24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Urgensi Penetapan Waktu Pecaruan pada Tilem Kesanga : Tinjauan Tekstual, Astronomis, dan Filosofis

Ida Kade Suarioka by Ida Kade Suarioka
January 2, 2026
in Esai
Urgensi Penetapan Waktu Pecaruan pada Tilem Kesanga : Tinjauan Tekstual, Astronomis, dan Filosofis

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Pendahuluan

Dalam khazanah ritual keagamaan Hindu Bali, pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya yang dikenal sebagai Tawur atau Pecaruan menjelang Hari Raya Nyepi menempati posisi yang sangat penting. Dewasa ini, muncul wacana untuk menggeser waktu pelaksanaan Pecaruan dari waktu yang telah ditetapkan secara tradisional, yakni pada Tilem Kesanga (bulan mati di bulan kesembilan dalam kalender Bali), menjadi satu hari sebelumnya yaitu pada Purwaning Tilem Kesanga (Panglong Ping 14 Sasih Kesanga). Pergeseran ini tentu bukan persoalan teknis semata, melainkan menyangkut fondasi teologis, astronomis, dan filosofis yang telah dibangun dalam tradisi keagamaan Hindu selama berabad-abad.

Tulisan ini berupaya mengurai urgensi pelaksanaan Pecaruan pada waktu yang tepat, yakni Tilem Kesanga, melalui tiga pendekatan utama: pertama, tinjauan tekstual berdasarkan lontar-lontar klasik sebagai sumber rujukan otoritatif; kedua, perspektif astronomis yang menjelaskan keterkaitan waktu ritual dengan fenomena kosmik; dan ketiga, dimensi filosofis yang mengungkap makna mendalam dari kesesuaian antara tindakan manusia dengan ritme alam semesta. Ketiga pendekatan ini saling berkelindan membentuk argumentasi yang kokoh mengapa pergeseran waktu pelaksanaan pecaruan perlu dikaji secara mendalam sebelum diputuskan.

Landasan Tekstual: Otoritas Lontar dalam Menentukan Waktu Ritual

Tradisi keagamaan Hindu Bali memiliki karakter tekstual yang kuat, di mana lontar-lontar klasik menjadi rujukan utama dalam penetapan tata cara dan waktu pelaksanaan ritual. Dalam konteks Pecaruan menjelang Nyepi, terdapat dua sumber tekstual utama yang secara eksplisit mengatur waktu pelaksanaannya.

Sumber pertama adalah Lontar Sri Aji Jaya Kasunu, yang menyebutkan secara spesifik mengenai kewajiban melaksanakan upacara Tawur atau Bhuta Yadnya sehari sebelum Hari Raya Nyepi, tepatnya pada saat Tilem Sasih Kesanga. Kutipan kunci dari lontar tersebut yang sering dirujuk adalah: “ring tilem ing sasih kasanga, patut maprakertti caru tawur wastanya, sadulur nyepi awengi“. Secara harfiah, kalimat ini dapat diterjemahkan: “Pada bulan mati (Tilem) sasih kesanga, patut (wajib) melaksanakan upacara Caru yang disebut Tawur, sehari sebelum Nyepi”.

Kata “patut” dalam konteks ini bukan sekadar anjuran, melainkan mengandung makna kewajiban religius yang harus dipenuhi. Penggunaan kata ini menunjukkan bahwa penetapan waktu Tilem Kesanga bukanlah pilihan arbitrer, melainkan ketentuan yang bersifat preskriptif, sebuah perintah yang mengikat secara teologis. Lontar ini tidak memberikan ruang interpretasi untuk menggeser waktu pelaksanaan ke hari sebelumnya, karena spesifikasi waktu “Tilem ing sasih kasanga” telah dinyatakan dengan tegas.

Sumber kedua adalah Lontar Purwana Tattwa Wariga, yang memberikan penjelasan lebih mendalam tentang signifikansi teologis dari hari Tilem itu sendiri. Dalam lontar ini dijelaskan bahwa hari Tilem merupakan prabhawa (pengaruh spiritual) dari Sang Hyang Rudra, sebagai perwujudan Sang Hyang Yamadipati (Dewa Kematian) yang memiliki kekuatan praline, kekuatan untuk memulihkan kembali segala sesuatu ke asal-usulnya (sangkan paran). Persembahan pada hari Tilem dimaksudkan agar umat yang tekun melaksanakan persembahan pada waktu tersebut, ketika nanti meninggal dunia, rohnya tidak akan diberi jalan yang sesat menuju neraka, melainkan sebaliknya dituntun ke Swargaloka.

