23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenal Neck Deep dan Mengurai ‘December’ ─ Pop-Punk yang Menolak Tenggelam dalam Nostalgia

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 30, 2025
in Ulas Musik
Mengenal Neck Deep dan Mengurai ‘December’ ─ Pop-Punk yang Menolak Tenggelam dalam Nostalgia

Foto: @neckdeepuk

BAGI sebagian penggemar musik alternatif, pop-punk kerap dianggap genre yang terjebak nostalgia pada era awal 2000-an. Namun, kemunculan Neck Deep pada dekade 2010-an membantah anggapan tersebut. Band asal Wrexham, Wales, ini adalah salah satu aktor utama yang menghidupkan kembali pop-punk modern untuk generasi baru sampai saat ini.

Neck Deep terbentuk pada 2012, di era ketika internet menjadi panggung utama bagi band-band baru. Ben Barlow sang vokalis band dan Lloyd Roberts(ex gitaris) memulai semuanya, mereka merekam demo sederhana yang kemudian menyebar cepat di dunia maya. Respons yang mereka terima bukan sekadar pujian, tetapi juga motivasi untuk melanjutkan keseriusan di dunia musik. EP-EP (Extented Play/Mini Album) awal mereka, Rain in July (2012) dan A History of Bad Decisions (2013), menampilkan ciri khas yang menjadi identitas mereka: tempo cepat, chorus mudah diingat, dan lirik yang bercerita tentang patah hati, kegelisahan, dan harapan anak muda. Kejujuran inilah yang membuat mereka diterima, bukan karena gimmick, melainkan karena keberanian untuk jujur.

Seiring waktu, Neck Deep mulai membangun reputasi mereka sebagai band yang mampu menjembatani nostalgia pop-punk awal 2000-an dengan kebutuhan emosional generasi baru. Album kedua mereka, Life’s Not Out to Get You (2015), menjadi titik balik. Album ini tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga menjadi penanda bangkitnya pop-punk modern. Lagu-lagu seperti Can’t Kick Up the Roots dan terutama December menjelma menjadi anthem generasi ─ dinyanyikan massal di konser, dibagikan di media sosial, dan tetap hidup dalam memori kolektif penggemar.

Ben Barlow ─ Neck Deep│Foto: Everblackmedia

Yang membuat Life’s Not Out to Get You istimewa adalah keseimbangan emosionalnya. Album ini agresif tapi optimistis, emosional namun tidak tenggelam dalam keputusasaan. Pesan yang disampaikan sederhana namun kuat ─ hidup memang keras, tetapi bukan berarti tidak layak diperjuangkan. Neck Deep menunjukkan bahwa pop-punk bisa tetap relevan, bukan hanya melalui romantisasi masa lalu, tetapi lewat kejujuran yang universal dan kontekstual dengan perkembangan zaman.

Perjalanan Neck Deep tidak berhenti sampai di situ. Album The Peace and the Panic (2017) menghadirkan nuansa lebih reflektif, dengan lirik yang menyinggung kecemasan sosial, penerimaan dan harapan, kehilangan dan kesepian, serta realita kehidupan. Eksperimen berlanjut dengan All Distortions Are Intentional (2020), sebuah album konseptual yang menandai keberanian mereka melangkah keluar dari zona nyaman pop-punk konvensional. Meskipun dianggap kurang bagus oleh sebagian penggemar dan kritikus karena adanya perubahan karakter sound dan produksi yang dianggap kurang ‘pop-punk’ dibandingkan album-album mereka sebelumnya. Tetapi, melalui album ini Neck Deep menegaskan satu hal, mereka adalah band yang sadar dan berani akan risiko artistik.

Album terbaru mereka, Neck Deep (2024), menjadi pernyataan sikap sekaligus refleksi kedewasaan. Dalam album tersebut, band ini kembali ke esensi pop-punk ─ enerjik, lugas, dan penuh hook. Perubahan formasi personil beberapa kali juga menegaskan bahwa Neck Deep bukan sekadar kumpulan individu, melainkan entitas kreatif yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.

Neck Deep│Foto: @neckdeepuk

Di tengah dominasi pop, hip-hop, hardcore, dan musik elektronik, Neck Deep tetap relevan. Mereka membuktikan bahwa pop-punk bukan hanya soal nostalgia. Band ini lahir dari internet, tumbuh di panggung lokal, dan akhirnya menjadi musisi global. Kejujuran sederhana dalam lagu-lagunya menjadi kekuatan yang menjaga relevansi mereka. Selama masih ada pendengar yang mencari musik untuk merasa dimengerti, Neck Deep tampaknya belum akan tenggelam.

Di antara semua lagu hits mereka, December menempati posisi yang istimewa. Lagu ini lahir dari pengalaman pribadi Ben Barlow, yang mengalami patah hati pahit di suatu bulan Desember. Mengutip dari situs Metalnerd.net, Ben Barlow mengakui bahwa lagu ini lahir dari perasaan patah hati ditinggal mantannya, dan secara mental, ia berada dalam kondisi apatis terhadap apa yang terjadi.

