3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Zero Post’, Pemberontakan Sunyi Gen Z

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 13, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ERA saat ini, ketika setiap orang berlomba-lomba pamer kopi mahal, tumbler yang ketinggalan, sunset palsu, dan soft launching hubungan baru seperti foto dua gelas kopi  tapi salah satunya bukan punyanya, foto tangan cowok atau cewek yang cuma kelihatan jamnya, foto bayangan dua orang di tembok,  foto sepatu berdua, macam-macam lah.

Nah, ini Gen Z tiba-tiba muncul dengan feed Instagram kosong. Disebut oleh penulis esai Kyle Chayka di The New Yorker sebagai Zero Post. Kosong alias nihil.  Sementara itu, sempat pula muncul slogan baru, offline is the new luxury.Lah, bagaimana ini, di tengah dunia yang 24 jam online, kok offline malah dianggap sebagai suatu kemewahan?

Jadi fenomena ini rasa-rasanya persis seperti menonton konser metal tapi sound-nya di-mute,  tanpa suara. Sunyi, tapi kita tahu ada energi yang terasa. Ada perlawanan, yang meski tidak teriak, tapi hasilnya seperti tamparan halus ke wajah kapitalisme digital. Ya memang media sosial makin kemari makin kapitalisik dia. 

Dan menilik dari gejalanya,  fenomena ini bukan gejala random. Ini bukan sekadar anak muda Gen Z yang males posting, atau gaya-gayaan biar tampak estetik. Ini sebenarnya ada aroma pemberontakan filosofis yang kuat, bahkan jika mereka sendiri mungkin tidak menyadarinya.

Mogok Kerja dari Ekonomi Pamer

Media sosial sejak awal dibangun sebagai industri dengan satu logika sederhana,  semakin kita tampil, semakin banyak data yang bisa diekstraksi. Apapun yang ada di medsos adalah data, posting adalah data, caption juga data, senyum miring sambil sonkarak hate itu juga data, mampir tiga detik jadi data. Karena platform medsos apa pun, dia dihidupi dari representasi diri kita. Dari segala macam bentuk pamer kita. 

Bahkan Linkedin yang konon untuk dunia profesional juga polanya begitu.  Lalu Gen Z muncul dan  mereka bilang, capek. Memang mereka tetap pakai Instagram, tetap scroll, tetap DM-an, tapi feed kosong. Seperti pekerja pabrik yang masih datang ke lokasi tapi menolak menyalakan mesin.  Ini jelas bisa bikin pabrik rungkad ala Happy Asmara.  Bisa jadi ini adalah sebuah aksi kriminal dalam ekonomi atensi, tapi dilakukan secara diam-diam.

Baudrillard, sang filsuf simulakra, mungkin akan menyeringai melihat ini. Baginya, dunia modern sudah berubah menjadi banjir bandang visual yang menenggelamkan realitas. Para pembaca yang budiman pasti juga mulai merasa, orang kini hidup bukan lagi untuk mengalami, tapi untuk menampilkan. Di sini, zero post adalah cara Gen Z menolak tenggelam dalam banjir simulasi itu.
Tidak tampil berarti tidak ikut dalam permainan ilusi, yang memaksa manusia menjadi komoditas visual, karena tampil artinya data yang bisa dicuankan.

Pernah muncul slogan offline is the new luxury yang lahir dari kesadaran pahit di mana waktu tanpa notifikasi sekarang lebih langka daripada pejabat yang amanah.  Byung-Chul Han menyebut generasi ini hidup dalam “tiraninya keterbukaan” dan “ekonomi performativitas”.  Disebut tirani, karena keterbukaan bukan pilihan bebas. Ia jadi tuntutan sosial bahkan jadi syarat diterima dalam komunitas digital.

Jadi, kita dipaksa untuk terus hadir, tampil, update, harus menunjukkan produktivitas, pencapaian, dan kebahagiaan. Semua itu harus dilakukan di ruang publik digital,  kalau tidak, maka kita dianggap tidak eksis. Maka, ketika Gen Z bilang offline itu mewah, itu bukan candaan dan sok-sokan. Itu kritik. Itu suatu deklarasi bahwa ketenteraman batin sudah dirampas dan kini harus berani dibayar dengan tidak posting.

Secara filosofis, offline adalah tindakan penarikan diri, mirip konsep Gelassenheit dalam Heidegger, letting go,  sikap membiarkan dunia teknologis tetap ada, tapi tidak membiarkan diri dikuasai olehnya. Offline di sini bukan pelarian, tapi kontemplasi. Bukan hilang, tapi mengambil jarak.  Bumi langit pokonya sama pelari kalcer.

