2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Takut Drama, Takutlah Hidup Tanpa Jeda —Renungan Akhir Tahun

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 31, 2025
in Esai
Jangan Takut Drama, Takutlah Hidup Tanpa Jeda  —Renungan Akhir Tahun

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

AKHIR-AKHIR ini saya mulai menyukai menonton drama. Bukan drama hidup yang ribut itu, melainkan drama yang hadir di layar. Jika dulu ada ada telenovela Amerika Latin yang emosinya meledak-ledak, kini ada drama Cina terbaru yang alurnya klise namun entah mengapa membuat betah duduk berlama-lama. Ada sesuatu yang pelan-pelan bekerja di sana. Sesuatu yang dulu saya remehkan, bahkan saya anggap kekanak-kanakan.

Dulu, ketika ibu angkat saya duduk manis di depan televisi, matanya sembab karena adegan sedih, atau suaranya meninggi karena tokoh antagonis yang terlalu jahat, saya sering menggeleng pelan. Saya merasa itu berlebihan. Drama saya anggap buang-buang waktu. Terlalu emosional. Tidak produktif. Saat itu saya berada di kubu yang percaya hidup harus rasional, efisien, dan kalau bisa, tanpa air mata.

Kini saya paham. Barangkali karena hidup sendiri sudah terlalu banyak menuntut kewarasan.

Menonton drama membutuhkan energi yang lebih sedikit dibanding membaca buku. Ini fakta sederhana yang dulu enggan saya terima. Membaca menuntut konsentrasi, daya tahan, dan kesediaan untuk berlama-lama dengan pikiran sendiri. Menonton memberi ruang untuk menyerah sejenak. Kita boleh pasif. Kita boleh tidak berpikir. Kita boleh hanya merasa.

Itulah mengapa televisi dulu begitu berkuasa, dan kini gawai menggantikan tahtanya. Orang akan lebih senang menerima ponsel pintar baru ketimbang sebuah buku. Dulu saya memusuhi kenyataan ini. Saya menganggapnya tanda kemunduran budaya. Sekarang saya memilih berdamai. Bukan karena saya kalah, melainkan karena saya sadar hidup modern memang menguras terlalu banyak energi.

Di tengah jam kerja yang memanjang, target yang tak pernah selesai, dan relasi yang sering terasa transaksional, manusia membutuhkan jeda. Dan drama, entah disukai atau tidak, menyediakan jeda itu.

Tidak mengherankan jika kini bermunculan aplikasi drama pendek. Episode singkat, konflik cepat, emosi instan. Ada yang gratis, ada yang berbayar. Semua berlomba menawarkan pelarian. Kita bisa mencibirnya sebagai budaya instan. Kita bisa menyebutnya candu baru. Namun di balik itu, ada kelelahan kolektif yang sedang mencari tempat bernaung.

Menariknya, kata “drama” dalam kosakata generasi muda justru mengalami peyorasi. “Drama lu!” atau “Kebanyakan drama!” menjadi ungkapan bernada ejekan. Drama diasosiasikan dengan sikap lebay, tidak dewasa, dan tidak rasional. Padahal kehidupan sehari-hari mereka sendiri penuh konflik yang tak pernah selesai. Hanya saja konflik itu dipendam, ditekan, dan dipaksa tampil rapi.

Barangkali kita hidup di zaman yang alergi pada emosi, tetapi kecanduan sensasi.

Padahal, drama yang kita tonton sering kali merupakan cermin kasar dari kehidupan sosial. CEO yang menyamar jadi orang miskin. Anak yang hilang bertahun-tahun lalu kembali dengan identitas baru. Anak angkat yang terus mencari jejak orang tuanya. Gadis kaya yang jatuh cinta pada pemuda miskin. Klise, memang. Namun bukankah struktur ketimpangan sosial memang berulang-ulang itu saja?

Drama bekerja dengan cara memperjelas konflik yang di dunia nyata sengaja dikaburkan. Dalam kehidupan sehari-hari, ketidakadilan sering tampil samar. Dalam drama, ia dibuat terang. Hitam dan putih. Baik dan jahat. Ada resolusi, meski kadang terasa terlalu manis.

Di situlah letak daya hiburnya. Bukan karena kita bodoh, melainkan karena hidup nyata terlalu sering menggantung tanpa kepastian.

