23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Etika Pemimpin Menghadapi Krisis —Catatan tentang ‘Dasa Sila’ dalam Geguritan Tamtam

Luh Yesi Candrika by Luh Yesi Candrika
December 31, 2025
in Esai
Etika Pemimpin Menghadapi Krisis —Catatan tentang ‘Dasa Sila’ dalam Geguritan Tamtam

Lukisan gaya tradisional Keliki karya I Wayan Ariana dalam pameran di Kulidan Kitchen, Gianyar, Bali pada akhir Juni 2017. | Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Persimpangan antara Kecerdasan dan Kebijaksanaan

Salah satu indikator intelektualitas seorang pemimpin tercermin dari gelar akademik yang tertera di atas kertas. Pencapaian tersebut tentu patut disambut baik, mengingat proses untuk mencapainya tidaklah mudah. Banyak waktu dan tenaga yang telah tercurah demi memperoleh pengetahuan yang mendalam dan melimpah. Hingga akhirnya dapat disebut sebagai pemimpin yang cerdas atau intelek.

Namun, fenomenanya seringkali kecerdasan tersebut tidak disertai dengan kebijaksanaan. Faktanya, kasus korupsi terjadi dimana-mana. Dari mulai pungutan liar di jalanan hingga pencurian besar-besaran dilakukan oleh pemimpin yang duduk di kursi jabatan. Belum hilang dari ingatan, melalui website resmi Sekretariat Kabinet Indonesia pada bulan Oktober lalu, negara telah menyita uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 13,25 triliun dari tangan kotor para koruptor. Peristiwa ini menjadi bukti nyata adanya tindakan pelanggaran hukum berat di negeri ini. Tidak diketahui secara pasti berapa banyak pihak yang terlibat dan berapa lama perilaku amoral tersebut berlangsung, hingga kerugian negara mencapai angka yang begitu fantastis.

Banyak pemimpin yang duduk di kursi jabatan berdiri di garis terdepan ketika anggotanya mengalami kesulitan. Saat bencana datang seperti banjir, tanah longsor, dan peristiwa lainnya seperti benang kusut pengelolaan sampah. Ada pemimpin yang turun langsung ke masyarakat untuk menunjukkan kepeduliannya sehingga solusi atas peliknya situasi segera didapatkan. Namun, tidak sedikit pula pemimpin yang justru tetap duduk di kursi jabatannya, menjaga jarak dari penderitaan anggotanya, dan memilih aman dalam kenyamanan kekuasaan. Bahkan, alih-alih melakukan introspeksi diri (mulat sarira) atas musibah yang terjadi, tidak jarang pemimpin malah terjebak dalam manipulasi, memutarbalikkan fakta demi menjaga citra dan kekuasaan. Seperti izin-izin tambang yang menggunduli hutan-hutan secara membabi buta, seolah bukan berasal dari pemimpin-pemimpin yang duduk di kursi jabatan pemerintah.

Greenpeace Indonesia (23/12/2025), sebagai organisasi internasional yang bergerak dibidang perlindungan lingkungan hidup dan perdamaian terkait dengan bencana yang menimpa wilayah Sumatera, mencatat bahwa daerah aliran sungai dan hutan alam yang seharusnya menjadi penyangga terbaik telah dirusak oleh izin-izin industri ekstraktif selama puluhan tahun. Ketika curah hujan ekstrem akibat Siklon Senyar datang, sistem itu runtuh dan gagal mencegah korban jiwa serta kerusakan besar. Pemimpin yang mengeluarkan izin tersebut seolah menghindari kejujuran batin dan justru menjauh dari tanggung jawab moralnya, bahwa kekuasaan sejatinya tanggung jawab etis kepada masyarakat. Bangsa Indonesia tidak kekurangan pemimpin yang hebat dan cerdas.

Namun, apakah nilai-nilai kepemimpinan sebagai dengan dasar etika, empati, dan rasa keadilan telah dijalankan? Lalu solusi apakah yang ditawarkan oleh sastra untuk menjawab persoalan tersebut?

