23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi Lokal, Jiwa Nasional: Suara Penyair dari Timur

Abdul Wachid BS by Abdul Wachid BS
January 5, 2026
in Esai
Puisi Lokal, Jiwa Nasional: Suara Penyair dari Timur

Ilustrasi dibuat tatkala.co dengan Chatgpt

DI tengah gempuran budaya digital dan globalisasi yang deras, suara-suara lokal dari Timur Indonesia justru semakin relevan untuk didengar. Salah satunya adalah puisi. Tak sekadar untaian kata, puisi daerah seperti Kabanti dari Buton adalah penanda peradaban yang menyimpan hikmah dan kearifan lokal.

Puisi lokal bukan sekadar ekspresi estetik; ia adalah wajah jiwa bangsa, sekaligus medium spiritual yang mempertautkan masa lalu, kini, dan masa depan dalam satu helaan napas kebudayaan.

Warisan Bernyawa dari Lautan Hikmah

Kabanti adalah jenis puisi lisan khas masyarakat Buton, Wakatobi, dan sekitarnya yang telah hidup berabad-abad. Puisi ini disampaikan dengan irama dan nada khas, berisi nasihat moral, spiritualitas sufistik, serta sejarah kepahlawanan.

Dalam Kabanti, kita menemukan bagaimana nilai-nilai luhur masyarakat dituturkan dengan estetika tinggi, penuh simbol dan metafora yang berpijak pada kehidupan maritim dan religiusitas Islam lokal.

Menurut Keputusan Mendikbud No. 238/M/2013, Kabanti telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, sejajar dengan tembang macapat di Jawa atau pantun di Sumatera.

Bahasa yang digunakan adalah Wolio, dengan struktur berima dan disampaikan secara musikal, sering kali dalam acara adat, pendidikan keluarga, hingga ritual-ritual keagamaan. Ini adalah bentuk puisi yang tidak hanya hidup dalam teks, tetapi dalam bunyi, tubuh, dan konteks sosial yang dinamis.

Sastrawan Buton, La Ode Abdul Latif, mencatat bahwa Kabanti mengandung dimensi sufistik yang kuat, mencerminkan pengaruh Islam dalam kebudayaan Buton. Ia menyebutnya sebagai “kitab masyarakat Buton dalam bentuk syair.” Tradisi ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan karakter anak-anak, terutama sebelum sistem sekolah formal berkembang. Kabanti menjadi semacam pedoman hidup yang dibawakan oleh para tetua dan dijadikan rujukan etika sosial.

Generasi Baru, Tantangan Lama

Namun kini, tradisi seperti Kabanti menghadapi tantangan berat: regenerasi yang terputus. Banyak generasi muda yang tak lagi akrab dengan puisi lokalnya sendiri. Dalam laporan Balai Bahasa Sulawesi Tenggara (2022) disebutkan bahwa hanya 12% siswa SMA di Baubau yang mengenal Kabanti, dan hanya 4% yang bisa membacakannya secara lisan. Angka ini menandakan adanya krisis pewarisan nilai yang tidak boleh diabaikan.

Padahal, beberapa penyair lokal seperti Wa Ode Munanila dan La Ode Hermas telah berupaya menghidupkan kembali tradisi ini dalam bentuk puisi kontemporer. Mereka membacakan karya dalam dua bahasa, bahasa ibu dan bahasa Indonesia, di berbagai panggung komunitas, sekolah, dan forum budaya.

Namun, upaya mereka masih bersifat sporadis dan belum mendapat dukungan kebijakan budaya yang sistematis. Selain itu, kurangnya dokumentasi yang memadai juga mempercepat proses pelupaan.

Di sisi lain, komunitas seperti Komunitas Sastra Wakatobi dan Sanggar Malige Baubau mulai memproduksi konten puisi berbahasa daerah di media sosial. Instagram dan YouTube menjadi panggung alternatif bagi puisi lokal untuk menjangkau generasi baru. Ini langkah progresif yang patut diapresiasi dan diperkuat oleh pemerintah daerah serta instansi pendidikan, termasuk Balai Bahasa dan Dinas Pendidikan.

