2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Zero Post’, Pemberontakan Sunyi Gen Z

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
December 13, 2025
in Esai
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Petrus Imam Prawoto Jati

ERA saat ini, ketika setiap orang berlomba-lomba pamer kopi mahal, tumbler yang ketinggalan, sunset palsu, dan soft launching hubungan baru seperti foto dua gelas kopi  tapi salah satunya bukan punyanya, foto tangan cowok atau cewek yang cuma kelihatan jamnya, foto bayangan dua orang di tembok,  foto sepatu berdua, macam-macam lah.

Nah, ini Gen Z tiba-tiba muncul dengan feed Instagram kosong. Disebut oleh penulis esai Kyle Chayka di The New Yorker sebagai Zero Post. Kosong alias nihil.  Sementara itu, sempat pula muncul slogan baru, offline is the new luxury.Lah, bagaimana ini, di tengah dunia yang 24 jam online, kok offline malah dianggap sebagai suatu kemewahan?

Jadi fenomena ini rasa-rasanya persis seperti menonton konser metal tapi sound-nya di-mute,  tanpa suara. Sunyi, tapi kita tahu ada energi yang terasa. Ada perlawanan, yang meski tidak teriak, tapi hasilnya seperti tamparan halus ke wajah kapitalisme digital. Ya memang media sosial makin kemari makin kapitalisik dia. 

Dan menilik dari gejalanya,  fenomena ini bukan gejala random. Ini bukan sekadar anak muda Gen Z yang males posting, atau gaya-gayaan biar tampak estetik. Ini sebenarnya ada aroma pemberontakan filosofis yang kuat, bahkan jika mereka sendiri mungkin tidak menyadarinya.

Mogok Kerja dari Ekonomi Pamer

Media sosial sejak awal dibangun sebagai industri dengan satu logika sederhana,  semakin kita tampil, semakin banyak data yang bisa diekstraksi. Apapun yang ada di medsos adalah data, posting adalah data, caption juga data, senyum miring sambil sonkarak hate itu juga data, mampir tiga detik jadi data. Karena platform medsos apa pun, dia dihidupi dari representasi diri kita. Dari segala macam bentuk pamer kita. 

Bahkan Linkedin yang konon untuk dunia profesional juga polanya begitu.  Lalu Gen Z muncul dan  mereka bilang, capek. Memang mereka tetap pakai Instagram, tetap scroll, tetap DM-an, tapi feed kosong. Seperti pekerja pabrik yang masih datang ke lokasi tapi menolak menyalakan mesin.  Ini jelas bisa bikin pabrik rungkad ala Happy Asmara.  Bisa jadi ini adalah sebuah aksi kriminal dalam ekonomi atensi, tapi dilakukan secara diam-diam.

Baudrillard, sang filsuf simulakra, mungkin akan menyeringai melihat ini. Baginya, dunia modern sudah berubah menjadi banjir bandang visual yang menenggelamkan realitas. Para pembaca yang budiman pasti juga mulai merasa, orang kini hidup bukan lagi untuk mengalami, tapi untuk menampilkan. Di sini, zero post adalah cara Gen Z menolak tenggelam dalam banjir simulasi itu.
Tidak tampil berarti tidak ikut dalam permainan ilusi, yang memaksa manusia menjadi komoditas visual, karena tampil artinya data yang bisa dicuankan.

Pernah muncul slogan offline is the new luxury yang lahir dari kesadaran pahit di mana waktu tanpa notifikasi sekarang lebih langka daripada pejabat yang amanah.  Byung-Chul Han menyebut generasi ini hidup dalam “tiraninya keterbukaan” dan “ekonomi performativitas”.  Disebut tirani, karena keterbukaan bukan pilihan bebas. Ia jadi tuntutan sosial bahkan jadi syarat diterima dalam komunitas digital.

Jadi, kita dipaksa untuk terus hadir, tampil, update, harus menunjukkan produktivitas, pencapaian, dan kebahagiaan. Semua itu harus dilakukan di ruang publik digital,  kalau tidak, maka kita dianggap tidak eksis. Maka, ketika Gen Z bilang offline itu mewah, itu bukan candaan dan sok-sokan. Itu kritik. Itu suatu deklarasi bahwa ketenteraman batin sudah dirampas dan kini harus berani dibayar dengan tidak posting.

Secara filosofis, offline adalah tindakan penarikan diri, mirip konsep Gelassenheit dalam Heidegger, letting go,  sikap membiarkan dunia teknologis tetap ada, tapi tidak membiarkan diri dikuasai olehnya. Offline di sini bukan pelarian, tapi kontemplasi. Bukan hilang, tapi mengambil jarak.  Bumi langit pokonya sama pelari kalcer.

