2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

ODGJ Jangan Sampai Lapar

Angga Wijaya by Angga Wijaya
December 13, 2025
in Esai
ODGJ Jangan Sampai Lapar

Ilustrasi tatkala.co | Canva

ADA kalimat sederhana yang sering dianggap sepele. Kalimat itu muncul pertama kali dari seorang psikiater senior yang saya wawancarai beberapa tahun lalu. Ia berkata sambil tersenyum setengah serius. ODGJ jangan sampai lapar. Waktu itu saya hanya mengangguk, seakan paham. Namun setelah bertahun-tahun hidup sebagai penyintas skizofrenia yang sudah pulih dan bekerja kembali sebagai wartawan, saya baru benar-benar mengerti bahwa kalimat itu bukan petuah biasa. Ia adalah peringatan yang lahir dari pengalaman klinis. Lebih dari itu, kalimat itu adalah cermin dari kenyataan yang dialami ribuan penyintas di luar sana.

Ketika saya mencoba menuliskan pengalaman saya sendiri, berulang kali saya menemukan kenyataan kecil yang sering tidak dianggap penting. Bahwa rasa lapar sanggup menggerakkan banyak hal dalam diri manusia. Lapar bisa memengaruhi emosi, pikiran, bahkan kemampuan seseorang untuk tetap merasa waras. Pada orang yang sehat, lapar bisa membuat seseorang lebih mudah marah atau sensitif. Pada penyintas skizofrenia seperti saya, lapar dapat membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup rapat. Pintu itu adalah pintu menuju kecemasan. Menuju pikiran yang mulai berlari tanpa arah. Menuju ketegangan yang tidak bisa dijelaskan. Karena itu saya memahami dengan lebih jernih perkataan sang psikiater. ODGJ jangan sampai lapar.

Saya ingat pada tahun tahun paling gelap dalam hidup saya. Ketika suara-suara dalam kepala tidak mau diam. Ketika dunia terasa jauh dan tidak bersahabat. Saat itu saya sering lupa makan. Bukan karena saya tidak mau. Namun karena pikiran saya berantakan. Ritme hidup saya patah berkeping-keping. Dalam keadaan begitu, tubuh saya menanggung beban berat. Jangankan untuk menyiapkan makanan. Memikirkan apakah saya lapar atau tidak pun sudah cukup melelahkan. Pada masa itu, saya tidak tahu bahwa lapar justru memperburuk keadaan saya. Baru bertahun-tahun kemudian saya mengerti bahwa tubuh yang kekurangan energi akan membuat otak semakin kesulitan menjaga kestabilan pikiran.

Lapar bukan hanya urusan perut. Lapar adalah urusan otak. Dan pada penyintas skizofrenia, otak adalah medan perang yang tidak pernah selesai. Ketika saya telat makan, kepala saya terasa ringan tetapi tidak nyaman. Pikiran menjadi lebih peka terhadap kecemasan. Tubuh seperti kehilangan fondasi. Dan dari sana, hal hal kecil bisa berubah menjadi ancaman. Suara motor tampak lebih bising. Orang yang berjalan terlalu dekat tampak mencurigakan. Bahkan bayangan sendiri di kaca pun kadang terasa asing. Semua itu terjadi karena tubuh kehilangan bahan bakar. Sementara otak membutuhkan energi untuk mempertahankan kewarasan. Itulah sebabnya psikiater sangat sering menasihati pasiennya agar makan teratur. Bahkan ketika tidak ingin makan. Bahkan ketika tidak ada selera. Karena pada akhirnya, makan bukan hanya soal mengisi perut. Makan adalah cara memelihara kesehatan jiwa.

Sebagai wartawan, saya telah bertemu banyak penyintas. Ada yang tinggal di desa terpencil. Ada yang hidup bersama keluarga besar. Ada yang hidup sendiri dan bekerja serabutan. Banyak dari mereka mengalami masalah serupa. Mereka lupa makan. Mereka tidak mampu menyiapkan makanan. Mereka terlalu cemas keluar rumah untuk membeli makan. Atau mereka hidup dalam tekanan ekonomi yang membuat makan tiga kali sehari terasa seperti kemewahan. Kondisi kondisi seperti ini sering tidak masuk dalam pembahasan formal mengenai kesehatan jiwa. Padahal kebutuhan dasar seperti makanan memegang peran paling menentukan bagi kestabilan emosi.

Beberapa penyintas yang sedang kambuh sering menolak makan. Keluarga mengira itu karena keras kepala. Padahal kadang itu karena tubuh mereka dikuasai rasa takut yang sulit dijelaskan. Rasa takut untuk menyentuh makanan. Rasa takut bahwa makanan itu berbahaya. Rasa takut pada aroma yang sebenarnya normal. Semua ini menunjukkan betapa rumit hubungan antara tubuh dan pikiran. Ketika penyintas menolak makan, ia sebenarnya sedang meminta pertolongan dalam bahasa yang tidak diucapkan. Maka keluarga atau pendamping harus memahami bahwa makan bukan masalah disiplin. Makan adalah bagian dari terapi.

