25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibu, Anak, dan Logika Untung Rugi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 22, 2025
in Esai
Ibu, Anak, dan Logika Untung Rugi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP 22 Desember, ingatan saya selalu kembali ke satu puisi yang tidak pernah benar-benar selesai dibaca. Puisi itu pendek, bahasanya sederhana, nyaris seperti percakapan sehari-hari. Tidak ada metafora rumit, tidak ada kata-kata besar yang ingin tampak pintar. Tetapi justru di situlah daya ledaknya. Puisi itu berjudul Ibu, karya Wiji Thukul.

Puisi ini tidak pernah membicarakan ibu dalam bingkai romantik yang biasa kita temui pada peringatan Hari Ibu. Tidak ada bunga, tidak ada air mata haru yang ditata rapi. Yang ada justru pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu, bahkan bagi sebagian orang mungkin terdengar kurang ajar. Tetapi justru pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat puisi ini terus hidup, lintas generasi, lintas konteks sosial.

Setiap kali saya membacanya, saya selalu merasa puisi ini sedang menatap langsung ke wajah kita hari ini. Terutama wajah mereka yang kini disebut sebagai sandwich generation, generasi yang terjepit di antara tanggung jawab merawat orang tua dan kewajiban menghidupi anak-anaknya sendiri.

Puisi Wiji Thukul ini ditulis jauh sebelum istilah sandwich generation populer di ruang-ruang diskusi ekonomi dan psikologi. Namun anehnya, ia sudah lebih dulu menyingkap luka yang kini kita beri nama itu.

IBU

jika kau menagih baktiku
itu sudah kupersembahkan ibu
waktu hidup yang tak kubiarkan beku
itulah tanda baktiku kepadamu

gula dan teh memang belum kuberikan
tetapi nilai hidup adakah di dalam nasi semata

apakah anak adalah tabungan
bisa sesuka hati dipecah kapan saja
apakah kelahiran cuma urusan untung dan laba
tumpukan budi yang harus dibayar segera

jalan mana harus ditempuh anak
juga bukan yang bisa dan sudah dipilih
oleh yang berjalan itu sendiri?

“apakah anak adalah tabungan
bisa sesuka hati dipecah kapan saja”

Dua baris ini seperti palu yang menghantam kepala kita. Ia tidak berputar-putar. Ia langsung bertanya tentang satu asumsi yang selama ini dianggap wajar. Bahwa anak adalah investasi. Bahwa anak adalah jaminan hari tua. Bahwa anak adalah kepanjangan dari strategi bertahan hidup orang tua.

Dalam banyak keluarga di Indonesia, asumsi ini tidak pernah benar-benar dipersoalkan. Ia diwariskan secara diam-diam, melalui kalimat-kalimat kecil yang terdengar seperti nasihat, tetapi sesungguhnya adalah kontrak moral sepihak. “Ibu dulu susah membesarkan kamu.” “Kalau bukan anak, siapa lagi yang mengurus orang tua?” “Kamu harus ingat budi.”

Di titik inilah puisi Wiji Thukul terasa sangat politis, meskipun ia tidak sedang bicara tentang negara atau penguasa. Ia sedang membongkar relasi kuasa dalam keluarga. Relasi yang sering disembunyikan di balik kata cinta, bakti, dan pengorbanan.

Wiji Thukul tidak menolak bakti. Ia bahkan memulainya dengan kalimat yang sangat lembut. “jika kau menagih baktiku / itu sudah kupersembahkan ibu.” Tetapi perhatikan kelanjutannya. Bakti itu tidak diukur dengan materi. Tidak dengan gula dan teh. Tidak dengan nasi semata. Bakti diukur dengan hidup yang tidak dibekukan, dengan waktu yang dijalani secara sadar.

Di sini, Wiji Thukul seperti sedang berkata bahwa bakti bukan transaksi. Bakti bukan cicilan. Bakti bukan kewajiban ekonomi yang bisa ditagih sewaktu-waktu. Bakti adalah relasi yang hidup, bukan hutang yang menumpuk.

Namun realitas generasi hari ini berkata lain. Banyak anak, terutama dari kelas menengah ke bawah, tumbuh dengan beban yang tidak pernah mereka pilih. Mereka bekerja bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk menambal lubang-lubang struktural yang gagal disediakan negara. Tidak ada jaminan hari tua yang layak. Tidak ada sistem kesehatan yang benar-benar ramah bagi lansia. Maka keluarga menjadi satu-satunya institusi penyangga.

