2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Bali Kurang Bersyukur?

Angga Wijaya by Angga Wijaya
November 29, 2025
in Esai
Orang Bali Kurang Bersyukur?

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

BILA kita berjalan santai di Denpasar, Ubud, Canggu, Sanur, atau kawasan lain di Bali, pemandangan sehari-hari menunjukkan bahwa banyak orang Bali kini hidup dalam kondisi yang relatif nyaman. Motor dan mobil dari yang sederhana sampai yang tergolong mewah berjejer di depan rumah. Satu keluarga bisa memiliki lebih dari satu kendaraan. Bisnis lokal juga berkembang dengan pesat. Warung, kafe, homestay, villa, dan layanan sewa tumbuh hampir di setiap sudut.

Kenyataan ini sejalan dengan kondisi ekonomi Bali yang sejak lama ditopang oleh sektor pariwisata. Dalam laporan terkini, sektor akomodasi serta makan dan minum disebut sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi di Bali. Pertumbuhan itu berdampak langsung pada meningkatnya kesempatan kerja dan naiknya pendapatan rumah tangga, sehingga barang konsumsi menjadi lebih mudah dijangkau dibandingkan masa lalu.

Tetapi ada sesuatu yang menggelitik di balik kemakmuran itu. Dalam percakapan sehari-hari, bila seseorang menanyakan kabar dengan pertanyaan Kengken kabar? (Apa kabar?) sering terdengar jawaban Amonean gen (Segini-segini saja).Jawaban itu terasa normatif, sopan, dan lumrah, namun terasa sekaligus mengandung nada kosong.

Ada perasaan seolah orang yang mengucapkannya menahan diri untuk tidak menyatakan bahwa hidupnya baik baik saja, meski ia sebenarnya hidup dalam kondisi yang cukup. Saya sering bertanya-tanya apakah jawaban itu mencerminkan kebiasaan budaya yang merendah atau justru menandakan bahwa rasa syukur tidak benar-benar dirasakan dalam keseharian.

Pertanyaan kecil ini membawa saya pada kegelisahan yang lebih luas. Pariwisata yang berkembang cepat telah mengubah struktur sosial dan budaya Bali. Penelitian sosial terbaru menggambarkan bahwa pariwisata memberi keuntungan ekonomi, tetapi menggeser makna budaya sekaligus memunculkan pola pikir dan gaya hidup baru. Transformasi itu tidak selalu memberikan ruang bagi nilai batin, sehingga solidaritas dan rasa cukup perlahan tergeser oleh ambisi dan kebutuhan untuk tampil lebih baik daripada orang lain.

Sejumlah studi tentang budaya dan pariwisata di Bali menunjukkan hal yang serupa. Dalam satu kajian disebutkan bahwa pariwisata membuka peluang ekonomi, namun sekaligus membuat budaya Bali rentan menjadi komoditas. Upacara, kesenian, dan adat istiadat yang sebelumnya mengandung kedalaman spiritual kini sering disesuaikan agar sesuai dengan kebutuhan pasar. Ketika budaya menjadi pertunjukan, sebagian nilai yang lebih halus dalam kehidupan masyarakat rentan terkikis, dan pelaku budaya sendiri perlahan terbiasa menampilkan identitas mereka demi kepentingan wisata.

Penelitian lain di Sanur menggambarkan gambaran yang sangat jelas tentang perubahan itu. Masyarakat di kawasan wisata merasakan peningkatan pendapatan, kesempatan kerja, dan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Namun perubahan itu dibarengi dengan penyesuaian gaya hidup yang lebih konsumtif. Tradisi lokal menyesuaikan diri dengan keinginan pasar. Ruang hidup yang dulu harmonis perlahan berubah menjadi ruang yang sibuk memenuhi harapan wisatawan. Warga Canggu juga merasakan hal serupa. Meski pendapatan naik, banyak warga lokal merasa kualitas hidup batin mereka menurun. Tradisi, kedekatan sosial, dan rasa kebersamaan tidak lagi menjadi pusat kehidupan sehari-hari.

Ada juga kajian yang memperingatkan bahwa transformasi budaya yang mendalam sedang terjadi. Jika dahulu budaya Bali bertumpu pada kesadaran spiritual dan kebersamaan komunitas, kini budaya itu semakin mudah digeser menjadi sekadar penampilan luar. Ritual dan adat yang semula dijalani dengan khidmat, kini menyesuaikan diri dengan tuntutan hiburan. Bila hal ini dibiarkan berlarut-larut, identitas masyarakat bisa menjadi semakin dangkal.

Di tengah semua perubahan itu, saya sering melihat fenomena yang mengganggu hati. Banyak orang Bali terlihat hidup berkecukupan, tetapi wajah mereka kadang memancarkan kekosongan. Di jalan raya, saya melihat tatapan yang letih meskipun mereka sedang mengendarai kendaraan baru. Di toko modern, saya menyaksikan sepeda motor mahal yang diparkir dengan kunci masih menyantol. Kadang saya berpikir, apakah ini tanda bahwa kemakmuran dianggap hal biasa saja sehingga tidak lagi menumbuhkan rasa terima kasih terhadap hidup dan kerja keras yang telah dijalani untuk mencapainya?

