14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Hidup dengan Pariwisata, Tapi Juga Mati Karenanya

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 19, 2025
in Esai
Bali Hidup dengan Pariwisata, Tapi Juga Mati Karenanya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BALI kerap dipuja sebagai surga dunia. Pulau kecil ini hadir dalam imajinasi global sebagai lanskap eksotis: sawah berundak hijau, pantai berkilau, ritual keagamaan yang sakral, serta masyarakat yang ramah terhadap siapa pun yang datang. Namun di balik citra menawan itu, Bali menyimpan paradoks yang kian menyesakkan. Bali hidup dari pariwisata, tetapi pada saat yang sama juga perlahan mati karenanya. Pariwisata telah menjadi denyut nadi ekonomi, sekaligus sumber keletihan yang terus menggerogoti tubuh pulau ini.

Sulit membayangkan Bali tanpa pariwisata. Sejak dekade 1970-an, industri ini tumbuh menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Lapangan kerja tercipta, dari hotel berbintang hingga warung kecil di pinggir pantai. Desa-desa yang dahulu bergantung pada pertanian kini beralih menjadi kawasan jasa dan hiburan. Pariwisata memberi Bali pengakuan dunia, sekaligus meningkatkan taraf hidup banyak warganya. Dalam logika pembangunan modern, pariwisata dianggap sebagai jawaban: cepat, menguntungkan, dan menjanjikan.

Namun ketergantungan yang berlebihan selalu membawa risiko. Ketika hampir seluruh sendi kehidupan Bali digerakkan oleh pariwisata, pulau ini kehilangan daya tahan. Krisis pandemi COVID-19 menjadi cermin yang jujur. Saat wisatawan berhenti datang, ekonomi Bali seketika limbung. Hotel tutup, pekerja dirumahkan, dan desa wisata sepi. Bali seperti kehilangan identitas ekonominya. Dari sini tampak jelas: tanpa pariwisata, Bali seolah “bukan apa-apa”.

Akan tetapi, ironi justru muncul ketika pariwisata kembali menggeliat. Alih-alih membawa kelegaan, masifnya arus wisatawan memunculkan keletihan baru. Bali tidak pernah benar-benar diberi waktu untuk pulih. Jalanan macet, ruang hidup menyempit, dan alam semakin terbebani. Pulau ini dipaksa terus melayani, terus tersenyum, meski tubuhnya sendiri kehabisan tenaga.

Dilema Bali paling nyata terlihat pada persoalan lingkungan. Air bersih, yang dahulu melimpah, kini menjadi sumber kecemasan. Dikutip dari Liputan6, Guru Besar Universitas Udayana Bali, I Nyoman Sunarta mengatakan, setidaknya hal ini telah terungkap dalam penelitian tahun 1994 yang dilakukan oleh Bali Sustainability Development Project. Kemudian dari penelitian yang ia lakukan pada 2009 ditemukan bahwa hanya Bangli saja yang memiliki surplus air. Temuan ini menegaskan bahwa pembangunan pariwisata tidak berjalan seiring dengan daya dukung lingkungan.

Nyoman Sunarta juga meneliti wilayah Timur Laut Bali yang jarang tersentuh pariwisata, dan menemukan aktivitas gas karbon yang tinggi. Di sisi lain, kawasan perkotaan yang padat wisata justru mengalami peningkatan suhu signifikan. Perkembangan panas di Kota Denpasar kini meningkat hingga rata-rata 34 derajat. Dalam kondisi demikian, ia menyatakan secara tegas, “Kalau sudah begitu seharusnya dibangun danau kota,” sebagai upaya menahan laju krisis ekologis yang kian mengkhawatirkan.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa pariwisata tidak hanya menguras air dan lahan, tetapi juga mengubah iklim mikro Bali. Alih fungsi sawah menjadi hotel dan vila menghilangkan ruang hijau yang selama ini berperan sebagai penyeimbang alam. Sungai-sungai tercemar limbah, dan danau kehilangan kesuciannya. Bali yang dulu dikenal dengan harmoni antara manusia dan alam kini bergulat dengan konsekuensi dari pembangunan yang serba cepat.

Keletihan Bali juga tercermin dalam kehidupan sosial warganya. Melansir dari Atnews.id, Pengamat Kebijakan Publik Putu Suasta yang juga Alumni UGM dan Cornell University menilai pariwisata Bali sudah mengalami keletihan. Keletihan ini bukan sekadar metafora, melainkan akumulasi dari berbagai masalah struktural yang tak kunjung terselesaikan.

Ia mengurai sumber keletihan tersebut secara gamblang: karena trafik, macet, sampah, overtourism, jalan rusak (berlubang, retak, trotoar tidak memadai), alih fungsi lahan, sungai kotor, danau, kasus bunuh diri, dan tata kelola pariwisata autopolit. Masalah-masalah ini saling bertaut, menciptakan tekanan berlapis bagi masyarakat lokal yang hidup di tengah hiruk-pikuk industri wisata.

“Kenyamanan sudah di titik jenuh. Lihat Ubud kita, Sanur dan Denpasar. Grafiknya sudah melelahkan siapa saja. Makanya industri pariwisata harus dialihkan ke utara dan timur,” harap Suasta. Pernyataan ini menegaskan bahwa Bali selatan telah mencapai batas toleransinya, sementara kebijakan pemerataan pariwisata masih sebatas wacana.

Di sinilah Bali benar-benar terhimpit dilema. Pariwisata menjadi sumber penghidupan, tetapi juga menghadirkan tekanan sosial dan ekologis yang berat. Masyarakat lokal berada di persimpangan. Mempertahankan pariwisata berarti mempertaruhkan ruang hidup dan kualitas lingkungan, menolaknya berarti kehilangan sumber ekonomi utama. Dilema ini tidak sederhana, karena menyangkut identitas Bali itu sendiri.

Bali sejatinya memiliki filosofi Tri Hita Karana, keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Namun dalam praktik pariwisata massal, filosofi ini kerap menjadi slogan tanpa substansi. Upacara adat tetap berlangsung, tetapi di sekitarnya berdiri bangunan beton yang tak selaras. Ritual dijadikan tontonan, bukan lagi laku spiritual. Bali tetap tampak hidup di mata wisatawan, tetapi di dalamnya tersimpan kelelahan yang mendalam.

Pada akhirnya, pariwisata yang berkelanjutan tidak boleh sekadar jargon. Ia harus berpihak pada daya dukung alam dan kesejahteraan masyarakat lokal. Tanpa itu, Bali akan terus hidup dalam paradoks: bergerak, ramai, dan menghasilkan, tetapi kehilangan ruhnya sendiri. Jika Bali terus dipaksa melayani tanpa henti, maka keindahan yang selama ini dijual akan habis terkikis. Pada titik itu, Bali mungkin masih hidup secara ekonomi, tetapi mati secara ekologis dan kultural. Dan ketika itu terjadi, pariwisata yang menjadi sumber kehidupan justru akan menjadi penyebab utama kehancurannya. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisata Literasi dan Seni Akhir Tahun di Desa Adat Gulinten: Acara Dadakan dan Serba-serbinya

Next Post

Komunikasi Pembangunan: Refleksi Pembangunan Partisipatif  Yang Berkelanjutan — [Bagian 1]

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Komunikasi Pembangunan: Refleksi Pembangunan Partisipatif  Yang Berkelanjutan — [Bagian 1]

Komunikasi Pembangunan: Refleksi Pembangunan Partisipatif  Yang Berkelanjutan -- [Bagian 1]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co