22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Bali Kurang Bersyukur?

Angga Wijaya by Angga Wijaya
November 29, 2025
in Esai
Orang Bali Kurang Bersyukur?

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

BILA kita berjalan santai di Denpasar, Ubud, Canggu, Sanur, atau kawasan lain di Bali, pemandangan sehari-hari menunjukkan bahwa banyak orang Bali kini hidup dalam kondisi yang relatif nyaman. Motor dan mobil dari yang sederhana sampai yang tergolong mewah berjejer di depan rumah. Satu keluarga bisa memiliki lebih dari satu kendaraan. Bisnis lokal juga berkembang dengan pesat. Warung, kafe, homestay, villa, dan layanan sewa tumbuh hampir di setiap sudut.

Kenyataan ini sejalan dengan kondisi ekonomi Bali yang sejak lama ditopang oleh sektor pariwisata. Dalam laporan terkini, sektor akomodasi serta makan dan minum disebut sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi di Bali. Pertumbuhan itu berdampak langsung pada meningkatnya kesempatan kerja dan naiknya pendapatan rumah tangga, sehingga barang konsumsi menjadi lebih mudah dijangkau dibandingkan masa lalu.

Tetapi ada sesuatu yang menggelitik di balik kemakmuran itu. Dalam percakapan sehari-hari, bila seseorang menanyakan kabar dengan pertanyaan Kengken kabar? (Apa kabar?) sering terdengar jawaban Amonean gen (Segini-segini saja).Jawaban itu terasa normatif, sopan, dan lumrah, namun terasa sekaligus mengandung nada kosong.

Ada perasaan seolah orang yang mengucapkannya menahan diri untuk tidak menyatakan bahwa hidupnya baik baik saja, meski ia sebenarnya hidup dalam kondisi yang cukup. Saya sering bertanya-tanya apakah jawaban itu mencerminkan kebiasaan budaya yang merendah atau justru menandakan bahwa rasa syukur tidak benar-benar dirasakan dalam keseharian.

Pertanyaan kecil ini membawa saya pada kegelisahan yang lebih luas. Pariwisata yang berkembang cepat telah mengubah struktur sosial dan budaya Bali. Penelitian sosial terbaru menggambarkan bahwa pariwisata memberi keuntungan ekonomi, tetapi menggeser makna budaya sekaligus memunculkan pola pikir dan gaya hidup baru. Transformasi itu tidak selalu memberikan ruang bagi nilai batin, sehingga solidaritas dan rasa cukup perlahan tergeser oleh ambisi dan kebutuhan untuk tampil lebih baik daripada orang lain.

Sejumlah studi tentang budaya dan pariwisata di Bali menunjukkan hal yang serupa. Dalam satu kajian disebutkan bahwa pariwisata membuka peluang ekonomi, namun sekaligus membuat budaya Bali rentan menjadi komoditas. Upacara, kesenian, dan adat istiadat yang sebelumnya mengandung kedalaman spiritual kini sering disesuaikan agar sesuai dengan kebutuhan pasar. Ketika budaya menjadi pertunjukan, sebagian nilai yang lebih halus dalam kehidupan masyarakat rentan terkikis, dan pelaku budaya sendiri perlahan terbiasa menampilkan identitas mereka demi kepentingan wisata.

Penelitian lain di Sanur menggambarkan gambaran yang sangat jelas tentang perubahan itu. Masyarakat di kawasan wisata merasakan peningkatan pendapatan, kesempatan kerja, dan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Namun perubahan itu dibarengi dengan penyesuaian gaya hidup yang lebih konsumtif. Tradisi lokal menyesuaikan diri dengan keinginan pasar. Ruang hidup yang dulu harmonis perlahan berubah menjadi ruang yang sibuk memenuhi harapan wisatawan. Warga Canggu juga merasakan hal serupa. Meski pendapatan naik, banyak warga lokal merasa kualitas hidup batin mereka menurun. Tradisi, kedekatan sosial, dan rasa kebersamaan tidak lagi menjadi pusat kehidupan sehari-hari.

Ada juga kajian yang memperingatkan bahwa transformasi budaya yang mendalam sedang terjadi. Jika dahulu budaya Bali bertumpu pada kesadaran spiritual dan kebersamaan komunitas, kini budaya itu semakin mudah digeser menjadi sekadar penampilan luar. Ritual dan adat yang semula dijalani dengan khidmat, kini menyesuaikan diri dengan tuntutan hiburan. Bila hal ini dibiarkan berlarut-larut, identitas masyarakat bisa menjadi semakin dangkal.

Di tengah semua perubahan itu, saya sering melihat fenomena yang mengganggu hati. Banyak orang Bali terlihat hidup berkecukupan, tetapi wajah mereka kadang memancarkan kekosongan. Di jalan raya, saya melihat tatapan yang letih meskipun mereka sedang mengendarai kendaraan baru. Di toko modern, saya menyaksikan sepeda motor mahal yang diparkir dengan kunci masih menyantol. Kadang saya berpikir, apakah ini tanda bahwa kemakmuran dianggap hal biasa saja sehingga tidak lagi menumbuhkan rasa terima kasih terhadap hidup dan kerja keras yang telah dijalani untuk mencapainya?

