2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Zero Post’, Pemberontakan Sunyi Gen Z

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 13, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ERA saat ini, ketika setiap orang berlomba-lomba pamer kopi mahal, tumbler yang ketinggalan, sunset palsu, dan soft launching hubungan baru seperti foto dua gelas kopi  tapi salah satunya bukan punyanya, foto tangan cowok atau cewek yang cuma kelihatan jamnya, foto bayangan dua orang di tembok,  foto sepatu berdua, macam-macam lah.

Nah, ini Gen Z tiba-tiba muncul dengan feed Instagram kosong. Disebut oleh penulis esai Kyle Chayka di The New Yorker sebagai Zero Post. Kosong alias nihil.  Sementara itu, sempat pula muncul slogan baru, offline is the new luxury.Lah, bagaimana ini, di tengah dunia yang 24 jam online, kok offline malah dianggap sebagai suatu kemewahan?

Jadi fenomena ini rasa-rasanya persis seperti menonton konser metal tapi sound-nya di-mute,  tanpa suara. Sunyi, tapi kita tahu ada energi yang terasa. Ada perlawanan, yang meski tidak teriak, tapi hasilnya seperti tamparan halus ke wajah kapitalisme digital. Ya memang media sosial makin kemari makin kapitalisik dia. 

Dan menilik dari gejalanya,  fenomena ini bukan gejala random. Ini bukan sekadar anak muda Gen Z yang males posting, atau gaya-gayaan biar tampak estetik. Ini sebenarnya ada aroma pemberontakan filosofis yang kuat, bahkan jika mereka sendiri mungkin tidak menyadarinya.

Mogok Kerja dari Ekonomi Pamer

Media sosial sejak awal dibangun sebagai industri dengan satu logika sederhana,  semakin kita tampil, semakin banyak data yang bisa diekstraksi. Apapun yang ada di medsos adalah data, posting adalah data, caption juga data, senyum miring sambil sonkarak hate itu juga data, mampir tiga detik jadi data. Karena platform medsos apa pun, dia dihidupi dari representasi diri kita. Dari segala macam bentuk pamer kita. 

Bahkan Linkedin yang konon untuk dunia profesional juga polanya begitu.  Lalu Gen Z muncul dan  mereka bilang, capek. Memang mereka tetap pakai Instagram, tetap scroll, tetap DM-an, tapi feed kosong. Seperti pekerja pabrik yang masih datang ke lokasi tapi menolak menyalakan mesin.  Ini jelas bisa bikin pabrik rungkad ala Happy Asmara.  Bisa jadi ini adalah sebuah aksi kriminal dalam ekonomi atensi, tapi dilakukan secara diam-diam.

Baudrillard, sang filsuf simulakra, mungkin akan menyeringai melihat ini. Baginya, dunia modern sudah berubah menjadi banjir bandang visual yang menenggelamkan realitas. Para pembaca yang budiman pasti juga mulai merasa, orang kini hidup bukan lagi untuk mengalami, tapi untuk menampilkan. Di sini, zero post adalah cara Gen Z menolak tenggelam dalam banjir simulasi itu.
Tidak tampil berarti tidak ikut dalam permainan ilusi, yang memaksa manusia menjadi komoditas visual, karena tampil artinya data yang bisa dicuankan.

Pernah muncul slogan offline is the new luxury yang lahir dari kesadaran pahit di mana waktu tanpa notifikasi sekarang lebih langka daripada pejabat yang amanah.  Byung-Chul Han menyebut generasi ini hidup dalam “tiraninya keterbukaan” dan “ekonomi performativitas”.  Disebut tirani, karena keterbukaan bukan pilihan bebas. Ia jadi tuntutan sosial bahkan jadi syarat diterima dalam komunitas digital.

Jadi, kita dipaksa untuk terus hadir, tampil, update, harus menunjukkan produktivitas, pencapaian, dan kebahagiaan. Semua itu harus dilakukan di ruang publik digital,  kalau tidak, maka kita dianggap tidak eksis. Maka, ketika Gen Z bilang offline itu mewah, itu bukan candaan dan sok-sokan. Itu kritik. Itu suatu deklarasi bahwa ketenteraman batin sudah dirampas dan kini harus berani dibayar dengan tidak posting.

Secara filosofis, offline adalah tindakan penarikan diri, mirip konsep Gelassenheit dalam Heidegger, letting go,  sikap membiarkan dunia teknologis tetap ada, tapi tidak membiarkan diri dikuasai olehnya. Offline di sini bukan pelarian, tapi kontemplasi. Bukan hilang, tapi mengambil jarak.  Bumi langit pokonya sama pelari kalcer.

