23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

ODGJ Jangan Sampai Lapar

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 13, 2025
in Esai
ODGJ Jangan Sampai Lapar

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ADA kalimat sederhana yang sering dianggap sepele. Kalimat itu muncul pertama kali dari seorang psikiater senior yang saya wawancarai beberapa tahun lalu. Ia berkata sambil tersenyum setengah serius. ODGJ jangan sampai lapar. Waktu itu saya hanya mengangguk, seakan paham. Namun setelah bertahun-tahun hidup sebagai penyintas skizofrenia yang sudah pulih dan bekerja kembali sebagai wartawan, saya baru benar-benar mengerti bahwa kalimat itu bukan petuah biasa. Ia adalah peringatan yang lahir dari pengalaman klinis. Lebih dari itu, kalimat itu adalah cermin dari kenyataan yang dialami ribuan penyintas di luar sana.

Ketika saya mencoba menuliskan pengalaman saya sendiri, berulang kali saya menemukan kenyataan kecil yang sering tidak dianggap penting. Bahwa rasa lapar sanggup menggerakkan banyak hal dalam diri manusia. Lapar bisa memengaruhi emosi, pikiran, bahkan kemampuan seseorang untuk tetap merasa waras. Pada orang yang sehat, lapar bisa membuat seseorang lebih mudah marah atau sensitif. Pada penyintas skizofrenia seperti saya, lapar dapat membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup rapat. Pintu itu adalah pintu menuju kecemasan. Menuju pikiran yang mulai berlari tanpa arah. Menuju ketegangan yang tidak bisa dijelaskan. Karena itu saya memahami dengan lebih jernih perkataan sang psikiater. ODGJ jangan sampai lapar.

Saya ingat pada tahun tahun paling gelap dalam hidup saya. Ketika suara-suara dalam kepala tidak mau diam. Ketika dunia terasa jauh dan tidak bersahabat. Saat itu saya sering lupa makan. Bukan karena saya tidak mau. Namun karena pikiran saya berantakan. Ritme hidup saya patah berkeping-keping. Dalam keadaan begitu, tubuh saya menanggung beban berat. Jangankan untuk menyiapkan makanan. Memikirkan apakah saya lapar atau tidak pun sudah cukup melelahkan. Pada masa itu, saya tidak tahu bahwa lapar justru memperburuk keadaan saya. Baru bertahun-tahun kemudian saya mengerti bahwa tubuh yang kekurangan energi akan membuat otak semakin kesulitan menjaga kestabilan pikiran.

Lapar bukan hanya urusan perut. Lapar adalah urusan otak. Dan pada penyintas skizofrenia, otak adalah medan perang yang tidak pernah selesai. Ketika saya telat makan, kepala saya terasa ringan tetapi tidak nyaman. Pikiran menjadi lebih peka terhadap kecemasan. Tubuh seperti kehilangan fondasi. Dan dari sana, hal hal kecil bisa berubah menjadi ancaman. Suara motor tampak lebih bising. Orang yang berjalan terlalu dekat tampak mencurigakan. Bahkan bayangan sendiri di kaca pun kadang terasa asing. Semua itu terjadi karena tubuh kehilangan bahan bakar. Sementara otak membutuhkan energi untuk mempertahankan kewarasan. Itulah sebabnya psikiater sangat sering menasihati pasiennya agar makan teratur. Bahkan ketika tidak ingin makan. Bahkan ketika tidak ada selera. Karena pada akhirnya, makan bukan hanya soal mengisi perut. Makan adalah cara memelihara kesehatan jiwa.

Sebagai wartawan, saya telah bertemu banyak penyintas. Ada yang tinggal di desa terpencil. Ada yang hidup bersama keluarga besar. Ada yang hidup sendiri dan bekerja serabutan. Banyak dari mereka mengalami masalah serupa. Mereka lupa makan. Mereka tidak mampu menyiapkan makanan. Mereka terlalu cemas keluar rumah untuk membeli makan. Atau mereka hidup dalam tekanan ekonomi yang membuat makan tiga kali sehari terasa seperti kemewahan. Kondisi kondisi seperti ini sering tidak masuk dalam pembahasan formal mengenai kesehatan jiwa. Padahal kebutuhan dasar seperti makanan memegang peran paling menentukan bagi kestabilan emosi.

Beberapa penyintas yang sedang kambuh sering menolak makan. Keluarga mengira itu karena keras kepala. Padahal kadang itu karena tubuh mereka dikuasai rasa takut yang sulit dijelaskan. Rasa takut untuk menyentuh makanan. Rasa takut bahwa makanan itu berbahaya. Rasa takut pada aroma yang sebenarnya normal. Semua ini menunjukkan betapa rumit hubungan antara tubuh dan pikiran. Ketika penyintas menolak makan, ia sebenarnya sedang meminta pertolongan dalam bahasa yang tidak diucapkan. Maka keluarga atau pendamping harus memahami bahwa makan bukan masalah disiplin. Makan adalah bagian dari terapi.

