24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Zero Post’, Pemberontakan Sunyi Gen Z

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 13, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ERA saat ini, ketika setiap orang berlomba-lomba pamer kopi mahal, tumbler yang ketinggalan, sunset palsu, dan soft launching hubungan baru seperti foto dua gelas kopi  tapi salah satunya bukan punyanya, foto tangan cowok atau cewek yang cuma kelihatan jamnya, foto bayangan dua orang di tembok,  foto sepatu berdua, macam-macam lah.

Nah, ini Gen Z tiba-tiba muncul dengan feed Instagram kosong. Disebut oleh penulis esai Kyle Chayka di The New Yorker sebagai Zero Post. Kosong alias nihil.  Sementara itu, sempat pula muncul slogan baru, offline is the new luxury.Lah, bagaimana ini, di tengah dunia yang 24 jam online, kok offline malah dianggap sebagai suatu kemewahan?

Jadi fenomena ini rasa-rasanya persis seperti menonton konser metal tapi sound-nya di-mute,  tanpa suara. Sunyi, tapi kita tahu ada energi yang terasa. Ada perlawanan, yang meski tidak teriak, tapi hasilnya seperti tamparan halus ke wajah kapitalisme digital. Ya memang media sosial makin kemari makin kapitalisik dia. 

Dan menilik dari gejalanya,  fenomena ini bukan gejala random. Ini bukan sekadar anak muda Gen Z yang males posting, atau gaya-gayaan biar tampak estetik. Ini sebenarnya ada aroma pemberontakan filosofis yang kuat, bahkan jika mereka sendiri mungkin tidak menyadarinya.

Mogok Kerja dari Ekonomi Pamer

Media sosial sejak awal dibangun sebagai industri dengan satu logika sederhana,  semakin kita tampil, semakin banyak data yang bisa diekstraksi. Apapun yang ada di medsos adalah data, posting adalah data, caption juga data, senyum miring sambil sonkarak hate itu juga data, mampir tiga detik jadi data. Karena platform medsos apa pun, dia dihidupi dari representasi diri kita. Dari segala macam bentuk pamer kita. 

Bahkan Linkedin yang konon untuk dunia profesional juga polanya begitu.  Lalu Gen Z muncul dan  mereka bilang, capek. Memang mereka tetap pakai Instagram, tetap scroll, tetap DM-an, tapi feed kosong. Seperti pekerja pabrik yang masih datang ke lokasi tapi menolak menyalakan mesin.  Ini jelas bisa bikin pabrik rungkad ala Happy Asmara.  Bisa jadi ini adalah sebuah aksi kriminal dalam ekonomi atensi, tapi dilakukan secara diam-diam.

Baudrillard, sang filsuf simulakra, mungkin akan menyeringai melihat ini. Baginya, dunia modern sudah berubah menjadi banjir bandang visual yang menenggelamkan realitas. Para pembaca yang budiman pasti juga mulai merasa, orang kini hidup bukan lagi untuk mengalami, tapi untuk menampilkan. Di sini, zero post adalah cara Gen Z menolak tenggelam dalam banjir simulasi itu.
Tidak tampil berarti tidak ikut dalam permainan ilusi, yang memaksa manusia menjadi komoditas visual, karena tampil artinya data yang bisa dicuankan.

Pernah muncul slogan offline is the new luxury yang lahir dari kesadaran pahit di mana waktu tanpa notifikasi sekarang lebih langka daripada pejabat yang amanah.  Byung-Chul Han menyebut generasi ini hidup dalam “tiraninya keterbukaan” dan “ekonomi performativitas”.  Disebut tirani, karena keterbukaan bukan pilihan bebas. Ia jadi tuntutan sosial bahkan jadi syarat diterima dalam komunitas digital.

Jadi, kita dipaksa untuk terus hadir, tampil, update, harus menunjukkan produktivitas, pencapaian, dan kebahagiaan. Semua itu harus dilakukan di ruang publik digital,  kalau tidak, maka kita dianggap tidak eksis. Maka, ketika Gen Z bilang offline itu mewah, itu bukan candaan dan sok-sokan. Itu kritik. Itu suatu deklarasi bahwa ketenteraman batin sudah dirampas dan kini harus berani dibayar dengan tidak posting.

Secara filosofis, offline adalah tindakan penarikan diri, mirip konsep Gelassenheit dalam Heidegger, letting go,  sikap membiarkan dunia teknologis tetap ada, tapi tidak membiarkan diri dikuasai olehnya. Offline di sini bukan pelarian, tapi kontemplasi. Bukan hilang, tapi mengambil jarak.  Bumi langit pokonya sama pelari kalcer.