Budaya saling kaden yang berarti kebiasaan membandingkan diri dengan sesama orang Bali juga memperkeruh keadaan. Orang Bali sering dikenal sangat ramah kepada orang dari luar pulau atau luar negeri, tetapi terhadap sesama orang Bali kadang justru bersikap lebih kritis dan penuh rasa saing. Solidaritas terasa goyah, dan ini sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa menghitung dengan jari jumlah orang kaya di Bali yang dengan serius mendirikan yayasan sosial atau menjadi donatur tetap sebuah panti asuhan atau panti jompo. Padahal tidak perlu menunggu kaya untuk membantu orang lain. Logikanya sederhana. Jika saat belum kaya saja tidak tergerak membantu sesama, bagaimana nanti jika rezeki semakin besar.

Ketika kita membaca laporan ekonomi, pendapatan per kapita Bali menunjukkan peningkatan selama beberapa tahun terakhir. Artinya banyak warga yang secara materi mengalami kemajuan. Namun kenaikan itu tidak selalu sejalan dengan peningkatan rasa syukur dan kualitas relasi sosial. Banyak keluarga yang semakin mapan secara ekonomi justru terjebak dalam perlombaan status. Rumah bagus, kendaraan baru, perabot modern, dan liburan ke tempat populer menjadi tolok ukur keberhasilan. Tetapi dalam waktu yang sama, rasa cukup menjadi kabur maknanya.

Dalam suasana seperti ini, jawaban Amonean gen jadi seperti cermin kecil dari kegelisahan lebih luas. Jawaban itu bisa menjadi simbol bahwa kemakmuran materi tidak otomatis mengajarkan orang untuk merasa cukup. Orang menikmati barang, tetapi tidak menikmati hidup. Orang mendapatkan lebih banyak, tetapi tidak lebih bahagia.

Menurut saya, kita perlu kembali pada hal-hal sederhana. Rasa syukur bukan hanya soal ucapan ritual di pura, tetapi soal kesadaran bahwa hidup layak dinikmati apa adanya. Rasa syukur hadir ketika seseorang menyadari bahwa ia sudah cukup. Bila seseorang memiliki motor yang bekerja dengan baik, itu adalah sesuatu yang layak disyukuri. Bila ia memiliki pekerjaan yang membuatnya bisa makan dengan tenang, itu juga layak dirayakan. Dan bila ia bisa bangun pagi dengan tubuh sehat, seharusnya itu menjadi bagian dari rasa syukur yang halus namun sangat berarti.

Untuk menjaga itu semua, kita perlu melatih diri. Mulailah dengan menjawab pertanyaan kabar dengan jujur dan hangat. Bila hari baik, ucapkan bahwa hari itu baik. Bila sedang berat, akui tanpa kehilangan hormat pada diri sendiri. Kita juga bisa belajar melihat budaya bukan hanya sebagai pertunjukan untuk wisatawan, melainkan sebagai warisan hidup yang patut dipertahankan kedalamannya. Kemapanan materi seharusnya menjadi sarana untuk berbagi dan bukan alasan untuk menjauh dari sesama. Dan yang paling penting, kurangi kebiasaan membandingkan hidup dengan milik orang lain. Media sosial sering membuat kita merasa kurang, padahal kenyataan hidup jauh lebih lembut dari yang tampak di layar.

Pada akhirnya Bali bukan hanya tempat untuk menghasilkan uang atau membangun usaha. Bali adalah ruang hidup yang penuh nilai, spiritualitas, dan kebersamaan. Jika kita terlalu sibuk mengejar kemewahan, kita bisa lupa menjaga rumah batin kita sendiri. Bila kita tidak berhati-hati, kita akan menjadi orang-orang yang semakin kaya secara materi tetapi semakin miskin dalam rasa syukur. Saya berharap esai ini membuka percakapan kecil di antara kita, tentang bagaimana hidup sebagai orang Bali hari ini. Semoga kita bisa menjaga kemakmuran bukan hanya di luar, tetapi juga di dalam. Semoga pulau ini menjadi rumah yang tidak hanya makmur, tetapi juga penuh rasa, penuh syukur, dan penuh kemanusiaan Semoga kita selalu ingat akan kelimpahan yang ada di sekitar kita. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliorang baliPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berhala Terakhir | Cerpen Agung Sudarsa

Next Post

Eksistensi Kepemimpinan Adat Desa Bali Kuno di Bali Era Baru Ditinjau dari Sudut Pandang Tata Kelola Kolaboratif

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Eksistensi Kepemimpinan Adat Desa Bali Kuno di Bali Era Baru Ditinjau dari Sudut Pandang Tata Kelola Kolaboratif

Eksistensi Kepemimpinan Adat Desa Bali Kuno di Bali Era Baru Ditinjau dari Sudut Pandang Tata Kelola Kolaboratif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co