3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi Lokal, Jiwa Nasional: Suara Penyair dari Timur

Abdul Wachid BS by Abdul Wachid BS
January 5, 2026
in Esai
Puisi Lokal, Jiwa Nasional: Suara Penyair dari Timur

Ilustrasi dibuat tatkala.co dengan Chatgpt

DI tengah gempuran budaya digital dan globalisasi yang deras, suara-suara lokal dari Timur Indonesia justru semakin relevan untuk didengar. Salah satunya adalah puisi. Tak sekadar untaian kata, puisi daerah seperti Kabanti dari Buton adalah penanda peradaban yang menyimpan hikmah dan kearifan lokal.

Puisi lokal bukan sekadar ekspresi estetik; ia adalah wajah jiwa bangsa, sekaligus medium spiritual yang mempertautkan masa lalu, kini, dan masa depan dalam satu helaan napas kebudayaan.

Warisan Bernyawa dari Lautan Hikmah

Kabanti adalah jenis puisi lisan khas masyarakat Buton, Wakatobi, dan sekitarnya yang telah hidup berabad-abad. Puisi ini disampaikan dengan irama dan nada khas, berisi nasihat moral, spiritualitas sufistik, serta sejarah kepahlawanan.

Dalam Kabanti, kita menemukan bagaimana nilai-nilai luhur masyarakat dituturkan dengan estetika tinggi, penuh simbol dan metafora yang berpijak pada kehidupan maritim dan religiusitas Islam lokal.

Menurut Keputusan Mendikbud No. 238/M/2013, Kabanti telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, sejajar dengan tembang macapat di Jawa atau pantun di Sumatera.

Bahasa yang digunakan adalah Wolio, dengan struktur berima dan disampaikan secara musikal, sering kali dalam acara adat, pendidikan keluarga, hingga ritual-ritual keagamaan. Ini adalah bentuk puisi yang tidak hanya hidup dalam teks, tetapi dalam bunyi, tubuh, dan konteks sosial yang dinamis.

Sastrawan Buton, La Ode Abdul Latif, mencatat bahwa Kabanti mengandung dimensi sufistik yang kuat, mencerminkan pengaruh Islam dalam kebudayaan Buton. Ia menyebutnya sebagai “kitab masyarakat Buton dalam bentuk syair.” Tradisi ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan karakter anak-anak, terutama sebelum sistem sekolah formal berkembang. Kabanti menjadi semacam pedoman hidup yang dibawakan oleh para tetua dan dijadikan rujukan etika sosial.

Generasi Baru, Tantangan Lama

Namun kini, tradisi seperti Kabanti menghadapi tantangan berat: regenerasi yang terputus. Banyak generasi muda yang tak lagi akrab dengan puisi lokalnya sendiri. Dalam laporan Balai Bahasa Sulawesi Tenggara (2022) disebutkan bahwa hanya 12% siswa SMA di Baubau yang mengenal Kabanti, dan hanya 4% yang bisa membacakannya secara lisan. Angka ini menandakan adanya krisis pewarisan nilai yang tidak boleh diabaikan.

Padahal, beberapa penyair lokal seperti Wa Ode Munanila dan La Ode Hermas telah berupaya menghidupkan kembali tradisi ini dalam bentuk puisi kontemporer. Mereka membacakan karya dalam dua bahasa, bahasa ibu dan bahasa Indonesia, di berbagai panggung komunitas, sekolah, dan forum budaya.

Namun, upaya mereka masih bersifat sporadis dan belum mendapat dukungan kebijakan budaya yang sistematis. Selain itu, kurangnya dokumentasi yang memadai juga mempercepat proses pelupaan.

Di sisi lain, komunitas seperti Komunitas Sastra Wakatobi dan Sanggar Malige Baubau mulai memproduksi konten puisi berbahasa daerah di media sosial. Instagram dan YouTube menjadi panggung alternatif bagi puisi lokal untuk menjangkau generasi baru. Ini langkah progresif yang patut diapresiasi dan diperkuat oleh pemerintah daerah serta instansi pendidikan, termasuk Balai Bahasa dan Dinas Pendidikan.

