24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

ODGJ Jangan Sampai Lapar

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 13, 2025
in Esai
ODGJ Jangan Sampai Lapar

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ADA kalimat sederhana yang sering dianggap sepele. Kalimat itu muncul pertama kali dari seorang psikiater senior yang saya wawancarai beberapa tahun lalu. Ia berkata sambil tersenyum setengah serius. ODGJ jangan sampai lapar. Waktu itu saya hanya mengangguk, seakan paham. Namun setelah bertahun-tahun hidup sebagai penyintas skizofrenia yang sudah pulih dan bekerja kembali sebagai wartawan, saya baru benar-benar mengerti bahwa kalimat itu bukan petuah biasa. Ia adalah peringatan yang lahir dari pengalaman klinis. Lebih dari itu, kalimat itu adalah cermin dari kenyataan yang dialami ribuan penyintas di luar sana.

Ketika saya mencoba menuliskan pengalaman saya sendiri, berulang kali saya menemukan kenyataan kecil yang sering tidak dianggap penting. Bahwa rasa lapar sanggup menggerakkan banyak hal dalam diri manusia. Lapar bisa memengaruhi emosi, pikiran, bahkan kemampuan seseorang untuk tetap merasa waras. Pada orang yang sehat, lapar bisa membuat seseorang lebih mudah marah atau sensitif. Pada penyintas skizofrenia seperti saya, lapar dapat membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup rapat. Pintu itu adalah pintu menuju kecemasan. Menuju pikiran yang mulai berlari tanpa arah. Menuju ketegangan yang tidak bisa dijelaskan. Karena itu saya memahami dengan lebih jernih perkataan sang psikiater. ODGJ jangan sampai lapar.

Saya ingat pada tahun tahun paling gelap dalam hidup saya. Ketika suara-suara dalam kepala tidak mau diam. Ketika dunia terasa jauh dan tidak bersahabat. Saat itu saya sering lupa makan. Bukan karena saya tidak mau. Namun karena pikiran saya berantakan. Ritme hidup saya patah berkeping-keping. Dalam keadaan begitu, tubuh saya menanggung beban berat. Jangankan untuk menyiapkan makanan. Memikirkan apakah saya lapar atau tidak pun sudah cukup melelahkan. Pada masa itu, saya tidak tahu bahwa lapar justru memperburuk keadaan saya. Baru bertahun-tahun kemudian saya mengerti bahwa tubuh yang kekurangan energi akan membuat otak semakin kesulitan menjaga kestabilan pikiran.

Lapar bukan hanya urusan perut. Lapar adalah urusan otak. Dan pada penyintas skizofrenia, otak adalah medan perang yang tidak pernah selesai. Ketika saya telat makan, kepala saya terasa ringan tetapi tidak nyaman. Pikiran menjadi lebih peka terhadap kecemasan. Tubuh seperti kehilangan fondasi. Dan dari sana, hal hal kecil bisa berubah menjadi ancaman. Suara motor tampak lebih bising. Orang yang berjalan terlalu dekat tampak mencurigakan. Bahkan bayangan sendiri di kaca pun kadang terasa asing. Semua itu terjadi karena tubuh kehilangan bahan bakar. Sementara otak membutuhkan energi untuk mempertahankan kewarasan. Itulah sebabnya psikiater sangat sering menasihati pasiennya agar makan teratur. Bahkan ketika tidak ingin makan. Bahkan ketika tidak ada selera. Karena pada akhirnya, makan bukan hanya soal mengisi perut. Makan adalah cara memelihara kesehatan jiwa.

Sebagai wartawan, saya telah bertemu banyak penyintas. Ada yang tinggal di desa terpencil. Ada yang hidup bersama keluarga besar. Ada yang hidup sendiri dan bekerja serabutan. Banyak dari mereka mengalami masalah serupa. Mereka lupa makan. Mereka tidak mampu menyiapkan makanan. Mereka terlalu cemas keluar rumah untuk membeli makan. Atau mereka hidup dalam tekanan ekonomi yang membuat makan tiga kali sehari terasa seperti kemewahan. Kondisi kondisi seperti ini sering tidak masuk dalam pembahasan formal mengenai kesehatan jiwa. Padahal kebutuhan dasar seperti makanan memegang peran paling menentukan bagi kestabilan emosi.

Beberapa penyintas yang sedang kambuh sering menolak makan. Keluarga mengira itu karena keras kepala. Padahal kadang itu karena tubuh mereka dikuasai rasa takut yang sulit dijelaskan. Rasa takut untuk menyentuh makanan. Rasa takut bahwa makanan itu berbahaya. Rasa takut pada aroma yang sebenarnya normal. Semua ini menunjukkan betapa rumit hubungan antara tubuh dan pikiran. Ketika penyintas menolak makan, ia sebenarnya sedang meminta pertolongan dalam bahasa yang tidak diucapkan. Maka keluarga atau pendamping harus memahami bahwa makan bukan masalah disiplin. Makan adalah bagian dari terapi.

