23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Takut Drama, Takutlah Hidup Tanpa Jeda —Renungan Akhir Tahun

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 31, 2025
in Esai
Jangan Takut Drama, Takutlah Hidup Tanpa Jeda  —Renungan Akhir Tahun

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

AKHIR-AKHIR ini saya mulai menyukai menonton drama. Bukan drama hidup yang ribut itu, melainkan drama yang hadir di layar. Jika dulu ada ada telenovela Amerika Latin yang emosinya meledak-ledak, kini ada drama Cina terbaru yang alurnya klise namun entah mengapa membuat betah duduk berlama-lama. Ada sesuatu yang pelan-pelan bekerja di sana. Sesuatu yang dulu saya remehkan, bahkan saya anggap kekanak-kanakan.

Dulu, ketika ibu angkat saya duduk manis di depan televisi, matanya sembab karena adegan sedih, atau suaranya meninggi karena tokoh antagonis yang terlalu jahat, saya sering menggeleng pelan. Saya merasa itu berlebihan. Drama saya anggap buang-buang waktu. Terlalu emosional. Tidak produktif. Saat itu saya berada di kubu yang percaya hidup harus rasional, efisien, dan kalau bisa, tanpa air mata.

Kini saya paham. Barangkali karena hidup sendiri sudah terlalu banyak menuntut kewarasan.

Menonton drama membutuhkan energi yang lebih sedikit dibanding membaca buku. Ini fakta sederhana yang dulu enggan saya terima. Membaca menuntut konsentrasi, daya tahan, dan kesediaan untuk berlama-lama dengan pikiran sendiri. Menonton memberi ruang untuk menyerah sejenak. Kita boleh pasif. Kita boleh tidak berpikir. Kita boleh hanya merasa.

Itulah mengapa televisi dulu begitu berkuasa, dan kini gawai menggantikan tahtanya. Orang akan lebih senang menerima ponsel pintar baru ketimbang sebuah buku. Dulu saya memusuhi kenyataan ini. Saya menganggapnya tanda kemunduran budaya. Sekarang saya memilih berdamai. Bukan karena saya kalah, melainkan karena saya sadar hidup modern memang menguras terlalu banyak energi.

Di tengah jam kerja yang memanjang, target yang tak pernah selesai, dan relasi yang sering terasa transaksional, manusia membutuhkan jeda. Dan drama, entah disukai atau tidak, menyediakan jeda itu.

Tidak mengherankan jika kini bermunculan aplikasi drama pendek. Episode singkat, konflik cepat, emosi instan. Ada yang gratis, ada yang berbayar. Semua berlomba menawarkan pelarian. Kita bisa mencibirnya sebagai budaya instan. Kita bisa menyebutnya candu baru. Namun di balik itu, ada kelelahan kolektif yang sedang mencari tempat bernaung.

Menariknya, kata “drama” dalam kosakata generasi muda justru mengalami peyorasi. “Drama lu!” atau “Kebanyakan drama!” menjadi ungkapan bernada ejekan. Drama diasosiasikan dengan sikap lebay, tidak dewasa, dan tidak rasional. Padahal kehidupan sehari-hari mereka sendiri penuh konflik yang tak pernah selesai. Hanya saja konflik itu dipendam, ditekan, dan dipaksa tampil rapi.

Barangkali kita hidup di zaman yang alergi pada emosi, tetapi kecanduan sensasi.

Padahal, drama yang kita tonton sering kali merupakan cermin kasar dari kehidupan sosial. CEO yang menyamar jadi orang miskin. Anak yang hilang bertahun-tahun lalu kembali dengan identitas baru. Anak angkat yang terus mencari jejak orang tuanya. Gadis kaya yang jatuh cinta pada pemuda miskin. Klise, memang. Namun bukankah struktur ketimpangan sosial memang berulang-ulang itu saja?

Drama bekerja dengan cara memperjelas konflik yang di dunia nyata sengaja dikaburkan. Dalam kehidupan sehari-hari, ketidakadilan sering tampil samar. Dalam drama, ia dibuat terang. Hitam dan putih. Baik dan jahat. Ada resolusi, meski kadang terasa terlalu manis.

Di situlah letak daya hiburnya. Bukan karena kita bodoh, melainkan karena hidup nyata terlalu sering menggantung tanpa kepastian.

