23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Transmigrasi Bali: Ulangi Sejarah, Abaikan Ekologi, Hilangkan Identitas

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
December 8, 2025
in Esai
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Teddy Chrisprimanata Putra

WACANA pemerintah untuk kembali mengaktifkan program transmigrasi, termasuk kemungkinan mengirim warga Bali ke luar pulau, kembali memunculkan perdebatan lama tentang bagaimana negara memandang penduduk, tanah, dan ruang hidup. Pernyataan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Reforma Agraria di Bali bahwa pemerintah akan membuka jutaan hektare lahan pertanian baru dan meminta warga Bali untuk “disiapkan mengikuti transmigrasi” menghadirkan gema yang kuat dari masa lalu. Namun kali ini, wacana lama dilahirkan kembali justru di tengah krisis ekologis yang semakin dalam serta dinamika identitas yang kian rapuh digilas zaman.

Menengok Sejenak ke Belakang

Transmigrasi bukanlah sebuah kebijakan yang netral, ini adalah produk sejarah panjang negara yang berupaya untuk mengatur ruang dan penduduk. Akar program ini dapat ditarik sejak era kolonial melalui program kolonisatie—ketika pemerintah Hindia Belanda memindahkan penduduk dari Jawa ke Sumatra untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja perkebunan. Kemudian, di masa Orde Baru, transmigrasi mengalami perluasan yang begitu masif. Di antara 1979-1984, lebih dari dua juta orang dipindahkan dari Jawa, Bali, dan Madura ke luar pulau dengan dukungan Bank Dunia dan lembaga internasional lainnya. Tujuan resmi program tersebut adalah mengurangi “kepadatan” Jawa-Bali, membuka lahan baru, dan mengentaskan kemiskinan.

Namun sejumlah studi menunjukkan bahwa transmigrasi Orde Baru memiliki tujuan politik yang tidak kalah signifikan: integrasi nasional, kontrol teritorial, dan ekspansi sumber daya. Penelitian Christoper Duncan (2007) maupun Tania Li (2014) menunjukkan bagaimana transmigrasi berperan memperkuat dominasi negara di wilayah-wilayah yang dianggap “rawan” atau jatuh dari pusat kekuasaan. Program ini berdampak besar terhadap masyarakat adat di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, yang tanah adatnya dipetakan sebagai “lahan kosong” guna pemukiman baru.

Evaluasi Bank Dunia sendiri pada akhir 1990-an menyimpulkan bahwa hasil program ini jauh dari ekspektasi—banyak kawasan gagal secara agronomis, terjadi kerawanan pangan, konflik etnis, dan kerusakan lingkungan yang parah. Pada akhirnya, transmigrasi bukan hanya sekadar kebijakan, tetapi menjadi sebuah instrumen rekayasa sosial teritorial yang meninggalkan jejak panjang ketidakadilan ekologis dan identitas.

Upaya memindahkan penduduk Bali dan membuka jutaan hektare lahan baru—beresonansi kuat dengan logika Orde Baru tersebut. Meski konteks politik telah berubah, pola pikirnya masih sama—pusat dianggap padat, pinggiran dianggap kosong. Penduduk dipandang sebagai variabel yang bisa dipindahkan, dan ruang ekologis di luar Jawa-Bali dilihat sebagai aspek terdepan untuk ekspansi negara.

Lampaui Daya Dukung Lingkungan

Wacana transmigrasi hari ini muncul di momen ketika Indonesia mengalami krisis ekologis yang paling berat dalam dua dekade terakhir. Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat di penghujung bulan November lalu, kemudian disusul di pelbagai daerah lain di Jawa, seperti Jawa Barat dan Jawa Timur menjelma sebagai peringatan keras bahwa manusia telah melebihi daya dukung lingkungan (carrying capacity). Para ahli hidrologi dari UGM dan organisasi lingkungan, seperti WALHI menegaskan bahwa bencana ini bukan sekadar bencana alam—ini adalah bencana ekologis yang diakibatkan oleh deforestasi, konversi hutan menjadi sawit dan tambang, serta tata kelola lahan yang buruk.

Dalam kerangka analisis survivalisme, seperti yang dikembangkan Meadows et al., dalam The Limits to Growth (1972)—ketika suatu sistem ekologis memasuki fase overshoot, ia kehilangan kapasitas untuk menyerap guncangan. Ketika tekanan terus bertambah, sistem tersebut dapat jatuh ke fase collapse. Banjir bandang Sumatra adalah contoh nyata dari hasil analisis ini—kawasan hulu yang rusak tidak lagi mampu menahan air, sehingga hujan ekstrem terkonversi menjadi bencana ekologis.

