23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

 Kampusku Sarang Hantu [45]: Pasar Malam Mistis di Kampus

Chusmeru by Chusmeru
December 18, 2025
in Fiksi
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Ilustrasi tatkala.co

KAMPUS di malam hari. Yang terbayang tentunya lampu yang terang benderang di setiap sudut halaman kampus. Mahasiswa hilir-mudik, keluar masuk pintu gerbang kampus. Ruang kuliah yang dingin oleh AC dan mahasiswa yang mulai mengantuk.

Suasana seperti itu berlaku bagi  kampus yang menyelenggarakan perkuliahan hingga malam hari. Biasanya terjadi pada kampus-kampus favorit, baik pemerintah maupun swasta, yang memiliki jumlah mahasiswa sangat banyak. Ruang kuliah yang terbatas membuat jadwal kuliah dimulai dari pagi hingga malam.

Ada mahasiswa yang suka kuliah malam, ada pula yang malas jika harus keluar malam untuk kuliah. Bagi mahasiswa yang menjadikan kampus sebagai destinasi cinta, kuliah malam dianggap romantis. Tentunya untuk mahasiswa yang berpacaran dengan teman kuliahnya. Berangkat ke kampus berboncengan sepeda motor dengan pacar merupakan keasyikan tersendiri.

Namun ada pula mahasiswa yang enggan kuliah malam. Aktivitas yang padat di pagi hingga sore membuat mahasiswa sudah kecapaian jika masih harus ke kampus malam-malam. Apalagi bila ada tugas terstruktur dari dosen yang harus dikerjakan pada malam hari. Mahasiswa akan menganggap kuliah malam sebagai beban.

Begitu pula dengan dosen. Ada yang senang mengajar di malam hari, ada pula yang mengeluh jika masih harus memberi kuliah di malam hari. Alasannya masing-masing berbeda. Dosen yang senang mengajar malam dengan alasan lebih tenang, tidak bising oleh suara-suara kendaraan yang lalu-lalang di jalanan dekat kampus.

Dosen yang terpaksa mengajar malam hari karena jadwal dan ruang kuliah yang padat di fakultas biasanya akan mengeluh. Waktu yang semestinya bisa digunakan untuk bercengkerama bersama keluarga, masih harus berdiri di depan kelas malam hari. Mahasiswa kadang juga ada yang tidak fokus bila kuliah malam, entah karena belum makan atau mengantuk.

Terlepas dari berbagai alasan, kuliah malam memang sulit dihindari oleh kampus yang memiliki mahasiswa dalam jumlah banyak. Gedung dan ruang kuliah tidak berkembang signifikan dengan perkembangan jumlah mahasiswa. Demikian pula rasio jumlah dosen tak sebanding dengan jumlah mahasiswa, sehingga membuat jadwal kuliah tidak cukup hanya sampai siang atau sore. Bagi dosen dari perguruan tinggi yang “kaya”, mengajar malam hari terobati dengan tunjangan remunerasi yang lumayan selain gaji bulanan.

 ***

Kampus di tepian Sungai Serayu ini memiliki mahasiswa yang banyak. Namun dengan ruang kuliah yang terbatas, sebagian mahasiswanya harus menikmati kuliah malam. Bagi Fikar Ramdani, mahasiswa semester empat, kuliah malam kadang menyenangkan, kadang pula menyebalkan. Senang karena udara yang sejuk di malam hari. Sebal bila dosen yang mengajar tak bersemangat, membuat mahasiswa tertidur pulas di kampus.

Kuliah Teori dan Metode Perbandingan Politik dari dosen Said Indra Permana di hari Rabu malam pukul 19.30 membuat Fikar Ramdani belum sempat makan. Mau makan sore sebelum kuliah takutnya malam hari akan lapar lagi. Fikar memutuskan makan malam setelah kuliah berakhir saja. Tidak masalah mencari makan malam di lesehan maupun Warteg yang banyak dijumpai di sekitar kampus.

Kuliah berakhir tepat pukul 21.00 malam. Satu per satu mahasiswa keluar ruangan. Kampus sudah tampak sepi. Fikar masih membereskan catatan kuliahnya di laptop ketika mahasiswa lain sudah beranjak pulang. Tinggal ia sendirian berada di kelas. Ia berencana membeli makan malam dibungkus saja untuk disantap di tempat kos.

Perlahan ia berjalan menyusuri halaman kampus. Di tanah lapang yang biasanya digunakan untuk kegiatan olahraga, ia melihat keramaian orang. Semakin dekat ia melihat sepertinya ada pasar malam di kampus yang berjualan aneka makanan dan jajanan. Fikar heran. Sewaktu berangkat tadi ia tak melihat ada pasar malam di lapangan kampus.