Penjelasan ini mengungkap dimensi soteriologis dari pelaksanaan ritual pada waktu yang tepat. Tilem bukan sekadar penanda temporal dalam kalender, melainkan momentum kosmik ketika energi tertentu, dalam hal ini energi transformasi dan pemurnian yang diasosiasikan dengan Sang Hyang Rudra, mencapai puncaknya. Melaksanakan Pecaruan pada saat Tilem berarti menyelaraskan tindakan ritual dengan puncak energi kosmik tersebut, sehingga efektivitas spiritual dari ritual dapat tercapai secara maksimal.

Kedua sumber tekstual ini membentuk dasar teologis yang solid untuk pelaksanaan Pecaruan pada Tilem Kesanga, bukan pada hari sebelumnya. Menggeser waktu pelaksanaan berarti mengabaikan otoritas tekstual yang telah menjadi rujukan selama berabad-abad, sekaligus berpotensi mengurangi efektivitas spiritual dari ritual itu sendiri.

Perspektif Astronomis: Resonansi antara Ritual dan Fenomena Kosmik

Selain landasan tekstual, penetapan waktu Pecaruan pada Tilem Kesanga juga memiliki justifikasi astronomis yang kuat. Dalam ilmu Pangrepeting Sasih, sistem perhitungan waktu yang menggabungkan kalender lunar (candra) dan solar (surya), terdapat syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan Tawur Kesanga Nyepi.

Syarat pertama adalah bahwa pada hari tersebut harus jatuh pada Tilem, dan Tilem tersebut harus tepat pada Sasih Kesanga (bulan kesembilan) dalam sistem kalender candra. Tilem, yang menandai fase bulan baru ketika bulan tidak terlihat dari bumi, memiliki signifikansi astronomis dan spiritual. Dalam kosmologi Hindu, fase bulan mati ini diasosiasikan dengan energi transformasi, pelepasan, dan pemurnian, energi yang sangat diperlukan dalam konteks Bhuta Yadnya sebagai upaya penyucian dan harmonisasi dengan kekuatan-kekuatan bhuta (elemen alam).

Syarat kedua, yang tidak kalah pentingnya, adalah bahwa pada pelaksanaan Tawur Kesanga Nyepi tersebut, matahari harus berada pada posisi “Bajeging Surya” atau tepat di garis khatulistiwa. Fenomena ini terjadi saat ekuinoks (vernal equinox), ketika panjang siang dan malam hampir sama di seluruh permukaan bumi. Dalam sistem kalender Surya (Surya Pramana), posisi ini menandai keseimbangan kosmik, sebuah momentum ketika energi alam semesta berada dalam harmoni sempurna antara terang dan gelap, siang dan malam, aktivitas dan ketenangan.

Kesesuaian antara Tilem dalam kalender Candra dan Bajeging Surya dalam kalender Surya menciptakan sebuah “window” kosmik yang sangat spesifik, sebuah momentum ketika energi lunar dan solar berkonvergensi menciptakan kondisi optimal untuk pelaksanaan ritual transformasi dan pemurnian. Ini bukan sekadar kebetulan astronomis, melainkan desain kosmik yang telah dipahami oleh para pendahulu melalui pengamatan mendalam terhadap ritme alam semesta.

Kedua syarat ini menjadi sangat penting karena pada keesokan harinya adalah peringatan pergantian tahun Icaka Warsa, yang dalam kalender Caka Bali dikenal dengan nama Nyepi atau Sipeng, yang jatuhnya pada Penanggal Apisan (tanggal satu terang) Sasih Kadasa (bulan kesepuluh).  Nyepi sebagai hari pembaruan spiritual dan kosmik memerlukan persiapan ritual yang dilaksanakan pada momentum kosmik yang tepat, dan momentum tersebut adalah Tilem Kesanga dengan segala konfigurasi astronomisnya.

