24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pohon Aswatam dan Karma Yoga

Wayan Jengki Sunarta by Wayan Jengki Sunarta
January 3, 2026
in Ulas Rupa
Pohon Aswatam dan Karma Yoga

I Putu Wirasa Pandya (Śrī Mahāprabhu Prahlada Pandya) sedang melukis di studionya di Tegal Mengkeb, Tabanan

Dalam perjalanan hidup seorang seniman, ada masa ketika kanvas menjadi ruang pengakuan, dan ada pula masa ketika menjadi ruang pelepasan. Hal itulah yang terjadi pada I Putu Wirasa Pandya yang kini bergelar Śrī Mahāprabhu Prahlada Pandya. Ia menjalani kedua proses itu.

Setelah lama meninggalkan dunia seni lukis, Pandya kembali dengan kesadaran baru. Ia melukis tidak untuk proses pencarian identitas, tetapi sebagai jalan spiritual. Kembalinya Pandya ke dunia seni rupa bukanlah untuk klangenan. Hal itu dilakukannya untuk membayar kaul. Untuk melunasi janji batin yang berakar pada pengetahuan suci Weda.

Perjalanan Pandya sebagai seniman tidaklah mulus dan lurus. Ia pernah menempuh pendidikan seni lukis di STSI Denpasar (kini ISI Bali) pada tahun 1992. Ia sempat terlibat dalam sejumlah pameran lukisan. Namun pada tahun 2003, ia berhenti melukis. Semua alat lukis dan kanvas ia hibahkan kepada teman-temannya. Bahkan ketika usai pameran tunggal di Jakarta ia menitipkan sekitar empat puluh lukisan kepada seorang temannya. Ironisnya, hingga kini ia lupa siapa teman yang ia titipkan lukisan itu.

Pohon Aswatam dalam Mewujudkan Wisnu Murti, 2025

Pada masa itu, Pandya memang lagi suntuk mencari jati dirinya. Di tengah berbagai masalah yang menimpa hidupnya, dari masalah ekonomi hingga masalah keluarga, ia berusaha mencari jalan pembebasan. Ia menyadari bahwa dunia ini penuh dengan berbagai keterikatan. Dan, untuk memotong keterikatan itu ia menempuh jalan spiritual. Kepada dirinya sendiri ia berjanji bahwa ia akan melukis lagi jika ia berhasil memotong berbagai keterikatan.

Pada tahun 2015, Pandya mencoba kembali melukis, bertepatan dengan fase hidupnya sebagai Mahāprabhu, sebuah gelar yang diperolehnya dari jalan spiritual yang ditekuninya sejak lama. Ia melukis di sela-sela kesibukannya bekerja untuk Tuhan dan mengurus Pasraman Kayu Manis di tanah kelahirannya di Desa Tegal Mengkeb, Selemadeg Timur, Tabanan, Bali.

Tetapi, baru pada tahun 2023, Pandya mulai sungguh-sungguh kembali melukis. Dorongan utamanya bukan ambisi artistik, melainkan niat spiritual, yakni melukis sebagai Karma Yoga. Dalam Bhagavad Gītā, Karma Yoga adalah jalan berbuat atau bekerja tanpa keterikatan pada hasil. Pandya menghayati ini secara literal. Ketika dahulu ia terikat pada hasil, ia justru berhenti melukis. Kini ia melukis hanya untuk berbuat, tanpa pamrih, tanpa target pameran, tanpa ingin pengakuan.

Pohon Aswatam

Pandya telah menyelesaikan beberapa lukisan. Tema utama lukisannya adalah tentang pohon Aswatam, sebuah simbol kosmis yang dalam Weda digambarkan sebagai pohon terbalik, berakar di atas, bercabang ke bawah. Pandya mengatakan bahwa dalam Bhagavad Gītā disebutkan Śrī Bhagavān bersabda tentang pohon Aswatam yang kekal, dengan daun-daunnya berupa bait-bait Weda. Orang yang mampu memahami hakikat pohon itu sering disebut sebagai orang yang memahami Weda itu sendiri. Pandya tidak sekadar menjadikan teks suci sebagai referensi visual, tetapi menjadikannya sebagai fondasi kesadaran berkarya.

Pohon Aswatam adalah metafora semesta. Cabang-cabangnya tumbuh ke atas dan ke bawah, berkembang melalui guna (sifat-sifat alam material) yang memunculkan objek-objek indria sebagai ranting-rantingnya. Akar-akarnya yang menjulur ke bawah adalah karma, perbuatan yang mengikat manusia pada dunia fenomenal. Pohon ini tidak memiliki awal dan akhir, tidak memiliki landasan yang bisa dilihat secara kasat mata. Ia begitu kuat mengakar, dan hanya dapat dipotong dengan satu senjata, yakni ketidakterikatan.