Saya sendiri berkali kali mengalami bagaimana pola makan memengaruhi kestabilan saya. Sejak kembali bekerja sebagai wartawan pada 2015, saya belajar mengenali sinyal tubuh. Jika saya telat makan, saya mulai mudah gelisah. Pikiran menjadi tidak rapi. Saya sulit fokus menulis. Tubuh menjadi panas-dingin. Pada masa awal pemulihan, kondisi seperti ini bisa memicu kepanikan. Namun seiring waktu, saya belajar bahwa solusi paling sederhana adalah makan. Sebungkus roti. Sepotong kue. Bahkan pisang pun cukup. Setelah itu, tubuh kembali rileks. Pikiran kembali teratur. Suasana hati kembali pulih.

Di ruang kerja, saya selalu menaruh makanan kecil. Tidak perlu yang mewah. Yang penting mudah dijangkau. Karena bagi saya, makanan bukan sekadar makanan. Ia adalah pagar yang menjaga agar pikiran saya tidak terjerumus kembali pada kegelapan. Ia adalah jangkar yang menahan saya tetap terhubung dengan dunia. Itulah mengapa saya selalu mengatakan pada penyintas lain yang saya temui. Jangan biarkan diri kalian lapar.

Ada alasan biologis di balik itu semua. Penurunan gula darah membuat otak kehilangan energi untuk mengatur emosi. Serotonin, dopamin, dan berbagai zat kimia dalam otak bisa berfluktuasi. Pada orang sehat, fluktuasi ini mungkin hanya membuat mereka sedikit sensitif. Pada penyintas skizofrenia, fluktuasi ini bisa memicu kecemasan. Bisa memunculkan pikiran-pikiran yang tidak diinginkan. Bahkan bisa membuat tubuh terlalu tegang dan sulit tidur di malam hari. Semua ini saling terhubung. Tubuh dan pikiran bekerja bersama. Jika tubuh kosong, pikiran menjadi limbung.

Saya pernah bertemu seorang penyintas bernama Putu. Ia tinggal di Badung bersama ibunya yang sudah lanjut usia. Putu bekerja sebagai tukang kebun paruh waktu. Setiap pagi ia berangkat tanpa sarapan. Saat saya tanya alasannya, ia hanya berkata tidak sempat. Setelah berbincang lebih lama, saya tahu bahwa bukan waktu yang kurang. Namun rasa takut. Putu takut merasa mual setelah makan. Ia takut akan muntah. Ia takut tubuhnya terasa tidak nyaman. Padahal ketika ia tidak makan, ia menjadi jauh lebih sensitif. Ia cepat tersinggung. Ia mudah lelah. Ia takut berada di tempat ramai. Itu mengganggu pekerjaannya. Pada suatu hari, ia hampir bertengkar dengan rekan kerjanya karena hal sepele. Ia sedang lapar.

Cerita Putu mengingatkan saya pada masa masa ketika saya dulu kambuh. Lapar bisa membuat seseorang kehilangan kontrol. Pada penyintas, kehilangan kontrol bisa berbahaya. Ketika saya berbicara dengan ibunya, saya menyarankan agar Putu selalu diberi makanan kecil yang bisa ia bawa ke tempat kerja. Ia tidak harus makan banyak. Yang penting perutnya tidak kosong. Seminggu kemudian, ibunya menelepon saya. Putu tampak lebih tenang. Ia tidak lagi mudah tersinggung. Ia mulai berani bertemu orang. Dan ia mengatakan pada ibunya bahwa ia merasa lebih nyaman. Semua itu dimulai dari hal sederhana. Sebungkus roti.

Pengalaman-pengalaman seperti ini menegaskan bahwa pemulihan penyintas skizofrenia bukan hanya tentang obat. Bukan hanya tentang terapi. Bukan hanya tentang lingkungan sosial. Namun juga tentang hal-hal kecil yang sering tidak dipikirkan orang. Pola makan. Jam tidur. Ketersediaan air minum. Ketenangan tubuh. Kesadaran akan sinyal-sinyal fisik. Semua ini adalah fondasi dari kesehatan mental.

Dalam beberapa kesempatan, saya menghadiri acara komunitas penyintas dan keluarganya. Di sana, saya sering mendengar pengalaman serupa. Ada penyintas yang mulai cemas ketika perutnya kosong terlalu lama. Ada yang mulai sulit berpikir jernih. Ada yang menjadi sangat sensitif. Bahkan ada yang merasa dunianya mulai memudar. Semua itu muncul hanya karena lapar. Lapar mengguncang kestabilan. Lapar menurunkan daya tahan mental. Lapar membuka pintu bagi kecemasan.

