DALAM kehidupan sehari-hari di Bali, kita kerap menjumpai pemandangan yang, bagi sebagian orang, dianggap ganjil. Seorang laki-laki berbicara sendiri di pinggir jalan, seorang perempuan mondar-mandir tanpa tujuan jelas, atau seseorang yang tiba-tiba marah-marah dan mengomel tanpa juntrungan. Reaksi orang orang di sekitarnya hampir selalu sama, spontan, dan terdengar ringan. Ubadne telah. Obatnya habis.
Kalimat itu meluncur begitu saja, seolah sudah menjadi refleks sosial. Tidak selalu diucapkan dengan nada mengejek, tidak pula selalu dengan empati. Kadang terdengar seperti candaan, kadang sebagai keheranan, dan di lain waktu sebagai pengakuan pasrah. Namun justru di situlah menariknya. Ubadne telah bukan sekadar komentar iseng, melainkan cara orang Bali memberi makna pada sesuatu yang dianggap tidak wajar, terutama ketika menyangkut perilaku dan pikiran.
Yang membuat saya berhenti sejenak adalah pilihan kata obat dalam kalimat itu. Bali dikenal memiliki sistem pengobatan tradisional yang sangat tua dan kaya, yang dikenal sebagai usadha, lengkap dengan lontar-lontar pengobatan, ramuan herbal, serta peran balian sebagai penyembuh. Namun, ketika berhadapan dengan perilaku yang dianggap tidak normal, yang disebut justru bukan balian atau usadha, melainkan obat, dalam pengertian modern, obat dokter, obat medis, hasil ilmu kedokteran.
Di titik ini, Ubadne telah menjadi lebih dari sekadar ungkapan sehari-hari. Ia menandai sebuah pergeseran kesadaran. Penyakit, terutama yang menyentuh ranah pikiran dan perilaku, tidak lagi sepenuhnya dibaca sebagai gangguan niskala semata, tetapi juga sebagai sesuatu yang berada dalam wilayah medis modern. Bahkan ketika diucapkan dengan nada bercanda, kalimat itu mengandaikan satu hal, bahwa ada dokter, ada resep, dan ada obat yang seharusnya bisa menertibkan kekacauan perilaku tersebut.
Ungkapan ini menyimpan lapisan makna yang kompleks. Ia bisa dibaca sebagai pengakuan bahwa medis modern telah diterima sebagai rujukan. Namun sekaligus, ia juga bisa dibaca sebagai sindiran halus, bahkan keputusasaan. Obat sudah diminum, dokter sudah didatangi, tetapi perilaku yang dianggap ganjil itu tetap ada. Ubadne telah, bukan hanya obatnya yang habis, tetapi mungkin juga harapan akan kesembuhan yang sederhana.
Dari sini, pertanyaan pun mengemuka. Sejak kapan sebenarnya orang Bali mengenal dokter dan dunia medis modern? Bagaimana masyarakat yang sebelumnya telah memiliki sistem pengobatan tradisionalnya sendiri bisa menerima, menegosiasikan, bahkan memasukkan medis modern ke dalam bahasa dan cara berpikir sehari-hari mereka?
Sebelum dokter dan rumah sakit hadir, orang Bali telah lama hidup dengan sistem pengobatan yang berakar kuat pada kebudayaan. Usadha bukan sekadar pengetahuan tentang ramuan, melainkan juga cara memandang tubuh manusia sebagai bagian dari semesta. Sakit bukan hanya urusan fisik, tetapi pertanda adanya ketidakseimbangan antara sekala dan niskala, antara yang kasatmata dan tak kasatmata. Dalam kerangka ini, balian bukan hanya penyembuh, melainkan juga penafsir makna sakit.
Karena itu, dalam masyarakat Bali, penyakit tidak selalu ditanyakan apa diagnosanya, tetapi kenapa ini terjadi. Penyebabnya bisa berlapis. Kelelahan, salah makan, pelanggaran adat, gangguan roh, atau disharmoni hubungan sosial. Pengobatan pun sering kali bersifat holistik. Ramuan diminum, ritual dilakukan, dan hubungan sosial dipulihkan.
Namun, dunia tidak berhenti pada satu sistem pengetahuan. Memasuki abad ke-20, Bali mulai bersentuhan secara lebih intens dengan pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Bersamaan dengan itu, hadir pula apa yang kemudian kita kenal sebagai pengobatan modern.
Tahun 1921 menjadi penanda penting. Di Denpasar, didirikan Rumah Sakit Wangaya, salah satu rumah sakit modern pertama di Bali. Awalnya, rumah sakit ini melayani pegawai kolonial, orang Eropa, dan kelompok tertentu. Namun lambat laun, masyarakat pribumi Bali juga mulai bersentuhan dengan sistem medis baru ini. Untuk pertama kalinya, sakit diperlakukan sebagai objek ilmiah. Diperiksa, diukur, diberi resep, dan dicatat.
Di sinilah benih perubahan itu ditanam. Dokter memperkenalkan cara pandang baru terhadap tubuh manusia sebagai sistem biologis yang bisa dipetakan dan diperbaiki. Obat-obatan kimia menawarkan sesuatu yang berbeda dari ramuan tradisional. Efek cepat, dosis terukur, dan janji kesembuhan yang rasional.