Saya sendiri berkali kali mengalami bagaimana pola makan memengaruhi kestabilan saya. Sejak kembali bekerja sebagai wartawan pada 2015, saya belajar mengenali sinyal tubuh. Jika saya telat makan, saya mulai mudah gelisah. Pikiran menjadi tidak rapi. Saya sulit fokus menulis. Tubuh menjadi panas-dingin. Pada masa awal pemulihan, kondisi seperti ini bisa memicu kepanikan. Namun seiring waktu, saya belajar bahwa solusi paling sederhana adalah makan. Sebungkus roti. Sepotong kue. Bahkan pisang pun cukup. Setelah itu, tubuh kembali rileks. Pikiran kembali teratur. Suasana hati kembali pulih.

Di ruang kerja, saya selalu menaruh makanan kecil. Tidak perlu yang mewah. Yang penting mudah dijangkau. Karena bagi saya, makanan bukan sekadar makanan. Ia adalah pagar yang menjaga agar pikiran saya tidak terjerumus kembali pada kegelapan. Ia adalah jangkar yang menahan saya tetap terhubung dengan dunia. Itulah mengapa saya selalu mengatakan pada penyintas lain yang saya temui. Jangan biarkan diri kalian lapar.

Ada alasan biologis di balik itu semua. Penurunan gula darah membuat otak kehilangan energi untuk mengatur emosi. Serotonin, dopamin, dan berbagai zat kimia dalam otak bisa berfluktuasi. Pada orang sehat, fluktuasi ini mungkin hanya membuat mereka sedikit sensitif. Pada penyintas skizofrenia, fluktuasi ini bisa memicu kecemasan. Bisa memunculkan pikiran-pikiran yang tidak diinginkan. Bahkan bisa membuat tubuh terlalu tegang dan sulit tidur di malam hari. Semua ini saling terhubung. Tubuh dan pikiran bekerja bersama. Jika tubuh kosong, pikiran menjadi limbung.

Saya pernah bertemu seorang penyintas bernama Putu. Ia tinggal di Badung bersama ibunya yang sudah lanjut usia. Putu bekerja sebagai tukang kebun paruh waktu. Setiap pagi ia berangkat tanpa sarapan. Saat saya tanya alasannya, ia hanya berkata tidak sempat. Setelah berbincang lebih lama, saya tahu bahwa bukan waktu yang kurang. Namun rasa takut. Putu takut merasa mual setelah makan. Ia takut akan muntah. Ia takut tubuhnya terasa tidak nyaman. Padahal ketika ia tidak makan, ia menjadi jauh lebih sensitif. Ia cepat tersinggung. Ia mudah lelah. Ia takut berada di tempat ramai. Itu mengganggu pekerjaannya. Pada suatu hari, ia hampir bertengkar dengan rekan kerjanya karena hal sepele. Ia sedang lapar.

Cerita Putu mengingatkan saya pada masa masa ketika saya dulu kambuh. Lapar bisa membuat seseorang kehilangan kontrol. Pada penyintas, kehilangan kontrol bisa berbahaya. Ketika saya berbicara dengan ibunya, saya menyarankan agar Putu selalu diberi makanan kecil yang bisa ia bawa ke tempat kerja. Ia tidak harus makan banyak. Yang penting perutnya tidak kosong. Seminggu kemudian, ibunya menelepon saya. Putu tampak lebih tenang. Ia tidak lagi mudah tersinggung. Ia mulai berani bertemu orang. Dan ia mengatakan pada ibunya bahwa ia merasa lebih nyaman. Semua itu dimulai dari hal sederhana. Sebungkus roti.

Pengalaman-pengalaman seperti ini menegaskan bahwa pemulihan penyintas skizofrenia bukan hanya tentang obat. Bukan hanya tentang terapi. Bukan hanya tentang lingkungan sosial. Namun juga tentang hal-hal kecil yang sering tidak dipikirkan orang. Pola makan. Jam tidur. Ketersediaan air minum. Ketenangan tubuh. Kesadaran akan sinyal-sinyal fisik. Semua ini adalah fondasi dari kesehatan mental.

Dalam beberapa kesempatan, saya menghadiri acara komunitas penyintas dan keluarganya. Di sana, saya sering mendengar pengalaman serupa. Ada penyintas yang mulai cemas ketika perutnya kosong terlalu lama. Ada yang mulai sulit berpikir jernih. Ada yang menjadi sangat sensitif. Bahkan ada yang merasa dunianya mulai memudar. Semua itu muncul hanya karena lapar. Lapar mengguncang kestabilan. Lapar menurunkan daya tahan mental. Lapar membuka pintu bagi kecemasan.

