2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibu, Anak, dan Logika Untung Rugi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 22, 2025
in Esai
Ibu, Anak, dan Logika Untung Rugi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP 22 Desember, ingatan saya selalu kembali ke satu puisi yang tidak pernah benar-benar selesai dibaca. Puisi itu pendek, bahasanya sederhana, nyaris seperti percakapan sehari-hari. Tidak ada metafora rumit, tidak ada kata-kata besar yang ingin tampak pintar. Tetapi justru di situlah daya ledaknya. Puisi itu berjudul Ibu, karya Wiji Thukul.

Puisi ini tidak pernah membicarakan ibu dalam bingkai romantik yang biasa kita temui pada peringatan Hari Ibu. Tidak ada bunga, tidak ada air mata haru yang ditata rapi. Yang ada justru pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu, bahkan bagi sebagian orang mungkin terdengar kurang ajar. Tetapi justru pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat puisi ini terus hidup, lintas generasi, lintas konteks sosial.

Setiap kali saya membacanya, saya selalu merasa puisi ini sedang menatap langsung ke wajah kita hari ini. Terutama wajah mereka yang kini disebut sebagai sandwich generation, generasi yang terjepit di antara tanggung jawab merawat orang tua dan kewajiban menghidupi anak-anaknya sendiri.

Puisi Wiji Thukul ini ditulis jauh sebelum istilah sandwich generation populer di ruang-ruang diskusi ekonomi dan psikologi. Namun anehnya, ia sudah lebih dulu menyingkap luka yang kini kita beri nama itu.

IBU

jika kau menagih baktiku
itu sudah kupersembahkan ibu
waktu hidup yang tak kubiarkan beku
itulah tanda baktiku kepadamu

gula dan teh memang belum kuberikan
tetapi nilai hidup adakah di dalam nasi semata

apakah anak adalah tabungan
bisa sesuka hati dipecah kapan saja
apakah kelahiran cuma urusan untung dan laba
tumpukan budi yang harus dibayar segera

jalan mana harus ditempuh anak
juga bukan yang bisa dan sudah dipilih
oleh yang berjalan itu sendiri?

“apakah anak adalah tabungan
bisa sesuka hati dipecah kapan saja”

Dua baris ini seperti palu yang menghantam kepala kita. Ia tidak berputar-putar. Ia langsung bertanya tentang satu asumsi yang selama ini dianggap wajar. Bahwa anak adalah investasi. Bahwa anak adalah jaminan hari tua. Bahwa anak adalah kepanjangan dari strategi bertahan hidup orang tua.

Dalam banyak keluarga di Indonesia, asumsi ini tidak pernah benar-benar dipersoalkan. Ia diwariskan secara diam-diam, melalui kalimat-kalimat kecil yang terdengar seperti nasihat, tetapi sesungguhnya adalah kontrak moral sepihak. “Ibu dulu susah membesarkan kamu.” “Kalau bukan anak, siapa lagi yang mengurus orang tua?” “Kamu harus ingat budi.”

Di titik inilah puisi Wiji Thukul terasa sangat politis, meskipun ia tidak sedang bicara tentang negara atau penguasa. Ia sedang membongkar relasi kuasa dalam keluarga. Relasi yang sering disembunyikan di balik kata cinta, bakti, dan pengorbanan.

Wiji Thukul tidak menolak bakti. Ia bahkan memulainya dengan kalimat yang sangat lembut. “jika kau menagih baktiku / itu sudah kupersembahkan ibu.” Tetapi perhatikan kelanjutannya. Bakti itu tidak diukur dengan materi. Tidak dengan gula dan teh. Tidak dengan nasi semata. Bakti diukur dengan hidup yang tidak dibekukan, dengan waktu yang dijalani secara sadar.

Di sini, Wiji Thukul seperti sedang berkata bahwa bakti bukan transaksi. Bakti bukan cicilan. Bakti bukan kewajiban ekonomi yang bisa ditagih sewaktu-waktu. Bakti adalah relasi yang hidup, bukan hutang yang menumpuk.

Namun realitas generasi hari ini berkata lain. Banyak anak, terutama dari kelas menengah ke bawah, tumbuh dengan beban yang tidak pernah mereka pilih. Mereka bekerja bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk menambal lubang-lubang struktural yang gagal disediakan negara. Tidak ada jaminan hari tua yang layak. Tidak ada sistem kesehatan yang benar-benar ramah bagi lansia. Maka keluarga menjadi satu-satunya institusi penyangga.

