13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenal Neck Deep dan Mengurai ‘December’ ─ Pop-Punk yang Menolak Tenggelam dalam Nostalgia

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 30, 2025
in Ulas Musik
Mengenal Neck Deep dan Mengurai ‘December’ ─ Pop-Punk yang Menolak Tenggelam dalam Nostalgia

Foto: @neckdeepuk

BAGI sebagian penggemar musik alternatif, pop-punk kerap dianggap genre yang terjebak nostalgia pada era awal 2000-an. Namun, kemunculan Neck Deep pada dekade 2010-an membantah anggapan tersebut. Band asal Wrexham, Wales, ini adalah salah satu aktor utama yang menghidupkan kembali pop-punk modern untuk generasi baru sampai saat ini.

Neck Deep terbentuk pada 2012, di era ketika internet menjadi panggung utama bagi band-band baru. Ben Barlow sang vokalis band dan Lloyd Roberts(ex gitaris) memulai semuanya, mereka merekam demo sederhana yang kemudian menyebar cepat di dunia maya. Respons yang mereka terima bukan sekadar pujian, tetapi juga motivasi untuk melanjutkan keseriusan di dunia musik. EP-EP (Extented Play/Mini Album) awal mereka, Rain in July (2012) dan A History of Bad Decisions (2013), menampilkan ciri khas yang menjadi identitas mereka: tempo cepat, chorus mudah diingat, dan lirik yang bercerita tentang patah hati, kegelisahan, dan harapan anak muda. Kejujuran inilah yang membuat mereka diterima, bukan karena gimmick, melainkan karena keberanian untuk jujur.

Seiring waktu, Neck Deep mulai membangun reputasi mereka sebagai band yang mampu menjembatani nostalgia pop-punk awal 2000-an dengan kebutuhan emosional generasi baru. Album kedua mereka, Life’s Not Out to Get You (2015), menjadi titik balik. Album ini tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga menjadi penanda bangkitnya pop-punk modern. Lagu-lagu seperti Can’t Kick Up the Roots dan terutama December menjelma menjadi anthem generasi ─ dinyanyikan massal di konser, dibagikan di media sosial, dan tetap hidup dalam memori kolektif penggemar.

Ben Barlow ─ Neck Deep│Foto: Everblackmedia

Yang membuat Life’s Not Out to Get You istimewa adalah keseimbangan emosionalnya. Album ini agresif tapi optimistis, emosional namun tidak tenggelam dalam keputusasaan. Pesan yang disampaikan sederhana namun kuat ─ hidup memang keras, tetapi bukan berarti tidak layak diperjuangkan. Neck Deep menunjukkan bahwa pop-punk bisa tetap relevan, bukan hanya melalui romantisasi masa lalu, tetapi lewat kejujuran yang universal dan kontekstual dengan perkembangan zaman.

Perjalanan Neck Deep tidak berhenti sampai di situ. Album The Peace and the Panic (2017) menghadirkan nuansa lebih reflektif, dengan lirik yang menyinggung kecemasan sosial, penerimaan dan harapan, kehilangan dan kesepian, serta realita kehidupan. Eksperimen berlanjut dengan All Distortions Are Intentional (2020), sebuah album konseptual yang menandai keberanian mereka melangkah keluar dari zona nyaman pop-punk konvensional. Meskipun dianggap kurang bagus oleh sebagian penggemar dan kritikus karena adanya perubahan karakter sound dan produksi yang dianggap kurang ‘pop-punk’ dibandingkan album-album mereka sebelumnya. Tetapi, melalui album ini Neck Deep menegaskan satu hal, mereka adalah band yang sadar dan berani akan risiko artistik.

Album terbaru mereka, Neck Deep (2024), menjadi pernyataan sikap sekaligus refleksi kedewasaan. Dalam album tersebut, band ini kembali ke esensi pop-punk ─ enerjik, lugas, dan penuh hook. Perubahan formasi personil beberapa kali juga menegaskan bahwa Neck Deep bukan sekadar kumpulan individu, melainkan entitas kreatif yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.

Neck Deep│Foto: @neckdeepuk

Di tengah dominasi pop, hip-hop, hardcore, dan musik elektronik, Neck Deep tetap relevan. Mereka membuktikan bahwa pop-punk bukan hanya soal nostalgia. Band ini lahir dari internet, tumbuh di panggung lokal, dan akhirnya menjadi musisi global. Kejujuran sederhana dalam lagu-lagunya menjadi kekuatan yang menjaga relevansi mereka. Selama masih ada pendengar yang mencari musik untuk merasa dimengerti, Neck Deep tampaknya belum akan tenggelam.

Di antara semua lagu hits mereka, December menempati posisi yang istimewa. Lagu ini lahir dari pengalaman pribadi Ben Barlow, yang mengalami patah hati pahit di suatu bulan Desember. Mengutip dari situs Metalnerd.net, Ben Barlow mengakui bahwa lagu ini lahir dari perasaan patah hati ditinggal mantannya, dan secara mental, ia berada dalam kondisi apatis terhadap apa yang terjadi.