Perlu dicatat bahwa dalam sistem kalender Surya Candra Pramana, setiap Tilem menandai tutup sasih (akhir bulan lunar), sementara setiap Purnama menandai tengah sasih (pertengahan bulan lunar). Struktur temporal ini mencerminkan pemahaman mendalam akan siklus lunar dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia dan pelaksanaan ritual. Menggeser waktu Pecaruan ke Panglong Ping 14 (Purwaning Tilem) berarti melaksanakan ritual di luar momentum kosmik yang optimal, ketika konfigurasi astronomis belum mencapai titik konvergensi yang diperlukan.

Dimensi Filosofis: Wariga sebagai Ilmu Harmoni Kosmik

Pada tataran filosofis, perdebatan tentang waktu pelaksanaan Pecaruan membawa kita pada pemahaman yang lebih mendalam tentang hakikat Wariga itu sendiri. Wariga bukan sekadar sistem kalender teknis untuk menentukan hari baik dan buruk, melainkan sebuah ilmu kosmik yang menyatukan manusia dengan ritme semesta. Pemahaman ini mengharuskan kita untuk terlebih dahulu memahami fondasi filosofis Wariga yang dikenal sebagai Tri Adik.

Tri Adik terdiri dari tiga elemen fundamental: pertama, Ṛta (hukum); kedua, Kāla (waktu); dan ketiga, Karma (tindakan). Ṛta adalah hukum kosmis, keteraturan laten yang membuat jagat raya berjalan sebagaimana mestinya, sebuah ordo universal yang mengatur pergerakan planet, pergantian musim, dan siklus kehidupan. Kāla adalah medium ritmis yang membawa hukum tersebut ke dalam pengalaman manusia, waktu bukan hanya pengukuran kuantitatif, melainkan kualitas yang berbeda-beda bergantung pada konfigurasi kosmik. Sementara Karma adalah jawaban manusia berupa tindakan yang diselaraskan dengan ritme kosmos.

Dari kerangka Tri Adik ini, kita dapat memahami bahwa menentukan waktu yang tepat untuk pelaksanaan ritual (dewasa ayu) bukanlah takhayul, melainkan bentuk prudensi etis, sebuah seni hidup tepat waktu. Ini adalah upaya sadar untuk menyelaraskan tindakan manusia (Karma) dengan hukum kosmis (Ṛta) melalui pemilihan waktu yang tepat (Kāla). Ketiga elemen ini harus bekerja dalam harmoni: tindakan yang baik (Karma yang dharma) akan mencapai hasil optimal ketika dilaksanakan pada waktu yang tepat (Kāla yang tepat) sesuai dengan hukum alam semesta (Ṛta).

Dalam konteks ini, mengubah jadwal Pecaruan dari yang semestinya pada Tilem Kesanga menjadi Purwaning Tilem Kesanga menimbulkan pertanyaan filosofis yang mendasar: apakah Kāla (waktu) yang diusulkan tersebut telah beresonansi dengan irama kosmos? Apakah pergeseran satu hari tersebut masih memenuhi syarat kesesuaian dengan Ṛta? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan pertimbangan pragmatis semata, melainkan memerlukan refleksi mendalam tentang hakikat hubungan antara manusia dan kosmos.

Wariga mengajarkan bahwa tanpa pemahaman waktu yang tepat, sebuah upacara bisa kehilangan makna sakralnya karena tidak beresonansi dengan irama kosmos. Ritual yang dilaksanakan pada waktu yang tidak tepat ibarat orkestra yang memainkan simfoni dengan tempo yang keliru, secara teknis mungkin benar, tetapi kehilangan harmoni dan keindahan yang seharusnya dihasilkan. Demikian pula, Pecaruan yang dilaksanakan di luar momentum kosmik yang tepat mungkin secara prosedural terlaksana, tetapi efektivitas spiritual dan transformatifnya akan berkurang.

Lebih jauh lagi, pemahaman filosofis tentang Wariga membawa kita pada kesadaran eksistensial bahwa hidup sejatinya harus mengikuti irama kosmos: kapan bekerja, kapan beristirahat, kapan merayakan hidup, dan kapan melaksanakan ritual pemurnian. Eksistensi manusia selalu sudah terentang dalam horizon waktu, kita tidak bisa tidak berada dalam waktu. Wariga memberikan bahasa lokal pada refleksi universal ini: tanpa memahami waktu, manusia takkan pernah selaras dengan dunia.

