13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Orang Bali Kurang Bersyukur?

Angga Wijaya by Angga Wijaya
November 29, 2025
in Esai
Orang Bali Kurang Bersyukur?

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

BILA kita berjalan santai di Denpasar, Ubud, Canggu, Sanur, atau kawasan lain di Bali, pemandangan sehari-hari menunjukkan bahwa banyak orang Bali kini hidup dalam kondisi yang relatif nyaman. Motor dan mobil dari yang sederhana sampai yang tergolong mewah berjejer di depan rumah. Satu keluarga bisa memiliki lebih dari satu kendaraan. Bisnis lokal juga berkembang dengan pesat. Warung, kafe, homestay, villa, dan layanan sewa tumbuh hampir di setiap sudut.

Kenyataan ini sejalan dengan kondisi ekonomi Bali yang sejak lama ditopang oleh sektor pariwisata. Dalam laporan terkini, sektor akomodasi serta makan dan minum disebut sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi di Bali. Pertumbuhan itu berdampak langsung pada meningkatnya kesempatan kerja dan naiknya pendapatan rumah tangga, sehingga barang konsumsi menjadi lebih mudah dijangkau dibandingkan masa lalu.

Tetapi ada sesuatu yang menggelitik di balik kemakmuran itu. Dalam percakapan sehari-hari, bila seseorang menanyakan kabar dengan pertanyaan Kengken kabar? (Apa kabar?) sering terdengar jawaban Amonean gen (Segini-segini saja).Jawaban itu terasa normatif, sopan, dan lumrah, namun terasa sekaligus mengandung nada kosong.

Ada perasaan seolah orang yang mengucapkannya menahan diri untuk tidak menyatakan bahwa hidupnya baik baik saja, meski ia sebenarnya hidup dalam kondisi yang cukup. Saya sering bertanya-tanya apakah jawaban itu mencerminkan kebiasaan budaya yang merendah atau justru menandakan bahwa rasa syukur tidak benar-benar dirasakan dalam keseharian.

Pertanyaan kecil ini membawa saya pada kegelisahan yang lebih luas. Pariwisata yang berkembang cepat telah mengubah struktur sosial dan budaya Bali. Penelitian sosial terbaru menggambarkan bahwa pariwisata memberi keuntungan ekonomi, tetapi menggeser makna budaya sekaligus memunculkan pola pikir dan gaya hidup baru. Transformasi itu tidak selalu memberikan ruang bagi nilai batin, sehingga solidaritas dan rasa cukup perlahan tergeser oleh ambisi dan kebutuhan untuk tampil lebih baik daripada orang lain.

Sejumlah studi tentang budaya dan pariwisata di Bali menunjukkan hal yang serupa. Dalam satu kajian disebutkan bahwa pariwisata membuka peluang ekonomi, namun sekaligus membuat budaya Bali rentan menjadi komoditas. Upacara, kesenian, dan adat istiadat yang sebelumnya mengandung kedalaman spiritual kini sering disesuaikan agar sesuai dengan kebutuhan pasar. Ketika budaya menjadi pertunjukan, sebagian nilai yang lebih halus dalam kehidupan masyarakat rentan terkikis, dan pelaku budaya sendiri perlahan terbiasa menampilkan identitas mereka demi kepentingan wisata.

Penelitian lain di Sanur menggambarkan gambaran yang sangat jelas tentang perubahan itu. Masyarakat di kawasan wisata merasakan peningkatan pendapatan, kesempatan kerja, dan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidup. Namun perubahan itu dibarengi dengan penyesuaian gaya hidup yang lebih konsumtif. Tradisi lokal menyesuaikan diri dengan keinginan pasar. Ruang hidup yang dulu harmonis perlahan berubah menjadi ruang yang sibuk memenuhi harapan wisatawan. Warga Canggu juga merasakan hal serupa. Meski pendapatan naik, banyak warga lokal merasa kualitas hidup batin mereka menurun. Tradisi, kedekatan sosial, dan rasa kebersamaan tidak lagi menjadi pusat kehidupan sehari-hari.

Ada juga kajian yang memperingatkan bahwa transformasi budaya yang mendalam sedang terjadi. Jika dahulu budaya Bali bertumpu pada kesadaran spiritual dan kebersamaan komunitas, kini budaya itu semakin mudah digeser menjadi sekadar penampilan luar. Ritual dan adat yang semula dijalani dengan khidmat, kini menyesuaikan diri dengan tuntutan hiburan. Bila hal ini dibiarkan berlarut-larut, identitas masyarakat bisa menjadi semakin dangkal.

Di tengah semua perubahan itu, saya sering melihat fenomena yang mengganggu hati. Banyak orang Bali terlihat hidup berkecukupan, tetapi wajah mereka kadang memancarkan kekosongan. Di jalan raya, saya melihat tatapan yang letih meskipun mereka sedang mengendarai kendaraan baru. Di toko modern, saya menyaksikan sepeda motor mahal yang diparkir dengan kunci masih menyantol. Kadang saya berpikir, apakah ini tanda bahwa kemakmuran dianggap hal biasa saja sehingga tidak lagi menumbuhkan rasa terima kasih terhadap hidup dan kerja keras yang telah dijalani untuk mencapainya?