Zero post dan offline is the new luxury adalah dua bentuk resistensi yang berbeda , namun berasal dari sumber yang sama yaitu kelelahan eksistensial akibat komersialisasi kehidupan digital. Foucault berbicara soal panoptikon, suatu sistem pengawasan yang membuat orang selalu merasa ditonton.  Media sosial adalah panoptikon yang di-upgrade, panoptikon media sosial lebih jahat karena ia membuat kita menikmati pengawasan itu. Lebih jahat karena parahnya, kita tidak hanya terawasi, tapi kita ikut aktif menampilkan diri agar diawasi. Buntutnya setelah dituntut tampil, nanti akan dinilai, dilike, direkam,  kemudian dipasarkan.

Gen Z menolak. Bukan dengan demo, bukan dengan uninstall, tapi dengan cara lebih subtil, hadir tapi tidak menyumbang konten, tetap online tapi tidak memberi data, scrolling tapi tidak feeding algoritma, eksis tanpa eksibisi. Memang suatu  perlawanan kecil, micro-resistance, namun dalam teori kekuasaan Foucault, yang semacam ini justru paling efektif.  Jika kapitalisme digital ingin semua orang jadi pekerja konten gratis, Gen Z membalas dengan cara paling mengganggu yaitu mogokkerja di sistem ini.

Estetika Minimalis sebagai Status Baru

Zero post bukan sekadar feed kosong. Itu estetika baru.  Kalau dulu orang kaya pamer dengan mobil, sekarang orang “kaya secara mental” pamer dengan ketiadaan.  Kesannya adalah bersih, terkontrol, dan tidak murahan. Ini bukan nihilisme, tapi suatu brand identity, di mana ketiadaan menjadi tanda superioritas kultural baru. Generasi ini tidak butuh validasi visual, merka memegang kendali di atas permainan ini. Etnografi digital melihat ini sebagai cara Gen Z menciptakan prestige versi mereka sendiri, yang tidak bisa dijual oleh iklan dan tidak bisa diukur oleh likes.

Yang menarik adalah zero post tidak berarti mereka menolak komunikasi. Mereka hanya  memindahkan ekspresi ke ruang-ruang DM di antara Close Friends,  grup Discord, catatan HP,  TikTok yang sifatnya ephemeral, atau bahkan voice note jam 2 pagi.  Jauh dari kekhawatiran mereka ini adalah generasi  anti-sosial.  Mereka hanya mengurangi jangkauan publik untuk memperbesar ruang privat . Hartmut Rosa, filsuf Jerman,  menyebut ini sebagai resonanz,  suatu tempat di mana kehadiran terasa, bukan dipertontonkan. Di zaman bising, diam menjadi mode komunikasi yang paling radikal.

Fenomena yang Harus Dibaca Serius

Heidegger mengingatkan bahwa manusia modern kehilangan kemampuan tinggal dalam keheningan karena dunia teknologis selalu mendesak kita untuk tampil, bergerak, bekerja, dan menunjukkan sesuatu. Sementara zero post dan offline is luxury adalah cara Gen Z mengambil kembali ruang batin, ritme personal,  kendali atas eksistensi mereka, dan menentukan jarak dari tatapan publik. Tentu ini bukan anti-teknologi, tapi anti-ekstraksi. Mereka tidak menolak media sosial, hanya saja mereka menolak menjadi komoditasnya.

Ketika jutaan Gen Z berhenti posting, itu bukan sekedar gaya-gayaan. Itu tanda bahwa generasi ini sadar bahwa privasi adalah komoditas langka. Mereka sadar bahwa performa digital lama-lama jadi tekanan mental. Mereka juga mampu melihat bahwa representasi diri telah dikapitalisasi oleh algoritma yang menjadikan manusia jadi buruh konten tanpa bayaran, kecuali memang kalau kerjanya konten kreator.  

Perlawanan sunyi ini tentu saja bisa mengubah arsitektur sosial digital. Jika banyak orang kemudian berhenti memberi data, algoritma jelas kehilangan bahan bakar.  Mungkin nanti terbukti Teori Internet Mati, yaitu gagasan bahwa konten di internet makin lama makin didominasi oleh AI dan pemasaran, sementara pengguna manusia makin berkurang.

Zero post dan offline is luxury adalah deklarasi yang sederhana tapi mengguncang. Dan Gen Z, entah sengaja atau tidak, sedang mengajarkan bahwa kadang cara paling radikal untuk melawan teknologi yang satu ini adalah dengan  tidak melakukan apa-apa, diam, tapi menghantam. Tabik. [T]

Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole

Tags: digitalGen Z
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Suara Perempuan di Festival Film Kemanusiaan (FFK) 2025

Next Post

ODGJ Jangan Sampai Lapar

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
ODGJ Jangan Sampai Lapar

ODGJ Jangan Sampai Lapar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co