15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Belajar dari Pakistan: Ketika Agama Tidak Cukup Menjadi Perekat Bangsa —Sebuah Refleksi Kebangsaan untuk Indonesia

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
January 3, 2026
in Esai
Belajar dari Pakistan: Ketika Agama Tidak Cukup Menjadi Perekat Bangsa —Sebuah Refleksi Kebangsaan untuk Indonesia

Negara yang Lahir dari Iman Bersama

Pakistan lahir dengan niat yang, pada zamannya, terasa luhur. Ia dibentuk sebagai tanah air bagi umat Islam di anak benua India, agar mereka dapat hidup bermartabat tanpa rasa terpinggirkan dalam negara mayoritas lain. Agama menjadi bahasa persatuan, bahkan dasar eksistensi negara.

Pada awalnya, ini tampak logis. Jika iman sama, bukankah persatuan akan lebih mudah? Jika keyakinan sejalan, bukankah konflik dapat diredam?

Sejarah kemudian menjawab pertanyaan itu dengan cara yang tidak sederhana.

Satu Agama, Dua Bangsa

Pakistan pada awal kemerdekaannya bukan satu wilayah utuh. Ia terbentang dalam dua sayap: Pakistan Barat dan Pakistan Timur, dipisahkan ribuan kilometer oleh wilayah India. Keduanya sama-sama Muslim. Kitab sucinya sama.

Namun bahasa berbeda. Budaya berbeda. Sejarah sosial berbeda. Dan—yang paling krusial—relasi kekuasaan tidak setara.

Pakistan Timur, yang kelak menjadi Bangladesh, merasa diperlakukan sebagai warga kelas dua: bahasa Bengali dipinggirkan, aspirasi politik diabaikan, sumber daya dieksploitasi. Agama yang seharusnya menjadi perekat justru tidak mampu menutup luka ketidakadilan.

Pada 1971, perpisahan menjadi tak terelakkan. Bangladesh lahir bukan karena menolak Islam, tetapi karena menolak ketidakadilan yang dibungkus keseragaman agama.

Agama Bukan Lem yang Otomatis

Di sinilah pelajaran besar itu muncul: agama tidak otomatis menjamin persatuan. Nilai-nilai luhur dan universal agama manapun, bisa menjadi sumber etika bersama, tetapi agama tidak pernah dirancang sebagai lem struktural bagi negara yang kompleks.

Ketika agama diposisikan sebagai identitas politik utama, ada kecenderungan untuk menyederhanakan realitas: seolah kesamaan iman cukup untuk meniadakan perbedaan pengalaman hidup, bahasa, dan martabat sosial.

Padahal manusia tidak hidup dari iman saja. Ia hidup dari keadilan, pengakuan, dan rasa dihormati.

Masalahnya Bukan Agama

Penting untuk ditegaskan: perpecahan Pakistan–Bangladesh bukan karena agama yang salah. Tidak ada agama yang gagal. Yang bermasalah adalah perilaku keagamaan yang merasa cukup hanya dengan klaim kebenaran, tanpa kepekaan pada keadilan konkret.

Ketika keyakinan berubah menjadi identitas superior, ia mudah digunakan untuk membungkam kritik. Ketika iman dijadikan legitimasi kekuasaan, penderitaan sosial kerap dianggap urusan sekunder.

Dalam situasi seperti itu, agama kehilangan daya moralnya. Ia tidak lagi membela yang lemah, tetapi membenarkan yang kuat.

Klaim Kebenaran dan Butanya Empati

Setiap klaim kebenaran tunggal membawa risiko: hilangnya empati. Bukan karena penganutnya kejam, melainkan karena mereka merasa telah berada di posisi yang “benar”. Dari situ, kritik dianggap ancaman, perbedaan dipersepsikan sebagai penyimpangan.

Di Pakistan awal, suara dari Pakistan Timur sering kali dipandang bukan sebagai aspirasi sah, melainkan sebagai gangguan terhadap persatuan umat. Padahal yang diminta bukan perubahan iman, melainkan keadilan.

Bangladesh lahir sebagai pengingat bahwa persatuan yang mengabaikan martabat manusia akan runtuh dari dalam.

Indonesia dan Jalan yang Berbeda

Indonesia memilih jalan lain. Ia tidak dibangun di atas satu agama, tetapi di atas kesepakatan etis bersama: Pancasila. Ketuhanan ditempatkan sebagai fondasi nilai, bukan identitas politik tunggal. Negara tidak bertanya iman apa yang paling benar, melainkan bagaimana manusia diperlakukan dengan adil.

Namun seperti semua pilihan bijak, jalan ini menuntut kedewasaan terus-menerus. Pancasila bukan jimat otomatis. Ia hidup atau mati dalam praktik.

Ketika dalam kehidupan sehari-hari muncul kecenderungan mengukur kewargaan dari kesesuaian religius, atau ketika moralitas dipersempit menjadi satu tafsir, kita perlu berhenti sejenak dan bercermin.

Bahaya Reduksi yang Halus

Tidak perlu ada deklarasi negara agama untuk menggeser arah bangsa. Cukup dengan reduksi pelan-pelan: bahasa publik yang makin eksklusif, kebijakan yang sensitif hanya pada satu kelompok, dan tekanan sosial yang membuat perbedaan terasa tidak aman.

Inilah pelajaran Pakistan yang relevan bagi siapa pun: kesamaan iman tidak bisa menggantikan keadilan sosial, dan klaim kebenaran tidak boleh membungkam keragaman pengalaman hidup.

Menjaga Agama Tetap Mulia

Agama paling kuat justru ketika ia tidak memerlukan paksaan negara. Ia bekerja melalui keteladanan, bukan regulasi; melalui kesadaran, bukan intimidasi. Ketika agama terlalu dekat dengan kekuasaan, ia berisiko kehilangan kejernihannya.

Pakistan dan Bangladesh mengajarkan bahwa iman yang tidak disertai keadilan akan melahirkan luka sejarah. Indonesia masih memiliki kesempatan untuk belajar tanpa harus mengulang.

Persatuan Butuh Kerendahan Hati

Persatuan sejati tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari kerendahan hati untuk mengakui perbedaan. Negara yang dewasa tidak menuntut warganya sama, tetapi memastikan semua dihormati.

Pelajaran dari Pakistan bukan ajakan untuk menjauh dari agama, melainkan ajakan untuk memuliakan agama dengan tidak memaksanya menjadi ideologi negara. Karena begitu iman berubah menjadi alat klaim kebenaran tunggal, persatuan justru menjadi rapuh.

Pertanyaannya bagi kita sederhana, namun mendalam: Apakah kita sedang membangun bangsa dengan kesadaran, atau sekadar berlindung di balik klaim kebenaran? [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: agamapakistan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pohon Aswatam dan Karma Yoga

Next Post

Puisi-puisi Sinduputra | Waktunya untuk Mencintai

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Sinduputra | Waktunya untuk Mencintai

Puisi-puisi Sinduputra | Waktunya untuk Mencintai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co