24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tarot dan  Psikologi: Antara Simbol, Validasi Emosi, dan Bias Kognitif

Isran Kamal by Isran Kamal
November 27, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

TAROT sedang berada dalam masa keemasannya. Di TikTok, Instagram, hingga marketplace, kartu tarot muncul di mana-mana, mulai dari sesi reading live, rekomendasi karier berdasarkan kartu, sampai paket “healing melalui tarot” yang laris manis.

Yang menarik, pengguna terbesarnya bukan lagi komunitas spiritual tradisional, melainkan remaja dan dewasa muda yang tumbuh di era internet. Tarot berubah dari sekadar alat ramalan menjadi cultural moment yang memberi ruang aman bagi orang-orang yang sedang bingung, patah, atau butuh validasi emosional cepat.

Popularitas ini bukan tanpa alasan. Generasi sekarang hidup dalam tekanan tinggi seperti tuntutan akademik, tuntutan kerja, relasi yang kompleks, dan arus informasi yang tak pernah berhenti. Dalam situasi seperti ini, tarot menawarkan sesuatu yang jarang diberikan kehidupan modern yaitu  berupa sense of clarity.

Tarot memberi kesan bahwa hidup yang kacau bisa diterjemahkan dalam simbol, pola, dan narasi. Bahkan ketika seseorang tidak benar-benar percaya bahwa kartu dapat “melihat masa depan,” banyak yang tetap merasa terbantu secara emosional.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apa yang sebenarnya membuat tarot begitu terasa relevan bagi publik? Jika tarot bukan metode ilmiah untuk memprediksi masa depan, mengapa jutaan orang merasa “tersentuh,” “ditampar realita,” atau “jadi tercerahkan” setelah satu sesi reading? Jawabannya justru banyak berakar pada psikologi manusia dimana hal ini berkaitan dengan cara kita mencari makna, memahami diri, dan meredakan kecemasan.

Untuk itu, kita perlu membedah tarot bukan sebagai benda mistik, tetapi sebagai fenomena psikologis. Dan untuk memulai, kita harus memahami bagaimana simbol-simbol tarot bekerja pada pikiran manusia.

Tarot sebagai Bahasa Simbol: Kenapa Kartu Bisa “Berbicara” ke Pikiran Manusia

Tarot bekerja bukan karena memiliki kekuatan supranatural, tetapi karena tarot memanfaatkan sesuatu yang sangat manusiawi yaitu kemampuan kita menafsirkan simbol dan mencari makna dalam pola. Psikologi kognitif sudah lama menunjukkan bahwa manusia adalah meaning-making creatures. Kita cenderung menghubungkan gambar, warna, dan metafora dengan pengalaman pribadi, lalu menyusunnya menjadi narasi yang terasa relevan.

Setiap kartu tarot entah itu The Fool, The Tower, atau The Empress mengandung simbol arketipal yang sudah dikenali oleh banyak budaya. Perjalanan, ketakutan, kehancuran, kelimpahan, kasih sayang, kehilangan, kelahiran baru. Ini membuat tarot bekerja seperti “bahasa proyek” bagi pikiran bawah sadar. Kita melihat motif umum dan otomatis menghubungkannya dengan fase hidup kita sendiri.

Prinsip psikologi persepsi juga berperan di sini. Ketika menghadapi stimulus ambigu, otak manusia akan berusaha mengisi kekosongan makna dengan pengalaman subjektif. Ini serupa dengan bagaimana kita melihat bentuk wajah di awan, atau merasa lirik lagu tertentu “ngena banget” padahal lagu itu ditulis untuk pengalaman orang lain.

Dalam konteks tarot, simbol-simbol itu bertindak sebagai mirror, bukan oracle. Kartu tidak memberi jawaban objektif, simbol tersebut memicu refleksi internal yang kemudian kita rasakan sebagai “pesan” atau “insight.” Karena itu dua orang yang membaca kartu sama bisa menghasilkan interpretasi yang sepenuhnya berbeda yang menentukan bukan kartunya, tetapi dunia psikologis orang yang membaca.