Revitalisasi: Dari Komunitas Menuju Kebijakan

Untuk menjaga nyawa puisi lokal, kita memerlukan revitalisasi menyeluruh, bukan sekadar dalam bentuk lomba sesekali atau festival tahunan. Badan Bahasa dan Balai Bahasa Sultra telah memulai program pelestarian bahasa daerah dengan pendekatan baru, termasuk pelatihan menulis puisi lokal untuk guru dan siswa. Dalam laporan Kemdikbudristek (2023), revitalisasi ini juga melibatkan perekaman Kabanti dalam format digital untuk arsip nasional.

Kehadiran rubrik BASTRA di Koran Sultra, yang merupakan kerja sama dengan Balai Bahasa, merupakan langkah maju dalam menyediakan ruang apresiasi dan edukasi puisi lokal. Namun ke depan, dukungan perlu ditingkatkan pada level kurikulum sekolah, pelatihan guru, dan integrasi dalam kegiatan ekstrakurikuler literasi. Puisi daerah seharusnya tidak hanya menjadi bagian dari lomba sesekali, tetapi diintegrasikan dalam keseharian belajar siswa.

Lebih jauh lagi, perlu ada kebijakan afirmatif dari pemerintah daerah Sulawesi Tenggara untuk menjadikan puisi lokal sebagai bagian dari identitas budaya yang hidup. Puisi tidak bisa sekadar dipajang di museum budaya, tapi harus bernapas di ruang publik, dalam lomba, panggung, media, dan ruang kelas. Ruang-ruang ini harus menjadi tempat di mana anak-anak dan remaja bisa mengekspresikan identitas lokalnya dengan bangga dan sadar makna.

Jiwa Nasional yang Tumbuh dari Daerah

Mengapa puisi lokal penting? Karena ia mengandung roh kebangsaan. Sebuah bangsa besar dibangun dari keberanian mengakui dan merawat kebhinekaan yang hidup di akar rumputnya. Ketika puisi berbahasa daerah dihargai, diajarkan, dan disebarluaskan, maka yang dirawat bukan sekadar bahasa, tapi identitas, martabat, dan jiwa bangsa.

Mengutip penyair Taufiq Ismail, “Sastra yang berpihak pada bangsanya adalah benteng terakhir sebelum runtuhnya kepribadian nasional.” Maka, mendukung puisi daerah berarti turut menjaga benteng tersebut. Ini bukan hanya soal estetika, tapi juga keberlanjutan peradaban.

Kabanti, Tembang Wulele dari Muna, Syair Tolaki dari Konawe, dan berbagai bentuk puisi lokal lainnya bukanlah sisa-sisa masa lalu yang usang. Mereka adalah denyut hidup kultural yang bisa menyuburkan rasa kebangsaan dari akar. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, puisi daerah bisa menjadi perekat identitas kultural sekaligus inspirasi spiritual yang menghidupkan kembali makna “Bhinneka Tunggal Ika” dalam praktik keseharian.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya yang memiliki gedung-gedung tinggi dan jalan tol megah, melainkan bangsa yang mampu merawat jati diri dari dalam: melalui bahasa, sastra, dan puisi yang terus hidup di lidah dan hati generasi penerusnya.[T]

Penulis: Abdul Wachid B.S.
Editor: Jaswanto

Tags: ButonKabantiPuisipuisi lisansastraWakatobi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ayo, Pameran “Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif” Sudah Dibuka di Kencu Ruang Seni, Kuta, Bali

Next Post

Dialektika Teks Lontar Swamandala dan Sundarigama Dalam Polemik Penentuan Tawur Agung Nyepi di Bali

Abdul Wachid BS

Abdul Wachid BS

Penyair, Guru Besar dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Dialektika Teks Lontar Swamandala dan Sundarigama Dalam Polemik Penentuan Tawur Agung Nyepi di Bali

Dialektika Teks Lontar Swamandala dan Sundarigama Dalam Polemik Penentuan Tawur Agung Nyepi di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co