HUJAN mengguyur Jembrana dari sore hari, Jumat, 19 Desember 2025. Namun tetabuhan Jegog tetap terdengar dari pinggir jalan utama Denpasar-Gilimanuk. Festival Spirit Jegog Jembrana dibuka dengan tetabuhan Jegog. Dari sore orang-orang lalu-lalang berdatangan. Dari anak muda sampai orang tua. Mereka semua antusias. Seperti akan menonton kesenian yang hari ini mulai jarang dinikmati.
“Mebalih jegog malu,” terdegar suara dari kejauhan.
Masyarakat Yehembang dan sekitarnya terlihat antusias untuk menonton pementasan Jegog sore itu.
Hujan terus mengguyur. Ada yang berteduh menyaksikan alunan jegog ditabuh, ada yang mengobrol dengan teman lama dan ada juga yang sengaja hanya menikmati kuliner sore hingga malam di tengah Gedung Anjungan Cerdas.
Beberapa orang juga terlihat melihat-lihat pameran intalasi di lantai dua gedung Anjungan Cerdas.

Anjungan Cerdas Rambut Siwi adalah bangunan yang cukup terbilang baru direnovasi. Selesai tepat saat Covid-19 sedang merebak, Anjungan Cerdas yang dulunya adalah tempat pemberhentian sopir truk atau bisa disebut Rest Area yang lama terbengkalai akhirnya direnovasi. Menjadikan sebuah tempat yang sebetulnya menarik untuk dijadikan acara-acara festival kesenian tradisional. Mungkin itu yang diharapkan.
Namun setelah beberapa tahun setelah direnovasi, tempat ini seperti akan terbengkalai lagi. Tak terawan, bahkan burung Walet membuat kembali sarangnya di sini.
Tetapi sore itu, 14 jegog sudah berderet di jalan utama masuk. Mereka saling beradu nyanyian, saling beradu tabuh dan saling beradu gaya. Agar orang-orang tau jegog mana yang paling menarik ketika ditabuh. Panggul jegog seperti menari, mengikuti alunan-alunan nada yang dipukul. Hingga malam hari, penonton tak pernah berkurang. Ada yang datang, ada juga yang pergi.
Festival ini akan diadakan selama tiga hari dari tanggal 19-21 Desember 2025 di Anjungan Cerdas Mandiri, Jembrana.
Para orang tua membawa serta anak mereka. Ini bukan hanya menjadi sebuah hiburan, namun wisata saat anak-anak libur sekolah. Setelah menggarap sawah, bekerja membangun rumah atau setelah menjaring ikan di laut, orang-orang seperti tak pernah letih. Mereka antusias, senyum dari wajah mereka seperti senyum yang lama hilang.
Menikmati tetabuhan jegog bukan hanya sekadar hiburan, namun penghilang letih di saat bekerja.
Saya ingat betul jika dulu, di rumah saya, saat sore menjelang malam, jegog adalah music pengantar tidur semua orang. Iringan itu terdengar dari radio, sampai hingga larut malam. Semua orang tertidur, alunan jegogpun selesai dimainkan. Begitu eforianya masyarakat Jembrana dulu.
Mengikuti almarhum kakek melatih sekha jegog dari desa ke desa, sampai berbeda kecamatan. Menjadi sebuah kenangan yang sangat menarik kala itu. Saya hanya memainkan panggul, dipukul ke tanah mengikuti alunan jegog yang sedang ditabuh. Bahkan dulu, jegog sering pentas di Nusa Dua, tentu di hotel-hotel. Bahkan sampai ke Jepang.
Setidaknya, Jegog Spirit Festival menjadi pengingat kenangan masa lampau. Bagi saya dan orang-orang yang datang ke sini.

Bukan hanya menjadi pengingat kenangan, namun setidaknya, tempat yang dulu terbengkalai, setelah direnovasi terbengkalai lagi akhirnya hidup. Hidup oleh kesenian, hidup oleh tawa. Anjungan Cerdas Rambut Siwi bukan menjadi sarang burung walet, namun sarang ekosistem kesenian tradisional/kotemporer yang baru saja dibentuk. [T]
Penulis: Dede Satria Aditya
Editor: Adnyana Ole



























