23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Takut Drama, Takutlah Hidup Tanpa Jeda —Renungan Akhir Tahun

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 31, 2025
in Esai
Jangan Takut Drama, Takutlah Hidup Tanpa Jeda  —Renungan Akhir Tahun

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

AKHIR-AKHIR ini saya mulai menyukai menonton drama. Bukan drama hidup yang ribut itu, melainkan drama yang hadir di layar. Jika dulu ada ada telenovela Amerika Latin yang emosinya meledak-ledak, kini ada drama Cina terbaru yang alurnya klise namun entah mengapa membuat betah duduk berlama-lama. Ada sesuatu yang pelan-pelan bekerja di sana. Sesuatu yang dulu saya remehkan, bahkan saya anggap kekanak-kanakan.

Dulu, ketika ibu angkat saya duduk manis di depan televisi, matanya sembab karena adegan sedih, atau suaranya meninggi karena tokoh antagonis yang terlalu jahat, saya sering menggeleng pelan. Saya merasa itu berlebihan. Drama saya anggap buang-buang waktu. Terlalu emosional. Tidak produktif. Saat itu saya berada di kubu yang percaya hidup harus rasional, efisien, dan kalau bisa, tanpa air mata.

Kini saya paham. Barangkali karena hidup sendiri sudah terlalu banyak menuntut kewarasan.

Menonton drama membutuhkan energi yang lebih sedikit dibanding membaca buku. Ini fakta sederhana yang dulu enggan saya terima. Membaca menuntut konsentrasi, daya tahan, dan kesediaan untuk berlama-lama dengan pikiran sendiri. Menonton memberi ruang untuk menyerah sejenak. Kita boleh pasif. Kita boleh tidak berpikir. Kita boleh hanya merasa.

Itulah mengapa televisi dulu begitu berkuasa, dan kini gawai menggantikan tahtanya. Orang akan lebih senang menerima ponsel pintar baru ketimbang sebuah buku. Dulu saya memusuhi kenyataan ini. Saya menganggapnya tanda kemunduran budaya. Sekarang saya memilih berdamai. Bukan karena saya kalah, melainkan karena saya sadar hidup modern memang menguras terlalu banyak energi.

Di tengah jam kerja yang memanjang, target yang tak pernah selesai, dan relasi yang sering terasa transaksional, manusia membutuhkan jeda. Dan drama, entah disukai atau tidak, menyediakan jeda itu.

Tidak mengherankan jika kini bermunculan aplikasi drama pendek. Episode singkat, konflik cepat, emosi instan. Ada yang gratis, ada yang berbayar. Semua berlomba menawarkan pelarian. Kita bisa mencibirnya sebagai budaya instan. Kita bisa menyebutnya candu baru. Namun di balik itu, ada kelelahan kolektif yang sedang mencari tempat bernaung.

Menariknya, kata “drama” dalam kosakata generasi muda justru mengalami peyorasi. “Drama lu!” atau “Kebanyakan drama!” menjadi ungkapan bernada ejekan. Drama diasosiasikan dengan sikap lebay, tidak dewasa, dan tidak rasional. Padahal kehidupan sehari-hari mereka sendiri penuh konflik yang tak pernah selesai. Hanya saja konflik itu dipendam, ditekan, dan dipaksa tampil rapi.

Barangkali kita hidup di zaman yang alergi pada emosi, tetapi kecanduan sensasi.

Padahal, drama yang kita tonton sering kali merupakan cermin kasar dari kehidupan sosial. CEO yang menyamar jadi orang miskin. Anak yang hilang bertahun-tahun lalu kembali dengan identitas baru. Anak angkat yang terus mencari jejak orang tuanya. Gadis kaya yang jatuh cinta pada pemuda miskin. Klise, memang. Namun bukankah struktur ketimpangan sosial memang berulang-ulang itu saja?

Drama bekerja dengan cara memperjelas konflik yang di dunia nyata sengaja dikaburkan. Dalam kehidupan sehari-hari, ketidakadilan sering tampil samar. Dalam drama, ia dibuat terang. Hitam dan putih. Baik dan jahat. Ada resolusi, meski kadang terasa terlalu manis.

Di situlah letak daya hiburnya. Bukan karena kita bodoh, melainkan karena hidup nyata terlalu sering menggantung tanpa kepastian.