Di sinilah kekuatan sekaligus keterbatasan tarot, kartu tarot bisa sangat resonan secara emosional, namun justru karena sangat subjektif, tarot tidak dapat berfungsi sebagai alat prediksi yang bisa diuji secara ilmiah.

Sisi Positif Tarot dari Perspektif Psikologis

Meskipun tarot tidak memiliki dasar empiris sebagai alat prediksi, bukan berarti tarot tidak memiliki nilai psikologis. Banyak orang terutama remaja dan dewasa muda yang menggunakan tarot bukan untuk mengetahui masa depan, tetapi untuk memahami diri sendiri. Di sinilah tarot berfungsi sebagai medium refleksi yang dapat membantu proses emosi dan pengambilan keputusan.

Pertama, tarot dapat memfasilitasi refleksi diri yang terstruktur. Melalui simbol-simbol yang kaya makna, orang terdorong menanyakan hal-hal yang jarang mereka hadapi dalam rutinitas seperti, “Kenapa aku takut mengambil keputusan?” “Apa yang sedang aku hindari?” “Apa yang sebenarnya aku inginkan?” Dalam psikologi, ini sejalan dengan proses guided introspection, yakni metode mendorong individu mengeksplorasi pikiran dan perasaannya lewat stimulus tertentu.

Kedua, tarot berfungsi sebagai alat validasi emosional. Banyak pengguna merasa “didengar” atau “dipahami,” bukan karena kartunya akurat, tetapi karena interpretasi pembacanya mampu menangkap dinamika emosional yang sedang berlangsung. Dalam konteks kesehatan mental, pengalaman merasa dipahami meski diperantarai simbol dapat meredakan kecemasan dan meningkatkan kejelasan kognitif.

Ketiga, tarot dapat memicu percakapan emosional yang sulit. Bagi sebagian orang, membicarakan masalah hidup secara langsung terasa berat atau mengancam. Dengan adanya media simbolik, pembicaraan bisa diarahkan melalui metafora, membuatnya lebih aman. Fenomena ini mirip dengan teknik projective storytelling yang digunakan dalam psikologi, dimana seseorang mengekspresikan konflik internal melalui cerita atau gambar.

Keempat, tarot membantu individu melihat masalah dari perspektif alternatif. Saat menghadapi dilema, kartu-kartu tarot kadang “memaksa” pengguna untuk mempertimbangkan sisi lain yang sebelumnya tidak terpikirkan. Meskipun tidak objektif, proses ini menghasilkan fleksibilitas kognitif, suatu komponen penting dalam kemampuan pemecahan masalah.

Selain itu, tarot juga memiliki fungsi ritualistik yang menenangkan. Aktivitas merapikan kartu, menarik satu kartu, lalu merenungkannya menciptakan momen jeda yang mirip praktik mindfulness. Dalam ritme hidup yang cepat, momen hening seperti ini menjadi ruang aman untuk berhenti sejenak dan mengatur ulang emosi.

Dengan kata lain kekuatan tarot bukan pada prediksi, tetapi pada kemampuannya membuka ruang reflektif yang sering kali sulit kita ciptakan sendiri.

Mengapa Tarot Terasa Akurat? Barnum Effect and  Cognitive Bias

Salah satu alasan terbesar banyak orang merasa “kok bacaan tarot pas banget ya?” adalah karena otak manusia memang sangat mudah memberi makna pada informasi yang samar. Ada beberapa mekanisme psikologis yang membuat bacaan tarot terasa relevan, meskipun isinya sebenarnya cukup umum atau bisa berlaku buat siapa saja.

