3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Takut Drama, Takutlah Hidup Tanpa Jeda —Renungan Akhir Tahun

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 31, 2025
in Esai
Jangan Takut Drama, Takutlah Hidup Tanpa Jeda  —Renungan Akhir Tahun

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

AKHIR-AKHIR ini saya mulai menyukai menonton drama. Bukan drama hidup yang ribut itu, melainkan drama yang hadir di layar. Jika dulu ada ada telenovela Amerika Latin yang emosinya meledak-ledak, kini ada drama Cina terbaru yang alurnya klise namun entah mengapa membuat betah duduk berlama-lama. Ada sesuatu yang pelan-pelan bekerja di sana. Sesuatu yang dulu saya remehkan, bahkan saya anggap kekanak-kanakan.

Dulu, ketika ibu angkat saya duduk manis di depan televisi, matanya sembab karena adegan sedih, atau suaranya meninggi karena tokoh antagonis yang terlalu jahat, saya sering menggeleng pelan. Saya merasa itu berlebihan. Drama saya anggap buang-buang waktu. Terlalu emosional. Tidak produktif. Saat itu saya berada di kubu yang percaya hidup harus rasional, efisien, dan kalau bisa, tanpa air mata.

Kini saya paham. Barangkali karena hidup sendiri sudah terlalu banyak menuntut kewarasan.

Menonton drama membutuhkan energi yang lebih sedikit dibanding membaca buku. Ini fakta sederhana yang dulu enggan saya terima. Membaca menuntut konsentrasi, daya tahan, dan kesediaan untuk berlama-lama dengan pikiran sendiri. Menonton memberi ruang untuk menyerah sejenak. Kita boleh pasif. Kita boleh tidak berpikir. Kita boleh hanya merasa.

Itulah mengapa televisi dulu begitu berkuasa, dan kini gawai menggantikan tahtanya. Orang akan lebih senang menerima ponsel pintar baru ketimbang sebuah buku. Dulu saya memusuhi kenyataan ini. Saya menganggapnya tanda kemunduran budaya. Sekarang saya memilih berdamai. Bukan karena saya kalah, melainkan karena saya sadar hidup modern memang menguras terlalu banyak energi.

Di tengah jam kerja yang memanjang, target yang tak pernah selesai, dan relasi yang sering terasa transaksional, manusia membutuhkan jeda. Dan drama, entah disukai atau tidak, menyediakan jeda itu.

Tidak mengherankan jika kini bermunculan aplikasi drama pendek. Episode singkat, konflik cepat, emosi instan. Ada yang gratis, ada yang berbayar. Semua berlomba menawarkan pelarian. Kita bisa mencibirnya sebagai budaya instan. Kita bisa menyebutnya candu baru. Namun di balik itu, ada kelelahan kolektif yang sedang mencari tempat bernaung.

Menariknya, kata “drama” dalam kosakata generasi muda justru mengalami peyorasi. “Drama lu!” atau “Kebanyakan drama!” menjadi ungkapan bernada ejekan. Drama diasosiasikan dengan sikap lebay, tidak dewasa, dan tidak rasional. Padahal kehidupan sehari-hari mereka sendiri penuh konflik yang tak pernah selesai. Hanya saja konflik itu dipendam, ditekan, dan dipaksa tampil rapi.

Barangkali kita hidup di zaman yang alergi pada emosi, tetapi kecanduan sensasi.

Padahal, drama yang kita tonton sering kali merupakan cermin kasar dari kehidupan sosial. CEO yang menyamar jadi orang miskin. Anak yang hilang bertahun-tahun lalu kembali dengan identitas baru. Anak angkat yang terus mencari jejak orang tuanya. Gadis kaya yang jatuh cinta pada pemuda miskin. Klise, memang. Namun bukankah struktur ketimpangan sosial memang berulang-ulang itu saja?

Drama bekerja dengan cara memperjelas konflik yang di dunia nyata sengaja dikaburkan. Dalam kehidupan sehari-hari, ketidakadilan sering tampil samar. Dalam drama, ia dibuat terang. Hitam dan putih. Baik dan jahat. Ada resolusi, meski kadang terasa terlalu manis.

Di situlah letak daya hiburnya. Bukan karena kita bodoh, melainkan karena hidup nyata terlalu sering menggantung tanpa kepastian.