Kompetisi Para Raja dalam Geguritan Tamtam

Kompetisi bagi calon-calon pemimpin merupakan salah satu cara untuk menakar sejauh mana kompetensi yang dimilikinya, sehingga layak disebut pemimpin dan menempati kursi jabatan tertinggi. Konsep kompetisi bagi seorang pemimpin termuat dalam Geguritan Tamtam yang menggambarkan ujian dan persaingan di antara para raja sebagai sarana penentuan kepemimpinan. Suatu hari raja di negeri Mesir, Raja Basukesti memiliki seorang putri yang bernama Adnyaswari. Ia merupakan putri raja yang tidak hanya cantik, tetapi juga cerdas dan bijaksana. Kemampuan Putri Adnyaswari tersebut diperoleh dari hasil perguruannya di Trena Windu (Trena Windu Bagawanta).

Berbagai pengetahuan dikuasai oleh Putri Adnyaswari, yaitu Kanda (bagian-bagian dari Epos Ramayana), Pancasila, pengetahuan Kesiwaan, (putusing astéka swari), serta Tri Guna (tiga sifat dasar manusia). Raja Basukesti sangat bangga karena memiliki putri yang utama. Ia lalu memanggil seluruh patih berkumpul dan membicarakan Sang putri, agar dikenal di seluruh dunia. Raja pun memutuskan untuk mengadakan sayembara (sewambara) dengan mengadu kepandaian dan bertanding setiap hari (ngadu kawruh mapetuk salemah-lemah; Sinom I, bait 22).  Selain itu, raja berjanji bahwa siapa pun yang kalah akan dijadikan bawahannya, sementara yang menang akan dijadikan raja untuk menggantikannya dan menikahi sang putri (asing kalah kakodagang, yaning menang mangagungin, katuran putri utama; Sinom I, bait 23). Kecantikan dan kecerdasan Putri Adnyaswari tersiar ke seluruh penjuru negeri, sehingga para raja di wilayah Asia (gégér umung raja Asia; Sinom I, bait 25) ingin melawan sang putri dan pergi ke Negara Mesir.

Raja yang pertama kali datang berasal dari Utara bernama Prabu Siliwangi. Saat berhadapan dengan Putri Adnyaswari pikirannya menjadi terhanyut karena kecantikannya. Pertanyaan Prabu Siliwangi, mampu dijawab oleh Putri Adnyaswari dengan baik. Hal itu membuat raja tertunduk dan mengaku kalah. Selanjutnya Raja Kanda Bumi yang berasal dari Wayabiya datang menghadap. Raja yang berparas tampan itu secara langsung mengakui dirinya tidak bisa bersastra dan hanya berpasrah diri. Ucapannya itu kemudian membuat semua undangan yang hadir tertawa dan raja tersebut dinyatakan telah gagal. Raja yang ketiga yaitu Raja Burbumi dari Negara Rum. Raja tersebut mengajak dua puluh orang pendeta dan pertapa beserta dengan murid-muridnya. Ia memasang guna-guna dan doa-doa tidak putus dilantunkan agar mendapatkan kemenangan dan kekuasaan. Namun, Putri Adnyaswari dikisahkan mengetahui daya tersebut. Saat berhadapan langsung dengan putri Negeri Mesir itu, tiba-tiba Raja Burbumi menjadi gelisah, terpesona, hingga tak berkedip karena dikuasai nafsu asmara. Raja dari Negeri Rum tersebut tidak mampu menjawab pertanyaan dari Putri Adnyaswari. Ia pun pergi tanpa permisi.