Fikar berpikir, lumayan juga membeli makanan untuk menganjal perutnya. Berbagai menu tersedia di pasar malam itu. Hampir semua yang dijual makanan tempo dulu, seperti serabi, soto, dawet, dan sebagainya. Tidak ia lihat makanan kekinian seperti cilok, cimol, batagor, atau makanan-makanan Korea.

Lebih heran Fikar, karena para penjual makanan juga menggunakan pakaian tradisional Jawa. Wajah-wajah mereka juga tampak dingin, hanya sesekali mereka tersenyum kepada pembeli. Percakapan antara penjual dengan pembeli menggunakan bahasa Jawa Banyumasan, bahasa khas di kampus tempat Fikar kuliah.

Salah satu yang menarik perhatian Fikar adalah penjual kue serabi. Makanan khas Banyumas yang berasa manis dan asin. Fikar membeli lima tangkup serabi yang berisi 10 buah. Ia akan bagikan kepada teman-teman kosnya untuk camilan malam sambil belajar. Harganya pun sangat murah, hanya sepuluh ribu rupiah. Itu berarti harga serabi per buah hanya seribu rupiah.

Terpikir belum makan malam, Fikar menuju penjual nasi rames. Penjualnya perempuan yang tampak sudah tua. Penjual nasi rames itu tersenyum pada Fikar. Namun Fikar merasakan senyumannya agak aneh dan misterius. Fikar merasakan suasana mistis di tengah pasar malam itu.

“Ramesnya pakai sayur apa saja, Mas?” tanya penjual kepada Fikar yang masih heran dengan suasana pasar malam di kampus.

Fikar menunjuk sayur oseng kacang panjang, sayur kering tempe, dan telor balado. Harganya pun sangat murah untuk ukuran mahasiswa. Fikar memandang ke sekeliling. Pasar malam semakin ramai dengan pengunjung. Akan tetapi ia merasa heran dengan para pengunjung. Wajah mereka sebagian besar tanpa ekspresi. Ah, Fikar tak ambil pusing. Mungkin suasana malam membuat mereka tak banyak bicara, pikir Fikar.

Bergegas Fikar meninggalkan pasar malam dengan membawa bungkusan jajan serabi dan nasi rames. Sampai di tempat kos, jam di dinding menunjukkan angka 11. Fikar terkejut. Dia berada di pasar malam selama dua jam. Padahal ia merasa hanya sebentar. Teman-teman kosnya heran.

“Kok jam segini baru pulang?” tanya Komar teman kos Fikar.

“Iya.. singgah dulu di pasar malam kampus,” jawab Fikar sambil meletakkan bungkusan makanan yang ia beli.

“Pasar malam kampus.. Memangnya ada pasar malam di kampus?” Komar terkejut.

“Itu saya beli makanan,” jawab Fikar meyakinkan.

Mereka berdua membuka bungkusan makanan yang dibeli Fikar Ramdani di pasar malam kampus. Sungguh mengejutkan. Mata Fikar terbelalak. Komar menutup mulutnya lantaran kaget. Makanan yang dibeli Fikar berubah. Serabi yang ia beli berubah menjadi tumpukan daun waru. Sedangkan nasi ramesnya berubah menjadi tanah liat beraroma bunga kamboja.

“Pasar malam hantu itu…,” kata Komar sambil menjauh dari makanan yang dibeli Fikar.

Fikar tertegun. Mendadak ia merinding. Jadi tadi dia bukan berada di pasar malam sungguhan. Pasar malam di kampus yang mistis. Fikar kembali teringat wajah-wajah penjual dan pengunjung pasar malam yang aneh dan dingin.

***

Rabu malam pukul 19.30 enam minggu kemudian, tepatnya 36 hari dari kejadian yang dialami Fikar Ramdani. Kuliah Studi Kawasan Asia Tenggara sudah dimulai dengan dosen muda yang tampan, Elpana Riyadi. Mahasiswa tampak antusias ketika dibahas peran kepemimpinan Indonesia di kancah ekonomi Asia Tenggara.

Gandhi Rujito dan Priyo Bagus Satrio duduk berdampingan. Mereka berdua sama-sama berada di semester lima. Bagi mereka kuliah malam hari tak jadi masalah sepanjang tidak turun hujan. Jika hujan di malam hari mereka harus menggunakan mantel agar tak basah saat berkendara sepeda motor. Sampai di kampus pakaian akan tetap basah meski pakai jas hujan.

Mereka sudah sepakat selepas kuliah akan makan malam di warung pecel lele Lamongan yang berjualan di trotoar dekat kampus. Murah dan rasanya lumayan nikmat di lidah mereka. Karenanya begitu kuliah berakhir, mereka bergegas keluar ruang kuliah.

