23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Etika Pemimpin Menghadapi Krisis —Catatan tentang ‘Dasa Sila’ dalam Geguritan Tamtam

Luh Yesi Candrika by Luh Yesi Candrika
December 31, 2025
in Esai
Etika Pemimpin Menghadapi Krisis —Catatan tentang ‘Dasa Sila’ dalam Geguritan Tamtam

Lukisan gaya tradisional Keliki karya I Wayan Ariana dalam pameran di Kulidan Kitchen, Gianyar, Bali pada akhir Juni 2017. | Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia

Persimpangan antara Kecerdasan dan Kebijaksanaan

Salah satu indikator intelektualitas seorang pemimpin tercermin dari gelar akademik yang tertera di atas kertas. Pencapaian tersebut tentu patut disambut baik, mengingat proses untuk mencapainya tidaklah mudah. Banyak waktu dan tenaga yang telah tercurah demi memperoleh pengetahuan yang mendalam dan melimpah. Hingga akhirnya dapat disebut sebagai pemimpin yang cerdas atau intelek.

Namun, fenomenanya seringkali kecerdasan tersebut tidak disertai dengan kebijaksanaan. Faktanya, kasus korupsi terjadi dimana-mana. Dari mulai pungutan liar di jalanan hingga pencurian besar-besaran dilakukan oleh pemimpin yang duduk di kursi jabatan. Belum hilang dari ingatan, melalui website resmi Sekretariat Kabinet Indonesia pada bulan Oktober lalu, negara telah menyita uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 13,25 triliun dari tangan kotor para koruptor. Peristiwa ini menjadi bukti nyata adanya tindakan pelanggaran hukum berat di negeri ini. Tidak diketahui secara pasti berapa banyak pihak yang terlibat dan berapa lama perilaku amoral tersebut berlangsung, hingga kerugian negara mencapai angka yang begitu fantastis.

Banyak pemimpin yang duduk di kursi jabatan berdiri di garis terdepan ketika anggotanya mengalami kesulitan. Saat bencana datang seperti banjir, tanah longsor, dan peristiwa lainnya seperti benang kusut pengelolaan sampah. Ada pemimpin yang turun langsung ke masyarakat untuk menunjukkan kepeduliannya sehingga solusi atas peliknya situasi segera didapatkan. Namun, tidak sedikit pula pemimpin yang justru tetap duduk di kursi jabatannya, menjaga jarak dari penderitaan anggotanya, dan memilih aman dalam kenyamanan kekuasaan. Bahkan, alih-alih melakukan introspeksi diri (mulat sarira) atas musibah yang terjadi, tidak jarang pemimpin malah terjebak dalam manipulasi, memutarbalikkan fakta demi menjaga citra dan kekuasaan. Seperti izin-izin tambang yang menggunduli hutan-hutan secara membabi buta, seolah bukan berasal dari pemimpin-pemimpin yang duduk di kursi jabatan pemerintah.

Greenpeace Indonesia (23/12/2025), sebagai organisasi internasional yang bergerak dibidang perlindungan lingkungan hidup dan perdamaian terkait dengan bencana yang menimpa wilayah Sumatera, mencatat bahwa daerah aliran sungai dan hutan alam yang seharusnya menjadi penyangga terbaik telah dirusak oleh izin-izin industri ekstraktif selama puluhan tahun. Ketika curah hujan ekstrem akibat Siklon Senyar datang, sistem itu runtuh dan gagal mencegah korban jiwa serta kerusakan besar. Pemimpin yang mengeluarkan izin tersebut seolah menghindari kejujuran batin dan justru menjauh dari tanggung jawab moralnya, bahwa kekuasaan sejatinya tanggung jawab etis kepada masyarakat. Bangsa Indonesia tidak kekurangan pemimpin yang hebat dan cerdas.

Namun, apakah nilai-nilai kepemimpinan sebagai dengan dasar etika, empati, dan rasa keadilan telah dijalankan? Lalu solusi apakah yang ditawarkan oleh sastra untuk menjawab persoalan tersebut?

