23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Bencana Menampar Kita: Antara Ketulusan, Panggung, dan Kewajiban Menjaga Negeri

Dewa Rhadea by Dewa Rhadea
December 4, 2025
in Esai
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Dewa Rhadea

BENCANA yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat selama beberapa pekan terakhir tidak hanya menyapu rumah dan jembatan. Ia menyapu kewarasan kita sebagai bangsa. Di balik gelombang lumpur dan derasnya arus air, tampak pula arus lain yang tak kalah deras: arus pencitraan, arus kompetisi visual, dan arus lenyapnya sensitivitas pada kemanusiaan.

Di satu sisi, kita melihat para relawan yang bekerja nyaris tanpa tidur, memanggul logistik, menembus medan berat, berlari menuju tempat yang orang lain hindari. Namun di sisi lain, kita juga menyaksikan pejabat turun dari helikopter bak pemain film laga; logistik yang dilempar dari udara seperti barang tak bernilai; hingga bantuan DPR yang kabarnya harus didokumentasikan terlebih dahulu sebelum diizinkan berangkat. Seolah penderitaan rakyat tak ubahnya properti dalam panggung besar bernama “citra politik.”

Di tengah segala hiruk-pikuk itu, seorang Bupati Aceh Utara menangis sambil membuat surat pernyataan ketidakmampuannya membantu warganya. Air mata itu memecah perhatian publik. Ada yang iba, ada yang sinis, ada yang bertanya-tanya: ketika pemimpin ikut runtuh, kepada siapa rakyat bersandar?

Kita tentu memahami beban seorang kepala daerah ketika bencana datang sebesar ini. Namun pemimpin, dalam segala keterbatasannya, tetap diharapkan menjadi rumah bagi ketenangan. Bukan berarti tak boleh menangis—pemimpin juga manusia. Tapi setelah air mata, harus tetap ada arah. Setelah tangis, harus tetap ada keputusan. Karena rakyat tidak hanya membutuhkan empati; mereka membutuhkan pegangan.

Bencana yang Bernama Kelalaian

Kita kerap menyebut hujan ekstrem sebagai penyebab banjir. Padahal, hujan hanya membeberkan dosa-dosa lama yang tak kita akui: pembalakan liar, penggundulan hutan, alih fungsi lahan semena-mena, hilangnya daerah resapan, sungai yang disempitkan, dan habitat gajah yang makin mengecil sampai satwa itu kehilangan arah.

Ketika alam kehilangan keseimbangannya, bencana bukan lagi takdir semata. Ia adalah konsekuensi. Ia adalah akumulasi dari ratusan keputusan buruk yang diambil sedikit demi sedikit, dari korupsi yang dianggap biasa, dari izin-izin yang diteken tanpa hati, dari pembiaran yang berlangsung bertahun-tahun.

Maka lirik Ebiet G. Ade kembali terasa seperti teguran langsung:

“Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga akan dosa-dosa…”

Tuhan mungkin tak bosan. Tapi alam tampaknya sudah muak.

Pelajaran yang Terus Kita Abaikan

Dari seluruh tragedi Sumatra dan Aceh, ada tiga pelajaran besar yang seharusnya menjadi kompas moral negeri ini:

  • Bantuan yang Ikhlas Tak Membutuhkan Panggung

    Dokumentasi memang perlu, tetapi bukan segala-galanya. Kita butuh sistem distribusi yang rapi, bukan konten heroik. Kita butuh empati yang murni, bukan gimmick politik.

    • Kepemimpinan Bukan Penampilan, Tetapi Keberanian

    Pemimpin boleh menangis, tetapi setelah itu ia harus bangkit lebih dulu daripada warganya.
    Negeri ini terlalu sering dipimpin oleh mereka yang pandai berpidato, namun gagap ketika harus mengambil keputusan di lapangan.

    • Mitigasi Bencana Dimulai dari Mitigasi Keserakahan

    Selama pohon terus tumbang demi keuntungan segelintir orang, selama sungai diperlakukan seperti saluran pembuangan, selama tata ruang hanya menjadi dokumen yang dilanggar, kita akan terus berada di siklus bencana yang sama.

    Dan Bali pun Harus Bercermin

    Bencana Sumatra dan Aceh adalah peringatan dini bagi daerah-daerah lain, termasuk Bali. Kita sering merasa aman karena tak melihat banjir setinggi dada atau longsor sebesar bukit. Padahal tanda-tandanya sudah banyak: alih fungsi lahan yang tak terkendali, vila-vila yang menekan kawasan hulu, hutan-hutan pegunungan yang mulai terang benderang dari citra satelit, dan sungai-sungai yang kian kehilangan ruang hidupnya.

    Bali tak kebal bencana.

    Ia hanya belum dipukul sekeras itu.

    Bencana Sumatra dan Aceh bukan tontonan; ia adalah cermin. Jika pulau kecil ini ingin tetap aman dan suci, maka langkah-langkah mitigasi harus dimulai sekarang:

    • pembatasan tegas alih fungsi lahan;
    • audit ketat lingkungan hidup;
    • pelibatan desa adat dalam pengawasan kawasan rawan;
    • restorasi daerah resapan di wilayah hulu; dan
    • kepemimpinan yang tidak ragu mengatakan “cukup” pada eksploitasi.

    Bali tidak boleh menunggu sampai air bah datang, sampai turis berlarian mencari tempat aman, sampai pulau ini hanya menjadi breaking news dan ucapan duka dari seluruh dunia.

