama dengan Balai Bahasa, merupakan langkah maju dalam menyediakan ruang apresiasi dan edukasi puisi lokal. Namun ke depan, dukungan perlu ditingkatkan pada level kurikulum sekolah, pelatihan guru, dan integrasi dalam kegiatan ekstrakurikuler literasi. Puisi daerah seharusnya tidak hanya menjadi bagian dari lomba sesekali, tetapi diintegrasikan dalam keseharian belajar siswa.

Lebih jauh lagi, perlu ada kebijakan afirmatif dari pemerintah daerah Sulawesi Tenggara untuk menjadikan puisi lokal sebagai bagian dari identitas budaya yang hidup. Puisi tidak bisa sekadar dipajang di museum budaya, tapi harus bernapas di ruang publik, dalam lomba, panggung, media, dan ruang kelas. Ruang-ruang ini harus menjadi tempat di mana anak-anak dan remaja bisa mengekspresikan identitas lokalnya dengan bangga dan sadar makna.

Jiwa Nasional yang Tumbuh dari Daerah

Mengapa puisi lokal penting? Karena ia mengandung roh kebangsaan. Sebuah bangsa besar dibangun dari keberanian mengakui dan merawat kebhinekaan yang hidup di akar rumputnya. Ketika puisi berbahasa daerah dihargai, diajarkan, dan disebarluaskan, maka yang dirawat bukan sekadar bahasa, tapi identitas, martabat, dan jiwa bangsa.

Mengutip penyair Taufiq Ismail, “Sastra yang berpihak pada bangsanya adalah benteng terakhir sebelum runtuhnya kepribadian nasional.” Maka, mendukung puisi daerah berarti turut menjaga benteng tersebut. Ini bukan hanya soal estetika, tapi juga keberlanjutan peradaban.

Kabanti, Tembang Wulele dari Muna, Syair Tolaki dari Konawe, dan berbagai bentuk puisi lokal lainnya bukanlah sisa-sisa masa lalu yang usang. Mereka adalah denyut hidup kultural yang bisa menyuburkan rasa kebangsaan dari akar. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, puisi daerah bisa menjadi perekat identitas kultural sekaligus inspirasi spiritual yang menghidupkan kembali makna “Bhinneka Tunggal Ika” dalam praktik keseharian.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya yang memiliki gedung-gedung tinggi dan jalan tol megah, melainkan bangsa yang mampu merawat jati diri dari dalam: melalui bahasa, sastra, dan puisi yang terus hidup di lidah dan hati generasi penerusnya.[T]

Penulis: Abdul Wachid B.S.
Editor: Jaswanto

Tags: ButonKabantiPuisipuisi lisansastraWakatobi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ayo, Pameran “Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif” Sudah Dibuka di Kencu Ruang Seni, Kuta, Bali

Next Post

Dialektika Teks Lontar Swamandala dan Sundarigama Dalam Polemik Penentuan Tawur Agung Nyepi di Bali

Abdul Wachid BS

Abdul Wachid BS

Penyair, Guru Besar dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Dialektika Teks Lontar Swamandala dan Sundarigama Dalam Polemik Penentuan Tawur Agung Nyepi di Bali

Dialektika Teks Lontar Swamandala dan Sundarigama Dalam Polemik Penentuan Tawur Agung Nyepi di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co