Melewati tanah lapang di kampus, langkah mereka terhenti. Gandhi dan Priyo melihat ada pasar malam di tanah lapang. Pengunjungnya sudah cukup banyak. Para pedagang menggunakan busana tradisional. Ada pula pedagang yang menggunakan caping yang biasa digunakan petani di sawah. Sedangkan para pengunjung tampak seperti masayarakat pedesaan, sebagian besar tidak memakai alas kaki.

“Kok ada pasar malam di kampus ya?” tanya Gandhi heran.

“Iya, padahal tadi waktu kita mau masuk kelas belum ada ya,” jawab Priyo terheran pula.

Gandhi Rujito dan Priyo Bagus Satrio lama berdiri mematung sambil memperhatikan pasar malam di kampus. Mereka masih ragu untuk turut berada di tengah pasar malam. Gandhi dan Priyo merasakan hal aneh. Mereka sama-sama merinding. Apalagi saat mereka melihat wajah-wajah pengunjung pasar malam yang misterius.

“Aku merasakan aura mistis di pasar malam itu,” ujar Gandhi yang ditanggapi Priyo dengan anggukan kepala.

Namun entah kenapa mereka seolah tertarik untuk masuk ke dalam pasar malam itu. Mereka merasa ada kekuatan tak terlihat yang mendorong dan menarik mereka untuk masuk. Gandhi dan Priyo pun berjalan di antara para penjual dan pengunjung pasar malam.

Beragam makanan dijajakan, mulai dari nasi hingga jajanan pasar. Meski Gandhi dan Priyo sudah merasa lapar, namun mereka tidak tertarik untuk membeli nasi di pasar malam itu. Mereka tadi sudah berjanji akan malam di lesehan warung Lamongan.

Gandhi tertarik untuk membeli jajanancenil, jajanan khas kota Purwokerto yang berbentuk lonjong kecil, terbuat dari singkong, ditaburi ampas kelapa, dan terasa manis. Di kota asalnya Samarinda, jajanan seperti itu tidak ditemuinya. Harganya sangat murah, hanya lima ribu rupiah dibungkus dengan daun pisang. Hanya saja, Gandhi merasa aneh dengan senyum misterius penjual jajanan itu.

Sedangkan Priyo memilih membeli gorengan dage, juga makanan khas Purwokerto. Semacam tempe, tetapi terbuat dari ampas tahu. Bentuknya kotak kecil, dan terasa asin. Jajanan itu lebih nikmat bila dimakan dengan cabai rawit. Gorengan itu tidak pernah ia temui di kota asalnya, Malang. Sama seperti Gandhi, perasaan aneh juga dialami Priyo. Ia melihat senyum penjual gorengan begitu misterius, bahkan cenderung menyeramkan.

“Yang jualan kok aneh dan seram yaa..,” kata Priyo kepada Gandhi yang sedang bengong.

Mereka berdua segera meninggalkan tanah lapang di kampus. Pasar malam kian ramai pengunjung. Namun Gandhi dan Priyo merasa asing dengan para pengunjung. Pakaian para pengunjung sama sekali berbeda dengan kebanyakan orang saat ini. Mereka seperti orang-orang yang hidup di masa silam.

Sesampai di tempat kos, teman-teman Gandhi dan Priyo masih banyak yang sedang membaca buku. Sebagian lagi bermain game di ponsel. Kehadiran Gandhi dan Priyo tidak begitu mengundang perhatian. Namun ketika mereka menaruh jajanan yang dibeli di pasar malam, teman-teman kos  mereka berlarian menghampiri.

“Bawa apaan nih?” tanya Didin Iskandar, salah satu di antara teman kos.

 “Jajanan cenil dan dage. Beli di pasar malam kampus,” jawab Priyo.

“Pasar malam di kampus?” tanya teman-teman kos serempak.

“Nggak ada pasar malam di kampus. Pasar malam mistis itu,” kata Didin Iskandar membuat Gandhi dan Priyo terkejut ketakutan.

Mereka segera membuka bungkusan yang dibawa Gandhi dan Priyo. Semua terbelalak kaget. Bukan jajanan khas Purwokerto yang mereka lihat. Cenil yang dibeli Gandhi berubah menjadi butiran hitam kotoran kambing. Sedangkan gorengan dage yang dibeli Priyo berubah menjadi potongan genteng atap rumah.

Semua saling pandang. Merinding. Wajah mereka ketakutan. Tak ada satu pun yang berani menyentuh makanan yang sudah berubah bentuk itu. Hawa dingin tiba-tiba mereka rasakan di tempat kos yang biasanya gerah lantaran begitu banyak perabotan mahasiswa yang berantakan.

Pengalaman menyeramkan itu mereka ceritakan kepada pemilik kos yang asli dari kota Purwokerto. Mendengar cerita dari mahasiswa, pemilik kos hanya tersenyum. Seolah ia tahu persis apa yang dialami Gandhi dan Priyo.