Kompetisi Para Raja dalam Geguritan Tamtam

Kompetisi bagi calon-calon pemimpin merupakan salah satu cara untuk menakar sejauh mana kompetensi yang dimilikinya, sehingga layak disebut pemimpin dan menempati kursi jabatan tertinggi. Konsep kompetisi bagi seorang pemimpin termuat dalam Geguritan Tamtam yang menggambarkan ujian dan persaingan di antara para raja sebagai sarana penentuan kepemimpinan. Suatu hari raja di negeri Mesir, Raja Basukesti memiliki seorang putri yang bernama Adnyaswari. Ia merupakan putri raja yang tidak hanya cantik, tetapi juga cerdas dan bijaksana. Kemampuan Putri Adnyaswari tersebut diperoleh dari hasil perguruannya di Trena Windu (Trena Windu Bagawanta).

Berbagai pengetahuan dikuasai oleh Putri Adnyaswari, yaitu Kanda (bagian-bagian dari Epos Ramayana), Pancasila, pengetahuan Kesiwaan, (putusing astéka swari), serta Tri Guna (tiga sifat dasar manusia). Raja Basukesti sangat bangga karena memiliki putri yang utama. Ia lalu memanggil seluruh patih berkumpul dan membicarakan Sang putri, agar dikenal di seluruh dunia. Raja pun memutuskan untuk mengadakan sayembara (sewambara) dengan mengadu kepandaian dan bertanding setiap hari (ngadu kawruh mapetuk salemah-lemah; Sinom I, bait 22).  Selain itu, raja berjanji bahwa siapa pun yang kalah akan dijadikan bawahannya, sementara yang menang akan dijadikan raja untuk menggantikannya dan menikahi sang putri (asing kalah kakodagang, yaning menang mangagungin, katuran putri utama; Sinom I, bait 23). Kecantikan dan kecerdasan Putri Adnyaswari tersiar ke seluruh penjuru negeri, sehingga para raja di wilayah Asia (gégér umung raja Asia; Sinom I, bait 25) ingin melawan sang putri dan pergi ke Negara Mesir.

Raja yang pertama kali datang berasal dari Utara bernama Prabu Siliwangi. Saat berhadapan dengan Putri Adnyaswari pikirannya menjadi terhanyut karena kecantikannya. Pertanyaan Prabu Siliwangi, mampu dijawab oleh Putri Adnyaswari dengan baik. Hal itu membuat raja tertunduk dan mengaku kalah. Selanjutnya Raja Kanda Bumi yang berasal dari Wayabiya datang menghadap. Raja yang berparas tampan itu secara langsung mengakui dirinya tidak bisa bersastra dan hanya berpasrah diri. Ucapannya itu kemudian membuat semua undangan yang hadir tertawa dan raja tersebut dinyatakan telah gagal. Raja yang ketiga yaitu Raja Burbumi dari Negara Rum. Raja tersebut mengajak dua puluh orang pendeta dan pertapa beserta dengan murid-muridnya. Ia memasang guna-guna dan doa-doa tidak putus dilantunkan agar mendapatkan kemenangan dan kekuasaan. Namun, Putri Adnyaswari dikisahkan mengetahui daya tersebut. Saat berhadapan langsung dengan putri Negeri Mesir itu, tiba-tiba Raja Burbumi menjadi gelisah, terpesona, hingga tak berkedip karena dikuasai nafsu asmara. Raja dari Negeri Rum tersebut tidak mampu menjawab pertanyaan dari Putri Adnyaswari. Ia pun pergi tanpa permisi.

