12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon Aswatam dan Karma Yoga

Wayan Jengki Sunarta by Wayan Jengki Sunarta
January 3, 2026
in Ulas Rupa
Pohon Aswatam dan Karma Yoga

I Putu Wirasa Pandya (Śrī Mahāprabhu Prahlada Pandya) sedang melukis di studionya di Tegal Mengkeb, Tabanan

Dalam perjalanan hidup seorang seniman, ada masa ketika kanvas menjadi ruang pengakuan, dan ada pula masa ketika menjadi ruang pelepasan. Hal itulah yang terjadi pada I Putu Wirasa Pandya yang kini bergelar Śrī Mahāprabhu Prahlada Pandya. Ia menjalani kedua proses itu.

Setelah lama meninggalkan dunia seni lukis, Pandya kembali dengan kesadaran baru. Ia melukis tidak untuk proses pencarian identitas, tetapi sebagai jalan spiritual. Kembalinya Pandya ke dunia seni rupa bukanlah untuk klangenan. Hal itu dilakukannya untuk membayar kaul. Untuk melunasi janji batin yang berakar pada pengetahuan suci Weda.

Perjalanan Pandya sebagai seniman tidaklah mulus dan lurus. Ia pernah menempuh pendidikan seni lukis di STSI Denpasar (kini ISI Bali) pada tahun 1992. Ia sempat terlibat dalam sejumlah pameran lukisan. Namun pada tahun 2003, ia berhenti melukis. Semua alat lukis dan kanvas ia hibahkan kepada teman-temannya. Bahkan ketika usai pameran tunggal di Jakarta ia menitipkan sekitar empat puluh lukisan kepada seorang temannya. Ironisnya, hingga kini ia lupa siapa teman yang ia titipkan lukisan itu.

Pohon Aswatam dalam Mewujudkan Wisnu Murti, 2025

Pada masa itu, Pandya memang lagi suntuk mencari jati dirinya. Di tengah berbagai masalah yang menimpa hidupnya, dari masalah ekonomi hingga masalah keluarga, ia berusaha mencari jalan pembebasan. Ia menyadari bahwa dunia ini penuh dengan berbagai keterikatan. Dan, untuk memotong keterikatan itu ia menempuh jalan spiritual. Kepada dirinya sendiri ia berjanji bahwa ia akan melukis lagi jika ia berhasil memotong berbagai keterikatan.

Pada tahun 2015, Pandya mencoba kembali melukis, bertepatan dengan fase hidupnya sebagai Mahāprabhu, sebuah gelar yang diperolehnya dari jalan spiritual yang ditekuninya sejak lama. Ia melukis di sela-sela kesibukannya bekerja untuk Tuhan dan mengurus Pasraman Kayu Manis di tanah kelahirannya di Desa Tegal Mengkeb, Selemadeg Timur, Tabanan, Bali.

Tetapi, baru pada tahun 2023, Pandya mulai sungguh-sungguh kembali melukis. Dorongan utamanya bukan ambisi artistik, melainkan niat spiritual, yakni melukis sebagai Karma Yoga. Dalam Bhagavad Gītā, Karma Yoga adalah jalan berbuat atau bekerja tanpa keterikatan pada hasil. Pandya menghayati ini secara literal. Ketika dahulu ia terikat pada hasil, ia justru berhenti melukis. Kini ia melukis hanya untuk berbuat, tanpa pamrih, tanpa target pameran, tanpa ingin pengakuan.

Pohon Aswatam

Pandya telah menyelesaikan beberapa lukisan. Tema utama lukisannya adalah tentang pohon Aswatam, sebuah simbol kosmis yang dalam Weda digambarkan sebagai pohon terbalik, berakar di atas, bercabang ke bawah. Pandya mengatakan bahwa dalam Bhagavad Gītā disebutkan Śrī Bhagavān bersabda tentang pohon Aswatam yang kekal, dengan daun-daunnya berupa bait-bait Weda. Orang yang mampu memahami hakikat pohon itu sering disebut sebagai orang yang memahami Weda itu sendiri. Pandya tidak sekadar menjadikan teks suci sebagai referensi visual, tetapi menjadikannya sebagai fondasi kesadaran berkarya.