Implikasi Praktis dan Pertimbangan Pengambilan Keputusan

Mengingat kompleksitas dimensi tekstual, astronomis, dan filosofis yang telah diuraikan, para pemangku kepentingan, tokoh agama, tokoh adat, dan pemangku jabatan, yang akan memutuskan persoalan waktu pelaksanaan Pecaruan perlu mempertimbangkan beberapa hal penting.

Pertama, setiap keputusan yang berdampak luas pada masyarakat harus didasarkan pada pemahaman yang komprehensif tentang fondasi filosofis Wariga, khususnya konsep Tri Adik. Perubahan tradisi yang telah berjalan berabad-abad tidak boleh dilakukan secara serampangan tanpa kajian mendalam tentang konsekuensi teologis, astronomis, dan filosofisnya.

Kedua, perlu ada kesadaran bahwa Wariga bukan sistem yang dapat dimodifikasi dengan mudah demi kepentingan pragmatis. Sebagai ilmu kosmik yang menyatukan manusia dengan ritme semesta, Wariga memiliki logika internalnya sendiri yang tidak dapat diabaikan tanpa risiko kehilangan makna sakral dan efektivitas spiritual dari ritual yang dilaksanakan.

Ketiga, otoritas tekstual dari lontar-lontar klasik harus tetap menjadi rujukan utama. Dalam tradisi keagamaan yang memiliki karakter tekstual kuat seperti Hindu Bali, penyimpangan dari ketentuan tekstual memerlukan justifikasi yang sangat kuat dan tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan pertimbangan praktis jangka pendek.

Pertimbangan Historis

Dalam kesempatan lain penting untuk mempertimbangkan kajian historis, dalam catatan Sugi Lanus yang dimuat oleh Tatkala.co mencatat sejarah perjalanan panjang mengenai ditetapkannya Tawur Agung ke Sanga sebagai berikut :


Tawur Kasangaberdasar tradisi kuno dilakukan pada hari Tilem Kasanga. Besoknya, penanggal apisan, sasih sasih kedasa, dilakukan Brata Penyepian, berdasarkan lontar Aji Swamandaladan lontar Panugrahan Bhatara Durgha ring Sri Jaya Kasunu (dikenal sebagai lontar Sri Jaya Kasunu) yang menjadi pedoman tradisi Tawur di Parahyangan Besakih.

  • Pesamuan Agung II (9 Maret 1960): 

Diadakan di Balai Masyarakat Denpasar, pesamuan menetapkan bahwa berdasarkan lontar Sundarigama, Nyepi jatuh tepat pada Tilem Kesanga. Upacara Bhuta Yadnya (Pangerupukan) dilakukan sehari sebelumnya, dan Ngembak dilakukan sehari setelahnya.

  • Perubahan Tradisi (1960–1982): 

Selama periode ini 1960–1982, pelaksanaan Nyepi mengikuti “tafsir baru” tersebut, yang berbeda dari tradisi kuno.

  • Seminar Kesatuan Tafsir (13 Januari 1983): 

Keputusan tahun 1960 tersebut direvisi kembali dalam ‘Seminar Kesatuan Tafsir Denpasar’, 13 Januari 1983. Hasil seminar ini kemudian diterbitkan sebagai HIMPUNAN KEPUTUSAN SEMINAR KESATUAN TAFSIR TERHADAP ASPEK-ASPEK AGAMA HINDU I–IXoleh PHDI Pusat tertanggal 27 Januari 1983. Pelaksanaan Nyepi dikembalikan ke tradisi lama.

Nyepi sekarang dirayakan seperti sediakala, telah sesuai tradisi kuno, yaitu: Tawur Kesanga dilaksanakan pada hari Tilem, dan Nyepi dilaksanakan sehari setelah Tilem (Pananggal Apisan Sasih Kedasa).

Perubahan pada Pesamuan Agung II (9 Maret 1960) dinilai lemah karena hanya berdasarkan tafsir satu sumber (Lontar Sundarigama) yang secara linguistik dan isi tergolong literatur baru, sehingga diputuskan untuk kembali ke akar tradisi yang lebih tua. Lontar inipun bukan lontar pedoman Tawur yang dipakai dalam tradisi Parahyangan Besakih sebagaimana lontar Aji Swamandaladan lontar Sri Jaya Kasunu.