 “Itu pasar malam mistis. Biasanya setiap hari Rabu Pon malam hari akan muncul pasar malam gaib di kampus,” jelas pemilik kos menambah merinding para mahasiswa.

“Jika tak ingin menjumpai pasar malam mistis itu, baca doa ketika melintasi tanah lapang di kampus. Atau jika berjalan jangan menengok ke arah pekarangan yang biasa dijadikan pasar malam,” tambah pemilik kos. Menurutnya, pasar malam mistis itu memang sudah ada sejak dia masih kecil.

Pemilik kos menenangkan mahasiswanya. Tidak ada yang perlu ditakuti. Kehidupan ini memang ada gelap, ada terang. Ada yang nyata, ada pula yang tak nyata. Alam kenyataan hidup berdampingan dengan dunia gaib. Itu hal yang biasa. Semua memiliki ruang masing-masing. Hanya saja, mahasiswa kebetulan memasuki kehidupan dunia gaib, sehingga dapat melihat pasar mistis itu.

Mendengar penjelasan pemilik kos, mahasiswa hanya terdiam. Mereka nyaris tak paham apa yang dijelaskan. Dunia mereka adalah dunia kampus, dunia logika, dan dunia digital. Memahami dunia mistis seakan membuat mereka harus memasuki lorong waktu berabad lalu. Kini mereka sedang berpikir, harus diapakan dan dikemanakan jajanan yang telah mereka beli di pasar malam mistis itu. [T]

  • Ini adalah cerita fiksi misteri bersambung. Jika terdapat kesamaan nama, tempat, dan peristiwa hanyalah kebetulan dan rekaan penulis semata

Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole

KLIK untuk baca cerita selengkapnya:

Tags: Cerbung Kampusku Sarang Hantucerita misterihorormisteri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pentingnya Pensertifikat Tanah Bagi Kepastian Hukum Penguasaan Tanah

Next Post

Tradisi ‘Meprani’ di Desa Blahkiuh, Abiansemal: Membersihkan Diri, Membersihkan Jagat

Chusmeru

Chusmeru

Purnatugas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Anggota Formatur Pendirian Program Studi Pariwisata, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Penulis bidang komunikasi dan pariwisata. Sejak kecil menyukai hal-hal yang berbau mistis.

Related Posts

Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

by Wayan Esa Bhaskara
April 18, 2026
0
Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara | Begitulah Aku Mencintaimu

Irama Nada Hujan aroma tanah selepas hujansisakan nafasnya yang gemetardingin pagikekecewaan yang bersandar yang tak pernah dicapai mataharitak berikan waktu...

Read moreDetails

Tanda Merah di Paha

by Chusmeru
April 16, 2026
0
Meninggal Seperti Pepes Ikan

TERLAHIR dengan paras yang cantik sangat disyukuri Paramita Laksmi. Tubuhnya yang ramping dengan rambut hitam lebat membuat penampilannya selalu memikat...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

by Gus Surya Bharata
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Ida Bagus Gde Surya Bharata | Meseh Lawang

MESEH LAWANG Nuju dinane anulampahe napak lawangannilar pekaranganngapti segere tan mari lali napak lawangane di arepanggane matureksasungkan tan pasangkanmeduuh aduh...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

by Senny Suzanna Alwasilah
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Senny Suzanna Alwasilah | Antara Jakarta dan Seoul

ANTARA JAKARTA DAN SEOUL Aku tiba di negerimu yang terik di bulan Agustussaat Jakarta telah jauh kutinggalkan dalam larik-larik sajakSejenak...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

by Kim Young Soo
April 12, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Melintasi Langit Kalimantan

MELINTASI LANGIT KALIMANTAN Pada puncak antara umur 20-an dan 30-an aku pernah lihatair anak sungai berwarna tanah liat merah mengalir...

Read moreDetails

Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

by Zahra Vatim
April 11, 2026
0
Puisi-puisi Zahra Vatim | Perahu Kata

PERAHU KATA Ingin kau tatap ombak dari tepi gunungterlintas segala pelayaran yang usai dan landaidaun kering terpantul cahayabatu pijak dipeluk...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

by Chusmeru
April 10, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Lagu Terlewat

Lagu Terlewat Tak mengapa bila senyum itu bukan untukkuKarena tawa usai berpestaTapi cinta adakah meranaBila setapak pernah bersamaSemai akan tetap...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails
Next Post
Tradisi ‘Meprani’ di Desa Blahkiuh, Abiansemal: Membersihkan Diri, Membersihkan Jagat

Tradisi 'Meprani' di Desa Blahkiuh, Abiansemal: Membersihkan Diri, Membersihkan Jagat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co