Dalam konteks ini, wacana membuka 3 juta hektare lahan baru untuk program transmigrasi dan ketahanan pangan menjadi kontradiktif. Konsep “membuka lahan baru” berpotensi mengulang pola deforestasi yang justru sedang menjadi penyebab utama bencana. Dengan kata lain, wacana transmigrasi hari ini beroperasi dalam logika ecological externalization—menyelamatkan atau “mengurangi tekanan” di satu wilayah dengan memindahkan beban ekologis ke wilayah lain. Risiko ekologis tidak akan hilang, hal ini hanya sekadar memindahkan risiko dari satu tempat ke tempat lainnya.

Di samping itu, narasi “Bali sudah padat” yang ditegaskan oleh Koster selaku Gubernur Bali tidak memotret akar masalah sesungguhnya. Kepadatan ekstrem memang terjadi di Bali selatan, tetapi tekanan lingkungan Bali justru berasal dari fenomena pariwisata massal, alih fungsi sawah menjadi infrastruktur pariwisata, dan krisis air yang semakin akut dirasakan warga. Dengan demikian, memindahkan penduduk menjadi solusi yang salah sasaran—bukan jumlah penduduk yang menjadi penyebab utama kerusakan ekologis, tetapi model ekonomi dan tata ruang yang eksploitatif.

Kerentanan Adat dan Budaya Bali

Dimensi lain yang seringkali terabaikan dari program transmigrasi adalah identitas. Dalam konteks hari ini, Bali bukanlah sekadar wilayah administratif belaka, melainkan sebuah ruang kultural dengan struktur sosial khas berbasis desa adat, banjar, pura, sistem subak, dan lainnya. Identitas manusia Bali tidak dapat dipisahkan dari keterikatan pada tanah leluhur dan ritus komunal yang bersifat teritori. Di saat pemerintah menyebut warga Bali sebagai kelompok yang siap mengikuti program transmigrasi, maka identitas diposisikan seolah dapat dipindahkan begitu saja dari ruang sosial budaya yang memberinya makna.

Program transmigrasi bukanlah sekadar mobilisasi penduduk, tetapi membuka potensi bagi mobilitas identitas, bahkan pemutusan dari akar budaya. Dan kelompok yang paling mungkin menjadi target transmigrasi adalah petani kecil dan warga kelas bawah—kelompok yang paling terikat pada struktur adat, tetapi di waktu bersamaan, kelompok inilah yang paling rentan terdorong keluar akibat tekanan ekonomi dan pariwisata. Sedangkan kelompok elite dan investor yang menyebabkan degradasi lingkungan justru tetap tinggal dan menikmati keuntungan. Ironis bukan?

Di sisi lain, daerah tujuan transmigrasi sejatinya bukanlah ruang kosong. Ia adalah wilayah dengan identitas dan masyarakat adat yang rentan mengalami marginalisasi ketika penduduk baru dalam jumlah yang besar. Studi-studi tentang konflik komunal di Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi menunjukkan bahwa transmigrasi dapat menggeser keseimbangan identitas lokal dan menciptakan gesekan sosial jangka panjang. Pada akhirnya, program transmigrasi memproduksi ketidakadilan identitas ganda: menggerus identitas komunitas yang pergi, sekaligus mengancam identitas komunitas yang menerima.

Pentingnya Belajar dari Masa Lalu

Transmigrasi adalah upaya mereproduksi cara berpikir lama dalam konteks yang sudah berubah drastis. Dalam dunia yang sedang menghadapi krisis iklim, deforestasi akut, dan bencana ekologis yang berulang, kebijakan memperluas alih fungsi lahan dan memindahkan penduduk adalah langkah mundur. Terlebih lagi, di saat identitas lokal, seperti Bali sangat bergantung pada keterikatan ruang, transmigrasi justru membuka risiko kerentanan budaya dan ketidakadilan sosial. Alih-alih memindahkan warga ke luar Bali, hal penting yang dapat dilakukan di antaranya: mengendalikan pariwisata, mereformasi tata ruang, serta memperkuat perlindungan subak dan tanah adat harus menjadi prioritas pemerintah hari ini. Negara perlu bergerak menjadi dari logika eksploitatif masa lalu dan menuju kebijakan yang berpijak pada keadilan ekologis, sosial, dan kultural. [T]

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliorang balitransmigrasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menonton Kembali Persatu Tuban dengan Sedikit Kesinisan

Next Post

Tari Kirana Rasmi pada Pameran Seni Rupa dan Desain Nasional Waskita Rupa di Sangkring Art Space Yogyakarta: Warma Bhuwana Wangsa

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Tari Kirana Rasmi pada Pameran Seni Rupa dan Desain Nasional Waskita Rupa di Sangkring Art Space Yogyakarta: Warma Bhuwana Wangsa

Tari Kirana Rasmi pada Pameran Seni Rupa dan Desain Nasional Waskita Rupa di Sangkring Art Space Yogyakarta: Warma Bhuwana Wangsa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co