Bagi kelas pekerja, drama adalah tempat menitipkan lelah. Setelah dimarahi atasan, setelah lembur tanpa apresiasi, setelah bertengkar dengan pasangan karena hal-hal sepele yang sejatinya bersumber dari kelelahan ekonomi, drama menawarkan dunia di mana konflik boleh meledak. Di mana menangis tidak perlu disembunyikan. Di mana amarah memiliki saluran.

Kita kerap lupa bahwa manusia bukan mesin. Namun sistem menuntut kita bekerja seperti mesin. Maka ketika mesin itu panas, drama menjadi kipas angin darurat.

Ironisnya, di saat yang sama, media sosial dipenuhi pengkotbah. Semua orang ingin memberi makna. Semua orang ingin mengajari hidup yang benar. Bahkan sastrawan pun tak luput dari godaan ini. Mereka menjadi terlalu serius. Terlalu khidmat. Terlalu ingin terlihat bijak.

Padahal sebagian dari mereka dulu adalah penulis naskah drama yang piawai. Dramawan yang mengerti betul bahwa hidup tidak selalu rapi, dan manusia tidak selalu konsisten. Panggung berubah, seiring waktu. Namun barangkali yang berubah bukan zamannya, melainkan keberanian untuk mengakui keretakan.

Kita hidup di era ketika keseriusan menjadi mata uang moral. Siapa yang paling serius, paling bernada nasihat, dianggap paling bermakna. Humor dicurigai. Air mata dianggap kelemahan. Drama dicap kekanak-kanakan.

Padahal dunia ini, kata seorang pujangga, hanyalah panggung sandiwara. Kita semua aktor yang sedang memainkan peran. Bedanya, kini kita lupa caranya turun panggung.

Drama mengingatkan kita bahwa tidak apa-apa berhenti sejenak. Tidak apa-apa larut dalam kisah orang lain. Tidak apa-apa merasa, tanpa harus selalu menjelaskan.

Dalam konteks kesehatan mental, jeda semacam ini bukan perkara sepele. Terlalu lama hidup tanpa jeda bisa berujung pada kelelahan batin yang serius. Bukan semua orang kuat memikul hidup dengan wajah tegar terus-menerus. Ada yang retak pelan-pelan. Ada yang jatuh tanpa suara.

Menonton drama tentu tidak menyelesaikan persoalan struktural. Ia tidak menaikkan upah. Tidak menghapus ketimpangan. Namun ia memberi ruang bernapas. Dan kadang, bernapas saja sudah cukup untuk bertahan satu hari lagi.

Barangkali yang perlu kita takutkan bukanlah drama. Bukan tangis yang tumpah di layar. Bukan konflik yang dibuat terang-terangan. Yang lebih patut ditakuti adalah hidup yang berjalan terus tanpa jeda, tanpa ruang untuk merasa, tanpa tempat aman untuk runtuh sebentar.

Kita hidup di zaman yang memaksa semua orang tampak kuat. Di mana kelelahan harus disamarkan, air mata harus dirapikan, dan luka batin diminta antre karena dianggap tidak produktif. Di titik itulah banyak orang jatuh diam-diam. Tidak dramatis. Tidak viral. Hanya pelan-pelan kehilangan diri.

Drama, dengan segala kelemahannya, masih memberi kita izin untuk berhenti. Untuk duduk. Untuk menghela napas. Untuk mengakui bahwa hidup memang melelahkan dan tidak selalu masuk akal. Ia tidak menyelamatkan dunia, namun kerap menyelamatkan hari.

Maka jika suatu malam kita memilih menonton drama alih-alih menambah beban pikiran, itu bukan kemunduran. Itu bentuk perlawanan kecil terhadap hidup yang terlalu menuntut kewarasan. Sebab manusia tidak diciptakan untuk terus kuat. Ia diciptakan untuk bertahan, dengan caranya masing-masing. Jangan takut drama. Takutlah jika suatu hari kita tak lagi tahu caranya berhenti, sebelum benar-benar habis. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Dramadrama cinadrama korearenungantahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Unsur Pidana  Dalam Jual Beli Gantung

Next Post

Menjaga Denyut, Menyulam Harapan —Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Menjaga Denyut, Menyulam Harapan —Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

Menjaga Denyut, Menyulam Harapan ---Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co