Raja keempat yang hadir yaitu Raja Gilingwesi dari Kerajaan Daksina. Dikisahkan bahwa Raja di Kerajaan Gilingwesi memiliki rakyat yang sangat banyak. Harta kekayaannya sangat melimpah, terutama di wilayah pesisir. Ia telah melihat langsung kekalahan dari para raja lainnya. Sang raja yang merasa dirinya kurang berpengetahuan itu, merasa akan menemui kekalahan dan dipermalukan. Setelah ia berdiskusi degan rakyatnya, raja dari Daksina itu memilih mundur. Keputusan itu dicemooh oleh para undangan yang datang karena belum berperang sudah kalah. Kemudian, seorang raja tua dari Tanah Hindu juga dikisahkan berada di tempat sayembara. Kehadirannya di sana bukan untuk beradu kebijaksanaan karena sang raja dikisahkan telah sempurna dalam pelajaran sastra dan agama. Ia menjadi saksi dari kompetisi yang luar biasa itu. Selanjutnya, datanglah Raja Kagapati yang berasal dari Kerajaan Pascima. Raja tersebut datang dengan guna-guna dengan jimat yang dirajah. Ia juga mengenakan ikat pinggang Arjuna dan hiasan kepala.

Saat keduanya saling bertatap, Putri Adnyaswari berkata-kata manis sehingga raja dari Kerajaan Pascima merasa sang putri telah menyerah kalah. Hal itu membuat Raja Kagapati jumawa lalu kehilangan konsentrasi dan berperilaku aneh. Seolah guna-guna dan segala mantra yang digunakannya berbalik arah dan menyerangnya. Perilakunya seperti orang gila sehingga ia pun dan seluruh pengiringnya kembali pulang. Lalu datanglah menghadap seorang raja dari wilayah Timur Laut yang bernama Raja Kasipura. Saat bertemu dang Putri Adnyaswari, ia justru berharap dapat diangkat sebagai murid. Ia memohon nasehat dan tuntunan hidup. Setelah mendapatkan banyak pengetahuan dan ajaran suci, Raja Kasipura tersebut merasa tercerahkan, lalu mohon diri untuk pamit. Tibalah selanjutnya giliran menghadap, yaitu Raja Nariti dari Ersania. Raja tersebut juga pada akhirnya memilih mundur dan menyerah.

Berdasarkan kisah di atas menunjukkan bahwa, sayembara yang diadakan oleh Raja Basukesti bukanlah kompetisi fisik melainkan ujian kebijaksanaan, pengendalian diri, dan kedalaman pengetahuan. Jika dikaitkan dengan konteks saat ini bahwa kepemimpinan yang ideal diukur dari kualitas batinnya. Bukan diukur dari kekayaan, jumlah pasukan, apalagi kekayaan. Sebagian besar kualitas para raja berdasarkan kisah di atas menunjukkan sifat-sifat dalam konsep Tri Guna yaitu tiga sifat dasar manusia yang terdiri dari Tamas, Rajas, dan Satwam. Sifat yang dominan menguasai para raja yang mengalami kekalahan dikuasai oleh sifat Rajas-Tamas. Sifat-sifat tersebut di antaranyanafsu karena ketertarikan pada kecantikan, ketidakmauan belajar dan pasrah tanpa usaha, ego sosial, ambisi kekuasaan melalui guna-guna dan manipulasi, serta kekuatan semu yang balik menghancurkan. Serta ada pula raja yang menunjukkan sifat Sattwam yang tidak kalah secara moral karena memilih jalan etis, meski tidak menjadi raja. Melalui kisah kompetisi para raja dalam Geguritan Tamtam dapat dimaknai, bahwa kepemimpinan tersebut lahir dari dominasi Sattwam, yakni kejernihan pikiran, pengendalian diri, dan ketulusan mengabdi pada kebenaran.

Tamtam: Laku Dharma dan Pengembaraan Menuju Ujian Kepemimpinan

Sosok Tamtam dalam Geguritan Tamtam dikisahkan berasal dari Negeri Brata (kocap saking pura Brata). Ia merupakan sosok laki-laki yang tampan dan memiliki kepribadian yang sederhana. Perilakunya sangat baik. Siang malam ia pergi berguru kepada para wiku. Saat hendak melakukan pengembaraan ke desa-desa, ayahnya berpesan agar ia senantiasa menjalankan kebenaran (dharma patut gugonin), tidak mengaku pintar dan iri hati (da mamokak iri hati), dan tidak menghina orang miskin (duleg kapin anak lacur).