“Sebuah pandangan apatis secara mental tentang bagaimana semuanya terjadi, di mana saya pada akhirnya menyalahkan diri sendiri,” kata Ben Barlow tentang proses kreatifnya.

Lagu ini berbeda dari lagu patah hati biasa. Ben Barlow menempatkan dirinya sebagai narator yang terbuka menyingkap seluruh proses emosionalnya, mulai dari kebingungan, penolakan, hingga introspeksi.

Lirik pembukanya:

“Stumbled ’round the block a thousand times / You missed every call that I had tried / So now I’m giving up / A heartbreak in mid December / You don’t give a fuck / You’d never remember me.”

Penggalan lirik tersebut langsung menempatkan pendengar pada pusat rasa sakit itu. Kontras antara bulan Desember, yang identik dengan keceriaan, perayaan, dan reuni keluarga, dengan pengalaman pribadi yang pahit, membuat lagu ini begitu menggetarkan.

Lirik lain seperti pada bagian reff:

“I hope you get your ballroom floor / Your perfect house with rose red doors / I’m the last thing you’d remember / It’s been a long, lonely December / I wish I’d known that less is more / But I was passed out on the floor / And that’s the last thing I remember / It’s been a long, lonely December.”

Penggalan lirik tersebut menunjukkan keikhlasan narator. Meski terluka, ia tetap mengharapkan kebahagiaan bagi mantannya, bahkan jika dirinya dilupakan. Ini bukan kemarahan atau dendam, tetapi penerimaan pahit namun jujur. Secara musikal, December juga berbeda dari pop-punk pada umumnya. Aransemen lagu dibuat lebih lembut dan introspektif dengan musik akustik, menempatkan vokal dan lirik sebagai pusat narasi, sehingga memberi ruang bagi pendengar untuk merenungkan pengalaman mereka sendiri.

Seiring waktu, December berkembang menjadi anthem yang lebih luas daripada kisah pribadi Ben Barlow. Setiap bulan Desember, lagu ini diputar lebih sering di platform musik digital, seolah menjadi “anthem wajib” yang menyentuh pengalaman emosional universal: kesepian saat orang lain bersuka cita, penyesalan atas hubungan yang telah berlalu, dan refleksi diri di penghujung tahun.

Ben Barlow ─ Neck Deep saat tampil di acara Fanatik di Keramas Aero Park, Gianyar (25/11/22)│Foto: Creativedics

 

Lagu December memiliki tiga versi resmi yang masing-masing merepresentasikan lapisan emosional yang berbeda. Versi pertama adalah versi original yang dirilis pada 2015 dalam album Life’s Not Out to Get You. Dengan aransemen akustik sederhana, versi ini terasa sangat personal. Inilah versi yang pertama kali membangun ikatan emosional dengan pendengar dan menjadikan December sebagai lagu refleksi yang kuat, terutama ketika diputar di akhir tahun.

Versi kedua adalah “December (Again)” yang menampilkan Mark Hoppus dari blink-182, menghadirkan dimensi lintas generasi dan memberi legitimasi historis pada lagu ini. Sementara itu, pada versi ketiga Neck Deep berkolaborasi dengan Chris Carrabba dari Dashboard Confessional, membawa nuansa emo yang lebih dalam dan kontemplatif, mempertebal rasa kehilangan yang menjadi inti lagu. Ketiga versi ini tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi, membuat December bertahan sebagai anthem emosional setiap akhir tahun.

Bagi sebagian penggemar Neck Deep, December menjadi soundtrack bagi mereka yang menghadapi bulan yang paling ceria namun sering kali paling sunyi. Dan di sanalah letak kekuatannya, bukan sekadar anthem akhir tahun, tetapi narasi emosional yang menjembatani pengalaman pribadi dan kolektif.

Setelah lebih dari satu dekade berkecimpung di industri musik, Neck Deep membuktikan bahwa pop-punk masih memiliki denyut nadi. Band ini mengingatkan kita bahwa musik bukan sekadar hiburan, tetapi juga cermin emosional dan komunitas. Mereka membuktikan bahwa jujur terhadap diri sendiri, berbicara tentang kegagalan, harapan, dan patah hati, dapat menjadi cara paling efektif untuk tetap relevan di tengah beragamnya selera musik di masa kini. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: grup musikNeck DeeppunkWales
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

Next Post

Knockin’ on Heaven’s Door: Bayangan Abadi di Ambang Kefanaan

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

by Ahmad Sihabudin
October 19, 2026
0
Begadang: Saat Malam Kehilangan Malamnya

ADA masa ketika malam adalah malam. Setelah matahari tenggelam, kehidupan perlahan menurunkan volumenya. Warung mulai menutup pintu, pasar berhenti berisik,...

Read moreDetails

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
0
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

Read moreDetails

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails
Next Post
Knockin’ on Heaven’s Door: Bayangan Abadi di Ambang Kefanaan

Knockin' on Heaven's Door: Bayangan Abadi di Ambang Kefanaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co