Zero post dan offline is the new luxury adalah dua bentuk resistensi yang berbeda , namun berasal dari sumber yang sama yaitu kelelahan eksistensial akibat komersialisasi kehidupan digital. Foucault berbicara soal panoptikon, suatu sistem pengawasan yang membuat orang selalu merasa ditonton.  Media sosial adalah panoptikon yang di-upgrade, panoptikon media sosial lebih jahat karena ia membuat kita menikmati pengawasan itu. Lebih jahat karena parahnya, kita tidak hanya terawasi, tapi kita ikut aktif menampilkan diri agar diawasi. Buntutnya setelah dituntut tampil, nanti akan dinilai, dilike, direkam,  kemudian dipasarkan.

Gen Z menolak. Bukan dengan demo, bukan dengan uninstall, tapi dengan cara lebih subtil, hadir tapi tidak menyumbang konten, tetap online tapi tidak memberi data, scrolling tapi tidak feeding algoritma, eksis tanpa eksibisi. Memang suatu  perlawanan kecil, micro-resistance, namun dalam teori kekuasaan Foucault, yang semacam ini justru paling efektif.  Jika kapitalisme digital ingin semua orang jadi pekerja konten gratis, Gen Z membalas dengan cara paling mengganggu yaitu mogokkerja di sistem ini.

Estetika Minimalis sebagai Status Baru

Zero post bukan sekadar feed kosong. Itu estetika baru.  Kalau dulu orang kaya pamer dengan mobil, sekarang orang “kaya secara mental” pamer dengan ketiadaan.  Kesannya adalah bersih, terkontrol, dan tidak murahan. Ini bukan nihilisme, tapi suatu brand identity, di mana ketiadaan menjadi tanda superioritas kultural baru. Generasi ini tidak butuh validasi visual, merka memegang kendali di atas permainan ini. Etnografi digital melihat ini sebagai cara Gen Z menciptakan prestige versi mereka sendiri, yang tidak bisa dijual oleh iklan dan tidak bisa diukur oleh likes.

Yang menarik adalah zero post tidak berarti mereka menolak komunikasi. Mereka hanya  memindahkan ekspresi ke ruang-ruang DM di antara Close Friends,  grup Discord, catatan HP,  TikTok yang sifatnya ephemeral, atau bahkan voice note jam 2 pagi.  Jauh dari kekhawatiran mereka ini adalah generasi  anti-sosial.  Mereka hanya mengurangi jangkauan publik untuk memperbesar ruang privat . Hartmut Rosa, filsuf Jerman,  menyebut ini sebagai resonanz,  suatu tempat di mana kehadiran terasa, bukan dipertontonkan. Di zaman bising, diam menjadi mode komunikasi yang paling radikal.

Fenomena yang Harus Dibaca Serius

Heidegger mengingatkan bahwa manusia modern kehilangan kemampuan tinggal dalam keheningan karena dunia teknologis selalu mendesak kita untuk tampil, bergerak, bekerja, dan menunjukkan sesuatu. Sementara zero post dan offline is luxury adalah cara Gen Z mengambil kembali ruang batin, ritme personal,  kendali atas eksistensi mereka, dan menentukan jarak dari tatapan publik. Tentu ini bukan anti-teknologi, tapi anti-ekstraksi. Mereka tidak menolak media sosial, hanya saja mereka menolak menjadi komoditasnya.

Ketika jutaan Gen Z berhenti posting, itu bukan sekedar gaya-gayaan. Itu tanda bahwa generasi ini sadar bahwa privasi adalah komoditas langka. Mereka sadar bahwa performa digital lama-lama jadi tekanan mental. Mereka juga mampu melihat bahwa representasi diri telah dikapitalisasi oleh algoritma yang menjadikan manusia jadi buruh konten tanpa bayaran, kecuali memang kalau kerjanya konten kreator.  

Perlawanan sunyi ini tentu saja bisa mengubah arsitektur sosial digital. Jika banyak orang kemudian berhenti memberi data, algoritma jelas kehilangan bahan bakar.  Mungkin nanti terbukti Teori Internet Mati, yaitu gagasan bahwa konten di internet makin lama makin didominasi oleh AI dan pemasaran, sementara pengguna manusia makin berkurang.

Zero post dan offline is luxury adalah deklarasi yang sederhana tapi mengguncang. Dan Gen Z, entah sengaja atau tidak, sedang mengajarkan bahwa kadang cara paling radikal untuk melawan teknologi yang satu ini adalah dengan  tidak melakukan apa-apa, diam, tapi menghantam. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: digitalGen Z
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara Perempuan di Festival Film Kemanusiaan (FFK) 2025

Next Post

ODGJ Jangan Sampai Lapar

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
ODGJ Jangan Sampai Lapar

ODGJ Jangan Sampai Lapar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co