Di sinilah generasi sandwich lahir. Mereka bekerja untuk orang tua yang menua, sekaligus untuk anak-anak yang tumbuh. Mereka menjadi jembatan yang rapuh, yang kapan saja bisa runtuh jika satu sisi menarik terlalu keras.

Puisi Wiji Thukul menangkap ketegangan ini jauh sebelum istilahnya ditemukan. “apakah kelahiran cuma urusan untung dan laba / tumpukan budi yang harus dibayar segera.” Pertanyaan ini sangat tidak nyaman. Karena ia memaksa kita melihat kelahiran bukan hanya sebagai peristiwa biologis atau spiritual, tetapi juga sebagai peristiwa ekonomi.

Dalam masyarakat yang miskin jaminan sosial, anak seringkali menjadi satu-satunya harapan. Tetapi harapan yang dibebankan sejak lahir, tanpa pernah diajak berunding. Anak lahir bukan sebagai subjek, melainkan sebagai rencana. Sebagai tabungan. Sebagai asuransi hidup.

Wiji Thukul menolak cara pandang ini. Ia bertanya, dengan nada yang nyaris putus asa, apakah jalan hidup anak harus selalu ditentukan oleh mereka yang melahirkannya. “jalan mana harus ditempuh anak / juga bukan yang bisa dan sudah dipilih / oleh yang berjalan itu sendiri?”

Pertanyaan ini sangat eksistensial. Ia tidak hanya bicara tentang karier atau pilihan hidup, tetapi tentang hak dasar manusia untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Hak yang seringkali tergerus oleh rasa bersalah, oleh hutang budi, oleh narasi pengorbanan orang tua yang tidak pernah dinegosiasikan.

Bagi generasi sandwich, pertanyaan ini menjadi semakin kompleks. Mereka tidak hanya berhadapan dengan tuntutan orang tua, tetapi juga ketakutan untuk mengulangi pola yang sama kepada anak-anak mereka. Mereka berada di tengah pusaran, mencoba memutus rantai tanpa benar-benar tahu caranya.

Puisi Ibu karya Wiji Thukul tidak menawarkan solusi. Ia tidak memberi resep. Ia hanya memberi ruang untuk bertanya. Dan mungkin, justru itu yang paling kita butuhkan hari ini. Ruang untuk mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap tabu. Ruang untuk berkata bahwa cinta tidak harus selalu berwujud pengorbanan sepihak. Bahwa bakti tidak harus berarti menghapus diri sendiri.

Pada Hari Ibu, kita sering diajak untuk mengingat jasa ibu. Tetapi jarang sekali kita diajak untuk mendengar suara anak. Puisi ini melakukan keduanya sekaligus. Ia menghormati ibu, tetapi juga membela anak. Ia menolak logika hitung-hitungan dalam relasi yang seharusnya manusiawi.

Mungkin inilah mengapa puisi ini terus relevan. Karena ia berbicara tentang luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Luka tentang harapan yang terlalu berat. Tentang cinta yang berubah menjadi tuntutan. Tentang hidup yang perlahan membeku karena takut dianggap durhaka.

Di tengah krisis ekonomi, ketidakpastian kerja, dan beban mental generasi hari ini, puisi Wiji Thukul terasa seperti cermin yang jujur. Ia tidak memihak sepenuhnya pada siapa pun. Ia hanya berpihak pada kemanusiaan.

Dan mungkin, dengan membaca ulang puisi ini setiap 22 Desember, kita tidak sedang merayakan Hari Ibu dengan cara yang biasa. Kita sedang merayakannya dengan cara yang lebih jujur. Dengan mengakui bahwa cinta, bakti, dan tanggung jawab perlu terus dibicarakan, dinegosiasikan, dan dimanusiakan. Karena jika tidak, kita akan terus melahirkan generasi yang hidupnya dibekukan oleh hutang yang tidak pernah mereka sepakati sejak awal. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari IbuibuPuisiwiji thukul
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nangluk Merana’, Benteng Spiritual Pesisir Bali: Dari Ritual Leluhur hingga Kesadaran Ekologis Zaman Kini

Next Post

Kesunyian Urban dalam Dunia dlavigne.paris

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Kesunyian Urban dalam Dunia dlavigne.paris

Kesunyian Urban dalam Dunia dlavigne.paris

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co