Penutup

Pelaksanaan Pecaruan pada Tilem Kesanga bukanlah ketentuan arbitrer yang dapat diubah sesuai dengan kenyamanan atau kepraktisan semata. Ketentuan ini memiliki fondasi yang kokoh pada tiga dimensi: otoritas tekstual dari lontar-lontar klasik yang menetapkan waktu tersebut secara eksplisit; justifikasi astronomis yang menunjukkan bahwa Tilem Kesanga adalah momentum kosmik ketika terjadi konvergensi antara fase lunar dan posisi solar yang optimal; serta landasan filosofis yang mengajarkan pentingnya kesesuaian antara tindakan manusia (Karma) dengan waktu yang tepat (Kāla) sesuai dengan hukum alam semesta (Ṛta).

Wacana untuk menggeser waktu pelaksanaan ke Purwaning Tilem Kesanga perlu dikaji dengan sangat hati-hati, mengingat implikasi teologis, kosmologis, dan filosofisnya yang mendalam. Keputusan untuk mengubah tradisi yang telah berjalan berabad-abad tidak boleh dilakukan tanpa kajian komprehensif yang melibatkan pemahaman mendalam tentang sistem Wariga sebagai ilmu harmoni kosmik.

Pada akhirnya, pertanyaan yang harus dijawab bukan sekadar “bisakah kita mengubah waktu pelaksanaan?” melainkan “haruskah kita mengubah apa yang telah terbukti efektif secara spiritual dan selaras dengan ritme kosmos selama berabad-abad?” Jawaban terhadap pertanyaan ini memerlukan kebijaksanaan yang mendalam, pemahaman yang komprehensif tentang tradisi, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa tidak semua yang tampak praktis dalam perspektif modern sejalan dengan kebijaksanaan kosmik yang telah diwariskan oleh para pendahulu. [T]

Daftar Referensi Akademik

Putra Manik Aryana,I.B.(2005) Wariga Dasar. UNHI Fakultas Ilmu Agama. Denpasar.

Putra Manik Aryana,I.B.(2009) Tenung Wariga. Bali Aga. Denpasar.

Sudarsana, I. K. (2016). Wariga dan Harmoni Kosmik dalam Tradisi Bali. Denpasar: Universitas Hindu Indonesia Press.

Suarioka,Ida Kade, (2023). Tika dan Wariga Bali : Yayasan Puri Kauhan Ubud Gianyar.

Suarioka,Ida Kade, (2025). WARIGA : Kosmologi waktu dan Etika Kosmis Bali:Sarwa Tattwa Pustaka,  Abiansemal, Badung.

Diakses pada 1 Januari 2026 dari https://tatkala.co/author/sugi-lanus/

Daftar Lontar Pendukung

  1. Lontar  Sri Aji Jaya Kasunu, Pusat Dokumentasi Budaya Bali Denpasar).
    – Memuat ajaran dasar tentang keteraturan waktu (sasih, rahina) dan pentingnya sinkronisasi manusia dengan ritme jagat.
  2. Lontar Purwana Tattwa Wariga, ( Pusat Dokumentasi Budaya Bali Denpasar).
    – Menyediakan aturan mengenai dewasa ayu dan larangan-larangan kosmik
  3. Lontar Bhagawan Garga ( Pusat Dokumentasi Budaya Bali Denpasar).
    – Menyajikan kosmologi mikrokosmos-makrokosmos, integrasi astrologi Jyotiṣa dengan budaya Bali.

Penulis: Ida Kade Suarioka
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliHari Raya Nyepitilem kasangatradisi nyepi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jeda di Secangkir Kopi

Next Post

Desa Wisata atau Wisata Desa Menjamur, Benarkah Kelatahan Pariwisata?

Ida Kade Suarioka

Ida Kade Suarioka

Akademisi UNHI Denpasar

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Desa Wisata atau Wisata Desa Menjamur, Benarkah Kelatahan Pariwisata?

Desa Wisata atau Wisata Desa Menjamur, Benarkah Kelatahan Pariwisata?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co