3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Hidup dengan Pariwisata, Tapi Juga Mati Karenanya

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 19, 2025
in Esai
Bali Hidup dengan Pariwisata, Tapi Juga Mati Karenanya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BALI kerap dipuja sebagai surga dunia. Pulau kecil ini hadir dalam imajinasi global sebagai lanskap eksotis: sawah berundak hijau, pantai berkilau, ritual keagamaan yang sakral, serta masyarakat yang ramah terhadap siapa pun yang datang. Namun di balik citra menawan itu, Bali menyimpan paradoks yang kian menyesakkan. Bali hidup dari pariwisata, tetapi pada saat yang sama juga perlahan mati karenanya. Pariwisata telah menjadi denyut nadi ekonomi, sekaligus sumber keletihan yang terus menggerogoti tubuh pulau ini.

Sulit membayangkan Bali tanpa pariwisata. Sejak dekade 1970-an, industri ini tumbuh menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Lapangan kerja tercipta, dari hotel berbintang hingga warung kecil di pinggir pantai. Desa-desa yang dahulu bergantung pada pertanian kini beralih menjadi kawasan jasa dan hiburan. Pariwisata memberi Bali pengakuan dunia, sekaligus meningkatkan taraf hidup banyak warganya. Dalam logika pembangunan modern, pariwisata dianggap sebagai jawaban: cepat, menguntungkan, dan menjanjikan.

Namun ketergantungan yang berlebihan selalu membawa risiko. Ketika hampir seluruh sendi kehidupan Bali digerakkan oleh pariwisata, pulau ini kehilangan daya tahan. Krisis pandemi COVID-19 menjadi cermin yang jujur. Saat wisatawan berhenti datang, ekonomi Bali seketika limbung. Hotel tutup, pekerja dirumahkan, dan desa wisata sepi. Bali seperti kehilangan identitas ekonominya. Dari sini tampak jelas: tanpa pariwisata, Bali seolah “bukan apa-apa”.

Akan tetapi, ironi justru muncul ketika pariwisata kembali menggeliat. Alih-alih membawa kelegaan, masifnya arus wisatawan memunculkan keletihan baru. Bali tidak pernah benar-benar diberi waktu untuk pulih. Jalanan macet, ruang hidup menyempit, dan alam semakin terbebani. Pulau ini dipaksa terus melayani, terus tersenyum, meski tubuhnya sendiri kehabisan tenaga.

Dilema Bali paling nyata terlihat pada persoalan lingkungan. Air bersih, yang dahulu melimpah, kini menjadi sumber kecemasan. Dikutip dari Liputan6, Guru Besar Universitas Udayana Bali, I Nyoman Sunarta mengatakan, setidaknya hal ini telah terungkap dalam penelitian tahun 1994 yang dilakukan oleh Bali Sustainability Development Project. Kemudian dari penelitian yang ia lakukan pada 2009 ditemukan bahwa hanya Bangli saja yang memiliki surplus air. Temuan ini menegaskan bahwa pembangunan pariwisata tidak berjalan seiring dengan daya dukung lingkungan.

Nyoman Sunarta juga meneliti wilayah Timur Laut Bali yang jarang tersentuh pariwisata, dan menemukan aktivitas gas karbon yang tinggi. Di sisi lain, kawasan perkotaan yang padat wisata justru mengalami peningkatan suhu signifikan. Perkembangan panas di Kota Denpasar kini meningkat hingga rata-rata 34 derajat. Dalam kondisi demikian, ia menyatakan secara tegas, “Kalau sudah begitu seharusnya dibangun danau kota,” sebagai upaya menahan laju krisis ekologis yang kian mengkhawatirkan.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa pariwisata tidak hanya menguras air dan lahan, tetapi juga mengubah iklim mikro Bali. Alih fungsi sawah menjadi hotel dan vila menghilangkan ruang hijau yang selama ini berperan sebagai penyeimbang alam. Sungai-sungai tercemar limbah, dan danau kehilangan kesuciannya. Bali yang dulu dikenal dengan harmoni antara manusia dan alam kini bergulat dengan konsekuensi dari pembangunan yang serba cepat.

Keletihan Bali juga tercermin dalam kehidupan sosial warganya. Melansir dari Atnews.id, Pengamat Kebijakan Publik Putu Suasta yang juga Alumni UGM dan Cornell University menilai pariwisata Bali sudah mengalami keletihan. Keletihan ini bukan sekadar metafora, melainkan akumulasi dari berbagai masalah struktural yang tak kunjung terselesaikan.

Ia mengurai sumber keletihan tersebut secara gamblang: karena trafik, macet, sampah, overtourism, jalan rusak (berlubang, retak, trotoar tidak memadai), alih fungsi lahan, sungai kotor, danau, kasus bunuh diri, dan tata kelola pariwisata autopolit. Masalah-masalah ini saling bertaut, menciptakan tekanan berlapis bagi masyarakat lokal yang hidup di tengah hiruk-pikuk industri wisata.

“Kenyamanan sudah di titik jenuh. Lihat Ubud kita, Sanur dan Denpasar. Grafiknya sudah melelahkan siapa saja. Makanya industri pariwisata harus dialihkan ke utara dan timur,” harap Suasta. Pernyataan ini menegaskan bahwa Bali selatan telah mencapai batas toleransinya, sementara kebijakan pemerataan pariwisata masih sebatas wacana.

Di sinilah Bali benar-benar terhimpit dilema. Pariwisata menjadi sumber penghidupan, tetapi juga menghadirkan tekanan sosial dan ekologis yang berat. Masyarakat lokal berada di persimpangan. Mempertahankan pariwisata berarti mempertaruhkan ruang hidup dan kualitas lingkungan, menolaknya berarti kehilangan sumber ekonomi utama. Dilema ini tidak sederhana, karena menyangkut identitas Bali itu sendiri.

Bali sejatinya memiliki filosofi Tri Hita Karana, keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Namun dalam praktik pariwisata massal, filosofi ini kerap menjadi slogan tanpa substansi. Upacara adat tetap berlangsung, tetapi di sekitarnya berdiri bangunan beton yang tak selaras. Ritual dijadikan tontonan, bukan lagi laku spiritual. Bali tetap tampak hidup di mata wisatawan, tetapi di dalamnya tersimpan kelelahan yang mendalam.

Pada akhirnya, pariwisata yang berkelanjutan tidak boleh sekadar jargon. Ia harus berpihak pada daya dukung alam dan kesejahteraan masyarakat lokal. Tanpa itu, Bali akan terus hidup dalam paradoks: bergerak, ramai, dan menghasilkan, tetapi kehilangan ruhnya sendiri. Jika Bali terus dipaksa melayani tanpa henti, maka keindahan yang selama ini dijual akan habis terkikis. Pada titik itu, Bali mungkin masih hidup secara ekonomi, tetapi mati secara ekologis dan kultural. Dan ketika itu terjadi, pariwisata yang menjadi sumber kehidupan justru akan menjadi penyebab utama kehancurannya. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisata Literasi dan Seni Akhir Tahun di Desa Adat Gulinten: Acara Dadakan dan Serba-serbinya

Next Post

Komunikasi Pembangunan: Refleksi Pembangunan Partisipatif  Yang Berkelanjutan — [Bagian 1]

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Komunikasi Pembangunan: Refleksi Pembangunan Partisipatif  Yang Berkelanjutan — [Bagian 1]

Komunikasi Pembangunan: Refleksi Pembangunan Partisipatif  Yang Berkelanjutan -- [Bagian 1]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co