Raja keempat yang hadir yaitu Raja Gilingwesi dari Kerajaan Daksina. Dikisahkan bahwa Raja di Kerajaan Gilingwesi memiliki rakyat yang sangat banyak. Harta kekayaannya sangat melimpah, terutama di wilayah pesisir. Ia telah melihat langsung kekalahan dari para raja lainnya. Sang raja yang merasa dirinya kurang berpengetahuan itu, merasa akan menemui kekalahan dan dipermalukan. Setelah ia berdiskusi degan rakyatnya, raja dari Daksina itu memilih mundur. Keputusan itu dicemooh oleh para undangan yang datang karena belum berperang sudah kalah. Kemudian, seorang raja tua dari Tanah Hindu juga dikisahkan berada di tempat sayembara. Kehadirannya di sana bukan untuk beradu kebijaksanaan karena sang raja dikisahkan telah sempurna dalam pelajaran sastra dan agama. Ia menjadi saksi dari kompetisi yang luar biasa itu. Selanjutnya, datanglah Raja Kagapati yang berasal dari Kerajaan Pascima. Raja tersebut datang dengan guna-guna dengan jimat yang dirajah. Ia juga mengenakan ikat pinggang Arjuna dan hiasan kepala.

Saat keduanya saling bertatap, Putri Adnyaswari berkata-kata manis sehingga raja dari Kerajaan Pascima merasa sang putri telah menyerah kalah. Hal itu membuat Raja Kagapati jumawa lalu kehilangan konsentrasi dan berperilaku aneh. Seolah guna-guna dan segala mantra yang digunakannya berbalik arah dan menyerangnya. Perilakunya seperti orang gila sehingga ia pun dan seluruh pengiringnya kembali pulang. Lalu datanglah menghadap seorang raja dari wilayah Timur Laut yang bernama Raja Kasipura. Saat bertemu dang Putri Adnyaswari, ia justru berharap dapat diangkat sebagai murid. Ia memohon nasehat dan tuntunan hidup. Setelah mendapatkan banyak pengetahuan dan ajaran suci, Raja Kasipura tersebut merasa tercerahkan, lalu mohon diri untuk pamit. Tibalah selanjutnya giliran menghadap, yaitu Raja Nariti dari Ersania. Raja tersebut juga pada akhirnya memilih mundur dan menyerah.

Berdasarkan kisah di atas menunjukkan bahwa, sayembara yang diadakan oleh Raja Basukesti bukanlah kompetisi fisik melainkan ujian kebijaksanaan, pengendalian diri, dan kedalaman pengetahuan. Jika dikaitkan dengan konteks saat ini bahwa kepemimpinan yang ideal diukur dari kualitas batinnya. Bukan diukur dari kekayaan, jumlah pasukan, apalagi kekayaan. Sebagian besar kualitas para raja berdasarkan kisah di atas menunjukkan sifat-sifat dalam konsep Tri Guna yaitu tiga sifat dasar manusia yang terdiri dari Tamas, Rajas, dan Satwam. Sifat yang dominan menguasai para raja yang mengalami kekalahan dikuasai oleh sifat Rajas-Tamas. Sifat-sifat tersebut di antaranyanafsu karena ketertarikan pada kecantikan, ketidakmauan belajar dan pasrah tanpa usaha, ego sosial, ambisi kekuasaan melalui guna-guna dan manipulasi, serta kekuatan semu yang balik menghancurkan. Serta ada pula raja yang menunjukkan sifat Sattwam yang tidak kalah secara moral karena memilih jalan etis, meski tidak menjadi raja. Melalui kisah kompetisi para raja dalam Geguritan Tamtam dapat dimaknai, bahwa kepemimpinan tersebut lahir dari dominasi Sattwam, yakni kejernihan pikiran, pengendalian diri, dan ketulusan mengabdi pada kebenaran.

Tamtam: Laku Dharma dan Pengembaraan Menuju Ujian Kepemimpinan

Sosok Tamtam dalam Geguritan Tamtam dikisahkan berasal dari Negeri Brata (kocap saking pura Brata). Ia merupakan sosok laki-laki yang tampan dan memiliki kepribadian yang sederhana. Perilakunya sangat baik. Siang malam ia pergi berguru kepada para wiku. Saat hendak melakukan pengembaraan ke desa-desa, ayahnya berpesan agar ia senantiasa menjalankan kebenaran (dharma patut gugonin), tidak mengaku pintar dan iri hati (da mamokak iri hati), dan tidak menghina orang miskin (duleg kapin anak lacur).

