Pagi, Minggu, 14 Desember 2025, para perempuan di Desa Blahkiuh, Abiansemal, Badung, dengan gaya yang terkesan tergesa-gesa sibuk menyiapkan soda atau banten. Meski terkesan tergesa-gesa, mereka tampak menyiapkannya dengan perasaan gembira.
Suasana di setiap rumah tampak menyenangkan. Perempuan, tentu juga dibantu laki-laki, membuat soda dengan kreasi masing-masing. Di sela-sela itu mereka juga mempersiapkan diri dengan berhias serapi mungkin.
Setelah semuanya selesai, perempuan itu berderet berjalan sendirian, atau bersama tentangga untuk membawa dibawa ke balai banjar masing-masing di Desa Blahkiuh.
Hari itu adalah tradisi meprani di desa itu. Tradisi itu dimulai ketika para pengiring sesuhunan berupa tapakan barong bergegas berkumpul di Pura Dalem dengan saput atau kamen sesuai dengan pengiring pura masing-masing.
Itu adalah hari yang begitu dinanti, tepatnya tiga hari setelah odalan Pura Dalem di Desa Blahkiuh yang bertepatan dengan hari Buda Manis.

Perkumpulan pengiring, sesuhunan, suara gambelan, serta pemangku bersiap-siap berkeliling Desa Blahkiuh untuk melakukan ritual meprani.
Pengiring pura lebih dari 100 orang berkeliling desa bersama tapakan barong dan gamelan lalu singgah ke setiap balai banjar yang ada di Desa Blahkiuh.
Balai banjar dipenuhi dengan soda atau banten yang dibawa perempuan dari rumah masing-masing. Lalu sesuhunan tapakan barong akan berhenti di balai banjar lalu diupacarai yang dipimpin oleh pemangku. Warga kemudian meminta tirta atau air suci yang dibawakan dari Pura Dalem.
Para perempuan bersiap-siap di balai banjar masing-masing. Begitu sesuhunan, tiba di depan balai banjar mereka langsung sembahyang dan diberikan tirta dengan tujuan untuk kesucian.
Tak sampai 10 menit setelah sembahyang sesuhunan tapakan barong langsung meninggalkan balai banjar dan bergegas ke balai banjar lainnya.
Meprani, menurut Kelian Adat Banjar Kembang Sari, I Ketut Jawi, adalah suatu upacara yang dilakukan setelah piodalan di Pura Dalem Gede di Desa Blahkiuh dengan tujuan prani yaitu melebur bhuta kala.
“Tradisi meprani sudah ada dari tahun 1969,” katanya.

Kenapa diadakan setelah piodalan di Pura Dalem Gede Blahkiuh? Karena bertepatan dengan Kajeng Kliwon yang dipercaya sebagai waktu yang tepat untuk meleburkan bhuta kala atau menyomia bhuta kala. [T]



