Itu semua berasal dari perkataan sehingga sangat penting menjaga ucapan dalam pergaulan (ento metu saking bibih, ngawé musuh saking dabdab makruna). Sementara itu, penting juga untuk membatasi perbuatan sehingga tidak usil (rusit), merampok (mégal), maupun memaksa (makerida). Perkataan dan perbuatan bersumber dari pikiran. Apabila tidak dikendalikan maka akan mendatangkan kesedihan. Demikian pesan yang disampaikan ayahnya kepada Tamtam sebelum ia memulai pengembaraan. Suatu hari, kabar tentang kecantikan dan kecerdasan Putri Adnyaswari sampai ke telinga Tamtam. Putri dari Negeri Mesir tersebut juga dikenal karena keberhasilannya menaklukkan para raja di wilayah Asia melalui kebijaksanaan dan ketajaman ilmunya. Mengetahui hal tersebut Tamtam segera pulang dan memohon restu kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke Negeri Mesir dan mengadu kebijaksanaan dengan Putri Adnyaswari.

Tidak dikisahkan dalam perjalanan. Kini Tamtam telah tiba di Negeri Mesir. Setibanya di hadapan Raja Basukesti dan para undangan, Tamtam pun memperkenalkan diri sebagai orang dusun yang miskin. Raja lalu memanggil putrinya untuk menemui Tamtam. Saat berada di hadapan Tamtam, ia merasa kalah wibawanya. Putri Adnyaswari seolah mendapatkan firasat dan tanda-tanda akan kekalahannya. Tamtam kemudian berkata kepada Putri Adnyaswari, bahwa yang habislah yang akan ditanyakan (sané telas tunas titiang). Pertanyaan Tamtam kepada putri raja tersebut, yaitu apakah yang betul-betul bernama habis? (sané jati madan telas). Pertanyaan tersebut membuat Putri Adnyaswari terdiam dan meminta waktu tiga hari lamanya untuk berpikir. Tamtam kemudian diperkenankan untuk menginap di kerajaan.

Sang putri yang kebingungan kemudian masuk ke kamarnya. Ia merasa malu jika dikalahkan oleh rakyat. Suatu malam Putri Adnyaswari menjalankan daya upayanya dengan berhias anggun dan membawa minum-minuman. Ia pun berjalan dengan cepat dan diam-diam, lalu menuju ke tempat Tamtam menginap. Putri Adnyaswari mengetuk pintu dan memberi isyarat sehingga Tamtam mempersilahkan masuk. Sembari bercakap-cakap, sang putri menyuguhkan berbagai minuman pada Tamtam hingga membuatnya mabuk. Pada saat Tamtam hampir tidak sadarkan diri, Putri Adnyaswari bertanya tentang jawaban atas pertanyaan Tamtam mengenai isi dari yang habis. Pada akhirnya sang putri mengetahui jawabannya. Tamtam yang tiba-tiba sadar, lalu mengambil gelang sang putri dan menyembunyikannya.

Setelah tiga hari menginap di Kerajaan Mesir, kini saatnya Putri Adnyaswari memberikan jawaban di depan ayahnya dan seluruh undangan yang hadir. Dengan lantang putri menjawab pertanyaan Tamtam bahwa yang habis itu bernama awal (iku ngaraning kawitan). Itu utuh tidak berubah-ubah (iku langgeng nora obah), besar memenuhi dunia (agung mangebekin gumi), itu besar tetapi sangat kecil (nika agung paling alit), itu kosong namun berisi (ya ane suwung maisi), itu habis tetapi tetap ada (sane telah nu satuwuk), ada di tempat yang kecil(diceniké seleh sahi), itu adalah angan-angan pikiran(angen-angen ya upama). Mendengar jawaban sang putri semua orang bersorak dan Tamtam segera harus menerima hukuman. Namun, Tamtam menjelaskan kepada banyak orang bahwa ia telah mendapatkan gelang emas saat kupu-kupu datang ke kamarnya lalu meracunnya dengan minuman yang sangat enak. Raja Mesir menyadari bahwa gelang tersebut adalah milik putrinya. Hal itu membuat sang raja menjadi marah dan menyalahkan perbuatan putrinya tersebut sebagai perilaku yang tidak ksatria. Raja meminta putrinya untuk menyerah kalah.