Budaya saling kaden yang berarti kebiasaan membandingkan diri dengan sesama orang Bali juga memperkeruh keadaan. Orang Bali sering dikenal sangat ramah kepada orang dari luar pulau atau luar negeri, tetapi terhadap sesama orang Bali kadang justru bersikap lebih kritis dan penuh rasa saing. Solidaritas terasa goyah, dan ini sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa menghitung dengan jari jumlah orang kaya di Bali yang dengan serius mendirikan yayasan sosial atau menjadi donatur tetap sebuah panti asuhan atau panti jompo. Padahal tidak perlu menunggu kaya untuk membantu orang lain. Logikanya sederhana. Jika saat belum kaya saja tidak tergerak membantu sesama, bagaimana nanti jika rezeki semakin besar.

Ketika kita membaca laporan ekonomi, pendapatan per kapita Bali menunjukkan peningkatan selama beberapa tahun terakhir. Artinya banyak warga yang secara materi mengalami kemajuan. Namun kenaikan itu tidak selalu sejalan dengan peningkatan rasa syukur dan kualitas relasi sosial. Banyak keluarga yang semakin mapan secara ekonomi justru terjebak dalam perlombaan status. Rumah bagus, kendaraan baru, perabot modern, dan liburan ke tempat populer menjadi tolok ukur keberhasilan. Tetapi dalam waktu yang sama, rasa cukup menjadi kabur maknanya.

Dalam suasana seperti ini, jawaban Amonean gen jadi seperti cermin kecil dari kegelisahan lebih luas. Jawaban itu bisa menjadi simbol bahwa kemakmuran materi tidak otomatis mengajarkan orang untuk merasa cukup. Orang menikmati barang, tetapi tidak menikmati hidup. Orang mendapatkan lebih banyak, tetapi tidak lebih bahagia.

Menurut saya, kita perlu kembali pada hal-hal sederhana. Rasa syukur bukan hanya soal ucapan ritual di pura, tetapi soal kesadaran bahwa hidup layak dinikmati apa adanya. Rasa syukur hadir ketika seseorang menyadari bahwa ia sudah cukup. Bila seseorang memiliki motor yang bekerja dengan baik, itu adalah sesuatu yang layak disyukuri. Bila ia memiliki pekerjaan yang membuatnya bisa makan dengan tenang, itu juga layak dirayakan. Dan bila ia bisa bangun pagi dengan tubuh sehat, seharusnya itu menjadi bagian dari rasa syukur yang halus namun sangat berarti.

Untuk menjaga itu semua, kita perlu melatih diri. Mulailah dengan menjawab pertanyaan kabar dengan jujur dan hangat. Bila hari baik, ucapkan bahwa hari itu baik. Bila sedang berat, akui tanpa kehilangan hormat pada diri sendiri. Kita juga bisa belajar melihat budaya bukan hanya sebagai pertunjukan untuk wisatawan, melainkan sebagai warisan hidup yang patut dipertahankan kedalamannya. Kemapanan materi seharusnya menjadi sarana untuk berbagi dan bukan alasan untuk menjauh dari sesama. Dan yang paling penting, kurangi kebiasaan membandingkan hidup dengan milik orang lain. Media sosial sering membuat kita merasa kurang, padahal kenyataan hidup jauh lebih lembut dari yang tampak di layar.

Pada akhirnya Bali bukan hanya tempat untuk menghasilkan uang atau membangun usaha. Bali adalah ruang hidup yang penuh nilai, spiritualitas, dan kebersamaan. Jika kita terlalu sibuk mengejar kemewahan, kita bisa lupa menjaga rumah batin kita sendiri. Bila kita tidak berhati-hati, kita akan menjadi orang-orang yang semakin kaya secara materi tetapi semakin miskin dalam rasa syukur. Saya berharap esai ini membuka percakapan kecil di antara kita, tentang bagaimana hidup sebagai orang Bali hari ini. Semoga kita bisa menjaga kemakmuran bukan hanya di luar, tetapi juga di dalam. Semoga pulau ini menjadi rumah yang tidak hanya makmur, tetapi juga penuh rasa, penuh syukur, dan penuh kemanusiaan Semoga kita selalu ingat akan kelimpahan yang ada di sekitar kita. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliorang baliPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berhala Terakhir | Cerpen Agung Sudarsa

Next Post

Eksistensi Kepemimpinan Adat Desa Bali Kuno di Bali Era Baru Ditinjau dari Sudut Pandang Tata Kelola Kolaboratif

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails

Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

by I Made Sudiana
October 19, 2026
0
Dialog di Atas Naskah dan Tradisi — Menjawab Catatan Kritis dari IGA Darma Putra

SEBUAH tulisan di ruang publik pada hakikatnya adalah undangan terbuka untuk berdiskusi. Melalui tanggapan kritis yang disampaikan oleh IGA Darma...

Read moreDetails

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

by Angga Wijaya
October 18, 2026
0
Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

Read moreDetails
Next Post
Eksistensi Kepemimpinan Adat Desa Bali Kuno di Bali Era Baru Ditinjau dari Sudut Pandang Tata Kelola Kolaboratif

Eksistensi Kepemimpinan Adat Desa Bali Kuno di Bali Era Baru Ditinjau dari Sudut Pandang Tata Kelola Kolaboratif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co