2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenal Neck Deep dan Mengurai ‘December’ ─ Pop-Punk yang Menolak Tenggelam dalam Nostalgia

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 30, 2025
in Ulas Musik
Mengenal Neck Deep dan Mengurai ‘December’ ─ Pop-Punk yang Menolak Tenggelam dalam Nostalgia

Foto: @neckdeepuk

BAGI sebagian penggemar musik alternatif, pop-punk kerap dianggap genre yang terjebak nostalgia pada era awal 2000-an. Namun, kemunculan Neck Deep pada dekade 2010-an membantah anggapan tersebut. Band asal Wrexham, Wales, ini adalah salah satu aktor utama yang menghidupkan kembali pop-punk modern untuk generasi baru sampai saat ini.

Neck Deep terbentuk pada 2012, di era ketika internet menjadi panggung utama bagi band-band baru. Ben Barlow sang vokalis band dan Lloyd Roberts(ex gitaris) memulai semuanya, mereka merekam demo sederhana yang kemudian menyebar cepat di dunia maya. Respons yang mereka terima bukan sekadar pujian, tetapi juga motivasi untuk melanjutkan keseriusan di dunia musik. EP-EP (Extented Play/Mini Album) awal mereka, Rain in July (2012) dan A History of Bad Decisions (2013), menampilkan ciri khas yang menjadi identitas mereka: tempo cepat, chorus mudah diingat, dan lirik yang bercerita tentang patah hati, kegelisahan, dan harapan anak muda. Kejujuran inilah yang membuat mereka diterima, bukan karena gimmick, melainkan karena keberanian untuk jujur.

Seiring waktu, Neck Deep mulai membangun reputasi mereka sebagai band yang mampu menjembatani nostalgia pop-punk awal 2000-an dengan kebutuhan emosional generasi baru. Album kedua mereka, Life’s Not Out to Get You (2015), menjadi titik balik. Album ini tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga menjadi penanda bangkitnya pop-punk modern. Lagu-lagu seperti Can’t Kick Up the Roots dan terutama December menjelma menjadi anthem generasi ─ dinyanyikan massal di konser, dibagikan di media sosial, dan tetap hidup dalam memori kolektif penggemar.

Ben Barlow ─ Neck Deep│Foto: Everblackmedia

Yang membuat Life’s Not Out to Get You istimewa adalah keseimbangan emosionalnya. Album ini agresif tapi optimistis, emosional namun tidak tenggelam dalam keputusasaan. Pesan yang disampaikan sederhana namun kuat ─ hidup memang keras, tetapi bukan berarti tidak layak diperjuangkan. Neck Deep menunjukkan bahwa pop-punk bisa tetap relevan, bukan hanya melalui romantisasi masa lalu, tetapi lewat kejujuran yang universal dan kontekstual dengan perkembangan zaman.

Perjalanan Neck Deep tidak berhenti sampai di situ. Album The Peace and the Panic (2017) menghadirkan nuansa lebih reflektif, dengan lirik yang menyinggung kecemasan sosial, penerimaan dan harapan, kehilangan dan kesepian, serta realita kehidupan. Eksperimen berlanjut dengan All Distortions Are Intentional (2020), sebuah album konseptual yang menandai keberanian mereka melangkah keluar dari zona nyaman pop-punk konvensional. Meskipun dianggap kurang bagus oleh sebagian penggemar dan kritikus karena adanya perubahan karakter sound dan produksi yang dianggap kurang ‘pop-punk’ dibandingkan album-album mereka sebelumnya. Tetapi, melalui album ini Neck Deep menegaskan satu hal, mereka adalah band yang sadar dan berani akan risiko artistik.

Album terbaru mereka, Neck Deep (2024), menjadi pernyataan sikap sekaligus refleksi kedewasaan. Dalam album tersebut, band ini kembali ke esensi pop-punk ─ enerjik, lugas, dan penuh hook. Perubahan formasi personil beberapa kali juga menegaskan bahwa Neck Deep bukan sekadar kumpulan individu, melainkan entitas kreatif yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.

Neck Deep│Foto: @neckdeepuk

Di tengah dominasi pop, hip-hop, hardcore, dan musik elektronik, Neck Deep tetap relevan. Mereka membuktikan bahwa pop-punk bukan hanya soal nostalgia. Band ini lahir dari internet, tumbuh di panggung lokal, dan akhirnya menjadi musisi global. Kejujuran sederhana dalam lagu-lagunya menjadi kekuatan yang menjaga relevansi mereka. Selama masih ada pendengar yang mencari musik untuk merasa dimengerti, Neck Deep tampaknya belum akan tenggelam.