Berdasarkan kisah di atas, Tamtam digambarkan sebagai sosok yang menjalani laku dharmadengan perilakunya yang sederhana, berguru kepada para wiku, menjaga ucapan, perbuatan, dan pikiran. Ini menegaskan bahwa kepemimpinan sejati tidak lahir dari ambisi kekuasaan, melainkan dari pembentukan karakter dan pengendalian diri. Nasihat Ayah Tamtam mencerminkan prinsip kepemimpinan etis, yaitu pemimpin wajib menjaga tutur kata, menahan keserakahan, dan tidak merendahkan kaum lemah. Pemimpin ideal dibentuk oleh disiplin batin, bukan oleh status sosial.

Lebih lanjut, saat tiba di Negeri Mesir, Tamtam justru memperkenalkan diri sebagai orang dusun yang miskin. Sikap ini menunjukkan kerendahan hati (ngandap kasor). Justru dari sikap inilah muncul wibawa yang membuat Putri Adnyaswari merasa kalah sebelum bertanding. Wibawa pemimpin tidak dibangun melalui pencitraan, melainkan melalui ketulusan dan integritas pribadi. Sementara itu, pertanyaan Tamtam mengenai “yang habis” dapat dimaknai sebagai filsafat ketuhanan (teologi-filosofis), khususnya dalam kerangka filsafat Hindu yang berkembang dalam tradisi Jawa Kuna dan Bali. Uraian itu bukan sekadar teka-teki, melainkan deskripsi simbolik tentang hakikat Tuhan (Siwa) dan relasinya dengan pikiran manusia.

Galungan, lukisan I Gusti Nyoman Darta

Dasa Sila: Etika Seorang Pemimpin dalam Geguritan Tamtam

Putri Adnyaswari mengakui kesalahan dan kekalahan pada dirinya karena telah melakukan tindakan tidak ksatria. Akan tetapi, ia mohon izin kepada ayahnya untuk mengajukan pertanyaan kepada Tamtam mengenai yang dimaksud dengan Yama dan Niyama. Tamtam kemudian menjawab pertanyaan tersebut, bahwa Yama dan Niyama merupakan isi dari ajaran Dasa Sila. Kata Dasa dalam bahasa Bali berarti sepuluh danSila berarti tingkah laku. Dengan demikian, Dasa Sila dapat dimaknai sebagai sepuluh pedoman tingkah laku yang menjadi landasan etika dalam kehidupan.

Lima bagian pertamanya disebut dengan Yama dan lima bagian berikutnya disebut dengan Niyama. Kesepuluh ajaran tersebut, yaitu; 1) Ahimsa yaitu tanpa kekerasan, baik pikiran, perkataan, maupun perbuatan, 2) Brahmacari yakni pengabdian pada pengetahuan, 3) Satya yaitu teguh pada kebenaran, 4) Awyawaharika yaitu mengusahakan kebenaran, 5) Asteya yaitu tidak menginginkan milik orang lain, 6) Sauca yaitu suci lahir batin, 7) Santosa merupakan perasaan puas dengan segala sesuatu yang telah dimiliki, 8) Tapa yaitu pengendalian diri, 9) Swadhaya yaitu perenungan/introspeksi diri, dan 10) Sanidhara yaitu penyerahan diri total (pada kebenaran) (Palguna, 2008: 132). Ajaran Dasa Sila juga disebutkan pada bagian pembuka karya sastra ini, yaitu “Bagi siapa saja yang mengabdikan diri pada pengetahuan hendaknya mengetahui tentang Dasa Sila” (manelebang kadiatmikan, dasa sila tatas sami; Sinom I bait 7). 

