23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibu, Anak, dan Logika Untung Rugi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 22, 2025
in Esai
Ibu, Anak, dan Logika Untung Rugi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP 22 Desember, ingatan saya selalu kembali ke satu puisi yang tidak pernah benar-benar selesai dibaca. Puisi itu pendek, bahasanya sederhana, nyaris seperti percakapan sehari-hari. Tidak ada metafora rumit, tidak ada kata-kata besar yang ingin tampak pintar. Tetapi justru di situlah daya ledaknya. Puisi itu berjudul Ibu, karya Wiji Thukul.

Puisi ini tidak pernah membicarakan ibu dalam bingkai romantik yang biasa kita temui pada peringatan Hari Ibu. Tidak ada bunga, tidak ada air mata haru yang ditata rapi. Yang ada justru pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu, bahkan bagi sebagian orang mungkin terdengar kurang ajar. Tetapi justru pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat puisi ini terus hidup, lintas generasi, lintas konteks sosial.

Setiap kali saya membacanya, saya selalu merasa puisi ini sedang menatap langsung ke wajah kita hari ini. Terutama wajah mereka yang kini disebut sebagai sandwich generation, generasi yang terjepit di antara tanggung jawab merawat orang tua dan kewajiban menghidupi anak-anaknya sendiri.

Puisi Wiji Thukul ini ditulis jauh sebelum istilah sandwich generation populer di ruang-ruang diskusi ekonomi dan psikologi. Namun anehnya, ia sudah lebih dulu menyingkap luka yang kini kita beri nama itu.

IBU

jika kau menagih baktiku
itu sudah kupersembahkan ibu
waktu hidup yang tak kubiarkan beku
itulah tanda baktiku kepadamu

gula dan teh memang belum kuberikan
tetapi nilai hidup adakah di dalam nasi semata

apakah anak adalah tabungan
bisa sesuka hati dipecah kapan saja
apakah kelahiran cuma urusan untung dan laba
tumpukan budi yang harus dibayar segera

jalan mana harus ditempuh anak
juga bukan yang bisa dan sudah dipilih
oleh yang berjalan itu sendiri?

“apakah anak adalah tabungan
bisa sesuka hati dipecah kapan saja”

Dua baris ini seperti palu yang menghantam kepala kita. Ia tidak berputar-putar. Ia langsung bertanya tentang satu asumsi yang selama ini dianggap wajar. Bahwa anak adalah investasi. Bahwa anak adalah jaminan hari tua. Bahwa anak adalah kepanjangan dari strategi bertahan hidup orang tua.

Dalam banyak keluarga di Indonesia, asumsi ini tidak pernah benar-benar dipersoalkan. Ia diwariskan secara diam-diam, melalui kalimat-kalimat kecil yang terdengar seperti nasihat, tetapi sesungguhnya adalah kontrak moral sepihak. “Ibu dulu susah membesarkan kamu.” “Kalau bukan anak, siapa lagi yang mengurus orang tua?” “Kamu harus ingat budi.”

Di titik inilah puisi Wiji Thukul terasa sangat politis, meskipun ia tidak sedang bicara tentang negara atau penguasa. Ia sedang membongkar relasi kuasa dalam keluarga. Relasi yang sering disembunyikan di balik kata cinta, bakti, dan pengorbanan.

Wiji Thukul tidak menolak bakti. Ia bahkan memulainya dengan kalimat yang sangat lembut. “jika kau menagih baktiku / itu sudah kupersembahkan ibu.” Tetapi perhatikan kelanjutannya. Bakti itu tidak diukur dengan materi. Tidak dengan gula dan teh. Tidak dengan nasi semata. Bakti diukur dengan hidup yang tidak dibekukan, dengan waktu yang dijalani secara sadar.

Di sini, Wiji Thukul seperti sedang berkata bahwa bakti bukan transaksi. Bakti bukan cicilan. Bakti bukan kewajiban ekonomi yang bisa ditagih sewaktu-waktu. Bakti adalah relasi yang hidup, bukan hutang yang menumpuk.

Namun realitas generasi hari ini berkata lain. Banyak anak, terutama dari kelas menengah ke bawah, tumbuh dengan beban yang tidak pernah mereka pilih. Mereka bekerja bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk menambal lubang-lubang struktural yang gagal disediakan negara. Tidak ada jaminan hari tua yang layak. Tidak ada sistem kesehatan yang benar-benar ramah bagi lansia. Maka keluarga menjadi satu-satunya institusi penyangga.