Pohon Aswatam adalah metafora semesta. Cabang-cabangnya tumbuh ke atas dan ke bawah, berkembang melalui guna (sifat-sifat alam material) yang memunculkan objek-objek indria sebagai ranting-rantingnya. Akar-akarnya yang menjulur ke bawah adalah karma, perbuatan yang mengikat manusia pada dunia fenomenal. Pohon ini tidak memiliki awal dan akhir, tidak memiliki landasan yang bisa dilihat secara kasat mata. Ia begitu kuat mengakar, dan hanya dapat dipotong dengan satu senjata, yakni ketidakterikatan.

Pohon Aswatam sering dikaitkan dengan Pohon Beringin atau bisa juga Pohon Bodhi. Orang-orang Hindu dan Buddha meyakininya sebagai pohon sakral. Dalam Buddhisme, pohon ini dikenal sebagai tempat Siddhartha Gautama mencapai pencerahan. Di India, pohon ini melambangkan perlindungan, pencerahan, dan kehidupan abadi. Di Indonesia, khususnya Bali, Aswatam yang disimbolkan dengan Beringin hadir dalam ritual-ritual sakral seperti Upacara Ngeroras, sekaligus hidup dalam mitos lokal tentang dunia niskala. Pohon tersebut bahkan menjadi lambang sila ke-3 Pancasila, yakni Persatuan Indonesia.

Kembalinya Pandya ke dunia seni rupa adalah proses perjalanan batin yang sunyi. Ia melakukannya dengan kesadaran. Pohon Aswatam dalam lukisan-lukisannya bukan sekadar objek visual. Tetapi cermin perjalanan spiritualnya sendiri. Akar karma yang pernah mengikat, cabang dan ranting-ranting pengalaman duniawi, dan upaya memotong keterikatan dengan senjata ketidakterikatan. Dalam karya-karyanya, Pandya merangkum seluruh lapisan makna tersebut, menjadikan Pohon Aswatam sebagai poros antara teks suci, tradisi Bali, dan pengalaman personalnya.

Lukisan-lukisan Pandya kini tampil dengan bahasa figuratif simbolik, berbeda dengan fase lamanya yang abstrak. Selain sebagai pilihan estetika, perubahan gaya ini adalah kebutuhan naratif. Pandya ingin menghadirkan cerita, menyusun kosmologi di dalam kanvas. Setiap elemen visual memiliki makna yang berakar pada pengetahuan Weda.

Pada lukisannya kita bisa melihat tokoh Hanoman yang hadir sebagai simbol bhakta tertinggi, pengabdian tanpa syarat. Burung menjadi lambang kebebasan roh. Awan melayang sebagai simbol ketidaktahuan (awidya) yang menutupi kesadaran. Manusia-manusia yang bergerak digambarkan seperti tarian, sebuah metafora tentang kehidupan sebagai rangkaian gerak, ekspresi, dan perubahan terus-menerus. Bahkan kawah neraka hadir dengan warna merah yang indah, seolah mengingatkan bahwa penderitaan pun merupakan bagian dari keindahan kosmis jika dilihat dari kesadaran yang lebih tinggi.

Yang menarik, Pandya juga memberi perhatian khusus pada bingkai lukisan. Ia ingin melihat seluruh pengetahuan dalam bingkai tradisi Bali. Maka bingkai tidak lagi terpisah sebagai objek kayu, melainkan dilukis langsung di atas kanvas. Bingkai menjadi bagian dari narasi visual, menegaskan bahwa tradisi bukanlah pelengkap, tetapi struktur kesadaran itu sendiri.

