3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjaga Denyut, Menyulam Harapan —Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
December 31, 2025
in Esai
Menjaga Denyut, Menyulam Harapan —Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

I Gusti Made Darma Putra

SAYA memulai refleksi ini dengan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada Jro Bendesa Adat Kuta beserta seluruh Prajuru Desa Adat Kuta. Bagi saya, mereka bukan hanya pemangku kebijakan adat, melainkan penjaga arah dan ritme kebudayaan di tengah kompleksitas Kuta sebagai pusat pariwisata dunia. Keberpihakan Desa Adat salah satunya terhadap seni tidak berhenti pada dukungan acara, tetapi terwujud dalam kesadaran untuk menjaga denyut kebudayaan agar tetap hidup dari hari ke hari. Di sinilah saya melihat fondasi utama ekosistem seni Kuta, kepemimpinan adat yang memahami bahwa seni adalah napas desa, bukan sekadar agenda tahunan.

Dokumentasi : Instagram Sabha Yowana Desa Adat Kuta 2025

Desa Adat Kuta: Pariwisata yang Bertumbuh dari Seni

 Sebagai seseorang yang lahir dan bertumbuh di Kuta serta mengabdikan  produktifitas dalam dunia Seni, saya menyaksikan bahwa Kuta, meskipun dikenal sebagai sentral wisata, tidak pernah kehilangan jiwanya. Justru karena seni terus dirawat, pariwisata di Kuta memiliki karakter dan kedalaman. Seni menjadi poros utama yang memberi pengalaman kultural, sebuah daya tarik yang tidak dibuat-buat, tetapi lahir dari kehidupan masyarakat itu sendiri. Dalam keseharian inilah saya melihat ekosistem seni berjalan secara alami, seni tidak diciptakan demi pariwisata, melainkan pariwisata tumbuh karena seni tetap hidup di tengah masyarakat.

Sepanjang tahun 2025, aktivitas seni di Desa Adat Kuta berlangsung secara berlapis dan berkesinambungan. Apa yang tampak dalam kalender kegiatan sesungguhnya hanyalah puncak dari proses panjang yang berjalan setiap hari. Sanggar-sanggar seni terus berdenyut melalui latihan rutin, proses kenaikan tingkat, pembinaan teknik dan rasa, serta pengabdian seniman dalam konteks upacara adat dan ritual. Bagi saya, di sinilah kekuatan seni di Kuta sesungguhnya, ia tidak bergantung pada momentum, melainkan tumbuh dari konsistensi dan kesetiaan pada proses.

Sanggar Seni dan Sabha Yowana : Tulang Punggung Ekosistem Seni di Kuta

Dalam denyut yang berkesinambungan itu, sanggar seni menjadi fondasi utama. Saya memandang sanggar seni di Desa Adat Kuta bukan sekadar ruang belajar, tetapi pusat peradaban kecil tempat nilai diwariskan secara utuh. Anak-anak, remaja, hingga dewasa belajar bukan hanya teknik, tetapi juga etika, disiplin, dan tanggung jawab budaya. Keberlangsungan seni terjaga karena sanggar-sanggar ini berjalan terus, saling menguatkan, dan berakar kuat di banjar.

Di sisi lain, Sabha Yowana hadir sebagai penggerak yang menjembatani energi muda dengan nilai tradisi. Saya melihat bagaimana semangat kaum muda tidak dilepaskan begitu saja, tetapi diarahkan dan diberi ruang untuk tumbuh. Yowana menjadi simpul yang menghubungkan sanggar, banjar, desa adat, dan ruang publik tanda bahwa ekosistem seni Kuta sehat, hidup, dan bergerak ke depan tanpa terputus dari akar.

Aktivitas Seni 2025: Denyut yang Tidak Pernah Putus

Penyelenggaraan Festival Seni Budaya Desa Adat Kuta ke-13 pada Maret 2025 saya maknai sebagai perayaan dari proses panjang tersebut. Lomba fragmentari dan ogoh-ogoh, pemilihan Jegeg Bungan Desa, serta gelar budaya Majelangu bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan ruang pertemuan, edukasi, dan regenerasi. Festival ini menjadi simpul besar tempat seluruh elemen ekosistem seni dan seniman, yowana, banjar, dan desa adat bertemu dalam satu kesadaran budaya.

Dokumentasi : Instagram Sabha Yowana Desa Adat Kuta 2025

Kesinambungan itu semakin terasa ketika pada Juni–Juli, dua sanggar seni Desa Adat Kuta dipercaya menjadi duta seni Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali 2025. Bagi saya, kepercayaan ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari pembinaan Desa Adat Kuta yang konsisten. Sanggar Seni Hastawirasana sebagai duta Drama Gong dan Sekaa Gong Gita Samara sebagai duta Joged Tradisi Khas menjadi bukti bahwa ekosistem seni yang sehat mampu melahirkan kualitas yang layak tampil di panggung yang lebih luas.

Dokumentasi : Instagram Sabha Yowana Desa Adat Kuta 2025

Ekosistem seni yang matang tidak hanya bergerak di wilayah praktik, tetapi juga refleksi. Hal ini saya rasakan melalui ruang diskusi seni bertema “Exploring a Soul Behind a Sound” yang mengangkat spirit maestro I Wayan Lotring. Diskusi ini menandai kedewasaan seni di Kuta, bahwa seni tidak hanya dinikmati secara visual, tetapi direnungkan, tradisi tidak hanya diwarisi, tetapi dipahami.

