KAMPUS di kaki Gunung Slamet ini kini telah banyak berubah dibanding sepuluh atau dua puluh tahun silam. Hal itu tampak pada sarana dan prasarana kampus maupun jumlah mahasiswanya. Banyak bangunan kampus yang baru dengan desain arsitektur modern. Jumlah mahasiswa baru setiap tahun pun meningkat hingga ribuan.
Namun ada yang tak pernah berubah dari kampus di kota berhawa sejuk ini. Cerita tentang kampus yang menyimpan banyak cerita mistis tetap menjadi bahan perbincangan. Tidak sedikit mahasiswa yang menganggap kampusnya sebagai sarang hantu. Meski banyak bangunan baru, namun tiap sudut kampus seolah menyimpan misteri yang kadang menyeramkan.
Anggapan itu didasarkan pada beberapa kejadian yang pernah dialami mahasiswa, dosen, dan pegawai di kampus. Ada ruang kuliah yang dianggap angker oleh mahasiswa. Taman kampus yang biasa digunakan mahasiswa untuk foto selepas wisuda juga konon dihuni oleh makhluk halus. Bahkan gudang di kampus yang tak lagi digunakan juga menjadi sarang hantu.
Cerita tentang sosok hantu yang ikut dalam perkuliahan juga sempat beredar di kalangan mahasiswa. Bukan hanya ikut kuliah, pernah pula terjadi sosok dosen tak kasat mata yang hadir di ruang kuliah. Belum lagi cerita tentang siluman ular di sungai kecil kampus dan siluman harimau di pertigaan kampus. Semua cerita itu menambah kepercayaan bahwa kampus memang sarang hantu.
Bagi mahasiswa yang cuek dan tak percaya tentang cerita-cerita itu mungkin tidak begitu mengganggu. Namun bagi mahasiswa yang ciut nyali, apalagi pernah mengalami sendiri, cerita mistis di kampus membuat mereka selalu tidak tenang bila berada di kampus sendirian, terlebih pada malam hari.
Sosok hantu yang dipercaya menghuni kampus pun bermacam-macam. Ada yang menyebut genderuwo, pocong, dan kuntilanak. Ada pula dosen dan pegawai yang pernah menjumpai hantu anak kecil di dalam ruangan. Ada yang berujud menyeramkan, namun ada pula yang tampak cantik. Tetapi apa pun bentuknya, hantu bagi mahasiswa, dosen, dan pegawai tetap saja menakutkan.
Banyak yang mengusulkan agar universitas mengadakan ruwatan untuk membersihkan unsur-unsur negatif di kampus. Ruwatan dianggap sebagai upaya menyikapi kejadian-kejadian mistis di kampus. Tradisi ruwatan bagi masyarakat Jawa di daerah Banyumas merupakan ritual adat untuk membersihkan seseorang atau tempat tertentu dari malapetaka, kesialan, maupun energi buruk.
***
Universitas merespons usulan diadakannya ruwatan di kampus. Selain untuk melestarikan tradisi yang ada di daerah, ruwatan juga dianggap sebagai sarana untuk menjaga keharmonisan manusia dan lingkungannya. Kampus yang selama ini dianggap angker tak lepas dari faktor manusia dan alam, sehingga secara tradisi perlu ada pembebasan dari aura yang negatif. Diharapkan setelah diadakan ruwatan tidak terjadi lagi hal-hal yang berbau mistis di kampus.
Pembentukan panitia ruwatan terdiri dari berbagai fakultas yang pernah mengalami hal-hal mistis, melibatkan dosen, pegawai, dan mahasiswa. Diputuskan, ruwatan akan dilakukan pada malam Jumat Kliwon bulan Suro dalam kalender Jawa. Ruwatan biasanya memang terdiri dari tiga bentuk, yaitu ruwatan orang, lingkungan, dan daerah. Ruwatan orang dilakukan pada siang hari, sedangkan ruwatan lingkungan diselenggarakan pada malam hari.
Rangkaian kegiatan ruwatan telah disiapkan. Tempat pelaksanaan di lapangan kampus yang cukup luas. Beberapa sesaji juga disiapkan. Banyak jenis sesaji untuk tradisi ruwatan, seperti air dari tujuh sumber, dupa dan kemenyan, bunga setaman, padi, kain putih, aneka jajanan, rujak buah, aneka nasi, dan barang-barang lain. Melihat bermacam sesaji itu, acara ruwatan akan berlangsung dalam suasana mistis dan menegangkan.