Bagi kelas pekerja, drama adalah tempat menitipkan lelah. Setelah dimarahi atasan, setelah lembur tanpa apresiasi, setelah bertengkar dengan pasangan karena hal-hal sepele yang sejatinya bersumber dari kelelahan ekonomi, drama menawarkan dunia di mana konflik boleh meledak. Di mana menangis tidak perlu disembunyikan. Di mana amarah memiliki saluran.

Kita kerap lupa bahwa manusia bukan mesin. Namun sistem menuntut kita bekerja seperti mesin. Maka ketika mesin itu panas, drama menjadi kipas angin darurat.

Ironisnya, di saat yang sama, media sosial dipenuhi pengkotbah. Semua orang ingin memberi makna. Semua orang ingin mengajari hidup yang benar. Bahkan sastrawan pun tak luput dari godaan ini. Mereka menjadi terlalu serius. Terlalu khidmat. Terlalu ingin terlihat bijak.

Padahal sebagian dari mereka dulu adalah penulis naskah drama yang piawai. Dramawan yang mengerti betul bahwa hidup tidak selalu rapi, dan manusia tidak selalu konsisten. Panggung berubah, seiring waktu. Namun barangkali yang berubah bukan zamannya, melainkan keberanian untuk mengakui keretakan.

Kita hidup di era ketika keseriusan menjadi mata uang moral. Siapa yang paling serius, paling bernada nasihat, dianggap paling bermakna. Humor dicurigai. Air mata dianggap kelemahan. Drama dicap kekanak-kanakan.

Padahal dunia ini, kata seorang pujangga, hanyalah panggung sandiwara. Kita semua aktor yang sedang memainkan peran. Bedanya, kini kita lupa caranya turun panggung.

Drama mengingatkan kita bahwa tidak apa-apa berhenti sejenak. Tidak apa-apa larut dalam kisah orang lain. Tidak apa-apa merasa, tanpa harus selalu menjelaskan.

Dalam konteks kesehatan mental, jeda semacam ini bukan perkara sepele. Terlalu lama hidup tanpa jeda bisa berujung pada kelelahan batin yang serius. Bukan semua orang kuat memikul hidup dengan wajah tegar terus-menerus. Ada yang retak pelan-pelan. Ada yang jatuh tanpa suara.

Menonton drama tentu tidak menyelesaikan persoalan struktural. Ia tidak menaikkan upah. Tidak menghapus ketimpangan. Namun ia memberi ruang bernapas. Dan kadang, bernapas saja sudah cukup untuk bertahan satu hari lagi.

Barangkali yang perlu kita takutkan bukanlah drama. Bukan tangis yang tumpah di layar. Bukan konflik yang dibuat terang-terangan. Yang lebih patut ditakuti adalah hidup yang berjalan terus tanpa jeda, tanpa ruang untuk merasa, tanpa tempat aman untuk runtuh sebentar.

Kita hidup di zaman yang memaksa semua orang tampak kuat. Di mana kelelahan harus disamarkan, air mata harus dirapikan, dan luka batin diminta antre karena dianggap tidak produktif. Di titik itulah banyak orang jatuh diam-diam. Tidak dramatis. Tidak viral. Hanya pelan-pelan kehilangan diri.

Drama, dengan segala kelemahannya, masih memberi kita izin untuk berhenti. Untuk duduk. Untuk menghela napas. Untuk mengakui bahwa hidup memang melelahkan dan tidak selalu masuk akal. Ia tidak menyelamatkan dunia, namun kerap menyelamatkan hari.

Maka jika suatu malam kita memilih menonton drama alih-alih menambah beban pikiran, itu bukan kemunduran. Itu bentuk perlawanan kecil terhadap hidup yang terlalu menuntut kewarasan. Sebab manusia tidak diciptakan untuk terus kuat. Ia diciptakan untuk bertahan, dengan caranya masing-masing. Jangan takut drama. Takutlah jika suatu hari kita tak lagi tahu caranya berhenti, sebelum benar-benar habis. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Dramadrama cinadrama korearenungantahun baru
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Unsur Pidana  Dalam Jual Beli Gantung

Next Post

Menjaga Denyut, Menyulam Harapan —Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Menjaga Denyut, Menyulam Harapan —Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

Menjaga Denyut, Menyulam Harapan ---Catatan Reflektif Perjalanan Seni Desa Adat Kuta 2025 dan Resolusi Budaya 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co