23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenal Neck Deep dan Mengurai ‘December’ ─ Pop-Punk yang Menolak Tenggelam dalam Nostalgia

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 30, 2025
in Ulas Musik
Mengenal Neck Deep dan Mengurai ‘December’ ─ Pop-Punk yang Menolak Tenggelam dalam Nostalgia

Foto: @neckdeepuk

BAGI sebagian penggemar musik alternatif, pop-punk kerap dianggap genre yang terjebak nostalgia pada era awal 2000-an. Namun, kemunculan Neck Deep pada dekade 2010-an membantah anggapan tersebut. Band asal Wrexham, Wales, ini adalah salah satu aktor utama yang menghidupkan kembali pop-punk modern untuk generasi baru sampai saat ini.

Neck Deep terbentuk pada 2012, di era ketika internet menjadi panggung utama bagi band-band baru. Ben Barlow sang vokalis band dan Lloyd Roberts(ex gitaris) memulai semuanya, mereka merekam demo sederhana yang kemudian menyebar cepat di dunia maya. Respons yang mereka terima bukan sekadar pujian, tetapi juga motivasi untuk melanjutkan keseriusan di dunia musik. EP-EP (Extented Play/Mini Album) awal mereka, Rain in July (2012) dan A History of Bad Decisions (2013), menampilkan ciri khas yang menjadi identitas mereka: tempo cepat, chorus mudah diingat, dan lirik yang bercerita tentang patah hati, kegelisahan, dan harapan anak muda. Kejujuran inilah yang membuat mereka diterima, bukan karena gimmick, melainkan karena keberanian untuk jujur.

Seiring waktu, Neck Deep mulai membangun reputasi mereka sebagai band yang mampu menjembatani nostalgia pop-punk awal 2000-an dengan kebutuhan emosional generasi baru. Album kedua mereka, Life’s Not Out to Get You (2015), menjadi titik balik. Album ini tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga menjadi penanda bangkitnya pop-punk modern. Lagu-lagu seperti Can’t Kick Up the Roots dan terutama December menjelma menjadi anthem generasi ─ dinyanyikan massal di konser, dibagikan di media sosial, dan tetap hidup dalam memori kolektif penggemar.

Ben Barlow ─ Neck Deep│Foto: Everblackmedia

Yang membuat Life’s Not Out to Get You istimewa adalah keseimbangan emosionalnya. Album ini agresif tapi optimistis, emosional namun tidak tenggelam dalam keputusasaan. Pesan yang disampaikan sederhana namun kuat ─ hidup memang keras, tetapi bukan berarti tidak layak diperjuangkan. Neck Deep menunjukkan bahwa pop-punk bisa tetap relevan, bukan hanya melalui romantisasi masa lalu, tetapi lewat kejujuran yang universal dan kontekstual dengan perkembangan zaman.

Perjalanan Neck Deep tidak berhenti sampai di situ. Album The Peace and the Panic (2017) menghadirkan nuansa lebih reflektif, dengan lirik yang menyinggung kecemasan sosial, penerimaan dan harapan, kehilangan dan kesepian, serta realita kehidupan. Eksperimen berlanjut dengan All Distortions Are Intentional (2020), sebuah album konseptual yang menandai keberanian mereka melangkah keluar dari zona nyaman pop-punk konvensional. Meskipun dianggap kurang bagus oleh sebagian penggemar dan kritikus karena adanya perubahan karakter sound dan produksi yang dianggap kurang ‘pop-punk’ dibandingkan album-album mereka sebelumnya. Tetapi, melalui album ini Neck Deep menegaskan satu hal, mereka adalah band yang sadar dan berani akan risiko artistik.

Album terbaru mereka, Neck Deep (2024), menjadi pernyataan sikap sekaligus refleksi kedewasaan. Dalam album tersebut, band ini kembali ke esensi pop-punk ─ enerjik, lugas, dan penuh hook. Perubahan formasi personil beberapa kali juga menegaskan bahwa Neck Deep bukan sekadar kumpulan individu, melainkan entitas kreatif yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.

Neck Deep│Foto: @neckdeepuk

Di tengah dominasi pop, hip-hop, hardcore, dan musik elektronik, Neck Deep tetap relevan. Mereka membuktikan bahwa pop-punk bukan hanya soal nostalgia. Band ini lahir dari internet, tumbuh di panggung lokal, dan akhirnya menjadi musisi global. Kejujuran sederhana dalam lagu-lagunya menjadi kekuatan yang menjaga relevansi mereka. Selama masih ada pendengar yang mencari musik untuk merasa dimengerti, Neck Deep tampaknya belum akan tenggelam.

