14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ibu, Anak, dan Logika Untung Rugi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 22, 2025
in Esai
Ibu, Anak, dan Logika Untung Rugi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SETIAP 22 Desember, ingatan saya selalu kembali ke satu puisi yang tidak pernah benar-benar selesai dibaca. Puisi itu pendek, bahasanya sederhana, nyaris seperti percakapan sehari-hari. Tidak ada metafora rumit, tidak ada kata-kata besar yang ingin tampak pintar. Tetapi justru di situlah daya ledaknya. Puisi itu berjudul Ibu, karya Wiji Thukul.

Puisi ini tidak pernah membicarakan ibu dalam bingkai romantik yang biasa kita temui pada peringatan Hari Ibu. Tidak ada bunga, tidak ada air mata haru yang ditata rapi. Yang ada justru pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu, bahkan bagi sebagian orang mungkin terdengar kurang ajar. Tetapi justru pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat puisi ini terus hidup, lintas generasi, lintas konteks sosial.

Setiap kali saya membacanya, saya selalu merasa puisi ini sedang menatap langsung ke wajah kita hari ini. Terutama wajah mereka yang kini disebut sebagai sandwich generation, generasi yang terjepit di antara tanggung jawab merawat orang tua dan kewajiban menghidupi anak-anaknya sendiri.

Puisi Wiji Thukul ini ditulis jauh sebelum istilah sandwich generation populer di ruang-ruang diskusi ekonomi dan psikologi. Namun anehnya, ia sudah lebih dulu menyingkap luka yang kini kita beri nama itu.

IBU

jika kau menagih baktiku
itu sudah kupersembahkan ibu
waktu hidup yang tak kubiarkan beku
itulah tanda baktiku kepadamu

gula dan teh memang belum kuberikan
tetapi nilai hidup adakah di dalam nasi semata

apakah anak adalah tabungan
bisa sesuka hati dipecah kapan saja
apakah kelahiran cuma urusan untung dan laba
tumpukan budi yang harus dibayar segera

jalan mana harus ditempuh anak
juga bukan yang bisa dan sudah dipilih
oleh yang berjalan itu sendiri?

“apakah anak adalah tabungan
bisa sesuka hati dipecah kapan saja”

Dua baris ini seperti palu yang menghantam kepala kita. Ia tidak berputar-putar. Ia langsung bertanya tentang satu asumsi yang selama ini dianggap wajar. Bahwa anak adalah investasi. Bahwa anak adalah jaminan hari tua. Bahwa anak adalah kepanjangan dari strategi bertahan hidup orang tua.

Dalam banyak keluarga di Indonesia, asumsi ini tidak pernah benar-benar dipersoalkan. Ia diwariskan secara diam-diam, melalui kalimat-kalimat kecil yang terdengar seperti nasihat, tetapi sesungguhnya adalah kontrak moral sepihak. “Ibu dulu susah membesarkan kamu.” “Kalau bukan anak, siapa lagi yang mengurus orang tua?” “Kamu harus ingat budi.”

Di titik inilah puisi Wiji Thukul terasa sangat politis, meskipun ia tidak sedang bicara tentang negara atau penguasa. Ia sedang membongkar relasi kuasa dalam keluarga. Relasi yang sering disembunyikan di balik kata cinta, bakti, dan pengorbanan.

Wiji Thukul tidak menolak bakti. Ia bahkan memulainya dengan kalimat yang sangat lembut. “jika kau menagih baktiku / itu sudah kupersembahkan ibu.” Tetapi perhatikan kelanjutannya. Bakti itu tidak diukur dengan materi. Tidak dengan gula dan teh. Tidak dengan nasi semata. Bakti diukur dengan hidup yang tidak dibekukan, dengan waktu yang dijalani secara sadar.

Di sini, Wiji Thukul seperti sedang berkata bahwa bakti bukan transaksi. Bakti bukan cicilan. Bakti bukan kewajiban ekonomi yang bisa ditagih sewaktu-waktu. Bakti adalah relasi yang hidup, bukan hutang yang menumpuk.

Namun realitas generasi hari ini berkata lain. Banyak anak, terutama dari kelas menengah ke bawah, tumbuh dengan beban yang tidak pernah mereka pilih. Mereka bekerja bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk menambal lubang-lubang struktural yang gagal disediakan negara. Tidak ada jaminan hari tua yang layak. Tidak ada sistem kesehatan yang benar-benar ramah bagi lansia. Maka keluarga menjadi satu-satunya institusi penyangga.