Namun, penerimaan medis modern di Bali tidak terjadi secara frontal. Ia tidak menggantikan usadha, tetapi hidup berdampingan dengannya. Orang Bali tidak serta merta meninggalkan balian, tetapi mulai mengenal dokter sebagai pilihan lain. Dalam banyak kasus, keduanya berjalan beriringan. Ke balian lebih dulu, ke dokter kemudian, atau sebaliknya.
Setelah kemerdekaan Indonesia, kehadiran medis modern di Bali kian menguat. Pembangunan Rumah Sakit Sanglah pada akhir 1950-an menjadi tonggak penting. Rumah sakit ini bukan hanya fasilitas kesehatan, tetapi simbol negara hadir dalam urusan tubuh warganya. Ketika Fakultas Kedokteran Universitas Udayana berdiri pada awal 1960-an, Bali mulai melahirkan dokter-dokternya sendiri. Medis modern tidak lagi datang dari luar, tetapi tumbuh dari dalam.
Seiring waktu, puskesmas berdiri di kecamatan kecamatan, bidan dan perawat menjangkau desa desa, imunisasi dan program kesehatan masyarakat diperkenalkan. Medis modern perlahan menjadi bagian dari keseharian orang Bali. Ia masuk ke rumah, ke sekolah, dan ke bahasa.
Dan di situlah Ubadne telah menemukan konteksnya.
Kalimat itu, jika dibaca dengan kacamata antropologi kesehatan, adalah apa yang disebut sebagai idiom of distress, ungkapan budaya untuk menjelaskan kondisi gangguan tanpa harus menyebut diagnosis. Orang Bali tidak berkata: ia mengalami gangguan jiwa atau ia menderita skizofrenia. Mereka berkata, obatnya habis.
Bahasa ini terasa lebih lunak, lebih manusiawi, sekaligus lebih ambigu. Ia tidak menunjuk langsung pada orangnya, tetapi pada proses pengobatan yang seolah sudah mentok. Dalam satu kalimat pendek, tersimpan pengakuan bahwa ada usaha medis yang telah ditempuh, namun hasilnya tidak sesuai harapan.
Saya pribadi melihat ungkapan ini bukan sekadar bahasa, tetapi cermin kesadaran kolektif. Masyarakat Bali hari ini tahu bahwa perilaku tertentu berkaitan dengan urusan medis. Mereka tahu ada obat, ada dokter, ada rumah sakit. Namun mereka juga tahu, atau setidaknya merasakan, bahwa tidak semua hal bisa dibereskan oleh obat.
Dalam pengalaman jurnalistik, saya beberapa kali bertemu keluarga yang memiliki anggota dengan gangguan jiwa. Hampir selalu, cerita mereka serupa. Berobat ke rumah sakit, minum obat rutin, membaik sebentar, lalu kambuh lagi. Ketika obat tidak diminum karena bosan, karena efek samping, atau karena biaya, perilaku kembali dianggap aneh. Dan masyarakat sekitar kembali berujar, Ubadne telah.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya memuat beban yang berat. Ia mengandung stigma, tetapi juga kelelahan. Ia adalah bahasa masyarakat yang berada di persimpangan antara harapan pada medis modern dan kenyataan sosial yang rumit.
Di Bali, penerimaan terhadap medis modern tidak pernah sepenuhnya rasional atau ilmiah. Ia selalu dinegosiasikan dengan nilai budaya, keyakinan, dan pengalaman kolektif. Medis modern diterima sejauh ia bisa dipahami dan dimaknai. Ketika obat bekerja, dokter dipuji. Ketika tidak, masyarakat mencari penjelasan lain, kadang kembali ke ranah spiritual, kadang berhenti di kalimat pasrah, ubadne telah.
Dalam konteks ini, kesadaran medis orang Bali tidak bisa diukur semata dari jumlah rumah sakit atau dokter. Ia harus dibaca dari bahasa, dari ungkapan sehari hari, dari cara masyarakat menamai sakit. Dan Ubadne telah adalah salah satu penanda paling jujur dari proses itu.
Ia menunjukkan bahwa medis modern telah menjadi bagian dari kosmologi sakit orang Bali. Namun sekaligus, ia mengingatkan bahwa pengobatan bukan hanya soal obat, tetapi juga soal penerimaan, dukungan sosial, dan pemahaman budaya.
Pada akhirnya, Ubadne telah bukan sekadar tentang obat yang habis. Ia adalah metafora tentang batas. Batas ilmu kedokteran, batas kesabaran keluarga, batas pemahaman masyarakat, dan batas antara normal dan tidak normal.
Orang Bali, dengan segala kearifan dan kontradiksinya, terus bernegosiasi dengan batas-batas itu. Di satu sisi, mereka menerima medis modern sebagai kebutuhan. Di sisi lain, mereka tetap hidup dalam tradisi yang memandang sakit sebagai peristiwa sosial dan kosmologis.
Di tengah tarik-menarik itu, Ubadne telah berdiri sebagai kalimat kecil yang menyimpan sejarah panjang. Dari lontar usadha, dari rumah sakit kolonial, dari ruang rawat jiwa, hingga obrolan di warung kopi. Ia adalah bahasa yang lahir dari perjumpaan antara tradisi dan modernitas, antara harapan dan keputusasaan.
Dan mungkin, selama kita masih mendengar kalimat itu di jalan-jalan Bali, selama itu pula kesadaran medis orang Bali akan terus bergerak. Tidak lurus, tidak sempurna, tetapi hidup. [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


