Pohon Aswatam sering dikaitkan dengan Pohon Beringin atau bisa juga Pohon Bodhi. Orang-orang Hindu dan Buddha meyakininya sebagai pohon sakral. Dalam Buddhisme, pohon ini dikenal sebagai tempat Siddhartha Gautama mencapai pencerahan. Di India, pohon ini melambangkan perlindungan, pencerahan, dan kehidupan abadi. Di Indonesia, khususnya Bali, Aswatam yang disimbolkan dengan Beringin hadir dalam ritual-ritual sakral seperti Upacara Ngeroras, sekaligus hidup dalam mitos lokal tentang dunia niskala. Pohon tersebut bahkan menjadi lambang sila ke-3 Pancasila, yakni Persatuan Indonesia.

Kembalinya Pandya ke dunia seni rupa adalah proses perjalanan batin yang sunyi. Ia melakukannya dengan kesadaran. Pohon Aswatam dalam lukisan-lukisannya bukan sekadar objek visual. Tetapi cermin perjalanan spiritualnya sendiri. Akar karma yang pernah mengikat, cabang dan ranting-ranting pengalaman duniawi, dan upaya memotong keterikatan dengan senjata ketidakterikatan. Dalam karya-karyanya, Pandya merangkum seluruh lapisan makna tersebut, menjadikan Pohon Aswatam sebagai poros antara teks suci, tradisi Bali, dan pengalaman personalnya.

Lukisan-lukisan Pandya kini tampil dengan bahasa figuratif simbolik, berbeda dengan fase lamanya yang abstrak. Selain sebagai pilihan estetika, perubahan gaya ini adalah kebutuhan naratif. Pandya ingin menghadirkan cerita, menyusun kosmologi di dalam kanvas. Setiap elemen visual memiliki makna yang berakar pada pengetahuan Weda.

Pada lukisannya kita bisa melihat tokoh Hanoman yang hadir sebagai simbol bhakta tertinggi, pengabdian tanpa syarat. Burung menjadi lambang kebebasan roh. Awan melayang sebagai simbol ketidaktahuan (awidya) yang menutupi kesadaran. Manusia-manusia yang bergerak digambarkan seperti tarian, sebuah metafora tentang kehidupan sebagai rangkaian gerak, ekspresi, dan perubahan terus-menerus. Bahkan kawah neraka hadir dengan warna merah yang indah, seolah mengingatkan bahwa penderitaan pun merupakan bagian dari keindahan kosmis jika dilihat dari kesadaran yang lebih tinggi.

Yang menarik, Pandya juga memberi perhatian khusus pada bingkai lukisan. Ia ingin melihat seluruh pengetahuan dalam bingkai tradisi Bali. Maka bingkai tidak lagi terpisah sebagai objek kayu, melainkan dilukis langsung di atas kanvas. Bingkai menjadi bagian dari narasi visual, menegaskan bahwa tradisi bukanlah pelengkap, tetapi struktur kesadaran itu sendiri.

Pohon Aswatam dan Dimensi Kosmik

Lukisan Pandya yang secara jelas menampilkan Pohon Aswatam bisa dilihat pada “Pohon Aswatam dan Dimensi Kosmik” (200 x 160 cm, akrilik di kanvas, 2023). Pada lukisan ini Pohon Aswatam ditempatkan dalam komposisi mandala sebagai struktur utama. Bentuk lingkaran menguatkan kesan kosmis dan siklus tanpa awal dan akhir. Akar dan cabang pohon menyebar ke segala arah, menyatukan dunia atas, tengah, dan bawah dalam satu kesatuan visual. Akar-akar itu seperti jaringan saraf kosmis yang menghubungkan berbagai dimensi eksistensi.

Pohon Aswatam dan Dimensi Kosmik, 2023

Latar belakang lukisan dipenuhi oleh figur-figur manusia kecil yang bergerak berulang, membentuk ritme visual seperti tarian massal. Mereka tampak larut dalam arus, menegaskan gagasan bahwa manusia sering kali bergerak dalam pola karma tanpa kesadaran. Garis-garis warna merah menghadirkan kesan neraka atau dunia bawah, namun diolah dengan keindahan ornamental, seolah Pandya ingin mengatakan bahwa neraka bukanlah hukuman eksternal, melainkan kondisi batin yang lahir dari keterikatan.