Di sinilah generasi sandwich lahir. Mereka bekerja untuk orang tua yang menua, sekaligus untuk anak-anak yang tumbuh. Mereka menjadi jembatan yang rapuh, yang kapan saja bisa runtuh jika satu sisi menarik terlalu keras.

Puisi Wiji Thukul menangkap ketegangan ini jauh sebelum istilahnya ditemukan. “apakah kelahiran cuma urusan untung dan laba / tumpukan budi yang harus dibayar segera.” Pertanyaan ini sangat tidak nyaman. Karena ia memaksa kita melihat kelahiran bukan hanya sebagai peristiwa biologis atau spiritual, tetapi juga sebagai peristiwa ekonomi.

Dalam masyarakat yang miskin jaminan sosial, anak seringkali menjadi satu-satunya harapan. Tetapi harapan yang dibebankan sejak lahir, tanpa pernah diajak berunding. Anak lahir bukan sebagai subjek, melainkan sebagai rencana. Sebagai tabungan. Sebagai asuransi hidup.

Wiji Thukul menolak cara pandang ini. Ia bertanya, dengan nada yang nyaris putus asa, apakah jalan hidup anak harus selalu ditentukan oleh mereka yang melahirkannya. “jalan mana harus ditempuh anak / juga bukan yang bisa dan sudah dipilih / oleh yang berjalan itu sendiri?”

Pertanyaan ini sangat eksistensial. Ia tidak hanya bicara tentang karier atau pilihan hidup, tetapi tentang hak dasar manusia untuk menentukan arah hidupnya sendiri. Hak yang seringkali tergerus oleh rasa bersalah, oleh hutang budi, oleh narasi pengorbanan orang tua yang tidak pernah dinegosiasikan.

Bagi generasi sandwich, pertanyaan ini menjadi semakin kompleks. Mereka tidak hanya berhadapan dengan tuntutan orang tua, tetapi juga ketakutan untuk mengulangi pola yang sama kepada anak-anak mereka. Mereka berada di tengah pusaran, mencoba memutus rantai tanpa benar-benar tahu caranya.

Puisi Ibu karya Wiji Thukul tidak menawarkan solusi. Ia tidak memberi resep. Ia hanya memberi ruang untuk bertanya. Dan mungkin, justru itu yang paling kita butuhkan hari ini. Ruang untuk mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap tabu. Ruang untuk berkata bahwa cinta tidak harus selalu berwujud pengorbanan sepihak. Bahwa bakti tidak harus berarti menghapus diri sendiri.

Pada Hari Ibu, kita sering diajak untuk mengingat jasa ibu. Tetapi jarang sekali kita diajak untuk mendengar suara anak. Puisi ini melakukan keduanya sekaligus. Ia menghormati ibu, tetapi juga membela anak. Ia menolak logika hitung-hitungan dalam relasi yang seharusnya manusiawi.

Mungkin inilah mengapa puisi ini terus relevan. Karena ia berbicara tentang luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Luka tentang harapan yang terlalu berat. Tentang cinta yang berubah menjadi tuntutan. Tentang hidup yang perlahan membeku karena takut dianggap durhaka.

Di tengah krisis ekonomi, ketidakpastian kerja, dan beban mental generasi hari ini, puisi Wiji Thukul terasa seperti cermin yang jujur. Ia tidak memihak sepenuhnya pada siapa pun. Ia hanya berpihak pada kemanusiaan.

Dan mungkin, dengan membaca ulang puisi ini setiap 22 Desember, kita tidak sedang merayakan Hari Ibu dengan cara yang biasa. Kita sedang merayakannya dengan cara yang lebih jujur. Dengan mengakui bahwa cinta, bakti, dan tanggung jawab perlu terus dibicarakan, dinegosiasikan, dan dimanusiakan. Karena jika tidak, kita akan terus melahirkan generasi yang hidupnya dibekukan oleh hutang yang tidak pernah mereka sepakati sejak awal. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: Hari IbuibuPuisiwiji thukul
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nangluk Merana’, Benteng Spiritual Pesisir Bali: Dari Ritual Leluhur hingga Kesadaran Ekologis Zaman Kini

Next Post

Kesunyian Urban dalam Dunia dlavigne.paris

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Kesunyian Urban dalam Dunia dlavigne.paris

Kesunyian Urban dalam Dunia dlavigne.paris

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co