Raja Basukesti merupakan raja yang bijaksana dan setiap pada janjinya. Ia pun akhirnya mengakui kecerdasan dan kebijaksanaan Tamtam sehingga berhak menikahi putrinya. Setelah itu, ia pun dinobatkan sebagai raja dengan gelar Prabu Jayapurusha (I Tamtam kadegang mangkin, malih kagentosin parab, Jayapurusha kang nami; Sinom II bait 58). Raja Jayapurusha yang didampingi oleh Putri Adnyaswari memimpin secara adil, sehingga kerajaan menjadi makmur (teduh landuh ikang bumi; Sinom II, bait 59). Selain itu, raja-raja di wilayah Asia tersebut mengakui kecerdasaan dan kebijaksanaan Tamtam sebagai seorang pemimpin. Mereka pun berdatangan dan berguru kepadanya mengenai ajaran dharma (Prabhu Asia sami prapta, sumuyub nyadiayang maguru sami; Pangkur bait 1). Demikianlah sosok Prabu Jayapurusha yang memimpin Kerajaan Mesir dengan penuh kebijaksanaan. Sikap arifnya dalam menjalankan kepemimpinan tidak hanya menjadi teladan, tetapi juga memberi motivasi bagi orang-orang di sekitarnya.

Berdasarkan pada ajaran Dasa Sila yang diuraikan dalam Geguritan Tamtam di atas, dapat dipahami bahwa kepemimpinan ideal tidak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan intelektual, melainkan oleh kematangan etis dan spiritual. Seorang pemimpin dituntut untuk mampu mengendalikan diri, bersikap jujur, menjunjung nilai kemanusiaan, serta bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil demi kepentingan bersama. Geguritan Tamtam yang terdiri dari 269 bait pupuh (puisi berbahasa Kawi-Bali) tidak hanya menampilkan unsur estetik melalui keindahan bahasa dan ketepatan padalingsa, tetapi juga secara substansial memuat ajaran Dasa Sila sebagai landasan etik.

Nilai-nilai yang tercermin dalam Geguritan Tamtam sangat relevan untuk menjawab krisis kepemimpinan yang ditandai oleh penyalahgunaan kekuasaan, lemahnya empati sosial, dan abainya tanggung jawab etis. Kepemimpinan yang berlandaskan dharma, sebagaimana tercermin dalam karya sastra ini menegaskan, bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu mengendalikan diri, menjunjung kejujuran, dan mengabdikan kekuasaannya demi kemakmuran rakyat, bukan demi kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Sumber Bacaan:

Palguna, IBM Dharma. 2008. Leksikon Hindu. Lombok: Sadampaty Aksara.

Tim Penyusun. 1987. Geguritan Tamtam. Denpasar: Pemerintah Provinsi Bali.

Wijaya, I Nengah. 1980. Geguritan Tamtam Alih Aksara dan Alih Bahasa. Jakarta:           Departemen    Pendidikan dan Kebudayaan.

Tags: dasa silageguritangeguritan tamtampemimpinpemimpin bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjaga Denyut, Menyulam Harapan —Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

Next Post

TAWUR KESANGA PADA TILEM

Luh Yesi Candrika

Luh Yesi Candrika

Kerap menggunakan nama pena Candra Kanti. Ia sastrawan wanita yang karyanya berhasil menjadi karya sastra kidung terbaik. LahirI di Karangasem, kini menetap di Denpasar.

Related Posts

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails

Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

by Dede Putra Wiguna
August 18, 2026
0
Pasukan Berpeluh, Pejabat Berteduh

SETIAP kali upacara bendera dimulai, ada orang-orang yang berdiri di bawah matahari dan ada pula yang di bawah tenda. Yang...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TAWUR KESANGA PADA TILEM

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co