Di sinilah generasi sandwich lahir. Mereka bekerja untuk orang tua yang menua, sekaligus untuk anak-anak yang tumbuh. Mereka menjadi jembatan yang rapuh, yang kapan saja bisa runtuh jika satu sisi menarik terlalu keras.

Puisi Wiji Thukul menangkap ketegangan ini jauh sebelum istilahnya ditemukan. “apakah kelahiran cuma urusan untung dan laba / tumpukan budi yang harus dibayar segera.” Pertanyaan ini sangat tidak nyaman. Karena ia memaksa kita melihat kelahiran bukan hanya sebagai peristiwa biologis atau spiritual, tetapi juga sebagai peristiwa ekonomi.

Dalam masyarakat yang miskin jaminan sosial, anak seringkali menjadi satu-satunya harapan. Tetapi harapan yang dibebankan sejak lahir, tanpa pernah diajak berunding. Anak lahir bukan sebagai subjek, melainkan sebagai rencana. Sebagai tabungan. Sebagai asuransi hidup.

Wiji Thukul menolak cara pandang ini. Ia bertanya, dengan nada yang nyaris putus asa, apakah jalan hidup anak harus selalu ditentukan oleh mereka yang melahirkannya. “jalan mana harus ditempuh anak / juga bukan yang bisa dan sudah dipilih / oleh yang berjalan itu sendiri?”

Pertanyaan ini sangat eksistensial. Ia tidak hanya bicara tentang karier atau pilihan hidup, tetapi tentang hak dasar manusia untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Hak yang seringkali tergerus oleh rasa bersalah, oleh hutang budi, oleh narasi pengorbanan orang tua yang tidak pernah dinegosiasikan.

Bagi generasi sandwich, pertanyaan ini menjadi semakin kompleks. Mereka tidak hanya berhadapan dengan tuntutan orang tua, tetapi juga ketakutan untuk mengulangi pola yang sama kepada anak-anak mereka. Mereka berada di tengah pusaran, mencoba memutus rantai tanpa benar-benar tahu caranya.

Puisi Ibu karya Wiji Thukul tidak menawarkan solusi. Ia tidak memberi resep. Ia hanya memberi ruang untuk bertanya. Dan mungkin, justru itu yang paling kita butuhkan hari ini. Ruang untuk mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap tabu. Ruang untuk berkata bahwa cinta tidak harus selalu berwujud pengorbanan sepihak. Bahwa bakti tidak harus berarti menghapus diri sendiri.

Pada Hari Ibu, kita sering diajak untuk mengingat jasa ibu. Tetapi jarang sekali kita diajak untuk mendengar suara anak. Puisi ini melakukan keduanya sekaligus. Ia menghormati ibu, tetapi juga membela anak. Ia menolak logika hitung-hitungan dalam relasi yang seharusnya manusiawi.

Mungkin inilah mengapa puisi ini terus relevan. Karena ia berbicara tentang luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Luka tentang harapan yang terlalu berat. Tentang cinta yang berubah menjadi tuntutan. Tentang hidup yang perlahan membeku karena takut dianggap durhaka.

Di tengah krisis ekonomi, ketidakpastian kerja, dan beban mental generasi hari ini, puisi Wiji Thukul terasa seperti cermin yang jujur. Ia tidak memihak sepenuhnya pada siapa pun. Ia hanya berpihak pada kemanusiaan.

Dan mungkin, dengan membaca ulang puisi ini setiap 22 Desember, kita tidak sedang merayakan Hari Ibu dengan cara yang biasa. Kita sedang merayakannya dengan cara yang lebih jujur. Dengan mengakui bahwa cinta, bakti, dan tanggung jawab perlu terus dibicarakan, dinegosiasikan, dan dimanusiakan. Karena jika tidak, kita akan terus melahirkan generasi yang hidupnya dibekukan oleh hutang yang tidak pernah mereka sepakati sejak awal. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari IbuibuPuisiwiji thukul
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nangluk Merana’, Benteng Spiritual Pesisir Bali: Dari Ritual Leluhur hingga Kesadaran Ekologis Zaman Kini

Next Post

Kesunyian Urban dalam Dunia dlavigne.paris

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Kesunyian Urban dalam Dunia dlavigne.paris

Kesunyian Urban dalam Dunia dlavigne.paris

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co