Itu semua berasal dari perkataan sehingga sangat penting menjaga ucapan dalam pergaulan (ento metu saking bibih, ngawé musuh saking dabdab makruna). Sementara itu, penting juga untuk membatasi perbuatan sehingga tidak usil (rusit), merampok (mégal), maupun memaksa (makerida). Perkataan dan perbuatan bersumber dari pikiran. Apabila tidak dikendalikan maka akan mendatangkan kesedihan. Demikian pesan yang disampaikan ayahnya kepada Tamtam sebelum ia memulai pengembaraan. Suatu hari, kabar tentang kecantikan dan kecerdasan Putri Adnyaswari sampai ke telinga Tamtam. Putri dari Negeri Mesir tersebut juga dikenal karena keberhasilannya menaklukkan para raja di wilayah Asia melalui kebijaksanaan dan ketajaman ilmunya. Mengetahui hal tersebut Tamtam segera pulang dan memohon restu kepada kedua orang tuanya untuk pergi ke Negeri Mesir dan mengadu kebijaksanaan dengan Putri Adnyaswari.

Tidak dikisahkan dalam perjalanan. Kini Tamtam telah tiba di Negeri Mesir. Setibanya di hadapan Raja Basukesti dan para undangan, Tamtam pun memperkenalkan diri sebagai orang dusun yang miskin. Raja lalu memanggil putrinya untuk menemui Tamtam. Saat berada di hadapan Tamtam, ia merasa kalah wibawanya. Putri Adnyaswari seolah mendapatkan firasat dan tanda-tanda akan kekalahannya. Tamtam kemudian berkata kepada Putri Adnyaswari, bahwa yang habislah yang akan ditanyakan (sané telas tunas titiang). Pertanyaan Tamtam kepada putri raja tersebut, yaitu apakah yang betul-betul bernama habis? (sané jati madan telas). Pertanyaan tersebut membuat Putri Adnyaswari terdiam dan meminta waktu tiga hari lamanya untuk berpikir. Tamtam kemudian diperkenankan untuk menginap di kerajaan.

Sang putri yang kebingungan kemudian masuk ke kamarnya. Ia merasa malu jika dikalahkan oleh rakyat. Suatu malam Putri Adnyaswari menjalankan daya upayanya dengan berhias anggun dan membawa minum-minuman. Ia pun berjalan dengan cepat dan diam-diam, lalu menuju ke tempat Tamtam menginap. Putri Adnyaswari mengetuk pintu dan memberi isyarat sehingga Tamtam mempersilahkan masuk. Sembari bercakap-cakap, sang putri menyuguhkan berbagai minuman pada Tamtam hingga membuatnya mabuk. Pada saat Tamtam hampir tidak sadarkan diri, Putri Adnyaswari bertanya tentang jawaban atas pertanyaan Tamtam mengenai isi dari yang habis. Pada akhirnya sang putri mengetahui jawabannya. Tamtam yang tiba-tiba sadar, lalu mengambil gelang sang putri dan menyembunyikannya.

Setelah tiga hari menginap di Kerajaan Mesir, kini saatnya Putri Adnyaswari memberikan jawaban di depan ayahnya dan seluruh undangan yang hadir. Dengan lantang putri menjawab pertanyaan Tamtam bahwa yang habis itu bernama awal (iku ngaraning kawitan). Itu utuh tidak berubah-ubah (iku langgeng nora obah), besar memenuhi dunia (agung mangebekin gumi), itu besar tetapi sangat kecil (nika agung paling alit), itu kosong namun berisi (ya ane suwung maisi), itu habis tetapi tetap ada (sane telah nu satuwuk), ada di tempat yang kecil(diceniké seleh sahi), itu adalah angan-angan pikiran(angen-angen ya upama). Mendengar jawaban sang putri semua orang bersorak dan Tamtam segera harus menerima hukuman. Namun, Tamtam menjelaskan kepada banyak orang bahwa ia telah mendapatkan gelang emas saat kupu-kupu datang ke kamarnya lalu meracunnya dengan minuman yang sangat enak. Raja Mesir menyadari bahwa gelang tersebut adalah milik putrinya. Hal itu membuat sang raja menjadi marah dan menyalahkan perbuatan putrinya tersebut sebagai perilaku yang tidak ksatria. Raja meminta putrinya untuk menyerah kalah.