Dokumentasi : Tim Ruang Diskusi Seni di Kuta 2025

Kesadaran ini berlanjut melalui lomba gender wayang “Gema Lotring” yang dilaksanakan di Desa Adat Kuta atas atas inisiasi LISTIBIYA Kecamatan Kuta. Bagi saya, kegiatan ini menunjukkan bagaimana lembaga adat dan budaya bekerja selaras menjaga kesinambungan tradisi, tidak dengan membekukannya, tetapi dengan menyiapkan ruang regenerasi yang terencana.

Pada bulan November, dinamika kreatif kembali terasa melalui Lomba Ogoh-Ogoh Mini oleh ST Wana Udaya Parwata, Banjar Pengabetan Kuta. Dari ogoh-ogoh mini non-mesin, mesin, tapel, hingga sketsa, saya melihat proses eksplorasi estetika dan etika berlangsung secara alami. Kreativitas tumbuh, namun tetap berpijak pada nilai sebuah tanda bahwa ekosistem seni Kuta memberi ruang bagi inovasi tanpa kehilangan arah.

Menutup tahun 2025, aktivitas tradisi pecaruan sasihdan nangluk merana menjadi pengingat paling mendasar. Ketika petapakan Ida Sesuhunan tedun, diiringi gamelan baleganjur yang notabene dimainkan oleh para yowana setempat, saya merasakan bahwa seni, ritual, dan kehidupan sosial berjalan dalam satu tarikan napas. Di sinilah seni menemukan maknanya yang paling dalam, bukan sekadar ekspresi, tetapi laku menjaga keseimbangan semesta.

Kuta Culture Weekend 2025

Aktivitas reguler yang tertunda adalah Kuta Culture Weekend di panggung terbuka Majelangu, Pantai Kuta. Meskipun sempat tertunda oleh cuaca juga menunjukkan niat dan komitmen yang berkelanjutan. Keberanian menghadirkan seni di ruang publik adalah pernyataan bahwa Kuta serius menjadikan budaya sebagai wajah pariwisatanya.

Banjar dan Harapan Masa Depan Seni Kuta

Saya meyakini bahwa masa depan seni Kuta akan menemukan kekuatannya yang paling mendasar ketika banjar kembali dihidupkan sebagai pusat peradaban budaya. Bukan berarti menafikan panggung modern atau ruang pertunjukan formal, melainkan menempatkan banjar sebagai fondasi utama tempat seni berakar dan bertumbuh. Dari banjarlah nilai, rasa, dan arah seni ditentukan sebelum ia melangkah ke ruang yang lebih luas.

Harapan saya sederhana namun mendalam, banjar kembali ramai oleh bunyi gamelan, gerak tari, dan percakapan seni yang hidup. Ruang di mana anak-anak merasa memiliki seni sejak dini, remaja menemukan jati dirinya melalui proses berkesenian, dan para tetua menjadi penjaga arah serta etika. Banjar menjadi rumah kebudayaan bukan sekadar tempat singgah, tetapi ruang tumbuh bersama.

Refleksi ini saya tuliskan sebagai sebuah pengantar kesadaran. Saya menyadari bahwa banjar menyimpan cerita, pengetahuan, dan kekuatan yang jauh lebih luas dan dalam. Oleh karena itu, tulisan ini akan saya lanjutkan secara khusus untuk menggali banjar sebagai pusat ekosistem seni, ruang regenerasi budaya, dan fondasi keberlanjutan seni Desa Adat Kuta di masa yang akan datang.

Harapan dan Doa

Memasuki tahun 2026, saya memandang Desa Adat Kuta telah berada pada jalur yang tepat sebagai model pariwisata budaya berbasis ekosistem seni. Berbagai proses yang telah berjalan sepanjang 2025 menunjukkan bahwa seni tidak diposisikan sebagai pelengkap, melainkan sebagai penyangga utama identitas Kuta.

Harapan saya sederhana namun mendasar, aktivitas seni semakin diperluas dan diperdalam, kesinambungan dijaga, dan ruang-ruang budaya terus dirawat agar seni tetap hidup dalam keseharian masyarakat.

Saya berharap banjar-banjar semakin dihidupkan sebagai pusat peradaban budaya, ruang tempat seni lahir, tumbuh, dan diwariskan secara alami. Seni hendaknya tetap menjadi jembatan perjumpaan yang beretika antara masyarakat Kuta dan dunia luar, tanpa kehilangan konteks, nilai, dan martabatnya. Dalam keseimbangan inilah pariwisata budaya menemukan maknanya yang sejati.

Secara pribadi, doa saya mengalir untuk seluruh seniman di Kuta, semoga senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan keteguhan hati. Karena dari tubuh dan jiwa merekalah seni Kuta terus berdenyut, menjaga jiwa Kuta hari ini, sekaligus menuntun arah masa depannya. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Adat KutaKutaResolusiSenitahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Takut Drama, Takutlah Hidup Tanpa Jeda —Renungan Akhir Tahun

Next Post

Etika Pemimpin Menghadapi Krisis —Catatan tentang ‘Dasa Sila’ dalam Geguritan Tamtam

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Etika Pemimpin Menghadapi Krisis —Catatan tentang ‘Dasa Sila’ dalam Geguritan Tamtam

Etika Pemimpin Menghadapi Krisis ---Catatan tentang 'Dasa Sila' dalam Geguritan Tamtam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co