Saya sendiri berkali kali mengalami bagaimana pola makan memengaruhi kestabilan saya. Sejak kembali bekerja sebagai wartawan pada 2015, saya belajar mengenali sinyal tubuh. Jika saya telat makan, saya mulai mudah gelisah. Pikiran menjadi tidak rapi. Saya sulit fokus menulis. Tubuh menjadi panas-dingin. Pada masa awal pemulihan, kondisi seperti ini bisa memicu kepanikan. Namun seiring waktu, saya belajar bahwa solusi paling sederhana adalah makan. Sebungkus roti. Sepotong kue. Bahkan pisang pun cukup. Setelah itu, tubuh kembali rileks. Pikiran kembali teratur. Suasana hati kembali pulih.

Di ruang kerja, saya selalu menaruh makanan kecil. Tidak perlu yang mewah. Yang penting mudah dijangkau. Karena bagi saya, makanan bukan sekadar makanan. Ia adalah pagar yang menjaga agar pikiran saya tidak terjerumus kembali pada kegelapan. Ia adalah jangkar yang menahan saya tetap terhubung dengan dunia. Itulah mengapa saya selalu mengatakan pada penyintas lain yang saya temui. Jangan biarkan diri kalian lapar.

Ada alasan biologis di balik itu semua. Penurunan gula darah membuat otak kehilangan energi untuk mengatur emosi. Serotonin, dopamin, dan berbagai zat kimia dalam otak bisa berfluktuasi. Pada orang sehat, fluktuasi ini mungkin hanya membuat mereka sedikit sensitif. Pada penyintas skizofrenia, fluktuasi ini bisa memicu kecemasan. Bisa memunculkan pikiran-pikiran yang tidak diinginkan. Bahkan bisa membuat tubuh terlalu tegang dan sulit tidur di malam hari. Semua ini saling terhubung. Tubuh dan pikiran bekerja bersama. Jika tubuh kosong, pikiran menjadi limbung.

Saya pernah bertemu seorang penyintas bernama Putu. Ia tinggal di Badung bersama ibunya yang sudah lanjut usia. Putu bekerja sebagai tukang kebun paruh waktu. Setiap pagi ia berangkat tanpa sarapan. Saat saya tanya alasannya, ia hanya berkata tidak sempat. Setelah berbincang lebih lama, saya tahu bahwa bukan waktu yang kurang. Namun rasa takut. Putu takut merasa mual setelah makan. Ia takut akan muntah. Ia takut tubuhnya terasa tidak nyaman. Padahal ketika ia tidak makan, ia menjadi jauh lebih sensitif. Ia cepat tersinggung. Ia mudah lelah. Ia takut berada di tempat ramai. Itu mengganggu pekerjaannya. Pada suatu hari, ia hampir bertengkar dengan rekan kerjanya karena hal sepele. Ia sedang lapar.

Cerita Putu mengingatkan saya pada masa masa ketika saya dulu kambuh. Lapar bisa membuat seseorang kehilangan kontrol. Pada penyintas, kehilangan kontrol bisa berbahaya. Ketika saya berbicara dengan ibunya, saya menyarankan agar Putu selalu diberi makanan kecil yang bisa ia bawa ke tempat kerja. Ia tidak harus makan banyak. Yang penting perutnya tidak kosong. Seminggu kemudian, ibunya menelepon saya. Putu tampak lebih tenang. Ia tidak lagi mudah tersinggung. Ia mulai berani bertemu orang. Dan ia mengatakan pada ibunya bahwa ia merasa lebih nyaman. Semua itu dimulai dari hal sederhana. Sebungkus roti.

Pengalaman-pengalaman seperti ini menegaskan bahwa pemulihan penyintas skizofrenia bukan hanya tentang obat. Bukan hanya tentang terapi. Bukan hanya tentang lingkungan sosial. Namun juga tentang hal-hal kecil yang sering tidak dipikirkan orang. Pola makan. Jam tidur. Ketersediaan air minum. Ketenangan tubuh. Kesadaran akan sinyal-sinyal fisik. Semua ini adalah fondasi dari kesehatan mental.

Dalam beberapa kesempatan, saya menghadiri acara komunitas penyintas dan keluarganya. Di sana, saya sering mendengar pengalaman serupa. Ada penyintas yang mulai cemas ketika perutnya kosong terlalu lama. Ada yang mulai sulit berpikir jernih. Ada yang menjadi sangat sensitif. Bahkan ada yang merasa dunianya mulai memudar. Semua itu muncul hanya karena lapar. Lapar mengguncang kestabilan. Lapar menurunkan daya tahan mental. Lapar membuka pintu bagi kecemasan.