Berdasarkan kisah di atas, Tamtam digambarkan sebagai sosok yang menjalani laku dharmadengan perilakunya yang sederhana, berguru kepada para wiku, menjaga ucapan, perbuatan, dan pikiran. Ini menegaskan bahwa kepemimpinan sejati tidak lahir dari ambisi kekuasaan, melainkan dari pembentukan karakter dan pengendalian diri. Nasihat Ayah Tamtam mencerminkan prinsip kepemimpinan etis, yaitu pemimpin wajib menjaga tutur kata, menahan keserakahan, dan tidak merendahkan kaum lemah. Pemimpin ideal dibentuk oleh disiplin batin, bukan oleh status sosial.

Lebih lanjut, saat tiba di Negeri Mesir, Tamtam justru memperkenalkan diri sebagai orang dusun yang miskin. Sikap ini menunjukkan kerendahan hati (ngandap kasor). Justru dari sikap inilah muncul wibawa yang membuat Putri Adnyaswari merasa kalah sebelum bertanding. Wibawa pemimpin tidak dibangun melalui pencitraan, melainkan melalui ketulusan dan integritas pribadi. Sementara itu, pertanyaan Tamtam mengenai “yang habis” dapat dimaknai sebagai filsafat ketuhanan (teologi-filosofis), khususnya dalam kerangka filsafat Hindu yang berkembang dalam tradisi Jawa Kuna dan Bali. Uraian itu bukan sekadar teka-teki, melainkan deskripsi simbolik tentang hakikat Tuhan (Siwa) dan relasinya dengan pikiran manusia.

Galungan, lukisan I Gusti Nyoman Darta

Dasa Sila: Etika Seorang Pemimpin dalam Geguritan Tamtam

Putri Adnyaswari mengakui kesalahan dan kekalahan pada dirinya karena telah melakukan tindakan tidak ksatria. Akan tetapi, ia mohon izin kepada ayahnya untuk mengajukan pertanyaan kepada Tamtam mengenai yang dimaksud dengan Yama dan Niyama. Tamtam kemudian menjawab pertanyaan tersebut, bahwa Yama dan Niyama merupakan isi dari ajaran Dasa Sila. Kata Dasa dalam bahasa Bali berarti sepuluh danSila berarti tingkah laku. Dengan demikian, Dasa Sila dapat dimaknai sebagai sepuluh pedoman tingkah laku yang menjadi landasan etika dalam kehidupan.

Lima bagian pertamanya disebut dengan Yama dan lima bagian berikutnya disebut dengan Niyama. Kesepuluh ajaran tersebut, yaitu; 1) Ahimsa yaitu tanpa kekerasan, baik pikiran, perkataan, maupun perbuatan, 2) Brahmacari yakni pengabdian pada pengetahuan, 3) Satya yaitu teguh pada kebenaran, 4) Awyawaharika yaitu mengusahakan kebenaran, 5) Asteya yaitu tidak menginginkan milik orang lain, 6) Sauca yaitu suci lahir batin, 7) Santosa merupakan perasaan puas dengan segala sesuatu yang telah dimiliki, 8) Tapa yaitu pengendalian diri, 9) Swadhaya yaitu perenungan/introspeksi diri, dan 10) Sanidhara yaitu penyerahan diri total (pada kebenaran) (Palguna, 2008: 132). Ajaran Dasa Sila juga disebutkan pada bagian pembuka karya sastra ini, yaitu “Bagi siapa saja yang mengabdikan diri pada pengetahuan hendaknya mengetahui tentang Dasa Sila” (manelebang kadiatmikan, dasa sila tatas sami; Sinom I bait 7). 