Revitalisasi: Dari Komunitas Menuju Kebijakan

Untuk menjaga nyawa puisi lokal, kita memerlukan revitalisasi menyeluruh, bukan sekadar dalam bentuk lomba sesekali atau festival tahunan. Badan Bahasa dan Balai Bahasa Sultra telah memulai program pelestarian bahasa daerah dengan pendekatan baru, termasuk pelatihan menulis puisi lokal untuk guru dan siswa. Dalam laporan Kemdikbudristek (2023), revitalisasi ini juga melibatkan perekaman Kabanti dalam format digital untuk arsip nasional.

Kehadiran rubrik BASTRA di Koran Sultra, yang merupakan kerja sama dengan Balai Bahasa, merupakan langkah maju dalam menyediakan ruang apresiasi dan edukasi puisi lokal. Namun ke depan, dukungan perlu ditingkatkan pada level kurikulum sekolah, pelatihan guru, dan integrasi dalam kegiatan ekstrakurikuler literasi. Puisi daerah seharusnya tidak hanya menjadi bagian dari lomba sesekali, tetapi diintegrasikan dalam keseharian belajar siswa.

Lebih jauh lagi, perlu ada kebijakan afirmatif dari pemerintah daerah Sulawesi Tenggara untuk menjadikan puisi lokal sebagai bagian dari identitas budaya yang hidup. Puisi tidak bisa sekadar dipajang di museum budaya, tapi harus bernapas di ruang publik, dalam lomba, panggung, media, dan ruang kelas. Ruang-ruang ini harus menjadi tempat di mana anak-anak dan remaja bisa mengekspresikan identitas lokalnya dengan bangga dan sadar makna.

Jiwa Nasional yang Tumbuh dari Daerah

Mengapa puisi lokal penting? Karena ia mengandung roh kebangsaan. Sebuah bangsa besar dibangun dari keberanian mengakui dan merawat kebhinekaan yang hidup di akar rumputnya. Ketika puisi berbahasa daerah dihargai, diajarkan, dan disebarluaskan, maka yang dirawat bukan sekadar bahasa, tapi identitas, martabat, dan jiwa bangsa.

Mengutip penyair Taufiq Ismail, “Sastra yang berpihak pada bangsanya adalah benteng terakhir sebelum runtuhnya kepribadian nasional.” Maka, mendukung puisi daerah berarti turut menjaga benteng tersebut. Ini bukan hanya soal estetika, tapi juga keberlanjutan peradaban.

Kabanti, Tembang Wulele dari Muna, Syair Tolaki dari Konawe, dan berbagai bentuk puisi lokal lainnya bukanlah sisa-sisa masa lalu yang usang. Mereka adalah denyut hidup kultural yang bisa menyuburkan rasa kebangsaan dari akar. Dalam konteks Indonesia yang majemuk, puisi daerah bisa menjadi perekat identitas kultural sekaligus inspirasi spiritual yang menghidupkan kembali makna “Bhinneka Tunggal Ika” dalam praktik keseharian.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya yang memiliki gedung-gedung tinggi dan jalan tol megah, melainkan bangsa yang mampu merawat jati diri dari dalam: melalui bahasa, sastra, dan puisi yang terus hidup di lidah dan hati generasi penerusnya.[T]

Penulis: Abdul Wachid B.S.
Editor: Jaswanto

Tags: ButonKabantiPuisipuisi lisansastraWakatobi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ayo, Pameran “Simbiosa Kreatif: dari Norma Objektif ke Ekspresi Kreatif” Sudah Dibuka di Kencu Ruang Seni, Kuta, Bali

Next Post

Dialektika Teks Lontar Swamandala dan Sundarigama Dalam Polemik Penentuan Tawur Agung Nyepi di Bali

Abdul Wachid BS

Abdul Wachid BS

Penyair, Guru Besar dan Ketua Lembaga Kajian Nusantara Raya (LK Nura) di Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
Dialektika Teks Lontar Swamandala dan Sundarigama Dalam Polemik Penentuan Tawur Agung Nyepi di Bali

Dialektika Teks Lontar Swamandala dan Sundarigama Dalam Polemik Penentuan Tawur Agung Nyepi di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co