Barnum Effect

Efek Barnum adalah kecenderungan kita untuk menganggap deskripsi yang samar dan luas sebagai gambaran yang sangat personal. Misalnya:

  • “Kamu tipe yang peduli sama orang lain, tapi kadang merasa nggak dihargai.
  • “Siapa sih yang nggak pernah ngerasa begitu?

      Kartu-kartu tarot sering menggunakan simbol yang fleksibel misal “The Moon”, “The Lovers”, “The Tower” yang maknanya sangat bisa disesuaikan dengan pengalaman pribadi. Akhirnya, otak kita “mengisi celah” itu sendiri dengan detail hidup kita, sehingga bacaan terasa akurat.

      Confirmation Bias

      Ketika kita sudah ingin mencari jawaban, kita cenderung memperhatikan bagian bacaan yang cocok dengan situasi kita, dan mengabaikan yang tidak cocok. Misalnya kartu memperingatkan “akan ada konflik kecil”. Kalau hari itu kamu cekcok kecil dengan teman, kamu langsung: “Nah kan bener.” Kalau nggak ada apa-apa? Ya… kita lupa. Otak kita memilih data yang mendukung ekspektasi.

      Availability Heuristic

      Ini adalah bias di mana kita menganggap sesuatu itu benar atau penting hanya karena kita bisa dengan mudah mengingat contoh yang relevan. Contoh: tarot bilang “kamu sedang banyak beban emosional.” Kita langsung ingat satu masalah yang lagi bikin stres padahal masalah kecil itu mungkin cuma sebagian kecil dari hari-hari kita.

      Ambiguity Advantage

      Lucu tapi nyata, prediksi yang samar lebih sering dianggap akurat daripada prediksi yang spesifik. Kartu tarot justru kuat di sini. Simbol-simbolnya tidak pernah memberi jawaban rigid seperti “tanggal 12 kamu akan dapat pekerjaan baru”, tapi lebih seperti “ada peluang baru yang membutuhkan kesiapan mental”. Karena tidak spesifik, peluang “tepat” jadi tinggi.

      Emotional Resonance

      Kita biasanya membaca tarot saat sedang galau, bimbang, atau butuh pencerahan. Dalam kondisi emosional seperti itu, kita lebih terbuka terhadap makna apa pun yang terasa menenangkan atau memvalidasi perasaan. Bacaan yang memberi pengakuan terhadap emosi kita sering terasa sangat benar bukan karena prediksinya akurat, tetapi karena kita merasa didengar.

      Maka dapat dipahami bahwa akurasi tarot sering kali bukan berasal dari kemampuan prediktif kartu itu sendiri, melainkan dari cara otak kita memproses informasi yang ambigu. Efek Barnum, bias konfirmasi, dan kebutuhan emosional kita membuat simbol-simbol tarot terasa sangat personal. Bacaan yang sifatnya fleksibel memberi ruang bagi kita untuk mengisi makna dengan pengalaman pribadi, sehingga muncullah ilusi “ketepatan”. Dengan memahami cara kerja psikologis ini, kita bisa menikmati tarot tanpa terseret oleh kesan akurat yang sebenarnya muncul dari pikiran kita sendiri.

      Nah, di titik ini kita bisa melihat bahwa tarot bekerja sangat kuat pada ranah persepsi dan itu nggak salah, selama kita sadar batasannya. Tapi justru karena tarot terasa begitu akurat, di sinilah risiko psikologis mulai muncul. Ketika bacaan yang sifatnya simbolik dan interpretatif berubah menjadi dasar keputusan hidup, atau ketika kontrol personal bergeser dari diri kita ke “kartu”, dampaknya bisa jadi cukup signifikan. Sekarang kita masuk ke bagian berikutnya, apa saja risiko yang perlu diwaspadai ketika tarot mulai memengaruhi rasa kendali dan arah hidup seseorang.