    Ketika dunia menikmati keindahannya, ketika negara menjadikannya etalase pariwisata, siapakah yang sesungguhnya bertanggung jawab menjaga kesucian dan keamanannya? Jika bukan orang Bali sendiri yang mengambil alih kendali, lalu siapa? Jadi,
     langkah-langkah mitigasi di atas yang harus ditekankan untuk diupayakan optimal bukan justru transmigrasi.

    Penutup: Kita Harus Menjadi Lebih Baik dari Hari Ini

    Bencana selalu menyisakan luka. Tetapi ia juga membawa pesan: bahwa bangsa ini masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Dalam kesedihan Aceh dan Sumatra, kita melihat kehancuran; namun di sisi lain, kita melihat harapan — harapan bahwa negeri ini akhirnya mau belajar.

    Yang kita butuhkan sekarang bukan lagi pertunjukan empati, tetapi gerakan kolektif.
    Bukan air mata di depan kamera, tetapi kerja nyata di lapangan.

    Bukan slogan, tetapi kebijakan.

    Bukan pencitraan, tetapi ketulusan.

    Karena ketika bencana datang lagi—andai kita tak berubah—kita tidak bisa lagi berkata “ini musibah alam.” Kita harus berani mengakui: ini hasil ulah kita. [T]

    Penulis: Dewa Rhadea
    Editor: Adnyana Ole

    Tags: bencana alamnegara
    ShareTweetSendShareSend
    Previous Post

    Merenungi Ulun Danu: Catatan dari Danau Beratan

    Next Post

    Koperasi Sebagai Inkubator Ekonomi Digital Desa

    Dewa Rhadea

    Dewa Rhadea

    Penulis tinggal di Singaraja

    Related Posts

    Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

    by I Ketut Suar Adnyana
    October 22, 2026
    0
    Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

    IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

    Read moreDetails

    Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

    by Tri Nugroho Adi
    October 22, 2026
    0
    Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

    Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

    Read moreDetails

    Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

    by I Wayan Artika
    October 21, 2026
    0
    Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

    ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

    Read moreDetails

    Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

    by Chusmeru
    October 21, 2026
    0
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

    DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

    Read moreDetails

    Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

    by Angga Wijaya
    October 20, 2026
    0
    Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

    SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

    Read moreDetails

    Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

    by Luh Putu Anggreny
    October 20, 2026
    0
    Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

    BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

    Read moreDetails

    Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

    by Wayan Gde Yudane
    October 19, 2026
    0
    Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

    Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

    Read moreDetails

    Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

    by AA Ayu Arun Suwi Arianty
    October 19, 2026
    0
    Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

    PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

    Read moreDetails

    Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

    by I Wayan Yudana
    October 19, 2026
    0
    Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

    ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

    Read moreDetails

    Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

    by Angga Wijaya
    October 19, 2026
    0
    Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

    SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

    Read moreDetails
    Next Post
    Koperasi Sebagai Inkubator Ekonomi Digital Desa

    Koperasi Sebagai Inkubator Ekonomi Digital Desa

    Please login to join discussion

    Ads

    POPULER

    • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

      22 shares
      Share 22 Tweet 0
    • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

      0 shares
      Share 0 Tweet 0
    • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

      0 shares
      Share 0 Tweet 0

    ARTIKEL TERKINI

    Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
    Panggung

    Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

    GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

    by Dede Putra Wiguna
    October 22, 2026
    Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
    Esai

    Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

    IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

    by I Ketut Suar Adnyana
    October 22, 2026
    Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
    Esai

    Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

    Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

    by Tri Nugroho Adi
    October 22, 2026
    Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
    Panggung

    Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

    DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

    by Nyoman Budarsana
    October 22, 2026
    Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
    Esai

    Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

    ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

    by I Wayan Artika
    October 21, 2026
    Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
    Opini

    Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

    SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

    by I Made Pria Dharsana
    October 21, 2026
    Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
    Pendidikan

    Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

    ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

    by Nyoman Budarsana
    October 21, 2026
    Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
    Pariwisata

    Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

    DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

    by Nyoman Budarsana
    October 21, 2026
    Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
    Ulas Buku

    Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

    SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

    by Hartanto
    October 21, 2026
    Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
    Esai

    Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

    DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

    by Chusmeru
    October 21, 2026
    Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
    Esai

    Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

    SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

    by Angga Wijaya
    October 20, 2026
    Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
    Esai

    Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

    BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

    by Luh Putu Anggreny
    October 20, 2026

    TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

    • Penulis
    • Tentang & Redaksi
    • Kirim Naskah
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Desclaimer

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In
    No Result
    View All Result
    • Beranda
    • Feature
      • Khas
      • Tualang
      • Persona
      • Historia
      • Milenial
      • Kuliner
      • Pop
      • Gaya
      • Pameran
      • Panggung
    • Berita
      • Ekonomi
      • Pariwisata
      • Pemerintahan
      • Budaya
      • Hiburan
      • Politik
      • Hukum
      • Kesehatan
      • Olahraga
      • Pendidikan
      • Pertanian
      • Lingkungan
      • Liputan Khusus
    • Kritik & Opini
      • Esai
      • Opini
      • Ulas Buku
      • Ulas Film
      • Ulas Rupa
      • Ulas Pentas
      • Kritik Sastra
      • Kritik Seni
      • Bahasa
      • Ulas Musik
    • Fiksi
      • Cerpen
      • Puisi
      • Dongeng
    • English Column
      • Essay
      • Fiction
      • Poetry
      • Features
    • Penulis
    • Buku
      • Buku Mahima
      • Buku Tatkala

    Copyright © 2016-2025, tatkala.co