Dalam sebuah pertemuan dengan beberapa Pemangku (seseorang yang bertugas memimpin upacara adat dan budaya dalam agama Hindu di Bali), mereka mengungkapkan dalam persembahan “harus” ada pisang.
Sungguh saya sangat terganggu dengan kata “harus” itu, kenapa harus, siapa yang mengharuskan? Saya coba bertanya dengan nada lembut.
“Ada disebutkan dalam lontar, ” kata mereka tanpa menyebutkan jenis lontar dan penjelasannya.
Pertemuan itu mengingatkan bait-bait dalam kitan Bagawadgitha, yang menyebutkan persembahan kepada Tuhan bisa dalam bentuk puspa (bunga/sesuatu yang mekar/ harum/warna), pala (buah/umbi/hasil perbuatan), patra (daun/bentuk/rupa), toya (air/sesuatu yang mengalir/tarian/nyanyian dll).
Ingatan ini, membuat saya mensyukuri pengetahuan dan kebijaksanaan leluhur Bali/nusantara/bumi dalam mensyukuri karunia Tuhan, dalam berbagai bentuk persembahan yang diteruskan sampai saat ini.
Leluhur mewarisi adat dan budaya persembahan dalam bentuk rupa, warna, ganda (bau), aksara, mantra, sastra, yantra (bentuk 3 dimensi), tantra (tubuh), rasa dan logika.
Logika
Logika warisan leluhur dalam NDA kita inilah yang sering kita abaikan karena terlalu terikat dengan unsur-unsur lain.
Diantara binatang keralah yang dianggap memiliki logika yang mendekati manusia.
Logika Hidup
Bangsa Kera biasanya memilih hidup/menetap di dataran bersumber air, yang ditumbuhi pepohonan berbuah, berbatang dan berumbi. Pisang, buah yang bertandan, berusia pendek, menjadi salah satu alternatif Kera untuk bertahan hidup. Dalam pisang terkandung energi komplek dan sederhana memberikan tenaga instan dan berkelanjutan, yang sangat diperlukan oleh mahluk hidup.
Logika Persembahan
Dalam Siwa Purana (cerita berkaitan dengan Dewa Siwa) ada bagian yang menggambarkan saat Siwa tidak dihormati oleh Daksa/Pasupati, mertuanya., istrinya Sati, mengorbankan dirinya ke dalam api, sebagai bentuk persembahan dan penyerahan diri kepada Siwa. Dari abu Sati inilah konon tumbuh pohon pisang, yang kemudian dipakai sebagai media persembahan kepada Siwa, sebagai raga Sati/ simbol raga yang setia.
Logika Berupacara
Manusia jaman dulu juga demikian, sebelum berkembangnya sistem barter, yang membentuk pasar dan uang sebagai alat tukar.
Ketika seseorang sukses dan memiliki banyak uang dalam hidupnya, maka sangat logislah, ia memberi persembahan berupa uang yang dirangkai indah menjadi bentuk Dewa Sri Sedana, demikian juga bentuk dan rupa indah lainnya. Yang tidak logis adalah ketika seseorang yang kesulitan dalam ekonomi bahkan untuk menyambung hidup diri dan keluarganya pun tidak mampu, mempersembahkan sesuatu yang di luar jangkauannya.
Suatu saat ia bisa dibantu keluarga, tetangga, pemerintah dll atau malah berhutang untuk persembahan kepada Tuhan Yang Maha Segala, sungguh sangat tidak logis.
Logika Pisang
Saat menonton sebuah konten dari Big Tulus, yang mengungkapkan bahwa, sakit karena virus/bakteri saat ini bisa disembuhkan dengan pisang, saya terhenyak dan ingat diskusi dengan pemangku-pemangku itu, yang mengharuskan ada pisang dalam persembahan.
Kini manusia bisa mencari tahu pengetahuan tentang kandungan dan manfaat pisang bagi kesehatan, yang tidak bisa dilakukan oleh seekor kera.
Ternyata leluhur Bali, Nusantara, bumi yang telah mewarisi adat dan budaya lebih cerdas dan logis dari kera, entah kita? [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor: Adnyana Ole


























