14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menjaga Denyut, Menyulam Harapan —Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

I Gusti Made Darma Putra by I Gusti Made Darma Putra
December 31, 2025
in Esai
Menjaga Denyut, Menyulam Harapan —Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

I Gusti Made Darma Putra

SAYA memulai refleksi ini dengan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada Jro Bendesa Adat Kuta beserta seluruh Prajuru Desa Adat Kuta. Bagi saya, mereka bukan hanya pemangku kebijakan adat, melainkan penjaga arah dan ritme kebudayaan di tengah kompleksitas Kuta sebagai pusat pariwisata dunia. Keberpihakan Desa Adat salah satunya terhadap seni tidak berhenti pada dukungan acara, tetapi terwujud dalam kesadaran untuk menjaga denyut kebudayaan agar tetap hidup dari hari ke hari. Di sinilah saya melihat fondasi utama ekosistem seni Kuta, kepemimpinan adat yang memahami bahwa seni adalah napas desa, bukan sekadar agenda tahunan.

Dokumentasi : Instagram Sabha Yowana Desa Adat Kuta 2025

Desa Adat Kuta: Pariwisata yang Bertumbuh dari Seni

 Sebagai seseorang yang lahir dan bertumbuh di Kuta serta mengabdikan  produktifitas dalam dunia Seni, saya menyaksikan bahwa Kuta, meskipun dikenal sebagai sentral wisata, tidak pernah kehilangan jiwanya. Justru karena seni terus dirawat, pariwisata di Kuta memiliki karakter dan kedalaman. Seni menjadi poros utama yang memberi pengalaman kultural, sebuah daya tarik yang tidak dibuat-buat, tetapi lahir dari kehidupan masyarakat itu sendiri. Dalam keseharian inilah saya melihat ekosistem seni berjalan secara alami, seni tidak diciptakan demi pariwisata, melainkan pariwisata tumbuh karena seni tetap hidup di tengah masyarakat.

Sepanjang tahun 2025, aktivitas seni di Desa Adat Kuta berlangsung secara berlapis dan berkesinambungan. Apa yang tampak dalam kalender kegiatan sesungguhnya hanyalah puncak dari proses panjang yang berjalan setiap hari. Sanggar-sanggar seni terus berdenyut melalui latihan rutin, proses kenaikan tingkat, pembinaan teknik dan rasa, serta pengabdian seniman dalam konteks upacara adat dan ritual. Bagi saya, di sinilah kekuatan seni di Kuta sesungguhnya, ia tidak bergantung pada momentum, melainkan tumbuh dari konsistensi dan kesetiaan pada proses.

Sanggar Seni dan Sabha Yowana : Tulang Punggung Ekosistem Seni di Kuta

Dalam denyut yang berkesinambungan itu, sanggar seni menjadi fondasi utama. Saya memandang sanggar seni di Desa Adat Kuta bukan sekadar ruang belajar, tetapi pusat peradaban kecil tempat nilai diwariskan secara utuh. Anak-anak, remaja, hingga dewasa belajar bukan hanya teknik, tetapi juga etika, disiplin, dan tanggung jawab budaya. Keberlangsungan seni terjaga karena sanggar-sanggar ini berjalan terus, saling menguatkan, dan berakar kuat di banjar.

Di sisi lain, Sabha Yowana hadir sebagai penggerak yang menjembatani energi muda dengan nilai tradisi. Saya melihat bagaimana semangat kaum muda tidak dilepaskan begitu saja, tetapi diarahkan dan diberi ruang untuk tumbuh. Yowana menjadi simpul yang menghubungkan sanggar, banjar, desa adat, dan ruang publik tanda bahwa ekosistem seni Kuta sehat, hidup, dan bergerak ke depan tanpa terputus dari akar.

Aktivitas Seni 2025: Denyut yang Tidak Pernah Putus

Penyelenggaraan Festival Seni Budaya Desa Adat Kuta ke-13 pada Maret 2025 saya maknai sebagai perayaan dari proses panjang tersebut. Lomba fragmentari dan ogoh-ogoh, pemilihan Jegeg Bungan Desa, serta gelar budaya Majelangu bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan ruang pertemuan, edukasi, dan regenerasi. Festival ini menjadi simpul besar tempat seluruh elemen ekosistem seni dan seniman, yowana, banjar, dan desa adat bertemu dalam satu kesadaran budaya.

Dokumentasi : Instagram Sabha Yowana Desa Adat Kuta 2025

Kesinambungan itu semakin terasa ketika pada Juni–Juli, dua sanggar seni Desa Adat Kuta dipercaya menjadi duta seni Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali 2025. Bagi saya, kepercayaan ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari pembinaan Desa Adat Kuta yang konsisten. Sanggar Seni Hastawirasana sebagai duta Drama Gong dan Sekaa Gong Gita Samara sebagai duta Joged Tradisi Khas menjadi bukti bahwa ekosistem seni yang sehat mampu melahirkan kualitas yang layak tampil di panggung yang lebih luas.

Dokumentasi : Instagram Sabha Yowana Desa Adat Kuta 2025

Ekosistem seni yang matang tidak hanya bergerak di wilayah praktik, tetapi juga refleksi. Hal ini saya rasakan melalui ruang diskusi seni bertema “Exploring a Soul Behind a Sound” yang mengangkat spirit maestro I Wayan Lotring. Diskusi ini menandai kedewasaan seni di Kuta, bahwa seni tidak hanya dinikmati secara visual, tetapi direnungkan, tradisi tidak hanya diwarisi, tetapi dipahami.