“Sebuah pandangan apatis secara mental tentang bagaimana semuanya terjadi, di mana saya pada akhirnya menyalahkan diri sendiri,” kata Ben Barlow tentang proses kreatifnya.

Lagu ini berbeda dari lagu patah hati biasa. Ben Barlow menempatkan dirinya sebagai narator yang terbuka menyingkap seluruh proses emosionalnya, mulai dari kebingungan, penolakan, hingga introspeksi.

Lirik pembukanya:

“Stumbled ’round the block a thousand times / You missed every call that I had tried / So now I’m giving up / A heartbreak in mid December / You don’t give a fuck / You’d never remember me.”

Penggalan lirik tersebut langsung menempatkan pendengar pada pusat rasa sakit itu. Kontras antara bulan Desember, yang identik dengan keceriaan, perayaan, dan reuni keluarga, dengan pengalaman pribadi yang pahit, membuat lagu ini begitu menggetarkan.

Lirik lain seperti pada bagian reff:

“I hope you get your ballroom floor / Your perfect house with rose red doors / I’m the last thing you’d remember / It’s been a long, lonely December / I wish I’d known that less is more / But I was passed out on the floor / And that’s the last thing I remember / It’s been a long, lonely December.”

Penggalan lirik tersebut menunjukkan keikhlasan narator. Meski terluka, ia tetap mengharapkan kebahagiaan bagi mantannya, bahkan jika dirinya dilupakan. Ini bukan kemarahan atau dendam, tetapi penerimaan pahit namun jujur. Secara musikal, December juga berbeda dari pop-punk pada umumnya. Aransemen lagu dibuat lebih lembut dan introspektif dengan musik akustik, menempatkan vokal dan lirik sebagai pusat narasi, sehingga memberi ruang bagi pendengar untuk merenungkan pengalaman mereka sendiri.

Seiring waktu, December berkembang menjadi anthem yang lebih luas daripada kisah pribadi Ben Barlow. Setiap bulan Desember, lagu ini diputar lebih sering di platform musik digital, seolah menjadi “anthem wajib” yang menyentuh pengalaman emosional universal: kesepian saat orang lain bersuka cita, penyesalan atas hubungan yang telah berlalu, dan refleksi diri di penghujung tahun.

Ben Barlow ─ Neck Deep saat tampil di acara Fanatik di Keramas Aero Park, Gianyar (25/11/22)│Foto: Creativedics

 

Lagu December memiliki tiga versi resmi yang masing-masing merepresentasikan lapisan emosional yang berbeda. Versi pertama adalah versi original yang dirilis pada 2015 dalam album Life’s Not Out to Get You. Dengan aransemen akustik sederhana, versi ini terasa sangat personal. Inilah versi yang pertama kali membangun ikatan emosional dengan pendengar dan menjadikan December sebagai lagu refleksi yang kuat, terutama ketika diputar di akhir tahun.

Versi kedua adalah “December (Again)” yang menampilkan Mark Hoppus dari blink-182, menghadirkan dimensi lintas generasi dan memberi legitimasi historis pada lagu ini. Sementara itu, pada versi ketiga Neck Deep berkolaborasi dengan Chris Carrabba dari Dashboard Confessional, membawa nuansa emo yang lebih dalam dan kontemplatif, mempertebal rasa kehilangan yang menjadi inti lagu. Ketiga versi ini tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi, membuat December bertahan sebagai anthem emosional setiap akhir tahun.

Bagi sebagian penggemar Neck Deep, December menjadi soundtrack bagi mereka yang menghadapi bulan yang paling ceria namun sering kali paling sunyi. Dan di sanalah letak kekuatannya, bukan sekadar anthem akhir tahun, tetapi narasi emosional yang menjembatani pengalaman pribadi dan kolektif.

Setelah lebih dari satu dekade berkecimpung di industri musik, Neck Deep membuktikan bahwa pop-punk masih memiliki denyut nadi. Band ini mengingatkan kita bahwa musik bukan sekadar hiburan, tetapi juga cermin emosional dan komunitas. Mereka membuktikan bahwa jujur terhadap diri sendiri, berbicara tentang kegagalan, harapan, dan patah hati, dapat menjadi cara paling efektif untuk tetap relevan di tengah beragamnya selera musik di masa kini. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: grup musikNeck DeeppunkWales
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Next Post

Knockin’ on Heaven’s Door: Bayangan Abadi di Ambang Kefanaan

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
0
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

Read moreDetails
Next Post
Knockin’ on Heaven’s Door: Bayangan Abadi di Ambang Kefanaan

Knockin' on Heaven's Door: Bayangan Abadi di Ambang Kefanaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co