24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Erich von Däniken, antara Sains dan Mitos

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 16, 2025
in Esai
Erich von Däniken, antara Sains dan Mitos

Ilustrasi tatkala.co | Canva

Seorang Penggugat Sejarah

Nama Erich von Däniken selalu memantik kontroversi. Sejak terbitnya Chariots of the Gods? (1968), ia tampil sebagai sosok yang menggugat sejarah resmi umat manusia. Dengan berani, bahkan terkesan provokatif, ia mengajukan satu pertanyaan sederhana namun mengguncang: mungkinkah peradaban manusia purba dibantu atau dipengaruhi oleh makhluk cerdas dari luar bumi? Bagi dunia akademik, pertanyaan ini sering dianggap spekulatif, bahkan pseudosains. Namun bagi jutaan pembaca awam, Däniken membuka pintu imajinasi baru tentang asal-usul pengetahuan, teknologi, dan mitos manusia.

Di sinilah posisi unik Däniken: ia berdiri di antara sains dan mitos, di wilayah abu-abu yang tidak sepenuhnya diterima, tetapi juga sulit diabaikan.

Metode Bertanya yang Tidak Lazim

Däniken bukan arkeolog akademis, bukan pula ilmuwan laboratorium. Metodenya lebih dekat pada seorang pengamat lintas budaya yang menghubungkan artefak, mitologi, dan teks kuno. Ia mengumpulkan anomali: piramida dengan presisi luar biasa, gambar-gambar purba yang menyerupai astronaut, teks-teks kuno yang menggambarkan “dewa turun dari langit”, sebagaimana terdapat dalam ephos Mahabharata yang diyakini sebagai Itihasa atau sejarah , tentang sosok Karna yang lahir dari pertemuan Kunti dengan Dewa Surya.

Bagi sains arus utama, pendekatan ini bermasalah. Korelasi tidak selalu berarti kausalitas. Kesamaan bentuk belum tentu kesamaan makna. Namun, Däniken seolah berkata: “Jika penjelasan konvensional tidak cukup memuaskan, mengapa kita takut bertanya lebih jauh?”

Di titik ini, kontribusinya bukan pada jawaban, melainkan pada keberanian bertanya. Ia memaksa sains untuk tidak cepat merasa selesai.

Antara Bukti dan Tafsir

Kritik utama terhadap Däniken adalah soal tafsir. Banyak artefak yang ia jadikan bukti ternyata memiliki penjelasan antropologis dan historis yang masuk akal tanpa perlu campur tangan alien. Relief di Palenque, misalnya, yang ia tafsirkan sebagai astronot, oleh arkeolog Maya dipahami sebagai simbol kosmologi kematian dan kelahiran kembali.

Namun refleksi yang lebih dalam menunjukkan bahwa persoalan ini bukan sekadar benar atau salah. Tafsir Däniken mencerminkan kegelisahan modern: bagaimana mungkin peradaban kuno dengan teknologi terbatas mampu menghasilkan karya sedemikian kompleks? Ketika manusia modern merasa paling maju, justru muncul rasa takjub—bahkan inferior—terhadap kecanggihan masa lalu.

Däniken mengisi celah psikologis ini dengan narasi kosmik.

Mitos sebagai Bahasa Pengetahuan

Salah satu kekuatan Däniken adalah keseriusannya membaca mitos. Ia tidak memandang mitologi semata sebagai dongeng, melainkan sebagai “catatan sejarah yang disamarkan”. Dewa-dewa yang terbang, senjata bercahaya, dan kereta langit ia baca sebagai kemungkinan deskripsi teknologi maju yang belum dipahami masyarakat kala itu.

Pendekatan ini mengingatkan kita bahwa mitos adalah bahasa simbolik. Dalam tradisi Timur—termasuk di Nusantara—mitos sering menjadi wahana menyimpan pengetahuan kosmologis dan etis. Pertanyaannya bukan apakah mitos itu literal, tetapi apa makna terdalam yang ingin disampaikan.