Dokumentasi : Tim Ruang Diskusi Seni di Kuta 2025

Kesadaran ini berlanjut melalui lomba gender wayang “Gema Lotring” yang dilaksanakan di Desa Adat Kuta atas atas inisiasi LISTIBIYA Kecamatan Kuta. Bagi saya, kegiatan ini menunjukkan bagaimana lembaga adat dan budaya bekerja selaras menjaga kesinambungan tradisi, tidak dengan membekukannya, tetapi dengan menyiapkan ruang regenerasi yang terencana.

Pada bulan November, dinamika kreatif kembali terasa melalui Lomba Ogoh-Ogoh Mini oleh ST Wana Udaya Parwata, Banjar Pengabetan Kuta. Dari ogoh-ogoh mini non-mesin, mesin, tapel, hingga sketsa, saya melihat proses eksplorasi estetika dan etika berlangsung secara alami. Kreativitas tumbuh, namun tetap berpijak pada nilai sebuah tanda bahwa ekosistem seni Kuta memberi ruang bagi inovasi tanpa kehilangan arah.

Menutup tahun 2025, aktivitas tradisi pecaruan sasihdan nangluk merana menjadi pengingat paling mendasar. Ketika petapakan Ida Sesuhunan tedun, diiringi gamelan baleganjur yang notabene dimainkan oleh para yowana setempat, saya merasakan bahwa seni, ritual, dan kehidupan sosial berjalan dalam satu tarikan napas. Di sinilah seni menemukan maknanya yang paling dalam, bukan sekadar ekspresi, tetapi laku menjaga keseimbangan semesta.

Kuta Culture Weekend 2025

Aktivitas reguler yang tertunda adalah Kuta Culture Weekend di panggung terbuka Majelangu, Pantai Kuta. Meskipun sempat tertunda oleh cuaca juga menunjukkan niat dan komitmen yang berkelanjutan. Keberanian menghadirkan seni di ruang publik adalah pernyataan bahwa Kuta serius menjadikan budaya sebagai wajah pariwisatanya.

Banjar dan Harapan Masa Depan Seni Kuta

Saya meyakini bahwa masa depan seni Kuta akan menemukan kekuatannya yang paling mendasar ketika banjar kembali dihidupkan sebagai pusat peradaban budaya. Bukan berarti menafikan panggung modern atau ruang pertunjukan formal, melainkan menempatkan banjar sebagai fondasi utama tempat seni berakar dan bertumbuh. Dari banjarlah nilai, rasa, dan arah seni ditentukan sebelum ia melangkah ke ruang yang lebih luas.

Harapan saya sederhana namun mendalam, banjar kembali ramai oleh bunyi gamelan, gerak tari, dan percakapan seni yang hidup. Ruang di mana anak-anak merasa memiliki seni sejak dini, remaja menemukan jati dirinya melalui proses berkesenian, dan para tetua menjadi penjaga arah serta etika. Banjar menjadi rumah kebudayaan bukan sekadar tempat singgah, tetapi ruang tumbuh bersama.

Refleksi ini saya tuliskan sebagai sebuah pengantar kesadaran. Saya menyadari bahwa banjar menyimpan cerita, pengetahuan, dan kekuatan yang jauh lebih luas dan dalam. Oleh karena itu, tulisan ini akan saya lanjutkan secara khusus untuk menggali banjar sebagai pusat ekosistem seni, ruang regenerasi budaya, dan fondasi keberlanjutan seni Desa Adat Kuta di masa yang akan datang.

Harapan dan Doa

Memasuki tahun 2026, saya memandang Desa Adat Kuta telah berada pada jalur yang tepat sebagai model pariwisata budaya berbasis ekosistem seni. Berbagai proses yang telah berjalan sepanjang 2025 menunjukkan bahwa seni tidak diposisikan sebagai pelengkap, melainkan sebagai penyangga utama identitas Kuta.

Harapan saya sederhana namun mendasar, aktivitas seni semakin diperluas dan diperdalam, kesinambungan dijaga, dan ruang-ruang budaya terus dirawat agar seni tetap hidup dalam keseharian masyarakat.

Saya berharap banjar-banjar semakin dihidupkan sebagai pusat peradaban budaya, ruang tempat seni lahir, tumbuh, dan diwariskan secara alami. Seni hendaknya tetap menjadi jembatan perjumpaan yang beretika antara masyarakat Kuta dan dunia luar, tanpa kehilangan konteks, nilai, dan martabatnya. Dalam keseimbangan inilah pariwisata budaya menemukan maknanya yang sejati.

Secara pribadi, doa saya mengalir untuk seluruh seniman di Kuta, semoga senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan keteguhan hati. Karena dari tubuh dan jiwa merekalah seni Kuta terus berdenyut, menjaga jiwa Kuta hari ini, sekaligus menuntun arah masa depannya. [T]

Penulis: I Gusti Made Darma Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: Desa Adat KutaKutaResolusiSenitahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jangan Takut Drama, Takutlah Hidup Tanpa Jeda —Renungan Akhir Tahun

Next Post

Etika Pemimpin Menghadapi Krisis —Catatan tentang ‘Dasa Sila’ dalam Geguritan Tamtam

I Gusti Made Darma Putra

I Gusti Made Darma Putra

Seniman pedalangan, kreator wayang Bali

Related Posts

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails
Next Post
Etika Pemimpin Menghadapi Krisis —Catatan tentang ‘Dasa Sila’ dalam Geguritan Tamtam

Etika Pemimpin Menghadapi Krisis ---Catatan tentang 'Dasa Sila' dalam Geguritan Tamtam

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co