Budaya saling kaden yang berarti kebiasaan membandingkan diri dengan sesama orang Bali juga memperkeruh keadaan. Orang Bali sering dikenal sangat ramah kepada orang dari luar pulau atau luar negeri, tetapi terhadap sesama orang Bali kadang justru bersikap lebih kritis dan penuh rasa saing. Solidaritas terasa goyah, dan ini sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa menghitung dengan jari jumlah orang kaya di Bali yang dengan serius mendirikan yayasan sosial atau menjadi donatur tetap sebuah panti asuhan atau panti jompo. Padahal tidak perlu menunggu kaya untuk membantu orang lain. Logikanya sederhana. Jika saat belum kaya saja tidak tergerak membantu sesama, bagaimana nanti jika rezeki semakin besar.

Ketika kita membaca laporan ekonomi, pendapatan per kapita Bali menunjukkan peningkatan selama beberapa tahun terakhir. Artinya banyak warga yang secara materi mengalami kemajuan. Namun kenaikan itu tidak selalu sejalan dengan peningkatan rasa syukur dan kualitas relasi sosial. Banyak keluarga yang semakin mapan secara ekonomi justru terjebak dalam perlombaan status. Rumah bagus, kendaraan baru, perabot modern, dan liburan ke tempat populer menjadi tolok ukur keberhasilan. Tetapi dalam waktu yang sama, rasa cukup menjadi kabur maknanya.

Dalam suasana seperti ini, jawaban Amonean gen jadi seperti cermin kecil dari kegelisahan lebih luas. Jawaban itu bisa menjadi simbol bahwa kemakmuran materi tidak otomatis mengajarkan orang untuk merasa cukup. Orang menikmati barang, tetapi tidak menikmati hidup. Orang mendapatkan lebih banyak, tetapi tidak lebih bahagia.

Menurut saya, kita perlu kembali pada hal-hal sederhana. Rasa syukur bukan hanya soal ucapan ritual di pura, tetapi soal kesadaran bahwa hidup layak dinikmati apa adanya. Rasa syukur hadir ketika seseorang menyadari bahwa ia sudah cukup. Bila seseorang memiliki motor yang bekerja dengan baik, itu adalah sesuatu yang layak disyukuri. Bila ia memiliki pekerjaan yang membuatnya bisa makan dengan tenang, itu juga layak dirayakan. Dan bila ia bisa bangun pagi dengan tubuh sehat, seharusnya itu menjadi bagian dari rasa syukur yang halus namun sangat berarti.

Untuk menjaga itu semua, kita perlu melatih diri. Mulailah dengan menjawab pertanyaan kabar dengan jujur dan hangat. Bila hari baik, ucapkan bahwa hari itu baik. Bila sedang berat, akui tanpa kehilangan hormat pada diri sendiri. Kita juga bisa belajar melihat budaya bukan hanya sebagai pertunjukan untuk wisatawan, melainkan sebagai warisan hidup yang patut dipertahankan kedalamannya. Kemapanan materi seharusnya menjadi sarana untuk berbagi dan bukan alasan untuk menjauh dari sesama. Dan yang paling penting, kurangi kebiasaan membandingkan hidup dengan milik orang lain. Media sosial sering membuat kita merasa kurang, padahal kenyataan hidup jauh lebih lembut dari yang tampak di layar.

Pada akhirnya Bali bukan hanya tempat untuk menghasilkan uang atau membangun usaha. Bali adalah ruang hidup yang penuh nilai, spiritualitas, dan kebersamaan. Jika kita terlalu sibuk mengejar kemewahan, kita bisa lupa menjaga rumah batin kita sendiri. Bila kita tidak berhati-hati, kita akan menjadi orang-orang yang semakin kaya secara materi tetapi semakin miskin dalam rasa syukur. Saya berharap esai ini membuka percakapan kecil di antara kita, tentang bagaimana hidup sebagai orang Bali hari ini. Semoga kita bisa menjaga kemakmuran bukan hanya di luar, tetapi juga di dalam. Semoga pulau ini menjadi rumah yang tidak hanya makmur, tetapi juga penuh rasa, penuh syukur, dan penuh kemanusiaan Semoga kita selalu ingat akan kelimpahan yang ada di sekitar kita. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliorang baliPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berhala Terakhir | Cerpen Agung Sudarsa

Next Post

Eksistensi Kepemimpinan Adat Desa Bali Kuno di Bali Era Baru Ditinjau dari Sudut Pandang Tata Kelola Kolaboratif

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Eksistensi Kepemimpinan Adat Desa Bali Kuno di Bali Era Baru Ditinjau dari Sudut Pandang Tata Kelola Kolaboratif

Eksistensi Kepemimpinan Adat Desa Bali Kuno di Bali Era Baru Ditinjau dari Sudut Pandang Tata Kelola Kolaboratif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co