Di antara semua lagu hits mereka, December menempati posisi yang istimewa. Lagu ini lahir dari pengalaman pribadi Ben Barlow, yang mengalami patah hati pahit di suatu bulan Desember. Mengutip dari situs Metalnerd.net, Ben Barlow mengakui bahwa lagu ini lahir dari perasaan patah hati ditinggal mantannya, dan secara mental, ia berada dalam kondisi apatis terhadap apa yang terjadi.

“Sebuah pandangan apatis secara mental tentang bagaimana semuanya terjadi, di mana saya pada akhirnya menyalahkan diri sendiri,” kata Ben Barlow tentang proses kreatifnya.

Lagu ini berbeda dari lagu patah hati biasa. Ben Barlow menempatkan dirinya sebagai narator yang terbuka menyingkap seluruh proses emosionalnya, mulai dari kebingungan, penolakan, hingga introspeksi.

Lirik pembukanya:

“Stumbled ’round the block a thousand times / You missed every call that I had tried / So now I’m giving up / A heartbreak in mid December / You don’t give a fuck / You’d never remember me.”

Penggalan lirik tersebut langsung menempatkan pendengar pada pusat rasa sakit itu. Kontras antara bulan Desember, yang identik dengan keceriaan, perayaan, dan reuni keluarga, dengan pengalaman pribadi yang pahit, membuat lagu ini begitu menggetarkan.

Lirik lain seperti pada bagian reff:

“I hope you get your ballroom floor / Your perfect house with rose red doors / I’m the last thing you’d remember / It’s been a long, lonely December / I wish I’d known that less is more / But I was passed out on the floor / And that’s the last thing I remember / It’s been a long, lonely December.”

Penggalan lirik tersebut menunjukkan keikhlasan narator. Meski terluka, ia tetap mengharapkan kebahagiaan bagi mantannya, bahkan jika dirinya dilupakan. Ini bukan kemarahan atau dendam, tetapi penerimaan pahit namun jujur. Secara musikal, December juga berbeda dari pop-punk pada umumnya. Aransemen lagu dibuat lebih lembut dan introspektif dengan musik akustik, menempatkan vokal dan lirik sebagai pusat narasi, sehingga memberi ruang bagi pendengar untuk merenungkan pengalaman mereka sendiri.

Seiring waktu, December berkembang menjadi anthem yang lebih luas daripada kisah pribadi Ben Barlow. Setiap bulan Desember, lagu ini diputar lebih sering di platform musik digital, seolah menjadi “anthem wajib” yang menyentuh pengalaman emosional universal: kesepian saat orang lain bersuka cita, penyesalan atas hubungan yang telah berlalu, dan refleksi diri di penghujung tahun.

Ben Barlow ─ Neck Deep saat tampil di acara Fanatik di Keramas Aero Park, Gianyar (25/11/22)│Foto: Creativedics

 

Lagu December memiliki tiga versi resmi yang masing-masing merepresentasikan lapisan emosional yang berbeda. Versi pertama adalah versi original yang dirilis pada 2015 dalam album Life’s Not Out to Get You. Dengan aransemen akustik sederhana, versi ini terasa sangat personal. Inilah versi yang pertama kali membangun ikatan emosional dengan pendengar dan menjadikan December sebagai lagu refleksi yang kuat, terutama ketika diputar di akhir tahun.

Versi kedua adalah “December (Again)” yang menampilkan Mark Hoppus dari blink-182, menghadirkan dimensi lintas generasi dan memberi legitimasi historis pada lagu ini. Sementara itu, pada versi ketiga Neck Deep berkolaborasi dengan Chris Carrabba dari Dashboard Confessional, membawa nuansa emo yang lebih dalam dan kontemplatif, mempertebal rasa kehilangan yang menjadi inti lagu. Ketiga versi ini tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi, membuat December bertahan sebagai anthem emosional setiap akhir tahun.

Bagi sebagian penggemar Neck Deep, December menjadi soundtrack bagi mereka yang menghadapi bulan yang paling ceria namun sering kali paling sunyi. Dan di sanalah letak kekuatannya, bukan sekadar anthem akhir tahun, tetapi narasi emosional yang menjembatani pengalaman pribadi dan kolektif.

Setelah lebih dari satu dekade berkecimpung di industri musik, Neck Deep membuktikan bahwa pop-punk masih memiliki denyut nadi. Band ini mengingatkan kita bahwa musik bukan sekadar hiburan, tetapi juga cermin emosional dan komunitas. Mereka membuktikan bahwa jujur terhadap diri sendiri, berbicara tentang kegagalan, harapan, dan patah hati, dapat menjadi cara paling efektif untuk tetap relevan di tengah beragamnya selera musik di masa kini. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: grup musikNeck DeeppunkWales
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Next Post

Knockin’ on Heaven’s Door: Bayangan Abadi di Ambang Kefanaan

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails
Next Post
Knockin’ on Heaven’s Door: Bayangan Abadi di Ambang Kefanaan

Knockin' on Heaven's Door: Bayangan Abadi di Ambang Kefanaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co