Dalam perjalanan panjang saya sebagai penyintas, saya belajar bahwa merawat diri bukanlah hal mudah. Banyak orang mengira merawat diri hanyalah soal mandi teratur atau minum obat tepat waktu. Padahal merawat diri adalah kemampuan membaca kondisi tubuh. Mengetahui kapan harus istirahat. Mengetahui kapan harus berhenti bekerja. Mengetahui kapan harus makan. Dan untuk penyintas, kemampuan ini sering hilang ketika gejala muncul. Karena itu, pendamping atau keluarga memiliki peran besar. Mereka harus mengingatkan. Mereka harus memahami bahwa lupa makan bukan berarti malas. Lupa makan adalah bagian dari gejala.

Saya juga belajar bahwa dunia sering tidak memahami realitas penyintas. Di mata banyak orang, penyintas adalah individu yang dianggap lemah atau tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Mereka jarang melihat bagaimana penyintas berjuang setiap hari. Menaklukkan kecemasan. Mengendalikan pikiran. Menata hidup. Pada perjalanan seperti itu, hal sepele seperti makan bisa menjadi kemenangan besar. Karena itu saya selalu menulis dengan nada yang jujur. Bahwa pemulihan tidak selalu tampak spektakuler. Pemulihan sering terjadi pada hal hal kecil. Pada waktu makan yang teratur. Pada tidur yang cukup. Pada langkah kecil menuju kestabilan.

Ketika saya menuliskan ini, saya teringat pada masa kecil saya yang bahagia. Setiap Minggu pagi, saya dan ibu angkat saya naik dokar. Kusirnya bernama Pak Karim. Ia dari Loloan. Kami pergi berkeliling kota. Pagi yang sejuk. Suara kuda yang berirama. Dan ibu selalu membawa makanan kecil. Ia tidak pernah membiarkan saya lapar. Tanpa ia sadari, ia sedang mengajari saya sesuatu. Bahwa tubuh yang tenang membuat pikiran tenang. Bahwa makan tepat waktu adalah bentuk cinta pada diri sendiri. Dan bahwa perhatian kecil bisa menyelamatkan hidup seseorang di masa depan.

Pengalaman itu tidak saya pahami dulu. Namun kini saya mengerti. Dalam hidup yang penuh ketegangan, perhatian kecil seperti itu bisa menjadi penyangga. Bagi penyintas, perhatian semacam ini sangat berarti. Di sekeliling kita, banyak penyintas yang bertahan hidup dalam keadaan sulit. Mereka bekerja. Mereka berbaur. Mereka berjuang menahan diri dari gejala. Mereka ingin terlihat baik baik saja. Namun tubuh mereka tetap membutuhkan ritme. Butuh makan. Butuh energi. Butuh ketenangan.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan kalimat sederhana yang pernah disampaikan psikiater yang saya hormati. Kalimat itu akhirnya menjadi kompas bagi saya dalam menata hidup kembali. Kalimat yang kini saya mengerti sepenuhnya. ODGJ jangan sampai lapar. Kalimat itu bukan sekadar saran kesehatan. Kalimat itu adalah peringatan lembut agar penyintas menjaga dirinya. Agar keluarga lebih peka. Agar masyarakat tidak menganggap remeh kebutuhan dasar penyintas. Karena pemulihan bukan hanya soal obat dan terapi. Pemulihan adalah soal bagaimana seseorang menjaga tubuhnya untuk tetap mendukung pikirannya.

Dan bagi saya pribadi, kalimat itu adalah pengingat sepanjang hidup. Pengingat bahwa tubuh dan pikiran berjalan bersama. Jika tubuh terjaga, pikiran ikut terjaga. Jika tubuh rileks, jiwa ikut tenang. Jika tubuh diberi makan tepat waktu, pikiran tidak akan lari terlalu jauh. Karena itu, saya selalu mengatakan kepada penyintas muda yang saya temui. Mereka yang baru memulai perjalanan panjang menuju pemulihan. Mereka yang masih sering takut kambuh. Saya berkata dengan suara pelan. Jaga makanmu. Jangan biarkan tubuhmu kosong. Jangan biarkan pikiranmu kehilangan tenaga. Jangan biarkan dirimu lapar.

Karena bagi penyintas, makan adalah cara lain untuk bertahan hidup. Cara lain untuk mencintai diri sendiri. Cara lain untuk tetap waras di dunia yang sibuk dan bising. ODGJ jangan sampai lapar. Kalimat sederhana yang menyelamatkan banyak orang. Termasuk saya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: ODGJPsikoterapi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Zero Post’, Pemberontakan Sunyi Gen Z

Next Post

Bali Fashion Tendance 2026, Agar Tahun Depan Tidak Ketinggalan Fesyen

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Bali Fashion Tendance 2026, Agar Tahun Depan Tidak Ketinggalan Fesyen

Bali Fashion Tendance 2026, Agar Tahun Depan Tidak Ketinggalan Fesyen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co