4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjaga Denyut, Menyulam Harapan —Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
December 31, 2025
in Esai
Menjaga Denyut, Menyulam Harapan —Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

I Gusti Made Darma Putra

SAYA memulai refleksi ini dengan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada Jro Bendesa Adat Kuta beserta seluruh Prajuru Desa Adat Kuta. Bagi saya, mereka bukan hanya pemangku kebijakan adat, melainkan penjaga arah dan ritme kebudayaan di tengah kompleksitas Kuta sebagai pusat pariwisata dunia. Keberpihakan Desa Adat salah satunya terhadap seni tidak berhenti pada dukungan acara, tetapi terwujud dalam kesadaran untuk menjaga denyut kebudayaan agar tetap hidup dari hari ke hari. Di sinilah saya melihat fondasi utama ekosistem seni Kuta, kepemimpinan adat yang memahami bahwa seni adalah napas desa, bukan sekadar agenda tahunan.

Dokumentasi : Instagram Sabha Yowana Desa Adat Kuta 2025

Desa Adat Kuta: Pariwisata yang Bertumbuh dari Seni

 Sebagai seseorang yang lahir dan bertumbuh di Kuta serta mengabdikan  produktifitas dalam dunia Seni, saya menyaksikan bahwa Kuta, meskipun dikenal sebagai sentral wisata, tidak pernah kehilangan jiwanya. Justru karena seni terus dirawat, pariwisata di Kuta memiliki karakter dan kedalaman. Seni menjadi poros utama yang memberi pengalaman kultural, sebuah daya tarik yang tidak dibuat-buat, tetapi lahir dari kehidupan masyarakat itu sendiri. Dalam keseharian inilah saya melihat ekosistem seni berjalan secara alami, seni tidak diciptakan demi pariwisata, melainkan pariwisata tumbuh karena seni tetap hidup di tengah masyarakat.

Sepanjang tahun 2025, aktivitas seni di Desa Adat Kuta berlangsung secara berlapis dan berkesinambungan. Apa yang tampak dalam kalender kegiatan sesungguhnya hanyalah puncak dari proses panjang yang berjalan setiap hari. Sanggar-sanggar seni terus berdenyut melalui latihan rutin, proses kenaikan tingkat, pembinaan teknik dan rasa, serta pengabdian seniman dalam konteks upacara adat dan ritual. Bagi saya, di sinilah kekuatan seni di Kuta sesungguhnya, ia tidak bergantung pada momentum, melainkan tumbuh dari konsistensi dan kesetiaan pada proses.

Sanggar Seni dan Sabha Yowana : Tulang Punggung Ekosistem Seni di Kuta

Dalam denyut yang berkesinambungan itu, sanggar seni menjadi fondasi utama. Saya memandang sanggar seni di Desa Adat Kuta bukan sekadar ruang belajar, tetapi pusat peradaban kecil tempat nilai diwariskan secara utuh. Anak-anak, remaja, hingga dewasa belajar bukan hanya teknik, tetapi juga etika, disiplin, dan tanggung jawab budaya. Keberlangsungan seni terjaga karena sanggar-sanggar ini berjalan terus, saling menguatkan, dan berakar kuat di banjar.

Di sisi lain, Sabha Yowana hadir sebagai penggerak yang menjembatani energi muda dengan nilai tradisi. Saya melihat bagaimana semangat kaum muda tidak dilepaskan begitu saja, tetapi diarahkan dan diberi ruang untuk tumbuh. Yowana menjadi simpul yang menghubungkan sanggar, banjar, desa adat, dan ruang publik tanda bahwa ekosistem seni Kuta sehat, hidup, dan bergerak ke depan tanpa terputus dari akar.

Aktivitas Seni 2025: Denyut yang Tidak Pernah Putus

Penyelenggaraan Festival Seni Budaya Desa Adat Kuta ke-13 pada Maret 2025 saya maknai sebagai perayaan dari proses panjang tersebut. Lomba fragmentari dan ogoh-ogoh, pemilihan Jegeg Bungan Desa, serta gelar budaya Majelangu bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan ruang pertemuan, edukasi, dan regenerasi. Festival ini menjadi simpul besar tempat seluruh elemen ekosistem seni dan seniman, yowana, banjar, dan desa adat bertemu dalam satu kesadaran budaya.

Dokumentasi : Instagram Sabha Yowana Desa Adat Kuta 2025

Kesinambungan itu semakin terasa ketika pada Juni–Juli, dua sanggar seni Desa Adat Kuta dipercaya menjadi duta seni Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali 2025. Bagi saya, kepercayaan ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari pembinaan Desa Adat Kuta yang konsisten. Sanggar Seni Hastawirasana sebagai duta Drama Gong dan Sekaa Gong Gita Samara sebagai duta Joged Tradisi Khas menjadi bukti bahwa ekosistem seni yang sehat mampu melahirkan kualitas yang layak tampil di panggung yang lebih luas.

Dokumentasi : Instagram Sabha Yowana Desa Adat Kuta 2025

Ekosistem seni yang matang tidak hanya bergerak di wilayah praktik, tetapi juga refleksi. Hal ini saya rasakan melalui ruang diskusi seni bertema “Exploring a Soul Behind a Sound” yang mengangkat spirit maestro I Wayan Lotring. Diskusi ini menandai kedewasaan seni di Kuta, bahwa seni tidak hanya dinikmati secara visual, tetapi direnungkan, tradisi tidak hanya diwarisi, tetapi dipahami.