Warna biru dan hijau pada lukisan mendominasi, memberi kesan kedalaman batin dan ketenangan. Di antara akar dan cabang, muncul burung, awan, Hanoman terbang, dan manusia-manusia yang terus bergerak seirama tarian kosmik. Lukisan ini terasa seperti peta semesta batin, tempat berbagai pengalaman—indriawi, emosional, spiritual—saling terhubung.

Bingkai emas yang dilukis dengan ornamen tradisional Bali mempertegas nuansa mistis lukisan tersebut. Hal ini mengingatkan pada ornamen-ornamen yang diwarnai dengan prada dalam ukiran Bali klasik, namun Pandya mengolahnya dengan kesadaran kontemporer. Bingkai lain yang berupa lingkaran emas tidak hanya membingkai gambar, tetapi juga mengundang apresian untuk masuk ke dalam meditasi visual. Bingkai yang dilukis langsung di atas kanvas itu seolah menegaskan bahwa bingkai pengetahuan sama pentingnya dengan isi lukisan.

Pohon Aswatam dan Dinamika Kosmik

Pada karya “Pohon Aswatam dan Dinamika Kosmik” (200 x 160 cm, akrilik di kanvas, 2025), Pandya menampilkan komposisi yang lebih cair dan dinamis. Pergerakan figur manusia semakin terasa, seolah arus karma semakin deras. Pohon Aswatam tidak lagi tampil sebagai struktur tunggal yang dominan, tetapi sebagai jaringan yang menyatu dengan lanskap kosmik.

Warna-warna biru tua, hijau neon, dan ungu menciptakan suasana transendental. Awan-awan kecil yang melayang di antara figur-figur manusia adalah simbol ketidaktahuan (awidya) yang halus namun bersifat menyelubungi pikiran. Di tengah hiruk-pikuk visual ini, terdapat ruang-ruang hening, bidang-bidang warna yang lebih tenang, yang dapat dibaca sebagai kemungkinan untuk menempuh jalan pembebasan.

Pohon Aswatam dan Dinamika Kosmik, 2025

Karya ini terasa lebih matang secara spiritual. Jika karya sebelumnya masih menekankan struktur kosmis, maka di sini Pandya tampak lebih menekankan proses, yakni dinamika, gerak, dan ketidaktetapan. Pohon Aswatam tidak lagi sekadar simbol metafisik, tetapi menjadi cermin dari pengalaman hidup itu sendiri.

Pohon Aswatam dalam Mewujudkan Wisnu Murti

Lukisan berjudul “Pohon Aswatam dalam Mewujudkan Wisnu Murti” (200 x 160 cm, akrilik di kanvas, 2025) dapat dibaca sebagai manifestasi visual paling lengkap dari gagasan Pohon Aswatam sebagaimana dipahami dalam Weda dan diolah kembali melalui kesadaran seni rupa. Secara komposisional, lukisan ini menghadirkan ruang kosmik bertingkat—atas, tengah, dan bawah—yang saling terhubung melalui akar, cabang, dan pergerakan figur. Tidak ada batas tegas antara langit, bumi, dan dunia bawah; semuanya mengalir dalam satu kesatuan medan karma.

Pada bagian atas, dominasi warna merah gelap dan cokelat menghadirkan suasana panas, berat, dan penuh tekanan. Di sinilah cabang-cabang Aswatam tampak menjalar horizontal, berkelindan seperti urat-urat kesadaran. Merah di sini dapat dibaca sebagai simbol rajas, yakni unsur gairah, ambisi, dan gejolak batin. Pohon tidak tumbuh ke atas dalam pengertian linear, tetapi menyebar, menandakan bahwa kesadaran manusia sering kali terjebak dalam perluasan hasrat, bukan pendakian batin.

Di bagian tengah, tampak warna biru tua dan hijau membentuk lanskap kosmik yang lebih cair. Akar dan cabang Pohon Aswatam menembus ruang ini seperti jaringan saraf semesta. Di sinilah terlihat dengan jelas filosofi Weda tentang guna: dunia pengalaman yang dibentuk oleh sifat-sifat alam. Figur-figur manusia kecil berulang kali muncul, bergerak serempak seperti tarian massal. Mereka tidak memiliki identitas individual yang kuat; tubuh-tubuh ini lebih menyerupai simbol daripada tokoh. Ini menegaskan gagasan bahwa manusia, ketika terikat karma, bergerak dalam pola yang berulang: lahir, bertindak, menuai akibat, lalu mengulang kembali.