Dalam perjalanan panjang saya sebagai penyintas, saya belajar bahwa merawat diri bukanlah hal mudah. Banyak orang mengira merawat diri hanyalah soal mandi teratur atau minum obat tepat waktu. Padahal merawat diri adalah kemampuan membaca kondisi tubuh. Mengetahui kapan harus istirahat. Mengetahui kapan harus berhenti bekerja. Mengetahui kapan harus makan. Dan untuk penyintas, kemampuan ini sering hilang ketika gejala muncul. Karena itu, pendamping atau keluarga memiliki peran besar. Mereka harus mengingatkan. Mereka harus memahami bahwa lupa makan bukan berarti malas. Lupa makan adalah bagian dari gejala.

Saya juga belajar bahwa dunia sering tidak memahami realitas penyintas. Di mata banyak orang, penyintas adalah individu yang dianggap lemah atau tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Mereka jarang melihat bagaimana penyintas berjuang setiap hari. Menaklukkan kecemasan. Mengendalikan pikiran. Menata hidup. Pada perjalanan seperti itu, hal sepele seperti makan bisa menjadi kemenangan besar. Karena itu saya selalu menulis dengan nada yang jujur. Bahwa pemulihan tidak selalu tampak spektakuler. Pemulihan sering terjadi pada hal hal kecil. Pada waktu makan yang teratur. Pada tidur yang cukup. Pada langkah kecil menuju kestabilan.

Ketika saya menuliskan ini, saya teringat pada masa kecil saya yang bahagia. Setiap Minggu pagi, saya dan ibu angkat saya naik dokar. Kusirnya bernama Pak Karim. Ia dari Loloan. Kami pergi berkeliling kota. Pagi yang sejuk. Suara kuda yang berirama. Dan ibu selalu membawa makanan kecil. Ia tidak pernah membiarkan saya lapar. Tanpa ia sadari, ia sedang mengajari saya sesuatu. Bahwa tubuh yang tenang membuat pikiran tenang. Bahwa makan tepat waktu adalah bentuk cinta pada diri sendiri. Dan bahwa perhatian kecil bisa menyelamatkan hidup seseorang di masa depan.

Pengalaman itu tidak saya pahami dulu. Namun kini saya mengerti. Dalam hidup yang penuh ketegangan, perhatian kecil seperti itu bisa menjadi penyangga. Bagi penyintas, perhatian semacam ini sangat berarti. Di sekeliling kita, banyak penyintas yang bertahan hidup dalam keadaan sulit. Mereka bekerja. Mereka berbaur. Mereka berjuang menahan diri dari gejala. Mereka ingin terlihat baik baik saja. Namun tubuh mereka tetap membutuhkan ritme. Butuh makan. Butuh energi. Butuh ketenangan.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan kalimat sederhana yang pernah disampaikan psikiater yang saya hormati. Kalimat itu akhirnya menjadi kompas bagi saya dalam menata hidup kembali. Kalimat yang kini saya mengerti sepenuhnya. ODGJ jangan sampai lapar. Kalimat itu bukan sekadar saran kesehatan. Kalimat itu adalah peringatan lembut agar penyintas menjaga dirinya. Agar keluarga lebih peka. Agar masyarakat tidak menganggap remeh kebutuhan dasar penyintas. Karena pemulihan bukan hanya soal obat dan terapi. Pemulihan adalah soal bagaimana seseorang menjaga tubuhnya untuk tetap mendukung pikirannya.

Dan bagi saya pribadi, kalimat itu adalah pengingat sepanjang hidup. Pengingat bahwa tubuh dan pikiran berjalan bersama. Jika tubuh terjaga, pikiran ikut terjaga. Jika tubuh rileks, jiwa ikut tenang. Jika tubuh diberi makan tepat waktu, pikiran tidak akan lari terlalu jauh. Karena itu, saya selalu mengatakan kepada penyintas muda yang saya temui. Mereka yang baru memulai perjalanan panjang menuju pemulihan. Mereka yang masih sering takut kambuh. Saya berkata dengan suara pelan. Jaga makanmu. Jangan biarkan tubuhmu kosong. Jangan biarkan pikiranmu kehilangan tenaga. Jangan biarkan dirimu lapar.

Karena bagi penyintas, makan adalah cara lain untuk bertahan hidup. Cara lain untuk mencintai diri sendiri. Cara lain untuk tetap waras di dunia yang sibuk dan bising. ODGJ jangan sampai lapar. Kalimat sederhana yang menyelamatkan banyak orang. Termasuk saya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: ODGJPsikoterapi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Zero Post’, Pemberontakan Sunyi Gen Z

Next Post

Bali Fashion Tendance 2026, Agar Tahun Depan Tidak Ketinggalan Fesyen

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Bali Fashion Tendance 2026, Agar Tahun Depan Tidak Ketinggalan Fesyen

Bali Fashion Tendance 2026, Agar Tahun Depan Tidak Ketinggalan Fesyen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co