6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desa Wisata atau Wisata Desa Menjamur, Benarkah Kelatahan Pariwisata?

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
January 2, 2026
in Esai
Desa Wisata atau Wisata Desa Menjamur, Benarkah Kelatahan Pariwisata?

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

DALAM satu dekade terakhir, Bali mengalami fenomena menjamurnya desa wisata. Hampir setiap desa berlomba-lomba menyematkan label ‘desa wisata’ sebagai identitas baru. Plang dipasang, paket wisata dirancang, dan media sosial dipenuhi narasi keindahan pedesaan. Namun, di balik euforia tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah semua desa benar-benar layak disebut desa wisata? Atau jangan-jangan, ini hanyalah kelatahan pariwisata ─ ikut-ikutan tren tanpa fondasi yang kuat?

Fenomena ini tidak dapat dilepaskan dari keberhasilan sejumlah desa di Bali yang memang terbukti sukses mengelola pariwisata berbasis desa. Jatiluwih, misalnya, diakui dunia melalui UN Tourism berkat sistem subak dan lanskap teraseringnya yang merepresentasikan harmoni manusia dan alam. Penglipuran dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia dengan tata ruang adat yang terjaga. Tenganan mempertahankan identitas Bali Aga dengan tenun Gringsing yang sakral. Pemuteran berkembang melalui konservasi laut berbasis masyarakat dengan teknologi biorock. Sementara Sidatapa dan Cempaga menonjolkan sejarah, tradisi, serta rumah adat yang autentik. Desa-desa ini tidak sekadar menjual pemandangan, tetapi menghadirkan nilai, cerita, dan pengalaman yang khas.

Masalah muncul ketika keberhasilan tersebut direplikasi secara seragam tanpa mempertimbangkan konteks dan potensi lokal. Banyak desa kemudian “dipaksakan” menjadi desa wisata, meskipun tidak memiliki daya tarik yang cukup kuat atau berbeda. Inilah yang dapat disebut sebagai kelatahan pariwisata: ketika sesuatu terlihat menguntungkan, semua ingin ikut, tanpa kajian mendalam. Akibatnya, pariwisata tidak berkembang secara organik, melainkan artifisial ─ dibangun demi label, bukan kebutuhan dan kesiapan desa itu sendiri.

Di sinilah pentingnya membedakan antara konsep ‘desa wisata’ dan ‘wisata desa’. Dalam kajian pariwisata pedesaan (rural tourism), kedua istilah ini sering disalahartikan sebagai hal yang sama. Padahal, menurut Buhalis (2000) dalam godestinationvillage.com, orientasi keduanya berbeda. Desa wisata cenderung berfokus pada pengembangan destinasi secara terstruktur dengan tujuan utama peningkatan ekonomi lokal melalui infrastruktur pariwisata dan peluang bisnis. Sementara wisata desa lebih menekankan pada pengalaman wisatawan yang autentik, mendalam, serta dampak positif terhadap budaya dan lingkungan lokal.

Perbedaan ini sangat krusial. Desa wisata sering kali menuntut kesiapan fisik dan sosial: aksesibilitas, amenitas, atraksi, serta kapasitas masyarakat sebagai pelaku pariwisata. Tidak semua desa memiliki modal tersebut. Ketika desa yang belum siap dipaksakan menjadi desa wisata, yang terjadi justru kontraproduktif: konflik internal, komodifikasi budaya, hingga kerusakan lingkungan. Desa kehilangan jati dirinya, sementara benefit ekonomi tidak sebanding dengan biaya sosial yang harus ditanggung.

Sebaliknya, wisata desa menawarkan pendekatan yang lebih lentur. Desa tidak harus bertransformasi total menjadi destinasi wisata. Aktivitas keseharian masyarakat, seperti bertani, berkebun, membuat kerajinan, atau menjalankan tradisi dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata tanpa kehilangan makna aslinya. Wisatawan datang sebagai tamu yang belajar dan berinteraksi, bukan sebagai konsumen yang menuntut hiburan instan.

Lantas, apakah desa yang dianggap kurang layak sebagai desa wisata tetap dapat membangun ekosistem pariwisata? Jawabannya, bisa saja, dengan catatan tidak memaksakan diri pada model desa wisata yang seragam. Potensi desa tidak selalu harus berupa panorama alam spektakuler atau tradisi adat yang eksotis. Kerajinan masyarakat, sistem pertanian lokal, perkebunan, kuliner khas, hingga pengetahuan lokal dapat dioptimalkan sebagai daya tarik wisata berbasis pengalaman.

Misalnya, desa dengan lahan pertanian biasa dapat mengembangkan wisata edukasi pertanian, memperkenalkan proses tanam hingga panen, atau mengangkat isu pangan berkelanjutan. Desa pengrajin dapat fokus pada wisata kreatif, di mana wisatawan belajar langsung dari perajin. Bahkan desa yang berada di jalur lintasan wisata dapat memposisikan diri sebagai ruang singgah yang nyaman dan bermakna, bukan destinasi utama.

Kunci utamanya adalah kesadaran bahwa pariwisata bukan tujuan, melainkan alat. Alat untuk memperkuat ekonomi lokal, melestarikan budaya, dan menjaga lingkungan. Ketika desa terlalu sibuk mengejar status ‘desa wisata’, esensi pembangunan sering terabaikan. Alih-alih bertanya “bagaimana menjadi desa wisata?”, pertanyaan yang lebih penting adalah “apa yang dimiliki desa ini dan untuk siapa pariwisata dikembangkan?”.

Barangkali Bali tidak membutuhkan ratusan desa wisata yang seragam dan kehilangan karakter. Tetapi, Bali membutuhkan desa-desa yang percaya diri dengan identitasnya, entah itu melalui skema desa wisata yang matang atau melalui wisata desa yang sederhana namun bermakna. Dengan demikian, pariwisata tidak akan menjadi kelatahan, melainkan jalan sadar menuju keberlanjutan. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: desa wisataPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Urgensi Penetapan Waktu Pecaruan pada Tilem Kesanga : Tinjauan Tekstual, Astronomis, dan Filosofis

Next Post

Pohon Aswatam dan Karma Yoga

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Pohon Aswatam dan Karma Yoga

Pohon Aswatam dan Karma Yoga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co