      Ketika Tarot Menggeser Kendali Hidup

      Meski tarot bisa menjadi ruang refleksi yang bermanfaat, sisi rentannya muncul ketika seseorang mulai memperlakukan kartu sebagai sumber kepastian. Dalam situasi stres, cemas, atau bingung mengambil keputusan, individu cenderung mencari pegangan yang terasa stabil. Tarot dengan simbol dan narasi yang tampak meyakinkan dapat memberi ilusi arah, tetapi justru di situlah jebakannya. Ketika interpretasi kartu mulai diposisikan setara dengan penilaian rasional, atau bahkan menggantikannya sama sekali, kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan otonom perlahan melemah.

      Risiko lain muncul ketika tarot dijadikan “otoritas moral” yang menentukan hubungan, pekerjaan, atau langkah penting hidup. Ketergantungan seperti ini membuat individu menunda tanggung jawab pribadi, dan pada akhirnya mengaburkan kemampuan mereka untuk menilai realitas secara objektif. Dari perspektif klinis, pola ini bisa beresonansi dengan mekanisme pelarian, dimana individu lebih memilih jawaban instan daripada proses berpikir yang mungkin menantang atau tidak nyaman.

      Pada level sosial, tarot juga bisa memperkuat bias atau keyakinan yang tidak akurat. Jika seseorang membaca kartu melalui perspektif yang penuh ketakutan atau asumsi negatif, bacaan itu justru akan memperkuat persepsi tersebut yang kemudian membentuk lingkaran setan yang sebenarnya berasal dari pikiran sendiri, bukan dari “pesan kartu”. Tanpa disadari, tarot dapat berubah dari media eksplorasi menjadi alat amplifikasi kekhawatiran.

      Namun, penting ditekankan bahwa risiko-risiko ini bukanlah produk tarot sebagai alat, melainkan cara pengguna memaknai dan bergantung padanya. Tarot tidak berbahaya pada dirinya sendiri yang berbahaya adalah ketika kontrol psikologis bergeser dari diri ke objek simbolik.

      Pada akhirnya, tarot bukan harus ditempatkan sebagai musuh sains atau sekutu tak tergantikan dalam mengambil keputusan. Tarot berada di tengah-tengah. Sebuah alat naratif yang dapat membantu refleksi diri, memperluas imajinasi psikologis, dan memberi ruang untuk memahami perasaan yang sulit dijelaskan. Kebermanfaatannya muncul ketika kita tahu batasnya.

      Dengan memahami sisi positifnya, mengenali bias kognitif yang membuatnya terasa akurat, dan menyadari risiko ketika tarot mulai menggeser kendali personal, kita bisa menikmati tarot sebagai medium refleksi bukan kompas hidup. Tarot paling sehat ketika menjadi sarana untuk berdialog dengan diri sendiri, bukan pengganti penilaian rasional. Pada titik itu, tarot bukan lagi tentang ramalan, tetapi tentang cara kita memberi bahasa pada pengalaman manusia yang kompleks. [T]

      Penulis: Isran Kamal
      Editor: Adnyana Ole

      Tags: kartu tarotPsikologisimbolTarot
      ShareTweetSendShareSend
      Previous Post

      Simpang Siur PPPK dan PNS: Dari Layar TikTok ke Perjuangan yang Tidak Semua Orang Tahu

      Next Post

      Psikogeografi dan Ekologi Waktu Luang di Sanur

      Isran Kamal

      Isran Kamal

      Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

      Related Posts

      ‘Janji-janji Jepang’

      by Angga Wijaya
      April 23, 2026
      0
      ‘Janji-janji Jepang’

      SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

      Read moreDetails

      Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

      by Chusmeru
      April 23, 2026
      0
      Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

      RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

      Read moreDetails

      Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

      by Agung Sudarsa
      April 22, 2026
      0
      Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

      DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

      Read moreDetails

      Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

      by Dodik Suprayogi
      April 21, 2026
      0
      Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

      JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

      Read moreDetails

      Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

      by Petrus Imam Prawoto Jati
      April 21, 2026
      0
      Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

      BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

      Read moreDetails

      NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

      by Dede Putra Wiguna
      April 20, 2026
      0
      NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

      PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

      Read moreDetails

      Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

      by Agung Sudarsa
      April 20, 2026
      0
      Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

      SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

      Read moreDetails

      Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

      by Asep Kurnia
      April 20, 2026
      0
      Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

      KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

      Read moreDetails

      Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

      by Jro Gde Sudibya
      April 20, 2026
      0
      Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

      Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

      Read moreDetails

      Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

      by Cindy May Siagian
      April 19, 2026
      0
      Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

      MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

      Read moreDetails
      Next Post
      Psikogeografi dan Ekologi Waktu Luang di Sanur

      Psikogeografi dan Ekologi Waktu Luang di Sanur

      Please login to join discussion

      Ads

      POPULER

      • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

        Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

        22 shares
        Share 22 Tweet 0
      • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

        0 shares
        Share 0 Tweet 0
      • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

        0 shares
        Share 0 Tweet 0
      • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

        0 shares
        Share 0 Tweet 0
      • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

        0 shares
        Share 0 Tweet 0

      ARTIKEL TERKINI

      ‘Janji-janji Jepang’
      Esai

      ‘Janji-janji Jepang’

      SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

      by Angga Wijaya
      April 23, 2026
      Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
      Esai

      Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

      RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

      by Chusmeru
      April 23, 2026
      Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
      Esai

      Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

      DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

      by Agung Sudarsa
      April 22, 2026
      Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
      Opini

      PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

      PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

      by I Made Pria Dharsana
      April 22, 2026
      ‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
      Ulas Musik

      ‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

      SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

      by Dede Putra Wiguna
      April 22, 2026
      Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
      Khas

      Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

      “Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

      by I Wayan Sujana Suklu
      April 22, 2026
      Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
      Panggung

      Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

      GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

      by Dede Putra Wiguna
      April 22, 2026
      ‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
      Pameran

      ‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

      MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

      by Nyoman Budarsana
      April 21, 2026
      Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
      Pendidikan

      Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

      Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

      by tatkala
      April 21, 2026
      Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
      Esai

      Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

      JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

      by Dodik Suprayogi
      April 21, 2026
      ‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
      Lingkungan

      ‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

      KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

      by Son Lomri
      April 21, 2026
      I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
      Persona

      I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

      PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

      by Made Adnyana Ole
      April 21, 2026

      TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

      • Penulis
      • Tentang & Redaksi
      • Kirim Naskah
      • Pedoman Media Siber
      • Kebijakan Privasi
      • Desclaimer

      Copyright © 2016-2025, tatkala.co

      Welcome Back!

      Login to your account below

      Forgotten Password?

      Retrieve your password

      Please enter your username or email address to reset your password.

      Log In
      No Result
      View All Result
      • Beranda
      • Feature
        • Khas
        • Tualang
        • Persona
        • Historia
        • Milenial
        • Kuliner
        • Pop
        • Gaya
        • Pameran
        • Panggung
      • Berita
        • Ekonomi
        • Pariwisata
        • Pemerintahan
        • Budaya
        • Hiburan
        • Politik
        • Hukum
        • Kesehatan
        • Olahraga
        • Pendidikan
        • Pertanian
        • Lingkungan
        • Liputan Khusus
      • Kritik & Opini
        • Esai
        • Opini
        • Ulas Buku
        • Ulas Film
        • Ulas Rupa
        • Ulas Pentas
        • Kritik Sastra
        • Kritik Seni
        • Bahasa
        • Ulas Musik
      • Fiksi
        • Cerpen
        • Puisi
        • Dongeng
      • English Column
        • Essay
        • Fiction
        • Poetry
        • Features
      • Penulis
      • Buku
        • Buku Mahima
        • Buku Tatkala

      Copyright © 2016-2025, tatkala.co