I Putu Wirasa Pandya (Śrī Mahāprabhu Prahlada Pandya) sedang melukis di studionya di Tegal Mengkeb, Tabanan

Gerak figur-figur ini sangat penting. Mereka tidak diam, tidak kontemplatif, melainkan terus bergerak, menari, berlari, seolah terseret arus. Di sinilah lukisan ini berbicara tentang kehidupan sebagai dinamika, bukan keadaan statis. Gerak itu sendiri netral; yang menentukan adalah kesadaran di baliknya. Tanpa kesadaran, gerak menjadi samsara.

Pada bagian bawah, warna merah muda, biru cerah, dan hijau terang menciptakan lanskap yang tampak paradoksal: dunia bawah yang justru indah. Di sini terdapat representasi kawah neraka, ditandai oleh warna merah dan tekstur berombak, namun tidak digambarkan menyeramkan. Justru ada harmoni visual yang lembut. Ini sejalan dengan gagasan Pandya bahwa neraka bukanlah ruang hukuman eksternal, melainkan kondisi batin yang lahir dari keterikatan. Keindahan neraka dalam lukisan ini mengandung ironi spiritual: penderitaan pun memiliki estetika ketika dilihat dari jarak kesadaran.

Figur sentral dalam karya ini, sosok ilahiah dalam perwujudan Wisnu Murti, dapat dibaca sebagai penjaga kesadaran atau simbol prinsip dharma. Sosok itu berdiri di tengah pusaran karma untuk menyadari dan menembusnya. Posisi figur ini penting karena tidak berada di atas sebagai penguasa, dan tidak tenggelam di bawah sebagai korban. Figur ini hadir di tengah, sebagai poros. Inilah sikap Karma Yoga: tetap berada di dunia, tetapi tidak terikat olehnya.

Awan-awan kecil yang tersebar di berbagai lapisan ruang berfungsi sebagai simbol awidya (ketidaktahuan). Ukurannya kecil, nyaris dekoratif, tetapi jumlahnya banyak dan menyebar. Ini mengisyaratkan bahwa ketidaktahuan sering kali hadir sebagai kabut-kabut halus yang menutupi kejernihan pikiran.

Melukis sebagai Karma Yoga

Lukisan-lukisan ini menjadi bukti bahwa kembalinya Pandya ke dunia seni rupa bukanlah soal gaya atau teknik, melainkan pergeseran kesadaran. Ia tidak lagi melukis untuk mencapai sesuatu, melainkan untuk berbuat. Pohon Aswatam dalam karya-karyanya bukan hanya simbol metafisik, tetapi juga refleksi perjalanan hidupnya sendiri.

Lukisan-lukisan Pandya dapat dibaca sebagai peta visual Karma Yoga. Pandya mengajak kita untuk melihat dunia apa adanya sebagai jaringan sebab-akibat yang indah sekaligus mengikat. Lewat lukisan-lukisannya, Pandya mengajak kita untuk menyadari di cabang mana kita sedang bergantung dan apakah kita siap memotongnya dengan pusaka pengetahuan “ketidakterikatan”.

Dalam kanvas-kanvas Pandya, seni rupa tidak lagi muncul sebagai representasi, melainkan sebagai laku. Melukis menjadi doa, warna menjadi mantra, dan garis menjadi jalan kembali ke pusat kesadaran. Pandya menunjukkan bahwa seni, ketika bersumber dari pengetahuan suci dan niat yang jernih, mampu menjadi jembatan antara dunia material dan spiritual. [T]

Penulis: Wayan Jengki Sunarta
Editor: Adnyana Ole

Tags: kosmikpohonSeni Rupaseni rupa BaliSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Desa Wisata atau Wisata Desa Menjamur, Benarkah Kelatahan Pariwisata?

Next Post

Belajar dari Pakistan: Ketika Agama Tidak Cukup Menjadi Perekat Bangsa —Sebuah Refleksi Kebangsaan untuk Indonesia

Wayan Jengki Sunarta

Wayan Jengki Sunarta

Penulis puisi, cerpen, novel, esai/artikel/ulasan seni. Penyuka seni, batu akik & barang antik.

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Belajar dari Pakistan: Ketika Agama Tidak Cukup Menjadi Perekat Bangsa —Sebuah Refleksi Kebangsaan untuk Indonesia

Belajar dari Pakistan: Ketika Agama Tidak Cukup Menjadi Perekat Bangsa ---Sebuah Refleksi Kebangsaan untuk Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co