Puncak acara ruwatan diselenggarakan pagelaran wayang kulit dengan lakon atau cerita “Murwakala”. Murwa berarti awal, dan Kala yang berarti waktu. Lakon ini menggambarkan tentang upaya manusia untuk melakukan pembersihan diri dari segalasengkala atau kesialan dan sukerta atau keburukan, sehingga kembali kepada keadaan awal yang bersih.
Tokoh sentral dalam lakon Murwakala adalah Batara Kala, seorang raksasa dalam pewayangan. Batara Kala mendapat amanat dari sang ayah, Batara Guru untuk memangsa manusia yang dalam keadaan sukerta atau keburukan. Pertunjukkan wayang ruwatan menjadi magis dan menegangkan saat tokoh Batara Kala dikeluarkan oleh sang dalang.
Mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, pihak panitia mengundang paranormal kondang Suryo Baskoro untuk mendampingi pelaksanaan ruwatan di kampus. Acara ruwatan kadang menimbulkan kejadian mistis. Apalagi bila dilakukan pada malam Jumat Kliwon.
Tepat pukul 21.00 acara ruwatan dimulai. Musik gamelan dilantunkan secara perlahan. Sinden yang berperan menyanyikan tembang-tembang Jawa duduk di antara penabuh gamelan. Para penonton yang sebagian besar dosen, pegawai, dan mahasiswa sudah mulai berdatangan.
Dalang mulai memainkan satu per satu wayang dalam lakon Murwakala. Tak seperti pertunjukan wayang pada umumnya, dalam ruwatan suasananya agak berbeda. Muncul aura mistis di sekitar panggung pertunjukan wayang. Udara terasa lebih dingin dari kota yang memang berhawa sejuk. Para penonton bukan hanya menikmati alur cerita wayang, tetapi juga merasakan suasana yang mencekam dan menegangkan. Aroma kemenyan, dupa, dan kembang di tempat sesaji menambah aura mistis dalam acara ruwatan.
***
Suara gamelan bertalu-talu. Suasana semakin mencekam. Dalang mengeluarkan tokoh wayang Batara Kala. Terdengar suara dalang menggeram, Batara Kala menari-nari di tangan dalang. Suasana mistis begitu terasa. Gerakan Batara Kala seolah begitu liar mencari mangsa. Banyak penonton yang merinding dan ketakutan.
Ketika dalang mengibas-ibaskan wayang Betara Kala, tiba-tiba seorang mahasiswa menjerit histeris. Rektor yang turut menyaksikan acara ruwatan terkejut. Mahasiswa itu meraung dan kehilangan kesadaran, kesurupan. Tubuhnya kaku. Kaki dan tangannya menendang-nendang.
“Aku di mana…???!!!” teriak mahasiswa yang kesurupan.
Melihat ada mahasiswa yang kesurupan, paranormal Suryo Baskoro segera menghampiri. Ia mencoba berkomunikasi dengan makhluk gaib yang merasuk ke dalam tubuh manusia.
“Nyuwun pangapunten, meniko sinten ingkang rawuh nggih?” tanya Suryo Baskoro dalam bahasa Jawa, yang artinya “Mohon maaf, ini siapa yang datang merasuk?”.
“Ingsun sing manggon nang loji..!,” jawab mahasiswa dengan bahasa Jawa. Artinya, “Saya yang bertempat tinggal di bangunan”.
Loji di masyarakat Jawa merupakan kompleks bangunan, pada umumnya merupakan peninggalan kolonial yang difungsikan sebagai kantor, gudang, atau ruang administrasi. Di kampus memang banyak bangunan tua yang mirip dengan loji, yang dipercaya dihuni oleh makhluk halus. Suryo Baskoro menanyakan apa permintaan penghuni loji itu.
“Aku minta sumur gantung..,” kata mahasiswa yang kesurupan itu.
Paranormal Suryo Baskoro cepat tanggap. “Sumur gantung “ dalam bahasa transendental berarti air kelapa muda. Cepat-cepat Suryo Baskoro memberikan kelapa muda hijau kepada mahasiswa itu. Diminumnya air kelapa muda dalam beberapa tegukan. Setelah itu Suryo Baskoro meminta roh yang merasuk ke tubuh mahasiswa untuk kembali ke alamnya. Mahasiswa itu pun kembali tersadar.
