12 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Simpang Siur PPPK dan PNS: Dari Layar TikTok ke Perjuangan yang Tidak Semua Orang Tahu

Mochamad Rifa’i by Mochamad Rifa’i
November 27, 2025
in Esai
Simpang Siur PPPK dan PNS: Dari Layar TikTok ke Perjuangan yang Tidak Semua Orang Tahu

Di TikTok, status PPPK dan PNS sudah seperti kasta sosial baru. Padahal di duni nyata, keringat mereka itu sama, Cuma labelnya aja yang sedikit berbeda.

Karena saya orangnya suka scroll layar ponsel, jadi belakangan ini, lini masa TikTok atau bahasa gaulnya fyp-ku ramai sekali dengan perdebatan sosial isu PPPK yang katanya akan dialihkan menjadi PNS. Sekilas menyimak komentarnya sangat panas, lebih panas dari wajan gorengan ayam geprek di kantin sekolah jam istirahat kedua. Satu pihak merasa PNS harusnya tetap eksklusif, pihak lain merasa PPPK juga layak mendapat pengakuan setara.

Kolom komentar? Penuh bak arena pertandingan sepak bola piala dunia. Ada yang bilang, “PPPK itu Cuma tenaga kontrak yang kebetulan diseragamkan.” Ada pula yang menulis, “Kalau mau PNS ya dari dulu belajar yang rajin, jangan numpang ASN-an.” Membaca komentar netizen membuat saya sambil tepuk jidat. Kadang Cuma bisa berkata dalam hati, amsyooong. Orang-orang ini tahu apa tidak sih perjuangan di balik seragam PPPK itu seperti apa?

Saya tidak tahu bagaimana kisah orang lain, tapi saya tahu pasti satu hal baik: tidak semua PPPK itu datang dari jalan pintas atau hasil dari “selundupan atau siluman”. Saya sendiri sampai di titik ini bukan karena titipan, tapi karena perjalanan panjang yang, kalau difilm-kan, mungkin sudah masuk kategori “drama Indosiar”.

Saya mulai kuliah tahun 2016, di Universitas Pendidikan Ganesha jurusan Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi. Harusnya lulus tahun 2020. Tapi, ya, pandemi COVID-19 travelling dan semua rencana bubar jalan. Padahal, saya termasuk mahasiswa tercepat di angkatan saya dalam menyusun proposal. Bahakan, di semester lima, saya sempat ikut program pertukaran mahasiswa se-Asia Tenggara. Dari seluruh fakultas olahraga, hanya saya satu-satunya yang ikut program ini. Dan belajar di Thailand selama sebulan. Saat teman-teman sibuk PPL di semester tujuh, saya justru sudah selesai karena lebih dulu melakukannya.

Tapi, ketika pandemi datang, semua kerja keras seolah mentok di dinding. Sekolah tutup, kegiatan daring, dan saya yang bercita-cita jadi guru tiba-tiba banget kehilangan panggung. Akhirnya saya terpaksa banting setir, kerja apa saja yang penting halal. Dunia finance pernah saya cicipi, perbankan juga sempat saya lakoni, dan membantu teman berjualan bubur kacang ijo pernah saya trabas.

Sampai akhirnya, tahun 2023, kabar baik datang: pembukaan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Saya daftar, ikut seleksi, dan Alhamdulillah lolos. Tapi perjuangan di situ baru mulai

Ketika itu saya habis resign dari kerja di perbankan dan mendaftar di sekolah swasta. Bersamaan dengan itu saya kuliah PPG di Universitas Negeri Surabaya tapi masih ngajar di sekolah swasta di Rembang, Jawa Tengah. Bayangkan, setiap Jumat sore saya pulang ke Tuban, Jawa Timur, ini kota kelahiran dan tempat tinggal saya, dan Sabtu-Minggu ke Rembang untuk ngajar, lalu Minggu sore  balik ke Surabaya. Begitu terus selama satu tahun penuh, dari September 2023 sampai September 2024.

Liburnya kapan? Hanya ketika tanggal merah nasional. Kalau tidak, ya rutinitas itu terus berulang. Bahkan hujan panas saya terjang, terkadang sesekali saya menangis di perjalanan sambil menyetir motor, dan berdoa dalam hati semoga kelak perjuanganku ini membuahkan hasil. Saya bahkan sempat berpikir, kalau tubuh ini bisa protes, mungkin dia teriak, “Mas aku butuh rebahan, plis!”.

Setelah lulus PPG, saya diterima di sekolah swasta di Surabaya. Tapi karena sekolah di Rembang itu sistemnya boarding, saya masih tetap ngajar di sana tiap Minggu. Jadi Senin sampai Sabtu saya ngajar di Surabaya, Minggu ngajar di Rembang. Rumah saya di Tuban. Total tiga kota saya lakoni setiap minggu selama kurang lebih dua tahun. Dan akhirnya, Oktober 2025, saya resmi jadi ASN PPPK. Rasanya campur aduk antara lega, haru, dan rasa ingin tidur tiga hari tiga malam tanpa gangguan. Tapi ketika saya buka TikTok, eh, muncul lagi debat soal PPPK dan PNS. Ada yang menulis “PPPK itu ASN rasa kontrak”, ada yang nyinyir “ASN abal-abal”. Di situ saya cuma bisa geleng kepala dan bergumam pelan, “Amsyooong, orang kok suka sekali merendahkan yang tidak mereka pahami.”