Zero post dan offline is the new luxury adalah dua bentuk resistensi yang berbeda , namun berasal dari sumber yang sama yaitu kelelahan eksistensial akibat komersialisasi kehidupan digital. Foucault berbicara soal panoptikon, suatu sistem pengawasan yang membuat orang selalu merasa ditonton.  Media sosial adalah panoptikon yang di-upgrade, panoptikon media sosial lebih jahat karena ia membuat kita menikmati pengawasan itu. Lebih jahat karena parahnya, kita tidak hanya terawasi, tapi kita ikut aktif menampilkan diri agar diawasi. Buntutnya setelah dituntut tampil, nanti akan dinilai, dilike, direkam,  kemudian dipasarkan.

Gen Z menolak. Bukan dengan demo, bukan dengan uninstall, tapi dengan cara lebih subtil, hadir tapi tidak menyumbang konten, tetap online tapi tidak memberi data, scrolling tapi tidak feeding algoritma, eksis tanpa eksibisi. Memang suatu  perlawanan kecil, micro-resistance, namun dalam teori kekuasaan Foucault, yang semacam ini justru paling efektif.  Jika kapitalisme digital ingin semua orang jadi pekerja konten gratis, Gen Z membalas dengan cara paling mengganggu yaitu mogokkerja di sistem ini.

Estetika Minimalis sebagai Status Baru

Zero post bukan sekadar feed kosong. Itu estetika baru.  Kalau dulu orang kaya pamer dengan mobil, sekarang orang “kaya secara mental” pamer dengan ketiadaan.  Kesannya adalah bersih, terkontrol, dan tidak murahan. Ini bukan nihilisme, tapi suatu brand identity, di mana ketiadaan menjadi tanda superioritas kultural baru. Generasi ini tidak butuh validasi visual, merka memegang kendali di atas permainan ini. Etnografi digital melihat ini sebagai cara Gen Z menciptakan prestige versi mereka sendiri, yang tidak bisa dijual oleh iklan dan tidak bisa diukur oleh likes.

Yang menarik adalah zero post tidak berarti mereka menolak komunikasi. Mereka hanya  memindahkan ekspresi ke ruang-ruang DM di antara Close Friends,  grup Discord, catatan HP,  TikTok yang sifatnya ephemeral, atau bahkan voice note jam 2 pagi.  Jauh dari kekhawatiran mereka ini adalah generasi  anti-sosial.  Mereka hanya mengurangi jangkauan publik untuk memperbesar ruang privat . Hartmut Rosa, filsuf Jerman,  menyebut ini sebagai resonanz,  suatu tempat di mana kehadiran terasa, bukan dipertontonkan. Di zaman bising, diam menjadi mode komunikasi yang paling radikal.

Fenomena yang Harus Dibaca Serius

Heidegger mengingatkan bahwa manusia modern kehilangan kemampuan tinggal dalam keheningan karena dunia teknologis selalu mendesak kita untuk tampil, bergerak, bekerja, dan menunjukkan sesuatu. Sementara zero post dan offline is luxury adalah cara Gen Z mengambil kembali ruang batin, ritme personal,  kendali atas eksistensi mereka, dan menentukan jarak dari tatapan publik. Tentu ini bukan anti-teknologi, tapi anti-ekstraksi. Mereka tidak menolak media sosial, hanya saja mereka menolak menjadi komoditasnya.

Ketika jutaan Gen Z berhenti posting, itu bukan sekedar gaya-gayaan. Itu tanda bahwa generasi ini sadar bahwa privasi adalah komoditas langka. Mereka sadar bahwa performa digital lama-lama jadi tekanan mental. Mereka juga mampu melihat bahwa representasi diri telah dikapitalisasi oleh algoritma yang menjadikan manusia jadi buruh konten tanpa bayaran, kecuali memang kalau kerjanya konten kreator.  

Perlawanan sunyi ini tentu saja bisa mengubah arsitektur sosial digital. Jika banyak orang kemudian berhenti memberi data, algoritma jelas kehilangan bahan bakar.  Mungkin nanti terbukti Teori Internet Mati, yaitu gagasan bahwa konten di internet makin lama makin didominasi oleh AI dan pemasaran, sementara pengguna manusia makin berkurang.

Zero post dan offline is luxury adalah deklarasi yang sederhana tapi mengguncang. Dan Gen Z, entah sengaja atau tidak, sedang mengajarkan bahwa kadang cara paling radikal untuk melawan teknologi yang satu ini adalah dengan  tidak melakukan apa-apa, diam, tapi menghantam. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: digitalGen Z
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara Perempuan di Festival Film Kemanusiaan (FFK) 2025

Next Post

ODGJ Jangan Sampai Lapar

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
ODGJ Jangan Sampai Lapar

ODGJ Jangan Sampai Lapar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co