Pohon Aswatam dan Dimensi Kosmik

Lukisan Pandya yang secara jelas menampilkan Pohon Aswatam bisa dilihat pada “Pohon Aswatam dan Dimensi Kosmik” (200 x 160 cm, akrilik di kanvas, 2023). Pada lukisan ini Pohon Aswatam ditempatkan dalam komposisi mandala sebagai struktur utama. Bentuk lingkaran menguatkan kesan kosmis dan siklus tanpa awal dan akhir. Akar dan cabang pohon menyebar ke segala arah, menyatukan dunia atas, tengah, dan bawah dalam satu kesatuan visual. Akar-akar itu seperti jaringan saraf kosmis yang menghubungkan berbagai dimensi eksistensi.

Pohon Aswatam dan Dimensi Kosmik, 2023

Latar belakang lukisan dipenuhi oleh figur-figur manusia kecil yang bergerak berulang, membentuk ritme visual seperti tarian massal. Mereka tampak larut dalam arus, menegaskan gagasan bahwa manusia sering kali bergerak dalam pola karma tanpa kesadaran. Garis-garis warna merah menghadirkan kesan neraka atau dunia bawah, namun diolah dengan keindahan ornamental, seolah Pandya ingin mengatakan bahwa neraka bukanlah hukuman eksternal, melainkan kondisi batin yang lahir dari keterikatan.

Warna biru dan hijau pada lukisan mendominasi, memberi kesan kedalaman batin dan ketenangan. Di antara akar dan cabang, muncul burung, awan, Hanoman terbang, dan manusia-manusia yang terus bergerak seirama tarian kosmik. Lukisan ini terasa seperti peta semesta batin, tempat berbagai pengalaman—indriawi, emosional, spiritual—saling terhubung.

Bingkai emas yang dilukis dengan ornamen tradisional Bali mempertegas nuansa mistis lukisan tersebut. Hal ini mengingatkan pada ornamen-ornamen yang diwarnai dengan prada dalam ukiran Bali klasik, namun Pandya mengolahnya dengan kesadaran kontemporer. Bingkai lain yang berupa lingkaran emas tidak hanya membingkai gambar, tetapi juga mengundang apresian untuk masuk ke dalam meditasi visual. Bingkai yang dilukis langsung di atas kanvas itu seolah menegaskan bahwa bingkai pengetahuan sama pentingnya dengan isi lukisan.

Pohon Aswatam dan Dinamika Kosmik

Pada karya “Pohon Aswatam dan Dinamika Kosmik” (200 x 160 cm, akrilik di kanvas, 2025), Pandya menampilkan komposisi yang lebih cair dan dinamis. Pergerakan figur manusia semakin terasa, seolah arus karma semakin deras. Pohon Aswatam tidak lagi tampil sebagai struktur tunggal yang dominan, tetapi sebagai jaringan yang menyatu dengan lanskap kosmik.

Warna-warna biru tua, hijau neon, dan ungu menciptakan suasana transendental. Awan-awan kecil yang melayang di antara figur-figur manusia adalah simbol ketidaktahuan (awidya) yang halus namun bersifat menyelubungi pikiran. Di tengah hiruk-pikuk visual ini, terdapat ruang-ruang hening, bidang-bidang warna yang lebih tenang, yang dapat dibaca sebagai kemungkinan untuk menempuh jalan pembebasan.

Pohon Aswatam dan Dinamika Kosmik, 2025

Karya ini terasa lebih matang secara spiritual. Jika karya sebelumnya masih menekankan struktur kosmis, maka di sini Pandya tampak lebih menekankan proses, yakni dinamika, gerak, dan ketidaktetapan. Pohon Aswatam tidak lagi sekadar simbol metafisik, tetapi menjadi cermin dari pengalaman hidup itu sendiri.