Padahal, di balik status PPPK itu, ada banyak kisah perjuangan. Ada yang bertahun-tahun jadi guru honorer dengan gaji tak sampai seperempat UMR. Ada yang rela meninggalkan keluarga demi mengajar di pelosok. Dan ada juga seperti saya yang tidak punya hari libur demi menempuh PPG sambil mengajar.

Saya tidak menuntut disamakan dengan PNS. Tapi rasanya sedih melihat sesama ASN saling sindir, saling menjatuhkan, seolah sedang lomba siapa yang lebih layak disebut “abdi negara sejati.” Padahal, bukankah tujuan akhirnya sama? Sama-sama mengabdi untuk negeri, sama-sama mendidik anak bangsa.

Bagi saya, PPPK bukan status rendah. Ia adalah symbol perjuangan. Sebuah tanda bahwa tidak semua orang yang tidak jadi PNS itu kalah. Kami hanya menempuh jalur berbeda, tapi tetap dengan niat dan dedikasi yang sama.

Jadi, buat yang masih sibuk berdebat di kolom komentar TikTok, mungkin ada baiknya jeda sebentar. Hirup udara, matikan ponsel, dan pikirkan: di balik seragam PPPK itu, ada keringat, waktu, dan pengorbanan yang tidak sempat viral.

Karena pada akhirnya, ASN sejati tidak diukur dari status, tapi dari seberapa tulus ia bekerja. Dan kalau keikhlasan masih harus disetarakan lewat golongan, ya sudah…

Amsyoong saja logika kita. [T]

Penulis: Mochamad Rifa’i
Editor: Adnyana Ole

Tags: ASNPNS
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kampusku Sarang Hantu [42]: Transaksi Keris Berubah Miris

Next Post

Tarot dan  Psikologi: Antara Simbol, Validasi Emosi, dan Bias Kognitif

Mochamad Rifa’i

Mochamad Rifa’i

Seorang guru PJOK biasa aja di sebuah sekolah pinggiran kabupaten kecil Tuban, Jawa Timur, yang suka sedikit menulis ketika gabut saja dan mood-moodan. Kepoin saya di TikTok: @pak.arpjok

Related Posts

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

Read moreDetails

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026
0
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

Read moreDetails

Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

by Wayan Diana Putra
October 8, 2026
0
Independensi Ceng-Ceng dalam Lomba Ceng-Ceng Kreasi Kelurahan Kapal

LOMBA ceng-ceng kreasi diselenggarakan oleh Kelurahan Kapal sebagai bagian dari rangkaian Porseni dan Jong Fest 2026. Sebagai salah satu tangkai...

Read moreDetails

Gen Alpha sebagai Penentu Destinasi Wisata

by Chusmeru
October 7, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MEMBINCANG pariwisata, nyaris tak pernah dibahas keberadaan generasi Alpha atau Gen Alpha. Padahal secara statistik Gen Alpha di Indonesia memiliki...

Read moreDetails

Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

by I Gede Yuni Eka Primawata
October 6, 2026
0
Dharma Dampati: Panduan Teo-Filosofis dan Etis Pasangan Muda Hindu dalam Menyongsong Era Disrupsi

PERNIKAHAN dalam kosmologi Hindu bukan sekadar sebuah legitimasi hukum sipil atau konsensus sosial sekuler antara dua individu. Lebih jauh, pernikahan...

Read moreDetails

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Tarot dan  Psikologi: Antara Simbol, Validasi Emosi, dan Bias Kognitif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga
Esai

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik
Buku Tatkala

Sandyakalaning Demokrasi — Sekumpulan Esai Sosial dan Politik

Judul: Sandyakalaning Demokrasi - Sekumpulan Esai Sosial dan Politik Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 9, 2026
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki
Ulas Film

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University
Persona

Mengulik Pengalaman Citra Sasmita di Cornell University

APA yang terjadi ketika tradisi dipakai sebagai ruang dialog dan ruang untuk bertanya secara kritis? Pertanyaan semacam itu terasa penting...

by Wayan Jengki Sunarta
October 9, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya
Panggung

“Samarasā”: Ubud Writers & Readers Festival 2026 Mengajak Masyarakat Saling Memahami Lewat Sastra dan Budaya

MEMAHAMI orang lain tidak selalu mudah. Apalagi ketika perbedaan pandangan semakin sering memisahkan, percakapan berubah menjadi perdebatan, dan orang lebih...

by Dede Putra Wiguna
October 8, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Kita Semua Sehat, Sampai Tubuh Menuntut Tagihannya

KAPAN terakhir kali kita bertanya, "Gimana kabar mental gue hari ini?" Kita hafal jadwal servis motor. Kita ingat tanggal bayar...

by Tri Nugroho Adi
October 8, 2026
Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca
Esai

Mengubah Cara Pandang terhadap Pembelajaran Membaca

MEMBACA selama ini kerap diposisikan sebagai keterampilan reseptif dalam pembelajaran bahasa. Bersama menyimak, membaca dipahami sebagai keterampilan untuk menerima bahasa,...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co