DENGAN sebagai bangsa yang sangat religius sekaligus sebagai salah satu bangsa terkorup di dunia, maka tak berlebih jika Indonesia disebut sebagai banga munafik. Menurut budayawan Mochtar Lubis, dalam pidato kebudayaan tahun 1977 di Taman Ismail Marzuki yang telah dibukukan berjudul Manusia Indonesia, ciri-ciri manusia Indonesia adalah munafik, enggan bertanggung jawab, feodal, percaya takhayul, berjiwa artistik dan berwatak lemah.
Munafik atau hipokrit menggambarkan sifat berpura-pura, lain di muka, lain di belakang, merupakan ciri utama manusia Indonesia sudah sejak lama. Sifat ini, menurut analisa Mochtar Lubis berakar dari sistem feodal di masa lampau yang menekan kehendak atau perkataan yang sebenarnya ingin diungkapkan oleh manusia Indonesia. Ketakutan untuk berterus terang menjadi sumber dari sifat kemunafikan.
Sebuah survei yang dilakukan Pew Research Center, ‘The Global God Divide’, menunjukkan Indonesia menempati posisi tertinggi sebagai negara paling religius dan paling taat beribadah. Persentase RI dalam memprioritaskan agama mencapai 98 persen. Survei yang dipublikasikan pada 9 Agustus 2024 itu melibatkan 102 negara selama kurun waktu 2008-2023. Peneliti Senior Pew Research Center Jonathan Evans mengatakan pertanyaan dalam survei seputar tingkat pentingnya agama dan intensitas beribadah. Banyaknya tempat ibadah di seluruh penjuru wilayah, hingga hari keagamaan yang ramai dirayakan dan menjadi hari libur nasional membuktikan bahwa unsur agama dalam kehidupan bermasyarakat di Tanah Air sangat penting.
Bangsa-bangsa dengan tingkat religiusitas tinggi dan ibadah yang kuat juga ditemukan di negara-negara Asia dan Afrika seperti Somalia, Nigeria, Bangladesh, Ethiopia, Yaman, Malawi, dan lain-lain. Sebaliknya, orang-orang di hampir semua negara Eropa yang disurvei termasuk yang paling kecil kemungkinannya untuk mengatakan bahwa agama sangat penting dalam hidup mereka. Di Estonia, Republik Ceko, Denmark, Swiss, Inggris, Swedia, Latvia, dan Finlandia, hanya 10 persen atau kurang dari orang dewasa yang mengatakan demikian.
Namun terdapat kondisi paradoksal, saat jaringan global antikorupsi, Transparency International merilis Indeks Persepsi Korupsi (IPK) di 180 negara di dunia. Berdasarkan data tersebut, Indonesia berada di urutan ke-115 dari 180 negara dengan IPK 34. Survei tersebut memberikan peringkat kepada 180 negara di seluruh dunia berdasarkan persepsi tingkat korupsi di sektor publik. Skala penilaian persepsi yang digunakan mulai dari 0, yang berarti negara sangat korup, hingga 100 atau sangat bersih. Dalam daftar 180 negara yang disurvei, sekitar 66 persen di antaranya mendapatkan skor di bawah 50 dari 100.
Lihatlah situasi bangsa terkini. Saat korban bencana banjir bandang di belahan pulau Sumatera telah memakan begitu banyak korban, nyawa dan harta benda, nyaris semua pemimpin Negara mengatakan yang sebaliknya. “It’s not a big deal, dan situasi sudah membaik.” Alih-alih mundur dari jabatannya, karena alasan logis dan kasat mata, tak cakap bekerja, eh, ini nestapa Sumatera masih sempat dikhianati menjadi panggung politik bahkan kampanye.
Gemerlap ibadah sepertinya telah menjauhkan manusia Indonesia dari esensi agama. Lambat laun, walau sering didiskreditkan, tradisi berhala rasanya jauh lebih mulia. Entah itu dalam makna filosofisnya, bahkan dalam perspektif harfiahnya. Sebatang pohon yang dililiti kain oleh masyarakat Bali, adalah sebuah metafora. Ungkapan rasa hormat akan energi kehidupan yang bersemayam pada batangnya yang menjulang kokoh, dedaunannya yang melambai, akarnya yang menggenggam air dan seluruh keutuhannya yang menghidupi manusia dan fauna.
Entitas yang cuma diam, hening, bahkan hingga ratusan tahun menyaksikan kegilaan setiap rezim yang kian serakah. Secara harfiah, kain suci yang dililitkan pada sebatang pohon, senantiasa akan menjaganya dari tajamnya kapak atau gergaji mesin. Mestinya semakin banyak pohon dililiti kain, lalu dipuja layaknya sebagai tempat ibadah, karena pepohonan di alam liarlah sumber kehidupan yang sejatinya. Sungguh praktek berhala yang sangat indah. Hutan yang ditebang hanya untuk membuat ladang sebagai sumber kehidupan oleh masyarakat pedalaman, takkan pernah mendatangkan banjir bandang.
Batu-batu besar yang dipuja dengan sesajen serta berbagai sesembahan adalah renungan sejarah. Secara ilmiah, dalam kajian-kajian geologis, para ilmuwan dapat mengungkap berbagai misteri sejarah pada setiap zaman. Pun secara harfiah, tak sedikit manuskrip yang dituliskan di atas batu atau prasasti yang kelak ratusan bahkan ribuan tahun kemudian tetap lestari tak lekang oleh iklim dan waktu. Sejarah adalah pengalaman dan pengalaman tentu saja guru-guru kehidupan. Batu-batu itu telah mengajarkannya kepada manusia. Maka batu, pepohonan, air, dan apa pun yang disajikan oleh alam, adalah agama dan tempat ibadah terbaik. Meskipun disebut berhala. [T]
Penulis: Putu Arya Nugraha
Editor: Adnyana Ole


