Di antara semua lagu hits mereka, December menempati posisi yang istimewa. Lagu ini lahir dari pengalaman pribadi Ben Barlow, yang mengalami patah hati pahit di suatu bulan Desember. Mengutip dari situs Metalnerd.net, Ben Barlow mengakui bahwa lagu ini lahir dari perasaan patah hati ditinggal mantannya, dan secara mental, ia berada dalam kondisi apatis terhadap apa yang terjadi.

“Sebuah pandangan apatis secara mental tentang bagaimana semuanya terjadi, di mana saya pada akhirnya menyalahkan diri sendiri,” kata Ben Barlow tentang proses kreatifnya.

Lagu ini berbeda dari lagu patah hati biasa. Ben Barlow menempatkan dirinya sebagai narator yang terbuka menyingkap seluruh proses emosionalnya, mulai dari kebingungan, penolakan, hingga introspeksi.

Lirik pembukanya:

“Stumbled ’round the block a thousand times / You missed every call that I had tried / So now I’m giving up / A heartbreak in mid December / You don’t give a fuck / You’d never remember me.”

Penggalan lirik tersebut langsung menempatkan pendengar pada pusat rasa sakit itu. Kontras antara bulan Desember, yang identik dengan keceriaan, perayaan, dan reuni keluarga, dengan pengalaman pribadi yang pahit, membuat lagu ini begitu menggetarkan.

Lirik lain seperti pada bagian reff:

“I hope you get your ballroom floor / Your perfect house with rose red doors / I’m the last thing you’d remember / It’s been a long, lonely December / I wish I’d known that less is more / But I was passed out on the floor / And that’s the last thing I remember / It’s been a long, lonely December.”

Penggalan lirik tersebut menunjukkan keikhlasan narator. Meski terluka, ia tetap mengharapkan kebahagiaan bagi mantannya, bahkan jika dirinya dilupakan. Ini bukan kemarahan atau dendam, tetapi penerimaan pahit namun jujur. Secara musikal, December juga berbeda dari pop-punk pada umumnya. Aransemen lagu dibuat lebih lembut dan introspektif dengan musik akustik, menempatkan vokal dan lirik sebagai pusat narasi, sehingga memberi ruang bagi pendengar untuk merenungkan pengalaman mereka sendiri.

Seiring waktu, December berkembang menjadi anthem yang lebih luas daripada kisah pribadi Ben Barlow. Setiap bulan Desember, lagu ini diputar lebih sering di platform musik digital, seolah menjadi “anthem wajib” yang menyentuh pengalaman emosional universal: kesepian saat orang lain bersuka cita, penyesalan atas hubungan yang telah berlalu, dan refleksi diri di penghujung tahun.

Ben Barlow ─ Neck Deep saat tampil di acara Fanatik di Keramas Aero Park, Gianyar (25/11/22)│Foto: Creativedics

 

Lagu December memiliki tiga versi resmi yang masing-masing merepresentasikan lapisan emosional yang berbeda. Versi pertama adalah versi original yang dirilis pada 2015 dalam album Life’s Not Out to Get You. Dengan aransemen akustik sederhana, versi ini terasa sangat personal. Inilah versi yang pertama kali membangun ikatan emosional dengan pendengar dan menjadikan December sebagai lagu refleksi yang kuat, terutama ketika diputar di akhir tahun.

Versi kedua adalah “December (Again)” yang menampilkan Mark Hoppus dari blink-182, menghadirkan dimensi lintas generasi dan memberi legitimasi historis pada lagu ini. Sementara itu, pada versi ketiga Neck Deep berkolaborasi dengan Chris Carrabba dari Dashboard Confessional, membawa nuansa emo yang lebih dalam dan kontemplatif, mempertebal rasa kehilangan yang menjadi inti lagu. Ketiga versi ini tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi, membuat December bertahan sebagai anthem emosional setiap akhir tahun.

Bagi sebagian penggemar Neck Deep, December menjadi soundtrack bagi mereka yang menghadapi bulan yang paling ceria namun sering kali paling sunyi. Dan di sanalah letak kekuatannya, bukan sekadar anthem akhir tahun, tetapi narasi emosional yang menjembatani pengalaman pribadi dan kolektif.

Setelah lebih dari satu dekade berkecimpung di industri musik, Neck Deep membuktikan bahwa pop-punk masih memiliki denyut nadi. Band ini mengingatkan kita bahwa musik bukan sekadar hiburan, tetapi juga cermin emosional dan komunitas. Mereka membuktikan bahwa jujur terhadap diri sendiri, berbicara tentang kegagalan, harapan, dan patah hati, dapat menjadi cara paling efektif untuk tetap relevan di tengah beragamnya selera musik di masa kini. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: grup musikNeck DeeppunkWales
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Next Post

Knockin’ on Heaven’s Door: Bayangan Abadi di Ambang Kefanaan

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails
Next Post
Knockin’ on Heaven’s Door: Bayangan Abadi di Ambang Kefanaan

Knockin' on Heaven's Door: Bayangan Abadi di Ambang Kefanaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co