Pohon Aswatam dalam Mewujudkan Wisnu Murti

Lukisan berjudul “Pohon Aswatam dalam Mewujudkan Wisnu Murti” (200 x 160 cm, akrilik di kanvas, 2025) dapat dibaca sebagai manifestasi visual paling lengkap dari gagasan Pohon Aswatam sebagaimana dipahami dalam Weda dan diolah kembali melalui kesadaran seni rupa. Secara komposisional, lukisan ini menghadirkan ruang kosmik bertingkat—atas, tengah, dan bawah—yang saling terhubung melalui akar, cabang, dan pergerakan figur. Tidak ada batas tegas antara langit, bumi, dan dunia bawah; semuanya mengalir dalam satu kesatuan medan karma.

Pada bagian atas, dominasi warna merah gelap dan cokelat menghadirkan suasana panas, berat, dan penuh tekanan. Di sinilah cabang-cabang Aswatam tampak menjalar horizontal, berkelindan seperti urat-urat kesadaran. Merah di sini dapat dibaca sebagai simbol rajas, yakni unsur gairah, ambisi, dan gejolak batin. Pohon tidak tumbuh ke atas dalam pengertian linear, tetapi menyebar, menandakan bahwa kesadaran manusia sering kali terjebak dalam perluasan hasrat, bukan pendakian batin.

Di bagian tengah, tampak warna biru tua dan hijau membentuk lanskap kosmik yang lebih cair. Akar dan cabang Pohon Aswatam menembus ruang ini seperti jaringan saraf semesta. Di sinilah terlihat dengan jelas filosofi Weda tentang guna: dunia pengalaman yang dibentuk oleh sifat-sifat alam. Figur-figur manusia kecil berulang kali muncul, bergerak serempak seperti tarian massal. Mereka tidak memiliki identitas individual yang kuat; tubuh-tubuh ini lebih menyerupai simbol daripada tokoh. Ini menegaskan gagasan bahwa manusia, ketika terikat karma, bergerak dalam pola yang berulang: lahir, bertindak, menuai akibat, lalu mengulang kembali.

I Putu Wirasa Pandya (Śrī Mahāprabhu Prahlada Pandya) sedang melukis di studionya di Tegal Mengkeb, Tabanan

Gerak figur-figur ini sangat penting. Mereka tidak diam, tidak kontemplatif, melainkan terus bergerak, menari, berlari, seolah terseret arus. Di sinilah lukisan ini berbicara tentang kehidupan sebagai dinamika, bukan keadaan statis. Gerak itu sendiri netral; yang menentukan adalah kesadaran di baliknya. Tanpa kesadaran, gerak menjadi samsara.

Pada bagian bawah, warna merah muda, biru cerah, dan hijau terang menciptakan lanskap yang tampak paradoksal: dunia bawah yang justru indah. Di sini terdapat representasi kawah neraka, ditandai oleh warna merah dan tekstur berombak, namun tidak digambarkan menyeramkan. Justru ada harmoni visual yang lembut. Ini sejalan dengan gagasan Pandya bahwa neraka bukanlah ruang hukuman eksternal, melainkan kondisi batin yang lahir dari keterikatan. Keindahan neraka dalam lukisan ini mengandung ironi spiritual: penderitaan pun memiliki estetika ketika dilihat dari jarak kesadaran.

Figur sentral dalam karya ini, sosok ilahiah dalam perwujudan Wisnu Murti, dapat dibaca sebagai penjaga kesadaran atau simbol prinsip dharma. Sosok itu berdiri di tengah pusaran karma untuk menyadari dan menembusnya. Posisi figur ini penting karena tidak berada di atas sebagai penguasa, dan tidak tenggelam di bawah sebagai korban. Figur ini hadir di tengah, sebagai poros. Inilah sikap Karma Yoga: tetap berada di dunia, tetapi tidak terikat olehnya.

Awan-awan kecil yang tersebar di berbagai lapisan ruang berfungsi sebagai simbol awidya (ketidaktahuan). Ukurannya kecil, nyaris dekoratif, tetapi jumlahnya banyak dan menyebar. Ini mengisyaratkan bahwa ketidaktahuan sering kali hadir sebagai kabut-kabut halus yang menutupi kejernihan pikiran.

