13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Takut Drama, Takutlah Hidup Tanpa Jeda —Renungan Akhir Tahun

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 31, 2025
in Esai
Jangan Takut Drama, Takutlah Hidup Tanpa Jeda  —Renungan Akhir Tahun

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

AKHIR-AKHIR ini saya mulai menyukai menonton drama. Bukan drama hidup yang ribut itu, melainkan drama yang hadir di layar. Jika dulu ada ada telenovela Amerika Latin yang emosinya meledak-ledak, kini ada drama Cina terbaru yang alurnya klise namun entah mengapa membuat betah duduk berlama-lama. Ada sesuatu yang pelan-pelan bekerja di sana. Sesuatu yang dulu saya remehkan, bahkan saya anggap kekanak-kanakan.

Dulu, ketika ibu angkat saya duduk manis di depan televisi, matanya sembab karena adegan sedih, atau suaranya meninggi karena tokoh antagonis yang terlalu jahat, saya sering menggeleng pelan. Saya merasa itu berlebihan. Drama saya anggap buang-buang waktu. Terlalu emosional. Tidak produktif. Saat itu saya berada di kubu yang percaya hidup harus rasional, efisien, dan kalau bisa, tanpa air mata.

Kini saya paham. Barangkali karena hidup sendiri sudah terlalu banyak menuntut kewarasan.

Menonton drama membutuhkan energi yang lebih sedikit dibanding membaca buku. Ini fakta sederhana yang dulu enggan saya terima. Membaca menuntut konsentrasi, daya tahan, dan kesediaan untuk berlama-lama dengan pikiran sendiri. Menonton memberi ruang untuk menyerah sejenak. Kita boleh pasif. Kita boleh tidak berpikir. Kita boleh hanya merasa.

Itulah mengapa televisi dulu begitu berkuasa, dan kini gawai menggantikan tahtanya. Orang akan lebih senang menerima ponsel pintar baru ketimbang sebuah buku. Dulu saya memusuhi kenyataan ini. Saya menganggapnya tanda kemunduran budaya. Sekarang saya memilih berdamai. Bukan karena saya kalah, melainkan karena saya sadar hidup modern memang menguras terlalu banyak energi.

Di tengah jam kerja yang memanjang, target yang tak pernah selesai, dan relasi yang sering terasa transaksional, manusia membutuhkan jeda. Dan drama, entah disukai atau tidak, menyediakan jeda itu.

Tidak mengherankan jika kini bermunculan aplikasi drama pendek. Episode singkat, konflik cepat, emosi instan. Ada yang gratis, ada yang berbayar. Semua berlomba menawarkan pelarian. Kita bisa mencibirnya sebagai budaya instan. Kita bisa menyebutnya candu baru. Namun di balik itu, ada kelelahan kolektif yang sedang mencari tempat bernaung.

Menariknya, kata “drama” dalam kosakata generasi muda justru mengalami peyorasi. “Drama lu!” atau “Kebanyakan drama!” menjadi ungkapan bernada ejekan. Drama diasosiasikan dengan sikap lebay, tidak dewasa, dan tidak rasional. Padahal kehidupan sehari-hari mereka sendiri penuh konflik yang tak pernah selesai. Hanya saja konflik itu dipendam, ditekan, dan dipaksa tampil rapi.

Barangkali kita hidup di zaman yang alergi pada emosi, tetapi kecanduan sensasi.

Padahal, drama yang kita tonton sering kali merupakan cermin kasar dari kehidupan sosial. CEO yang menyamar jadi orang miskin. Anak yang hilang bertahun-tahun lalu kembali dengan identitas baru. Anak angkat yang terus mencari jejak orang tuanya. Gadis kaya yang jatuh cinta pada pemuda miskin. Klise, memang. Namun bukankah struktur ketimpangan sosial memang berulang-ulang itu saja?

Drama bekerja dengan cara memperjelas konflik yang di dunia nyata sengaja dikaburkan. Dalam kehidupan sehari-hari, ketidakadilan sering tampil samar. Dalam drama, ia dibuat terang. Hitam dan putih. Baik dan jahat. Ada resolusi, meski kadang terasa terlalu manis.

Di situlah letak daya hiburnya. Bukan karena kita bodoh, melainkan karena hidup nyata terlalu sering menggantung tanpa kepastian.