Bagi kelas pekerja, drama adalah tempat menitipkan lelah. Setelah dimarahi atasan, setelah lembur tanpa apresiasi, setelah bertengkar dengan pasangan karena hal-hal sepele yang sejatinya bersumber dari kelelahan ekonomi, drama menawarkan dunia di mana konflik boleh meledak. Di mana menangis tidak perlu disembunyikan. Di mana amarah memiliki saluran.

Kita kerap lupa bahwa manusia bukan mesin. Namun sistem menuntut kita bekerja seperti mesin. Maka ketika mesin itu panas, drama menjadi kipas angin darurat.

Ironisnya, di saat yang sama, media sosial dipenuhi pengkotbah. Semua orang ingin memberi makna. Semua orang ingin mengajari hidup yang benar. Bahkan sastrawan pun tak luput dari godaan ini. Mereka menjadi terlalu serius. Terlalu khidmat. Terlalu ingin terlihat bijak.

Padahal sebagian dari mereka dulu adalah penulis naskah drama yang piawai. Dramawan yang mengerti betul bahwa hidup tidak selalu rapi, dan manusia tidak selalu konsisten. Panggung berubah, seiring waktu. Namun barangkali yang berubah bukan zamannya, melainkan keberanian untuk mengakui keretakan.

Kita hidup di era ketika keseriusan menjadi mata uang moral. Siapa yang paling serius, paling bernada nasihat, dianggap paling bermakna. Humor dicurigai. Air mata dianggap kelemahan. Drama dicap kekanak-kanakan.

Padahal dunia ini, kata seorang pujangga, hanyalah panggung sandiwara. Kita semua aktor yang sedang memainkan peran. Bedanya, kini kita lupa caranya turun panggung.

Drama mengingatkan kita bahwa tidak apa-apa berhenti sejenak. Tidak apa-apa larut dalam kisah orang lain. Tidak apa-apa merasa, tanpa harus selalu menjelaskan.

Dalam konteks kesehatan mental, jeda semacam ini bukan perkara sepele. Terlalu lama hidup tanpa jeda bisa berujung pada kelelahan batin yang serius. Bukan semua orang kuat memikul hidup dengan wajah tegar terus-menerus. Ada yang retak pelan-pelan. Ada yang jatuh tanpa suara.

Menonton drama tentu tidak menyelesaikan persoalan struktural. Ia tidak menaikkan upah. Tidak menghapus ketimpangan. Namun ia memberi ruang bernapas. Dan kadang, bernapas saja sudah cukup untuk bertahan satu hari lagi.

Barangkali yang perlu kita takutkan bukanlah drama. Bukan tangis yang tumpah di layar. Bukan konflik yang dibuat terang-terangan. Yang lebih patut ditakuti adalah hidup yang berjalan terus tanpa jeda, tanpa ruang untuk merasa, tanpa tempat aman untuk runtuh sebentar.

Kita hidup di zaman yang memaksa semua orang tampak kuat. Di mana kelelahan harus disamarkan, air mata harus dirapikan, dan luka batin diminta antre karena dianggap tidak produktif. Di titik itulah banyak orang jatuh diam-diam. Tidak dramatis. Tidak viral. Hanya pelan-pelan kehilangan diri.

Drama, dengan segala kelemahannya, masih memberi kita izin untuk berhenti. Untuk duduk. Untuk menghela napas. Untuk mengakui bahwa hidup memang melelahkan dan tidak selalu masuk akal. Ia tidak menyelamatkan dunia, namun kerap menyelamatkan hari.

Maka jika suatu malam kita memilih menonton drama alih-alih menambah beban pikiran, itu bukan kemunduran. Itu bentuk perlawanan kecil terhadap hidup yang terlalu menuntut kewarasan. Sebab manusia tidak diciptakan untuk terus kuat. Ia diciptakan untuk bertahan, dengan caranya masing-masing. Jangan takut drama. Takutlah jika suatu hari kita tak lagi tahu caranya berhenti, sebelum benar-benar habis. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Dramadrama cinadrama korearenungantahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Unsur Pidana  Dalam Jual Beli Gantung

Next Post

Menjaga Denyut, Menyulam Harapan —Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Menjaga Denyut, Menyulam Harapan —Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

Menjaga Denyut, Menyulam Harapan ---Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co