Melukis sebagai Karma Yoga

Lukisan-lukisan ini menjadi bukti bahwa kembalinya Pandya ke dunia seni rupa bukanlah soal gaya atau teknik, melainkan pergeseran kesadaran. Ia tidak lagi melukis untuk mencapai sesuatu, melainkan untuk berbuat. Pohon Aswatam dalam karya-karyanya bukan hanya simbol metafisik, tetapi juga refleksi perjalanan hidupnya sendiri.

Lukisan-lukisan Pandya dapat dibaca sebagai peta visual Karma Yoga. Pandya mengajak kita untuk melihat dunia apa adanya sebagai jaringan sebab-akibat yang indah sekaligus mengikat. Lewat lukisan-lukisannya, Pandya mengajak kita untuk menyadari di cabang mana kita sedang bergantung dan apakah kita siap memotongnya dengan pusaka pengetahuan “ketidakterikatan”.

Dalam kanvas-kanvas Pandya, seni rupa tidak lagi muncul sebagai representasi, melainkan sebagai laku. Melukis menjadi doa, warna menjadi mantra, dan garis menjadi jalan kembali ke pusat kesadaran. Pandya menunjukkan bahwa seni, ketika bersumber dari pengetahuan suci dan niat yang jernih, mampu menjadi jembatan antara dunia material dan spiritual. [T]

Penulis: Wayan Jengki Sunarta
Editor: Adnyana Ole

Tags: kosmikpohonSeni Rupaseni rupa BaliSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Wisata atau Wisata Desa Menjamur, Benarkah Kelatahan Pariwisata?

Next Post

Belajar dari Pakistan: Ketika Agama Tidak Cukup Menjadi Perekat Bangsa —Sebuah Refleksi Kebangsaan untuk Indonesia

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Penulis puisi, cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni. Penyuka seni, batu akik & barang antik.

Related Posts

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails

Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

by Hartanto
August 29, 2026
0
Seni Rupa Anomali Cokot dan Putu Fajar Arcana

PADA tulisan kali ini, saya ingin menekuni proses kreatif karya rupa Putu Fajar Arcana yang bagi saya cukup menarik. Pasalnya,...

Read moreDetails

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

by Hartanto
August 26, 2026
0
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

Read moreDetails

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
0
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

Read moreDetails

Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

by I Wayan Sujana Suklu
August 16, 2026
0
Psikodinamika Perubahan Bahasa Visual Sutjipto Adi  ——Dari Dunia yang Dilihat ke Dunia yang Dirasakan

SAYA berkesempatan menyaksikan pameran tunggal Sutjipto Adi (Mas Adi) yang dibuka pada malam 14 Agustus 2026, di Maya Sanur, Denpasar....

Read moreDetails

Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

by Hartanto
August 13, 2026
0
Kekuatan Warna, I Wayan Santrayana dan I Wayan Gede Budayana

MASIH berlanjut soal pameran The Power of Colours , perhelatan ini berlangsung 25 hingga 31 Agustus mendatang. Pameran digelar  di...

Read moreDetails

Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

by Hartanto
August 11, 2026
0
Kekuatan Warna Made Gunawan, I Ketut Suasana Kabul, dan I Ketut Suwidiarta

PADA tanggal 25 hingga 31 Agustus mendatang akan digelar pameran seni rupa yang bertajuk The Power of Colour. Pameran akan...

Read moreDetails

Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

by I Wayan Sujana Suklu
August 11, 2026
0
Naif Karya Noe, Naif Karya Suklu

---Catatan seorang seniman tentang ketidaktahuan, pengetahuan, dan keberanian menggambar kembali Noe mengambar karena belum mengenal aturan, saya menjadi naif karena...

Read moreDetails
Next Post
Belajar dari Pakistan: Ketika Agama Tidak Cukup Menjadi Perekat Bangsa —Sebuah Refleksi Kebangsaan untuk Indonesia

Belajar dari Pakistan: Ketika Agama Tidak Cukup Menjadi Perekat Bangsa ---Sebuah Refleksi Kebangsaan untuk Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co