Bagi kelas pekerja, drama adalah tempat menitipkan lelah. Setelah dimarahi atasan, setelah lembur tanpa apresiasi, setelah bertengkar dengan pasangan karena hal-hal sepele yang sejatinya bersumber dari kelelahan ekonomi, drama menawarkan dunia di mana konflik boleh meledak. Di mana menangis tidak perlu disembunyikan. Di mana amarah memiliki saluran.

Kita kerap lupa bahwa manusia bukan mesin. Namun sistem menuntut kita bekerja seperti mesin. Maka ketika mesin itu panas, drama menjadi kipas angin darurat.

Ironisnya, di saat yang sama, media sosial dipenuhi pengkotbah. Semua orang ingin memberi makna. Semua orang ingin mengajari hidup yang benar. Bahkan sastrawan pun tak luput dari godaan ini. Mereka menjadi terlalu serius. Terlalu khidmat. Terlalu ingin terlihat bijak.

Padahal sebagian dari mereka dulu adalah penulis naskah drama yang piawai. Dramawan yang mengerti betul bahwa hidup tidak selalu rapi, dan manusia tidak selalu konsisten. Panggung berubah, seiring waktu. Namun barangkali yang berubah bukan zamannya, melainkan keberanian untuk mengakui keretakan.

Kita hidup di era ketika keseriusan menjadi mata uang moral. Siapa yang paling serius, paling bernada nasihat, dianggap paling bermakna. Humor dicurigai. Air mata dianggap kelemahan. Drama dicap kekanak-kanakan.

Padahal dunia ini, kata seorang pujangga, hanyalah panggung sandiwara. Kita semua aktor yang sedang memainkan peran. Bedanya, kini kita lupa caranya turun panggung.

Drama mengingatkan kita bahwa tidak apa-apa berhenti sejenak. Tidak apa-apa larut dalam kisah orang lain. Tidak apa-apa merasa, tanpa harus selalu menjelaskan.

Dalam konteks kesehatan mental, jeda semacam ini bukan perkara sepele. Terlalu lama hidup tanpa jeda bisa berujung pada kelelahan batin yang serius. Bukan semua orang kuat memikul hidup dengan wajah tegar terus-menerus. Ada yang retak pelan-pelan. Ada yang jatuh tanpa suara.

Menonton drama tentu tidak menyelesaikan persoalan struktural. Ia tidak menaikkan upah. Tidak menghapus ketimpangan. Namun ia memberi ruang bernapas. Dan kadang, bernapas saja sudah cukup untuk bertahan satu hari lagi.

Barangkali yang perlu kita takutkan bukanlah drama. Bukan tangis yang tumpah di layar. Bukan konflik yang dibuat terang-terangan. Yang lebih patut ditakuti adalah hidup yang berjalan terus tanpa jeda, tanpa ruang untuk merasa, tanpa tempat aman untuk runtuh sebentar.

Kita hidup di zaman yang memaksa semua orang tampak kuat. Di mana kelelahan harus disamarkan, air mata harus dirapikan, dan luka batin diminta antre karena dianggap tidak produktif. Di titik itulah banyak orang jatuh diam-diam. Tidak dramatis. Tidak viral. Hanya pelan-pelan kehilangan diri.

Drama, dengan segala kelemahannya, masih memberi kita izin untuk berhenti. Untuk duduk. Untuk menghela napas. Untuk mengakui bahwa hidup memang melelahkan dan tidak selalu masuk akal. Ia tidak menyelamatkan dunia, namun kerap menyelamatkan hari.

Maka jika suatu malam kita memilih menonton drama alih-alih menambah beban pikiran, itu bukan kemunduran. Itu bentuk perlawanan kecil terhadap hidup yang terlalu menuntut kewarasan. Sebab manusia tidak diciptakan untuk terus kuat. Ia diciptakan untuk bertahan, dengan caranya masing-masing. Jangan takut drama. Takutlah jika suatu hari kita tak lagi tahu caranya berhenti, sebelum benar-benar habis. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Dramadrama cinadrama korearenungantahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Unsur Pidana  Dalam Jual Beli Gantung

Next Post

Menjaga Denyut, Menyulam Harapan —Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Menjaga Denyut, Menyulam Harapan —Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

Menjaga Denyut, Menyulam Harapan ---Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co