Dokumentasi : Tim Ruang Diskusi Seni di Kuta 2025

Kesadaran ini berlanjut melalui lomba gender wayang “Gema Lotring” yang dilaksanakan di Desa Adat Kuta atas atas inisiasi LISTIBIYA Kecamatan Kuta. Bagi saya, kegiatan ini menunjukkan bagaimana lembaga adat dan budaya bekerja selaras menjaga kesinambungan tradisi, tidak dengan membekukannya, tetapi dengan menyiapkan ruang regenerasi yang terencana.

Pada bulan November, dinamika kreatif kembali terasa melalui Lomba Ogoh-Ogoh Mini oleh ST Wana Udaya Parwata, Banjar Pengabetan Kuta. Dari ogoh-ogoh mini non-mesin, mesin, tapel, hingga sketsa, saya melihat proses eksplorasi estetika dan etika berlangsung secara alami. Kreativitas tumbuh, namun tetap berpijak pada nilai sebuah tanda bahwa ekosistem seni Kuta memberi ruang bagi inovasi tanpa kehilangan arah.

Menutup tahun 2025, aktivitas tradisi pecaruan sasihdan nangluk merana menjadi pengingat paling mendasar. Ketika petapakan Ida Sesuhunan tedun, diiringi gamelan baleganjur yang notabene dimainkan oleh para yowana setempat, saya merasakan bahwa seni, ritual, dan kehidupan sosial berjalan dalam satu tarikan napas. Di sinilah seni menemukan maknanya yang paling dalam, bukan sekadar ekspresi, tetapi laku menjaga keseimbangan semesta.

Kuta Culture Weekend 2025

Aktivitas reguler yang tertunda adalah Kuta Culture Weekend di panggung terbuka Majelangu, Pantai Kuta. Meskipun sempat tertunda oleh cuaca juga menunjukkan niat dan komitmen yang berkelanjutan. Keberanian menghadirkan seni di ruang publik adalah pernyataan bahwa Kuta serius menjadikan budaya sebagai wajah pariwisatanya.

Banjar dan Harapan Masa Depan Seni Kuta

Saya meyakini bahwa masa depan seni Kuta akan menemukan kekuatannya yang paling mendasar ketika banjar kembali dihidupkan sebagai pusat peradaban budaya. Bukan berarti menafikan panggung modern atau ruang pertunjukan formal, melainkan menempatkan banjar sebagai fondasi utama tempat seni berakar dan bertumbuh. Dari banjarlah nilai, rasa, dan arah seni ditentukan sebelum ia melangkah ke ruang yang lebih luas.

Harapan saya sederhana namun mendalam, banjar kembali ramai oleh bunyi gamelan, gerak tari, dan percakapan seni yang hidup. Ruang di mana anak-anak merasa memiliki seni sejak dini, remaja menemukan jati dirinya melalui proses berkesenian, dan para tetua menjadi penjaga arah serta etika. Banjar menjadi rumah kebudayaan bukan sekadar tempat singgah, tetapi ruang tumbuh bersama.

Refleksi ini saya tuliskan sebagai sebuah pengantar kesadaran. Saya menyadari bahwa banjar menyimpan cerita, pengetahuan, dan kekuatan yang jauh lebih luas dan dalam. Oleh karena itu, tulisan ini akan saya lanjutkan secara khusus untuk menggali banjar sebagai pusat ekosistem seni, ruang regenerasi budaya, dan fondasi keberlanjutan seni Desa Adat Kuta di masa yang akan datang.

Harapan dan Doa

Memasuki tahun 2026, saya memandang Desa Adat Kuta telah berada pada jalur yang tepat sebagai model pariwisata budaya berbasis ekosistem seni. Berbagai proses yang telah berjalan sepanjang 2025 menunjukkan bahwa seni tidak diposisikan sebagai pelengkap, melainkan sebagai penyangga utama identitas Kuta.

Harapan saya sederhana namun mendasar, aktivitas seni semakin diperluas dan diperdalam, kesinambungan dijaga, dan ruang-ruang budaya terus dirawat agar seni tetap hidup dalam keseharian masyarakat.

Saya berharap banjar-banjar semakin dihidupkan sebagai pusat peradaban budaya, ruang tempat seni lahir, tumbuh, dan diwariskan secara alami. Seni hendaknya tetap menjadi jembatan perjumpaan yang beretika antara masyarakat Kuta dan dunia luar, tanpa kehilangan konteks, nilai, dan martabatnya. Dalam keseimbangan inilah pariwisata budaya menemukan maknanya yang sejati.

Secara pribadi, doa saya mengalir untuk seluruh seniman di Kuta, semoga senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan keteguhan hati. Karena dari tubuh dan jiwa merekalah seni Kuta terus berdenyut, menjaga jiwa Kuta hari ini, sekaligus menuntun arah masa depannya. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Adat KutaKutaResolusiSenitahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Takut Drama, Takutlah Hidup Tanpa Jeda —Renungan Akhir Tahun

Next Post

Etika Pemimpin Menghadapi Krisis —Catatan tentang ‘Dasa Sila’ dalam Geguritan Tamtam

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post
Etika Pemimpin Menghadapi Krisis —Catatan tentang ‘Dasa Sila’ dalam Geguritan Tamtam

Etika Pemimpin Menghadapi Krisis ---Catatan tentang 'Dasa Sila' dalam Geguritan Tamtam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co