24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bali Hidup dengan Pariwisata, Tapi Juga Mati Karenanya

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
December 19, 2025
in Esai
Bali Hidup dengan Pariwisata, Tapi Juga Mati Karenanya

Ilustrasi tatkala.co | Canva

BALI kerap dipuja sebagai surga dunia. Pulau kecil ini hadir dalam imajinasi global sebagai lanskap eksotis: sawah berundak hijau, pantai berkilau, ritual keagamaan yang sakral, serta masyarakat yang ramah terhadap siapa pun yang datang. Namun di balik citra menawan itu, Bali menyimpan paradoks yang kian menyesakkan. Bali hidup dari pariwisata, tetapi pada saat yang sama juga perlahan mati karenanya. Pariwisata telah menjadi denyut nadi ekonomi, sekaligus sumber keletihan yang terus menggerogoti tubuh pulau ini.

Sulit membayangkan Bali tanpa pariwisata. Sejak dekade 1970-an, industri ini tumbuh menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Lapangan kerja tercipta, dari hotel berbintang hingga warung kecil di pinggir pantai. Desa-desa yang dahulu bergantung pada pertanian kini beralih menjadi kawasan jasa dan hiburan. Pariwisata memberi Bali pengakuan dunia, sekaligus meningkatkan taraf hidup banyak warganya. Dalam logika pembangunan modern, pariwisata dianggap sebagai jawaban: cepat, menguntungkan, dan menjanjikan.

Namun ketergantungan yang berlebihan selalu membawa risiko. Ketika hampir seluruh sendi kehidupan Bali digerakkan oleh pariwisata, pulau ini kehilangan daya tahan. Krisis pandemi COVID-19 menjadi cermin yang jujur. Saat wisatawan berhenti datang, ekonomi Bali seketika limbung. Hotel tutup, pekerja dirumahkan, dan desa wisata sepi. Bali seperti kehilangan identitas ekonominya. Dari sini tampak jelas: tanpa pariwisata, Bali seolah “bukan apa-apa”.

Akan tetapi, ironi justru muncul ketika pariwisata kembali menggeliat. Alih-alih membawa kelegaan, masifnya arus wisatawan memunculkan keletihan baru. Bali tidak pernah benar-benar diberi waktu untuk pulih. Jalanan macet, ruang hidup menyempit, dan alam semakin terbebani. Pulau ini dipaksa terus melayani, terus tersenyum, meski tubuhnya sendiri kehabisan tenaga.

Dilema Bali paling nyata terlihat pada persoalan lingkungan. Air bersih, yang dahulu melimpah, kini menjadi sumber kecemasan. Dikutip dari Liputan6, Guru Besar Universitas Udayana Bali, I Nyoman Sunarta mengatakan, setidaknya hal ini telah terungkap dalam penelitian tahun 1994 yang dilakukan oleh Bali Sustainability Development Project. Kemudian dari penelitian yang ia lakukan pada 2009 ditemukan bahwa hanya Bangli saja yang memiliki surplus air. Temuan ini menegaskan bahwa pembangunan pariwisata tidak berjalan seiring dengan daya dukung lingkungan.

Nyoman Sunarta juga meneliti wilayah Timur Laut Bali yang jarang tersentuh pariwisata, dan menemukan aktivitas gas karbon yang tinggi. Di sisi lain, kawasan perkotaan yang padat wisata justru mengalami peningkatan suhu signifikan. Perkembangan panas di Kota Denpasar kini meningkat hingga rata-rata 34 derajat. Dalam kondisi demikian, ia menyatakan secara tegas, “Kalau sudah begitu seharusnya dibangun danau kota,” sebagai upaya menahan laju krisis ekologis yang kian mengkhawatirkan.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa pariwisata tidak hanya menguras air dan lahan, tetapi juga mengubah iklim mikro Bali. Alih fungsi sawah menjadi hotel dan vila menghilangkan ruang hijau yang selama ini berperan sebagai penyeimbang alam. Sungai-sungai tercemar limbah, dan danau kehilangan kesuciannya. Bali yang dulu dikenal dengan harmoni antara manusia dan alam kini bergulat dengan konsekuensi dari pembangunan yang serba cepat.

Keletihan Bali juga tercermin dalam kehidupan sosial warganya. Melansir dari Atnews.id, Pengamat Kebijakan Publik Putu Suasta yang juga Alumni UGM dan Cornell University menilai pariwisata Bali sudah mengalami keletihan. Keletihan ini bukan sekadar metafora, melainkan akumulasi dari berbagai masalah struktural yang tak kunjung terselesaikan.

Ia mengurai sumber keletihan tersebut secara gamblang: karena trafik, macet, sampah, overtourism, jalan rusak (berlubang, retak, trotoar tidak memadai), alih fungsi lahan, sungai kotor, danau, kasus bunuh diri, dan tata kelola pariwisata autopolit. Masalah-masalah ini saling bertaut, menciptakan tekanan berlapis bagi masyarakat lokal yang hidup di tengah hiruk-pikuk industri wisata.

“Kenyamanan sudah di titik jenuh. Lihat Ubud kita, Sanur dan Denpasar. Grafiknya sudah melelahkan siapa saja. Makanya industri pariwisata harus dialihkan ke utara dan timur,” harap Suasta. Pernyataan ini menegaskan bahwa Bali selatan telah mencapai batas toleransinya, sementara kebijakan pemerataan pariwisata masih sebatas wacana.

Di sinilah Bali benar-benar terhimpit dilema. Pariwisata menjadi sumber penghidupan, tetapi juga menghadirkan tekanan sosial dan ekologis yang berat. Masyarakat lokal berada di persimpangan. Mempertahankan pariwisata berarti mempertaruhkan ruang hidup dan kualitas lingkungan, menolaknya berarti kehilangan sumber ekonomi utama. Dilema ini tidak sederhana, karena menyangkut identitas Bali itu sendiri.

Bali sejatinya memiliki filosofi Tri Hita Karana, keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Namun dalam praktik pariwisata massal, filosofi ini kerap menjadi slogan tanpa substansi. Upacara adat tetap berlangsung, tetapi di sekitarnya berdiri bangunan beton yang tak selaras. Ritual dijadikan tontonan, bukan lagi laku spiritual. Bali tetap tampak hidup di mata wisatawan, tetapi di dalamnya tersimpan kelelahan yang mendalam.

Pada akhirnya, pariwisata yang berkelanjutan tidak boleh sekadar jargon. Ia harus berpihak pada daya dukung alam dan kesejahteraan masyarakat lokal. Tanpa itu, Bali akan terus hidup dalam paradoks: bergerak, ramai, dan menghasilkan, tetapi kehilangan ruhnya sendiri. Jika Bali terus dipaksa melayani tanpa henti, maka keindahan yang selama ini dijual akan habis terkikis. Pada titik itu, Bali mungkin masih hidup secara ekonomi, tetapi mati secara ekologis dan kultural. Dan ketika itu terjadi, pariwisata yang menjadi sumber kehidupan justru akan menjadi penyebab utama kehancurannya. [T]

Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliPariwisatapariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisata Literasi dan Seni Akhir Tahun di Desa Adat Gulinten: Acara Dadakan dan Serba-serbinya

Next Post

Komunikasi Pembangunan: Refleksi Pembangunan Partisipatif  Yang Berkelanjutan — [Bagian 1]

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Komunikasi Pembangunan: Refleksi Pembangunan Partisipatif  Yang Berkelanjutan — [Bagian 1]

Komunikasi Pembangunan: Refleksi Pembangunan Partisipatif  Yang Berkelanjutan -- [Bagian 1]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co