Dalam perjalanan panjang saya sebagai penyintas, saya belajar bahwa merawat diri bukanlah hal mudah. Banyak orang mengira merawat diri hanyalah soal mandi teratur atau minum obat tepat waktu. Padahal merawat diri adalah kemampuan membaca kondisi tubuh. Mengetahui kapan harus istirahat. Mengetahui kapan harus berhenti bekerja. Mengetahui kapan harus makan. Dan untuk penyintas, kemampuan ini sering hilang ketika gejala muncul. Karena itu, pendamping atau keluarga memiliki peran besar. Mereka harus mengingatkan. Mereka harus memahami bahwa lupa makan bukan berarti malas. Lupa makan adalah bagian dari gejala.

Saya juga belajar bahwa dunia sering tidak memahami realitas penyintas. Di mata banyak orang, penyintas adalah individu yang dianggap lemah atau tidak mampu mengurus dirinya sendiri. Mereka jarang melihat bagaimana penyintas berjuang setiap hari. Menaklukkan kecemasan. Mengendalikan pikiran. Menata hidup. Pada perjalanan seperti itu, hal sepele seperti makan bisa menjadi kemenangan besar. Karena itu saya selalu menulis dengan nada yang jujur. Bahwa pemulihan tidak selalu tampak spektakuler. Pemulihan sering terjadi pada hal hal kecil. Pada waktu makan yang teratur. Pada tidur yang cukup. Pada langkah kecil menuju kestabilan.

Ketika saya menuliskan ini, saya teringat pada masa kecil saya yang bahagia. Setiap Minggu pagi, saya dan ibu angkat saya naik dokar. Kusirnya bernama Pak Karim. Ia dari Loloan. Kami pergi berkeliling kota. Pagi yang sejuk. Suara kuda yang berirama. Dan ibu selalu membawa makanan kecil. Ia tidak pernah membiarkan saya lapar. Tanpa ia sadari, ia sedang mengajari saya sesuatu. Bahwa tubuh yang tenang membuat pikiran tenang. Bahwa makan tepat waktu adalah bentuk cinta pada diri sendiri. Dan bahwa perhatian kecil bisa menyelamatkan hidup seseorang di masa depan.

Pengalaman itu tidak saya pahami dulu. Namun kini saya mengerti. Dalam hidup yang penuh ketegangan, perhatian kecil seperti itu bisa menjadi penyangga. Bagi penyintas, perhatian semacam ini sangat berarti. Di sekeliling kita, banyak penyintas yang bertahan hidup dalam keadaan sulit. Mereka bekerja. Mereka berbaur. Mereka berjuang menahan diri dari gejala. Mereka ingin terlihat baik baik saja. Namun tubuh mereka tetap membutuhkan ritme. Butuh makan. Butuh energi. Butuh ketenangan.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan kalimat sederhana yang pernah disampaikan psikiater yang saya hormati. Kalimat itu akhirnya menjadi kompas bagi saya dalam menata hidup kembali. Kalimat yang kini saya mengerti sepenuhnya. ODGJ jangan sampai lapar. Kalimat itu bukan sekadar saran kesehatan. Kalimat itu adalah peringatan lembut agar penyintas menjaga dirinya. Agar keluarga lebih peka. Agar masyarakat tidak menganggap remeh kebutuhan dasar penyintas. Karena pemulihan bukan hanya soal obat dan terapi. Pemulihan adalah soal bagaimana seseorang menjaga tubuhnya untuk tetap mendukung pikirannya.

Dan bagi saya pribadi, kalimat itu adalah pengingat sepanjang hidup. Pengingat bahwa tubuh dan pikiran berjalan bersama. Jika tubuh terjaga, pikiran ikut terjaga. Jika tubuh rileks, jiwa ikut tenang. Jika tubuh diberi makan tepat waktu, pikiran tidak akan lari terlalu jauh. Karena itu, saya selalu mengatakan kepada penyintas muda yang saya temui. Mereka yang baru memulai perjalanan panjang menuju pemulihan. Mereka yang masih sering takut kambuh. Saya berkata dengan suara pelan. Jaga makanmu. Jangan biarkan tubuhmu kosong. Jangan biarkan pikiranmu kehilangan tenaga. Jangan biarkan dirimu lapar.

Karena bagi penyintas, makan adalah cara lain untuk bertahan hidup. Cara lain untuk mencintai diri sendiri. Cara lain untuk tetap waras di dunia yang sibuk dan bising. ODGJ jangan sampai lapar. Kalimat sederhana yang menyelamatkan banyak orang. Termasuk saya. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: ODGJPsikoterapi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Zero Post’, Pemberontakan Sunyi Gen Z

Next Post

Bali Fashion Tendance 2026, Agar Tahun Depan Tidak Ketinggalan Fesyen

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Bali Fashion Tendance 2026, Agar Tahun Depan Tidak Ketinggalan Fesyen

Bali Fashion Tendance 2026, Agar Tahun Depan Tidak Ketinggalan Fesyen

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co