Pertunjukan wayang masih berlanjut. Musik gamelan masih mengalun di malam yang kian dingin. Wayang Batara Kala masih menari-nari dengan gerakan lebih ekspresif dari sang dalang. Getar suaranya menyeramkan, mencari manusia untuk disantapnya.
Di tengah alunan musik yang terasa magis, tiba-tiba seorang pegawai jatuh terjungkal dari tempat duduknya. Dia kesurupan. Matanya melotot menatap ke langit. Tangan dan kakinya kaku, namun kepalanya bergerak mengikuti irama alunan gamelan. Suryo Baskoro mendekati pegawai itu. Dipegangnya tangan dan kaki pegawai yang kesurupan agar lemas kembali.
“Siapa ini yang datang merasuk?” tanya Suryo Baskoro dengan bahasa Jawa halus.
“Saya yang berumah di pohon mahoni..!!!” jawab pegawai dengan sedikit membentak.
Dengan tenang Suryo Baskoro menyapa dan mengajak komunikasi makhluk halus yang merasuk dalam tubuh pegawai. Para penonton wayang ruwatan mulai merasakan ketegangan. Suara sinden membawakan lagu Ladrang Sekar Tanjung menambah suasana mistis malam ruwatan. Suryo Baskoro menanyakan, apakah ada permintaan atau pesan yang ingin disampaikan.
“Aku mung pengin kabeh urip rukun, aja padha congkrah, marai bubrah,” kata pegawai yang kesurupan. Artinya “Saya hanya ingin semua hidup rukun, jangan bertengkar, menyebabkan berantakan”.
Suryo Baskoro mengangguk. Para penonton yang hadir mendengarkan serius apa yang disampaikan pegawai yang kesurupan. Setelah Suryo Baskoro berkomunikasi dan berjanji untuk menyampaikan pesan itu, makhluk halus yang merasuk ke tubuh pegawai kembali ke alamnya. Pegawai itu pun sadar kembali.
Meski demikian bukan berarti situasi menegangkan telah berakhir. Saat terdengar gending Ayak-ayak, seorang dosen kesurupan. Gending Ayak-ayak memang terdengar mistis. Gending ini biasanya ditabuh untuk pembacaan mantra dalam tradisi ruwatan.
“Siapa yang datang ini ya?” tanya Suryo Baskoro kepada dosen yang meraung.
“Aku yang tinggal di sendang kampus..!!!” kata dosen itu dengan suara besar dan nada yang tinggi.
Suryo Baskoro segera mengambil bunga setaman yang telah ia siapkan. Dari suara dan nada bicaranya, Suryo Baskoro sudah bisa menebak. Makhluk yang merasuk dalam tubuh dosen adalah sosok genderuwo. Bunga setaman itu didekatkan pada hidung dosen untuk dibaui.
“Apakah ada permintaan atau pesan?” tanya Suryo Baskoro.
“Ojo podho pongah, kabeh urip nang alame dhewe-dhewe. Openi sing kudu diopeni, ojo dirusak,” jawab genderuwo yang ada di dalam tubuh dosen. Artinya: “Jangan sombong, semua hidup di alam masing-masing. Peliharalah yang harus dipelihara, jangan dirusak”.
Pesan itu disampaikan kepada para penonton lewat dalang wayang ruwatan. Manusia harus hidup rendah hati, memahami bahwa ada alam kenyataan dan alam gaib. Manusia juga diminta untuk menjaga dan memelihara semua yang dimiliki, jangan merusak. Pesan itu tampaknya menggambarkan hubungan antara manusia dengan manusia serta manusia dengan alam semesta.
Malam kian larut. Dosen yang kesurupan telah sadar kembali. Namun suasana mistis masih saja dirasakan para penonton ruwatan. Wayang Betara Kala telah dimasukkan dalang ke dalam kotak. Gending Sprepegan mengalun untuk mengakhiri prosesi ritual ruwatan di kampus. Satu per satu penonton meninggalkan tempat penyelenggaraan ruwatan.
Semua berharap, setelah acara ruwatan keadaan di kampus menjadi lebih tenang dan lebih baik lagi. Tak ada lagi kejadian misterius dan menyeramkan di kampus. Semua berharap kampus menjadi bersih secara duniawi maupun alam gaib. Kampus yang sejuk bagi mahasiswa, dosen, dan pegawai. Tidak lagi menyandang predikat sebagai kampus sarang hantu. [T]
- Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole
KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

![Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/01/chusmeru.-cover-cerita-misteri-750x375.jpg)


























