23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Hidup dengan Pariwisata, Tapi Juga Mati Karenanya

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 19, 2025
in Esai
Bali Hidup dengan Pariwisata, Tapi Juga Mati Karenanya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BALI kerap dipuja sebagai surga dunia. Pulau kecil ini hadir dalam imajinasi global sebagai lanskap eksotis: sawah berundak hijau, pantai berkilau, ritual keagamaan yang sakral, serta masyarakat yang ramah terhadap siapa pun yang datang. Namun di balik citra menawan itu, Bali menyimpan paradoks yang kian menyesakkan. Bali hidup dari pariwisata, tetapi pada saat yang sama juga perlahan mati karenanya. Pariwisata telah menjadi denyut nadi ekonomi, sekaligus sumber keletihan yang terus menggerogoti tubuh pulau ini.

Sulit membayangkan Bali tanpa pariwisata. Sejak dekade 1970-an, industri ini tumbuh menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Lapangan kerja tercipta, dari hotel berbintang hingga warung kecil di pinggir pantai. Desa-desa yang dahulu bergantung pada pertanian kini beralih menjadi kawasan jasa dan hiburan. Pariwisata memberi Bali pengakuan dunia, sekaligus meningkatkan taraf hidup banyak warganya. Dalam logika pembangunan modern, pariwisata dianggap sebagai jawaban: cepat, menguntungkan, dan menjanjikan.

Namun ketergantungan yang berlebihan selalu membawa risiko. Ketika hampir seluruh sendi kehidupan Bali digerakkan oleh pariwisata, pulau ini kehilangan daya tahan. Krisis pandemi COVID-19 menjadi cermin yang jujur. Saat wisatawan berhenti datang, ekonomi Bali seketika limbung. Hotel tutup, pekerja dirumahkan, dan desa wisata sepi. Bali seperti kehilangan identitas ekonominya. Dari sini tampak jelas: tanpa pariwisata, Bali seolah “bukan apa-apa”.

Akan tetapi, ironi justru muncul ketika pariwisata kembali menggeliat. Alih-alih membawa kelegaan, masifnya arus wisatawan memunculkan keletihan baru. Bali tidak pernah benar-benar diberi waktu untuk pulih. Jalanan macet, ruang hidup menyempit, dan alam semakin terbebani. Pulau ini dipaksa terus melayani, terus tersenyum, meski tubuhnya sendiri kehabisan tenaga.

Dilema Bali paling nyata terlihat pada persoalan lingkungan. Air bersih, yang dahulu melimpah, kini menjadi sumber kecemasan. Dikutip dari Liputan6, Guru Besar Universitas Udayana Bali, I Nyoman Sunarta mengatakan, setidaknya hal ini telah terungkap dalam penelitian tahun 1994 yang dilakukan oleh Bali Sustainability Development Project. Kemudian dari penelitian yang ia lakukan pada 2009 ditemukan bahwa hanya Bangli saja yang memiliki surplus air. Temuan ini menegaskan bahwa pembangunan pariwisata tidak berjalan seiring dengan daya dukung lingkungan.

Nyoman Sunarta juga meneliti wilayah Timur Laut Bali yang jarang tersentuh pariwisata, dan menemukan aktivitas gas karbon yang tinggi. Di sisi lain, kawasan perkotaan yang padat wisata justru mengalami peningkatan suhu signifikan. Perkembangan panas di Kota Denpasar kini meningkat hingga rata-rata 34 derajat. Dalam kondisi demikian, ia menyatakan secara tegas, “Kalau sudah begitu seharusnya dibangun danau kota,” sebagai upaya menahan laju krisis ekologis yang kian mengkhawatirkan.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa pariwisata tidak hanya menguras air dan lahan, tetapi juga mengubah iklim mikro Bali. Alih fungsi sawah menjadi hotel dan vila menghilangkan ruang hijau yang selama ini berperan sebagai penyeimbang alam. Sungai-sungai tercemar limbah, dan danau kehilangan kesuciannya. Bali yang dulu dikenal dengan harmoni antara manusia dan alam kini bergulat dengan konsekuensi dari pembangunan yang serba cepat.

Keletihan Bali juga tercermin dalam kehidupan sosial warganya. Melansir dari Atnews.id, Pengamat Kebijakan Publik Putu Suasta yang juga Alumni UGM dan Cornell University menilai pariwisata Bali sudah mengalami keletihan. Keletihan ini bukan sekadar metafora, melainkan akumulasi dari berbagai masalah struktural yang tak kunjung terselesaikan.

Ia mengurai sumber keletihan tersebut secara gamblang: karena trafik, macet, sampah, overtourism, jalan rusak (berlubang, retak, trotoar tidak memadai), alih fungsi lahan, sungai kotor, danau, kasus bunuh diri, dan tata kelola pariwisata autopolit. Masalah-masalah ini saling bertaut, menciptakan tekanan berlapis bagi masyarakat lokal yang hidup di tengah hiruk-pikuk industri wisata.

“Kenyamanan sudah di titik jenuh. Lihat Ubud kita, Sanur dan Denpasar. Grafiknya sudah melelahkan siapa saja. Makanya industri pariwisata harus dialihkan ke utara dan timur,” harap Suasta. Pernyataan ini menegaskan bahwa Bali selatan telah mencapai batas toleransinya, sementara kebijakan pemerataan pariwisata masih sebatas wacana.

Di sinilah Bali benar-benar terhimpit dilema. Pariwisata menjadi sumber penghidupan, tetapi juga menghadirkan tekanan sosial dan ekologis yang berat. Masyarakat lokal berada di persimpangan. Mempertahankan pariwisata berarti mempertaruhkan ruang hidup dan kualitas lingkungan, menolaknya berarti kehilangan sumber ekonomi utama. Dilema ini tidak sederhana, karena menyangkut identitas Bali itu sendiri.

Bali sejatinya memiliki filosofi Tri Hita Karana, keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Namun dalam praktik pariwisata massal, filosofi ini kerap menjadi slogan tanpa substansi. Upacara adat tetap berlangsung, tetapi di sekitarnya berdiri bangunan beton yang tak selaras. Ritual dijadikan tontonan, bukan lagi laku spiritual. Bali tetap tampak hidup di mata wisatawan, tetapi di dalamnya tersimpan kelelahan yang mendalam.

Pada akhirnya, pariwisata yang berkelanjutan tidak boleh sekadar jargon. Ia harus berpihak pada daya dukung alam dan kesejahteraan masyarakat lokal. Tanpa itu, Bali akan terus hidup dalam paradoks: bergerak, ramai, dan menghasilkan, tetapi kehilangan ruhnya sendiri. Jika Bali terus dipaksa melayani tanpa henti, maka keindahan yang selama ini dijual akan habis terkikis. Pada titik itu, Bali mungkin masih hidup secara ekonomi, tetapi mati secara ekologis dan kultural. Dan ketika itu terjadi, pariwisata yang menjadi sumber kehidupan justru akan menjadi penyebab utama kehancurannya. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisata Literasi dan Seni Akhir Tahun di Desa Adat Gulinten: Acara Dadakan dan Serba-serbinya

Next Post

Komunikasi Pembangunan: Refleksi Pembangunan Partisipatif  Yang Berkelanjutan — [Bagian 1]

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Komunikasi Pembangunan: Refleksi Pembangunan Partisipatif  Yang Berkelanjutan — [Bagian 1]

Komunikasi Pembangunan: Refleksi Pembangunan Partisipatif  Yang Berkelanjutan -- [Bagian 1]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co