Zero post dan offline is the new luxury adalah dua bentuk resistensi yang berbeda , namun berasal dari sumber yang sama yaitu kelelahan eksistensial akibat komersialisasi kehidupan digital. Foucault berbicara soal panoptikon, suatu sistem pengawasan yang membuat orang selalu merasa ditonton.  Media sosial adalah panoptikon yang di-upgrade, panoptikon media sosial lebih jahat karena ia membuat kita menikmati pengawasan itu. Lebih jahat karena parahnya, kita tidak hanya terawasi, tapi kita ikut aktif menampilkan diri agar diawasi. Buntutnya setelah dituntut tampil, nanti akan dinilai, dilike, direkam,  kemudian dipasarkan.

Gen Z menolak. Bukan dengan demo, bukan dengan uninstall, tapi dengan cara lebih subtil, hadir tapi tidak menyumbang konten, tetap online tapi tidak memberi data, scrolling tapi tidak feeding algoritma, eksis tanpa eksibisi. Memang suatu  perlawanan kecil, micro-resistance, namun dalam teori kekuasaan Foucault, yang semacam ini justru paling efektif.  Jika kapitalisme digital ingin semua orang jadi pekerja konten gratis, Gen Z membalas dengan cara paling mengganggu yaitu mogokkerja di sistem ini.

Estetika Minimalis sebagai Status Baru

Zero post bukan sekadar feed kosong. Itu estetika baru.  Kalau dulu orang kaya pamer dengan mobil, sekarang orang “kaya secara mental” pamer dengan ketiadaan.  Kesannya adalah bersih, terkontrol, dan tidak murahan. Ini bukan nihilisme, tapi suatu brand identity, di mana ketiadaan menjadi tanda superioritas kultural baru. Generasi ini tidak butuh validasi visual, merka memegang kendali di atas permainan ini. Etnografi digital melihat ini sebagai cara Gen Z menciptakan prestige versi mereka sendiri, yang tidak bisa dijual oleh iklan dan tidak bisa diukur oleh likes.

Yang menarik adalah zero post tidak berarti mereka menolak komunikasi. Mereka hanya  memindahkan ekspresi ke ruang-ruang DM di antara Close Friends,  grup Discord, catatan HP,  TikTok yang sifatnya ephemeral, atau bahkan voice note jam 2 pagi.  Jauh dari kekhawatiran mereka ini adalah generasi  anti-sosial.  Mereka hanya mengurangi jangkauan publik untuk memperbesar ruang privat . Hartmut Rosa, filsuf Jerman,  menyebut ini sebagai resonanz,  suatu tempat di mana kehadiran terasa, bukan dipertontonkan. Di zaman bising, diam menjadi mode komunikasi yang paling radikal.

Fenomena yang Harus Dibaca Serius

Heidegger mengingatkan bahwa manusia modern kehilangan kemampuan tinggal dalam keheningan karena dunia teknologis selalu mendesak kita untuk tampil, bergerak, bekerja, dan menunjukkan sesuatu. Sementara zero post dan offline is luxury adalah cara Gen Z mengambil kembali ruang batin, ritme personal,  kendali atas eksistensi mereka, dan menentukan jarak dari tatapan publik. Tentu ini bukan anti-teknologi, tapi anti-ekstraksi. Mereka tidak menolak media sosial, hanya saja mereka menolak menjadi komoditasnya.

Ketika jutaan Gen Z berhenti posting, itu bukan sekedar gaya-gayaan. Itu tanda bahwa generasi ini sadar bahwa privasi adalah komoditas langka. Mereka sadar bahwa performa digital lama-lama jadi tekanan mental. Mereka juga mampu melihat bahwa representasi diri telah dikapitalisasi oleh algoritma yang menjadikan manusia jadi buruh konten tanpa bayaran, kecuali memang kalau kerjanya konten kreator.  

Perlawanan sunyi ini tentu saja bisa mengubah arsitektur sosial digital. Jika banyak orang kemudian berhenti memberi data, algoritma jelas kehilangan bahan bakar.  Mungkin nanti terbukti Teori Internet Mati, yaitu gagasan bahwa konten di internet makin lama makin didominasi oleh AI dan pemasaran, sementara pengguna manusia makin berkurang.

Zero post dan offline is luxury adalah deklarasi yang sederhana tapi mengguncang. Dan Gen Z, entah sengaja atau tidak, sedang mengajarkan bahwa kadang cara paling radikal untuk melawan teknologi yang satu ini adalah dengan  tidak melakukan apa-apa, diam, tapi menghantam. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: digitalGen Z
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara Perempuan di Festival Film Kemanusiaan (FFK) 2025

Next Post

ODGJ Jangan Sampai Lapar

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
ODGJ Jangan Sampai Lapar

ODGJ Jangan Sampai Lapar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co