Di sinilah generasi sandwich lahir. Mereka bekerja untuk orang tua yang menua, sekaligus untuk anak-anak yang tumbuh. Mereka menjadi jembatan yang rapuh, yang kapan saja bisa runtuh jika satu sisi menarik terlalu keras.

Puisi Wiji Thukul menangkap ketegangan ini jauh sebelum istilahnya ditemukan. “apakah kelahiran cuma urusan untung dan laba / tumpukan budi yang harus dibayar segera.” Pertanyaan ini sangat tidak nyaman. Karena ia memaksa kita melihat kelahiran bukan hanya sebagai peristiwa biologis atau spiritual, tetapi juga sebagai peristiwa ekonomi.

Dalam masyarakat yang miskin jaminan sosial, anak seringkali menjadi satu-satunya harapan. Tetapi harapan yang dibebankan sejak lahir, tanpa pernah diajak berunding. Anak lahir bukan sebagai subjek, melainkan sebagai rencana. Sebagai tabungan. Sebagai asuransi hidup.

Wiji Thukul menolak cara pandang ini. Ia bertanya, dengan nada yang nyaris putus asa, apakah jalan hidup anak harus selalu ditentukan oleh mereka yang melahirkannya. “jalan mana harus ditempuh anak / juga bukan yang bisa dan sudah dipilih / oleh yang berjalan itu sendiri?”

Pertanyaan ini sangat eksistensial. Ia tidak hanya bicara tentang karier atau pilihan hidup, tetapi tentang hak dasar manusia untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Hak yang seringkali tergerus oleh rasa bersalah, oleh hutang budi, oleh narasi pengorbanan orang tua yang tidak pernah dinegosiasikan.

Bagi generasi sandwich, pertanyaan ini menjadi semakin kompleks. Mereka tidak hanya berhadapan dengan tuntutan orang tua, tetapi juga ketakutan untuk mengulangi pola yang sama kepada anak-anak mereka. Mereka berada di tengah pusaran, mencoba memutus rantai tanpa benar-benar tahu caranya.

Puisi Ibu karya Wiji Thukul tidak menawarkan solusi. Ia tidak memberi resep. Ia hanya memberi ruang untuk bertanya. Dan mungkin, justru itu yang paling kita butuhkan hari ini. Ruang untuk mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap tabu. Ruang untuk berkata bahwa cinta tidak harus selalu berwujud pengorbanan sepihak. Bahwa bakti tidak harus berarti menghapus diri sendiri.

Pada Hari Ibu, kita sering diajak untuk mengingat jasa ibu. Tetapi jarang sekali kita diajak untuk mendengar suara anak. Puisi ini melakukan keduanya sekaligus. Ia menghormati ibu, tetapi juga membela anak. Ia menolak logika hitung-hitungan dalam relasi yang seharusnya manusiawi.

Mungkin inilah mengapa puisi ini terus relevan. Karena ia berbicara tentang luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Luka tentang harapan yang terlalu berat. Tentang cinta yang berubah menjadi tuntutan. Tentang hidup yang perlahan membeku karena takut dianggap durhaka.

Di tengah krisis ekonomi, ketidakpastian kerja, dan beban mental generasi hari ini, puisi Wiji Thukul terasa seperti cermin yang jujur. Ia tidak memihak sepenuhnya pada siapa pun. Ia hanya berpihak pada kemanusiaan.

Dan mungkin, dengan membaca ulang puisi ini setiap 22 Desember, kita tidak sedang merayakan Hari Ibu dengan cara yang biasa. Kita sedang merayakannya dengan cara yang lebih jujur. Dengan mengakui bahwa cinta, bakti, dan tanggung jawab perlu terus dibicarakan, dinegosiasikan, dan dimanusiakan. Karena jika tidak, kita akan terus melahirkan generasi yang hidupnya dibekukan oleh hutang yang tidak pernah mereka sepakati sejak awal. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari IbuibuPuisiwiji thukul
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nangluk Merana’, Benteng Spiritual Pesisir Bali: Dari Ritual Leluhur hingga Kesadaran Ekologis Zaman Kini

Next Post

Kesunyian Urban dalam Dunia dlavigne.paris

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kesunyian Urban dalam Dunia dlavigne.paris

Kesunyian Urban dalam Dunia dlavigne.paris

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co