Bagi kelas pekerja, drama adalah tempat menitipkan lelah. Setelah dimarahi atasan, setelah lembur tanpa apresiasi, setelah bertengkar dengan pasangan karena hal-hal sepele yang sejatinya bersumber dari kelelahan ekonomi, drama menawarkan dunia di mana konflik boleh meledak. Di mana menangis tidak perlu disembunyikan. Di mana amarah memiliki saluran.

Kita kerap lupa bahwa manusia bukan mesin. Namun sistem menuntut kita bekerja seperti mesin. Maka ketika mesin itu panas, drama menjadi kipas angin darurat.

Ironisnya, di saat yang sama, media sosial dipenuhi pengkotbah. Semua orang ingin memberi makna. Semua orang ingin mengajari hidup yang benar. Bahkan sastrawan pun tak luput dari godaan ini. Mereka menjadi terlalu serius. Terlalu khidmat. Terlalu ingin terlihat bijak.

Padahal sebagian dari mereka dulu adalah penulis naskah drama yang piawai. Dramawan yang mengerti betul bahwa hidup tidak selalu rapi, dan manusia tidak selalu konsisten. Panggung berubah, seiring waktu. Namun barangkali yang berubah bukan zamannya, melainkan keberanian untuk mengakui keretakan.

Kita hidup di era ketika keseriusan menjadi mata uang moral. Siapa yang paling serius, paling bernada nasihat, dianggap paling bermakna. Humor dicurigai. Air mata dianggap kelemahan. Drama dicap kekanak-kanakan.

Padahal dunia ini, kata seorang pujangga, hanyalah panggung sandiwara. Kita semua aktor yang sedang memainkan peran. Bedanya, kini kita lupa caranya turun panggung.

Drama mengingatkan kita bahwa tidak apa-apa berhenti sejenak. Tidak apa-apa larut dalam kisah orang lain. Tidak apa-apa merasa, tanpa harus selalu menjelaskan.

Dalam konteks kesehatan mental, jeda semacam ini bukan perkara sepele. Terlalu lama hidup tanpa jeda bisa berujung pada kelelahan batin yang serius. Bukan semua orang kuat memikul hidup dengan wajah tegar terus-menerus. Ada yang retak pelan-pelan. Ada yang jatuh tanpa suara.

Menonton drama tentu tidak menyelesaikan persoalan struktural. Ia tidak menaikkan upah. Tidak menghapus ketimpangan. Namun ia memberi ruang bernapas. Dan kadang, bernapas saja sudah cukup untuk bertahan satu hari lagi.

Barangkali yang perlu kita takutkan bukanlah drama. Bukan tangis yang tumpah di layar. Bukan konflik yang dibuat terang-terangan. Yang lebih patut ditakuti adalah hidup yang berjalan terus tanpa jeda, tanpa ruang untuk merasa, tanpa tempat aman untuk runtuh sebentar.

Kita hidup di zaman yang memaksa semua orang tampak kuat. Di mana kelelahan harus disamarkan, air mata harus dirapikan, dan luka batin diminta antre karena dianggap tidak produktif. Di titik itulah banyak orang jatuh diam-diam. Tidak dramatis. Tidak viral. Hanya pelan-pelan kehilangan diri.

Drama, dengan segala kelemahannya, masih memberi kita izin untuk berhenti. Untuk duduk. Untuk menghela napas. Untuk mengakui bahwa hidup memang melelahkan dan tidak selalu masuk akal. Ia tidak menyelamatkan dunia, namun kerap menyelamatkan hari.

Maka jika suatu malam kita memilih menonton drama alih-alih menambah beban pikiran, itu bukan kemunduran. Itu bentuk perlawanan kecil terhadap hidup yang terlalu menuntut kewarasan. Sebab manusia tidak diciptakan untuk terus kuat. Ia diciptakan untuk bertahan, dengan caranya masing-masing. Jangan takut drama. Takutlah jika suatu hari kita tak lagi tahu caranya berhenti, sebelum benar-benar habis. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Dramadrama cinadrama korearenungantahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Unsur Pidana  Dalam Jual Beli Gantung

Next Post

Menjaga Denyut, Menyulam Harapan —Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Menjaga Denyut, Menyulam Harapan —Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

Menjaga Denyut, Menyulam Harapan ---Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co