Di sini, Däniken bertemu dengan para pemikir spiritual modern: mitos sebagai jembatan antara pengalaman transenden dan pemahaman manusia.

Reaksi Sains: Penolakan dan Ketakutan

Penolakan keras dunia akademik terhadap Däniken sering kali tidak hanya bersifat metodologis, tetapi juga emosional. Ada kekhawatiran bahwa teori “ancient astronauts” merendahkan kemampuan manusia purba, seolah-olah mereka tidak mampu berpikir dan berkreasi sendiri.

Kritik ini valid. Namun di sisi lain, reaksi defensif sains juga menunjukkan satu hal: sains memiliki batas, dan batas itu sering kali dijaga dengan dogma tak tertulis. Däniken menjadi semacam “pengganggu” yang menguji sejauh mana sains bersedia membuka diri terhadap kemungkinan yang tidak nyaman.

Ia bukan ilmuwan, tetapi cermin bagi ilmuwan.

Däniken dan Imajinasi Zaman Modern

Tidak bisa dipungkiri, pengaruh Däniken sangat besar dalam budaya populer. Film, serial, dan literatur sains fiksi banyak berutang padanya. Bahkan diskursus tentang UFO, kehidupan ekstraterestrial, dan kosmos sebagai rumah bersama manusia menemukan pijakan awal dari keberanian berpikirnya.

Di era eksplorasi luar angkasa, pertanyaan Däniken terasa semakin relevan. Jika kehidupan cerdas mungkin ada di luar bumi, mengapa mustahil interaksi terjadi di masa lalu? Pertanyaan ini kini mulai dibahas secara serius oleh astrobiologi, meski dengan metodologi yang jauh lebih ketat.

Ironisnya, sains modern perlahan mendekati wilayah yang dulu dianggap “liar”.

Pelajaran bagi Pembaca Indonesia

Bagi pembaca Indonesia, Däniken memberi pelajaran penting: jangan tergesa-gesa menolak pengetahuan lokal dan mitologi nusantara sebagai tahayul. Candi, relief, dan cerita leluhur menyimpan lapisan makna yang belum tentu selesai ditafsirkan oleh satu generasi.

Namun pelajaran kedua tak kalah penting: keterbukaan harus diimbangi kehati-hatian. Imajinasi tanpa disiplin mudah tergelincir menjadi sensasi. Däniken mengajarkan keberanian bertanya, tetapi juga mengingatkan kita akan pentingnya kerendahan hati dalam menjawab. Dan sebuah jawaban bisa jadi melahirkan pertanyaan baru yang lebih menggairahan untuk pencarian sebuah makna. Karena hidup tidak berhenti pada sebuah titik, tapi pencarian yang terus menerus.

Di Antara Langit dan Bumi

Erich von Däniken mungkin tidak pernah sepenuhnya diterima oleh sains, dan mungkin pula tidak pernah sepenuhnya benar. Namun posisinya di antara sains dan mitos justru itulah maknanya. Ia berdiri di perbatasan: antara rasio dan imajinasi, antara data dan tafsir, antara langit dan bumi.

Dalam dunia yang sering merasa sudah tahu segalanya, Däniken mengingatkan satu hal sederhana namun mendalam: sejarah manusia masih menyimpan misteri, dan keberanian untuk bertanya adalah awal dari kebijaksanaan. [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: mitossains
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Klaim Sakit Jiwa Seteru Politik

Next Post

‘Ngerebeg Matiti Suara’: Jejak Kesakralan yang Terus Dihidupkan di Desa Blahkiuh

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
‘Ngerebeg Matiti Suara’: Jejak Kesakralan yang Terus Dihidupkan di Desa Blahkiuh

‘Ngerebeg Matiti Suara’: Jejak Kesakralan yang Terus Dihidupkan di Desa Blahkiuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co