Raja Basukesti merupakan raja yang bijaksana dan setiap pada janjinya. Ia pun akhirnya mengakui kecerdasan dan kebijaksanaan Tamtam sehingga berhak menikahi putrinya. Setelah itu, ia pun dinobatkan sebagai raja dengan gelar Prabu Jayapurusha (I Tamtam kadegang mangkin, malih kagentosin parab, Jayapurusha kang nami; Sinom II bait 58). Raja Jayapurusha yang didampingi oleh Putri Adnyaswari memimpin secara adil, sehingga kerajaan menjadi makmur (teduh landuh ikang bumi; Sinom II, bait 59). Selain itu, raja-raja di wilayah Asia tersebut mengakui kecerdasaan dan kebijaksanaan Tamtam sebagai seorang pemimpin. Mereka pun berdatangan dan berguru kepadanya mengenai ajaran dharma (Prabhu Asia sami prapta, sumuyub nyadiayang maguru sami; Pangkur bait 1). Demikianlah sosok Prabu Jayapurusha yang memimpin Kerajaan Mesir dengan penuh kebijaksanaan. Sikap arifnya dalam menjalankan kepemimpinan tidak hanya menjadi teladan, tetapi juga memberi motivasi bagi orang-orang di sekitarnya.

Berdasarkan pada ajaran Dasa Sila yang diuraikan dalam Geguritan Tamtam di atas, dapat dipahami bahwa kepemimpinan ideal tidak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan intelektual, melainkan oleh kematangan etis dan spiritual. Seorang pemimpin dituntut untuk mampu mengendalikan diri, bersikap jujur, menjunjung nilai kemanusiaan, serta bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil demi kepentingan bersama. Geguritan Tamtam yang terdiri dari 269 bait pupuh (puisi berbahasa Kawi-Bali) tidak hanya menampilkan unsur estetik melalui keindahan bahasa dan ketepatan padalingsa, tetapi juga secara substansial memuat ajaran Dasa Sila sebagai landasan etik.

Nilai-nilai yang tercermin dalam Geguritan Tamtam sangat relevan untuk menjawab krisis kepemimpinan yang ditandai oleh penyalahgunaan kekuasaan, lemahnya empati sosial, dan abainya tanggung jawab etis. Kepemimpinan yang berlandaskan dharma, sebagaimana tercermin dalam karya sastra ini menegaskan, bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu mengendalikan diri, menjunjung kejujuran, dan mengabdikan kekuasaannya demi kemakmuran rakyat, bukan demi kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Sumber Bacaan:

Palguna, IBM Dharma. 2008. Leksikon Hindu. Lombok: Sadampaty Aksara.

Tim Penyusun. 1987. Geguritan Tamtam. Denpasar: Pemerintah Provinsi Bali.

Wijaya, I Nengah. 1980. Geguritan Tamtam Alih Aksara dan Alih Bahasa. Jakarta:           Departemen    Pendidikan dan Kebudayaan.

Tags: dasa silageguritangeguritan tamtampemimpinpemimpin bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjaga Denyut, Menyulam Harapan —Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

Next Post

TAWUR KESANGA PADA TILEM

Luh Yesi Candrika

Luh Yesi Candrika

Kerap menggunakan nama pena Candra Kanti. Ia sastrawan wanita yang karyanya berhasil menjadi karya sastra kidung terbaik. LahirI di Karangasem, kini menetap di Denpasar.

Related Posts

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails

‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

by Pande Susan
June 18, 2026
0
‘Lamak’ dan ‘Maceniga’:Tantangan Praktik Budaya di Tengah Modernitas

SAAT matahari mulai menuju satu garis lurus di atas kepala, derau ritmis mengisi ruang di bawah atap Bale Daja rumahku...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TAWUR KESANGA PADA TILEM

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026
Lubang | Cerpen Asmaran Dani
Cerpen

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

by Asmaran Dani
June 21, 2026
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi
Puisi

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

by Mahesa Putra
June 21, 2026
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045
Esai

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

by Dewa Rhadea
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co